Mr. Love: Queen's Choice © Papergames with Elex
warning MC di sini menggunakan nama Noa sebagai representasi kurohimeNoir, karena fiksi ini bertujuan merusak kebahagiaan yang bersangkutan di hari ulang tahun. OOC tanpa bantahan, siap dibantai stan Lucien dan dicekek secara personal oleh sang putri kegelapan. Ada unsur neighbourhood!AU versi kurohimeNoir yang cukup minor. Kumpulan drabble yang subjudulnya maksa sekali.
Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh dari fiksi ini.
1) aku
Noa dan Lucien sama-sama sepakat untuk tidak menerima tiket eksklusif pemberian Kiki yang mencurigakan. Judulnya sih, yaitu "Happy Me", sama sekali tidak terlihat berbahaya, apalagi format tulisannya juga lucu-lucu imut. Namun, yang menjadi masalah adalah gambar ilustrasinya yang dipenuhi rupa-rupa aneh bernuansa hitam. Terkesan sekali unsur horornya.
"Bukan genre horor kok, Kak Noa! Itu kata yang sudah nonton filmnya duluan," ujar Kiki yang tampak menyadari wajah pucat bosnya. "Cuman ada adegan kepala pontel kok! Anggap aja mainan boneka kayak Berbi!"
Cuman gigimu rantai sepeda, Kiki. Tentu saja Noa tidak seterus terang itu dan hanya bisa meringis. Happy Me adalah film romansa komedi dengan unsur menegangkan yang sedang viral-viralnya, tapi Noa tidak percaya dengan kata menegangkan itu. Noa beruntung karena Kiki sama sekali tidak memaksa, mungkin gadis bertubuh mungil itu tahu kalau bos tempatnya magang memang tidak benar-benar tertarik.
"Bagaimana dengan Profesor Lucien?" Noa terkejut mendengar pertanyaan Kiki. Kenapa bisa-bisanya Kiki malah bertanya dengan nada begitu persuasif pada Lucien, coba?
"Noa sudah berencana menonton Happy Me di hari lain. Aku ikut menyesuaikan jadwalnya." Mau kesal tapi senyum Lucien sukses membuat Noa tidak sampai hati menumpahkan kekesalannya. Noa sungguh tidak habis pikir kalau bisa-bisanya Lucien menumbalkan dirinya semulus dompet akhir bulan di saat-saat begini. "Maaf ya, Kiki."
"Oohhh! Yaaa, kalau begitu tidak masalah! Nanti kita ulas filmnya sama-sama ya, Profesor! Siapa tahu bisa menjadi bahan evaluasi untuk program Miracle Finder ke depannya. Aku akan mengajak Willow dan Minor saja, deh!"
Setelah selesai dengan urusan diskusi mengenai episode terbaru Miracle Finder, Kiki kembali ke kantor, meninggalkan ruangan pribadi Lucien di Universitas Loveland atas permintaan Noa. Di saat Noa ingin melanjutkan pembahasan selanjutnya, Lucien segera menarik dagu Noa, mendekatkan wajah wanita manis itu ke arahnya. Noa—yang tidak menyangka dengan perilaku tiba-tiba Lucien yang terkesan impulsif—hanya bisa beradaptasi mengikuti permainan lelaki itu.
"Aku mau menonton Happy Me hari ini."
Jelas, Noa panik. "Lucien, kamu tahu sendiri kan, aku tidak bisa—"
Lucien mendekatkan bibirnya ke telinga Noa, berbisik lembut, "Bukan, bukan wajah panik itu yang ingin kulihat sekarang, Noa. Aku ingin melihat senyum manismu yang selalu kamu berikan padaku."
Noa bersumpah akan membakar buku tips-tips percintaan yang dibaca oleh Lucien saat mampir ke apartemennya, eh tapi jangan deh. Sebagai pecinta buku, Noa tidak akan tega melakukannya. Paling paling, Noa akan membakar ponsel Lucien yang menyimpan buku elektronik itu saja sampai meledak.
