"Hinata!!", Naruto terbangun dengan peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya.

'Apa tadi mimpi? Tapi rasanya sangat nyata.."',batinnya.

Naruto turun dari ranjang king-size nya. Pria itu memijat pelipisnya. Dia benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

Ia memutuskan untuk keluar kamar. Nalurinya membawanya melangkah menuju kamar sang putra yang kini tengah tertidur pulas. Entah apa saja yang sudah dialami Hinata dan sang putra karena kebejatannya. Naruto berlutut. Ia singkap rambut pirang yang menutupi kening bocah itu. Naruto mengecup kening itu perlahan.

"Kau dan ibumu pasti sangat menderita..",ujar Naruto. Tanpa disadari pria itu,ibunya kini tengah memperhatikan gerak-geriknya dari ambang pintu. Kushina sedikit menaruh curiga.

"Naruto,sedang apa kau?",tanya kushina.

"Aku a-",Naruto kaget. Ia tertangkap basah. Tapi,Naruto memang ingin mengatakan semuanya kan?,yah..ia ingin mengakui kebrengsekkannya pada orangtuanya. Mungkin inilah saat yang tepat.

"Kita bicara di luar saja Kaa-san..nanti Boruto terbangun", ujar Naruto. Kushina semakin bingung. Namun ia memilih menuruti ucapan sang putra. Ia juga tidak ingin cucu kesayangannya itu terbangun. Mereka berdua akhirnya keluar dari kamar itu. Menuju ruang keluarga dimana sang ayah juga sudah ada disana.

Sejak tadi Minato dan Kushina memang sudah ada di ruangan itu, membicarakan soal adopsi Bolt, sekolah baru, dan sebagainya. Kushina tadi memutuskan untuk pergi sebentar,memeriksa keadaan Bolt,namun Dia justru melihat Naruto mengecup kening bocah itu. Menyisakan tanda tanya besar di kepalanya. Kini tanda tanya itu juga ada di kepala Minato,ketika Naruto mendadak mengatakan bahwa ingin membicarakan hal penting tentang Bolt.

"Apa yang mau kau bicarakan Naruto?",tanya Minato to the point. Naruto menarik napas. Ia tidak peduli sekalipun orangtuanya itu akan membunuhnya. Ia tetap akan mengatakan kebenarannya. Kebenaran bahwa dirinya adalah seorang brengsek yang menghamili seorang gadis dan tak mau bertanggung jawab.

"Boruto,...sebenarnya dia itu putraku..putra kandungku..",ujar Naruto lantang. Minato dan Kushina terdiam. Bingung dengan yang diucapkan putranya itu.

"Apa kau sedang bercanda Naruto?,kau tahu ini bukan waktunya untuk bercanda kan?", tanya Minato.

"Hinata,wanita yang menyelamatkanku tadi..ibunya Boruto..dulu kami satu kampus..",kini Minato terdiam mendengar cerita sang putra. Kushina menangis, wanita ini tahu kemana arah pembicaraan putranya.

"Suatu malam kami menghabiskan malam berdua,lalu dia hamil..dan kubilang aku tidak mau bertanggung jawab, lalu kemudian dia di DO,dan aku tidak tahu lagi dia di mana...,dan sekarang..",saphire Naruto mengeluarkan air mata di sela ceritanya.

Duagghh

"Brengsek!!"

Buggghh

"Bajingan!!"

"Ayah kecewa padamu Naruto!",Minato memukuli Naruto tanpa henti. Sementara sang putra hanya diam saja dan tak melawan. Memang ia pantas mendapatkannya,batinnya. Kushina menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka putra yang ia bangga-banggakan bisa berbuat sekeji itu.

"Jadi selama ini dia itu cucuku..hiks.. Dan aku tidak tahu??..", ujar Kushina di sela tangisannya. Melihat putranya yang sudah babak belur dengan hidung dan mulut yang sudah mengeluarkan darah, Minato menghentik pukulan nya. Kini pria itu memilih memeluk sang istri yang terguncang.

