Malam-Malam dengan Paman
All Naruto's characters are belong to Masashi Kishimoto.
Saya cuma pinjem doang, kok. Selamat membaca.
Warning: OOC, gaje, typo(s), crack couple, bosenin, a bit lemon!
Hinata Hyuuga: 22 tahun
Sasuke Uchiha: 35 tahun
Neji Hyuuga: 27 tahun
Sai Uchiha: 22 tahun
Gaara : 25 tahun
Malam minggu adalah waktu yang biasa dihabiskan oleh para pasangan untuk menghabiskan waktu berdua. Umumnya para muda-mudi itu akan pergi keluar menikmati kencan. Seperti menonton film di bioskop, makan malam mewah di restoran, atau sekadar duduk dan jalan-jalan di taman.
Bagi Sasuke di usianya yang tidak terlalu muda lagi, ia tidak butuh kemewahan dan keramaian untuk kencannya. Baginya begini saja sudah cukup. Berbaring berdua di atas sofa bersama sang kekasih sambil ditemani tayangan drama dari televisi yang menyala.
"Bagaimana pekerjaanmu?" ini adalah minggu awal Hinata bekerja, tentu Sasuke penasaran dan khawatir dengan karir sang tunangan.
"Itu... Ahn... Baik. Se-sepertinya rekan kerjaku baik." Hinata menahan desahannya.
"Benarkah?" Sasuke fokus menatap layar televisi tapi pikiran dan tangannya bekerja untuk hal lain.
"Ah.. Ngh~" Hinata mendesah. Siapa yang tidak? Di posisinya saat ini, ia ada di dalam pelukan Sasuke. Sasuke memeluknya dari belakang. Tangan Sasuke sejak tadi sudah masuk ke dalam kaus Hinata. Memainkan dua gundukan favoritnya, bahkan menurunkan bra yang sebenarnya Sasuke pikir mending Hinata tidak pakai saja.
"WithFams ya? Kau sudah bertemu artis siapa saja? Apa dia juga pernah?" Sasuke menunjuk layar televisi dengan dagunya. Drama tersebut menampilkan sosok aktor berambut gelap, model rambut yang menampilkan jidatnya, dan bola mata berwarna agak keunguan. Apa ia memakai softlens ya? Seperti salah satu karakter komik detektif yang pernah Sasuke baca.
"Kambe-kun? Be-belum. Kebanyakan artis yang kami tangani i-itu grup idola." jawaban Hinata hanya ditanggapi 'oh' oleh Sasuke. Suasana hening, hanya terdengar dialog drama tentang perselingkuhan kecintaan emak-emak.
Sesekali kembali terdengar suara Hinata yang meringis karena Sasuke menarik putingnya. Sasuke memang menyebalkan. Menyiksanya padahal mereka baru selesai satu jam yang lalu. Hinata hanya minta waktu satu jam setengah. Meskipun belum jadi ibu-ibu, drama yang sedang tayang ini adalah salah satu drama yang ditunggunya. Ada aktris kesukaannya yang main, Ino Yamanaka, si pemeran tokoh utama wanita.
"Sa-Sasuke-kunh?" Hinata berdesis. Intensitas gerakan Sasuke yang memainkan payudaranya semakin menjadi. Setiap tekanan dan tarikan yang diterima pada puting kanannya memberikan sengatan listrik di tubuhnya.
Sasuke bergerak mengubah posisinya. Ia menurunkan dirinya agar kepalanya berada di antara perpotongan leher Hinata. Kecupan-kecupan di leher Hinata memberikan rasa geli yang ditahannya sekuat tenaga. Tolong, kini scene tegang antara si pemeran utama pria dan pemeran utama wanita sedang dimulai.
"Hi-na-ta. Aku tegang." suara serak Sasuke terdengar di telinga kanan Hinata. Dapat Hinata rasakan juga sesuatu yang keras menekan pahanya.
Cukup lama Sasuke masih menciumi leher Hinata sambil bermain dengan payudara wanita itu. Sasuke tidak puas. Ia ingin diperhatikan oleh Hinata. Saat tangan Sasuke menarik diri dari dalam kausnya, Hinata bernapas lega. Mengira Sasuke mengalah tapi yang ada Sasuke malah menarik dagunya ke dalam ciuman.
