Konoha Internasional elementary school

"Hm..jadi ini cucu anda nyonya...",tanya sang kepala sekolah sambil meneliti wajah Bolt.

"Iya pak...", ujar Kushina sambil tersenyum. Bolt menunduk hormat. Kepala sekolah itu tersenyum setelah meneliti wajah Bolt.

"Dia mirip sekali ayahnya ya...",ujar kepala sekolah bernama Hiroshi itu setelah melihat wajah Bolt yang begitu mirip dengan putra Kushina satu-satunya, Naruto Namikaze. Saphire Bolt membulat, begitu juga dengan Kushina yang kini jadi salah tingkah.

"Iya kan? Dia anaknya Naruto kan?", tanya Hiroshi setelah melihat ekspresi terkejut Bolt dan Kushina tadi.

"I-itu..di-dia-"

"Saya anak angkat...", ujar Bolt sambil tersenyum, berusaha meluruskan kesalahpahaman yang sebenarnya sama sekali bukan kesalahpahaman ini. Hati Kushina rasanya sangat ngilu.

Sebenarnya dia ingin sekali mengumumkan ke seluruh dunia kalau Bolt itu adalah cucunya, cucu kandungnya bukan angkat. Ibu bersurai merah itu tersenyum kecut.

Apalagi yang bisa dia lakukan sekarang. Kalau Bolt tahu bahwa Naruto adalah ayah kandungnya yang sudah menelantarkan dia dan ibunya. Bolt pasti tidak akan mau tinggal bersama mereka lagi. Dan itu hanya akan membuatnya semakin jauh dengan sang cucu.

Kepala sekolah berambut gelap itu tersenyum tipis, dia membenarkan kacamatanya. "Oh begitu ya...tadinya kukira dia anak Naruto, habis mereka berdua sangat

mirip", ujarnya. Keajaiban gen memang tak

bisa dibohongi. Bahkan bocah pirang ini sama

sekali tak mewarisi gen ibunya.

"Nah Bolt, mulai sekarang kau adalah murid Konoha Internasional Elementary School-"

"Boleh kusingkat KIES?, habis namanya panjang sekali ttebasa..", ujar Bolt sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kushina dan Hiroshi tertawa kecil.

"Baiklah...singkatlah sesuka hatimu nak..tapi jangan sampai peraturan di sekolah ini juga kau singkat ya..hahaha",candanya.

"Ayay..bapak bisa pegang janjiku", ujar Bolt. Kushina tersenyum memandang cucunya ini.

"Baiklah Bolt, sesuai pengamatan kami pada tes minat dan bakatnu..kau ditempatkan di kelas Art-4..disana pelajaran dengan jam paling lama adalah seni, sesuai kesukaanmu..", ujar Hiroshi. Bolt adalah tipe anak yang suka berekspresi dan berkarya, seperti Naruto. Tidak seperti Hinata yang adalah tipe pemikir. Dari segi manapun Bolt selalu mewarisi Naruto.

"Nah Bolt, sekarang kau boleh melihat-lihat sekolah ini dan juga kelasmu..sementara Bapak akan bicara dengan Nenekmu..", Bolt berojigi dan kemudian meninggalkan ruangan Kepala Sekolah itu.

"Wuuoo...sugooii!!, sekolah ini..sangat sangat sangat sangat besar!!",teriak Bolt setelah melihat betapa luas dan bagusnya Sekolah barunya itu. Suasana sedang sepi karena memang saat ini masih jam pelajaran.

Bolt berjalan santai sambil mengelilingi sekolah besar yang dulunya juga adalah sekolah ayahnya itu. Setelah bosan berkeliling. Bolt memutuskan untuk pergi ke gerbang sekolah dan meyapa penjaga sekolah. Mungkin Bolt memang 99% mirip Naruto, tapi keramahan dan kebaikannya itu, sangat mirip Ibunya.

"Ohayou pak-haa??", Bolt menelan kembali sapaannya setelah melihat penjaga gerbang sekolah yang malah tertidur pulas.

"Ckckckck..jam kerja malah tidur, aku saja tidak pernah tidur saat bekerja..",ujar Bolt sambil menggelengkan kepalanya.

