Kushina pergi ke apartemen sang guru untuk les. Dia menerima pesan dari sang ibu untuk pergi ke apartemen sang guru lesnya, ibunya bilang jika gurunya itu sedang mengurus beberapa hal, jadi sekalian dia pergi ke apartemen sang guru untuk les.

Kushina mengiyakan saja tanpa mencurigai apapun tentang sang guru. Gadis berusia empat belas tahun itu berjalan ke apartemen yang sudah diberitahu oleh ibunya, dia segera memencet tombol bel apartemen untuk memanggil sang guru.

"Ya~!"

Pintu apartemen itu terbuka, menampilkan sosok pria muda berusia dua puluh lima tahun dengan rambut pirang acak-acakan, serta hanya memakai celana training saja tanpa atasan sama sekali.

"Ah, Kushina. Maaf, Sensei belum memakai pakaian." Kushina terdiam mendengar perkataan gurunya, dia menatap tubuh sang guru yang atletis itu, wajahnya merona. "Sensei akan memakai pakaian dulu. Masuklah terlebih dahulu."

Kushina mengangguk, kemudian masuk ke dalam apartemen pemuda itu.

Naruto Namikaze, seorang guru olahraga yang juga merangkap sebagai guru les, dia juga mengajari beberapa murid yang les pada dirinya, salah satunya Kushina Uzumaki ini.

Jarum jam sudah menunjuk ke angka enam, matahari sudah mulai terbenam. Malam pun akan segera tiba.

...

..

.

Naruto by Masashi Kishimoto.

Warning: Loli!Kushina, Ooc, AU, Typo, Lemon, Lime, Smut PWP, non-incest.

...

..

.

Les.

...

..

.

Enjoy it!

Gadis berusia empat belas tahun itu mulai mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya di sekolah, tentu saja Naruto juga iku mengawasi karena dia yang akan memberikan arahan pada Kushina untuk mengerjakannya.

Kushina duduk di kelas dua sekolah menengah pertama Konoha, dia termasuk murid yang sangat aktif, tak jarang dia akan memukul murid laki-laki bila ada yang mengganggunya.

Namun ada satu hal tentang Kushina yang tak diketahui oleh siapapun, dia menyukai sosok guru yang ada dibelakangnya ini. Naruto memang menjadi sosok yang populer dikalangan murid ataupun guru perempuan, namun dia tak menyadarinya. Naruto hanya memenuhi tugasnya sebagai seorang guru.

Sementara itu, Naruto menahan dirinya sendiri agar tak menerkam sosok Kushina yang memakai pakaian yang agak terbuka, seperti kaos tanpa lengan dan rok pendek berwarna putih.

Naruto tahu jika Kushina masih dalam pertumbuhan, namun dia juga menyadari jika gadis itu punya payudara yang lumayan besar dibandingkan dengan teman perempuannya yang lain.

Tetapi yang membuatnya menarik adalah, tinggi badan Kushina dibawah seratus empat puluh lima centimeter. Yah, mungkin hal tersebut yang membuat para murid laki-laki mengejeknya, kemudian Kushina menghajar mereka.

"Ini sudah benar, dan ini masih perlu diperbaiki." Kushina mengangguk, dia mulai mengerti dengan soal tersebut, terlebih Naruto benar-benar mengajarinya dengan serius. "Sampai disini paham?"

"Paham," ujar Kushina, dia merenggangkan tubuhnya yang terlihat pegal karena satu jam duduk di atas lantai.

Naruto meneguk ludahnya kasar, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya, dia tak tahu Kushina sedang menggodanya atau tidak sengaja merenggangkan tubuhnya.

Kedua mata biru Naruto bisa melihat dua ketiak Kushina yang putih itu, apalagi kedua payudara Kushina ikut terangkat. Naruto mengurut pangkal hidungnya. "Baik, kita istirahat sejenak."

Kushina mengangguk kemudian dia meletakkan pena miliknya, dia menghela napas lega setelah menyelesaikan soal-soal tersebut.

