Note: Maaf semuanya, beberapa fic saya terkendala karena sibuk dengan urusan kuliah. Dan hanya bisa ditulis sedikit demi sedikit. Saya juga berencana tetap melanjutkan fic saya... Hanya 2. Tentu saja CA masuk di dalamnya. Dan satunya, mungkin The Admiral atau King of heroes yang saat ini sudah 50% . Saya kembali melanjutkan mereka sebagai permintaan maaf.
Yah, anggap aja ini Polling. Pilih antara keduanya aja, saya tidak bisa menghandle banyak fic.
Yah, saya tak bisa memaksa seseorang untuk menyukai tulisan saya. Maaf atas tingkah kekanakan saya.
Di bawah sinar rembulan malam kelabu, sepasang insan saling menatap. Wajah mereka tampak sendu, saling memandang satu sama lain dengan penuh cinta yang dibalut dengan kesedihan.
Mungkin orang lain akan menyebut ini sebagai situasi yang romantis... Jika saja si pria tidak memiliki darah yang keluar dari hatinya akibat peluru yang bersarang di sana, "Maafkan aku, Anastasia, karena aku semuanya jadi begini" si pria pirang berkata dengan sedih, dia terbatuk-batuk menahan rasa sakit di tubuhnya
Tangannya bergerak ke pipi si gadis dan mengusapnya dengan lembut, penuh kasih sayang dan cinta seolah ini akan menjadi terakhir kalinya dia melihat wajah gadis pujaan hatinya.
"Aku mohon, segera larilah dari sini. Aku tidak ingin melihat mereka menangkapmu dan membunuhmu tepat di depan mataku, itu akan lebih menyakitkan dari luka ini,"
Pria itu menyadarinya, hidupnya sepertinya tak akan lama karena peluru itu telah bersarang dalam organ vitalnya. Penglihatannya terus mengabur semakin lama. Dalam hatinya, dia sangat menyesalkan karena tidak bisa menepati janjinya untuk hidup bahagia bersama kekasihnya hingga hari tua... Cinta beda kasta tidak akan pernah berakhir baik. Terlebih lagi dia tidak menyangka bahwa kekasihnya adalah bagian dari keluarga Tsar yang ingin mereka gulingkan.
Elsa menangis tersedu-sedu, ia menggelengkan kepalanya tak menerima kenyataan bahwa orang yang dia cintai akan mati di hadapannya. Ia berusaha mati-matian untuk menutupi luka kekasihnya yang terus mengeluarkan darah, berusaha sebaik mungkin akan menyelamatkannya.
"Kumohon jangan berkata seperti itu. Aku tak ingin kehilanganmu. Dan jangan minta maaf sebab ini bukanlah kesalahanmu!" dia berteriak, tidak terima akan nasib yang sebentar lagi akan datang.
"Cintaku, jangan menangisi ku. Jika kau tetap di sini sudah pasti mereka akan membunuhmu juga. Melihatmu mati itu jauh lebih membuatku menderita dari pada luka ini. Kumohon, kabulkanlah permintaan terakhirku ini, setidaknya aku ingin kau berumur panjang dan menikmati hidup dengan baik. Kumohon, jangan siksa aku dua kali."
Tangan pria itu seketika jatuh dari pipi gadis yang dia cintai, dia telah menghembuskan nafas terakhirnya bersama dengan kata-kata itu. Anastasia berteriak kencang, menangisi kepergian kekasihnya untuk selama-lamanya, bahkan di saat terakhirnya pun pria itu masih memikirkan kebahagiaan dirinya dibandingkan penderitaan yang sedang dia alami
Gemuruh besar terdengar di langit, disusul dengan hujan lebat yang seolah juga ikut menangisi perpisahan dua insan yang saling mencintai. Di bawah langit si gadis hanya menundukkan kepalanya, berduka atas kematian sang kekasih. Dia hanya bisa menggigit bibirnya, menahan rasa sakit dari penderitaan batin yang dia alami saat ini.
Mengapa harus seperti ini? Mengapa para dewa tidak pernah memberinya kebahagiaan sekali saja. Dia mengangkat kepalanya, menunjukkan wajah putus Asanya pada dunia. Ia lalu melihat pada pistol di tangan kekasihnya dan mengambilnya.
Tanpa menunggu lagi, pistol itu dia todongkan pada kepalanya sendiri. Seraya menangis, dia berkata, "Maafkan aku karena sekali lagi bertindak egois, maafkan aku karena tidak bisa menunaikan permintaan terakhirmu, kekasihku, tapi kehidupan ini hanya akan menjadi Neraka bagiku tanpa kau di sisiku. Hanya kau hal berharga yang kumiliki, bahkan melebihi orang tuaku sendiri."
Dalam tangisnya, dia mengutuk takdir yang sudah mempermainkannya seperti ini. Orang bilang lahir dalam keluarga kerajaan adalah berkah, tapi semua itu bohong belaka. Yang dia terima hanyalah penderitaan hasil dari status nya dan sekarang dia harus kehilangan semua hal yang paling berharga baginya. Jika boleh memilih, dia tidak ingin terlahir sebagai Anastasia Nikolaevna Romanova, putri kekaisaran Russia.
Tapi sekarang semua itu akan berakhir, dengan satu tarikan pelatuk ini maka dirinya akan terbebas dari semua penderitaan ini, hanya satu tarikan saja dia akan berjumpa kembali dengan sang kekasih. Bohong jika dia tidak merasa takut saat ini, karena bagaimanapun juga manusia terlahir alami dengan ketakutan akan kematian, tapi penderitaan yang dia rasakan saat ini jauh lebih besar dari rasa takut itu.
Senyum lemah terukir dari wajah cantiknya, memandang untuk yang terakhir kali pada wajah kekasihnya, "Naruto... Jika ada kehidupan selanjutnya, maka aku harap kita bisa bersama kembali, menikah lalu membangun keluarga, dan mati bersama di hari tua dikelilingi dengan kebahagiaan," dengan kata-kata itu dia langsung menarik pelatuk pistolnya, memuntahkan timah panas yang langsung melubangi kepala hingga otak.
Putri Anastasia telah tewas menyusul sang kekasih, pemuda dari kekaisaran Jepang yang menjadi tentara bayaran di negeri ini. Dengan ini, lenyap sudah garis keturunan Tsar Russia, berakhir pula kekuasaan monarki di negeri beruang merah.
Weiss Schnee membuka matanya, terbangun dari mimpi anehnya... Bukan sekedar mimpi, dia kembali diperlihatkan dengan kehidupan masa lalunya. Dia menyentuh pipinya, merasakan bahwa itu telah basah oleh air matanya sendiri.
Tangannya menyentuh dada, dan menangis dalam diam. Entah suatu berkah atau penderitaan dia mengingat kembali kehidupan masa lalunya. Di satu sisi dia sedikit bahagia bahwa dirinya tidak melupakan orang yang sangat berarti baginya, tapi hal itu juga membawa rasa sedih. Dia takut kalau rasa rindu ini akan menyiksanya, dia takut kalau hanya dirinya yang terlahir kembali di dunia ini, dia takut... Banyak hal. Tapi, ini mungkin sebuah pertanda bahwa dirinya terus memimpikan kehidupannya sebagai Anastasia.
Jika dia terlahir kembali, mungkin saja kekasihnya juga ikut bereinkarnasi. Dia tidak yakin, tapi jika boleh berharap dirinya akan dipertemukan kembali dengannya jika Naruto juga ikut bereinkarnasi ke dunia ini. Dia tidak ingin lebih.
