Namikaze Mansion 08.00 PM
Malam menangis... Tetes embun membasahi mata hatiku... Mencoba bertahan di atas puing-puing Cinta yang tlah rapuh...
Apa yang kukenggam..
Tak mudah untuk aku lepaskan...
"Aku terlanjur cinta kepadamu...".. Bolt memencet tuts tuts piano di ruang keluarga mansion Namikaze itu dengan piawai.
Tak lupa pula ia melantunkan lagu favorit ibunya itu dengan penuh penghayatan. Naruto yang hendak memasuki ruangan itu menghentikan langkahnya. Ia ingat lagu itu. Lagu yang sering Hinata nyanyikan. Entah kenapa kini ia sangat merindukan suara merdu wanita itu. Ia tersenyum kecut sambil memegang dada kirinya.
"Sugoiiii...Bolt kau sangat hebat!!, darimana kau belajar itu sayang?", ujar Kushina yang tepukau dengan kepiawaian cucunya itu bermain piano. Bolt menoleh ke arah sang nenek.
"Benar Bolt, itu tadi sangat luar biasa...kakek jadi penasaran darimana kau belajar itu?", ujar Minato. Bolt tersenyum. Hati Naruto terasa menghangat seketika melihat senyum tercetak di wajah putranya itu.
"Ehehe, sebenarnya aku dan kaa-san suka pergi ke studio musik sebulan sekali untuk berlatih piano, Kaa-san sangat suka bermain piano...dan lagu ini, lagu ini juga favoritnya", ujar Bolt.
"Lalu kenapa hanya ke studio musik sebulan sekali sayang?",tanya Kushina penasaran.
"Ke studio musik itu bukannya murah baa-san...kami harus menabung dulu...sisihkan sedikit uang Setiap harinya..baru pergi". Minato dan Kushina tersenyum kecut, begitu juga Naruto.
Saat Bolt hendak kembali memainkan pianonya, ia melihat Naruto yang berdiri di ambang pintu sambil menunduk.
"Paman kenapa berdiri disana? Ayo masuk..aku akan memainkan lagu bagus setelah ini..", Bolt melambai pada Naruto. Pria itu tersenyum, kakinya melangkah masuk ke ruang keluarga itu. Minato dan Kushina menatap putranya itu datar.
Kini ketiga orang itu berdiri berdampingan, menanti bocah pirang itu memainkan kembali lagunya.
Aku terlanjur cinta kepadamu... Dan telah kuberikan seluruh hatiku... Tapi mengapa baru kini kau pertanyakan cintaku...
Aku pun tak mengerti yang terjadi... Apa salah dan kurang ku padamu... Kini terlambat sudah untuk dipersalahkan... Karna sekali cinta..aku tetap cinta...
Tok tok tok
Dengan ragu Naruto mengetuk pintu kamar putranya. Berkali-kali ia hendak melangkah pergi. Pria bersurai pirang itu sudah berusaha memantapkan hatinya, namun rasa takut tak juga ingin pergi.
"Apa harus kukatakan pada Bolt sekarang? Tapi bagaimana jika dia tidak mau menerimaku? Bagaimana jika dia marah dan pergi? Apa ada jaminan bahwa aku tidak akan kehilangan putraku lagi?", Naruto mengacak surai pirangnya frustasi.
Malam ini sebenarnya ia ingin mengatakan semua kebenaran itu pada Bolt. Kebenaran bahwa Naruto adalah ayahnya, ayah kandungnya. Sejak datangnya Sasuke ke kantornya tadi, Naruto terus memikirkan hal ini. Jika dia tidak jujur, Bolt pasti akan makin membencinya. Tapi dia takut, bahwa kejujuran ini juga akan menyakiti putranya. Apa sebaiknya dia mengurungkan niatnya?
Ceklek
"Hooam, ada apa paman? Tumben sekali kemari malam-malam, kukira tadi Baa-san..".
Bolt membuka pintu kamarnya, tepat disaat Naruto hendak melangkah pergi dan mengurungkan niatnya. Naruto menarik napas dalam.
Tidak! Aku tidak boleh mundur! Aku yang menciptakan semua masalah, penderitaan, dan kerumitan ini, maka akulah yang harus selesaikan!'.batin Naruto. Berusaha menguatkan tekadnya.
"B-bolt...se-sebenarnya..ano, paman ingin..".
"Buahaahahaha!, paman ternyata gagap, persis seperti kaa-san ttebasa", Bolt tertawa terbahak-bahak. Bocah itu bahkan berguling-guling di lantai.
Entah kenapa Naruto merasa sedikit kesal. Ternyata Bolt juga mewarisi sifat menyebalkannya.
