"Halo... ah, Charles." Kaeya yang masuk ke dalam Bar Angel's Share untuk menggang Diluc seperti biasanya harus sedikit kecewa karena orang yang berada di balik meja adalah Charles.

Dihadapan Charles, ada penyair jalanan yang sangat terkenal di Kota Mondstadt, baret dan jubah hijaunya sudah sangat sering terlihat berkeliaran di kota hingga masyarakat selalu mengenalinya. "Yahoo!" Sapanya kepada Kaeya.

Kaeya menanggapinya dengan senyuman tipis. Ia duduk disamping penyair itu, Venti, dan sedikit berbincang.

"Ngomong-ngomong, kemana ya, Tuan Diluc?" Kaeya bertanya pada Charles.

"Diluc? Baru saja ia keluar, kamu masuk. Kukira kalian bertemu?" jawab Venti alih-alih Charles.

"Aah, Bos sedang mengambil wine khusus. Katanya ketinggalan." tambah Charles.

"Wine khusus?!" mata Venti segera berbinar.

"Hee? Ada apa memangnya?" Kaeya menyeringai tertarik.

"Bisa tanyakan Bos-"

Ting Ting

Bel di pintu memotong perkataan Charles. Diluc muncul membawa keranjang anyaman masuk sambil menepis sedikit debu di bahunya. Netranya membulat melihat Kaeya yang duduk di samping Venti, membuatnya mematung sedetik. Diluc kembali meneruskan kegiatannya, pura-pura tidak peduli dan menuju area dibalik counter bartender.

"Yah, dicuekin dong." Kaeya mencoba mengganggu Diluc seperti biasa.

"Hhh... ngapain ke sini?" Diluc yang masih berjongkok untuk membereskan minuman yang ada di dalam keranjang akhirnya menyahuti kalimat Kaeya.

"Wah, dingin banget nih. Aku kustomer loh."

Diluc bangkit dan mengambil 2 gelas kosong, "siapa yang kustomer, pengganggu?" Lalu menuangkan wine mahal itu di dua gelas tersebut.

"Jangan begitu, aku kustomer reguler loh. Apa ini treatment untukku?" Tawa Kaeya usil.

Diluc membuang nafasnya kasar. Ia menyodorkan gelas pertama pada Venti yang langsung disambut dengan wajah lucu nan senang, telunjuk Venti menunjuk wajahnya sendiri seakan-akan tidak percaya ia bisa dapat "wine khusus" gratis dari Dilucー oh, apakah itu gratis?

"Treatment, huh?" decih Diluc sambil menyodorkan gelas kedua kepada Kaeya.

Awalnya Kaeya menaikkan alisnya, namun akhirnya ia menerima dengan senang hati gelas tersebut. Ia menyisipnya sedikit. "Nah, satu gelas gratis tiap minggu bagus untuk treatment kustomer reguler."

"Sudah diracun."

BURRRTTT

Bukannya Kaeya, malah Venti yang menyemburkan minumannya, "AAAH! SETELAH KUPIKIR TUAN DILUC DERMAWAN-" teriak Venti.

"Pfftー" Diluc menahan tawanya, menutupi sedikit lengkung bibirnya dengan punggung tangan.

Kaeya mengalihkan fokusnya dari penyair kepada bartender surai merah tersebut. Ini kesempatan langka melihat saudaranya ini tertawaー tidak, ia tidak pantas menyebut Diluc saudaranya setelah apa yang ia lakukan.

Diluc menyadari tatapan yang terkunci padanya. Ia melirik sedikit, dan seketika itu senyumnya hilang. Bagai kembali dalam mode yang biasa Kaeya lihat, Diluc melanjutkan kegiatan bartendernya. Ada sedikit rasa sakit, namun ia hanya bisa tertawa. Memang siapa dia bisa membuat Diluc tertawa. Sejujurnya keberadaannya saja sudah membuka luka lama Diluc. Namun ia tak bisa tahan untuk tidak bertemu.

Tuk.

"Eh?"

Sebotol wine mahal tersebut disuguhkan dihadapan Kaeya.

"Silahkan treatment setahun-sekalinya, pelanggan reguler." walau dengan nada menyindir, Kaeya tetap tersenyum dengan "hadiah" kecil dari Diluc.

"Heiiii! Aku juga mau!!" Venti merengek.

"Bagaimana kalau kau bayar hutangmu dulu." ucap Diluc yang ditanggapi suara glup Venti. "Bukan dengan nyanyian atau apel." tambah Diluc.

"Euh..." Venti kehabisan kata-kata.

