Denganmu 17
by
acyanokouji
All characters belong to Masashi Kishimoto
Warn: OOC, typo(s), (maybe) a bit lemon dan yaoi!
.
.
Hinata menghindari Sasuke. Sudah sebulan lebih sejak Sasuke sering menggoda Hinata perihal foto bertiga mereka dan Poco. Sasuke berpikir, apa ia sudah berlebihan sampai-sampai Hinata bersikap dingin padanya lagi?
Sasuke masih memandang foto di layar ponselnya ketika seseorang memanggilnya melalui panggilan telepon. Sasuke berdecak sebal. Merusak suasana. Dengan berat hati, Sasuke mengangkat panggilan yang masuk.
"Kenapa, Kiba?" tanya Sasuke. Terdengar suara deru napas Kiba yang tidak stabil.
"Bangsat kau, Sasuke! Aku dikejar-kejar Kakashi-sensei gara-gara kau!"
Sasuke mengernyit bingung. "Apa hubungannya denganku? Aku tidak ada sangkut pautnya dengan Kakashi-sensei."
"Tidak ada darimananya?! Hah... Hah..." di ujung panggilan Kiba terengah sebentar. "Kau memintaku menghubungi Tenten untuk bertanya soal Hinata. Kau tahu? Tenten bertunangan dengan Kakashi-sensei! Makanya guru aneh itu marah padaku saat janjian dengan tunangannya!"
"Hah?!" Sasuke bangkit dari rebahannya di sofa apartemen. Tenten dan Kakashi-sensei? Sejak kapan?
"Jangan 'hah'! Bantu aku sialan!"
Sasuke mendengar suara teriakan dan Kiba yang memekik dari ujung telepon.
"Sensei, tenanglah!"
Suara perempuan tak dikenal terdengar. Sasuke mengernyit lagi. Apa kiba menyalakan mode pengeras suara?
"Tidak, Tenten! Murid nakal sepertinya musti diberi pelajaran!"
Oh, kalau tidak salah ingat, ini suara Kakashi-sensei.
"Tenten! Kiba! Kakashi-sensei? Ada apa ini?"
Kalau suara perempuan yang ini sangat Sasuke kenali. Ia terkejut sebentar. Bertanya-tanya kenapa keempat orang itu bisa bersama. Namun, tanpa berpikir lagi, Sasuke segera bangkit dan pergi ke tempat Kiba. Sasuke dan dia musti bicara.
.
.
Kiba menatap lurus perempuan bercepol di depannya. Mereka duduk berseberangan di sebuah food court. Minggu lalu, Sasuke merengek –berdasarkan penilaian Kiba- padanya. Hinata menghindari Sasuke. Padahal, Sasuke sudah cukup lenggang. Menyisihkan banyak waktunya untuk Hinata. Berbeda pada saat semester pertama lalu.
"Tenten –aku"
"Aku tahu kenapa kau menghubungiku, Kiba." Tenten memotong ucapan Kiba. Ini sudah berbulan-bulan sejak Kiba menghubunginya. "Kau ingin menanyakan kabar Hinata, 'kan?" Kiba mengangguk pada Tenten. "Apa kau juga menyukai Hinata seperti yang lain?"
"Tidak."
Tenten mengernyit mendengarnya. Kalau tidak, untuk apa Kiba sering bertemu dengannya hanya untuk menanyakan kabar dan berdiskusi soal jadwal kuliah Hinata saat semester satu? "Lalu, kenapa kau menanyakan Hinata terus padaku?"
"Aku diminta seseorang."
"Seseorang? Siapa?"
"Sasuke."
"Sasuke?" Tenten terkejut, matanya membulat. "Sasuke Uchiha?!" sudah lama Tenten tidak mendengar kabar teman satu angkatannya yang cukup populer itu. Tenten ingin bertanya-tanya apa yang terjadi antara Sasuke dan Hinata sejak festival sekolah. Tapi, kini Tenten ada urusan lain.
"Aku tidak mau tahu urusan Sasuke denganmu atau Hinata. Tapi, kali ini aku setuju bertemu denganmu karena aku akan mempertemukanmu dengan Hinata secara langsung, Kiba." jelas Tenten.
