Disclimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
Naruto Hinata
FANFICTION
"Apa-apaan proposal ini,sangat tidak rapih!,sama sekali tidak jelas!,apa waktu yang kuberikan tidak cukup hah?",bentak Seorang pria bersurai kuning pada pegawainya. Presdir muda itu menatap marah sang sekretaris yang bekerja dengan sangat tidak becus.
"Maaf pak,pasti saya akan-
"Cukup!,aku tidak mau dengar!,segera perbaiki atau kau akan kupecat!,Pria itu berjalan cepat. Meninggalkan sekretarisnya yang masih tertunduk.
Presdir Namikaze Corp, Naruto Namikaze. Memang dikenal sangat tegas pada semua pegawainya. Sedikit saja kesalahan, 'nyawa' taruhannya. Tak banyak yang tahu soal Naruto. Mereka hanya tahu bahwa dulu pria itu hampir saja menikahi seorang gadis dari keluarga Haruno, namun pernikahan itu batal karena gadis itu memilih pria lain. Hingga saat ini,pria itu masih sendiri. Entah patah hati atau apa. Tak ada yang tahu.
Sedan mewah Naruto melaju kencang di jalanan kota yang begitu ramai. Seolah jalananan itu benar-benar miliknya seorang. Tanpa diduga mobil berwarna hitam metalic itu memarkirkan dirinya di pinggiran jalan. Naruto sengaja parkir disana karena ia memang ingin menenangkan diri. Banyak sekali yang sudah terjadi dalam hidupnya. Setelah insiden dirinya yang ditinggalkan sang tunangan, hidupnya jadi begitu monoton dan membosankan.
.
.
.
.
.
.
.
"Kaa-san aku langsung berangkat ya...",ujar seorang bocah laki-laki beramput pirang yang usianya 10 tahunan itu.
"Kau tidak mau sarapan dulu sayang?,kaa-san sudah masak enak lho..", tawar sang ibu. Netra amethystnya menatap sang putra dengan lembut. Aura keibuan memancar dari wanita berusia 29 tahunan itu.
"Tidak ah..orang-orang mau membaca koran saat masih pagi begini...kalau korannya telat kan kasian mereka kaa-san..", ujar bocah pirang itu.
"Boruto..kaa-san rasa kau tidak perlu lakukan ini,uang yang Kaa-san terima sudah cukup kok untuk biaya hidup kita..", sang ibu yang diketahui bernama Hinata menatap sang anak dengan pandangan sendu.
"Kaa-san..aku kan sudah bilang aku melakukan ini karena hobi..kalau aku bersepeda pagi setiap hari nanti badanku bisa atletis,dan gadis-gadis akan mengejar-ngejar putra kaa-san yang tampan ini..saahh",ujar Boruto sambil menyisir rambutnya dengan tangan, hal ini berhasil membuat sang ibu tersenyum.
"Duh..putraku ini sudah dewasa ya...kamu jangan cepat-cepat dewasa dong..kaa-san tidak rela", ujar Hinata sambil mengusap surai pirang sang putra.
"Aku juga tidak mau jadi dewasa...aku mau terus jadi bayi kecil kaa-san yang manja..",ujar Boruto manja sambil memeluk Kaa-sannya manja.
"Fufufu..kau memang akan selalu jadi bayi kaa-san..".
"Oh..aku sampai lupa!,daaah..kaa-san..",ujar Boruto sambil berlari terbirit-birit menuju sepedanya. Bocah itu mengayuh sepedanya yang dikeranjangnya penuh dengan koran. Hinata menatap kepergian sang putra dengan sedih.
Begitu banyak hal yang tak bisa ia berikan pada sang putra. Bocah seumuran dia seharusnya sedang masanya bermain-main dan bersosialisasi dengan temannya kan?. Namun tidak dengan Boruto. Dia adalah anak yang sangat dewasa di usianya yang masih kanak-kanak itu. Dia tidak pernah minta apapun pada sang ibu. Hal yang paling menohok ulu hati Hinata adalah kenyataan bahwa dalam hidup putranya itu tak pernah ada sosok seorang ayah. Ayah Boruto, satu-satunya pria yang dicintai Hinata. Dalam hidupnya, Hinata sudah senang asalkan bisa terus memikirkan pria itu. Bisa terus mencintainya saja sudah cukup baginya.
