Tergoda aku tuk berpikir... Dia yang tercinta... Mengapa tlah lama tak nampak... Dirimu disini...

The Past...

Hinata tersenyum. Menatap matahari yang masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Ibu bersurai indigo itu berdiri sambil merentangkan tangannya. Ia hirup dalam-dalam udara pagi yang begitu menyejukkan.

"Haaaah...tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menghirup udara pagi di rooftop apartemen kecil ini...", ujarnya pelan dan kemudian menghembuskan napas perlahan.

"Untung saja Bolt belum bangun...kalau tidak dia pasti akan merengek minta susu dan aku tidak bisa menikmati udara pagi yang segar ini..", ujarnya lagi.

Kali ini Hinata tertawa kecil, membayangkan kelakuan lucu putranya setiap pagi menjelang. Bolt memang bukan anak yang manja dan selalu ingin dituruti, tapi ada kalanya bocah itu ingin terus bersama ibunya, yang mana hal itu membuat Hinata sampai tak bisa melakukan pekerjaan apapun.

Naruto terkekeh pelan. Kembali ia memeluk wanita itu dari belakang, mengecup puncak kepala sang pujaan hati dengan sayang. Membisikkan kata cinta di telinga Hinata, yang pasti tidak akan mungkin didengar olehnya.

"Aku sangat mencintaimu Hinata...", lirih Naruto.

"Aku mencintaimu Naruto-kun...", lirih Hinata tiba-tiba. Wanita itu menangkupkan kedua tangannya dan Memejamkan matanya.

Deg!

Jantung Naruto berdegup kencang. Rasanya sangat hangat. Hangat dan nyaman di bilik terkecil dalam hatinya yang rasanya sudah membeku.

Kata cinta Hinata bagai sinar matahari yang sanggup membangunkan hati kecilnya yang sudah lama berhibernasi.

"Kau dimana sekarang..? Apa kau bahagia

tanpaku...? Apa kau pernah mengingatku

sekali saja...?", lirih Hinata lagi.

Sepersekian detik kemudian air mata mengalir jatuh dari amethyst indah miliknya. Jatuhnya air mata itupun diiringi jatuhnya air mata dari netra saphire pria yang selalu ia puja.

'Aku disini...aku tidak pernah bahagia tanpamu...omong kosong jika aku bilang kau hanya membuatku pusing dan bosan...nyatanya aku sangat membutuhkanmu Hime...aku tak bisa bernapas tanpamu..',lirih Naruto.

Naruto semakin mengeratkan pelukannya. Tubuh wanita yang dupeluknya kini bergetar hebat karena menangis.

Hinata mencengkeram kuat dada kirinya. Seolah disanalah sumber rasa sakitnya selama bertahun-tahun.

"Aku bohong...aku bohong jika kubilang aku bisa melupakanmu...bohong jika kubilang hanya dengan mencintaimu saja sudah cukup...nyatanya aku ingin kau membalas cintaku...aku ingin setiap aku membuka mata..kau selalu ada disana...aku ingin kau memelukku dan mengatakan kau mencintaiku...apa aku salah..?",lirih Hinata yang kini terduduk lemas.

Tangan mungilnya meremas ujung rok yang ia kenakan. Ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang mencengkeram kuat dadanya. Rasa sakit akibat cinta yang tak pernah terbalas.

Merasakan hal yang sama, pria berambut pirang yang sejak tadi memeluknya juga terduk lemas. Menangis dan meraung-raung. Seolah hal itu dapat mengurangi rasa sakit yang sama yang mencengkeram dadanya. Penyesalan akibat cinta yang datang terlambat.

Pada akhirnya tak satupun dari mereka yang bahagia atas perpisahan itu. Pria egois yang sama sekali tak berperasaan, yang tega menghamili seorang gadis dan membuangnya begitu saja, dan seorang gadis polos dengan cinta yang sama polosnya dengan dirinya, dengan hati yang sejernih mata air.

Bagaimana dua orang yang sama sekali berbeda itu terikat dalam hubungan rumit ini. Begitu juga dengan bocah kecil tak berdosa yang ikut dalam kerumitan hubungan ini.

Tak satupun dari mereka bisa mengungkapkan perasaan masing-masing. Mereka hanya bisa menangis dan meraung dalam kesendirian.

Adakah rasa lain selain pahit dalam hubungan mereka? Mengapa? Mengapa hanya ada pahit?

Flashback on

Hinata mengeratkan jaket yang ia gunakan. Melirik kembali jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Udara dingin seolah tak mengasihani gadis manis bernetra amethyst itu.

Hampir dua jam. Ya, dua jam gadis itu menunggu sang kekasih di taman kota. Tempat yang sudah dijanjikan untuk merayakan satu bulan mereka bersama sebagai pasangan kekasih.

"Kau dimana Naruto-kun...?", lirih sang gadis.

Musim dingin seolah tak menjadi penghalang untuk gadis itu menyampaikan rasa cintanya pada sang pujaan hati.

Satu bulan yang ia habiskan bersama pria itu terasa begitu indah dan berharga. Walau tidak bagi pria itu.

Hinata mengambil ponsel dari tas nya. Jari jemari lentiknya dengan lihai mengetikkan pesan untuk sang kekasih.

Hinata Hyuga

To: Naruto-kun

Naruto-kun..kau dimana? Aku sudah ditaman sejak tadi..

Naruto Namikaze To: Hinata Hyuga

Sebaiknya kau pulang saja, aku tidak akan datang

Hinata Hyuga

To: Naruto-kun

Kenapa Naruto-kun? Apa ada keperluan penting? Apa kau dapat tugas mendadak?

Naruto Namikaze To: Hinata Hyuga

Aku lupa kalau hari ini Sakura ulang tahun, aku harus datang ke pestanya, kau pulang saja sekarang

Air mata mengalir dari kedua manik amethystnya ketika membaca barisan kata itu. Lagi-lagi gadis berambut soft pink itu yang jadi alasan pria itu mengabaikannya.

Hinata menghapus air matanya dengan kasar. Mengusap jejak-jejak kesedihan mendalam dari wajahnya.

Tidak! Dirinya tidak boleh egois! Naruto dan Sakura adalah sahabat sejak kecil. Wajar jika pria itu harus ada dalam hari penting gadis itu. Jari lentiknya kembali mengetik pesan untuk sang pria.

Hinata Hyuga To: Naruto-kun

Baiklah Naruto-kun..aku akan pulang..bersenang-senanglah di pesta..ucapkan selamat ulang tahun dariku untuk Sakura-senpai...

Aku mencintaimu..

Hinata kembali menangis lirih setelah mengirim pesan itu. Entah sudah berapa juta kata cinta untuk Naruto keluar dari mulutnya. Namun tak pernah sekalipun Hinata mendengar pria itu mengatakan cinta padanya.

"Apa aku sebegitu tak berartinya dalam hidupmu Naruto-kun...?"

"Kumohon..lihatlah aku, sekali saja..., sebentar saja...lihatlah cintaku untukmu...", lirih Hinata.

Gapai semua jemariku... Rangkul aku dalam bahagiamu.. Ku ingin bersama berdua... Selamanya..

Jika ku buka mata ini...kuingin selalu ada dirimu.. Dalam kelemahan hati ini...

Bersamamu..aku tegar..

Banyak orang yang mengelu-elukan kehidupan yang mereka jalani. Menikmati hidup setiap harinya, seolah hari itu adalah hari terakhir mereka hidup...

Namun ada beberapa orang yang yang memilih untuk tetap diam, menelan pil pahit kehidupan dalam setiap harinya...seolah waktu yang terus bergulir sama sekali tak berarti..

Hanya karena satu hal...