'Aku ini mengumpulkan keberanian untuk bicara denganmu tahu!,batin Naruto agak merasa kesal.
"Aduh..ya ampun ya ampun... Maaf ya paman aku kelepasan". Bolt bangkit dan menghapus setitik air di sudut sudut matanya yang basah karena tertawa.
"Oh ya, paman mau bilang apa tadi?",tanya Bolt. Naruto tersentak mengingat tujuan awalnya kemari.
"Ano Bolt, paman ingin bicara berdua denganmu...bolehkan?", akhirnya kalimat itu meluncur dari bibirnya yang bergetar karena takut.
"Tentu saja, ayo masuk paman", ujar Bolt sambil melangkah masuk ke kamarnya. Naruto mengekor putranya itu. Keringat dingin mengucur deras dari sekujur tubuhnya.
'Ya ampun, apa aku terlalu gegabah??apa aku siap untuk mengatakannya??'
"Duduklah paman". Bolt Menepuk-nepuk sisi ranjangnya. Mengisyaratkan sang ayah untuk duduk disana.
Naruto duduk di ranjang itu, di sebelah putranya. Saphirenya menatap lekat saphire sang putra yang menatapnya dengan polos. Iya sangat yakin tatapan itu sebentar lagi akan berubah menjadi tatapan nyalang setelah bocah itu tahu kebenarannya.
1
"Paman mau tanya Bolt, soal ayahmu...", kalimat itu meluncur dengan bebas dari mulutnya.
Entah dapat keberanian dari mana, kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Naruto. Ia sudah tidak ingin tenggelam dalam kerumitan hubungan ini lagi. Lagipula Bolt juga berhak mengetahui kebenaran ini. Berbekal hal itulah Naruto memberanikan dirinya sekarang ini.
Senyum Bolt seketika menghilang. Keberanian Naruto seakan menipis ketika ekspresi bahagia bocah itu berubah sendu.
"Maaf paman, bukannya bermaksud tidak sopan, tapi aku tidak ingin membicarakan tentang itu", ujar Bolt dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Tembok keberanian yang mati-matian Naruto susun runtuh seketika setelah mendengar penuturan Bolt tadi. Kini tak tersisa sedikitpun keberanian di dalam hatinya untuk mengungkapkan kebenaran pada putranya itu.
"I-iya, ma-maaf membuatmu tidak nyaman Bolt, aku akan pergi sekarang."
"Tunggu paman". Tangan mungil Bolt menggenggam tangan besar sang ayah yang hendak pergi. Saphire Naruto membulat.
"Paman mau kan menemaniku tidur disini", pinta Bolt dengan wajah memelas. Hati Naruto seolah menghangat seketika. Air mata haru mengalir dari dua manik saphirenya.
"Iya...tentu saja aku mau",ujarnya.
Naruto naik ke ranjang milik putranya itu, berbaring di samping putranya. Pria itu menarik selimut dan menyelimuti putranya itu. Berbaring miring dengan satu tangannya memeluk tubuh Bolt. Dielusnya surai pirang Bolt dengan sayang. Bocah itu kini sudah memejamkan matanya.
"Tidurlah Bolt...ayah sayang padamu..",ujar Naruto, pria itu mulai memejamkan matanya setelah mengecup kening sang putra.
Ada kalanya kebenaran memang terasa begitu pahit untuk diungkapkan, tapi suatu saat nanti kebenaran itu pasti akan terungkap dengan sendirinya...tinggal menunggu waktu yang tepat...
Flashback of Naruhina ON
Tetesan air hujan turun dengan derasnya, membasahi semua benda yang tak terlindungi atap. Hinata memeluk tubuhnya sendiri, merasakan hawa dingin yang menelusup masuk lewat saluran udara penthouse milik sang kekasih. Gadis indigo itu menatap gusar ke luar jendela. Malam sudah semakin larut. Ia harus pulang sekarang. Tetapi kekasih pirangnya itu tak mengijinkannya untuk pulang.
Greb
Hinata mengelus tangan sang kekasih yang kini memeluknya dari belakang.
"Naruto-kun, ini sudah malam..aku harus pulang", pinta Hinata sambil berusaha melepaskan tangan besar Naruto yang memeluknya erat, tetapi pria Namikaze itu seolah tak peduli. Seolah tuli, pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Malam ini hujannya deras sekali, kau menginap disini saja",ujar Naruto sambil mengecupi leher jenjang sang kekasih. Membuat gadis itu mendesah pelan. Naruto tersenyum senang dengan respon kekasihnya itu.
"Tapi kau kan bisa mengantarku pulang naik mobil...aahnn". Hinata kembali mendesah ketika Naruto mulai menjilat lehernya. Pria itu sepertinya mulai kehilangan kesadarannya.