"Eh?" Kiba mengerjabkan matanya. "Kenapa?"
"Karena Hinata yang kau cari, 'kan?"
"Infonya iya. Tapi, aku canggung kalau harus bertemu dengannya." Kiba masih ingat momen-momen mengagetkan dari Hinata Hyuuga saat masa-masa terakhir SMA. Aura perempuan itu membuatnya takut terlibat macam-macam. Padahal jujur, wajah Hinata terlihat imut. Apalagi saat perempuan itu masih menunjukkan sisi malu-malunya.
"Itu bukan urusanku. Aku tidak bisa membantumu lagi, Kiba."
"Kenapa?"
Tenten mengernyit heran. Kenapa katanya? Padahal sudah jelas Tenten hanya dimanfaatkan. "Aku sudah bertunangan."
"Oh?" Kiba membulatkan matanya. Ia melirik jari Tenten yang ada di atas meja. Ada sebuah cincin yang melingkari jari manis kanannya. "Dengan siapa?" tanya Kiba penasaran.
"Denganku. Apa kau ada masalah, bocah?" Kiba menoleh ke samping. Ia bisa melihat seorang pria tampan dengan raut wajah menyeramkan beberapa langkah dari meja duduknya. Kiba terkejut. Kalau tidak salah itu kan...
"Kakashi-sensei?!"
Kakashi berjalan mendekat. "Kenapa? Tidak menyangka kau kalah dari pria yang lebih berumur?"
"Hah?" Kiba tidak tahu apa yang terjadi, tapi otaknya memperingatkan jika akan ada hal yang tidak mengenakan. Ditambah, Kakashi terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat. Kiba sudah tidak bisa berpikiran apa-apa lagi, ia berdiri dan mulai berlari. Menghindari Kakashi yang menganggapnya telah berbuat salah.
"Kau mau lari ke mana, bocah?!" Kakashi pergi menyusul Kiba. Tenten ikut berdiri dari kursinya. "Sensei, ini salah paham!" teriak Tenten. Ia mencoba meluruskan tapi kedua laki-laki sudah mulai aksi kejar-kejaran.
Merasa tak punya pilihan, Tenten ikut mengejar kedua pria. Tanpa sadar seorang perempuan mendekat dan memanggil namanya.
"Kenapa, Kiba?" terdengar suara dari ujung telepon. Entah kenapa, Kiba merasa ia perlu menghubungi Sasuke di saat-saat mencekam ini.
"Bangsat kau, Sasuke! Aku dikejar-kejar Kakashi-sensei gara-gara kau!"
"Hah?!"
"Jangan 'hah'! Bantu aku sialan!" Kiba kesal. Tanpa sengaja ia menyentuh ikon pengeras suara dari gawainya. Ketika berbalik, ia bisa melihat Tenten yang sedang menahan lengan Kakashi. Tak berapa lama pun Kiba bisa melihat Hinata yang muncul. Oh, akhirnya... sang dewi muncul juga!
"Kenapa kau tersenyum begitu, bangsat?!" Kiba tersenyum lega karena melihat Hinata tapi Kakashi malah salah menginterpretasikannya. Kiba menggeleng-geleng. Ia sudah capai lari-lari mengelilingi area food cort. Terlihat juga Hinata yang bergabung dengan Tenten. Mereka bicara sesuatu pada Kakashi.
"Aku ingin mendengar penjelasannya langsung dari bocah itu!" Kakashi sedikit menepis tangan Tenten. Ia kembali berjalan mendekati Kiba. Pemuda bertaring tajam itu kaget. Ia berbalik dan berlari ke arah jalan raya.
SKITTTT
Sebuah mobil melintas. Tenten dan Hinata sudah terkejut. Mereka mengira Kiba akan tertabrak tapi untunglah mobil itu berhasil berhenti tepat di depan Kiba. "Oh, Astaga! Skit ini berlebihan!" Kiba menghela napas lelah. Tubuhnya tiba-tiba lemas.
