BoBoiBoy © Animonsta Studios

warning AU yang mengandung unsur dunia lain dan juga terdapat aspek minor AU!future marriage life HaliYa. Berpotensi OOC karena ini adalah draft 2 tahun lalu. Mohon maklum atas rentetan typo dan ketidakkonsistenan EBI dan diksi selama membaca fiksi ini.

Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari fiksi ini.


"Kira-kira, apa menurutmu dia akan baik-baik saja, Gem?"

"Jika Peramal Ying bilang begitu, aku juga akan berpendapat sama. Selama ini, ramalannya tak pernah salah."

Dalam separuh ketidaksadarannya, Yaya bisa mendengar suara-suara familier yang tidak asing. Dua kalimat terakhir mampu Yaya tangkap dengan jelas, menandakan bahwa kesadaran Yaya sudah kembali sepenuhnya. Sepasang kelopak mata Yaya membuka, memperlihatkan cokelat madu yang mengilap polos.

"... Gempa? Taufan? Itukah kalian?"

Dua nama yang dipanggil tampak terkejut. Instingtif, Yaya langsung melihat sekelilingnya. Ruangan tempatnya berada memiliki dinding yang tersusun dari kayu sungguhan, bahkan Yaya bisa mencium aroma semacam cendana yang lumayan kuat sekarang. Beberapa perabot seperti lemari dan meja tersusun rapi di sisi kiri tempat tidur yang dia tempati. Di sisi kanannya, sinar matahari menerangi seisi ruangan melalui celah bundar tanpa kaca.

Sebagai teman masa kecil Gempa dan Taufan, Yaya tahu kalau kamar mereka tidak seperti ini. Tidak hanya itu, pakaian mereka cukup aneh untuk remaja empat belas tahun sepertinya; dua laki-laki di depannya ini jelas mengenakan kemeja formal seperti akan menghadiri rapat dengan investor. Yaya beralih melihat dirinya sendiri dan cukup bingung dengan gaun terusan merah muda persik yang dikenakannya.

Semua ini terlalu aneh, menurut Yaya.

"Aku ... di mana?" Pada akhirnya, pertanyaan paling klise yang pernah Yaya tahu pun meluncur dari mulutnya sendiri.

"Bagaimana ... kamu bisa tahu nama kami?" tanya pemuda yang Yaya panggil Taufan sebelumnya. "Kami sama sekali belum pernah bertemu denganmu, lho!"

"Aku juga penasaran," timpal Gempa.

"Eh?" Yaya mengerjapkan matanya, berkali-kali memastikan realita. "Kalian tidak mengingatku?"

Dua lawan bicaranya kompak menggeleng. Setelah hening beberapa saat, tanpa penjelasan lebih lanjut, Yaya diajak oleh Taufan untuk keluar dari rumah, dengan Gempa yang mengikuti mereka dari belakang.

"Peramal Ying meminta kami untuk membawamu kepadanya setelah kamu sadar. Kami harap kamu tidak keberatan untuk ikut bersama kami," tutur Gempa.

Hah? Ying sahabat perempuannya yang selalu menjadi saingan di kelas, bercita-cita menjadi ilmuwan ... sejak kapan menjadi peramal?


Di luar rumah kopel kayu milik Gempa dan Taufan, Yaya sempat melihat dunia barunya. Terhitung total sepuluh rumah dengan konstruksi berbeda-beda membentuk lingkaran, dengan jalan setapak yang sepertinya merupakan akses keluar-masuk satu-satunya di sana. Kawasan itu cukup kecil hingga Yaya bisa melihat semuanya. Ah, Yaya melihat ada air mancur di tengah-tengah, dan beberapa perdu tumbuh cantik mengelilinginnya. Sepertinya akan menyenangkan jika bisa menghabiskan waktu di tempat ini.

Kesan yang pertama kali Yaya dapatkan adalah minimalis dan indah.

Gempa tiba-tiba bertanya di saat mereka baru saja ingin melintasi jalan berbatu itu. "Kak Taufan, apa sebenarnya kita menjelaskan sedikit tentang tempat ini pada emm ...—"

"Maaf memotong kalimatmu, tapi namaku Yaya. Salam kenal," sela Yaya memperkenalkan diri. "Aku minta maaf telah membuat kalian bingung tadi."

"Oh, tidak, tidak masalah sama sekali! Hidup memang penuh dengan kejutan!" tanggap Taufan positif. "Mungkin kamu sudah tahu, tapi biar aku balas mengulang perkenalan diri. Namaku Taufan, dan ini adikku, Gempa. Ah, apa kamu melihat rumah kami yang memiliki tiga pintu? Sebenarnya kami juga punya kakak. Kalau kamu bisa tahu namaku dan Gempa, apa kamu juga tahu nama kakak kami?"

