Malam-Malam dengan Paman


All Naruto's characters are belong to Masashi Kishimoto.

Saya cuma pinjem doang, kok. Selamat membaca.

Warning: OOC, gaje, typo(s), crack couple, bosenin, a bit lemon!

Hinata Hyuuga: 22 tahun

Sasuke Uchiha: 35 tahun

Neji Hyuuga: 27 tahun

Sai Uchiha: 22 tahun

Gaara : 25 tahun


"Kau terlambat." Sai menatap sahabatnya yang tengah berjalan mendekat.

"Ah, maaf, Sai. Aku baru selesai melakukan wawancara." Hinata menarik kursi di hadapan Sai dan duduk di atasnya.

"Wait, wawancara kerja?" Hinata mengangguk. "Waw! Selamat Hinata!"

Hinata tersenyum bangga menerima sambutan dari Sai.

"Akhirnya kau keterima kerja setelah setahun menjadi penggangguran." kini Hinata cemberut saat Sai menyindirnya. "Perusahaan mana yang menerimamu?"

"WithFams. Event organizer yang sering mengadakan acara untuk selebriti." Hinata menjawab tanpa memandang, Sai. Ia sibuk membolak-balikan daftar menu.

"Ish, kenapa pilih-pilih menu begitu sih? Pesan saja yang biasa kau makan."

"Siapa tahu ada menu baru. Kita 'kan sudah setahun tidak ke sini." Hinata menutup buku menu dan memanggil pelayan untuk memesan makanan.

"Well, selamat ya atas pekerjaan pertamamu."

"Terima kasih."

"Dan juga atas pertunanganmu." Hinata terdiam, sebenarnya ia merasa tidak enak karena belum mengabari Sai. "Tidak kusangka kau akan benar-benar menjadi keluargaku."

"Sai, maaf belum memberitahumu." Hinata menunduk.

"Ah, tidak apa. Lagipula aku sudah menduganya. Akhir-akhir ini kau sering menghabiskan waktu dengan pamanku, 'kan?"

Sebenarnya Sai sudah tahu. Akan ada sesuatu antara sahabatnya dan pamannya. Sai adalah orang yang paling tahu bagaimana Hinata menyimpan perasaan pada Sasuke sejak mereka memasuki masa puber dulu. Ia sempat kasihan pada Hinata karena tujuh tahun lalu Sasuke pernah memiliki seorang kekasih. Hal itu sempat membuat Hinata terpukul dan berpikir untuk melupakan cinta pertamanya. Tapi siapa sangka Hinata bisa kembali dekat dengan Sasuke sejak tahun lalu? Yah, walaupun sebenarnya Sai juga terlibat dalam hal itu.

"Sejujurnya aku senang karena kau yang akan menjaga pamanku. Dia selalu merepotkan di kantor, apalagi di rumah. Nenek Mikoto sampai menyerah untuk membujuknya. Kini, dia punya seseorang di sisinya. Jadi, aku tidak perlu khawatir lagi." Hinata tersenyum mendengarnya. Sebenarnya Sai sangat peduli pada Sasuke. Sejak kecil Sasuke sudah seperti sosok kakak untuknya.

"Tapi kini aku lebih mengkhawatirkanmu." Hinata mengernyit. "Pamanku bukan orang yang mudah, Hinata. Aku khawatir dia malah akan merepotkanmu, atau bahkan menyakitimu. Kau tahu 'kan bahwa aku sangat menyayangimu?"

Hinata mengangguk. Ia dan Sai saling menyayangi, sebagai seorang sahabat tentunya. "Berjanjilah, Hinata. Ketika kau disakiti oleh pamanku, bilanglah padaku. Aku akan membalasnya untukmu."

Hinata tersenyum lembut. Ia meraih tangan Sai yang ada di atas meja dan mengelusnya pelan. "Terima kasih, Sai. Kau akan selamanya menjadi sahabat terbaikku."

Setelahnya Hinata dan Sai mulai berbincang tentang banyak hal. Dominasi yang bercerita adalah Sai yang mengeluh tentang pekerjaannya di kantor. Hinata tentu belum terlalu paham, ia baru akan memulai kehidupan bekerjanya. Tapi Hinata mendengarkan setiap cerita Sai dengan seksama. Sesekali tertawa dan terkejut mendengar cerita tak masuk akalnya.

"Hinata, besok kau ada acara?" Sai dan Hinata keluar dari cafe. "Mau pergi melihat pameran di museum?"

"Aku tidak bisa, Sai. Aku akan menginap di tempat Paman Sasuke dua malam." Hari ini adalah hari jumat, penghujung hari kerja yang artinya besok dan lusa merupakan jatah Sasuke untuk bersama Hinata.

"Heee agresif sekali. Hati-hati, Hinata. Pamanku itu buas." Hinata memerah mendengar ucapan Sai. Padahal, tanpa Sai beritahu pun Hinata sudah tahu kok. "Yasudah, kau mau aku antar pulang?"

"Tidak usah, Sai. Aku mau pergi ke supermarket dulu."

"Oh, mau aku temani?"