Bagi mereka kehidupan bukanlah kehidupan...jika tanpa orang yang mereka cintai...

KIES 07.00 AM

"Hey...Inojin Ma Bro! Kau tidak akan percaya, lukisanku sudah selesai..aku-"

"Simpan saja lukisanmu itu Bolt, hari ini tidak ada pelajaran..dan aku sangat yakin Aburame sensei tidak akan menagih lukisan itu..",ujar Inojin enteng.

Alis Bolt berkedut. Darah mengalir di tubuhnya secara tak beraturan. Asap keluar dari hidung dan telinga bocah pirang itu.

"Kubunuh kau Inojin! Katamu lukisan ini dikumpulkan hari ini! Apa kau tahu aku tidak tidur semalaman untuk menyelesaikan lukisan bodoh ini!", teriak Bolt marah sambil menarik-narik kerah baju Inojin dengan membabi buta. Lagi-lagi lambang Tweter memutari kepala Inojin.

"Ma-mana aku tahu kalau minggu depan akan ada acara menyambut hari orang tua...dan mana aku tahu kalau seminggu ini bakal dijadikan latihan dan gladi!", protes Inojin yang tak ingin disalahkan.

Cengekeraman tangan Bolt mengendur. Hari orang tua? Kedengarannya seperti hari mengejek dirinya yang kini yatim piatu. Bocah pirang itu kini tersenyum kecut.

"Kalau yang tidak punya orang tua masih diharuskan hadir?",tanya Bolt dengan wajah dingin.

"B-bolt?"

Inojin terkesiap. Tak pernah ia melihat sahabat pirangnya ini begitu murung. Wajah ceria dan konyol yang sering kali bocah itu tunjukkan kini diterbangkan angin entah kemana.

"Bolt, ma-maaf..aku tidak bermaksud untuk-"

"Tidak papa Inojin, kau tidak perlu merasa tidak enak...hanya, aku mau minta tolong..bisakah kau minta ijin pada Aburame-sensei untukku? Seminggu ini aku rasa lebih baik aku dirumah saja..",ujar Bolt dengan ekspresi sendu.

"Tapi Bolt-"

"Tenang semua! Duduk di bangku masing-masing! Kau juga Bolt, Inojin", perintah Aburame sensei yang baru saja masuk kelas.

"Maaf pak, saya rasa untuk acara yang satu ini...sebaiknya saya tidak ikut berpartisipasi, saya yakin kepala sekolah sudah mengatakan kalau-"

"Maaf Bolt, bukannya bermaksud membuatmu sedih dengan melihat anak lain memeluk orang tuanya..", omongan sang Sensei membuat Bolt bungkam seketika, begitu juga dengan Inojin dan murid-murid lain.

"Tapi...hanya karena orang tuamu sudah tiada, bukan berarti rasa sayangmu pada mereka juga ikut pergi kan?", Bolt kini hanya menunduk.

"Kau masih bisa menunjukkan rasa cintamu pada ibumu yang sudah di surga...mungkin lewat lagu...", ujar Aburame sensei sambil memberikan secarik kertas pada Bolt. Iris Saphire sang bocah Namikaze membulat.

"I-ini..."

"Ya, kami selaku pihak sekolah ingin kau membuka acara hari orang tua minggu depan dengan permainan piano solo...mungkin kau juga akan bernyanyi..", ujar sang Sensei sambil tersenyum.

"Tapi sensei, aku-"

"Aku yakin kau bisa memilih keputusan yang benar Bolt, aku tahu kau anak yang cerdas dibalik semua tingkah konyolmu itu",ujar guru berumur 30-an itu sambil mengusap pelan surai pirang Bolt.

Namikaze Mansion

Bocah pirang itu meremas kertas pemberian sang guru kuat-kuat. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia akui kalau dirinya menghindari acara ini memang karena ia tidak ingin melihat anak-anak lain memeluk orang tuanya di hadapannya.

Dia bisa saja bersikap sok kuat. Tapi bisa sekuat apa hati seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun yang ditinggal orang tuanya?

Sang ibu meninggal dalam kecelakaan, dan sang ayah? Entah dimana keberadaan pria itu sekarang. Bolt sendiri tidak yakin pria itu masih memiliki eksistensi di dunia nyata. Eksistensi pria itu hanya berada dalam mimpi-mimpi dan harapannya saat masih balita. Kini dia sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa pria itu tidak akan pernah datang dalam hidupnya sampai kapanpun.

"Para Sensei itu pasti sudah gila, meminta anak yatim piatu membuka acara hari orang tua? Kenapa tidak sekalian saja meminta pemain bulu tangkis untuk memahat kayu, sangat tidak masuk akal".

Bolt mencebikkan bibirnya. Ditatapnya piano yang ada di sudut ruangan bilik keluarga Namikaze itu. Tanpa ia sadari, bocah itu kini telah duduk di depan piano itu. Jari-jari mungilnya mulai memencet tuts-tuts yang berderet itu dengan lihai. Bibir mungilnya pun ikut melantunkan lagu.

Yakinkah ku berdiri..

Di hampa tanpa tepi.. Bolehkah aku mendengarmu...

Terkubur dalam emosi

Tanpa bisa bersembunyi Aku dan nafasku..merindukanmu

Tanpa bocah itu sadari, sedari tadi sepasang manik saphire yang identik dengan miliknya sejak tadi memperhatikannya. Air mata yang entah sejak kapan sering mengalir dari pria itu, kembali menetes.

Sejak telpon yang diterimanya dari sekolah Bolt soal hari orang tua dan soal bocah pirang itu yang didaulat membuka acara, Naruto merasa benar-benar tak berguna.

la sadar hari itu bagai hari paling kelabu bagi Bolt. Ia sadar bocah itu berpikir bahwa dirinya kini yatim piatu. Ia sadar bahwa bocah itu tak menganggapnya sebagai ayah. Kembali kebingungan menyergap pria besar itu. Ia bingung apakah harus kembali berbohong atau tidak?

Kaki besar dan jenjangnya melangkah mendekati sang putra tersayang yang sayangnya tak mengtahui bahwa dirinya adalah ayah biologisnya. Ditepuknya punggung kecil sang putra perlahan.

"Bolt?"

"Uh, paman ternyata...hehe aku sedang iseng...", ujar Bolt sambil tersenyum.

Namun senyum itu tak bisa menipu mata Naruto. Saphire-nya menangkap jejak-jejak air mata dari wajah putranya itu. Bocah pirang ini pastilah sangat merindukan sang ibu, tidak mungkin kan ia merindukan ayahnya?

"Merindukan seseorang? Nee Bolt...",kini Naruto duduk di samping Bolt. Membawa bocah 10 tahunan itu ke dekapannya.

Entah kenapa Bolt merasa sangat nyaman. Entah kenapa ia merasa dirinya bisa jujur jika di hadapan Naruto. Entah kenapa tangan besar pria itu tersasa jauh lebih hangat dari tangan orang lain yang pernah mendekapnya selain sang ibu.

Perlahan kenyamanan itu membuatnya mulai menangis. Melelehkan air mata yang sejak tadi bocah itu kukuhkan untuk tak menetes.

"Aku rindu Okaa-san..",lirih Bolt yang masih dalam dekapan Naruto.

Dalam hati Naruto berteriak dan meraung-raung. Kerinduan yang sama juga menyergap hatinya. Kerinduan pada sosok yang sama. Sosok yang mampu menggetarkan sanubari terdalam seseorang. Sosok Wanita sederhana dan bersahaja, namun dengan kemurnian hati yang luar biasa.

'Ayah juga sangat merindukan ibumu Bolt...kita merindukannya..',batin Naruto.

