Malam-Malam dengan Paman
All Naruto's characters are belong to Masashi Kishimoto.
Saya cuma pinjem doang, kok. Selamat membaca.
Warning: gaje, typo(s), crack couple, bosenin, a bit lemon (soon)!
Hinata Hyuuga: 22 tahun
Sasuke Uchiha: 35 tahun
Neji Hyuuga: 27 tahun
Sai Uchiha: 22 tahun
Gaara : 25 tahun
"TIDAK!" ucap Hiashi tegas. "Aku tidak akan mengizinkanmu untuk menikahi Hinata dalam waktu dekat!"
"Tapi saya sungguh-sungguh dengan hubungan kami, Hyuuga-san. Saya sudah siap menikahi Hinata baik secara finansial maupun mental." ujar Sasuke.
Ya, satu hari setelah kejadian malam itu, dan kepergok Neji yang ngamuk pagi-pagi, Sasuke mantap datang ke kediaman Hyuuga untuk melamar Hinata. Entah bagaimana Sasuke seolah telah menyiapkan segalanya. Pakaian formal, cincin, dan kata-kata manis untuk meluluhkan calon mertua.
"Kau memang sudah siap, tapi bagaimana dengan Hinata? Apa kau pikir adikku yang baru lulus kuliah itu siap menanggung beban tanggung jawab sebagai istri dan ibu kelak, Uchiha-san?" Sasuke menarik napas dalam mendengar ucapan Neji.
"Putriku punya mimpi untuk melakukan hal-hal yang ia sukai, Uchiha. Aku ingin ia menggapai mimpinya dulu. Meskipun menjadi seorang istri, ia harus siap secara mental dan finansial juga." diam-diam Sasuke menyetujui perkataan Hiashi dalam hati.
"Saya mengerti, tapi bagaimana jika kita mendengar pendapat dari Hinata langsung?"
Hinata mematung saat memasuki ruang tamu. Ia merasa terintimidasi diperhatikan oleh ketiga pria yang ia sayangi. Hinata menghindari kontak mata dengan Sasuke dan duduk di sebelah sang ayah.
"Hinata, bagaimana pendapatmu tentang lamaran Sasuke Uchiha?" tanya Hiashi.
"Jangan melepaskan masa mudamu untuk diperbudak oleh sembarang lelaki, Hinata." Neji mendapat death glare dari Sasuke.
"Aku bukan lelaki sembarangan, Neji-san. Jika kau lupa, aku lebih tua darimu dan cukup mapan secara finansial." Sasuke dan Neji saling menatap penuh kebencian.
"Ba-bagaimana jika melakukan pertunangan dulu?" ucapan Hinata menarik atensi ketiga pria. "Aku ingin merasakan bekerja selama beberapa tahun dan kurasa untuk menikah kita perlu mengenal lebih jauh lagi, Sasuke-san."
"Bukankah kita sudah mengenal sangat jauh semalam, Hinata?" wajah Hinata memerah mendengar ucapan berani Sasuke.
"Ekhem.. Kurasa kau sudah mendapatkan jawabannya, Uchiha-san. Putriku ingin bertunangan dan tidak menikah dalam waktu dekat." tegas Hiashi.
"Baiklah, tapi aku ingin ia tinggal bersamaku."
"Kau gila ya, Uchiha?! Terang-terangan ingin berbuat mesum dengan adikku, hah?!"
"Neji, pelankan suaramu!" Hiashi menengahi. "Uchiha-san, kurasa tidak ada urgensi untukmu dan hinata tinggal bersama."
"Tentu saja, ada. Hinata bilang kami perlu saling mengenal lebih jauh lagi, 'kan? Tinggal bersama bisa menjadi langkah awal yang baik sehingga kami bisa saling membiasakan diri." Sasuke menjelaskan dengan ringan.
"Sepertinya lelaki ini tidak waras, Hinata. Tolong tarik kembali keputusanmu." Neji menatap tajam adik pertamanya.
"Hah... Hinata, bagaimana menurutmu?" Hiashi menghela napas dalam dan ikut menatap putri sulungnya.
"Mu-mungkin aku akan menginap beberapa kali saat weekend."
Deal. Semua telah diputuskan. Hinata dan Sasuke resmi bertunangan dengan beberapa kondisi. Tidak menikah dalam waktu dekat dan memanfaatkan waktu untuk saling mengenal. Oh, juga jangan lupakan Hinata yang akan menginap setiap akhir pekan, itu yang paling Sasuke nantikan.
Makan malam keluarga Hyuuga terasa canggung malam ini. Meskipun tidak ada tambahan orang asing. Yah, untungnya Neji bersikukuh menolak Sasuke yang ingin ikut makan malam. Tapi tetap saja, lamaran dadakan yang diterima oleh keluarga Hyuuga cukup mencengangkan.
"Nee-san, apa kau yakin dengan Paman Uchiha, itu?" suasa menjadi lebih canggung saat Hanabi tiba-tiba bersuara. "Dia sepuluh tahun lebih tua darimu. Bukankah itu cukup membahayakan?"
"Hanabi, apa yang kau bicarakan? Dia itu delapan tahun lebih tua dariku, yang artinya tiga belas tahun lebih tua dari Hinata." Neji meluruskan.