Bocah pirang ini memutuskan untuk melihat keluar gerbang. Saphirenya membulat ketika melihat seorang gadis kecil berambut hitam pendek dan berseragam KIES sedang mondar-mandir di depan gerbang sambil mengamati jam tangannya dengan wajah panik.

Bolt menarik sudut bibirnya. Senyum jahil tercetak di wajah tampannya. Entah kenapa ide untuk mengerjai gadis itu tiba-tiba terlintas di kepalanya.

"Pssst..hey gadis kecil..", panggil Bolt dengan suara pelan, agar penjaga gerbang yang sedang tidur di pos itu tidak mendengarnya.

Gadis berambut hitam pendek bername-tag Sarada Uchiha itu menoleh. Ia layangkan deathglare ke arah Bolt, membuat bocah pirang itu bergidik ngeri. Terlambat ke sekolah karena bangun kesiangan sudah cukup buruk baginya. Kenapa sekarang dia malah bertemu anak aneh?

"SEENAKNYA PANGGIL GADIS KECIL!!KAMU SENDIRI PALING CUMA SETAHUN LEBIH TUA DARIKU!!",teriak Sarada marah. Bolt masih tersenyum, membuat sang putri Uchiha itu bingung. Gadis kecil itu membenarkan kacamatanya yang melorot.

"Sshhhtt...kamu ini, jangan teriak-teriak..nanti mereka bangun..", ujar Bolt sambil menunjuk penjaga sekolah yang tertidur.

"Hee?? Jadi mereka dari tadi tidur? Lalu sekarang bagaimana caranya aku masuk??", teriak Sarada panik sambil menjambak surai gelapnya frustasi. Boruto terkekeh, membuat Sarada menatap bocah itu marah.

"Ckckck, kasihan..kasihan...hey butuh bantuanku tidak?", tanya Bolt sambil menaik turunkan alisnya. Sarada kembali membenarkan kacamatanya, gadis kecil itu mulai berpikir.

"Memang kamu bisa bantu apa?",tanya Sarada dengan nada ketus.

"Aku bisa ambil kunci dari saku mereka...tapiii..di dunia ini tidak ada yang gratis, kau tau maksutku kan??", ujar Boruto, masih dengan menaik turunkan alisnya. Sarada mendesah pasrah, tidak ada pilihan lain kan?

"Baik..kau mau apa?"

"Aku mau...", ujar Bolt, memberi jeda agar Sarada menunggu.

"Mau...", perempatan mulai muncul di jidat

lebar Sarada.

"Mau...", sekarang perempatan itu mulai bercabang.

"CEPAT KATAKAN! BAKAYAROU!!", teriak Sarada marah dengan kelakuan Bolt. Bocah pirang itu terkekeh.

"Aku mau jadi temanmu", ujar Bolt sambil memajukan wajahnya ke gerbang, dimana Sarada juga menempelkan wajahnya di gerbang besar berjeruji besi itu. Sarada memundurkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang merona merah.

"He? Diam saja?,tidak mau yasudah, jaaa-"

"Tunggu! Aku kan belum menjawab, main pergi saja!",teriak Sarada mengehentikan langkah Bolt yang hendak menjauh. Bocah pirang itu menarik sudut bibirnya.

"Jadi kamu mau?", tanya Bolt. Sarada mengangguk pelan, masih menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Yosshh..sekarang kita berteman.., namaku Bolt Hyuga, salam kenal..",ujar Bolt sambil mengulurkan tangannya di sela-sela jeruji pagar. Sarada membalas uluran tangan bocah pirang itu.

"Sarada, Sarada Uchiha", ujar Sarada pelan. Bolt tersenyum.

Dia mengambil kunci di saku baju seragam

penjaga gerbang itu, dan membukakan

gerbang bagi teman barunya.

Sarada tersenyum pada Bolt. Baru kali ini siswa KIES memiliki kepedulian besar seperti

bocah pirang itu. Sarada menatap jam tangannya lagi, gadis kecil itu memekik kaget, sadar bahwa ia sudah terlambat.