Perlahan Naruto meyeka air matanya yang hampir menetes dan menjatuhi sang putra. Hati seorang pria dewasa tak ubahnya hati seorang bocah laki-laki sepuluh tahun jika menyangkut tentang kerinduan.

"Lalu? Kalau kau merindukannya? Kenapa tak menyampaikannya lewat lagu? Seperti tadi...", ujar Naruto. Ia sudah berusaha agar suaranya tak bergetar, tapi apa daya? Semua kesedihan ini bukan hanya menggetarkan suaranya, tapi juga keberaniannya.

"Kenapa harus lewat lagu?"

"Entahlah...aku juga tidak punya alasan yang bagus.., tapi kau suka bernyanyi dan bermain piano kan? Kau bisa lakukan hal yang kau sukai sekaligus mengungkapkan perasaanmu pada ibumu..itu menurutku..",ujar Naruto. Kini suaranya tak lagi bergetar.

Bolt tersenyum tipis. Selalu pria ini yang kembali menghadirkan senyumnya. Selalu pria ini yang bisa menghadirkan rasa hangat dalam hatinya.

"Kau tahu paman? Bersamamu...aku merasa hangat disini..", ujar Bolt sambil menunjuk dada kiri nya.

Naruto tersenyum senang. Hampir saja ia menangis haru, tapi ia kendalikan semua kebahagiaan yang membuncah di dadanya itu. Menunggu waktu yang tepat agar kebahagiaan itu bisa membuncah sempurna saat Bolt menerimanya sebagai ayahnya.

"Kalau begitu ayo lanjutkan lagumu nak..",bujuk Naruto.

Bolt mengangguk. Jemari kecilnya kembali menekan tuts tuts piano dengan lihai. Bibirnya kembali melantunkan lagu.

Dalam hidupku...kesendirianku...

Teringat ku teringat Pada janjimu ku terikat Hanya sekejap ku berdiri Kulakukan sepenuh hati...

Peduli ku peduli

Siang dan malam yang berganti Sedihku ini tak ada arti Jika kaulah sandaran hati...

Kaulah sandaran hati...Sandaran hati..

Parent's Day

Naruto, Kushina, dan Minato duduk di kursi VVIP yang sudah mereka pesan. Mereka ingin melihat anak kesayangan dan cucu kesayangan mereka tampil dengan jelas. Memberi semangat pada bocah pirang dengan kepribadian yang menurut mereka istimewa itu.

Naruto mengeluarkan foto Hinata yang ada di sakunya. Membelai foto yang dijaganya dengan sangat baik itu. Mengecupnya perlahan.

"Kau pasti akan sangat bangga dengan Bolt kita Hime..", lirihnya.

Minato dan Kushina menatap sang putra dengan sendu. Apa yang putra mereka lakukan itu bisa dibilang termasuk gangguan psikologis. Tapi kerinduan dan rasa bersalah yang mendalam pasti bisa merubah orang sewaras apapun jadi begitu kan? Jadi putra mereka itu tidak bisa disebut gila.

Tepuk tangan riuh menggema ketika bocah pirang yang sejak tadi dinanti-nantikan memasuki panggung. Kemeja putih rapih, jas hitam elegan dan celana panjang dengan warna senada kini membalut tubuh mungil bocah itu. Dasi merah tampak pula bertengger apik di lehernya.

Sarada yang juga ada di kursi VVIP bersama keluarganya tersenyum. Sahabat baiknya itu kini tampak begitu tampan dan hebat. Seolah dia adalah pianis nomor satu dunia.

Sakura menatap Sasuke dengan pandangan bertanya. Sasuke yang mengerti maksud sang istri mengangguk pelan.

Kini Sakura bisa melihat dengan begitu jelas betapa miripnya bocah itu dengan Naruto. Mata Ibu muda berambut bubble gum itu mencari-cari dimana gerangan sang sahabat kuningnya. Rupanya sang suami juga melakukan hal yang sama.

Wajah mereka berubah sendu setelah melihat Naruto yang ada di deret pertama kursi VVIP sebelah kanan. Pria Namikaze itu kini tengah menatap bangga sang putra yang berdiri gagah di atas panggung.

Sasuke tahu tatapan itu. Tatapan yang sama saat dirinya menatap Sarada. Tatapan seorang ayah pada anaknya. Sasuke menatap sang istri yang kini juga tengah menatapnya. Mengekspresikan keprihatinan mereka pada keadaan sahabat kuning mereka itu.

"Ekhem..aku..namaku Bolt Hyuga, tapi kalian juga bisa memanggilku Bolt Namikaze..karena sekarang aku sudah memiliki keluarga baru yang baik disana..",ujar Bolt bangga.

Tangannya melambai pada Naruto, Kushina, dan Minato,membuat semua orang menatap keluarga Namikaze itu. Mereka balas melambai pada bocah itu.

"Mm..aku disini akan membuka acara perayaan hari orang tua malam ini dengan permainan piano solo..".ujar Bolt lagi.

Kini Bolt mulai berjalan ke piano yang sudah disiapkan untuknya di atas panggung. Duduk di kursi, bersiap memencet tuts tuts piano itu dan menciptakan harmoni dengan nada-nada. Ia menarik microfone kecil miliknya.

"Aku persembahkan lagu ini, untuk ibuku tercinta di surga", lirihnya dengan suara yang bergetar.

Suara bergetar itu juga mampu menggetarkan hati pemirsa yang ada di auditorium raksasa nan mewah milik sekolah itu. Terutama hati milik seorang pria berambut pirang yang menyandang gelar sebagai ayah bocah itu.

Di daun yang ikut..mengalir lembut Terbawa sungai ke..ujung mata Dan aku mulai takut..terbawa cinta Menghirup rindu yang..sesakkan dada

Jalanku hampa dan kusentuh dia Terasa hangat oh di dalam hati Kupegang erat dan kuhalangi waktu Tak urung jua, kulihatnya pergi

Tak pernah kuragu dan slalu ku ingat Kerlingan matamu dan sentuhan hangat Ku saat itu takut..mencari makna Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada Kau datang dan pergi oh begitu saja

Semua ku terima...apa adanya

Mata terpejam dan hati menggumam..

Di ruang rindu..kita bertemu..

Naruto mondar-mandir di luar auditorium dengan gusar. Menunggu sang putra satu-satunya keluar untuk pulang bersamanya. Ayah dan ibunya sudah pulang terlebih dahulu. Alasannya, hanya agar Naruto dan Bolt memiliki lebih banyak waktu berdua.

Mungkin tak banyak yang mengingat bahwa Naruto adalah ayah Bolt, tapi bagaimanapun juga itu faktanya. Sebagai orang tua, Minato dan Kushina tetap akan selalu menyayangi dan mendukung Naruto. Dengan segala kerumitan dan masalah dalam hidupnya, pria itu memang butuh banyak dukungan.

"Dobe",panggil Sasuke yang tiba-tiba menepuk punggung Naruto.

Naruto menoleh. Pria Namikaze itu menatap datar sahabat lamanya dan juga sosok wanita musim semi yang berdiri di belakang pria itu. Sakura tersenyum tipis pada Naruto, namun pria itu lebih memilih untuk memalingkan pandangannya dari pasangan suami istri itu.

"Kau sedang apa di sini?", tanya Sasuke.

"Menunggu putraku",jawab Naruto dingin.

"Kami juga sedang menunggu Sarada, mereka pasti sedang rapat evalusi pasca pertunjukan, kita bisa menunggu mereka bersama",ajak Sakura.

Istri dari Sasuke Uchiha itu berusaha seramah mungkin dengan sahabat kuningnya ini. Sakura sangat tahu bagaimana rumitnya masalah yang dihadapi Naruto, wajar jika pria itu bersikap seperti ini.