"Malam ini sangat dingin...kau harus menghangatkanku",bisik Naruto tepat ke telinga Hinata.
Jantung gadis Hyuga itu berpacu kencang mendengar penuturan kekasihnya itu. Dengan secepat kilat Naruto membalik posisi Hinata menjadi menghadapnya. Jarak mereka begitu dekat. Tangan gadis itu kini menempel di dada bidang Naruto, Pria pirang itu segera mengeliminasi jarak antara bibirnya dan bibir sang kekasih.
Mengecupnya, menghisap segala rasa manis dari bibir ranum milik sang gadis Hyuga. Naruto semakin memperdalam ciumannya. Pria pirang itu mengangkat tubuh kekasihnya, membawanya menuju kamar tanpa melepas pautan bibir mereka.
Naruto meletakkan Hinata di ranjang king size miliknya. Gadis itu segera melepas pautan mereka. Berusaha menghisap oksigen sebanyak mungkin.
"Haaahh hahh", napas Hinata terengah-engah. Tanpa ia sadari Naruto kini sudah melepas baju atasannya. Memperlihatkan otot-otot perutnya yang terbentuk sempurna. Pria itu juga melepas celana panjangnya dan hanya menyisakan boxer berwarna hitam.
Hinata menatap apa yang dilakukan kekasihnya itu dengan ketakutan.
'Apa yang mau Naruto-kun lakukan?',batin Hinata ketakutan.
"Aku sudah setengah telanjang, sekarang giliranmu sayang", ujar Naruto dengan seringaian di wajahnya.
"Naruto-kun...", lirih Hinata dengan nada memohon. Memohon agar kekasihnya itu tidak melakukan apapun. Namun Naruto sepertinya tidak peduli.
Tanpa persetujuan Hinata, Naruto dengan cekatan melepas baju atasan sang kekasih, menyisakan bra berwarna merah muda terang yang begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus layaknya porselen.
"Kulepas ya?",tanya Naruto retoris. Meskipun kekasih indigonya itu menggeleng kuat. Naruto tetap melepaskan bra itu.
Kini aset berharga milik Hinata terlihat jelas tanpa tertutup sehelai benangpun. Naruto terkesiap dengan ukuran dada milik Hinata.
"Akan kulakukan dengan perlahan". Hinata menggeleng kuat. Namun tetap tak menghentikan sang kekasih untuk melepas celana jeans miliknya.
Naruto bahkan melepas celana dalam gadis itu. Gadis itu kini telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Merasa sudah tak sabar' Naruto juga melepas celana Boxer miliknya. Sepasang kekasih itu kini telanjang bulat.
Tanpa aba-aba Naruto mulai melancarkan aksinya. Malam yang dingin itu berubah menjadi malam yang panas bagi mereka berdua.
K.I.E.S 12.30 PM
"Bolt, bagaimana dengan lukisanmu?",tanya Inojin pada sang sahabat kuningnya.
Walaupun baru berkenalan, tapi pribadi Bolt yang ramah dan menyenangkan membuat Inojin senang berteman dengannya, begitu juga dengan anak lain. Bolt mendesah malas.
"Haaah...kanvasku masih kosong..", ujar Bolt santai. Mata Inojin membelalak kaget.
"Hey Bolt, apa kau lupa, lusa lukisan itu sudah harus dikumpulkan..", Bolt tetap telihat santai.
"Aku tidak punya ide, aku ini bukannya pandai melukis sepertimu Inojin,aku mengambil kelas Seni supaya aku bisa bermain musik...tapi malah dapat tugas begini..haaah malasnya...".
"Lebih baik kau cepat selesaikan lukisanmu itu, atau kau akan dapat hukuman mengerikan dari...Aburame-sensei..", Inojin membisikkan nama sang Sensei di telinga Bolt. Bocah itu bergidik ngeri mendengar nama sang Sensei yang katanya berdarah dingin' itu disebutkan.
"Kau benar Inojin!, lalu akau harus bagaimana sekarang?katakan Inojin!",ujar Bolt panik sambil menggoyang-goyangkan bahu Inojin, membuat kepala bocah berkulit pucat itu pening bukan main.
"Kurasa kau butuh Waifu", ujar Inojin dengan bintang-bintang kecil yang mengitari kepalanya.
12
2
"Waifu?? Hmmm...", Bolt mengedarkan pandangannya,sudut matanya menangkap seorang gadis berambut hitam pendek yang tengah duduk manis dan menikmati makan siangnya.
"Waifuku..". Bolt melepaskan bahu Inojin secara tiba-tiba dan berlari kearah gadis itu.