Keduanya diam tak mengatakan apapun, keduanya terus diam dengan Kushina yang tidak menyadari jika Naruto sedang menatap dirinya diam-diam.

Kedua mata biru itu menatap mulai dari atas hingga bawah, rambut merah panjang yang di ikat, lalu kaos tanpa lengan yang seolah tak mulai menutupi payudara itu, serta rok pendek, dan yang paling menonjol adalah kedua puting susu Kushina yang terlihat dibalik kaosnya.

Naruto menahan dirinya sendiri, dia tak mau di anggap mesum oleh muridnya yang satu ini.

"Sensei... Ada apa?"

Naruto mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, dia sadar jika dirinya dipanggil oleh Kushina. "Tidak ada."

"Jika tidak ada, ke-kenapa kau terus menatapku?"

Ah, Kushina menyadarinya. "Bukan itu, aku hanya berpikir kedepannya, berpikir bagaimana materi besok."

"..."

"..."

Keduanya terdiam, Kushina meremas ujung kaosnya. Gadis itu menarik kaosnya ke atas hingga dia telanjang dada. "Sensei melihat payudaraku kan?" Kushina mengatakannya tanpa keraguan sama sekali, wajahnya sudah merona hebat.

"A-apa yang kau lakukan Uzumaki-san!?" Kushina beranjak dari tempatnya duduk, kemudian mendorong Naruto hingga dia rebahan di atas lantai, gadis itu merangkak di atas tubuh Naruto. "Apa yang kau lakukan?"

Kushina tak menggubrisnya, dia memegang penis ereksi Naruto yang berada dibalik celana training nya. Dia mengeluarkan penis ereksi tersebut dari dalam sangkarnya.

Naruto panik saat penisnya dikeluarkan oleh Kushina dari balik celana training miliknya. Gadis itu melepas celana dalamnya, lalu membuangnya ke sembarang tempat.

"Tahu kah kau, jika aku menyukaimu Sensei."

Naruto semakin dibuat merinding setelah Kushina mengatakan jika dia suka padanya, pemuda itu juga merasakan jika cairan Kushina menetes dan menimpa penisnya. Naruto benar-benar pasrah saat penisnya di gesek oleh vagina basah milik Kushina.

Kushina menggigit bibir bawahnya, dia kemudian mendekatkan bibirnya pada Naruto.

"Uzumaki-san..."

"Panggil Kushina saja, Sensei."

"Kushina..." Pemuda itu kemudian memeluk leher Kushina dengan satu tangannya, dan mendorong kepala merah itu untuk menciumnya, keduanya berciuman mesra saat itu juga.

Mereka berciuman layaknya seorang kekasih yang telah lama tak bertemu, Naruto kemudian bangun dari rebagannya di atas lantai, dia memeluk pinggul Kushina dan terus menciumi bibir gadis itu.

Kushina menarik diri, dia menatap Naruto dengan napas memburu seolah dia berlari sejauh beberapa kilometer. Tangan Naruto yang lain mulai bergerak menyentuh payudara Kushina, dia meremasnya lembut serta memainkan payudara Kushina.

"Kushina, kita tak bisa berhenti..."

"Yah..." Kushina mengangkat pinggulnya, dia mencoba untuk mengarahkan penis Naruto untuk masuk ke dalam tubuhnya, Kushina mendorong pinggulnya turun ke bawah, sementara Naruto masih menatapnya sembari memainkan payudara gadis itu.

Naruto membiarkan Kushina yang bermain.

"Akh!"

Kushina meringis merasakan penis itu masuk ke dalam vaginanya, dia juga merasakan jika selaput dara miliknya mulai robek. Tubuh Kushina bergetar saat dirinya mendorong pinggulnya ke bawah, Naruto menuntun Kushina.

"Sen-sei!"

Kushina mendorong pinggulnya dengan sekali hentakan, dia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang dia terima di bawah sana, air matanya keluar dari pelupuk matanya.