Sebuah pohon berukuran sangat besar tumbuh di ujung jalan setapak. Terlihat seperti pohon beringin, namun akar yang menggantung ditumbuhi bunga aneka warna dan diselingi bunga yang telah kering. Yaya tidak tahu apakah bunga-bunga itu nyata atau hanya sebatas dekorasi. Tidak hanya itu, terlihat biasan aurora yang seakan menghujani puncak pohon, walau langit masih membuktikan siang meski berlapis kelabu.

"Tentu saja aku tahu, soalnya kalian bertiga adalah teman masa kecilku," jawab Yaya agak antusias. "Biasanya Halilintar selalu bersama kalian. Ke mana-mana, kalian hampir selalu pergi bertiga."

"Oke, kamu membuatku takut, Yaya," gumam Taufan dengan sedikit cekikikan, kontrakdisi sekali. "Aku sangat yakin kalau tidak ada satu pun di antara kami yang pernah bertemu denganmu."

"Ngomong-ngomong," sela Gempa, "pohon ini adalah rumah Peramal Ying. Kami menyebutnya Pohon Efisaccri. Pohonnya tidak selalu terlihat, dan jika sedang memasuki fase menghilangnya, jalan ini akan membawamu ke Kota Csoend. Bisa dibilang, Pohon Efisaccri adalah pembatas tak terlihat antara Desa Stifr, daerah tempat tinggal kami, dan Kota Csoend."

"Tunggu," cegat Yaya. "Apa aku ... tidak berada di Bumi? Lalu, di mana Halilintar?"

Gempa baru berani menjawab setelah merenung beberapa saat, "... Bumi itu apa, Yaya?"

"Mungkin Peramal Ying akan tahu!" jawab Taufan cepat. "Soal Kak Halilintar, Peramal Ying yang akan membantu menjelaskan padamu nanti."

"Peramal Ying juga akan membantumu pulang. Seluruh penduduk desa sangat percaya dengannya," timpal Gempa.

"Aku mengerti, tapi bagaimana caranya masuk ke dalam—"

Belum sempat Yaya menyelesaikan pertanyaannya, separuh badan Taufan sudah menembus batang pohon seolah tak terjadi apa-apa. Gempa menjawab kuriositas Yaya dengan satu senyuman. "Anggap saja masuk ke rumah tanpa pintu, Yaya."

"O-Oh ...! Baiklah."

Woah. Sepertinya Yaya harus mulai membiasakan dirinya di dunia ajaib yang mengejutkan ini.


"Selamat datang," sambut Ying dari balik mejanya. "Syukurlah jika kamu sudah sadar, Gadis Asing. Bagaimana hasil penyelidikanmu, Gempa?"

Yaya melotot terkejut. Lehernya merotasi kaku sembilan puluh derajat ke arah Gempa. Pemuda pemilik iris aurum tersebut memejamkan matanya, berusaha menghindari kontak mata.

"Jangan salah paham dulu, Yaya!" Taufan mulai menjelaskan sedetil yang dia bisa, "Kalau kamu ingin tahu, Gempa adalah jagonya dalam memanipulasi elemen tanah. Yang Gempa lakukan adalah berusaha mengecek asal-muasalmu, karena kami menemukanmu tenggelam di dalam air mancur pusat desa. Kami mengira kamu tersesat, dan dengan bantuan Gempa, kami pikir kami bisa menemukan tempat asalmu."

"Maaf kalau itu membuatmu merasa tidak nyaman," ujar Gempa pada akhirnya. "Aku sudah mencoba menelusuri seisi Elaif dari Desa Stifr hingga Kota Hentt, tapi Yaya memiliki kecocokan dengan semua tempat itu. Ini ... aku tak pernah menemukan kejadian seperti ini sebelumnya."

"Oh, um, tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Kamu juga melakukan itu untukku," tanggap Yaya. Bibirnya melengkung ke atas, tersenyum manis sekali. "Terima kasih banyak untuk kerja kerasnya."

Ying melepas tudung putih yang melindungi kepalanya, memperlihatkan rambut hitam yang diikat dua. Bingkai kacamata menghalangi safir kembar miliknya. "Kurasa kamu juga mengenalku, Yaya?"

"Eh?" Yaya tak pernah menduga pertanyaan itu akan dilontarkan padanya. "Peramal Ying, benar? Taufan dan Gempa beberapa kali menyebutkan namamu selama perjalanan."

"Apa melihatku sekarang membuatmu merasa sama seperti saat kamu bertemu dengan Taufan dan Gempa?"

Yaya mengangguk tegas. "Ya. Aku mengenalmu sebagai sahabatku sekaligus saingan terberatku di kelas."

"Kalau begitu, ini sudah jelas dan sesuai dengan apa yang sudah kuprediksikan." Ying tersenyum lebar dengan kepuasan tersirat di baliknya. "Taufan, Gempa, apa kalian masih tidak bisa menyentuh Yaya?"