"Loh, Ibu kira dia seumuran denganmu, Neji. Wajahnya tidak terlihat setua itu." diam-diam Hinata tersenyum mendengar ibunya membela Sasuke.
"Ibu, kenapa ibu tidak jujur begitu? Langsung saja bilang jika Kak Neji yang terlihat TUA!" ucapan Hanabi membuat keributan kecil di meja makan. Hikari dan Hinata tertawa kecil melihat Neji dan Hanabi yang saling meledek satu sama lain.
"Hinata." panggilan sang ayah menghentikan Hinata yang sedang mengambil lauk. "Ayah hanya ingin memastikan, kau sungguh menerima lamaran Sasuke Uchiha karena kau mencintainya, 'kan?"
Kini suasana kembali hening. Hinata merasa gugup ditatap oleh seluruh anggota keluarganya.
"Entahlah, Ayah. Aku sendiri tidak tahu. Tapi, yang pasti saat ini aku menyayangi dia seperti aku menyayangimu dan Kak Neji. Aku ingin menjaga dan mengenalnya lebih lama lagi." Keluarga Hyuuga terenyuh mendengar ucapan tulus Hinata.
"Tapi, Hinata, dia itu–"
"Sudah, Neji. Kita lanjutkan saja makan malamnya." Neji mendengus ucapannya dipotong oleh sang ayah. Dengan lemas iya mengarahkan sumpit untuk mengambil telur dadar. Akan tetapi, sebuah sumpit dari tangan lain menghalanginya.
"Jika kau lupa, kau sudah kalah main game minggu lalu dan telur dadarmu menjadi milikku, Nii-san." Hanabi menjulurkan lidahnya dan mengambil telur dadar terakhir secepat kilat. Tindakan sulung dan bungsu Hyuuga itu kembali menimbulkan kericuhan di meja makan tanpa menyadari sosok Hinata yang tersenyum sendu melihatnya.
"Apa yang kau rencanakan pada sahabatku, Paman?!" Sasuke melirik Sai sekilas sebelum kembali berjalan menuju meja makan dan menuangkan air putih ke dalam gelas.
"Perlu kuingatkan, jika kau macam-macam pada Hinata aku tidak akan segan padamu meski kau adalah pamanku!" Sai menatap Sasuke tajam.
"Tidak usah berlebihan, Sai. Aku melamarnya, jelas aku mencintainya. Jadi kau tidak perlu khawatir." Sasuke menjawab santai setelah meminum airnya.
"Kau memaksanya untuk menerimamu, 'kan?"
"Tentu tidak. Hinata juga mencintaiku."
"Dari mana kau tahu?" Sasuke mendesah dan menatap Sai sesaat.
"Sai, aku bukan anak kecil. Aku jauh lebih tua darimu jelas aku tahu Hinata menyukaiku sejak lama."
"Oh, kini kau memanfaatkan perasaannya padamu?" Sasuke hanya mengangkat bahu tak acuh. "Bagus kau membahasnya. Kau bilang kau tahu Hinata menyukaimu sejak lama, 'kan? Kalau begitu seharusnya dulu kau lebih menghargainya. Bukan malah bermesraan dengan si kacamata di depannya!"
Tangan Sasuke yang tengah menuangkan air terhenti. Ia meletakkan teko air dengan sedikit membantingnya dan berjalan mendekat pada Sai.
"Dengar, Sai. Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba membahas masa lalu. Kau harus paham, kini semuanya telah berubah. Kau dan Hinata bukan lagi bocah ingusan. Kalian sudah dewasa dan seharusnya tidak menjadi masalah jika aku menikahi Hinata." Sasuke berkata dengan tegas tepat di hadapan Sai. Sai hendak berkata balik tapi Sasuke telah mendahuluinya. "Kau tidak perlu khawatir berlebihan pada sahabatmu. Aku yang akan menjaganya mulai sekarang. Satu yang harus kau tahu, aku akan menjaga Hinata sebaik mungkin, lebih baik dari wanita manapun yang pernah bersamaku. Jadi, berhenti membicarakan apapun yang berkaitan dengan masa lalu!"
"Baiklah. Bagus jika kau berkata demikian. Tapi kau juga harus tahu, Paman, sekali saja kau menyakiti Hinata, kau akan menanggung akibatnya." Sai pergi setelah berucap. Menutup pintu apartemen Sasuke dengan sedikit kasar dan meninggalkan Sasuke yang terdiam. Sai hanya sedikit terkejut, kecewa, dan menyesal atas apa yang tiba-tiba terjadi. Mungkin perlu waktu baginya untuk menerima perubahan yang akan terjadi antara ia, Hinata, dan pamannya di kemudian hari.
Halo, minna!
This is a new account of acyanokouji karena sedihnya saya tidak bisa masuk ke akun lama :(
Sebelum lanjut, silakan baca FF "Satu Malam dengan Paman" yang saya posting dua tahun lalu.
Mohon review-nya, ya. Haruskah FF ini lanjut? Tetap rate T atau berubah jadi rate M? Kyaaaa...
See you, minna!
-acyanokouji