Naruto tak menjawab. Netra saphirenya kini menengadah ke langit. Mencari sang belahan jiwa di antara milyaran bintang yang bertebaran di sana. Senyum tipis terukir di wajah pria Namikaze itu.

Sasuke mencebikkan bibirnya. Menurutnya sikap Naruto saat ini bukanlah wujud dari penyesalan dan rasa bersalah, namun justru menunjukkkan bahwa pria itu memang mengalami masalah psikologis alias gila.

"Tingkahmu itu seperti orang gila dobe!, pria tua gila!",umpat Sasuke.

Sakura agak tersentak dengan ucapan sang suami yang menurutnya terlampau kasar. Manik emeraldnya melirik Naruto yang tetap tak bergeming meskipun mendapat umpatan kasar dari Sasuke.

Entah kenapa Sasuke tiba-tiba naik darah. Menurutnya sikap Naruto sudah sangat keterlaluan. Pria itu sudah tidak waras.

"Hentikan ketidakwarasanmu ini Dobe!", teriak Sasuke marah sambil mencengkeram kuat kerah baju Naruto.

Saphire Naruto menatap dingin onyx Sasuke yang kini mulai berair.

"Jangan jadi gila! Jika kau merasa bersalah, sebaiknya katakan pada Bolt bahwa kau adalah ayah biologisnya! Katakan sekarang juga padanya!",teriak Sasuke sambil terus mencengkeram erat kerah kemeja Naruto.

Naruto tak bergeming. Pria bersurai light yellow itu tak bisa berkata apapun. Apa yang dikatakan Sasuke itu sangatlah benar namun juga sangatlah sulit dilakukan.

"Aku-"

"Jih, Sekarang aku mengerti, pada akhirnya...semua semua rasa manis dalam hidupku selalu kembali jadi pahit...mungkin aku dan ibuku memang tidak ditakdirkan untuk bahagi ya..."

Saphire Naruto membulat menatap putranya yang kini berdiri di depannya. Sasuke dan Sakura juga menatap Bolt dengan pandangan terkejut.

Bocah dengan dua guratan di masing-masing pipinya itu menundukan wajahnya. Seolah berusaha menelan semua rasa sakit yang sekali lagi menghujam tubuh mungilnya.

Jantung Naruto berpacu kencang memikirkan semua bayangan tentang Bolt yang akan membencinya, tentang Bolt yang akan pergi meninggalkannya. Apa Bolt mendengar semuanya?

"B-bolt..a-aku-"

"Ap! Jangan bicara lagi, kumohon...aku benar-benar tidak ingin mendengar apapun darimu",tegas Bolt salah satu tangannya ia adangkan, memerintahkan sang ayah untuk berhenti bicara.

"Aku yakin kau tahu...tidak akan pernah ada kata ayah dalam hidupku",bibir Bolt kembali mengucapkan kalimat yang mampu menyayat jiwa Naruto secara langsung.

Naruto merasa seperti ribuan serpihan kaca kecil menghujam jantungnya. Sakit bertubi-tubi, sakit yang tidak berkesudahan, kini ia tahu bagaimana rasanya ditolak oleh orang yang sangat kau sayangi, yang sangat kau cintai, yang sangat kau butuhkan, satu-satunya alasanmu hidup...Sekarang Naruto tahu apa yang Hinata rasakan dulu.

"Terimakasih kerena sudah mengijinkanku tinggal di rumahmu, memberiku makan, dan menyekolahkanku, terimakasih untuk semua itu..Paman"

Kini Naruto terduduk lemas. Kata-kata tajam yang keluar dari bibir putranya itu seperti menarik semua tenaganya, bahkan untuk berdiri pun rasanya ia sudah tidak sanggup lagi.

"Tapi jangan khawatir, aku tidak akan merepotkanmu lagi, aku tidak akan menghabiskan uangmu lagi, aku tidak akan membuang waktumu lagi, aku akan pergi dari kehidupanmu, semua akan kembali seperti dulu aku dan kehidupanku, kau dan kehidupanmu, seperti yang kau inginkan", ujar Bolt. Kaki kecilnya kini mulai berlari kencang, meninggalkan pelataran sekolahnya.

"Bolt!", Naruto segera bangkit dan mengejar putranya.

Titik-titik air mata meleleh dari netra saphire bocah pirang berusia sepuluh tahun itu. Bolt masih terus berlari meskipun tak jarang bocah itu terjatuh karena ia berlari sambil menunduk, menyembunyikan air matanya.

Sementara itu di tempat lain Naruto berlari dalam kebingungan. Ia kehilangan Bolt. Sesekali pria itu berhenti untuk bertanya pada orang-orang yang lewat.

"Kau, apa kau melihat putraku..usianya sepuluh tahun, tingginya sepinggangku..di-dia berlari kearah sini tadi..kau melihatnya?", tanya Naruto dengan panik. Pria berjas yang ditanyainya hanya menggeleng.

"Bagaimana bisa kau tidak lihat! Dia tadi lari kesini!", teriak Naruto marah pada pria tadi. Pria itu hanya menggeleng prihatin, kemudian berjalan cepat menjauhi Naruto.

"Aaaarrrggggggghhhh", teriak Naruto sambil mengacak surai pirangnya frustasi.

"Kau dimana Bolt...?", lirih Naruto dengan air mata yang menggenangi pelupuk matanya.

Bolt tersenyum kecut. Kaki kecilnya melangkah perlahan memasuki sebuah area taman bermain yang nampak tak terawat. Permainan-permainan yang ada disana seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan mainan lain semuanya sudah lapuk dan berkarat.

Bocah pirang itu kembali tersenyum, kini ia berlari cepat menuju trowongan kecil di sudut taman bermain itu. Bolt sangat ingat taman bermain ini, trowongan ini..semua kenangannya..

Flashback off

"Hey! Sudah berapa kali kami bilang kau tidak boleh main disini!" ujar seorang bocah lelaki bertubuh gempal berusia empat tahun sambil melempar kaleng minuman ke arah bocah berambut pirang seusianya.

"Kenapa? Yang lain boleh main disini! Kenapa aku tidak boleh?", teriak Bolt tidak terima. "Itu karena kami punya ayah, dan kau tidak

punya!",tukas bocah lain, lagi-lagi sambil

melempari Bolt dengan sampah.

"Tidak ada hubungannya tahu!", lagi-lagi Bolt mencoba membela diri.

"Kami tidak peduli! Pokoknya kau tidak boleh main disini! Kami tidak mau main dengan anak tidak jelas yang tidak punya ayah sepertimu!"

"Aku juga tidak peduli! Aku tetap mau main disini! Wuuueekk!!", Bolt mendorong bocah gempal tadi, segera ia berlari cepat menuju terowongan kecil yang ada di sudut taman bermain. Bocah gempal tadi dan teman-temannya segera mengejar Bolt.

Tubuh mungilnya memudahkan Bolt untuk masuk ke lubang trowongan dengan cepat. Sementara bocah gempal tadi menggapai-nggapaikan tangannya. Tubuh besarnya membuatnya sulit masuk.

"Makanya jangan makan terlalu banyak! Dasar gendut! Wuueeekk!!", ejek Bolt dari dalam trowongan.

"Hey! Awas kau ya! Besok aku akan menghajarmu! Dasar bocah tidak punya ayah!", teriak bocah gempal tadi marah. Tak lama kemudian bocah tadi meninggalkan taman bermain bersama teman-temannya.

Setelah yakin bahwa anak-anak nakal tadi sudah pergi, Bolt merangkak cepat, keluar dari trowongan. Senyum lebar terukir di wajahnya.

"Yeeeeyyy!! Taman ini sekarang milikku!! Hanya milikku sendiri!!", teriak Bolt girang.