Lagi-lagi Yaya terkejut. Taufan mengulurkan tangannya untuk mencoba hal yang dipertanyakan Ying. Ada kilasan cahaya dari tubuh Yaya yang menolak sentuhan dari Taufan. Gempa ikut mencoba, dan hasilnya juga sama.

"Yaya hidup di dunia ini, namun dia tinggal di dimensi yang berbeda. Itu sebabnya kita tidak bisa menyentuhnya dan juga sebaliknya," jelas Ying. "Aku masih belum tahu bagaimana bisa Yaya datang ke sini, tapi aku bisa melihat ada sesuatu yang sedang terjadi di dunia yang Yaya tempati."

"Apakah itu sesuatu yang buruk, Yi—Peramal Ying?" tanya Yaya dengan sedikit koreksi, masih tak terbiasa memanggil sahabatnya dengan sebutan berbeda.

"Panggil saja aku dengan namaku, aku tidak mempermasalahkannya. Taufan dan Gempa saja yang terus-terusan memanggilku Peramal Ying. Halilintar juga." Mendengar nama Halilintar membuat Yaya tersentak. Membicarakan soal Halilintar, sebenarnya dia tidak ada di sini, tapi entah mengapa Yaya bisa merasakan kehadirannya. "Untuk pertanyaanmu, aku tidak bisa menjawabnya sekarang."

Yaya menepuk tangannya spontan. "Aku baru menyadari sesuatu. Taufan dan Gempa menyelamatkanku, tapi mereka tidak bisa menyentuhku. Bagaimana bisa?"

"Sebenarnya, Kak Halilintar yang pertama kali menemukanmu. Dia memanggil kami dan Peramal Ying sebelum menghilang," ungkap Taufan. "Ah, ini malah tidak menjawab pertanyaanmu, ya? Hehehe."

"Di dunia ini, Elaif, kami hidup cukup berdampingan dengan sesuatu yang bisa kamu sebut sebagai sihir," Ying menjawab. "Seperti halnya Gempa, Taufan bisa mengendalikan angin, dan dialah yang membawamu ke rumah dengan kekuatannya. Sebelum Taufan pulang, aku berusaha merawatmu, meski tak banyak yang bisa kulakukan karena aku tak bisa menyentuhmu. Oh, supaya adil karena aku mengungkap kemampuan Taufan tanpa izin, aku bisa mengarungi dimensi waktu, entah itu masa lalu ataupun masa depan. Kalau boleh kukatakan, kekuatanmu yang paling penting, Yaya."

"Yaya juga punya?!" sahut Taufan antusias. "Apa itu, apa itu?! Bisa kauberitahu kami, Peramal Ying?!"

"Aku memang mau memberitahu kalian, sekaligus meminta kalian untuk membantuku melindungi Yaya selagi aku berusaha mencari cara agar Yaya bisa pulang." Ying berdiri dengan kedua tangan menepuk mejanya, menegaskan keseriusan. "Yaya adalah kunci Elaif. Sadar tidak sadar, dia bisa mengendalikan semua yang ada di sini, karena dialah pencipta dunia ini dan kita semua."


Setelah berunding dalam waktu singkat, akhirnya timbul kesepakatan bahwa Yaya harus tinggal di pohon milik Ying. Selain karena mereka sesama perempuan, rumah kopel milik tiga bersaudara—Halilintar, Taufan, dan Gempa maksudnya—tidak memiliki ruangan kosong yang bisa ditempati Yaya. Bagaimana dengan penduduk Desa Stifr yang lain? Sepertinya mereka menghilang, Yaya tidak pernah melihat siapa pun selain keempat teman yang tak mengingat dirinya. Rasanya sakit, tapi Yaya pikir ini bukan saatnya untuk terlalu larut dalam arungan emosi.

Di dalam kamar Ying, Yaya duduk menghadap langit yang terhalang jendela tanpa kaca. Yaya sangat yakin kalau waktu sudah berjalan sangat lama, tapi warna langit tetap sama seperti yang dilihat Yaya pertama kali. Abu-abu yang sangat tidak enak dipandang.

"Jika kamu penasaran mengapa warna langit di sini tak berubah, itu karena dunia kami berikatan dengan dirimu sebagai kunci Elaif."

Yaya menoleh. Ying mengambil kursi yang terletak di sudut ruangan, dan memosisikannya tepat di sebelah Yaya, memandang langit bersama melalui celah bundar itu. Ying masih mengenakan jubah putih yang sama, dan tidak terlihat berniat untuk melepas atau menggantinya.

"Sekarang sudah pagi, ah, malah hampir menjelang siang. Apa kamu melihat aurora semalam?"

Jadi saat itu ... dia datang di malam hari? Rasa bersalah dengan cepat merisau hati Yaya. "Maafkan aku yang sudah mengganggumu malam-malam, Ying."