"AKU TELAAT!!",Sarada beralari cepat, meninggalkan Bolt yang kebingungan.

"hey tunggu!, setidaknya beritahu kelasmu..", teriak Bolt namun tidak didengar sang gadis Uchiha yang sudah terlanjur lari menjauh.

The past

Naruto tersenyum menatap putranya yang menguap kecil dalam gendongan Hinata. Tangannya terulur, berusaha membelai surai pirang sang putra.

"Hey Bolt...kau membuat ayah khawatir tadi...kenapa kau datang tiba-tiba hm? Dasar nakal", ujar Naruto sambil tersenyum dan membelai surai pirang Bolt.

"Nee-chan...kenapa kliniknya sepi?, tidak ada yang buat janji ya?", Shizune tersenyum.

"Ini kan gara-gara kamu yang melahirkan mendadak tadi, karena aku panik, aku membatalkan semua janji dan menutup klinik..",jelas Shizune.

"Membatalkan semua janji? Kalau ada yang mau melahirkan juga bagaimana?"

"Aku kan bukan dokter kandungan!, aku ini dokter spesialis penyakit dalam tahu!",ujar Shizune yang kesal dengan pertanyaan absurd Hinata. Hinata menunduk, ibu muda ini menggenggam jari kelingking putranya.

"Maaf ya kak...gara-gara aku..kakak jadi menutup klinik..", lirih Hinata dengan raut penyesalan.

"Hey hey...Aku tadi cuma bercanda, kau ini seperti dengan siapa saja...aku ini kan kakakmu..kau tidak perlu sungkan begitu..",ujar Shizune menenangkan Hinata.

"Hufft yokatta, kukira benar-benar marah, baguslah cuma bercanda...lagipula yang kukatakan tadi cuma basa-basi saja..", ujar Hinata enteng.

"Hinata!",teriak Shizune emosi.

"Hihihi...aku cuma bercanda nee-chan...kau memang yang terbaik, terimakasih untuk segalanya...", ujar Hinata sambil memegang kedua tangan Shizune. Shizune tersenyum. Dan membelai helaian indigo Hinata.

"Sudahlah...", kini Shizune mulai meneleti wajah bayi Hinata.

"Bolt sama sekali tidak mirip denganmu Hinata", ujar Shizune setelah melihat wajah bayi berambut kuning menyala yang baru saja lahir itu.

"Itu karena dia mirip ayahnya..", ujar Hinata sambil membelai pipi putranya. Nafas Naruto tercekat. Lagi-lagi bayangan masa lalu dimana Naruto membuang Hinata dan putranya berputar-putar di kepalanya seperti kaset yang terus diulang. Rasa bersalah dan penyesalan kembali merayapinya.

"Maaf Hime... andai pria yang kau cintai itu bukan aku, kau pasti tidak akan menderita..", lirih Naruto.

"Ayahnya Bolt itu...sekarang dia dimana?", tanya Shizune dengan hati-hati, takut perkataannya menyinggung Hinata.

Hinata hanya menggeleng, ia tidak tahu apapun tentang Naruto sejak pria itu menolak dirinya dan putranya mentah-mentah. Lagi-lagi, rasa ngilu yang sama menyerang dada Naruto. Ngilu yang tercipta dari rasa bersalah dan penyesalan.

"Hime...kau pasti sangat membenciku ya.., aku memang brengsek dan pantas dibenci olehmu", kembali pria Namikaze itu merutukki dirinya.

"Kenapa kau tidak minta dia bertanggung jawab atas perbuatanya?", Shizune geram kenapa ada orang sebejat itu didunia ini?

"Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berakhir baik...jika aku memaksanya, itu hanya akan menyakiti kami bertiga",ujar Hinata sambil tersenyum, dikecupnya kening sang putra yang tengah tertidur di gendongannya.

Saphire Naruto kembali mengalirkan airmata. Kalau boleh ia ingin waktu diputar ulang. Saat Hinata mengatakan bahwa dia sedang mengandung putra mereka. Naruto akan memeluk wanita itu, dan mengatakan bahwa ia juga bahagia. Mereka akan hidup bahagia bersama dan merawat Bolt.