"Sebaiknya tidak perlu. Kau tidak mau 'kan terkena skandal dengan calon bibimu?" canda Hinata.

"Ha, sombong sekali, kau bibi! Kita lihat siapa yang akan jatuh cinta duluan." kemudian Sai dan Hinata terkikik geli mendengarkan percakapan mereka. Tak lama mereka berpamitan menuju arah yang berbeda.

.

.

Sasuke baru selesai mandi saat bel pintu apartemennya bunyi. Sambil mengacak-acak rambut basahnya dengan handuk, Sasuke membuka pintu dan tersenyum.

"Kenapa tidak langsung masuk saja? Kau 'kan tahu kuncinya." Sasuke mengalungkan handuk kecil di lehernya dan bergeser, membiarkan Hinata masuk dengan kantung belanjaan di tangannya.

"Aku belum terbiasa." Hinata berjalan ke arah dapur untuk menaruh kantung belanjaanya. Kemudian ia merasakan sepasang lengan melingkari perutnya.

"Aku rindu." Sasuke menyandarkan kepalanya pada bahu Hinata. Sebuah senyuman terpancar di wajah Hinata yeng memunggungi Sasuke.

"Ini belum ada seminggu, Paman." Hinata berbalik dan menatap Sasuke.

"Kau harus mulai berhenti memanggilku begitu, Hinata. Kita sudah bertunangan, ingat?"

"Tapi kau kan tetap paman dari sahabatku."

"Ralat. Dia kini akan segera menjadi keponakanmu." Sasuke dan Hinata terkekeh membayangkannya. Bagimana pun Sasuke tahu Hinata dan Sai tidak pernah terpisahkan sejak SMP.

'CUP'

Sebuah kecupan singkat diterima Hinata. Awalnya ia terkejut dan mereka berdua berpandangan cukup lama. Perlahan-lahan Sasuke kembali mendekat dan mengecup Hinata. Kali ini Sasuke cukup lama menempelkan bibir mereka. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Kecupan itu berubah menjadi ciuman yang dalam. Sasuke menangkup kedua pipi Hinata untuk memperdalam ciumannya.

Lumatan demi lumatan mereka lakukan. Perlahan Sasuke menggeser kantung belanja yang ada di atas counter bar dapur. Lalu, Sasuke menaikkan Hinata untuk duduk di atas counter bar dapur tanpa melepas pagutan mereka. Sama seperti waktu itu.

Hinata juga sama gilanya pada Sasuke. Ia mendesah saat tangan Sasuke mulai nakal. Meraba punggung, bahu, perut, dan payudara Hinata. Di sana Sasuke mulai bermain. Mengelusnya, menekan, dan meremasnya dengan sensual.

"Nghhn~"

Desahan Hinata tertahan karena ciuman mereka yang belum terputus. Sasuke semakin bersemangat mendengar suara Hinata. Kancing blouse Hinata sudah terbuka semua. Rok pendeknya pun tersingkap hingga setengah pahanya. Tidak lama ciuman mereka terlepas, lebih tepatnya Hinata memaksa untuk melepas. Bukan karena Hinata tidak menyukainya, tapi ia terganggu dengan handuk basah yang melingkari leher Sasuke.

"Kau basah, paman." Hinata mengambil handuk kecil itu dan menaruhnya di samping. Tangannya perlahan naik untuk memegang rambut setengah basah Sasuke.

"Kau juga." Sasuke kembali mencium Hinata saat tangan nakalnya mengelus sesuatu di balik rok Hinata. Tidak lama Sasuke kembali menggendong Hinata dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sepertinya akhir pekan akan menjadi hari yang paling Sasuke nantikan untuk ke depannya.

.

.

"Tck, kan aku sudah bilang kalau aku tidak minum kopi!" seorang pemuda melempar segelas kopi dingin dengan kasar. "Kau mau membunuhku, ya?!"

Mata pemuda itu melotot pada seorang gadis berambut hitam yang bergetar ketakutan. "Ma-maaf, aku tidak tahu kalau kau tidak menyukainya, Sabaku-san."

"Kalau kerja itu yang benar! Kalian mau aku memberitahu agensiku untuk berhenti kerja sama dengan kalian?!" selanjutnya beberapa orang menghampiri si pemuda, berusaha untuk menenangkannya.

"Hah, dia memang kejam." Hinata menatap Shizune. "Oh, itu Gaara Sabaku, anggota grup Be Boys yang tengah naik daun. Kau harus berhati-hati padanya, Hinata. Semua anggota grup Be Boys itu sangat merepotkan. Apalagi yang berambut merah. Aku heran kenapa masih ada yang menjadi penggemarnya."

Hinata memerhatikan pemuda bernama Gaara yang kini tengah berdebat dengan pemuda lain berambut kuning. Selama dua puluh dua tahun hidupnya, Hinata belum pernah tertarik dengan dunia grup idola. Ia tidak tahu banyak tentang hal itu, tapi sepertinya mulai sekarang ia harus mencari tahu lebih jauh. Siapa sangka pekerjaannya membuat ia akan sering bertemu para selebriti?