"Tidak masalah untukku. Seperti yang selalu kukatakan, kamu adalah kunci Elaif. Apa yang kamu rasakan, itu sama dengan apa yang kami rasakan. Kalau melihat langit itu, langit yang selalu kelabu ... menandakan kesedihan yang tidak berujung. Jika ada aurora, maka di waktu itu, ada seseorang dari duniamu yang menginginkan kamu untuk kembali."

"Sedih? Aku ... merasa sedih?"

"Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi jawabannya adalah ya." Ying memainkan ujung jubahnya. "Masa depan selalu berubah-ubah, itu sebabnya aku sangat memilih mana yang harus kukatakan padamu dan mana yang tidak. Yang jelas, kesedihanmu inilah yang menahanmu di sini."

"Sebenarnya aku masih bingung," tutur Yaya. "Aku mengenal kalian, tapi Taufan dan Gempa tidak. Bahkan termasuk dirimu juga. Apa yang sudah terjadi sesungguhnya? Banyak hal mengenai dunia ini yang tidak aku mengerti."

"Kamu tidak perlu mengetahui segalanya, Yaya. Ingat kata pepatah? Rasa penasaran membunuh si kucing."

"Kamu ada benarnya, Ying."

"Tapi untuk pertanyaan itu, aku rasa aku bisa menjawabnya." Telunjuk Ying mengarah pada cermin dinding penuh. "Apa kamu sudah melihat tubuhmu sendiri sejak datang ke mari? Coba dan lihatlah."

Yaya mengikuti saran Ying dengan berjalan ke arah cermin yang dimaksud. Untuk yang kesekian kalinya, Yaya harus menenangkan jantungnya yang memberontak menolak kenyataan. Yaya ingat umurnya masih empat belas tahun, tapi mengapa tubuhnya—yang direfleksikan si cermin yang sedang menjalankan kewajiban—tampak seperti sepuluh tahun lebih tua dari usianya?

"I-I-Ini ... aku ...?"

"Aiya! Kalau kamu sendiri saja tidak bisa mengenali tubuhmu, bagaimana dengan kami?" tanya Ying dengan nada terkejut yang dipaksakan. "Kami semua ada karenamu, Yaya. Kamu mengenal dan berhubungan baik dengan teman-teman baikmu di dunia aslimu, menyimpan memori tentang mereka yang membentuk Elaif, dunia dalam pikiranmu, beserta isinya."

"Peramal Ying."

Menyertai kilat merah yang mengalihkan atensi Yaya dari bayangannya, seorang pemuda tiba-tiba sudah duduk dengan santainya di sebuah lubang pohon. Ying tersenyum simpul dan masih duduk bergeming menghadapi laki-laki itu, bersikap biasa saja dengan gaya duduk yang santai.

"Pasti Taufan yang memberitahumu, 'kan?" terka Ying basa-basi.

"Itu ada benarnya. Kalau kamu menanyakan keberadaannya, saat ini dia masih makan di rumah."

"Akhirnya kamu datang lagi, eh, Halilintar?" tanya si gadis berjubah putih. "Sungguh mengejutkan melihatmu kembali setelah pergi sehabis meminta bantuan kami untuk menolong Yaya. Eh, sejujurnya aku lebih terkejut kalau kamu adalah orang pertama, atau mungkin satu-satunya orang, yang berhasil mendatangi rumahku saat memasuki fase tidak terlihat."

"Pohonmu memang kadang tidak terlihat, tapi bukan berarti pohonmu berpindah tempat. Dengan mengetahui lokasi persis akses keluar masukmu, mudah saja jika ingin masuk, Peramal Ying," balas Halilintar datar.

"Woah, Halilintar adalah maling paling berbakat yang pernah aku kenal."

Urat amarah tercetak imajinatif di sisi kanan kening Halilintar "Aku bukan maling!"

"Habisnya sikapmu dan cara berpikirmu mirip sekali dengan maling. Kalau kamu mau menekuni itu, kamu akan berhasil. Masa depanmu dijamin bagus."

"Sembarangan!"

"Hahahahaha!"

"Tidak ada waktu untuk berdebat. Aku ke sini ingin membawa Yaya pulang."

"Ramalanku selalu tepat. Lihat sekarang? Selamat Halilintar, kamu sudah menjadi maling sungguhan—hei hei, hilangkan Pedang Halilintar punyamu itu. Kamu memang tidak memperlihatkannya, tapi aura mengintimidasimu sangat terasa." Ying berdeham, memasuki mode serius. "Kalau kamu memang ingin membawa Yaya pulang, apa kamu tahu caranya? Kemarin aku bersama Taufan dan Gempa berusaha melakukan observasi dan—"

"Kalau tidak keberatan, aku akan membawa Yaya untuk satu hari ini," tukas Halilintar. "Aku akan menyampaikan semua analisis dan opiniku setelahnya."