Bruk!
"Aduh...Bolt kau kejam!", keluh Inojin sambil mengusap pantatnya yang sakit karena mencium lantai.
"Good moaning nona uchiha",bisik Bolt tepat di telinga Sarada. Gadis kecil Uchiha itu menggeliat geli.
"KAMU INI APA-APAAN SIH!",teriak Sarada marah. Bolt terjungkal mundur.
"Lagipula yang benar itu good morning!
Bukan moaning!". Bolt terkekeh pelan.
"Hehehe gomen gomen...ngomong-ngomong kamu makan apa itu? Aku mau ya?"
Tanpa menunggu persetujuan Sarada, Bolt langsung mencolek saus berwarna hijau di kotak makan Sarada.
Ppoooffff
"HOOAH hedas! Haanan aha ihi( baca hoah pedas! Makanan apa ini!)". Bolt berguling-guling kepedasan. Sarada tertawa lepas. Dia memberikan botol minumnya pada bocah itu. Secepat kilat Bolt meneguk habis isi botol itu.
"Haah ya ampun..pedasnya..haah", ucap Bolt ngap-ngapan karena pedas.
"Makanya jangan asal ambil punya orang! Itu kan sambal! Ya jelas pedas!", teriak Sarada marah. Bolt justru memasang pose berpikir.
"Sambal..? Oh!oh! Aku tahu makanan itu!, kalau tidak salah ada lagunya..begini, sambala sambala bala sambalado mulut bergetar lidah bergoyang..cintamu seperti sambalado ah ah", Bolt menyanyi gaje.
10
"Pppfftt buaaahhaahaha",Sarada tertawa terbahak-bahak. Kelakuan anak di depannya ini sangatlah ajaib. Kadang lucu, kadang menyebalkan, membuatnya serasa merindukan bocah pirang itu.
Tunggu..kenapa aku...?'
Sarada memegangi wajahnya yang memanas. Kenapa ia terus memikirkan Bolt? Padahal anak ini ada di hadapannya?
Bolt menghentikan nyanyiannya. Menatap bingung gadis uchiha di depannya ini. Wajah Bolt mendekati Sarada, membuat pipi gadis itu semakin memanas. Bolt menempelkan tangannya di dahi Sarada. Rasanya Sarada seperti ingin meledak sekarang.
"Tidak panas..tapi kenapa mukamu merah? Kamu demam ya?", tanya Bolt khawatir melihat wajah Sarada yang sudah semerah tomat.
Sarada segera memundurkan wajahnya, menjauh dari Bolt sebelum jantungnya benar-benar meloncat keluar.
"Aku tidak papa...a-aku harus pergi". Sarada membopong kotak makan siangnya dan berlari menjauh dari Bolt secepat mungkin.
"Hey tunggu! Jadilah waifuku!!! heeeey!!", teriak Bolt sambil mengejar Sarada.
Uchiha Mansion
Sasuke memijat pelipisnya. Sesekali pria itu juga menggeram gusar. Sakura menatap suaminya itu bingung. Ia hampiri pria yang dicintainya itu dan memijat bahunya pelan.
"Ada apa Sasuke-kun? Masalah kantor lagi?" tanya Sakura. Sasuke menggeleng lemah, membuat Sakura bertanya-tanya. Kalau bukan masalah kantor lalu apa?
"Kau ingat Hyuga Hinata?",tanya Sasuke. Sakura mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagunya, mencoba mengingat nama itu.
"Maksudmu kouhaiku di fakultas kedokteran? Mantan pacarnya Naruto kan? Yang di DO itu kan?", tanya Sakura. Sasuke mengangguk.
"Kau tahu kenapa dia di DO?". Sakura menggeleng.
"Dia hamil, dan coba tebak siapa ayahnya?". Sakura menutup mulutnya. Ibu satu anak itu terkejut bukan main.
"Naruto?tidak mungkin kan?". "Aku juga tidak menyangka si dobe itu akan
berbuat sebejat ini",ujar Sasuke.
Pria itu kembali menatap gambar bocah laki-laki dengan guratan dipipinya yang sudah digambar oleh sang putri. Sakura terkejut menatap gambar itu.
"Anak itu..?"
"Benar, dia anaknya Dobe,dan sekarang dia satu sekolah dengan Sarada..", ujar Sasuke dengan ekspresi aneh, entah kesal entah prihatin.
"Lalu dimana Hinata sekarang?". Sasuke menutup matanya. Menghembuskan napas pelan dan panjang.
"Dia sudah meninggal", ujar Sasuke lirih. Istri pinky-nya kembali menutup mulut mungilnya dengan tangannya.