"Aku ini hanya wanita tidak sempurna, aku tidak secantik model kampus, aku juga tidak kaya, aku bahkan sama sekali tidak populer...hanya ketidaksempurnaan yang aku miliki..",lirih Hinata. Naruto menatap lekat wanita yang ia cintai itu. Dipeluknya tubuh mungil yang selalu memikul luka dan beban berat itu.

"Aku memang bodoh karena selalu mencari kesempurnaan dan malah mengabaikanmu yang memiliki cinta sempurna untukku..", lirih Naruto sambil menangis.

"Mungkin juga dia meninggalkanku karena sifatku yang kekanak-kanakan...". Jantung Naruto serasa berhenti berdetak. Kalimat yang dilontarkan Hinata barusan...Naruto ingat bahwa ia pernah menyebut wanita yang saat ini jadi ibu dari putranya dengan sebutan 'kekanak-kanakan'.

Flashback on

"Apa ini Hinata?", tanya Naruto setelah melihat benda semacam gelang diikat oleh sang kekasih di tangan tan miliknya.

Hinata tersenyum manis. Senyum manis yang mampu melelehkan hati yang membeku, walau tidak semua hati yang membeku mampu ia lelehkan.

"Itu gelang pasangan kekasih...aku melihatnya di pekan raya kemarin dan belakangan ini banyak pasangan yang memakainya...jadi kuputuskan untuk membelinya, satu untukku dan satu untukmu..",ujar Hinata sambil memperlihatkan gelang serupa yang juga melingkar di pergelangan tangannya.

Naruto tersenyum remeh. Pria Namikaze itu dengan tidak berperasaanya melepas dan membuang gelang dari sang kekasih. Amethyst Hinata membulat.

"Kau tahu? Kau sangat kekanak-kanakkan!",bentak Naruto pada sang gadis Hyuga. Hinata menunduk, menyembunyikan wajah cantiknya yang sudah sembab karena menangis. Harusnya ia tahu kalau Naruto tidak akan mungkin menyukai hal ini. Bahkan pria itu melarang dirinya memberitahu orang lain tentang hubungan mereka.

"Kau benar Naruto-kun...harusnya aku tidak melakukan hal kekanak-kanakkan seperti ini..", Hinata melepas gelang yang masih melingkar di tangannya dan membuangnya.

"Mulai sekarang aku hanya akan melakukan apa yang kau minta...aku tidak akan melakukan apapun yang tidak kau sukai...karena aku mencintaimu..", ujar Hinata sambil tersenyum. Tersirat ketegasan sekaligus ketulusan dari ucapannya. Naruto hanya memandang gadis itu datar.

Flashback off

"Sekarang aku sadar bahwa yang kekanak-kanakan disini adalah aku Hime... aku yang tidak bisa memahami caramu menyampaikan cintamu lewat gelang itu...aku yang bodoh dan kekanak-kanakan dan bukannya kamu...", lirih Naruto. Air mata kembali menetes membasahi pipi tannya.

"Hinata...", lirih Shizune. Ia menatap imouto-nya itu lekat-lekat. Tak terlintas dendam di bening mata indahnya.

"Tapi setidaknya sekarang aku tidak sendirian lagi...", ujar Hinata sambil mendekap putranya. Naruto menatap dua orang terpenting dalam hidupnya dan yang sudah ia sia-siakan itu dengan pandangan sulit diartikan.

Walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar... Dari pahitnya cinta... Namun kupilih begini biar kuterima.. Sakit demi jalani cinta...

Seperti penelitian Einstein tentang cinta, saat ia diharuskan memetik bunga tercantik di sepanjang taman yang ia lewati...ketika ia melihat sebuah bunga yang menurutnya cantik, ia mengabaikan bunga itu karena ia pikir ia akan menemukan yang lebih cantik nantinya...namun hingga ia mengitari seluruh taman, ia sadar bahwa tidak ada yang lebih cantik dari bunga itu...Itulah cinta, ketika kau tinggalkan yang kau miliki dan bersamamu tuk mencari yang terbaik, kau akan sadar bahwa dia yang kau tinggalkanlah yang terbaik...

