Malam-Malam dengan Paman 04
by acyanokouji
Special Chapter
All Naruto's characters are belong to Masashi Kishimoto.
Saya cuma pinjem doang, kok. Selamat membaca.
Warning: OOC, gaje, typo(s), crack couple, bosenin, LEMON LEMON LEMON! 18+
SPECIAL FOR HINATA BIRTHDAY
.
.
"Ingat ya, Hinata. Tolong pakai ini saat ulang tahunmu."
Hari ini semestinya adalah hari yang special untuk Hinata. Hari kelahiran Hinata. Pagi tadi Hinata merayakan ulang tahunnya dengan kejutan kue ulang tahun dan pergi piknik singkat di alun-alun bersama keluarganya. Padahal Hinata sudah dewasa, tapi tetap saja perayaannya seperti anak kecil.
Malam ini angin sangat kencang, ditambah salju. Dingin. Di balik mantel ungunya, tubuh Hinata menggigil. Ia mempercepat langkahnya untuk mencapai apartemen Sasuke. Setiap ia berpapasan dengan orang lain, bulu kuduknya meremang. Takut ketahuan.
TING TONG
Sasuke tersenyum mendengar bunyi bel apartemennya. Ini adalah saat-saat yang dinantikannya. Tapi, ketika membuka pintu, Sasuke mesti kecewa. Itu adalah petugas laundry yang mengantarkan pakaiannya.
Ck, kenapa tidak antarkan besok-besok saja?
Suara bel kembali terdengar saat Sasuke baru selesai mandi. Ia melilitkan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sedangkan bagian atasnya dibiarkan terbuka, menampilkan perutnya yang atletis sedikit basah.
CLEK
Pintu apartemen dibuka. Ini adalah tamu yang paling ditunggunya. Hinata. Wanita itu masuk dengan malu-malu, apalagi melihat penampilan Sasuke saat ini.
"Suka dengan kadomu, Hinata?" Sasuke tersenyum miring, menggoda. Sasuke bergerak untuk menyalakan penghangat ruangan, ia sedikit kedinginan.
"Kau membawa pakaian yang kemarin aku beri, 'kan?" Hinata mengangguk. Sasuke semakin tidak sabar. Namun, Sasuke bingung. Kenapa Hinata tidak membawa kantung atau tas apapun?
Hinata membuka mantel yang digunakannya. Berniat untuk menggantungnya di tempat yang sudah disediakan. Bersamaan dengan mantel Hinata yang terbuka, mata Sasuke melotot. Hinata memakai baju yang diberinya.
Begini ya, adik-adik. Baju yang Sasuke hadiahi untuk Hinata itu adalah baju yang sedikit nakal. Jenisnya adalah lingerie. Bentuknya adalah sebuah gaun super mini yang mencetak jelas bagian tubuh Hinata. Kalau ingin gambaran yang lebih jelas, kata kuncinya adalah 'lingerie kelinci'. Sudah terbayangkan 'kan bagaimana senangnya Sasuke melihat pemandangan di depannya?
"Kau nakal, Hinata." Sasuke menyeringai. Menarik Hinata ke dalam dekapannya dan sedikit meremas pantat Hinata yang berisi.
"Ahh.." Hinata meremang, dadanya sudah menempel sempurna dengan dada Sasuke yang terbuka.
"Tak kusangka kau akan langsung memakainya. Bagaimana kalau ketahuan oleh Nii-san mu tersayang itu, hm?"
Tentu saja Hinata takut dan waspada setengah mati pada Neji. Ia mengendap-endap seperti pencuri di rumahnya sendiri hanya demi bertemu pria yang dicintainya. Gila.
"Sasuke, aku malu." wajah Hinata memerah, sangat. Ini adalah ulang tahunnya tapi kenapa rasanya seperti malah ia yang memberikan hadiah, bukan dihadiahi?
"Kenapa? Kau sangat cantik." Sasuke kembali meremas pantat Hinata beberapa kali, membuat wanitanya berdesis. "dan menggoda."
"Kemari." Sasuke menarik Hinata. Ia duduk di sofa dan membuat Hinata duduk di pangkuannya. Saling berhadapan, mengangkangkan kaki Hinata.
Sasuke mendorong tubuh Hinata agar mendekat padanya. Menubrukan tubuh Hinata hingga bersentuhkan dengan sesuatu yang menonjol di antara kedua pahanya. "Ahhh..."
"Boleh aku menciummu?"
Kenapa musti bertanya?
Tanpa dijawab, Sasuke langsung mencium Hinata. Ia menangkup kedua pipi Hinata. Menekannya ke dalam ciuman yang menggairahkan. Tangannya membelai pipi, leher, dan bahu Hinata secara sensual.
"Baju ini sangat pas untukmu."
"Enngh.." Hinata mengerang saat tangan Sasuke meremas dadanya dengan keras. "Sasukehhh"
Hinata mengalungkan tangannya pada Sasuke. Ia mencium Sasuke, sedikit tergesa-tega. Mereka berciuman selama dua menit. Kemudian, ia membiarkan Sasuke mencicipi payudaranya yang terbuka. Bahkan, Hinata menekan kepala Sasuke untuk semakin masuk dalam pelukannya.