"Bagaimana nasib gadis malang itu..hiks..karena kelakuan brengsekmu..dia..sendirian dalam keadaan sedang mengandung..dia membesarkan Bolt sendirian..hiks..", Kushina meracau dalam tangisnya.

Seketika hening. Hanya dentingan jam dan suara isakan kecil Kushina yang terdengar.

Minato dan Kushina memilih untuk tidur bersama cucu mereka yang tak pernah mereka ketahui selama ini. Mereka memeluk tubuh bocah itu,berusaha menyalurkan afeksi kakek dan nenek yang tak pernah bocah itu rasakan. Naruto tersenyum kecut. Ia menutup pintu kamar itu. Pria itu memilih tidur di sofa. Kembali memejamkan matanya.

The mystery of it I recall... Suddenly the truth would change the way we fall..

I didn't wanna hurt you, hope you know.. Empty promise shattered dreams of love..

Naruto mengerjapkan matanya,merasakan seberkas cahaya yang memaksa kelopak matanya terbuka. Kini ia tengah berada di sebuah ranjang kecil dalam kamar yang sempit. Telinganya menangkap sebuah suara yang tidak asing.

Cause all of me.. Loves all of you...

Deg!

'Itu suara Hinata!',batin Naruto.

Naruto segera mencari asal suara itu,yang ternyata adalah sebuah dapur kecil. Hinata tengah memasak disana. Lagi-lagi Hinata tak menyadari kehadiran Naruto. Wanita itu sibuk mengaduk-aduk isi panci berisi masakannya sambil sesekali mengelus perut besarnya. Sesekali Hinata juga bicara pada kandungannya itu. Naruto menatap haru pemandangan di depannya itu. Sebenarnya terbuat dari apa hati wanita indigo itu?, sehingga begitu kuat menjalani semua ini,bahkan tanpa rasa dendam sedikitpun.

'Sudah kuduga ini bukan mimpi...lalu apa jiwaku terbang ke masa lalu? Apa ini hukuman untukku..?',batin Naruto bertanya-tanya.

Kini ia memutuskan untuk tak memikirkan apa dan bagaimana hal ini bisa terjadi. Pria ini lebih memilih untuk menjalani semua ini seperti adanya saja. Setidaknya ia bisa melihat Hinatanya lagi. Hinata Hyuga-nya. Entah sejak kapan ia menjadi posesif pada wanita yang sejatinya sudah meninggal ini.

Naruto melingkarkan lengan besarnya di pinggang Hinata. Memeluk wanita itu dari belakang. Tangannya meraba perut besar wanita itu, dimana putra kecilnya yang sudah ia buang berada. Air mata pria pirang itu jatuh membasahi jaket tipis yang digunakan Hinata. Tentu saja wanita itu tak bisa merasakan semua itu.

"Aku mencintaimu..Hyuga Hinata..aku mencintaimu..". lirih Naruto.

Bolt membuka kelopak matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah sembab neneknya, Kushina Namikaze yang masih terlelap. Salah satu tangan wanita paruh baya itu memeluk tubuh Boruto. Begitu juga ketika bocah pirang itu menoleh ke belakang. Minato Namikaze, sang kakek juga tengah tertidur dengan posisi miring sambil memeluk tubuhnya.

Boruto tersenyum. Ia memutuskan untuk membenarkan posisi tidur pasangan suami istri paruh baya itu. Ia selimutkan selimut tebal miliknya pada kakek dan neneknya itu. Bocah pirang itu melangkah keluar kamar. Dia memutuskan untuk mandi, dan kembali mengantarkan koran. Ya..ia ingin melakukan apa yang ia lakukan dulu. Ia tetap ingin hidup seperti dulu, seperti saat sang ibu masih ada.

'Apapun bisa saja terjadi...tapi hidup tetap harus berjalan..'