"Sasuke-kun, dramanya –"
"Biarkan saja." Sasuke membalikkan Hinata hingga kini mereka berhadapan. Merasa tangan kirinya bebas dari tindihan badan Hinata, Sasuke memindahkannya ke belakang tengkuk Hinata untuk memperdalam ciuman mereka.
Tangan kanan Sasuke kembali masuk ke dalam kaus Hinata. Kini memutuskan untuk bermain dengan payudara kiri Hinata. Sementara Hinata yang melengguh hanya bisa menaruh tangannya di lengan dan dada Sasuke.
Hinata tahu ia akan selalu mengalah pada Sasuke. Tepat ketika Sasuke mengulum putingnya dan tangan kanannya mulai meraba ke balik celananya, Hinata tahu ia akan melewatkan drama kesukaannya lagi. Yah, mungkin ia harus mulai berlangganan aplikasi streaming online.
.
.
"Hoam..." Hinata menutup mulutnya yang menguap. Ia kurang tidur. Salahnya sih setelah berlangganan aplikasi streaming untuk menonton ulang drama kesukaannya, Hinata malah kebablasan nonton drama-drama lain dari si aktris favoritnya. Padahal niatnya hanya iseng menonton ulang.
"Selamat pagi, Hinata!" Hinata menoleh dan menemukan seniornya menatap bingung. "Eh, wajahmu kenapa, Hinata?"
"Ada apa?" Hinata menyentuh wajahnya hingga kini mereka sudah duduk di bangku kerja.
"Kau terlihat kurang tidur. Apa kau habis begadang?" Shizune masih khawatir pada juniornya. Padahal ini adalah hari senin, awal dari semangat baru.
"Oh, kau begadang dengan lelakimu ya, Hinata?" muncul seorang pria paruh baya mendekat. Itu adalah ketua tim divisi perlengkapan, Asuma Sarutobi yang sedang nyengir dengan tusuk gigi nyempil di mulutnya.
"Aduh, ketua. Kau ikut-ikutan saja sih!" Shizune mencak-mencak. Asuma memang dikenal sebagai ketua divisi yang paling sksd dengan anggotanya. Itu juga yang menjadikannya betah bekerja meskipun merasa divisinya lebih cocok untuk anggota berkelamin laki-laki.
"Siapa tuh yang begadang?"
"Hinata sudah punya pacar?"
"Pagi-pagi sudah berisik saja."
Nah, ini dia muncul ketiga anggota divisi perlengkapan lainnya. Chouji Akimichi, Rock Lee, dan Shikamaru Nara. Yang Shizune sebut sebagai anggota boyband gagal debut.
"Apa sih? Laki-laki dilarang kepo!" Shizune menyesal, rekan kerjanya memang suka ingin tahu apa saja. Mungkin karena lebih banyak anggota laki-laki dan jarang anggota perempuan makanya ketika Hinata datang mereka seperti semut yang berkumpul ya?
"Shizune-san kalau marah terlihat menawan!" Rock Lee mengacungi jempol dengan cengirannya tanpa menyadari si ketua sempat menatapnya kesal.
"Hinata, Shizune, bisa tolong hadiri rapat di ruang 305 jam sebelas nanti? Tanyakan mengenai kebutuhan peralatan untuk acara tanda tangan jumat besok." kata Asuma.
"Artis siapa?"
"Be Boys."
"Duh, mereka lagi. Apa tidak bosan?" Shizune mengeluh. Padahal minggu lalu mereka sudah bantu menyiapkan acara yang sama.
"Tidak apa-apa Shizune-san. Aku bisa menemanimu menggantikan Hinata." Lee tersenyum lebar lagi, kini dengan sedikit mengibaskan rambut mangkoknya.
"Rock Lee akan bantu mengangkut barang untuk acara fanmeet grup Angels hari ini."
"Ha?! Bukannya sudah ada petugasnya?!"
"Tidak, aku ingin kau yang melakukannya." Shikamaru membuka sebelah matanya yang sejak tadi terpejam. Ia melihat Lee yang sedang protes mendapat tugas dadakan dari ketua. Sepertinya ia melewatkan sesuatu yang seru.