Naruto mencium bibir Kushina, kedua tangannya meremas payudara itu seolah ingin meredam rasa sakit di bagian bawah sana. Ciuman Naruto beralih ke leher Kushina, dia menjilati leher putih Kushina.

"Bergeraklah..." Naruto berbisik pelan, Kushina pun mencoba untuk menggerakkan pinggulnya, rasa sakit masih mendera vaginanya, namun dia terus menggerakan pinggulnya. Darah keluar dari vaginanya, rasa sakit itu mulai berubah menjadi rasa nikmat saat dirinya mulai menambah kecepatan pinggulnya.

Napas Kushina memburu saat dia bergerak naik turun di pangkuan Naruto, kedua payudaranya ikut bergerak naik turun, desahan nikmat mulai keluar dari mulutnya.

Naruto sendiri merasakan sempit di bawah sana, dia mendapatkan keperawanan seorang Kushina yang terkenal galak.

"Se-sensei, ini enak... Ahhh..." Kushina terus mendesah saat penis Naruto jekuar masuk di dalam tubuhnya. Kedua tangannya memeluk leher Naruto untuk menahan dirinya agar tak jatuh.

Tubuh Kushina bergetar saat dia klimaks untuk yang pertama kalinya. Dia menghentikan gerakan pinggulnya, dan ambruk di atas tubuh Naruto.

Sementara pemuda pirang itu belum klimaks sama sekali. Dia pun menyingkirkan buku-buku yang ada di atas meja, lalu meletakkan tubuh Kushina di atas meja tersebut, dia menggerakkan pinggulnya.

"Se-sensei!" Desahan Kushina kembali terdengar oleh Naruto, kedua kaki gadis itu terbuka lebar dengan penis Naruto yang keluar masuk di dalam tubuhnya.

Gerakan pinggul Naruto semakin cepat hingga dia merasakan penisnya akan memuntahkan cairan, dia menarik penisnya, kemudian mengocok penisnya tepat di depan Kushina, sperma hangat meluncur dari penisnya dan menutupi tubuh telanjang Kushina.

Naruto mendesis nikmat setelah dia mengeluarkan semua spermanya.

-o0o-

Pergumulan tersebut berlangsung sampai pagi hari, Kushina sendiri sudah meminta izin pada orang tuanya untuk menginap di apartemen sang guru karena terlalu larut untuk dirinya pulang.

Kebetulan hari ini adalah hari libur, tubuh Kushina kembali bergetar saat dia sudah mencapai orgasmenya, dia duduk di atas paha Naruto dengan pemuda itu yang juga ikutan lemas setelah pergumulannya dengan Kushina.

Keduanya benar-benar kelelahan setelah melakukanya semalaman.

"Sensei?"

"Capek Kushina?"

"Um..." Kushina melihat tubuhnya yang sudah sangat lengket karena pergumulan tersebut, dia kemudian beranjak dari tempatnya untuk pergi ke kamar mandi apartemen Naruto. Dia ingin membersihkan tubuhnya.

Naruto yang melihat itu membiarkan Kushina pergi, dia segera membereskan tempatnya, banyak sekali bekas cairan mereka yang berceceran di lantai apartemennya. Dia pun segera membersihkannya, serta mencuci pakaian Kushina yang tadi malam dia kenakan.

Dia tinggal menunggu Kushina yang mandi di dalam sana.

Beberapa saat kemudian, mereka telah menyelesaikan urusan masing-masing.

"Jadi Sensei..."

"Apa?"

"Kita ini..."

"Tentu saja sembunyi-sembunyi." Wajah Kushina merona, senyumannya merekah di wajah cantiknya.

"Terima kasih Sensei!" Kushina langsung memeluk Naruto, dia mencium bibir pemuda itu. "Aku akan pulang, aku takut jika ibu akan mencariku."

"Ya, hati-hati!"

"Sampai jumpa! Sensei lolicon."

"Eh?"

...

..

.

End