"Tidak bisa sekarang ya, Noa? Apakah kamu sudah kehilangan rasa sayang dan cinta padaku?"
Yang paling mencengangkan sebenarnya adalah, tak lama setelah berkata begitu, Lucien meninggalkan Noa dalam keadaan wajah memerah sambil terkekeh, tak memberikan Noa kesempatan untuk membalas sama sekali. Dasar tidak bertanggung jawab!
2) sayang
Menenggelamkan wajahnya pada sebuah map dokumen yang cukup tebal, Noa sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Mau diusahakan bagaimana pun, Noa sama sekali tidak bisa melupakan tindakan yang Lucien lakukan pagi tadi. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, Noa harus mengalihkan pikirannya untuk bisa fokus pada pekerjaannya.
Setiap akhir bulan, termasuk hari ini, Noa punya kewajiban mutlak nan mulia untuk memberikan laporan bulanan kepada LFG, perusahaan yang menaunginya dengan memberikan modal dan bantuan lainnya. Seharusnya Noa bisa mencicil laporan itu, tapi salahkan jiwanya yang suka sekali menantang garis kematian alias deadline dan menyelesaikannya dalam tempo yang semepet-mepetnya.
"Aku sayang kamu, Lucien," bisik Noa, "Yang membuatku bingung itu ... apa maksud perkataanmu tadi pagi?"
Laporan yang harus dikirimkan kepada Yang Mulia Bos Victor sudah selesai sekitar empat puluh persen, sementara jam telah menunjukkan pukul setengah dua siang. Kalau prediksi Noa tepat dan otak serta suasana hatinya mau diajak bekerja sama, seharusnya Noa mampu menyelesaikan laporannya sebelum malam tiba. Seharusnya, ya.
"Teruntuk otakku, jangan terdistraksi terus!" bisik Noa, berniat memotivasi sekaligus menyemangati dirinya sendiri.
Nada dering notifikasi memanggil Noa untuk membuka ponselnya. Ada dua pesan yang masuk, semuanya dari Lucien.
"Aku sangat suka melihat wajah seriusmu saat bekerja, Noa kesayanganku." Noa bergumam, membaca pesan yang dikirimkan Lucien untuknya. "Pastikan dirimu tidak lupa makan siang—oh!"
Sadar kalau dia belum makan siang, Noa kembali refleks melihat ke arah jam dinding yang menggantung tepat berada di atas jendela, walau sebenarnya ponselnya jelas-jelas memiliki fitur yang sama. Di momen itulah, Noa bisa melihat momen aneh nan tidak jelas; Lucien dibawa terbang oleh Gavin yang mengangkatnya ala korban tenggelam. Lucien terlihat mengetik sesuatu di ponselnya, dan seketika empat notifikasi menyerbu kotak masuk di ponsel Noa.
Aku
sayang
kamu,
Noa. ❤
Noa syok berat. Ada emotikon di akhir, bentuk hati pula! Kebimbangan untuk percaya pada realita spontan menyerang otak Noa. Benarkah yang disaksikannya sekarang adalah Lucien kekasihnya? Atau sebenarnya semua ini hanya mimpi kurang ajarnya? Atau juga, mungkinkah Lucien hanya ilusi di matanya sekarang?
3) kamu
"Tugasku sudah selesai, 'kan?" tanya Gavin. "Aku pulang dulu. Noa, pastikan kamu tidak lupa makan siang seperti apa yang Lucien katakan."
"Terima kasih, Gavin. Skin care untuk Sparky motor kesayanganmu akan kukirimkan segera."
Gavin meninggalkan Lucien yang kini berdiri di depan kantor Noa. Sang pemilik kantor juga ada di sana, masih tidak habis pikir dengan aksi tidak jelas Lucien yang kalau dipikir-pikir sudah merusak kesan terhadap dirinya sendiri sebagai profesor muda yang tampan, baik-baik, dan alim. Noa lupa sih, kalau cara Lucien mengungkapkan perasaannya itu ... memang kelewat ekstrem kalo tidak ada remnya.