"Aku tidak mempermasalahkan, tapi aku bukan Yaya." Ying mengerling ke arah Yaya yang masih membeku di dekat cermin. "Bagaimana, Yaya? Kamu bisa mengenali seisi Desa Stifr bersama Halilintar, atau mampir ke Kota Csoend jika kamu penasaran. Pohonku tidak menghalangi jalan hari ini. Oh, jika kamu bisa mengingat kami bertiga, kamu tidak mungkin melupakan Halilintar, benar?"

"Te-Tentu saja, tapi ...—"

"Aku akan selalu bersamamu."

Ying membulatkan matanya. "Barusan itu ... kamu yang mengatakannya, Halilintar?"

"Mengatakan apa?" Halilintar mengernyitkan dahi. Sebenarnya ingin sekali dia menganggap Ying sedang menjahilinya, tapi dari raut wajah seintens itu, Halilintar tidak bisa menganggap pertanyaan Ying barusan hanya sekadar candaan. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"

"Aku akan selalu bersamamu," ulang Yaya dengan pipi bersemburat merah muda. "Kamu ... mengatakan itu tadi."

"Kamu bukan tipe makhluk hidup yang akan berkata seperti itu," sanggah Ying. "He he, jangan lupa untuk menceritakan kencan kalian padaku saat pulang nanti, ya?"

"PERAMAL YING!"

Selama berjalan mencapai akses keluar yang sopan dan benar—dasar Halilintar tidak ada akhlak, seenaknya saja memasuki rumah orang melalui jendela—dengan mengekori Ying, Yaya masih merenungi empat kata yang dibungkus menjadi satu kalimat pemberian Halilintar melalui lisannya. Telinganya masih mendengarkan pesan-pesan Ying, seperti berusaha menjaga diri sendiri, tetap bersama Halilintar, dan lainnya, walau pikirannya sudah melalang buana entah ke mana.

Aku akan selalu bersamamu. Itu hanya kalimat biasa, hanya sebuah kalimat penjamin agar Yaya merasa aman. Hanya saja, mengapa kalimat itu terdengar tidak asing dan ... begitu Yaya rindukan?


Halilintar membawa Yaya menuju air mancur pusat desa. Menurut penjelasan Taufan kemarin, Halilintar adalah orang pertama yang menemukannya jatuh ke dalam air mancur. Yang membuat Yaya bingung, mengapa Halilintar justru memanggil orang lain untuk menyelamatkannya ...?

"Kalau kamu bertanya mengapa aku tidak menyelamatkanmu, itu karena aku tidak bisa." Jawaban Halilintar benar-benar membuatnya Yaya bingung. Apakah barusan Halilintar membaca pikirannya? Atau mungkin saja Yaya tidak sengaja berbicara sambil berpikir? "Tentu kamu sudah mengetahuinya dari Taufan, Gempa, atau Peramal Ying, soal kami yang tidak bisa menyentuhmu."

Ternyata apa yang Yaya rasakan mengenai keberadaan Halilintar semalam itu benar. Dia ada di sana, hanya saja tidak terlihat, tapi bagaimana bisa? Lagi pula saat itu Yaya belum bertemu Halilintar, bukankah mustahil jika Yaya yakin bahwa itu benar-benar Halilintar?

"Taufan sudah menjelaskan semuanya padaku."

Yaya yakin hal mengejutkan yang sama tidak akan terjadi dua kali. "Kamu ... bisa membaca pikiranku?"

"Jawaban seperti apa yang kamu inginkan? Penjelasan panjang atau jawaban singkat?"

"Kamu bisa menjawab seperti apa yang kamu inginkan, Halilintar."

"Aku bisa memanipulasi listrik. Otak kita memiliki banyak sekali sel-sel saraf yang disebut neuron, yang berfungsi mengantarkan informasi dan mengandung semacam aliran listrik. Dari situ aku bisa memprediksi apa yang kamu pikirkan, serta apa yang akan kamu lakukan."

"Maksudmu biolistrik? Tidakkah itu berbeda dengan listrik alam?"

"Memang berbeda. Tidak bermaksud menyalahkanmu, tetapi sejak kedatanganmu ke sini, semuanya menjadi sedikit tidak biasa."

Duduk di tepi air mancur, Yaya bisa melihat jalan lurus yang sebelumnya tertutupi Pohon Efisaccri. Ada pagar putih besar yang tampaknya menjadi pembatas Desa Stifr dan Kota Csoend, yang merupakan Pohon Efisaccri yang berubah wujud. Meski Ying sempat menyarankan Yaya untuk meninggalkan desa, tampaknya Halilintar tidak berniat untuk membawanya pergi terlalu jauh.

"Kamu mengingat semua yang ada di sini karena Elaif adalah bagian dari kehidupanmu," tutur Halilintar, "tapi kami yang tidak mengingatmu, aku merasa itu karena kamu tidak hanya berpindah dimensi, tetapi juga ruang waktu."

Yaya mengerjapkan kedua matanya. "Mengapa kamu menjelaskan semua ini?"

"Karena kamu sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padamu, benar?"