"Paman! paman!",panggil Bolt tepat di telinga Naruto. Pasalnya sejak tadi pagi, hingga sekarang ini, Naruto, sang ayah yang tidak ia ketahui terus tertidur di sofa ruang keluarga ini.

Bocah kecil ini sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan pria itu. Ia putuskan untuk membangunkannya, namun sejak tadi usananya tak kunjung bernasii.

"Kenapa paman Naruto tidak bagun ya? Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya...tidak ada cara lain, aku harus pakai cara ekstrem...mungkin sedikit tidak sopan, tapi ini harus dilakukan".

Tanpa aba-aba Bolt naik keatas perut Naruto, bocah itu menarik kaos putih yang dipakai ayahnya itu dan menggoyang-goyangkan tubuh sang ayah.

"Paman bangun! Bangun paman!", teriak Bolt.

"Gggoohh!, hah? Apa? Aku dimana?",teriak Naruto kaget. Tubuhnya dibangunkan dengan cara ekstrem. Syok dan bingung itu yang kini ia rasakan. Namun sekejap kebingungannya hilang ketika saphirenya bertemu saphire sang putra yang kini duduk di atas perutnya.

"Huuuftt yokatta...kukira paman mati..", Bolt bernapas lega. Naruto tersenyum. Walau kata-katanya agak menyakitkan dan caranya agak ekstrem...tapi menurutnya, kelakuan putranya itu sangat lucu. Ia terkekeh. Tangannya terangkat, menurunkan sang putra dari atas tubuhnya.

"Aku tidak mati Bolt...hampir, terimakasih sudah menyelamatkan nyawaku..", ujar Naruto sambil tersenyum. Tangan tan besarnya mengusap rambut light yellow milik sang putra.

"Hehehe...aku kan memang penyelamat...", ujar Bolt berlagak.

Naruto berharap waktu berhenti berputar sekarang. Agar ia bisa tertawa dan bercanda bersama putranya lebih lama. Agar saat kebenaran terungkap, tak akan ada hati yang terluka.

Waktu bergulir lambat... Merangkai langkah perjalanan kita... Berjuta cerita terukir dalam.. Menjadi sebua dilema... Mengertikah engkau...

Perasaanku tak terhapuskan...

Namikaze Corp. 07.00 PM

"Kuso!,kapan pekerjaan ini akan selesai!!,aku merindukan putraku", Naruto mengacak surai pirangnya frustasi.

Dirinya sudah seminggu tidak masuk kantor. Jadi wajar saja pekerjaannya jadi menumpuk begini. Berkas-berkas penting yang harus ia tanda-tangani, ringakasan materi rapat penting yang harus ia baca karena ia melewatkan rapat itu, semua menumpuk jadi satu dalam satu meja.

Beberapa menit Naruto terdiam. Ia lihat foto Hinata yang tengah tersenyum manis menghadap kamera, dengan satu tangannya mengelus perut besarnya. Ia nampak begitu cantik, dan imut dalam balutan dress hamilnya yang berwarna putih bersih. Foto itu kini terbingkai rapih dengan frame berwarna soft blue berhias bentuk hati di pojok kanan bawahnya.

Jangan tanya darimana Naruto dapat foto itu. Tentu saja pria itu telah mengacak-acak habis flat kecil yang dulunya ditinggali Hinata dan Bolt. Mencari benda-benda yang bisa mengingatkannya pada Wanita cantik bernetra amethyst itu.

"Hime..", lirihnya sambil mendekap foto itu. Naruto jadi ingat masa-masa saat dia masih kuliah dulu. Saat tugas-tugasnya menumpuk, Hinata pasti akan memijat bahunya lembut sambil berbisik.

"Semangat Naruto-kun...aku menyayangimu...".

Naruto tertawa kecil. Dirinya jadi membayangkan jika ia menikah dengan Hinata. Setiap hari dalam hidupnya pasti akan sangat menyenangkan, mengingat betapa ramah dan menyenangkannya Hinata itu.

"Kita pasti akan sangat bahagia ya hime...", ujar Naruto sambil mengecup foto itu. Entah sudah berapa kali pria ini melakukannya.

Brak!

