Go! Roll the dice, let's see how the luck will decide the fateful fate:
he alive or he dies?
…
Pukul satu siang, matahari masih tinggi di atas kepala, terang di atas sana. Hawa panas, menyengat, setengah membakar kulit karenanya. Pun menyilaukan mata, waktunya mengenakan kacamata.
Sayangnya, sayang, kacamata yang ada di sini telah lebih dulu remuk karena dirampas paksa dan diinjak seenaknya hingga tak lagi berbentuk di tengah pertarungan.
Siapa?
Siapapun. Tanpa pandang bulu.
Atau bahkan, kacamata tak lagi diperlukan di sini, meski tengah hari, meski masih pukul satu siang lewat sekian menit …
Bau mesiu menguar, menyengat penciuman, di tengah kepul asap dari peledak yang membakar material terbengkalai. Asap hitam yang menyengat membumbung, sayangnya tak kunjung lenyap dengan segera. Tubuh-tubuh yang entah pingsan dan sekarat atau sudah tak bernyawa terkapar di sekitar area. Tak hanya satu; dua, tiga, mungkin sepuluh atau justru lebih dari itu, dengan kondisi mengenaskan. Kepala mereka seperti terbentur, kulit kepala seakan tersayat oleh pisau tajam dari lawan. Memar melukisi kulit-kulit pucat mereka, seolah baru saja dihantam oleh sesuatu yang solid dengan tenaga yang besar.
Kaki-kaki dan lengan-lengan milik beberapa dari mereka tergeletak tidak wajar; tulangnya patah, fraktur parah.
Ini masih pukul satu siang lebih lima menit, waktu efektif bekerja di dalam ruangan.
Namun sepertinya, situasi yang ada di sini dan hari ini jauh berbeda dari pukul satu siang lebih lima menit di hari sebelumnya.
"…"
Mata salah satu di antaranya terbuka, menatap sekitar dengan pandangan setengah buta. Sayatan dari lawan melukai salah satu matanya dengan tusukan dalam, membuatnya berdarah; darah mengucur perlahan, tanpa henti. Kepalanya pening, serasa berputar. Tengkuknya seolah hancur karena hantaman properti keras dalam pertarungan sengit mereka beberapa menit lalu.
Ah, sakit …, batinnya mengeluh, seraya meringis tipis ketika kesadarannya kembali. Pria berseragam taktis serba abu-abu gelap itu hendak merintih, namun suaranya telah habis demi meneriaki rekan dan lawannya sepanjang pertarungan yang tidak berjalan sesuai rencana atasannya.
Ia terbatuk keras ketika mencoba membenahi posisi setelah menyingkirkan mayat rekannya yang mati mengenaskan; luka di sana-sini, memar di sekujur badan, luka tembakan—atau luka tusuk yang begitu dalam—melubangi dahinya, membuat darah amis mengalir keluar, membuat rekannya itu mati dalam keterkejutan dengan mata membelalak lebar.
Sekali lagi dia bergidik. Ngeri.
Dia bersandar tidak jauh dari lokasi di mana ia terkapar tidak sadarkan diri. Kepayahan sendiri, dengan susah payah, ia kerahkan sisa-sisa tenaga untuk menyeret tubuh. Tak mampu lagi berdiri dengan kedua kakinya yang sudah mati rasa; satu kaki tertembak dua kali pada bagian paha, sementara kaki yang lain mengalami fraktur karena tertimpa potongan beton.
"Brengsek," umpatnya pelan selepas menyeka darah di mukanya dengan satu usapan kasar. Suaranya serak, setengah parau. Cocok sekali dengan penampilan dan kondisinya yang menyedihkan. Ia menggeram, berusaha mengeluarkan suara, bersumpah penuh serapah, "Twilight dan kumpulan keparat dari WISE itu …."
(Meski tak ramai dengan huru-hara atau cekcok perlawanan, derap langkah ringan dan denting singkat dari dua jarum penusuk berwarna keemasan di belakang sana tidaklah terdengar jelas.)