"Ap-apa anak itu tahu kalau-"
"Kalau Naruto adalah ayahnya? Tidak, Hinata pergi, meninggalkan kerumitan hubungan antara Naruto dan anaknya...antara ayah brengsek yang menyesal, dan putranya yang tak tahu apapun...".
Sakura kini menangis. Sasuke membawa istri tercintanya itu ke pelukannya dan berusaha menenangkanya.
"Hiks...Sasuke kun...kenapa jadi begini...?", lirih Sakura sambil menangis.
"Jujur saja Sakura...aku tidak tahu...", kalimat lirih terucap dari ayah raven ini. Hening. Hanya denting jam yang mengisi
ruangan itu, dimana sepasang suami istri itu
tengah berbagi kesedihan.
Senju's Medical Centre
Klinting
Bunyi pintu klinik yang dibuka membuat seorang dokter cantik berambut gelap pendek itu segera berlari keluar, dan menyambut pasiennya.
"Selamat datang-ah kau...", ucapan Shizune tertahan.
Mendapati seorang pria berusia 30 tahunan dengan rambut pirang dan guratan pipi yang familiar kini berdiri di hadapannya.
"Seperti pernah melihatku? Nee dokter Shizune, atau aku mirip seseorang yang kau kenal?", ujar Naruto sambil tersenyum.
Shizune semakin bingung dengan ucapan pria itu. Dari mana dia tahu isi pikirannya? Dari mana dia tahu kalau saat ini Shizune tengah menyamakannya dengan keponakan kesayangannya yang saat ini diadopsi orang lain.
"Bolt?", ujar Shizune ambigu. Naruto hanya mengangguk dan tersenyum, menciptakan tanda tanya besar di kepala Shizune.
"Kurasa kita harus bicara sebentar dokter...atau mungkin, agak sedikit lama..",ujar Naruto.
Tulips Caffe 05.00 PM
"Kau adalah pengecut dan seorang bajingan besar Namikaze-san", ucap Shizune sinis.
Naruto hanya memandang jauh ke arah jalanan ramai yang terlihat dari etalase caffe.
"Aku tahu...", ujar Naruto pelan.
Shizune memutar iris gelapnya bosan. Sejak tadi cacian dan makian yang ia keluarkan untuk pria ini hanya dibalas oleh kata "aku tahu" atau "aku pantas mendapatkannya".
Entah kenapa Shizune merasa ingin menikam perut pria itu dengan pisau buah yang ada di hadapannya. Bukan tanpa alasan juga ia ingin melakukannya. Pasalnya pria ini...ternyata adalah pria yang sudah menghancurkan hidup adik kesayangannya, Hyuga Hinata.
"Cih! Jika kau tahu, kenapa kau malah mendatangiku sekarang dan seolah tak memiliki dosa kau memintaku menolongmu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Bolt? Selain brengsek, rupanya kau tidak waras juga ya..". Lagi-lagi caci makian Shizune lontarkan pada pria itu, yang masih tetap tak bergeming menatap jalanan.
"Sekarang aku sadar bahwa keponakanku
tinggal dengan bajingan busuk! Besok aku akan menjemputnya", ujar Shizune tegas. Naruto menatap memohon.
"Jangan!", teriak Naruto panik. Shizune
mendecih.
"Aku tidak menemuimu untuk mengambil putraku dariku!",teriak Naruto marah. Shizune tertawa sinis.
"Putramu? Ahaahaha,kurasa ada yang amnesia disini...tapi aku tidak, aku ingat dulu ada seorang pria angkuh yang dengan tidak berperasaanya membuang seorang gadis malang yang sedang mengandung anaknya", sindir Shizune.
Naruto menunduk. Menyembunyikan air yang menunpuk di pelupuk matanya.
"Jangan bawa putraku..kumohon..",lirih Naruto sambil bersimpuh di kaki Shizune. Dokter cantik itu hanya memandang remeh dirinya.
"Air mata busukmu tidak akan menghentikanku membawa Bolt...terimakasih untuk makanannya Namikaze-san, semoga berhasil dengan hidupmu yang tak berharga itu..".
Shizune berlalu pergi. Meninggalkan Naruto yang masih bersimpuh di lantai cafe itu.
"Sudah dapat inspirasi ?",tanya Kushina sambil menunduk,mencoba melihat apa yang sudah dilukis cucu kesayangannya. Bolt menggeleng pelan.
Kushina tersenyum kikuk melihat kanvas itu yang sejak tadi masih saja kosong. Padahal bocah pirang itu sudah duduk di depan kanvasnya selama kurang lebih satu jam.