Pintu ruang kerja Naruto dibuka kasar oleh seseorang. Naruto mendongakkan wajahnya. Memandang sinis sosok pria bersurai raven di hadapannya, sahabat kecilnya.

"Kau tahu ini bukan rumahmu teme, setidaknya ketuk dulu pintunya sebelum kau masuk",ucap Naruto ketus tanpa memandang Sasuke. Pria itu masih enggan mengalihkan pandangannya dari foto sang kekasih.

"Tek, kau tidak akan banyak mulut jika kau melihat ini dobe!", ujar Sasuke tak kalah sinisnya, ia meletakkan gambar Sarada di atas meja Naruto. Saphire Naruto membulat melihat gambar itu. Gambar sosok putra kecilnya, Bolt

"I-ini...da-dapat dari mana kau?",tanya Naruto gelagapan. Sasuke tersenyum sinis.

"Ini gambar putriku"

"Putrimu? Putrimu mengenal putraku?",tanya Naruto bingung. Sasuke menaikkan satu alisnya tak kalah bingungnya.

"Putramu? Sejak kapan kau punya anak dobe?". Naruto memilih untuk diam.

"Setahuku kau tidak pernah punya kekasih karena kau sibuk mengejar-ngejar Sakuraku, ah-apa jangan-jangan gadis Hyuga itu?",tuding Sasuke. Naruto masih tetap diam, menatap ke lantai. Keterkejutan merayapi Sasuke.

"Jangan bilang kau menghamilinya dan tidak mau bertanggung jawab hanya karena kau masih mengharapkan Sakura kembali padamu?", Naruto hanya melirik Sasuke sekilas, lalu kembali menatap sendu foto Hinata. Larut dalam diamnya.

"Cih, kau menjijikkan!",ujar Sasuke dengan nada menghina namun tetap tak digubris Naruto. Pria itu lebih memilih untuk memandang foto Hinata lagi, sambil sesekali mengusapnya dengan sayang.

"Dimana Hinata Hyuga sekarang?",tanya Sasuke to the point. Melihat sahabat pirangnya itu begitu memuja foto Hinata.

"Dia sudah di surga".

"Cih, apa wanita itu mati karena melahirkan benih busukmu?", tanya Sasuke dengan nada sinis yang begitu mengejek.

"Boruto bukan benih busuk!,kalau kau masih menghina putraku lagi teme, aku tidak akan segan-segan untuk merobek mulutmu itu!", teriak Naruto marah. Dicengkramnya jas mahal milik sahabat ravennya itu. Sasuke hanya tersenyum remeh, tanpa memberikan perlawanan sedikitpun.

"Jadi namanya Boruto?, nama yang unik, aku yakin sekali bahwa Hinatalah yang memberikan nama itu"

"Cih, kau hanya berperan dalam proses

pembuatannya saja kan?". Naruto masih

diam.

"Aku juga sangat yakin, anak malang itu tidak tahu kalau kau adalah ayahnya kan?". Naruto tetap diam. Sasuke tertawa sinis.

"Khe,rasakan itu! Kau pantas mendapatkannya!, selamanya kau akan dibenci oleh anakmu!", Saphire Naruto membulat mendengar penuturan Sasuke. Cengkeramannya pada Sasukepun ia lepaskan, dan sedetik kemudian pria bersurai light yellow itu terduduk lemas.

"Dia tidak akan pernah mengakui ayah brengsek sepertimu!, tenggelamlah dalam rasa bersalahmu seumur hidupmu!", teriak Sasuke sekali lagi, sebelum akhirnya dia benar-benar meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Naruto yang teduduk lemas sambil menatap kosong ke depan.

1

"Boruto...", lirihnya.

The past...

"Shin-bu-eenn, Shinbun!", teriak Boruto kecil dengan senang setelah berhasil mengeja kata di depannya.

Hinata tertawa kecil melihat kelakuan lucu putranya yang tengah belajar membaca itu. Diacaknya surai pirang Bolt dengan sayang.

"Fufufu, benar sayang,Shinbun...kau memang sangat pintar...", ujar Hinata sambil membawa Bolt ke dekapannya, namun putranya itu sepertinya lebih senang membaca koran tadi.