"Ssssh.. Ahh, Sasukeh."
Hinata menggelinjang. Tubuhnya melengkung karena nikmat yang Sasuke berikan. Bibir kasar Sasuke memainkan puting Hinata. Menjilat, mengecup, mengulum, menghisap, dan sedikit menggigitnya. Tanpa sadar Hinata memajukan tubunya, membuat bawahnya berbenturan dengan bagian bawah Sasuke.
"Bu-buka sajahh." tangan Hinata menarik handuk yang menutup kemaluan Sasuke. Membiarkan kesukaannya itu terpampang nyata. Menyentuhnya sedikit, membuat Sasuke sedikit mengerang.
Cukup lama mereka memberikan service masing-masing. Sasuke mencumbui kedua payudara Hinata bergantian. Sementara Hinata sedikit mengocok penis Sasuke. Mengurut dan memijatnya.
Tangan Sasuke merambat ke paha Hinata, menarik stocking jaring yang digunakan wanitanya. Membelai-belai lembut paha mulus Hinata sementara mereka sudah saling memagut kembali. Hinata mendesah tertahan saat Sasuke mengelus pelan vaginanya yang masih tertutup.
"Ngghhmm, Sasu..." Hinata menurunkan tangannya perlahan ke dada bidang Sasuke. Menekan puting kecil prianya dan bermain dengannya sebentar. Sasuke mengeluh, darahnya berdesir hebat.
"Aku tidak bisa lagi." Sasuke menyingkirkan bagian dress yang menutupi kemaluan Hinata ke samping. Menyingkapnya. Sasuke bermain sebentar. Mengelus, memasukkan dua jarinya, dan mengocok pelan isi Hinata.
"Ugh.. La-lagi. Lebih dalam..." Hinata mengikuti gerakan Sasuke. Bibir bawahnya digigit, menahan sesuatu yang hendak terlepas.
"Jangan keluar mendahuluiku, Hinata."
Sasuke menarik jarinya yang masuk di dalam Hinata. Lalu, ia memposisikan penisnya. Pelan-pelan masuk ke dalam lubang yang sudah ia nantikan. Sasuke berdesis, Hinata mendesah. Sensasi memabukkan yang selalu mereka suka.
FLOP FLOP
Suara kulit yang menyatu terdengar menggema di seluruh apartemen. Tubuh Hinata dan Sasuke berkeringat. Suhu ruangan yang panas karena penghangat ruangan terasa semakin memanas.
"Hinatah. Aku, akan keluar."
"Ngh.. Sasuke. Ah, aku..."
Sasuke mempercepat gerakannya. Membuat Hinata yang duduk terguncang. Tangannya menumpu pada sandaran sofa. Hingga akhirnya mereka mencapai puncak masing-masing. Hinata menyandarkan tubuhnya pada Sasuke. Menerima itu, Sasuke membelai lembut Hinata-nya.
"Terima kasih sudah datang, Hinata." Sasuke mengecupi bahu Hinata yang bersandar padanya. Lalu, tangannya meraba-raba meja dekat sofa. Mengambil sebuah kotak hadiah.
"Selamat ulang tahun, sayang."
Hinata menegakkan tubuhnya. Terpana pada kotak yang Sasuke ulurkan padanya. Ia benar akan diberi hadiah?
"Terima kasih." Hinata menatap haru kotak yang perlahan ia buka. Tapi, senyumannya luntur saat ia melihat isi kotak tersebut. Sebuah pil jumbo muncul. Hinata bukan tidak tahu, itu seperti alat pemuas wanita. Ia kesal dan melempar kotak tersebut ke samping.
"Hei, kenapa?" tanya Sasuke.
"Kau mengerjaiku!" Hinata memukul Sasuke pelan.
"Lihat dulu." Sasuke meraih tabung kecil seperti vibrator itu. Ia membelah tabung menjadi dua. Dari dalam tabung tersebut ada sebuah gelang perak dengan liontin yang menghiasinya.
"Sini, aku pasangkan." Sasuke meraih lengan kiri Hinata. Mengaitkan gelang yang ia beli untuk kado ulang tahun Hinata. "Cantik."
"Untung belum aku masukkan." gumam Hinata pelan.
"Heee kau benar-benar akan menggunakan alat pemuas itu?" Sasuke tersenyum menggoda. Hinata kesal dan malu di saat bersamaan, membuat prianya terkekeh dan menciumnya lembut.
.
.
"Nee-san!" Hanabi menerobos masuk ke kamar Hinata. Kakaknya hilang lagi, entah kemana. Ia berdecak kesal. Padahal mau minta diajari cara membeli e-book untuk tugas sekolahnya.
Sebelum keluar, Hanabi melihat sesuatu tergeletak di kasur Hinata. Ia meraihnya dan menatapnya sebentar.
"Kenapa kakak punya bando kelinci begini?" Hanabi memakai bando yang sangat bukan Hinata dan berkaca di depan cermin.