Suara asing yang samar membuatnya mendongak pada ujung tertinggi dari gedung-gedung apartemen berlantai lima yang setengah kumuh kondisinya di pinggiran kota. Matanya memincing ketika menemukan seseorang taktis melakukan aksi; lincah melompat dari ujung gedung satu ke gedung lainnya di ujung sana dengan seutas tali tambang. Tanpa beban melanjutkan langkah dengan cepat hingga hilang dari pandangan netra, sembari membawa serta satu koper berwarna hitam yang dia yakin memiliki logo resmi dari organisasinya.
Singkat saja, ia tahu persis benda macam apa yang ada di dalam koper itu, kegunaannya, kepada siapa barang itu harus dia serahkan, orang-orang yang terlibat,
… termasuk orang yang (dia anggap) telah merampas barang milik atasannya itu.
Ia menggeram, lagi, penuh amarah seraya menyeka darah di sudut. "Twilight," geramnya, lagi, ketika menyebut nama kode tersebut, "matilah kau ditelan oleh malam!"
Seruan parau di tengah situasi berdarah; menolak fakta bahwa ia telah terpukul kalah. Tak terbalas oleh siapapun, hanya hening. Tak ada siapapun, hanya mayat dari rekan-rekannya yang mati bersimbah darah dengan luka menganga dan tulang remuk di beberapa bagian tubuh pada pukul satu lebih dua puluh menit.
Kecuali satu.
"Breng—"
Siiing!
Serapahannya tak tuntas.
"Ugh!"
Itu cepat sekali, lebih cepat dari kalkulasi manualnya selama ini.
Ia kepayahan meelan liurnya sendiri, terkesiap. Ujung dingin nan tajam dari batang penusuk kekuningan menyapanya duluan.
Bau darah kering yang tertinggal, tercium dari sana, mengintimidasi.
"Permisi. Malam lelap Anda telah datang, Tuan."
Tidak terduga. Perhitungannya sia-sia. Pria yang terlunta-lunta sendiri di usia menjelang senjanya itu bahkan tidak sempat menoleh, hanya mampu melirik melalui ekor dari matanya yang semakin buram dan berkunang-kunang.
Gelap, legam, hitam; kain dari baju yang "orang itu" kenakan. Hawa kehidupan manusia masih terasa, namun hawa dingin dari dua batang besi berujung runcing yang masing-masing menahan di depan leher dan mengancam pelipisnya dengan ujung dingin itu … jauh lebih terasa.
"Ada yang hendak Anda sampaikan, untuk terakhir kali, sebelum Anda pergi?" Suara wanita. Lembut, tetapi menusuk. Tenang, tetapi memicu ketakutan. Datar, sayangnya jantungnya berdetak semakin kencang seolah ini kesempatan terakhirnya untuk berdetak.
Pukul satu—hampir setengah dua, tak ada balasan apapun dari pria itu.
Satu nyawa, kembali meratap; tanpa harap pada harapan pudar yang tidak bisa lagi diharapkan, dengan tatapan matinya yang menatap kosong pada angkasa.
…
…
…
SPYxFAMILY © Tatsuya Endo.
Saya tidak mengambil keuntungan material apapun atas penulisan dan publikasi karya.
Ditulis untuk menuangkan ide random saya dan kawan-kawan saya, karena bahwasanya, semua ide harus dieksekusi sebelum menguap dan lenyap begitu saja. /HEH
.
"Dalam kesempatan yang ada, besar-kecilnya peluang adalah berdasarkan trik dan keberuntungan."
— DICE —
INDONESIAN KARA
.
Rated: T+ (R-15). Genres: Action, Semi-Thriller. Language: Indonesian/Bahasa Indonesia.
Note: semi-au, alternative plotline.