Bocah kecil itu membolak-balik korannya hingga menemukan halaman yang ia sukai. Naruto menatap haru pemandangan di depannya itu. Kembali ia mendekap dua orang terpenting dalam hidupnya yang sudah ia sia-siakan itu.

"Ex-pe-rot...iiiii-imperot!, apa itu experot dan emperot kaa-chan?", tanya Bolt. Hinata kembali tartawa. Kali ini tawa ibu muda itu jauh lebih lepas mengingat betapa lucunya cara putranya itu mengeja. Naruto juga tertawa kecil, mendapati Hinata yang tertawa hingga sudut matanya berair.

"Aku tidak pernah melihatmu sebahagia ini sebelumnya hime...ah, mungkin karena aku memang tidak pernah berusaha membuatmu bahagia iya kan?", ujar Naruto pada dirinya sendiri. Dikecupnya kening Hinata perlahan. Kecupan yang sarat akan cinta dan kerinduan.

Hinata mengambil koran Boruto. Ia penasaran apa yang sedang dibaca putranya itu. Amethyst Hinata membulat, melihat wajah siapa yang terpampang di berita itu.

Naruto Namikaze, Presdir Baru Perusahaan Eksport Import, Namikaze Corporation

Terlihat Naruto yang sedang melakukan jumpa press disana. Mengingat betapa besarnya perusahaan Namikaze itu, sudah pasti update berita terbarunya akan selalu muncul di halaman depan koran. Hinata meneteskan air matanya. Melihat wajah pria yang sangat ia rindukan, yang mungkin bahkan tidak mengingatnya dan putranya.

"Kau menggantikan posisi ayahmu ya Naruto-kun...apa kau kuliah dengan baik selama ini? Apa kau berangkat kuliah setiap hari? Apa kau mengerjakan semua tugasmu?", lirih Hinata sambil menangis dan mendekap koran itu. Iris Saphire Naruto membulat.

"Kenapa? Kenapa kau masih peduli pada pria brengsek ini Hime? Apa yang sudah keberikan padamu hingga kau memberikan cinta yang begitu besarnya padaku? Apa aku terlihat pantas mendapatkan cintamu itu Hime?", lirih Naruto sambil mendekap tubuh ringkih sang wanita dari belakang.

"Ah, kenapa aku harus mengkhawatirkamu...kan sudah ada Sakura-chan yang memperhatikanmu semoga kau bahagia bersamanya...tidak seperti saat bersamaku", lirih Hinata lagi. Seulas senyum kini tercetak di wajah cantik wanita itu.

"Kau salah hime, tidak ada yang memperhatikanku lebih dari dirimu, tidak ada yang membuatku bahagia lebih dari dirimu, tidak ada yang membuatku merasa berharga lebih dari dirimu, tidak ada yang mencintaiku...lebih dari dirimu...hime".

Kini Naruto mulai berani mengecup binir ranum milik wanita itu, toh dia juga tidak akan merasakannya kan? Seperti tidak puas Naruto kini mulai menghisap bibir itu dan melumatnya. Dulu kekasih indigonya ini pasti akan mengerang setiap kali ia melakukan ini. Namun tidak untuk kali ini, karena wanita itu tidak merasakannya.

Kini tangan Naruto pun tak tinggal diam. Entah setan apa yang tengah merasukinya saat ini. Yang ia tahu ia sangat menginginkan Hinata sekarang ini. Tangan tanya menelusup masuk ke kaos tipis yang dikenakan Hinata. Mengusap perut ramping itu pelan, kemudian naik ke dua buah gundukan kenyal milik wanita itu.

"Kaa-chan? Kaa-chan kenapa menangis?", tanya Bolt yang khawatir sang ibu terus diam dan menatap koran itu. Bocah itu kini mulai naik ke pangkuan ibunya.

Naruto segera menghentikan kegiatannya.

Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa ia merasa bahwa dirinya sudah tertangkap basah tengah berbuat mesum di hadapan putranya sendiri.

"Maaf hime..., maaf Bolt...", ujarnya kikuk masih dengan meggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

TBC