"Tak usah hutang. Minumanmu hari ini saja, silakan bayar."

"Jahaaaat!" nangis Venti, "kenapa kau begitu jahat padakuuu!"

"Dan kamu pikir aku sungguhan menagihmu?" balas Diluc.

"AAAAH! Karena wajahmu datar terus, mana kutahu kamu bercanda atau ngga?!" kesal Venti.

"Memangnya aku bercanda?"

Glup.

"Canda. Lagipula kalau kutagih pun, kamu tidak bisa bayar." tambah Diluc.

"AHHSJAOAHANSLKAー JADI YANG MANA YANG BENAR?" teriak Venti frustasi.

"Pfttー" Kaeya tak sengaja mengeluarkan tawa yang sudah ia tahan, membuat Venti dan Diluc spontan menoleh ke arahnya. "Ah, maaf. Lanjutkan saja. Kalian terlalu menarik."

"Hm." Diluc kembali mengelap beberapa gelas di counter.

"Hihi, sepertinya sudah cukup. Aku akan kembali bersyair dengan angin." Venti berdiri dari kursinya. Sebelum benar-benar pergi, ia menyairkan satu bait karangan spontannya diiringi alat musik kesayangannya.

"Rotasi bulan akan kembali terulang.

Satu, dua, tiga, urutan yang sama.

Selalu tercipta memori baru bersama.

Tiap memori unik tidak terulang."

Setelahnya, ia berterimakasih atas minumannya dan pergi menghilang dibalik pintu keluar. Venti tidaklah tak peka, makanya untuk malam ini, ia akan pulang lebih awal.

"Charles, kau tak usah melayani orang satu ini. Istirahatlah sebentar." Diluc menunjuk kursi pelanggan lain yang kosong dan memberikan sedikit minuman pada Charles. Charles menerima kebaikan Diluc dan duduk di kursi dekat pagar pembatas.

"Oi, oi, dingin sekali. Kalian bartender mau meninggalkan pelanggan?"

Diluc membereskan beberapa gelas lagi sebelum akhirnya duduk disamping Kaeya. Ia menuangkan jus anggur yang ia bawa bersamaan dengan wine yang ada dihadapan kaeya dari dalam keranjang anyaman. Kaeya yang merasa tidak biasa hanya melihat Diluc bingung.

"Apa? Tidak boleh istirahat?" Diluc hanya melirik Kaeya dari ujung matanya.

Kaeya kembali dalam mode seringainya, "Ah, tidak. Istirahatlah semaumu, bartender handal." setelahnya Kaeya meminum sisa wine digelasnya.

Tanpa berkata apapun, Diluc mengambil botol dihadapan Kaeya dan mengisi ulang gelasnya. Dengan perlakuan Diluc hari ini, Kaeya merasa aneh. "Diluc?" panggilnya tanpa embel-embel "Tuan" seperti biasanya.

"Walau jangan kebanyakan wine... tapi hari ini kamu boleh minum sebotol ini habis. Kalau tidak, bawa saja pulang." ucap Diluc lalu meminum jus anggurnya.

Kaeya tertawa, "dasar tidak jujur." dan ikut meminum wine tersebut. Tentu saja ia ingat hari ini hari apa. Alasan kelakuan Diluc yang beda dari biasanya mungkin karena tanggal ini adalah-

"Selamat ulang tahun, Kaeya."

Deg.

Jantung Kaeya berdegub keras karena kaget. Tunggu, tidak salah dengar ini telinganya? Kaeya melihat ke arah Diluc yang sudah membuang wajahnya ke arah lain sambil menyanggah gelas berisi jus anggurnya.

Kaeya... tidak tahu harus apa. Ia merasa sangat senang. "Terimakasih, Diluc." balasnya.

Kaeya tidak menyangkanya. Ia dapat selamat ulang tahun dari anggota Favonius lainnya, tentu saja ia senang. Namun ada satu orang yang ia harap bisa memberinya selamat juga. Namun, harapan itu saja sudah ia anggap tidak pantas untuk dipikirkan. Untuk melupakan konflik batinnya, ia kembali ke tempat favoritnya di atap markas Favonius, tempat ia menyimpan "harta karun"-nya.

"Diluc." Kaeya sedikit menyentuh bahu Diluc, setengah ragu-ragu, setengah tidak.

"Hm?" Diluc menolehkan kepalanya, mendapati dua kerang bersih berada di telapak tangan Kaeya.

"Tadi di waktu istirahat pergantian shift, aku singgah sebentar di pantai. Dua kerang ini mengingatkanku dengan liburan kita." tawa Kaeya.