Bocah pirang itu sangat bersemangat mencoba semua permainan di taman itu, ayunan, jungkat-jungkit, prosotan, ia mencoba semuanya. Hingga bocah itu sampai di satu titik dimana ia sama sekali tidak merasa senang.

"Huuuffft...main sendirian rasanya tidak menyenangkan dattebasa!", Bolt mendengus sebal.

"Kenapa mereka tidak mau main denganku sih!"

Hinata tersenyum tipis mendapati putranya yang kini tengah duduk di ayunan. Sekarang ia tahu kenapa bocah itu tak kunjung pulang meskipun sudah sesore ini.

"Bolt.., disini rupanya...", Hinata menepuk pelan bahu putranya, Bolt tersenyum lebar pada ibunya. Bocah pirang itu langsung menerjang dan memeluk sang ibu.

"Kau pasti sangat senang bermain dengan teman-temanmu sampai-sampai lupa waktu", Bolt menggeleng lemah.

"Aku tidak main dengan siapapun

kaa-chan... mereka tidak mau main denganku.." "Kenapa? Apa putraku ini nakal?", Bolt

kembali menggeleng.

"Mereka tidak mau main denganku karena aku tidak punya ayah...ibu, suruh ayah pulang...supaya mereka mau main denganku...",rengek Bolt.

Deg

Jantung Hinata serasa berhenti berdetak. Hal yang ditakutinya kini terjadi. Saat putranya mulai menanyakan tentang ayahnya, dimana ayah? Kenapa ayah pergi? Kapan ayah pulang?...jujur Hinata sangat takut jika Bolt mulai bertanya seperti itu. Ia harus menjawab apa?

"Ibu..kapan ayah akan pulang dan mengajari aku naik sepeda? Kapan ayah akan mengajak kita jalan-jalan ke disney land?", Hinata tersenyum. Senyuman palsu.

"Ayah akan segera pulang...", bohongnya. Mata Bolt berbinar.

"Benarkah? Kapan Kaa-chan?", tanya Bolt antusias.

"Mmm..sebentar lagi.."

"Yaaahh..kukira nanti malam", ujar Bolt lesu.

"Yah...kau harus sedikit sabar sayang...sekarang kita pulang ya?", Bolt mengangguk lemah.

Hinata segera menggendong putranya itu pulang. Selalu, selalu saja kepalsuan kembali meracuni hidup mereka yang tak sebahagia kisah drama itu. Selalu kebohongan yang menutupi kebohongan yang lain.

Flashback Off

"Sekarang aku tidak akan menginginkan dia pulang lagi...", lirih Bolt yang kemudian merangkak memasuki trowongan kecil tadi.

Bocah pirang itu kini mulai memejamkan matanya. Membiarkan semua rasa sakit dan kepahitan dalam hidupnya terbang ditiup angin, tergantikan oleh indahnya mimpi yang semu.

Naruto mengacak surai pirangnya frustasi. Tangannya memukul-mukul stir mobil dengan marah. Ia sudah mengelilingi seluruh kota, menelusuri semua gang-gang sempit, bahkan ia memeriksa rumah Shizune dan rumah lama Hinata, tapi Bolt tidak ada disana. Bocah itu tak ada dimanapun.

"Kau dimana Bolt...? Pulanglah...ayah minta maaf..", lirih pria Namikaze itu.

Tanpa ia sadari matanya mulai terpejam. Rasa lelah, putus asa, kesedihan, frustasi bercampur menjadi satu dan mendatangkan rasa kantuk luar biasa yang menyerangnya.

Bolt membuka matanya setelah seberkas sinar menimpa matanya. Matanya mengerjap berkali-kali, berusaha meyakinkan dirinya dengan apa yang ia lihat.

"Ini dimana??"

Seingatnya ia tadi tertidur di dalam trowongan taman bermain, lalu kenapa sekarang ia terbangun di tepi danau, di bawah pohon hijau yang rindang, berbaring di atas rumput yang berbau basah.

Bolt berdiri, bangun dari tidurnya. Entah kenapa tempat ini membuatnya merasa begitu tenang. Udara yang ia hirup saat ini begitu segar dan beraroma manis.

Bocah pirang ini memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari danau, padahal ia sendiri tidak tahu saat ini ia ada dimana, tapi hati kecil Bolt memintanya untuk tak menghiraukan hal itu dan terus berjalan.

Langkah Bolt berhenti. Saphirenya membulat mendapati pria berusia tiga puluh tahunan yang 99% identik dengan dirinya, ayahnya, kini berada di depan matanya, pria itu menatapnya bingung, begitu juga dengan dirinya.

"Bolt?"

"Kau?"

"Ini dimana?",tanya keduanya kompak.

"Aku tidak tahu ini dimana",ujar keduanya kompak lagi.

"Eh, kalian disini rupanya...", ujar sebuah

suara lain, Saphire ayah dan anak tadi

membulat sempurna, mereka sangat

mengenali suara ini..

"Hinata!"

"Ibu!"

Mungkinkah ini sejenis ilusi optik, ataukah ini sihir? atau jangan-jangan mereka berdua telah dihipnotis? Apa yang mereka lihat ini nyata? Apa wanita yang paling mereka cintai dan yang paling mereka rindukan itu benar-benar ada disini?

"Hey...apa kalian tidak mau memelukku?", pinta sang malaikat tanpa sayap bagi Naruto dan Bolt, Hyuga Hinata. Wanita itu tersenyum dengan amat manis.

Grep

Tanpa bicara apapun lagi, Bolt dan Naruto segera memeluk Hinata, melepas kerinduan yang begitu menyesakkan dada mereka. Menangis hingga terisak, kedua lelaki itu, ayah dan anak itu, menumpahkan semua emosi mereka dalam pelukan hangat nan menenangkan dari Hinata.

"Astaga..kenapa pria-priaku jadi cengeng begini..?" ujar Hinata sambil tertawa kecil. Tangan mungilnya yang hangat mengusap surai pirang ayah dan anak itu.

"Kami merindukanmu...",lirih Naruto dan Bolt bersamaan.

"Aku juga merindukan kalian.."

"Ibu?"

"Hm?"

"Kenapa kau pergi dan meninggalkanku sendirian..?", lirih Bolt sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu.

"Eh, apa maksudmu kau sendirian..? Kau kan bersama ayahmu.."jawab Hinata. Amethystnya menatap sang kekasih dengan lembut.

Naruto menunduk. Dirinya merasa sangat tidak pantas mendapat tatapan lembut dan penuh cinta dari wanita itu. Ia merasa sangat tidak pantas mendapat kesempatan untuk berkumpul bersama Hinata dan putranya, ia merasa tidak pantas untuk bahagia. Sangat tidak pantas!

"Semua orang layak untuk bahagia Naruto-kun...tinggal bagaimana cara orang itu mewujudkan kebahagiannya..",ujar Hinata. Seolah tahu pertanyaan yang mengganjal dalam hati Naruto. Ah...wanita itu memang selalu mengerti dirinya..

"Tapi aku bukan termasuk orang yang pantas untuk bahagia Hime...", lirihnya, masih dengan memalingkan saphirenya dari amethyst indah milik Hinata.

"Kenapa?"

Kenapa? Apa Naruto baru saja mendengar kata Kenapa keluar dari mulut Hinata? Apa wanita itu sudah lupa dengan semua kesalahan yang Naruto lakukan? Apa Hinata sudah lupa dengan semua kesedihan dan luka yang Naruto ciptakan dalam hidupnya?

"Setelah semua yang kulakukan...kau masih tanya kenapa?"