Flashback On
Wanita berambut indigo itu bangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Setelah permainan yang panas dan menguras tenaga itu, setelah sang kekasih memberikan benihnya, wanita bernama Hinata itu terus memikirkan satu hal dalam benaknya.
"Naruto-kun... kau tidak akan meninggalkanku kan?",tanya Hinata lirih. Sang kekasih pirangnya itu menjawab dengan mengganggukkan kepalanya. Hinata tersenyum menanggapi jawaban sang kekasih. Hinata sangat yakin bahwa pria itu tidak akan meninggalkannya. Hingga beberapa minggu setelah malam panas itu Hinata menyadari bahwa dirinya sedang mengandung buah cintanya dengan sang kekasih.
Hinata sama sekali tidak berpikiran untuk menggugurkan kandungannya. Meskipun hal itu akan membuat beasiswanya di Fakultas kedokteran itu dicabut. Meskipun masa depannya dipertaruhkan. Hidup sederhana bersama Naruto dan putranya baginya sudah lebih dari cukup.
"Kau ingin bicara tentang apa Hinata?", tanya Naruto to the point. Tidak biasanya Hinata minta bertemu di tempat sesepi ini. Bahkan wanita itu tak pernah minta apapun. Justru dia yang selalu menuruti ucapan Naruto. Apapun yang kekasih pirangnya itu minta selalu ia berikan. Termasuk mahkota berharganya sebagai seorang wanita pun telah ia serahkan.
"Na-naruto-kun..aku,a-ku hamil..",ujar Hinata. Saphire Naruto membulat. Oh..ayolah ia hanya ingin one night stand..kenapa bisa hamil??, apa wanita ini tak tahu fungsi dari obat pencegah kehamilan?, Naruto harusnya tahu bahwa ia tak seharusnya 'bermain' dengan wanita polos semacam Hyuga Hinata. Naruto hanya penasaran saja bagaimana jika wanita polos semacam dia beraksi di ranjang. Dia hanya ingin mencari pelarian atas sakit hatinya dengan Sakura yang mencintai Sasuke, dan teman raven nya itu yang ternyata juga mencintai Sakura.
"Lalu kau mau aku bertanggung jawab dan menikahimu? Lalu kita hidup bahagia seperti kisah drama?", amethyst Hinata membulat. Kenapa sikap Naruto berubah?
"Naruto-kun..",lirih Hinata.
"Kalau kau bisa tidur denganku, artinya kau bisa saja sudah tidur dengan belasan pria lain..dan bisa saja anak itu bukan anakku",ujar Naruto enteng. Hinata hanya menundukkan pandangannya ke tanah yang ditumbuhi rumput di bawah kakinya. Dia tidak ingin menatap wajah dingin sang kekasih. Ia sangat tidak kuat.
"Hinata,aku sebenarnya tidak mencintaimu", Hinata semakin menundukkan wajahnya, ia tak kuasa menahan air yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Baru saja ia merasa bahagia karena pria yang selama ini ia cintai, akhirnya membalas Cintanya. Tapi kenapa sekarang hatinya justru lebih sakit daripada saat Naruto mengabaikannya dulu.
"Kau tahu kan kalau aku hanya menjadikanmu pelarian?, semua orang tahu bahwa Sakura menolakku dan tepat hari itu juga kau menyatakan cinta...lalu aku harus apa?",ujar Naruto dengan dingin. Hinata mendongakkan wajahnya.
"Tidak, аku tidak minta kau bertanggung jawab...apa pun keputusanmu aku menerimanya Naruto-kun, dan aku juga tidak akan pernah mengganggumu lagi, tapi soal anak ini...percayalah hanya kau seorang yang pernah menyentuhku...",lirih Hinata sambil mengelus perutnya yang masih rata itu. Naruto menatap Hinata dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
"Kalau begitu sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi bukan..a-aku akan pergi..pasti..hiduplah dengan bahagia Naruto-kun..", ujar Hinata dengan seulas senyum di wajahnya. Entah apa arti senyum itu. Perlahan kaki jenjang Hinata mulai menjauh pergi. Sesekali wanita itu mengusap wajahnya. Berusaha menghilangkan jejak-jejak kesedihan di matanya.