Diluc tidaklah bodoh. Ia tahu Kaeya masih mengingat kenangan-kenangan sebelum mereka menjadi seperti ini, bahkan sampai dua kali diungkit-ungkit, dan kini Kaeya mereka ulang kegiatan tersebut namun sendirian. Ada rasa tenggelam dan nostalgia bersamaan di dada Diluc.

"Heh, hal seperti itu kau ingat, kenapa tidak mengingat ramah-tamah berkunjung ke bar seseorang?" Diluc tertawa kecil.

Kaeya awalnya kaget, namun ikut tertawa melihat kini senyuman itu diarahkan padanya, "kupikir aku sudah cukup ramah."

Diluc mengulurkan tangannya, mengambil salah satu kerang dari telapak tangan Kaeya. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi seperti akan menerawang sesuatu. "Bagaimana kalau kuambil kerang jelek ini sebagai ganti wine itu." gumamnya.

"Jelek, kau bilang?" tawa Kaeya, "silakan, silakan. Tapi apa kamu yakin ditukar dengan wine khusus ini. Ini mahal loh."

Diluc menyimpan kerang itu ke dalam saku rompinya, "kalau gitu ku ambil lagi winenya."

"Eh, jangan. Aku cuma bercanda."

Mereka melanjutkan kegiatan minum-minum sedikit lagi sampai Diluc mengusir Kaeya. Ia harus pulang untuk menyiapkan diri di kegiatan esok hari. Wine pemberian Diluc masih sedikit bersisa, sehingga Kaeya memutuskan untuk membawanya pulang.

"Gunakan ini." Diluc memberikan keranjang anyaman kepada Kaeya. Ternyata keranjang itu berisi satu botol wine lagi yang sama persis dengan sebelumnya.

"Kamu yakin?" Kaeya kembali bertanya. Namun, Diluc yang memunggungi Kaeya untuk beberes hanya memberikan gestur tangan mengusir padanya dan lanjut bekerja.

Kaeya tertawa senang, "aku akan berkunjung lagi, terimakasih Diluc."

"Tidak usah berkunjung tidak apa."

Berakhirlah malam tanggal 30 November dengan menyenangkan. Mungkin, ini malam paling bahagia bagi Kaeya selama sebulan suntuk ini. Serasa stress pekerjaan yang menumpuk hilang seketika.

--

"Syukurlah, ya." Venti yang entah dari mana menyemburkan kalimat itu pada Diluc.

"Kupikir kamu bersyair dengan angin?" Diluc menepuk bahu Charles yang berpamitan pulang dan meninggalkan teras Angel's Share.

"Bener, kok. Terus balik ke sini lagi, ehe." Venti tertawa, ia ikut berjalan disamping Diluc menuju kereta kuda.

"Terimakasih telah melihat kami, Barbatos." ucap Diluc yang terdengar bagai doa, "Ah, sekarang kamu cuma pengamen yang bahkan tidak bisa bayar minumannya sendiri." lanjut Diluc.

"Ih! Kamu gak perlu sejahat itu, kan?" rengek Venti untuk kesekian kalinya.

"Tidak, tidak. Walau aku gak pernah serius nagih, setidaknya sekali-kali bayar lah, walau gak pengaruh juga sih padaku."

"Hmm... sombongnyaaa." Venti menyikut Diluc.

Diluc masuk ke dalam kereta kuda. Venti hanya berdiri diluar, berkata "semoga tahun depan, dan ulang tahunmu, semakin lebih baik." sambil meniupkan angin keberkatan. Diluc merasakan angin lembut membelai kepalanya, seakan-akan dirinya anak kecil yang diliputi kasih sayang dewa.

"Semoga angin terus menyertaimu." Venti melambaikan tangan, dan kereta kuda pun melangkah.

Venti tersenyum melihat kemajuan dari orang-orangnya. Mau bagaimanapun juga, ia sempat menjadi archon, dan kebiasaan ini tidak mudah hilang. Hari ini ia mendapat kemajuan yang bisa dibilang baik. Anna semakin terlihat bugar, Draff sudah bisa menahan kecanduan alkoholnya, Razor menemukan tempatnya, dan Diluc sudah mulai memaafkan.

"Semoga angin menyertaimu."


Author Note : intinya begitu. Ah sudah lah, kenapa buat Ragbros terus pdhl chara Favnya bukan mereka _(:」)_ fav jga sih but bukan top 3 shsjsiabsmls

btw, cover bukan milik saya