– Indonesia; 1 Desember 2022 –
…
…
…
Semua berawal dari sepucuk surat yang datang menyambangi kediaman Keluarga Forger pada hari Minggu pagi. Pukul sembilan lewat delapan menit dan dua belas detik, ketukan pada pintu apartemen menghentikan aktivitas salah satu dari ketiga—keempat, jika Bond ikut dihitung—anggota keluarga sederhana nan bahagia dengan segala ke-random-annya saat itu.
Tok! Tok! Tok!
Anya-lah yang pertama menerimanya, setelah berhenti sejenak dari permainan dadunya yang seru. Lantas berlari kecil ke arah pintu depan dengan senandung riang; menirukan lagu pembuka dari seri mata-mata yang baru saja selesai ditayangkan. Seru sekali Anya melaju ke arah pintu, menjinjit sedikit, meraih kenop pintu setelah membuka kunci gandanya dengan sedikit effort—mengingat ia pendek, eh, maksudnya, hanya setinggi pinggang orang dewasa.
"Surat klasikal untuk Tuan Forger!"
Anya mengangkat tangan, membuat dirinya terlihat lebih tinggi. Dia berseru, menjawab panggilan Pak Pos yang mengantarkan sepucuk surat, "Anya Forger di sini! Siap menerima surat kelas, eh, keras, eh, err … apapun itu, untuk Ayah!" Anya mengajukan klaim lebih dulu.
Bapak pengantar surat terkekeh pelan, dengan suara yang kedengarannya sengaja diberat-beratkan. Demi menyamakan tinggi badannya dengan putri semata wayang Keluarga Forger, dia berjongkok, menepuk puncak kepala si gadis cilik. "Berikan ini kepada ayahmu, ya, Anak Manis."
Kemudian sepucuk surat Anya terima, memicu antusiasme sekaligus tanda tanya di dalam kepala Anya. Ini apa? Gadis cilik itu bertanya-tanya dalam hati sembari mengamati surat di tangan.
Suratnya aneh, menurut Anya. Amplop suratnya lebih gelap daripada putih dan cokelat; warnanya legam, hitam. Label berwarna putih berisi identitas dan alamat penerima yang menjadi kontras dengan warna monoton amplop yang sengaja ditempelkan pada sisi depan amplop, sebelah kanan agak ke bawah dan tidak tepat di atas tepian.
Lalu—
Anya terkesiap. Huh?
Matanya mengerjap, beberapa kali, memastikan dia tidak salah dengar. Anya tak sengaja mendengarkan suara seseorang berlalu barusan, yang baru saja memberikan surat dari tas pos kepadanya (aslinya, untuk ayahnya), yang masih tak terlalu jauh dari pintu kediaman keluarganya …
Tugasku sampai di sini, Senja, kuserahkan misi ini bersama kepercayaan WISE kepadamu.
Semoga senja dan terbit membimbingmu keluar dari labirin kelu … .
Huh? Anya terkejut dan antusias di saat yang bersamaan. Lagi, ia tidak salah dengar, bukan?
Misi? Mata-mata? Lagi?
Ia ber-wah pelan. Pikirannya membayangkan berbagai aksi dan momen seru yang mungkin terjadi, dengan ayahnya kembali menjadi tokoh utama. Sang Senja, agen kepercayaan dan yang terbaik dari segala agen terbaik sepanjang masa, akan beraksi antara rekah cahaya mentari terakhir atau redam kirana purnama. Heh, pasti akan seru! Anya memasang senyum lebar ketika membayangkan hal-hal keren tadi.
Mungkin nanti dia bisa mengajak Om Kribo untuk ikut serta menjadi pengamat dalam aksi ayahnya lagi?
He, hehehehehe … .
Anya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya (dengan sepucuk surat kelas-sial, eh, klasikal, di antaranya), tampak merencanakan sesuatu.
...
...
...
to be continued.
Ready to read CHAPTER II (Monochromic 2)?
[YES, let's GO] - [WAIT a MOMENT]