"Aarrghh, aku memang tidak bisa melukis...haruskah ku coret-coret kanvas ini dan mengatakan pada Aburame-sensei kalau itu adalah lukisan abstrak?", ujar Bolt pada dirinya sendiri.
Kushina dan Minato terkikik geli melihat kelakuan cucu mereka itu. Bocah pirang itu sangat tidak sabaran dan kadang mudah emosi jika tak berhasil melakukan sesuatu.
'Seperti Naruto kecil.',batin Kushina dan Minato.
"Sabar sedikit Bolt...nanti juga kau akan dapat inspirasi...", ujar Minato sambil tersenyum lembut pada cucu satu-satunya itu.
"Yeah..inspirasi itu harus sudah datang sebelum lusa", ujar Bolt sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tadaima", terdengar salam dari pintu depan.
Bolt tersenyum senang. Ia sangat tahu suara siapa itu. Bocah pirang itu segera bangkit dan berlari cepat menuju pintu depan, ingin segera menemui pemilik suara itu. Minato dan Kushina tersenyum tipis menyaksikan kelakuan cucu mereka itu.
"Paman!"
Bruk!
Naruto jatuh terjungkal kebelakang karena Bolt yang tiba-tiba menerjangnya. Naruto tersenyum senang sambil mengacak surai pirang Bolt yang kini memeluknya erat.
Ada semacam perasaan aneh yang menggelitik hatinya setiap sang putra bermanja-manja dengannya seperti ini, walaupun sangat jarang.
'Apa begini rasanya menjadi seorang ayah?',batin Naruto senang.
"Ada apa jagoan?tugas lagi?", tanya Naruto
sambil tersenyum.
"Hehehe iya...", ujar Bolt sambil menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal.
Naruto tersenyum lembut. Dia merasa sangat senang bisa sedikit berguna dalam hidup Bolt. Senang rasanya bisa sedikit berperan sebagai seorang ayah. Walau Bolt terus saja memanggilnya paman.
"Lalu tunggu apa lagi?ayo kita libas habis tugas itu!",ujar Naruto semangat.
"Yoosshh!!!ayo kita hajar aburame-sensei!". Naruto mengernyitkan alisnya.
"Maksudku tugasnya..hehe".
"Sudah coba teknik usap?",tanya Naruto.
"Sketsa saja belum buat",jawab Bolt santai.
Naruto terkekeh pelan. Jelas sekali kalau sifat Bolt itu menurun darinya. Malas dan suka menunda-nunda tugas.
"Aku...belum dapat inspirasi...", ujar Bolt yang kini tengkurap menghadap kanvasnya.
Naruto mengikuti apa yang dilakukan putranya itu. Ayah dan anak itu kini menangkup wajah masing-masing dengan siku yang menumpu ke lantai.
"Bagaimana kalau pemandangan alam?",ujar
Naruto menyarankan.
"Terlalu mainstream", tolak Bolt.
"Hewan?"
"Terlalu biasa"
"Makanan?"
"Susah"
"Lalu apa dong??",tanya Naruto bingung. Bolt menggeleng lemah.
"Itu dia yang sedang aku pikirkan...", ujar Bolt dengan nada malas. Sedetik kemudian ayah dan anak itu kembali ke pose berpikir mereka.
"Itu dia!",ujar Naruto tiba-tiba sambil menjentikkan jarinya.
"Apa apa apa apa???", tanya Bolt antusias.
"Bagaimana kalau kau lukis hal yang paling kau sukai, kalau melukis hal yang disukai kan...pasti jadinya akan bagus..",ujar Naruto.
Mata Bolt berbinar mendengar ide cemerlang sang ayah.
"Sugoiiiiii!!,paman sangat cerdas ttebasa!",puji Bolt.
Naruto tersenyum senang. Dipuji oleh putranya itu rasanya sangat membanggakan baginya. Namun sedetik kemudian senyum itu lenyap. Ia ingat perkataan Shizune bahwa wanita itu akan membawa Bolt pergi darinya.
Tak hanya itu ketakutan yang ia rasakan saat ini. Bagaimana jika Shizune memberi tahu pada Bolt kebenaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya? Jujur saja Naruto belum siap kalau Bolt harus membencinya.
Hey! Kau membuang seorang wanita yang sedang mengandung anakmu! Harusnya kau tahu apa konsekuensinya!
"Yoooshhh,aku akan melukis sekarang", ujar Bolt semangat.
Bocah itu mulai menggambar sketsa. Menggerakkan pensilnya dengan begitu lincah seolah pensil itu tengah menari. Naruto hanya mengamat apa yang urunan puшanya nu dengan pandangan kosong. Pikirannya sudah terlalu kacau membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
Ting tong ting tong
Deg!