Flashback off
Uzumaki Mansion
"Surat kabar datang!!", teriak Boruto dengan semangat ketika lagi-lagi ia menginjakkan kaki di mansion mewah ini. Secara tiba-tiba Wanita paruh baya berambut merah panjang langsung menghambur dan memeluknya.
"Akhirnya kau datang juga sayang...baa-san sudah lama menunggu tau..",ujar wanita bernama Kushina itu sambil mengusap surai pirang Boruto di sela pelukannya.
"Hee?? Memang Kushina baa-san baca Koran? Yang baca koran kan Minato jii-san...", ujar Boruto polos.
"Yang kutunggu bukan korannya..tapi kamu sayang..kamu sudah makan?sudah minum susu? Sudah-"
"Maaf Baa-san hari ini aku sangat buru-buru...korannya harus diantar secepat mungkin...jadi aku mau langsung-
"Minum susunya dulu...kamu tidak kasian dengan nenekmu yang sudah membuat susu ini dengan susah payah..",bujuk Kushina. Kushina memang sudah terbiasa seperti ini. Setiap hari bocah pirang ini selalu mengantar koran kemari. Sejak pertama kali melihat bocah pirang itu, Entah kenapa Kushina merasa memiliki ikatan dengan Boruto. Apa karena wajah anak ini mirip putranya?,entahlah..yang jelas Kushina sangat menyayangi Boruto, bahkan Minato sang suami juga berpendapat sama seperti dia. Menurutnya Boruto adalah anak yang sangat dewasa dan unik.
Boruto menatap Kushina sendu. Ia tak tega dengan wanita yang sudah sangat baik padanya ini. Bahkan pasangan Namikaze ini meminta Boruto memanggil mereka 'kakek dan nenek'. Dia senang bisa memiliki nenek dan kakek walaupun bukan dari hubungan darah. Namun pada kenyataannya, sepasang suami istri paruh baya ini sangat menyayanginya bagaikan cucu kandungnya sendiri. Sarapan bersama dan bercanda bersama Boruto, sudah menjadi kegiatan favorit Kushina dan Minato sekarang.
"Baiklah baa-san..tapi hanya sampai susunya habis va..setelah itu aku akan pergi..",ujar
Bolt. Kushina mengangguk senang dan segera memberikan segelas susu yang khusus ia buat untuk bocah itu. Boruto meminum susu itu dengan sangat cepat,hingga belepotan di sekitar mulutnya. Kushina tertawa kecil dan segera mengelap Bibir bocah itu dengan tisue.
"Habis...aku pergi dulu..sampaikan salamku pada Minato-jii san ya baa-san.. ",ujar Boruto sambil berlari cepat menuju sepedanya. Kushina menatap punggung kecil Boruto yang mulai menjauh dengan sendu.
'Andai saja dia itu cucuku..',batin Kushina.
.
.
.
.
.
.
Naruto mengacak surai pirangnya frustasi. Pria itu menatap foto-foto kebersamaanya dengan Sakura. Kenapa Naruto harus jatuh cinta pada wanita itu sih!. Kenapa hubungannya jadi serumit ini? Saat Naruto sedang frustasi, foto-foto itu beterbangan tertiup angin.
"Sial!",umpat pria itu sambil mengejar foto-foto yang beterbangan itu. Pria bersurai kuning itu sampai-sampai tak sadar ada sebuah mini van melaju kencang ke arahnya. Sialnya pengemudi van itu juga sepertinya tak menyadari Naruto. Mereka berdua sama-sama mabuk. Supir van yang mabuk alcohol dan Naruto yang mabuk cinta.
Brak!
Mini van itu akhirnya menabrak seseorang. Tubuh orang itu terpental hingga beberapa meter dari tempatnya semula.
"Auuhh..sial!",umpat Naruto setelah kepalanya terantuk trotoar jalan dan mengeluarkan darah segar.
"Hey ada yang tertabrak van!",teriak seseorang.