"Kamu ... sejak kapan sebegitu dekatnya dengan Gavin, Lucien?" tanya Noa.
"Kamu ...," Lucien tersenyum misterius, "tidak suka?"
"Hah ...?"
"Kamu tidak perlu memusingkannya." Lucien mengangkat bungkus kain merah bermotif kotak-kotak. "Bekalmu tertinggal di tempatku. Aku baru menyadarinya setelah selesai mengajar."
"Ah, begitu ya! Aku tidak sadar sama sekali!" Noa menerima bungkusan yang dikembalikan Lucien dengan senang hati. "Terima kasih banyak, Lucien. Kamu memang selalu bisa diandalkan."
"Oh ya, Noa," Kata-kata Lucien berhasil mencegah niat Noa untuk kembali ke kantornya, "hatiku juga tertinggal, nih. Apa hatiku tidak penting untukmu, Noa? Padahal kan, hatiku ini sepenuhnya punya kamu."
Lagi-lagi Noa terkejut, kali ini bercampur merinding. Noa sangat ingin tahu kenapa Lucien jadi korslet begini hari ini. "Lucien ... kamu sebenarnya kenapa?"
Lucien tidak menjawab pertanyaan itu dan malah mengalihkan topik. "Pekerjaanku sudah selesai hari ini. Ada yang bisa kubantu, Noa? Ah, apa kamu sedang menyusun laporan perusahaan untuk Kak Victor? Jangan memaksakan dirimu ya, Noa."
Rasanya Noa ingin berkata kalau Lucien harus sadar diri.
4) selamat
"Selesaaaai! Lucien, kita berhasil! Nyawaku terselamatkan dari iblis komunis nan kapitalis itu!"
"Begitu-begitu nantinya dia akan menjadi kakak iparmu lho, Noa."
Noa mendadak salah tingkah. "A-Apa sih, Lucien!"
Berkat Lucien yang membantu menyusun dan merapikan laporan saat Noa menyantap makan siangnya, laporan bulanan Noa bisa terselesaikan dengan baik dan rapi. Setelah mengirim semua berkas yang diperlukan melalui surel kantor, Lucien mengajak Noa untuk pulang bersama. Walau mereka tinggal di apartemen yang bersebelahan, tapi agenda pulang bersama ini tidak terlalu sering dilakukan karena kesibukan masing-masing.
Tentu saja, Lucien si pemilik aura penuh tipu daya tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.
"Noa, awas!"
Noa berjengit ke belakang. Ternyata ada motor yang sengaja melewati trotoar pejalan kaki. Biasa, tipikal manusia yang ingin buru-buru meninggalkan lalu lintas yang macet. Lucien menangkap tubuh Noa yang terjatuh karena tidak bisa mempertahankan keseimbangannya, mengunci sepasang cokelat madu itu dalam dunia violet miliknya.
"Aku tiba-tiba terpikir soal nama anak kita nantinya."
Kalau Noa punya keahlian bela diri, Lucien sudah Noa banting dari tadi dengan kekuatan refleks. Di saat Noa ingin menikmati sensasi jantungnya yang berdegup kencang, alat pemompa darahnya itu terasa ingin meledak sekarang juga. Menikah saja belum, apa-apaan dengan pembahasan soal anak, hah?!
"A-Apa, Lucien?" Tidak. Noa bukan bertanya soal pemikiran acak Lucien, melainkan memberi respons yang terkesan tidak bisa berkata-kata lagi.
"Selamat."
"Hah ... eh?"
"Anak kita namanya Selamat," ulang Lucien. "Selamat-nya kita akan selalu bersama."
... Lucien barusan ... bermain plesetan kata picisan ala lelucon bapak-bapak?
"Lucieeeeeeeeen!"
Noa refleks menimpuk kepala Lucien dengan tas kerjanya. Tenang saja, tidak ada kepala yang bocor atau otak yang terluka dalam adegan ini.