Dari dalam mobil, keluar seorang pemuda berambut hitam gelap. Ia melirik Kiba sekilas. Lalu, ia menatap Hinata dengan seksama. "Hinata?" panggilnya.
Hinata, yang dipanggil, membulatkan matanya. Kenapa ada dia? Hinata menoleh pada Tenten. "Kau mengundangnya juga?" tanya Hinata. Tenten menggeleng pelan. Ia mengangkat bahu, menandakan jika ia tidak tahu-menahu.
Hinata menatap malas ke arah pemuda yang datang tak diundang. Ia berniat pergi. Terlihat laki-laki itu juga hendak mengikutinya. BRAK!
"Uchiha sialan! Kau harus meluruskan ini dulu!" Kiba memukul kap mobil Sasuke dengan kesal. Ia sudah lelah jadi kambing hitam. Jadilah mereka berlima duduk bersama di salah satu meja food court.
"Jadi, ini semua akibat ulahmu ya, Sasuke Uchiha?" Kakashi menatap lurus pada Sasuke yang duduk di ujung sisi lain meja bundar. "Kenapa kau tidak menghubungi Hinata secara pribadi saja?"
"Kalau aku bisa melakukannya, pasti sudah aku lakukan, sensei." terang Sasuke. Ia menyindir Hinata yang tak kunjung membalas pesannya.
"Tetap saja. Tingkahmu kekanakan. Kau melibatkan orang lain untuk mendekati Hinata. Apalagi yang kau libatkan sekarang adalah tunanganku."
Hinata mengangkat alisnya sebelah. Bukankah beberapa bulan lalu juga Kakashi memanfaatkan Tenten untuk mengundangnya ke pesta? Juga, kenapa tiba-tiba sahabatnya sudah bertunangan saja?
Hinata menoleh pada Tenten. Masih dengan alis yang terangkat, Hinata melirik mata dan cincin Tenten secara bergantian. "Banyak hal yang terjadi selama liburan, Hinata." Tenten berbisik pelan. Benar, segala hal bisa terjadi saat liburan, 'kan?
"Lagipula, kenapa kau lari kalau kau tidak bersalah, Kiba Inuzuka?" Kakashi beralih pada Kiba yang sedang menyeruput kopi dingin pesanannya.
"Maaf, sensei. Aku hanya terkejut."
"Yah, dari dulu kau memang ketua kelas yang gegabah." Kiba mengernyit tak suka. Kenapa malah bawa-bawa cerita masa lalu? Harusnya yang dibahas itu adalah hubungan mantan guru dan mantan murid di depannya, 'kan?
.
.
Setelah makan siang yang lebih cocok disebut sebagai makan sore, pertemuan di food court selesai begitu saja. Dengan konklusi, Kiba tidak boleh menghubungi Tenten lagi. Selebihnya Kakashi tidak peduli. Ia dan tunangannya pergi lebih dulu. Membiarkan Kiba terjebak di antara hawa canggung antara Sasuke dan Hinata.
"Kenapa kau mengabaikanku?" Sasuke berjalan di belakang Hinata. Mereka sudah berada di gedung apartemen Hinata. "Bisa kau bicara dengan mulut indahmu itu?"
Hinata menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap malas pada Sasuke. "Berhenti mengikutiku." Hinata kembali berjalan di koridor lantai enam apartemennya.
"Oh, ayolah. Aku harus meminta siapa lagi agar bisa membuatmu bicara?"
"Memalukan." Hinata kembali menghentikan langkahnya.
"Kau bicara sesuatu?" Sasuke menelengkan kepala. Hinata seperti bergumam sesuatu yang pelan tadi.
"Kubilang, kau memalukan." Hinata berbalik pada Sasuke. "Kau menyuruh orang lain untuk mendapatkan informasi tentangku. Creepy!"
"Oh ya? Apa dosaku memang separah itu? Toh, Kiba tidak pernah benar-benar mengikutimu, 'kan?"
"Aku benci laki-laki yang selalu merasa benar atas tindakannya." Sasuke berdecak. Mulutnya memang sialan. "Apalagi laki-laki pembual sepertimu."