Kebisuan Yaya menjawab ya akan pertanyaan Halilintar.

"Tentu kamu mengetahui bahwa penampilanmu saat ini tidak sesuai dengan apa yang kamu ingat. Berapa umurmu, menurutmu?"

"Emm ... sekitar empat atau lima belas? Belasan tahun, menurut keyakinanku."

"Mungkin saja ingatanmu kembali ke masa lalu, tetapi seharusnya kami bisa mengingatmu jika itu memang yang sebenarnya terjadi. Itu yang masih membuatku bingung hingga sekarang."

Halilintar terus menggunakan subjek kami. Terus terang, itu cukup berhasil memancing kuriositas Yaya. "Apa itu berarti sebenarnya kamu juga—"

"AWAS, YAYA!"

Hanya dalam sepersekian detik, Halilintar sudah berdiri melindungi Yaya dari depan, asal serangan berbentuk asap hitam itu datang. Sebuah pedang petir merah tercipta, kedua sisinya digenggam Halilintar untuk menghadang ancaman yang datang tanpa diminta.

"Halilintar!"

Sebuah kubah berpendar merah muda bergradasi biru melingkupi keduanya, berhasil mementalkan serangan berikutnya ke langit. Melihat adanya kesempatan untuk lari, Halilintar berkeinginan menarik tangan Yaya, melupakan fakta bahwa mereka sama sekali tak bisa bersentuhan.

"Ah!" Halilintar mendesis tanpa sadar. Sinar penolakan dari tubuh Yaya terasa agak menyengatnya. "Lari, Yaya!"

Pedang Halilintar lenyap, menyisakan kelebat merah terang yang sempat berpendar beberapa saat. Sebenarnya Halilintar bisa saja menggunakan kekuatannya untuk melarikan diri, namun mengetahui Yaya tidak seperti dirinya dan dia juga tak bisa membawa Yaya, Halilintar berlari dengan tempo menyerupai langkah kaki sang gadis. Tentu saja dengan itu Halilintar juga bisa melindungi Yaya, jika sewaktu-waktu terjadi serangan dadakan lagi.

Mereka kembali ke Pohon Efisaccri. Ying tak menyangka mereka akan kembali dalam waktu yang singkat.

"Peramal Ying." Suara Halilintar terdengar berat. "Mereka sudah mengetahui keberadaan Yaya dan melihat kekuatannya. Cepat atau lambat, Elaif akan diserang, dan Yaya berada dalam bahaya sekarang. Kita harus mengembalikan Yaya kembali ke dimensinya, secepatnya!"

Ying tampak kaget, sementara Yaya dibiarkan di dalam lingkaran ketidakpahaman.

"Apa ... maksudnya? Siapa yang datang ...?"

Terlihat Halilintar yang menimbang-nimbang keputusan menjawab atau tetap diam. Kerlingan matanya terarah pada Ying yang mengangguk singkat. Jika peramal yang paling dia percayai pun mengehendaki informasi tersebut tersebar, maka tidak ada lagi yang menghalangi Halilintar untuk menyampaikannya.

"Kematian."


Ying menyebut kondisi ini sebagai Fase Kritis. Taufan dan juga Gempa pun sudah bersiaga di depan Pohon Efisaccri. Halilintar masih berdiri di samping Yaya, menjadi prajurit pelindung Yaya jikalau Kematian berhasil menembus pertahanan Taufan dan Gempa. Tidak hanya itu, Halilintar juga harus melindungi Ying yang sedang mengarungi dimensi waktu, mencari sekaligus membuktikan teori Halilintar.

Halilintar mengerti sekarang, tentang alasan mengapa mereka semua—tak terkecuali dia juga—melupakan Yaya. Dia memang sengaja berbohong pada Yaya waktu itu agar Yaya merasa tidak diasingkan. Memang masih hanya sebatas dugaan, tetapi penyebab mereka tidak mengingat Yaya adalah Kematian yang berusaha menarik Yaya.

Kematian sudah menarik Yaya dari dimensinya, namun untuk sebab tertentu, Yaya jatuh ke dalam Elaif dan Kematian ingin menjemput Yaya kembali. Sebelum giliran Yaya yang melupakan mereka, alias melupakan semua bagian dalam kehidupannya, mereka harus bisa memulangkan Yaya ke dunia tempatnya seharusnya berada. Jika seluruh teori Halilintar terbukti benar, maka yang perlu dilakukan adalah satu; membahagiakan Yaya dan menghapus kelabu di langit yang merupakan ambang batas antara Elaif dan dunia tempat seharusnya Yaya hidup.

"Kakak, Yaya," panggil Taufan. "Kita semua akan melewati ini dengan selamat."

"Kami semua membutuhkanmu, Yaya," tambah Gempa. "Sesungguhnya, hanya kamu yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Tugas kami di sini hanyalah untuk membantumu."