Lagi-lagi kata-kata ibunya lah yang mampu memberikan semangat hidup bagi bocah pirang itu. Ia akan hidup dengan cara ibunya hidup. Ikhlas dan berjuang. Ibunya selalu bilang bahwa jika semua dilakukan dengan ikhlas, seberat apapun pekerjaan itu,pasti akan terasa ringan. Begitu juga dengan usaha. Orang yang berusaha keras tidak akan pernah gagal. Boruto akan selalu berpegang teguh pada prinsip hidup ibunya itu, yang kini juga jadi prinsip hidupnya.

Langkah kaki kecilnya terhenti. Ia melihat seorang pria yang seusia ibunya atau setahun lebih tua itu tengah tertidur di sofa. Wajahnya babak belur. Surai pirangnya terlihat berantakan. Jas, dasi dan kemeja masih melekat pada tubuhnya. Pria itu kelihatan sangat berantakan. Boruto menarik sedikit sudut bibirnya. Bocah itu mendekati pria yang sejatinya adalah ayahnya itu. Dia melepas jas yang melekat padanya, ia lepas juga dasi yang dikenakan pria itu, yang nampak membuatnya sulit bernapas.

Kelopak mata Naruto terbuka perlahan. Bayangan masa lalu Hinata yang baru saja ia jelajahi mendominasi pikirannya. Rasanya ia tidak ingin bangun. Ia ingin mengikuti wanita itu kemanapun ia pergi. Ia ingin selalu bersama Hinata-nya. Walaupun hanya kenangan masa lalunya.

la yang hendak menutup matanya lagi mengurungkan niatnya ketika melihat sang putra yang telah ia sia-siakan itu kini tengah melepas sepatu yang dikenakannya dengan telaten, Boruto sepertinya tak menyadari Naruto terbangun. Bocah itu juga melepas kaus kaki yang melekat di kaki besar ayahnya itu. Hati Naruto terasa sangat ngilu melihat apa yang dilakukan putranya itu.

'Andai kau tahu apa yang sudah kulakukan..kau bahkan tidak akan sudi melihat wajahku..',batin Naruto miris.

Bocah itu berdiri. Naruto berpura-pura memejamkan matanya. Ia mendengar langkah kecil Boruto yang pergi menjauh. Namun sekejap langkah kecil itu kembali terdengar mendekat, beberapa detik setelah itu ia merasakan selimut tebal menutupi tubuhnya. Bocah pirang itu ternyata pergi untuk mengambilkannya selimut.

Naruto tak kuasa menahan air yang menumpuk di pelupuk matanya. Paradoks menjijikkan itu kembali terjadi. Putranya yang ia sia-siakan, yang tidak ia akui, kini tengah mengurusnya dengan begitu telaten.

Could there be the end to this.. What I'm feeling deep inside.. You know there's no looking back..

Kushina mengerjapkan matanya. Tangannya meraba-raba kasur di sampingnya.

Kosong

Ia membuka matanya. Yang ia lihat hanya wajah sang suami yang masih tertidur. Dimana Bolt? Mana cucunya?

"Boruto!,kau dimana?, Boruto!", teriak Kushina panik. Minato yang mendengar teriakan sang istri ikut terbangun. Saphirenya membulat melihat Kushina yang duduk di tepi ranjang sambil menangis. Ia memeluk tubuh istrinya yang bergetar itu.

"Minato, mana Boruto?,mana cucuku?", teriak Kushina panik, wanita itu menarik kerah kemeja sang suami. Saphire Minato meneduh. Perlahan ia melepaskan tangan sang istri dari kerah bajunya. Ia kembali mencoba menenangkan Kushina.

"Ssst..tenanglah..dia pasti ada disini..mungkin dia sedang-"

"Aku tahu,pasti dia!", Kushina segera turun dari ranjang dan berlari cepat keluar kamar. Minato mengikuti sang istri. Entah mau kemana wanita itu.