Jantung Naruto berdetak kencang. Ia tahu pasti siapa itu. Rasanya ia ingin kabur. Lari dan membawa putranya bersamanya.
Perasaan sedih, bimbang, takut kehilangan, semua seolah tumpang tindih dalam hatinya. Tidak! Dia tidak akan membiarkan siapapun mengambil putranya. Tidak akan!
Walau ia harus mati sekalipun, Naruto tidak akan pernah menyerahkan seseorang paling berharga dalam hidupnya itu. Satu-satunya alasan dia masih bertahan hidup dalam kerumitan ini. Bolt adalah nyawanya.
"Oh!oh! Aku mau membuka pintu-"
"Jangan Bolt!", cegah Naruto.
Bolt yang hendak berlari ke pintu depan menghentikan langkahnya mendengar perintah tegas pria itu. Pasalnya Naruto tak pernah bicara dengan nada tinggi padanya seperti tadi. Bolt sangat yakin pria itu tengah dalam mood buruknya sekarang.
"Kau masuk saja ke kamar dan selesaikan lukisanmu...,biar paman yang urus tamunya", ujar Naruto dengan nada bicara yang mulai melembut. Tak lupa pula dengan seulas senyun yang selalu ia tunjukkan pada putranya itu.
Ceklek
"Ya ada perlu apa?", tanya Kushina pada seorang wanita berambut hitam pendek yang kini ada di depan pintunya.
"Aku datang untuk membawa Bolt",ujar Shizune To the point.
Kushina terkejut bukan main. Baru saja ia tahu kalau Bolt itu adalah cucu kandungnya. Dan sekarang?
Ada seseorang yang bertamu kerumahnya malam-malam dan mengatakan kalau ia akan membawa Bolt pergi?
"Membawa Bolt pergi katamu? Kau pikir siapa kau!", teriak Kushina marah.
"Aku kakaknya Hinata, ibunya Bolt. Jadi jelas aku lebih berhak atas hak asuhnya dibanding kalian" jawab Shizune dingin.
"Tidak! Tidak akan kubiarkan siapa pun membawa Bolt! Aku neneknya! Aku yang lebih berhak merawatnya!"teriak Kushina mencoba melawan perkataan Shizune.
"Nenek? Bolt tidak punya nenek, ibu Hinata sudah meninggal sejak lama", ujar Shizune dingin.
"Aku-"
"Hentikan Kaa-san..., biar aku saja yang urus ini", ujar Naruto yang kini telah berada di pintu luar. Shizune memutar bola matanya bosan.
"Hiks..jangan biarkan dia mengambil Bolt Naruto..hiks..aku tidak mau jauh darinya lagi..",lirih Kushina sambil menangis.
"Ada apa ini Naruto?",tanya Minato yang juga baru keluar setelah mendengar ribut-ribut. Pandangannya kini terfokus pada sang istri yang tengah menangis. Segera ia dekap tubuh istrinya yang bergetar hebat.
"Jangan menangis Kushina...", lirih Minato sambil mengecup puncak kepala sang istri.
"Tou-san bawa saja Kaa-san masuk...aku yang akan selesaikan masalah ini...",ujar Naruto. Minato segera membawa sang istri masuk kedalam rumah.
Iris gelap Shizune memandang nyalang Naruto. Mencebikkan bibirnya tak suka. Ingin rasanya ia meludahi pria yang menurutnya tak lebih dari bajingan busuk itu.
"Mana keponakanku brengsek!"
"Kau tahu aku tidak akan pernah menyerahkan putraku"
"Aku tidak minta kau menyerahkan putramu, aku minta kau menyerahkan Bolt, Bolt H-y-u-g-a", ujar Shizune dengan menekankan kata Hyuga.
"Bolt adalah putraku, terimalah kenyataan-"
"Kau yang tidak menerima kenyataan!". Naruto tersentak dengan nada bicara Shizune yang tiba-tiba meninggi.
"Kau yang tidak menerima Hinata dan putramu waktu itu! Kau yang tidak menerima akibat dari perbuatan bejatmu! Sejak awal kau hanya menghindar dari semua masalah seperti bajingan pengecut!", teriak Shizune marah dengan membabi buta, sedangkan Naruto hanya diam.
Selama beberapa detik hanya ada hening. Naruto menarik napas dalam. Mencoba menenangkan dirinya agar dapat bicara setenang mungkin nantinya.
"Aku hanya...ingin bersama putraku...itu
saja.."
"Kau-"
"Hanya ingin memberikan apa yang selama ini tidak dia dapatkan, kasih sayang seorang ayah...a-aku ingin menebus kesalahanku...walaupun aku tahu ini saja tidak akan cukup..."