"Baik kau, aku, maupun Bolt..kita semua pantas bahagia Naruto-kun..terlepas dari semua kesalahan yang pernah kita lakukan..", air mata mengalir begitu saja dari saphire Naruto.

Tanpa bicara apapun pria itu segera menyandarkan kepala kuningnya di pangkuan sang pujaan hati, seperti yang putranya lakukan.

Naruto tidak peduli lagi, apakah ini mimpi, sihir atau apapun. Iya hanya ingin menikmati sedikit kebahagiaan bersama Hinata dan putranya.

Bolt mencebikkan bibirnya tak suka. Benar juga, Naruto sepertinya lupa kalau putra kesayangannya itu kini tengah marah besar padanya.

"Haaiish..kalian ini..padahal aku sudah melakukan banyak cara supaya kalian akur, tapi kalian malah seperti anjing dan kucing begini..", Hinata mengusap gemas surai pirang kedua prianya.

"Cara? Apa maksudmu...jadi kau yang mengirimku ke potongan masa lalumu Hime?", tanya Naruto, Hinata mengangguk. Kini Naruto tahu jawaban dari semua kebingungan yang melandanya.

"Potongan masa lalu?", tanya Bolt penasaran.

"Um..kulakukan itu supaya kalian berdua bisa saling menyayangi..seperti layaknya ayah dan anak yang lain...kulakukan semua ini agar kebenaran terungkap dengan cara yang halus dan tidak menyakitkan..", ujar Hinata.

"Kau selalu memikirkan apakah orang lain sakit hati atau tidak...sementara aku yang selalu kau pikirkan justru selalu menyakiti hatimu..",lirih Naruto.

Pria itu menggenggam dan mengecup lembut tangan Hinata. Berusaha menyalurkan rasa cinta dan kerinduannya yang mendalam pada wanita itu.

Hinata tersenyum lembut, tangannya membalas genggaman Naruto. Kini amethystnya ia alihkan pada sang putra.

"Bolt...kau tidak boleh seperti itu pada ayahmu..", ujar Hinata sambil menyentil pelan telinga putranya itu, membuat sang empunya mendengus kesal.

"Tidak papa Hime...wajar jika Bolt begitu..memang selama ini aku tidak pernah ada untuknya kan? Pria sepertiku ini memang tidak pantas disebut ayah..", lirih Naruto.

Saphire Bolt melirik sang ayah, menangkap raut penyesalan yang tergambar jelas di wajahnya yang sarat akan kelelahan. Hinata yang melihat hal itu tersenyum tipis, bibirnya mendekat ke telinga sang putra.

"Kau tahu Bolt..tadi malam ayahmu itu mencarimu ke seluruh kota seperti orang gila..dia sangat menyayangimu..",bisik Hinata. Bolt menatap Naruto, mencari jawaban dari raut wajah pria itu. Apa benar Ayahnya melakukan hal itu?

Naruto tersenyum lembut pada putranya yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau mencariku?"

"Tentu saja,kau putraku...kaulah satu-satunya alasan pria brengsek ini masih hidup",jawab Naruto lantang.

Mata Bolt berkaca-kaca, namun seperti biasa bocah itu bersikap sok tegar. Hinata menangkup wajah putranya itu. Mengangkatnya agar tak lagi menunduk.

"Hey..waktu itu kau tanya kapan ayah akan pulang kan? Ayahmu sudah pulang sekarang...kau tidak ingin memeluknya?", Bolt mengangguk kencang sambil tersenyum menanggapi ucapan sang ibu.

Netra saphirenya kembali menatap sang ayah, namun kali ini tatapan bocah kecil itu jauh lebih sarat kasih sayang. Rasa hangat lagi-lagi menyergap hati Naruto, pria itu tersenyum bahagia. Ia merentangkan kedua tangannya, bersiap menerima pelukan sang putra.

Grep

Bolt menerjang tubuh Naruto dengan tiba-tiba hingga pria itu jatuh tersungkur. Naruto dan Bolt, ayah dan anak, kuning dan kuning, kedua orang yang begitu identik itu kini saling memeluk erat. Saphire keduanya sama-sama mengalirkan air mata haru.

"Ayah sayang padamu Bolt...",lirih Naruto.

"Aku juga sayang ayah.."jawab Bolt dengan air mata yang mengalir deras dari manik birunya.

Hinata menatap haru pemandangan di depannya. Wanita itu kemudian berdiri, bangkit dari duduknya.

"Hey ayah dan anak...setelah ini kalian berdua harus selalu akur ya.., kalian harus saling menyayangi dan saling menjaga, kalian juga harus-"

Grep

Naruto dan Bolt memeluk erat tubuh Hinata. Mereka tahu waktu mereka bersama wanita itu sudah tak lama lagi.

"Kami akan merindukanmu..",lirih Bolt dan Naruto bersamaan. Hinata tersenyum lembut, membalas pelukan kedua orang terpenting dalam hidupnya itu.

"Aku juga akan merindukan kalian..",lirih Hinata.

Tubuh wanita itu mulai memudar, berganti

menjadi cahaya putih yang begitu terang

menyilaukan mata, membuat Bolt dan Naruto

kembali memejamkan matanya.

"Gggoohh! Ayah!",pekik Bolt kaget.

Matanya menerawang sekitar. Terowongan taman bermain. Ia kembali ke tempatnya tertidur tadi. Ia melirik jam tangannya, 22:00. Tanpa pikir panjang lagi Bolt segera berlari keluar dari taman bermain itu, berusaha mencari sang ayah.

"Bolt!", Naruto terbangun di dalam mobilnya.

Pria itu mengusan waiahnva. berusaha memperoleh kembali kesadarannya. Ia mengambil sebotol air mineral simpanannya dan menyiramkannya ke seluruh tubuhnya.

"Buuuahhh", dinginnya air itu rupanya

memang berhasil mengumpulkan seluruh

kesadaran Naruto. Tanpa membuang waktu lagi, Naruto segera keluar dari mobilnya dan kembali mencari

keberadaan putranya.

"Hey, apa anda melihat ayahku?",tanya Bolt pada seorang wanita paruh baya bergaun coklat yang ia temui di jalan. Wanita itu hanya menggeleng, membuat Bolt kembali berlari dan berteriak memanggil ayahnya.

Sama halnya dengan yang dilakukan sang ayah saat itu, berlari sambil meneriakkan nama putranya, berharap bocah itu akan mendengarnya.

"Bolt!", teriak Naruto memanggil sang putra.

Telinga Bolt menangkap suara panggilan itu, ia segera berlari menuju sang pemilik suara berharap bahwa orang itu adalah yang sejak tadi ia cari.

"Bolt!", teriak Naruto lagi.

"Ayah!",panggil Bolt yang telah menemukan sang pemilik suara yang memanggil namanya.

Naruto menoleh cepat. Netra saphirenya berkaca-kaca mendapati putra kesayangannya yang sejak tadi ia cari itu kini ada di hadapannya. Sama dengan sang ayah, saphire Bolt juga tengah membendung air mata kebahagiaan.

Keduanya kini berlari, saling menuju satu sama lain, hingga satu titik dimana mereka saling merengkuh dengan eratnya. Menumpahkan emosi dan air mata masing-masing.

"Maaf ayah...", lirih Bolt.

"Ayah yang harusnya minta maaf Bolt.."

"Aku sayang ayah.."

"Ayah lebih menyayangimu..."

Namikaze Mansion : Farewel Party

"Hiks hiks Bolt senpai...jangan tinggalkan kami..."

Bolt menggeliat risih dengan tiga orang anak perempuan yang bergelayut manja di bahunya. Rasanya sangat geli!

"Apa-apaan memanggilku senpai! Kita kan sekelas!", teriak Bolt kesal sambil menyentakkan ketiga gadis genit tadi, membuat mereka bertiga merengut kesal.