Manik ungu cerah Kushina menatap marah sang putra yang tengah terduduk di sofa. Naruto Namikaze, kini terduduk lesu di sofa ruang keluarga itu sambil memeluk selimut yang baru saja diberi sang putra. Kushina segera berlari dan menuju sang putra. Ia rebut selimut itu dan ia buang sembarangan. Saphire Naruto membulat, terkejut dengan yang dilakukan ibunya saat ini. Kini sang ibu mulai menarik kerah kemejanya.

"Mana cucuku!,kau apakan lagi dia!,apa menurutmu dia tidak cukup menderita karena ulah brengsekmul,kenapa tidak sekalin kau bunuh saja aku hah!",teriak Kushina membabi buta, air mata mengalir dari manik ungu cerah miliknya. Wanita ini sudah tidak tahu mau marah pada siapa lagi. Semua yang terjadi begitu mendadak. Naruto terdiam. Ibunya sedang terguncang sekarang ini.

Semua orang menderita karena ulah brengseknya. Kadang dia bepikir kenapa bukan dirinya saja yang tertabrak van itu. Minato yang melihat Istrinya tengah marah dengan membabi buta itu segera bertindak. Ia berusaha melepas genggaman tangan Kushina pada kerah baju Naruto. Suasana kembali hening. Hanya dentingan jam yang terdengar.

Bolruto agak canggung memasuki ruangan yang kini diisi kesunyian dari ketiga Namikaze itu.

'Ada apa sebenarnya?",batin Boruto.

Bocah pirang itu memberanikan diri untuk masuk. Melihat sosok yang dicarinya sejak tadi berada di ambang pintu, Kushina segera menghambur memeluk Boruto. Boruto merasa agak bingung, ketika Nyonya besar Namikaze itu memeluknya secara tiba-tiba, dan juga menangis. Namun Bocah itu memutuskan untuk tak berpikir. Ia membalas pelukan wanita itu sebentar, kemudian melepasnya. Kushina menatap Boruto khawatir. Naruto dan Minato menatap dua orang itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau dari mana saja sayang?,nenek mencarimu..", lirih Kushina sambil memegang pundak mungil cucunya.

"Aku mengantar koran pagi..tadi nenek belum bangun..Kakek dan paman juga masih tidur..", ujar Bolruto sambil tersenyum.

'Paman uh..?batin Naruto miris mendengar putranya sendiri memanggilnya paman.

Mungkin saat masih dalam kandungan ibunya, Boruto juga mendengar kalau Naruto tidak mengakuinya sebagai anaknya.

Kadang kata-kata itu jauh lebih tajam dari pedang. Hal yang membuat kata jauh lebih menakutkan dari pedang adalah...terkadang kata yang sudah kita ucapkan mampu menyakiti diri kita sendiri..

.

.

.

.

Mansion Namikaze 07.00 AM

"Nah..cucuku sayang..makan yang banyak

ya...semua ini Baa-san masak khusus

untukmu..",ujar Kushina sambil menunjuk

semua makanan lezat yang tersaji di meja

makan mewah nan panjang ini. Saphire Bolt menatap semua makanan itu tanpa berkedip. "Semua ini untuk sarapan?", tanya Boruto polos.

Kushina mengangguk.

"Ini sih cukup untuk makan sebulan baa-san..,kenapa menghambur-hamburkan uang untuk makanan sebanyak ini? Kalau tidak termakan kan sayang... Uangnya lebih baik ditabung kan...", ujar Bocah pirang itu. Mendengar penuturun sang putra, Naruto menarik sedikit sudut bibirnya.

'Hime...anak kita sangat bijak..kau pasti mendidiknya dengan sangat baik,batin Naruto.

"Aduh..cucuku ini memang sangat pintar...kau benar sekali cucuku sayang, uang berlebih memang lebih baik ditabung, tapi nenek sudah terlanjur masak banyak...jadi kau harus makan ya...", ujar Kushina sambil mengusap surai pirang cucu kesayangannya yang baru ia ketahui itu. Bolt memasang pose berpikir, bocah itu kelihatan sangat lucu hingga membuat Kushina gemas dan mencubit pipi gembil cucunya itu.

