Rambut Nila (c) faihyuu

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Rated K(plus)

Warning(s): Canon, Miss Typo(s), OOC (sebisa mungkin untuk dibuat IC), dsb.

Untuk #NHMonth2022.

Penulis tidak mendapat keuntungan materiil apa pun dari cerita ini selain kepuasan batin.

• Cafuné—Rambut Nila •


Jika ditanya apa yang disukainya, Naruto akan menjawab—banyak. Pria itu mensyukuri segala yang hadir pada hidupnya. Sekecil apa pun itu jika dilihat dari mata, tetapi tetap dapat membuat si Uzumaki bahagia sebesar semesta yang bernama hati. Selalu dapat mengurva senyum senang cerah bagai mentari pada galaksi jalur susu bagi si pirang.

Perasaan hangat kala bercengkrama dengan seluruh kawan, sensasi kemenangan setelah menunggu demi ramen instan, rasa lega tiada tara kala berhasil menyeruput kuah ramen pada kedai Ichiraku sehabis misi, limpahan ketenangan ketika melihat pemandangan indah juga menikmati moci pada zenzai, dan lainnya. Masih sangat banyak. Naruto yang bahkan tak dapat menyebutkan satu per satu.

Namun, kini—dari seluruh kebahagiaan yang ada di dunia; dari segala macam keinginan manusia saat berdoa atas ingin dan cita. Naruto dapat mengatakan dengan keyakinan semesta bahwa si pria mentari sangat menyukai juga mencintai kala masa mengizinkannya untuk membelai dan menyisiri mahkota malam milik Hinata. Lebih-lebih dari segala suka.

Hinata, istrinya, sayangnya, cintanya, rembulannya, semestanya, segala-galanya.

Biarlah dikata hiperbolis. Toh, memang ketika jemari kasar yang tak tahu diri ini menyentuh helai-helai lembut nila indah milik puannya—Naruto merasakan telah menggenggam seluruh angkasa. Bagai terbang tak terikat gravitasi, melayang tinggi melewati bintang-bintang semestanya yang penuh akan segala himpunan segala rasa nan menyenangkan. Semerbak aroma lavendel yang bahkan kalau hanya disebut candu terkesan meremehkan. Menenangkan, menimbulkan euforia nyata.

Pun senja kemerahan yang kemudian muncul pada pipi pualam itu. Mengingatkan sang pria pecinta siang akan waktu di mana malam tiba, ketika mentari memercayai takhta dan segalanya pada rembulan yang cantik.

Lebih dari seluruh ekstasi.

"Aku pulang," Naruto berbisik. Sebuah senyum tipis dan mata yang hampir terpejam. Menikmati sensasi hangat dari wanita yang memang memiliki arti suatu tempat nan cerah. Tak luput pula mengecup ujung tubir istrinya sekilas. "Di mana anak-anak?"

Segala lelah, berperang dengan kewajiban lain yang tak tertahankan dari salah satu cita-cita nan tergapai—sebuah konsekuensi agak berat dari mimpi manis kala muda. Naruto hanya butuh Hinata.

"Selamat datang, Naruto-kun." Hinata manisnya tersayang. Rumahnya. Tempatnya pulang. Pasangan hidup sampai tua dan mati, Naruto membayangkan jika dirinya masih bisa membelai mahkota Hinata yang nantinya akan memutih. Terbayang agak lucu, tetapi sang pria sangat menantikannya. Dan semoga saja, memang bisa. "Anak-anak sedang di atas, Boruto bilang ada gim baru yang seru di komputer."

Senyum Naruto makin mengembang. Sejumput helai nila diciuminya. Hanya sesaat mereka bercengkrama, bahkan telah melegakan, tetapi memang kurang puas. Si pirang butuh selamanya begini dengan Hinata. "Kebetulan, aku bawa purin. Pas sekali buat penutup makan nanti, 'kan? Teman mereka main gim juga."

Sebuah bungkusan lucu dan berbau manis. Hinata terima dengan hati amat senang. Senyum paling lebar dan binar senang dari manik kecubung pucat itu membuat Naruto juga tak dapat menahan geli.

Hinata dan segala kesenangannya pada yang makanan penutup juga camilan. "Terima kasih."

"Sama-sama. Nanti aku akan membantumu setelah makan malam."

Jemarinya tergelincir dari rambut Hinata—refleks, sebuah suara pekik akan kesenangan yang muncul dari tangga membuatnya berpaling (tentu, tidak dengan hati).

Sebuah serangan tiba-tiba.

"Papa!"

Ini dia, bintang-bintang cemerlang yang menghias galaksinya bersama Hinata. Pelukan dan sapa yang tak kalah dicintainya selain membelai rambut nila sewarna malam cerah penuh harap milik belahan jiwa.

.

.

.

—selesai sampai di sini (dahulu)

•••

Cafuné: Ketika membelai rambut orang yang dicinta.

Purin: Puding custard ala Jepang.