"Cepat-cepat tolong dia!" ujar seseorang yang lain hingga beberapa orang berkumpul dan mengerumuni sesosok tubuh yang terbaring mengenaskan di pinggir jalan. Benar juga,tadi Naruto merasa ada yang mendorong tubuhnya. Jangan-jangan orang itu-
"Permisi-permisi!", Naruto mendesak masuk kerumunan itu,ingin melihat siapa yang sudah menyelamatkan nyawanya. Naruto melihat wajah itu. Saphirenya membulat. Memori-memori berputar-putar di kepalanya.
"Naruto-kun, kau tidak akan meninggalkanku kan?"
"Aku tidak apa..."
"Aku akan pergi.."
"Hinata!!"
.
.
.
.
.
.Konoha Hospital 12.00 PM
"Kau tidak akam meninggalkanku kan?"
"Aku tak apa.."
"Aku akan pergi..pasti.."
Ingatan tentang Hinata Hyuga terus berputar di kepala Naruto. Banyak hal sudah terjadi antara mereka berdua. Banyak yang ingin ia tanyakan, banyak juga yang ingin ia katakan. Salah satu nya adalah kata 'maaf'. Mungkin hampir seumur hidupnya tak pernah mengucapkan kata itu.
Bahkan mungkin Naruto tidak akan mengingat Hinata atau bahkan namanya jika bukan karena kejadian ini. Kejadian yang hampir merenggut nyawanya, namun justru merenggut nyawa wanita ini. Ya. Sejak dibawa ke Rumah sakit untuk mendapat penanganan pertama, Hinata sudah dinyatakan meninggal. Dia mengalami pendarahan dan trauma otak serius.
Naruto kini mematung memandang tubuh tak bernyawa yang kini terbaring di kamar mayat itu. Tangan besarnya mengusap pipi pucat wanita itu. Naruto tersenyum kecut. Hidupnya benar-benar penuh paradoks. Dihancurkan wanita yang ia puja, dan diselamatkan wanita yang ia sia-siakan. Paradoks yang begitu menjijikkan.
"Naruto!", teriak Kushina panik. Naruto menolehlan wajahnya menatap sang ibu yang berlari panik kearahnya di ikuti sang ayah. Kushina menangis di bahu Naruto. Bagaimana bisa begini? Tadinya Naruto ada di Tokyo kan? Kenapa bisa disini? Dan kenapa sekarang ada nyawa yang melayang karena kesalahan anaknya.
"Apa keluarganya sudah dihubungi?",tanya Minato,namun sang putra justru menatap kosong entah kemana.
.
.
.
.
.
.
"Permisi! Maaf! permisi!", entah sudah berapa orang yang Boruto tabrak. Kenapa ada orang yang bisa memberikan lelucon paling tidak masuk akal semacam ini?. Saat ia sedang menanti ibunya pulang kerja dari kedai, ada seorang teman kerja ibunya yang datang ke rumah dan memberitahu bahwa ibunya meninggal. Lelucon yang sangat tidak lucu!,itulah batin Boruto saat ini.
"Dimana ibuku? Hyuga Hinata..", tanya Boruto pada suster di meja administrasi. Suster itu menatap bocah pirang ini dengan sendu. Masih anak-anak. Suster itu mengatakan dimana ruangan Hinata pada Boruto,namun tidak memberitahu bahwa ruangan itu adalah ruang mayat.
'Sudah kuduga orang itu hanya iseng..kaa-san pasti baik-baik saja..pasti..',batin Boruto sambil terus berlari menuju ruangan yang ditunjukkan suster tadi.
Brak!
Mendengar pintu kamar mayat dibuka. Tiga Namikaze yang tengah larut dalam kesedihan itu menoleh. Mendapati seorang bocah pirang dengan peluh disekujur tubuhnya membuat mereka terkejut.
"Boruto!",kaget Kushina mendapati bocah pengantar koran yang sangat ia sayangi itu berada di tempat mengerikan ini.
Air mata bocah itu mengalir, mendapati tubuh ibunya yang terbujur kaku di atas pembaringan. Dia ingin marah..tapi dengan siapa?..dia ingin menangis dan meraung-raung..tapi pada siapa? Kaki kecilnya melangkah mendekati tubuh sang ibu. Diciumnya tangan ibunya yang sudah sedingin es itu.