"Tidak peduli! Pokoknya yang tampan dan keren akan kupanggil senpai"

"Ingat umur woy..kita baru 10 tahun..",ujar

Bolt bersweatdroop ria dengan kelakuan

teman-temannya.

"Bolt, kau benar-benar akan meninggalkan kami?", tanya Inojin dengan nada lirih. Bahkan wajah bocah berkuncir dua itu sudah terlihat benar-benar sembab karena menangis berjam-jam tadi.

Bolt menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia jadi bingung mau menjawab apa. Habis semua teman-temannya mendadak jadi emosional begini.

"Ayolah Inojin...aku ini bukannya mau mati...aku hanya akan sekolah di luar negeri saja, lagipula Jerman itu juga tidak terlalu jauh dari sini kan?", ujar Bolt dengan entengnya dan dengan bodohnya.

"Sangat jauh tahu!", teriak semua temannya yang tak terima dengan jawaban nyleneh Bolt.

"Hiks hiks Bolt..Ma bro..Aku pasti akan merindukanmu...", akhirnya tanpa dimintapun Inojin menangis juga. Bocah itu memeluk sang sahabat kuning sambil berlinangan air mata.

"Aku juga pasti akan merindukanmu Inojin Ma bro...", lirih Bolt sambil menepuk-nepuk pelan punggung Inojin, membuat tangisan bocah berkulit super pucat itu makin menjadi.

Naruto menatap putranya dengan pandangan sendu. Baru saja beberapa bulan yang lalu dirinya dan putranya mendapatkan hakekat sejati dalam hubungan mereka sebagai ayah dan anak, baru sebentar mereka menghabiskan waktu bersama, baru sebentar Naruto benar-benar merasakan jadi seorang Ayah bagi Bolt, bocah itu justru akan pergi Jerman.

Ya, Jerman. Berawal dari Bolt yang iseng mengajukan beasiswa ke sebuah sekolah seni terkenal di negara yang dulunya dikuasai oleh Adolf Hitler itu, seorang guru besar yang mengajar musik di sekolah itu justru tertarik dengan profil yang Bolt kirimkan. Guru besar itu bernama Mrs. Gertrud Harston, seorang wanita berusia 50 tahun yang begitu mencintai musik.

Mrs. Gertrud menerima Bolt sebagai murid sekaligus anak asuhnya. Ia bahkan berjanji akan membantu Bolt untuk meraih impiannya, menjadi seorang pianis konser yang hebat.

Karena itulah Bolt harus tinggal di Jerman hingga pendidikannya tamat, yang jika dihitung hingga Bolt selesai kuliah, artinya putra satu-satunya dari Namikaze Naruto itu akan tinggal di Jerman selama 11 tahun.

Awalnya Naruto sangat tidak setuju dengan keputusan putranya itu. Bayangkan saja 11 tahun tanpa putranya? Ya memang tidak sepenuhnya..karena memang saat libur akhir tahun dan liburan panjang lainnya Bolt akan pulang ke Jepang..tapi ayolah..11 tahun tanpa Bolt? Apa terpisah dari putranya itu selama 10 tahun belum cukup baginya?

Tapi bukan Boruto Namikaze namanya jika tak berhasil meyakinkan semua orang untuk menurutinya. Bolt terus saja merengek dan memohon pada sang ayah dan juga kakek neneknya, siang dan malam.

'Ayah..Kakek..Nenek...ayolah..ijinkan aku sekolah di Jerman..aku pasti bisa menjaga diri..,aku janji akan selalu menghubungi kalian..lagipula setiap libur akhir tahun aku akan pulang kok..kumohon...

Pada akhirnya, hati ketiga Namikaze itu luluh juga dengan rengekan bocah pirang kesayangan mereka itu. Dengan berat hati mereka mengijinkan Bolt untuk menuntut ilmu selama 11 tahun di Jerman.

Hari ini adalah hari keberangkatan Bolt. Kushina berpikir bahwa akan lebih baik jika hari terakhir Bolt di Jepang harus dihabiskan dengan bersenang-senang bersama teman-temannya, karena itulah ia mengadakan Farewel party ini.

Tapi niatan Kushina yang ingin agar Bolt bersenang-senang dengan teman-temannya justru ia hancurkan sendiri. Pasalnya Kushina sendiri juga belum mau berpisah dari cucu kesayangannya itu.

"Bolt..hiks hiks..jangan tinggalkan nenek..sekolah di Jepang saja..hiks", tiba-tiba Kushina menghambur dan memeluk Bolt, menggantikan posisi Inojin tadi.

"Baa-san...kita kan sudah pernah membicarakan ini...waktu itu Baa-san kan sudah mengijinkan.."

"Tapi..."

"Sudahlah Kushina.., Bolt kan pergi untuk belajar..kita harusnya mendukungnya..",ujar Minato dengan bijaknya.

Bolt menatap sang kakek dengan bangga, namun dalam sekejap rasa bangga itu lenyap, alisnya berkedut-kedut. Bagaimana tidak? Kakeknya yang barusan bicara sangat bijak itu kini tengah menangis hingga berlinangan air mata dengan ingus yang terlihat mengalir dari hidungnya. Bolt benar-benar tidak habis pikir dengan keluarganya ini.

"Jii-san jangan menangis dong...kemarin Jii-san, Baa-san dan ayah-eh, Ayah mana?" Bolt celingak-celinguk mencari keberadaan sang ayah, sementara Kushina dan Minato justru menangis tersedu-sedu sambil berpelukan dengan Inojin dan anak-anak lain. Ckckckck..

Kaki-kaki kecil bocah pirang itu mencari ke seluruh sudut ruangan yang dijadikan tempat acara farewel party, namun dirinya tak kunjung menemukan sang ayah. Iapun memutuskan untuk mencari sang ayah ke Kamarnya, dan benar saja...

Bolt menarik sedikit sudut bibirnya ketika melihat sang ayah, Namikaze Naruto, tengah duduk di meja belajar milik bocah itu sambil menatap foto-foto kebersamaan mereka yang belum lama ini diabadikan.

"Ayah?",panggilnya.

Naruto pun menoleh. Cepat-cepat ia hapus jejak-jejak air mata di wajahnya itu, ia pun tersenyum pada putranya yang kini berada di ambang pintu kamar. Namun senyuman itu tak bisa menghilangkan kesan sedih dan tak rela dari wajah pria berusia 30 tahun itu.

"Bolt? Kau kenapa disini? Teman-temanmu pasti mencarimu..",lirihnya.

"Ayah sendiri kenapa disini?", tanpa menunggu jawaban Naruto, Bolt segera masuk ke kamar dan duduk di pangkuan ayahnya itu.

Ia tersenyum menatap deretan foto yang telah terbingkai rapih di atas meja belajarnya.

Namun salah satu foto begitu menarik perhatiannya, foto Hinata yang kini ada di genggaman tangan Naruto.

"Ayah? Foto ibu yang itu bukannya ada di rumah lamaku ya?", tanya Bolt yang sangat yakin bahwa foto ibunya itu tadinya memang ada di flatnya dulu. Naruto tersenyum, masih dengan menatap foto Hinata.

"Aku mencurinya..",lirih Naruto. Bolt tertawa lepas.

"Hahaahaha ayah ini...", Bolt menyikut rusuk Naruto, membuat pria itu agak terkejut. Namun sekejap kemudian mereka tertawa bersama.

"Ibu sangat cantik ya...", lirih Bolt sambil menatap foto sang ibu yang memakai kimono putih dengan motif bunga-bunga yang indah.

"Memang sangat cantik...tidak ada duanya..", lirih Naruto menanggapi ucapan sang putra.