"Aku mengerti." Yaya mengangguk mantap. "Aku masih ingin berjuang untuk bertahan!"


"Ini hari penentuan untuk Yaya. Jika dia bisa melewati fase kritisnya malam ini, kemungkinan besar dia bisa kembali bangun. Jika tidak ...—"

"Aku tahu, Dokter Ying. Aku ... tahu …."

Halilintar yang duduk di kursi di sisi kiri tempat tidur terus menggenggam tangan Yaya yang terbujur kaku, sesekali memanggil nama sang belahan jiwa setiap saat dalam periode yang tak pasti. Ada kedua saudaranya, Taufan dan Gempa, berdiri di dekat pintu ruangan. Ying dalam balutan jas putih dokter berdiri di samping Halilintar, tampak mati-matian menahan kekhawatiran dengan sikap profesionalnya.

"Berapa lama biasanya orang akan tersadar dari koma, Dokter Ying?" tanya Taufan.

"Apa kalian tidak bisa memanggilku tanpa—ah sudahlah." Mereka hanya akan menurut selama beberapa saat sebelum kembali pada kebiasaan lama. Ying sudah hapal benar sifat trio kembar teman sejak kecilnya. "Itu tergantung. Biasanya memakan waktu beberapa hari, namun pada beberapa kasus bisa berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Yang jelas, semakin lama seseorang jatuh dalam komanya, maka peluang untuk sadar semakin kecil."

"Yaya, kumohon, bangunlah …." Halilintar menempelkan keningnya pada lengan Yaya yang masih digenggamnya. "Aku menunggumu di sini. Aku tidak akan pernah membiarkanmu seperti ini lagi …."

Gempa berjalan menghadap punggung Halilintar, menepuk kedua bahu sang kakak dari belakang. Iris emasnya menatap nanar Yaya yang masih terbujur tanpa pergerakan berarti sejak satu minggu yang lalu, sejak kecelakaan besar yang melibatkan Taufan, Gempa, Yaya, dan calon bayinya.

Menggantikan Halilintar yang seharusnya membawa Yaya untuk pemeriksaan rutin ke dokter kandungan, Gempa membawa mobil bersama Taufan yang juga berkeinginan menemani Yaya. Tidak akan ada yang menyangka bahwa hari itu, sebuah mobil tak dikenal menabrak mobil mereka, menciptakan tragedi yang tak terelakkan.

Ketika Halilintar mengetahui apa yang terjadi, Halilintar berusaha mencari siapa dalang di balik kecelakaan yang menimpa keluarganya. Keyakinan Halilintar terhadap sikap Gempa yang tak mungkin sembrono terbukti benar; saingan bisnisnya memang sengaja mencelakakan mereka, mengira Halilintar yang membawa mobil pada hari itu. Halilintar merasa bersalah hingga sempat tak berani menemui Yaya selama dua hari pasca kejadian.

Suara elektrokardiogram yang berbunyi teratur menandakan Yaya masih ada di sana, masih berjuang untuk hidup. Halilintar mengangkat kepalanya, mencium kening Yaya untuk yang kesekian kalinya.

"Aku akan selalu bersamamu."


Gempa dan Taufan saling bekerja sama untuk menetralisir kekuatan angin dan guncangan tanah, sekaligus menahan muntahan asap hitam dari monster hitam berwajah mengerikan bernama Kematian. Mereka sepakat untuk tidak mencoba menyerang sosok pengundang katastropi yang sudah dijelaskan secara singkat oleh Halilintar, karena bisa saja terjadi hal buruk yang tak terprediksi.

Pohon Effisacri bergoyang dan bergetar. Halilintar masih memasang posisi siaga melindungi Yaya dan Ying. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ying akan kembali dalam waktu dekat, sementara Yaya merasa tidak tahu harus berbuat apa.

"Halilintar benar!" Halilintar bisa mendengar suara Ying menggema di otaknya. "Selama ini Yaya yang asli merasa hubungannya dengan teman dan suaminya tidak seakrab ketika mereka masih remaja, maka dari itu yang Yaya ingat adalah jati dirinya sebagai remaja belasan tahun, bukan seorang wanita berkepala dua yang merasa sangat kesepian. Aku harus segera kembali memberitahu Halilintar dan Yaya!"

Monster hitam telah berhasil mengoyak bagian depan Pohon Efisaccri. Masih bersembunyi di belakang Halilintar, Yaya melihat Taufan dan Gempa jatuh tak sadarkan diri di dekat sang monster. Makhluk berukuran setinggi Pohon Efisaccri menyeringai seram begitu melihat wajah Yaya, terlihat sangat bahagia atas kesuksesannya menemukan Yaya sekali lagi.