"Kaa-saan..",lirih Boruto dengan air mata yang menganak sungai dari iris saphire-nya.
Deg
'Kaa-san? Dia anak Hinata?apa mungkin..',batin Naruto kebingungan. Memori -memori terus saja berputar di kepalanya.
'Naruto-kun..aku hamil..'
'Apa mungkin anak ini?..,batin Naruto sambil mengamati wajah Boruto. Rambut, mata, warna kulit, guratan di wajah...semua miliknya ada pada anak itu. Apa mungkin Boruto benar-benar putranya. Jadi Hinata melahirkan anak itu? Jadi Hinata tidak menggugurkannya? Kenapa?. Begitu banyak pertanyaan tak terjawab dalam benak Naruto.
"Bolt..hiks..dia ibumu nak?", lirih Kushina sambil mendekap tubuh mungil cucunya yang bergetar hebat. Wanita bersurai merah itu juga menangis kencang. Bahkan bisa disebut meraung. Minato memeluk dua orang itu dengan sayang. Berusaha menghilangkan kesedihan mereka berdua. Sementara Naruto terus bertarung dengan batin dan logikanya.
'Kenapa bisa begini..',batin Naruto lirih.
Flashback On
"Kau tahu Hinata Hyuga dari fakultas kedokteran itu?", ujar seorang gadis berambut ungu panjang pada temannya.
"Maksutmu si gadis yatim piatu yang kuliah disini karena beasiswa?..yang katanya jenius fakultas kedokteran itu?", tanya temannya yang berambut kuning pendek.
"Kau sudah dengar beasiswanya dicabut?"
"Hah?belum..ada apa?"
"Banyak gosip yang bilang kalau dia hamil"
"Tidak mungkin...dia itu kan gadis polos...polos sekali malah..mana mungkin hamil diluar nikah..", ujar gadis berambut kuning pendek itu tak percaya pada temannya.
"Itu pasti cuma kedok!..diluarnya saja polos..tapi di dalamnya..wanita nakal!, buktinya dia hamil kan?".
"Itu kan cuma gosip..".
"Tapi buktinya dia sudah tidak di kampus ini lagi kan?kapan terakhir kau melihatnya?".
"I-iya juga ya..sudah lama sekali aku tidak melihat dia..mungkin gosip itu memang benar..".
Naruto diam-diam menguping pembicaraan dua gadis itu. Pria itu menarik napas lega. Baguslah tidak ada yang tahu bahwa dialah yang sudah menghamili Hinata.
Jadi Hinata di DO?, di mana dia sekarang ya? Ck masa bodoh dengan wanita itu',batin Naruto tidak peduli.
Flashback off
'Hinata..dia..anak ini...rasanya seperti dihantam godam dan ditusuk ribuan kali tepat di jantungnya. Hinata yang sudah dia sia-siakan..wanita berambut indigo yang selalu ada untuknya itu..dia..
Air mata mengalir dari dua manik saphirenya. Apa yang sudah dia lakukan? Dia menghancurkan hidup dan masa depan wanita malang itu, dan sekarang dia juga merenggut hidupnya..lalu putranya..
"Boruto..hiks..jangan menangis sayang...baa-san ada disini..kau tidak akan sendirian..hiks..", Kushina berusaha menenangkan Bolt..padahal dirinya sendiri juga menangis. Kenapa anak sekecil Bolt harus mengalami ini?
.
.
.
.
.
.
.Upacara pemakaman sudah dilakukan. Bocah pirang ini hanya menatap kosong ke depan. Enatah apa yang ada dalam pikiran bocah itu sekarang ini. Apa yang akan dia lakukan tanpa ibunya?
"Boruto..sekarang kau tinggal dengan nenek ya..", Kushina mendekati bocah itu dan duduk di sampingnya. Bolt menatap Kushina bingung.
"Lalu rumahku?", tanyanya.