Dua Namikaze bersurai light yellow itu kini termangu sambil menatap foto sang malaikat tanpa sayap bagi mereka berdua. Andaikan wanita dengan suara selembut sutra itu ada disini...atmosfer canggung dan kesedihan ini pasti tidak akan begitu terasa, karena memang sifat wanita itu yang ceria dan mampu membuat suasana seburuk apapun bisa jadi menyenangkan.

Tapi Naruto dan Bolt sekarang sudah tak terlalu larut dalam kesedihan mereka lagi meskipun Hinata sudah tak bersama mereka. Mereka selalu ingat kata-kata Hinata saat mereka bertemu dalam mimpi, bahwa mereka harus selalu akur, saling menyayangi, dan saling menjaga...seolah wanita itu tak mengijinkan kedua orang ini untuk bersedih, meskipun karena mengenangnya.

"Bolt! Setengah jam lagi penerbanganmu! Kita bisa terlambat jika tidak pergi sekarang!",pekik Naruto kaget setelah tanpa sengaja melihat jam tangannya. Bolt juga ikut melihat jam tangannya.

"Astaga! Kita keasikan melamun!", pekik Bolt tak kalah kagetnya dengan sang ayah meskipun agak telat.

"Mana koper? Mana jaket? Mana sepatu? Mana barang-barang lain?? Kyaaaa!!", teriak Naruto dan Bolt dengan panik.

Ayah dan anak itupun akhirnya 'membereskan' barang-barang bawaan Bolt dengan panik.

Konoha International Airport

"Ba-chan akan merindukanmu sayang..", lirih Shizune sambil memeluk Bolt.

"Aku pasti juga akan merindukan Shizune Ba-chan..", lirih Bolt yang kemudian melepas pelukan mereka.

"Boooooollllltttt!!!!!",tariak Sarada sambil berlari ke arahnya.

Bolt bergidik ngeri, ia tahu bahwa ini pasti

akan sangat gawat. Ya!

"Baka yarou!!"

Duagh!

Bolt tersungkur akibat tinju maut Sarada yang datang tak di jemput pulang tak diantar(?) itu. Naruto hanya bisa melongo melihat putra kesayangannya dibonyokkan di depan matanya oleh putri sahabatnya sendiri. Sementara Sakura dan Sasuke yang ikut mengantar Sarada pun justru tersenyum maklum dengan kelakuan putrinya itu.

"Hey Kau! Kenapa tidak bilang kalau mau ke Jerman hah!!!", teriak sarada marah sambil mencengkeram erat jaket Bolt. Satu tangannya yang lain hendak melayangkan tinju lagi...namun..

Tanpa diduga, bocah pirang itu dengan cepat membalik keadaan. Bolt menggenggam tangan Sarada yang hendak meninjunya. Bocah Namikaze itu bahkan menarik sahabat bernetra onyxnya itu lebih dekat, hingga jarak antara wajah mereka hanya tinggal beberapa centi.

"Memang kalau aku bilang, apa akan jadi jaminan kalau kau tidak akan memukulku?", ujar Bolt sambil tersenyum.

Tanpa diduga Sarada justru menangis sambil

memeluk Bolt erat.

"Jangan lupakan aku Baka..",lirih Sarada. Bolt membalas pelukan itu.

"Tidak akan..", lirih Bolt.

"Ekhem!", Sasuke berdehem keras.

Tahu apa arti dari deheman keras Sasuke, kedua bocah tadipun melepas pelukan mereka. Bolt menatap Sasuke dan Sakura kikuk.

"Hehehe apa kabar Ji-chan, Ba-chan..?", sapa Bolt yang masih gugup akibat kejadian tadi.

"Bodoh! Harusnya itu bilang sampai jumpa..kau kan akan pergi", ujar Sasuke kesal.

Namun tanpa diduga juga pria raven itupun memeluk Bolt erat, benar-benar ayah dan anak yang penuh kejutan. Bolt yang masih terkejut hanya diam dan tak membalas pelukan itu.

Sementara Naruto, Sakura, Sarada, dan Shizune hanya bisa melongo melihat adegan pelukan itu.

"Belajarlah yang benar, jangan jadi bodoh seperti ayahmu", lirih Sasuke masih sambil memeluk Bolt erat, Bolt kini mulai membalas pelukan Sasuke.

"Pasti ji-chan..",lirih Bolt.

Sasuke melepas pelukannya. Jadwal Penerbangan Bolt tinggal beberapa menit lagi. Bolt melambaikan tangan dan tersenyum pada semua orang yang mengantarnya.

Bocah pirang itupun segera mengambil tasnya dan berjalan menuju burung besi yang akan membawanya terbang menuju impiannya itu. Namun baru beberapa langkah, suara sang ayah kembali memanggil.

"Bolt!".panggil Naruto.

Naruto Deriari menuju Bolt, begitu juga dengan bocah pirang itu yang juga berlari menuju sang ayah. Merekapun kembali saling merengkuh erat. Seerat saat pertama kalinya hubungan mereka terungkap pada malam itu.

"Jaga dirimu nak..",lirih Naruto,pelukannya di tubuh sang putra semakin erat saja.

"Ayah juga..", pelukan Bolt pun tak kalah

eratnya.

"Sering-seringlah menelpon ayah, jangan lupa video-call setiap malam"pinta Naruto sambil menyelami netra saphire sang putra yang justru menatapnya ngeri saat ini.

"Hiiii, aku dan ayah kan tidak pacaran",tukas Bolt.

"Memang orang pacaran saja yang boleh

melakukan video call?"

"Hehehehe iya iya...oh! Penerbanganku..sampai jumpa saat libur musim panas ayah,aku sayang ayah.."

Cup

Bolt mengecup pipi ayahnya. Kemudian berlari cepat mengejar jadwal penerbangannya sambil sesekali menoleh ke belakang dan melambai pada sang ayah yang kini kembali berurai air mata. Kini mata Bolt menerawang ke langit biru di luar.

'Aku pergi dulu Okaa-san...saat pulang nanti..aku pasti sudah jadi pianis

hebat..doakan aku ya.."

Hime...

Pada akhirnya memang kita tidak bisa bahagia seperti kisah drama..aku benar-benar mengutuk mulut brengsekku yang mengatakan hal itu hingga karma ini benar-benar terjadi

Tapi Hime..

Walaupun tak sebahagia kisah drama..tapi rasa yang disebut kebahagian itu masih bisa kurasakan lewat Bolt, putra kita yang dulu dengan bodohnya tidak kuakui.. Dengan mudahnya aku mengatakan bahwa dia bukan anakku dan melepas tanggung jawab..

Dengan teganya meninggalkanmu sendirian justru disaat kau sangat membutuhkanku... Tapi sekarang aku sadar bahwa kalian berdua sangatlah berarti dalam hidupku..begitu berarti hingga tak bisa kujelaskan..

Hime...

Andai kata maaf saja cukup...namun aku tahu itu tak akan mengubah apapun.. Tidak akan bisa membawamu kembali padaku.. Tidak akan bisa menghilangkan semua rasa sakitmu akibat perbuatanku..

Namun hanya maaf yang bisa kuberikan padamu...hanya kata-kata cinta dan surat ini..yang kutahu tidak akan pernah sampai kepadamu..

Tapi satu yang kutahu hime..selama kita masih saling mencintai..walaupun kau kini berada jauh disana..dan aku tetap disini..kita akan tetap bisa saling merasakan satu sama lain...

Aku akan selalu setia disini untukmu..

Hanya tinggal menunggu saat dimana kita bisa bersama disana...

Maaf karena cintaku ini terlambat...

Aku yang selalu mencintaimu, NARUTO

TAMAT