Di momen itu, Yaya mendapatkan kembali memorinya yang sebenarnya. Mobil yang membawanya mengalami kecelakaan, Taufan yang duduk di kursi depan jatuh pingsan setelah kepalanya menghantam dasbor mobil, sementara Gempa kurang lebih juga bernasib sama dengan kepala yang menabrak setir. Ingatannya berjalan mundur sampai pada saat yang membuat Yaya bahagia; bagaimana dia masih bisa akrab dengan teman-temannya, bermain bersama, dan membicarakan cita-cita dengan begitu naifnya.

"Yaya!" Ying dalam balutan seragam sekolah menarik tangan Yaya, menyelimuti tangan mungil sahabat sekaligus rivalnya dalam kedua tangannya yang mengatup. "Kita akan selalu bersama-sama, 'kan?"

Semua orang berkata begitu, tapi Yaya yang kini hidup di masa depan merasa semua itu hanya kebohongan yang menyakitkan.

Ying menjadi seorang dokter bedah yang sangat terkenal. Suaminya, Halilintar, adalah pendiri sebuah korporat penghasil bahan baku cokelat yang kini sudah membuka cabang di seluruh Asia, bersama Taufan dan Gempa. Gopal sudah pulang ke India dan membantu memulai usaha baru bersama ayahnya di sana. Ada juga Fang yang sudah sukses menggapai impiannya; menjadi astronot yang menjalajahi bintang dan meteor.

Selama ini, Yaya berpikir bahwa semua teman-temannya yang egois telah meninggalkannya. Namun setelah melihat semua kilas balik yang diberikan Kematian untuknya, termasuk bagaimana Ying, Halilintar, Taufan, dan Gempa menanti kesadarannya bergantian, Yaya sadar bahwa dirinyalah yang egois selama ini, menginginkan dunia harus berjalan persis dengan apa yang diinginkannya, tanpa sadar menciptakan Elaif sebagai dunia palsu yang bisa memenuhi keinginannya dan menjadi tempat bagi Yaya untuk melampiaskan kekecewaannya.

"Ya—akh!" Suara Ying yang baru saja kembali langsung tercekat begitu melihat sosok Kematian untuk pertama kalinya. Tentu saja, Ying bisa menenangkan dirinya secara cepat karena menyadari ada yang jauh lebih penting. "Ya-Yaya! Kita semua akan selalu bersama, 'kan?"

Halilintar yang tampak mengerti dengan situasi ikut berujar, "Aku, kami semua akan selalu bersamamu."

Setelahnya, Yaya bisa mendengar suara semua orang yang Yaya kenal yang kompak meyakinkannya kalau dia tak hidup sendirian. Memorinya berputar maju, membawanya pada momen kelulusannya, pernikahannya, hingga kecelakaan itu. Di akhir perjalanan yang dipandu oleh reminisensi, Yaya bisa melihat wajah Taufan, Gempa, Ying, Gopal, dan Fang yang berdiri tepat di hadapannya. Ada Halilintar yang duduk di samping Yaya, mencoba selalu memanggil namanya, berharap dia akan kembali.

Kebahagiaan menangkup wajah Yaya yang mulai menangis. Kematian tiba-tiba saja menghilang dari hadapan mereka, dan untuk yang pertama kalinya, matahari menyinari Elaif dengan cahayanya yang begitu terang, sukses membuat Yaya menutup matanya yang terasa seperti dibutakan.

"Sampai jumpa lagi, Yaya!"


Ketika kelopak mata Yaya membuka, pandangan Halilintar terlanjur mengabur dan basah.

"Yaya ...," lirih Halilintar yang tenggelam oleh sesenggukannya, "selamat datang kembali."


tamat


Sudut Penulis :

Ahoynonya! Aku tidak tahu apakah ada yang masih mengingat kembang tepi jurang yang pernah merusuh di sini dua tahun lalu atau tidak, but still, hello hewowo!

Percaya tidak percaya, ini adalah salah satu draft dari Desember 2020, kurang lebih tepat dua tahun mendekam di dalam Google Drive-ku. Aku memutuskan untuk melanjutkan fiksi ini karena aku punya sebuah tujuan; mencari seseorang yang tidak kukenal.

Iya, kalian yang membaca ini sama sekali tidak salah, tapi ada orang yang sangat ingin aku sapa dan berharap dia membaca fiksi ini, haha. Mengesampingkan soal itu, aku memutuskan untuk mempublish draft yang ini karena di antara semuanya, cuman ini yang benar-benar ingin kulanjutkan. Aku tahu karakter di sini sedikit atau malah terkesan OOC, aku pun merasa begitu, terlebih lagi karena sudah ketinggalan info soal progres seri aslinya, ahaha. X"D

Sebelum makin panjang, lebih baik kuakhiri di sini deh. Sekian cuap-cuap dariku! Ciaoo!

~himmedelweiss 02/12/2022

P.S : Pertanyaan serius, ada yang tahu genre apa yang pas untuk fiksi ini? Aku selalu kesulitan dalam menentukan genre, ahahaha! Soal judul, aku berterima kasih banyak pada Google Translate! XDD