.
.
Rapat dimulai tepat pukul 11.10. Agak sedikit terlambat demi menunggu kedatangan bintang idola. Meskipun kesal, para pekerja tetap memberikan senyuman dan penjelasan yang ramah. Hinata tidak menyangka ia benar-benar bisa melihat selebritis sedekat ini. Be Boys itu grup idola baru debut tahun lalu. Anggotanya ada lima orang, Gaara Sabaku, Naruto Uzumaki, Kabuto Yakushi, Deidara, dan Shino Aburame.
Kelima anggota Be Boys ini unik. Hampir seluruh anggota mereka memiliki warna rambut yang berbeda-beda. Meskipun anggota bernama Deidara itu sering bergonta-ganti warna rambut. Kini ia malah tengah mewarnai rambutnya dengan warna merah muda yang sangat terang.
"Permisi. Aku ingin mengantar minuman." pintu ruangan terbuka. Seorang pegawai kafe di seberang gedung masuk dan membagikan minuman ke seluruh peserta rapat. Hinata juga dapat bagian, ice americano, menu umum untuk seluruh pekerja perusahaan.
Gaara memutar cup minumannya. Kopi lagi? Demi dewa naga dan seluruh pengikutnya, sampai kapan ia harus bilang kalau Gaara tidak minum kopi?! Dengan kesal Gaara membuang cup kopi tersebut.
"Aku 'kan sudah bilang kalau aku tidak pesan kopi!" suara Gaara menghentikan seluruh aktivitas yang ada di ruangan. "Kau! Siapa yang menyuruhmu memberikan kopi padaku?!"
Pegawai kafe yang tengah membagikan minuman itu mematung. Ia hanya memberikan sesuai pesanan kok. Sungguh.
"Gaara, tenanglah." Kabuto yang menjadi leader grup bersuara.
"Aku tidak suka kalian terus-terusan mempermainkanku!" Gaara bangkit berdiri, meninggalkan ruangan yang disusul oleh Naruto setelah pemuda itu membungkuk minta maaf.
"Aduh duh, sensitif sekali sih bayi kita ini." Deidara menyeringai sambil menyilangkan kakinya. Detik itu juga, Kabuto tahu Deidara kembali mengisengi Gaara. Ia hanya bisa menghela napas, merasa lelah dengan anggota grupnya yang belum berdiri lama itu.
.
.
"Dilarang memberikan makanan dan minuman untuk artis, eh? Peraturan baru?" Naruto membaca aturan acara tanda tangannya hari ini. Gaara yang tengah dirias melirik Naruto.
"Wahhh sepertinya WithFams sangat peduli dengan bayi kita yang sering rewel!" Deidara mengedipkan matanya pada Gaara sambil memakai antingnya.
"Deidara!" Kabuto menyahut.
"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf soal kejadian senin lalu. Tapi aku sudah menebusnya dengan bicara pada divisi perlengkapan untuk membuat aturan tambahan." Deidara mendengus.
"Eh, kau mengenal pekerja di sini, Dei-nii?" tanya Naruto.
"Tidak juga. Aku hanya kebetulan bertemunya di toilet."
Gaara berdiri setelah riasannya selesai. Memangnya siapa juga mau mendengar cerita bohong Deidara? "Aku pergi ke toilet."
Selesai dengan urusannya, Gaara segera keluar toilet sambil merapikan pakaiannya. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Mereka tidak terjatuh. Gaara hanya merasakan sesuatu yang kenyal menekan perutnya.
"Ah, maaf. Saya tidak sengaja." Gaara melihat seorang perempuan berambut ungu gelap membungkuk. Ia perhatikan id card yang menggantung di depan dadanya. Hyuuga Hinata, divisi perlengkapan. Apa ia yang membantu Deidara itu ya? Kebetulan, saatnya balas dendam. Gaara tersenyum licik. Tapi omong-omong soal dada, punya pegawai itu juga cukup besar.
"Kau. Ikut bantu acara tanda tangan hari ini!"
"Ha?!"
.
.