"Auuwh...baiklah baa-san...aku akan makan...tapi jangan cubit aku lagi..", ujar Boruto sambil mengelus pipinya yang terasa sakit.

"Kakek dan paman juga makan ya...kita makan bersama, seperti keluarga besar...",ujar Boruto sambil tersenyum. Hati Naruto kembali teriris mendengar putranya lagi-lagi memanggilnya paman.Kushina, dan Minato tersenyum miris. Andai bocah pirang ini tahu kalau mereka memang keluarga kandungnya.

"Terimakasih untuk makanannya..,mm..masakan nenek sangat enak, mirip seperti masakan kaa-san..",nafas ketiga Namikaze ini tercekat ketika bocah pirang itu menyebutkan tentang ibunya, terutama bagi Namikaze Naruto.

Apa yang dikatakan putranya itu benar. Hinata memang sangat pandai memasak. Makanan buatannya terasa sangat lezat, ya Naruto ingat.

Flashback on

"Naruto-kun...aku membuat makanan ini untukmu..makanlah..",ujar Hinata sambil menyodorkan kotak makanan pada kekasih pirangnya.

"Mm,apa ini?,kupikir kita akan makan di luar..."ujar Naruto sambil menatap Hinata datar.

"Jangan makan di luar terus...tidak sehat,sesekali makanlah makanan rumahan..",ujar Gadis Hyuga itu,tak lupa dengan senyum semanis madu yang tak pernah absen dari wajah cantiknya.

"Hn,terserah kau saja...",ujar Naruto dingin. Pria itu mulai menyendok makanan buatan sang kekasih yang kemudian ia masukkan ke mulutnya. Saphirenya membulat. Makanan itu terasa sangat lezat, mirip seperti buatan ibunya. Tanpa sadar makanan dalam kotak itu sudah habis tak bersisa. Hinata tersenyum senang.

"Enak kan?...kalau kau suka aku bisa membuatnya setiap hari..", tawar Hinata.

"Hn..", ujar Naruto terkesan tak peduli.

Flashback off

Naruto tersenyum miris. Andai saja dia bisa lebih menghargai Hinata sedikit saja. Andai saja dia lebih menyadari eksistensi wanita itu dalam hidupnya. Mungkin semua tidak akan jadi serumit ini. Mungkin tidak akan ada hati yang terluka. Mungkin saja sekarang ini mereka sudah hidup bahagia bersama. Mungkin Bolt akan memanggilnya ayah. Mereka akan pergi memancing bersama,berkemah,jalan-jalan, dan melakukan banyak hal yang dilakukan ayah dan anak laki-lakinya.

"Paman kenapa diam saja?,ini sangat enak lho..", ujar Boruto sambil tersenyum pada sang ayah. Naruto tersenyum senang. Putranya itu merupakan pribadi yang ramah dan menyenangkan. Membuat semua orang seperti tertarik untuk ingin selalu ada di dekatnya. Seperti Hinata yang ramah dan menyenangkan.

"Mm..kau benar Boruto...ini sangat enak..",ujar Naruto sambil tersenyum setelah meyendokkan makanan ke mulutnya. Ia sangat senang. Ini pertama kalinya dia bicara dengan sang putra.

"Boruto..jii-san ingin bicara hal penting padamu nak..",ujar Minato memecah keheningan.

"Tentang apa jii-san?"

"Tentang sekolah barumu...kami memutuskan kalau kau akan pindah sekolah..", ujar Minato sambil tersenyum pada sang cucu tersayang.

"Hm? Sekolah baru?,memang ada apa dengan sekolah lamaku jii-san?", tanya Boruto. Baru saja Minato mau menjawab, sang istri langsung buka suara.