"Tapi aku...aku ingin memberikan semua milikku padanya...dan membuatnya bahagia...semua yang tidak kulakukan pada Hinata dulu...", lirih Naruto.
Entah kenapa Shizune merasakan bahwa ucapan Naruto itu tulus dari hatinya. Nada bicaranya yang tegas tak menyiratkan kebohongan. Tapi tetap saja itu tidak kucup untuk membuatnya menyerahkan Bolt pada bajingan busuk yang sudah membuang adik kesayangannya itu.
"Kau tahu aku tidak akan termakan ucapan dari mulut biadabmu itu kan?" ucap Shizune sinis.
"Kumohon aku-"
"Ada apa ini paman- Haaaaahhh Shizune ba-san!!".
Greb
Bolt tiba-tiba datang dan memeluk Shizune erat. Shizune membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya. Dua insan itu kini saling berpelukan. Pelukan yang sarat kerinduan.
"Bolt!",teriak Kushina dan Minato panik. Mereka tidak bisa mencegah bocah pirang ini keluar dari rumah setelah ia mendengar suara ba-sannya.
Kushina menatap Naruto dengan pandangan memohon. Melihat betapa dekatnya Bolt dengan wanita berambut pendek itu,ia jadi semakin takut Bolt akan benar-benar pergi darinya.
Sementara Minato hanya menatap Naruto datar. Ia tahu bahwa putranya itu tak akan bisa melakukan apapun. Karena dirinyalah pihak yang bersalah disini.
"Ba-san rindu padamu Bolt...", ujar Shizune yang masih memeluk tubuh mungil Bolt erat.
"Aku juga sangat rindu pada Shizune ba-san...". Shizune melepas pelukannya. Menatap dua manik Saphire milik Bolt dengan lembut.
"Lalu tunggu apa lagi? Kemasi barangmu sekarang juga sayang...kita akan pulang".
Jantung Naruto,Kushina, dan Minato seolah berhenti seketika. Apa yang mereka takutkan sejak tadi kini benar-benar terjadi. Tapi tentu saja mereka tak bisa melakukan apapun. Kini semua keputusan ada pada Bolt.
"Pulang?"
"Ya, kau dan bibi, kita akan tinggal bersama...bersenang-senang bersama, melakukan semua hal yang kau sukai Bolt.."
Bolt menoleh kebelakang. Melihat wajah ketiga Namikaze yang kini terlihat muram itu. Kushina sang nenek bahkan menangis. Naruto balas menatap Bolt. Tatapannya seolah mengatakan.
"Tetaplah disini..kami menyayangimu...".
"Aku sangat berterimakasih dengan tawaran dan niat baik Shizune ba-san...",ujar Bolt sambil tersenyum menatap Shizune. Tangis Kushina semakin pecah.
"Tapi kurasa aku ingin tinggal disini..", senyum seketika merekah di wajah ketiga Namikaze itu. Shizune terdiam mendengar jawaban Bolt.
"Kakek dan nenek...mereka orang yang sangat baik...,mereka merawat dan menyayangiku seolah aku adalah cucu kandung mereka...",air mata haru mengalir deras dari manik Kushina dan Minato.
"Dan paman Naruto...saat aku bersamanya..aku merasa seperti aku memiliki seorang ayah...",ujar Bolt.
Seketika rasa hangat menjalari sekujur tubuh Naruto. Tubuhnya terasa begitu ringan seolah ia bisa melayang. Seolah semua kebahagiaan di dunia telah menjadi miliknya. Itulah yang ia rasakan saat ini.
Greb
Kushina, Minato, dan Naruto memeluk tubuh Bolt erat. Mengutarakan rasa sayang mereka lewat pelukan.
Melihat hal itu Shizune menarik sudut bibirnya sekejap, lalu kemudian kembali lagi ke ekspresi datarnya.
"Baiklah Bolt...ba-san menghargai keputusanmu..., kau boleh tinggal disini jika itu memang maumu..". Naruto, Minato dan Kushina menatap Shizune bingung, tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Bolt tersenyum menatap sang Bibi.
"Aku juga akan pergi sekarang...", Shizune mulai beranjak pergi, namun sedetik kemudian wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Tapi kapanpun kau berubah pikiran...Ba-san akan selalu siap menjemputmu Bolt..."
"Kau tahu pasti apa yang kumaksud bukan? Namikaze-san...? Kuharap kau siap saat kebenaran terungkap..",ujar Shizune sambil menatap Naruto sinis kemudian kembali berjalan keluar dari Mansion Namikaze.
Naruto menatap kepergian wanita itu dengan pandangan datar. Kata-katanya barusan terus terngiang di kepalanya.
TBC