5) ulang
"Lucien, sebenarnya kamu kenapa hari ini?"
"Aku belajar cara mengekspresikan cinta," jawab Lucien pada akhirnya. "Kupikir tidak terlalu berhasil, tapi ekspresimu benar-benar lucu."
"Sebenarnya aku ngeri," ungkap Noa. "Buku ... buku apa yang kamu baca kali ini?"
"Tunjukkan rasa cinta melalui kata-kata dan aksi. Buat wanita bertanya-tanya, karena mereka suka lelaki yang menantang rasa penasaran mereka. Berikan kejutan karena wanita suka sekali dengan hal-hal tak terduga. Wanita umumnya suka dirayu, berikan kata-kata manis atau gombalan yang bisa dipelajari lewat sinema elektronik," terang Lucien dengan kecepatan seperti merapal mantra. "Hades memberitahu semua itu padaku."
... Oh.
Hades, kakak angkat Kiro si artis junior yang sedang naik daun. Belakangan ini si preman sejak zaman masih terikat plasenta itu memang dekat dengan Lucien, entah siapa yang berinisiatif duluan. Noa langsung menepuk keningnya begitu mendengar nama kriminal yang meresahkan masa kecilnya, malahan sampai sekarang. Dia tahu benar kalau di balik kegeniusannya, Lucien itu sangat naif soal asmara, ... atau polos ya lebih tepatnya? Apa pun itu, Lucien dengan rasa penasaran dan ingin belajar yang tinggi, seringkali memicu orang-orang biadab untuk mengusilinya.
Yah, walau dipikir-pikir, tips-tips Hades tidak sepenuhnya salah, sih. Kalimatnya saja yang ambigu, ditambah lagi dengan eksekusi Lucien yang kelewat brutal. Perfek sekali untuk menjadi simulasi serangan jantung bagi Noa.
... Candaan yang agak gelap, ya?
"Lucien ... aku ... eh ... kamu kenapa harus mengikuti saran Bang Hades? Dia sendiri juga jomblo begitu."
"Aku ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu, Noa," ujar Lucien. "Harus kuakui, aku selalu bingung saat ingin mengekspresikan perasaanku. Aku tidak mau kamu menganggapku berpura-pura atau mempermainkanmu. Maka dari itu, aku berusaha mempelajari semuanya dari buku ataupun orang-orang."
"Lucien, kamu harus tahu satu hal," sela Noa. Mendengar pengakuan Lucien membuatnya jadi sedikit sedih. "Aku menyukai dirimu yang apa adanya, yang seperti biasanya. Yang selalu bisa menyemangatiku, yang selalu bisa tersenyum untuk menghiburku, dan yang terpenting adalah ... selalu ada untukku."
Violet kembar membulat, hanya sekejap saja. "Aku mengerti, Noa. Bisakah aku mengulang sesuatu?"
Noa memiringkan kepalanya, bingung. Dalam hati sibuk merapal doa agar sekrup otak Lucien tidak longgar lagi, tentunya.
"Aku masih ingin menonton Happy Me—"
Oh tidak, jangan lagi—
"—tidak di bioskop, tapi di wajahmu."
—eh?
"Aku ingin melihat kebahagiaan di wajahmu," lanjut Lucien. "Kalau bisa, aku ingin menjadi sumber kebahagiaanmu itu. Apakah kamu mau dan akan bahagia dengan bersamaku, Noa?"
"Lu ... cien ...?"
"Akan aku ulangi dengan lebih jelas." Lucien berdeham sekali. "Maukah kamu menikah denganku?"
6) tahun
Noa menyesap teh hangat yang dibuatkan Lucien untuknya. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima, dan sebagai manusia yang jelas tidak memiliki kodrat sebagai makhluk nokturnal, Noa biasanya sama sekali tidak bisa mengikuti pola hidup ganas Lucien yang seperti tidak mengenal kata istirahat apalagi tidur. Namun, kali ini berbeda. Setelah pulang dan memasuki apartemen masing-masing, pukul sepuluh tadi Noa diminta Lucien untuk datang ke apartemennya lewat pesan elektronik. Ini sudah cangkir yang ketiga, omong-omong.