"Bukan apa-apa sayang...hanya saja di sekolah pilihan kami ini fasilitasnya lebih lengkap...bahkan kau bisa memilih jurusan favorit,kau bisa mendapat materi pelajaran yang kau sukai dengan jam yang lebih lama dari mapel lain Boruto..", ujar Kushina panjang lebar. Naruto mendengarkan obrolan mereka dengan seksama. Bagaimanapun juga dia itu ayahnya Boruto kan...ia harus tahu tentang perkembangan pendidikan putranya.

"Oh begitu...aku sih terserah jii-san dan baa-san..diijinkan tinggal di sini saja aku sudah sangat bersyukur..", Hati Naruto terasa sangat ngilu,begitu juga dengan kedua orang tuanya.

'Percayalah anakku..kau layak mendapatkan semua kebahagiaan di dunia..', batin Naruto.

Ketiga Namikaze itu tersenyum miris menanggapi ucapan bocah pirang itu. Terlalu banyak 'mungkin' dan 'seandainya' dalam hidup mereka yang rumit. Jalinan benang takdir anatara mereka sepertinya sudah sangat kusut dan tidak bisa diluruskan lagi, atau mungkin akan memakan waktu yang sangat lama.

Setelah memejamkan matanya karena kantuk, Naruto kembali ke potongan masa lalu Hinata. Kali ini udara terasa dingin di rumah kecil sang wanita yang ia cinta, membuat pria Namikaze ini mengeratkan jaket yang ia kenakan.

Sudut matanya menangkap sang pujaan hati yang tengah terduduk lesu di dekat jendela kaca yang tertutup sambil menatap keluar. Naruto mendekati wanita itu.

Seulas senyum tercetak di wajah tampanya ketika lagi-lagi ia melihat Hinata mengajak bicara kandungannya itu. Naruto memilih duduk di sebelah Hinata, merangkul wanita itu dengan penuh cinta, walaupun tak akan mungkin disadari oleh wanita itu.

"Malam ini dingin sekali ya Boruto...", ujar Hinata sambil mengelus perut besarnya itu. Naruto mengikuti yang dilakukan wanita pujaannya itu. Tangan tan besarnya merasakan gerakan kecil dari sang putra.

"Hai Boruto..kau sedang apa disana?..jangan susahkan ibumu ya...ah..mungkin harusnya aku bicara begitu pada diriku sendiri...",ujar Naruto sambil mengelus perut besar Hinata.

"Tiba-tiba aku sangat ingin coklat panas dan blueberry croisant...", ujar Hinata. Wanita itu kini menumpukan wajahnya pada tangannya. Naruto tersenyum tipis.

"Apa kau sedang mengidam hime...?", ujar Naruto sambil membelai pipi sang wanita.

"Tapi aku tidak punya uang...uangnya sudah habis untuk belanja bulanan dan sewa rumah..",Hinata mengelus perut besarnya dengan ekspresi kecewa. Senyum Naruto memudar.

'Hinata cuma ingin coklat panas dan blueberry croisant, bukan yang aneh-aneh..tapi tidak kupenuhi..sedangkan sudah berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk foya-foya dan hal tidak penting?',Batin Naruto miris.

Naruto kini mulai memeluk Hinata dari belakang lagi. Wanita itu masih terlihat sedih.

"Hah..tidur saja lah...besok pagi rasa inginnya pasti akan hilang..",ujar Hinata sambil beranjak menuju ranjang kecilnya. Naruto mengikuti Hinata. Wanita itu menarik selimutnya dan mulai terlelap. Wajahnya tetap terlihat cantik walaupun sedang tertidur. Naruto memilih untuk berbaring di samping Hinata yang kini tengah tertidur dengan posisi miring karena perut besarnya itu. Naruto membelai wajah cantik Hinata.

"Hime aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini...karena aku sendiri yang sudah mengatakan kalau dia bukan anakku..tapi rasanya sangat sakit saat Boruto kita terus memanggilku paman,paman, dan paman...aku tahu ini egois..tapi aku sangat ingin dia memanggilku ayah sekali saja...",ujar Naruto dengan air mata yang senantiasa mengalir dari netra saphirenya.

TBC