"Pembual? Aku? Memang apa salahnya? Aku sibuk setengah mati semester lalu. Aku hanya ingin tahu kabarmu." Hinata mengangkat alisnya. "Oke, maaf. Mungkin tindakanku salah. Aku melibatkan orang lain dalam hubungan kita. Tapi, aku serius tidak mengharapkan apapun selain kabar darimu."
Hinata diam. Hening selama beberapa detik. "Sudah?" kata Hinata. Lima detik berikutnya, Hinata berbalik dan berjalan menuju apartemennya.
"Aku menyukaimu, Hinata." Sasuke berkata pelan. Tapi, cukup terdengar oleh Hinata yang sudah ada di depan pintu apartemennya. Perempuan itu menahan tangannya di udara. Selama beberapa saat, Hinata membelalakkan matanya.
"Kalau memang begitu, mustinya kau tidak perlu berbohong soal kalung itu, Sasuke." Hinata menoleh sebentar pada Sasuke untuk bicara. Setelahnya, dengan cepat Hinata masuk ke dalam apartemen. Membiarkan Sasuke termangu di lorong.
"Kalung? Apa maksudnya? Bukannya aku sudah memb –berikannya pada Sakura?"
.
.
"Tumben aku melihatmu di gedung fakultasku, Sasuke." Sakura menghampiri Sasuke yang duduk di meja kantin fakultas kedokteran. Dengan sebelah alisnya yang terangkat, Sasuke menatap malas pada Sakura. "Oke, oke. Aku bercanda. Kita sudah janjian sebelumnya."
Sakura menarik kursi dan duduk di bangku seberang Sasuke. "Jadi, ada urusan penting apa calon arsitek menemui calon dokter?" Sakura tersenyum manis. Meskipun ia tahu Sasuke menolaknya –secara tidak langsung- saat SMA, Sakura masih boleh berharap, 'kan?
Sasuke melirik kalung yang tergantung di leher Sakura. Ternyata benar, Sakura masih memakai kalung yang Sasuke –secara tidak sengaja- berikan padanya tahun lalu. "Kenapa kau masih memakai kalung itu?"
Sakura mengikuti arah pandang Sasuke, ia meraih liontin yang dikenakannya. "Ini? Aku menyukainya. Plus, kau yang memberikannya padaku."
"Kenapa? Aku iseng saja memberikannya."
Sakura tersenyum kecut. Tidak perlu diingatkan juga, 'kan?
"Kalungnya cantik. Jangan terlalu percaya diri, Sasuke. Aku menganggapnya sebagai kalung persahabatan kok." Sakura mengangkat tangan kirinya. Menunjukkan sebuang gelang kain berwarna kuning. "Aku juga masih memakai gelang persahabatan dari Naruto waktu SMP."
"Apa kau pernah bertemu Hinata akhir-akhir ini?"
"Hinata?" Sakura berpikir sejenak. "Oh, ya. Aku bertemu dengannya bulan lalu. Di supermarket seberang gedung apartemenmu."
Tuh, 'kan...
"Aku berbohong padamu dan Naruto."
"Hm?" Sakura berdeham sambil mengambil sumpit. Mengambil katsu yang menjadi menu makannya kali ini. Ia harus mulai makan siang jika tidak ingin terlambat untuk kelas berikutnya.
"Kalung yang kuberikan padamu itu, awalnya bukan untuk ibuku. Tapi, aku membelinya untuk Hinata."
"Uhuk! Uhuk!"
Sakura tersedak chicken katsu yang baru ditelannya. Serat, Sakura meminum beberapa teguk air mineral. "Kau bilang apa tadi?" Sakura berkata setelah melegakan tenggorokannya.
"Kubilang aku–"
"Kenapa kau tidak bilang dari awal sih!" Sakura memotong ucapan Sasuke. Ia berkata dengan kesal. "Kalau sudah begini, aku bisa berkata apa di depan Hinata?!" Sakura berdecak sebal. Pantas saja ia sempat merasa ada yang aneh dari pertemuannya dengan Hinata bulan lalu.
Benar, apa yang bisa aku katakan pada Hinata?