Bisa saja Noa menolak, tentu saja. Akan tetapi, Noa yang secara mengejutkan tidak mengantuk sama sekali dan juga penasaran dengan permintaan Lucien, memutuskan untuk datang ke apartemennya.
"Apa harapanmu untuk tahun-tahun selanjutnya, Noa?"
"Hmm ... apa ya …." Noa mengetuk cangkir dengan telunjuk, menghasilkan dentingan nyaring yang bernada. "Ingin menjadi lebih produktif, kupikir begitu. Selain ingin acara-acara yang kubuat bisa berjalan baik dan sukses, tentunya aku juga mau lebih kreatif dengan terus berinovasi."
"Impian yang bagus," tanggap Lucien. "Maukah kamu menemaniku ke balkon sekarang, Noa?"
Meski bingung, tapi Noa tetap mengangguk dan membiarkan tangan Lucien membawanya ke balkon apartemen. Pemandangan kota di malam hari terlihat sangat berbeda, terasa tentram dan begitu menenangkan dalam pelukan langit hitam berbintang
"Memandangi kota adalah salah satu hal yang kakakku suka. Karenanya, aku juga begitu," ujar Lucien. "Noa, coba lihat ke arah sana."
Tepat di saat Noa melihat ke arah yang ditunjuk oleh Lucien, kembang api aneka warna juga ikut menghiasi angkasa malam. Semua warna itu memantul jelas di iris cokelat Noa yang kini terpaku membaca tulisan yang diciptakan oleh ledakan spektrum untuknya
"Selamat ulang tahun, Noa," ujar Lucien, persis dengan kata-kata yang dibaca Noa di muka langit. "Aku ingin kamu selalu bahagia."
Noa dan Lucien sama-sama menikmati kilau warna yang bergantian mewarnai dunia untuk sesaat. Akan tetapi, baik Lucien maupun Noa sama-sama tahu, bahwa mereka akan selalu menghiasi hati masing-masing untuk selamanya.
"Terima kasih ..., Lucien."
"Kalau aku bertanya soal keinginanmu tahun depan, maka apa jawabanmu, Lucien?"
Sisa-sisa kembang api yang masih meletus menjadi cahaya yang melatari Lucien. Tersenyum, Lucien menjawab,
"Merayakan ulang tahunmu dengan cara atau keadaan yang berbeda, seperti status sebagai suami-istri, misalnya."
(bisa-bisanya) tamat
Sudut Penulis :
Selamat memasuki bulan Desember! Selamat ulang tahun untuk Noasen, senior kesayanganku! ((kirim emot cinta banyak-banyak dalam rangka membebaskan diri dari hukum gantung))
Jangan tanya aku kenapa aku bisa-bisanya menumpahkan seluruh kegilaanku di sini. Berawal dari nunggu jadwal kuliah yang diundur satu jam kemarin, aku tiba-tiba dapat ilham untuk menistakan seseorang yang kebetulan berulang tahun hari ini. Mengetik ini hanya butuh dua jam, bahkan kurang. Jahat dan keterlaluan, ya, aku. Tapi aku kepengin menunjukkan kalo aku masih hidup, ahoynonya!
Niat awalnya aku pengin bikin fiksi ini jadi hadiah, tapi setelah menulis sampai akhir (ini kali pertama aku menulis fiksi hanya dengan satu ending), aku tidak yakin ini bisa menjadi hadiah yang menyenangkan, tapi tetap kudedikasikan ini untukmu, Noasen! Jika Noasen membaca ini, maukah Noasen menyempatkan waktu untuk menyusun kata-kata di subjudul menjadi satu kalimat untukku? Ehehe~
Terima kasih bagi yang sudah membaca sampai sini. Kuharap aku tidak merusak dunia parodi dengan memasang tag genre ini atas dasar rasa egois. /y
~himmedelweiss 01/12/2022