"Itu akan tetap jadi rumahmu sayang...tapi kau harus tetap tinggal bersama kami..sekarang kami ini orang tuamu..",ujar Kushina berusaha tersenyum. Boruto hanya diam dan menunduk. Ia sudah tidak peduli lagi hidupnya akan jadi bagaimana. Kalau hidup tanpa ibunya sama saja dia tidak hidup kan?,itulah yang ada di pikiran bocah tampan itu. Namun ia tiba-tiba teringat kata-kata ibunya.
"Kau boleh berteriak, kau boleh menangis, tapi jangan pernah menyerah.."
Boruto menarik sedikit sudut bibirnya. Ibunya memang benar-benar sosok yang sangat luar biasa. Selama hidupnya ia tidak pernah merasa kekurangan apapun. Semua berkat kerja keras dan kasih sayang yang ibunya berikan selama ini. Kalau soal kasih sayang ayahnya...Boruto tidak merasa dia membutuhkan itu. Selama ia tetap bisa bersama sang ibu, ia tidak butuh apapun lagi. Sekarang mungkin Ibunya sudah tidak bersamanya lagi. Tapi hati kecil Boruto masih merasa bahwa ibunya selalu ada di sisinya dan menjaganya. Meskipun dalam ketidaknampakkan.
"Barang-barangmu akan kami ambil besok sayang..,sekarang kau istirahat dulu ya..baa-san sudah siapkan kamarmu..",ujar Kushina.
"Tidak usah Baa-san..aku akan membawa sendiri barang-barangku..lagipula cuma sedikit kok..", ujar Boruto sambil berusaha tersenyum, agar sang Nenek tidak terlalu sedih karena memikirkannya.
Seharian ini Naruto terus berada di kamarnya. Kepalanya serasa berputar seperti gasing. Rasa bersalah,amarah, letih, bercampur jadi satu. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa yang akan dia katakan pada putranya itu.
"Hai aku ayahmu yang sudah membuangmu dan membuat ibumu mati..kau mau memaafkanku kan?".
Konyol!
Naruto mengacak surai pirangnya frustasi. la ingin memejamkan matanya sejenak. Mencoba melupakan dan menghilangkan beban berat di kepalanya.
Mencoba jadi egois lagi nee Naruto..
.
.
.
.
.
.
.
Naruto berdiri di bawah sebuah pohon. Tepatnya saat ini ia tengah duduk di sebuah kursi taman. Entah bagaimana dia bisa ada disini, dia tidak peduli. Dia hanya ingin memejamkan matanya sebentar. Mau di kursi taman,mau di kursi listrik ia tidak peduli. Baru saja ia mau memejamkan matanya. Ia melihat ada seorang wanita yang hendak duduk di kursi itu. Wanita itu terlihat kepayahan membawa koper besarnya, apalagi dengan perut besarnya itu yang menjadi beban extra. Saat wanita itu mulai mendekat, Saphire Naruto membulat. Dia..
"Hinata!", panggil Naruto. Namun yang dipanggil sama sekali tak menggubris. Hinata justru lebih memilih duduk disampingnya.
'Apa ini?apa Hinata tidak bisa melihatku?..sebenarnya ini ada apa?',batin Naruto bingung. Hinata mengelus perut besarnya.
"Kita istirahat disini sebentar sayang..",wanita itu membuka tasnya. Mengambil sebuah buku catatan kecil dan pena yang sudah ada di dalamnya.
"Nah..semua sudah kucatat disini...biaya persalinan,perlengkapan bayi,sewa rumah,keperluan sehari-hari..",ujar Hinata lebih kepada dirinya sendiri. Naruto terdiam menatap wanita bernetra ametyst itu.
"Mungkin saat ini uangnya tidak cukup..tapi ibu akan bekerja supaya semua kebutuhan kita terpenuhi..kamu jangan khawatir ya..tumbuhlah dengan sehat disana..",ujar Hinata sambil mengelus perut besarnya.
Naruto menatap sendu Hinata.
"Seberat inikah kehidupan yang dijalani Hinata selama ini?..hanya karena aku ingin 'bermain-main' satu malam dengannya?..sial! aku benar-benar brengsek!sial!",umpat Naruto pada dirinya sendiri sambil menjambak surai pirangnya kasar.
Mengumpat dan menjambak rambutmu? Apa itu akan merubah segalanya..hidup tidak memiliki tombol reset Naruto..
TBC
