Hetalia © Himaruya Hidekazu
Story © Kira Desuke
Main Pair : USUK (Alfred F. Jones x Arthur Kirkland)
.
.
.
MATCH
.
.
.
"TADI ITU KONYOL!"
"Ya ya, kau benar."
Alfred F. Jones tahu dia hanya perlu bertahan sekarang. Lagipula, dia sangat lelah melihat dua pertandingan tim Amerika berakhir imbang berturut-turut tanpa keunggulan yang bisa menyelamatkan posisi mereka.
"Tadi saat-saat krisis itu hampir saja mereka berhasil! Dengarkan aku, kau bahkan mengakuinya! Aku melihat kau frustrasi juga kan!?"
"Ya, benar."
Tapi, apa yang bisa Alfred lakukan? Timnya telah melakukan yang terbaik dan itu masih sesuatu yang seharusnya dibanggakan. Tim Amerika sudah memberikan perlawanan terbaik mereka, bahkan menjaga hasil seri dengan tim negara pendiri piala dunia itu sendiri!
"Benar, 'kan? Bukan berarti timku tidak memberi dampak sama sekali!"
Alfred memandang dengan malas ke arah pria yang digendongnya sebelum dia menghela napas. Akhirnya dia akan melihat tempat tidur mereka di balik pintu ini. Membawa pria mabuk dari ruang tengah tetap merepotkan bahkan meski dia seharusnya sudah terbiasa melakukan ini hampir di setiap kesempatan. Alfred membuka pintu, lalu melangkah mundur untuk menutupnya. Mantan pengasuhnya itu memeluk lehernya erat, semakin menempel padanya dan dia mulai mengendus leher Alfred dengan manja.
"Arthur," Alfred memperingatkan, tetapi dia tidak benar-benar menghindari Arthur yang semakin menciumnya dengan kuat, "to be fair, kita berdua sama-sama ketakutan saat tim lawan membahayakan tiang gawang satu sama lain." Katanya sambil membaringkan Arthur di tempat tidur. Arthur tertawa seperti anak kecil dan melepas pelukannya sementara Alfred menahan kedua tangan di sisi-sisi wajahnya.
"Yehehe~ itu benar sekali! Timku luar biasa~!"
Alfred terkekeh saat Arthur menarik-narik bajunya yang merupakan jersey tim Amerika di World Cup sekarang, "Itu juga berlaku untukku!"
"Ya, ya, timmu juga sangat hebat, my lad~!"
Arthur menarik bajunya lebih kuat hingga Alfred kehilangan keseimbangan lalu bibir mereka bertemu. Alfred tampak terkejut tetapi dia tahu ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Dia membuka mulutnya dan segera membalas ciuman itu. Arthur memperdalam ciuman mereka, dia mengangkat kepalanya untuk menggerakkan lidahnya lebih baik. Tangannya mengusap tengkuk Alfred sebelum dia meraih sisi-sisi wajah Alfred dan di saat yang sama pria yang lebih muda darinya itu meletakkan tangannya di bawah jersey putih yang dikenakan Arthur.
Helai demi helai rambut Alfred jatuh saat Arthur mengacaknya. Mereka menghentikan ciuman hanya untuk menatap dalam satu sama lain kemudian Alfred melanjutkan dengan lidahnya memasuki mulut Arthur lebih dulu. Arthur menurut dengan antusias, menjilati langit-langit mulutnya, mengundang Alfred untuk melakukan lebih jauh. Alfred mengernyitkan alisnya dan memiringkan kepalanya, memulai ciuman yang lebih liar dan panas, mencicipi lebih banyak alkohol di dalam mulut Arthur.
Ciuman itu terpisah begitu mereka membutuhkan udara. Arthur terengah-engah mengejar napasnya dan menutupi matanya dengan punggung pergelangan tangan. Alfred mengatur napas perlahan dan dia mulai bergerak, mencium tengkuk Arthur lalu menarik kausnya. Arthur masih memiliki beberapa tanda di tubuhnya dari sesi terakhir mereka, Alfred hanya perlu menghisapnya lagi agar tanda itu bertahan lebih lama.
Tubuh Arthur tersentak dan ia mengerang saat Alfred menghisap bagian sensitifnya. Dia segera menemukan rambut Alfred dan menjambaknya, diam-diam meminta pasangannya itu untuk terus turun. Alfred menyadari tonjolan di celana Arthur, dia menyelipkan tangannya lalu menemukan sesuatu yang perlu dia hibur. Alfred menjilat bibirnya dan menggerakkan tangannya dengan cepat, mengurut dan mengocoknya dengan ritme yang telah dia hafal, Arthur mengerang lebih keras saat cengkeramannya pada kaus Alfred semakin erat.
"Berikan padaku," Arthur mengertakkan gigi sebelum dia menarik Alfred dan mencakar punggungnya. Kakinya membelai tonjolan di balik celana Alfred dengan tidak sabar, "ayolah, aku tahu kau sudah siap."
"Tapi kau tidak." Alfred langsung menjawab dengan tegas. Dia menyadari bagaimana Arthur bisa sangat tidak sabar pada saat-saat seperti ini dan perlahan tapi pasti dia belajar untuk menyeimbanginya. Pria yang jauh lebih tua darinya itu bisa berubah jadi anak kecil tidak tahu diri dengan cepat di atas kasur, "I haven't loosen you up yet."
"Kau pikir aku—hah!" Arthur bisa merasakan miliknya melepaskan sedikit pre-cum dan Alfred mengusapnya untuk mendapatkan lebih banyak, sesekali dia juga mengocoknya tanpa jeda. Sebagian cairan itu mengalir jatuh mengenai permukaan lubangnya yang menganga lapar di bawah sana, "berhenti… hah… cukup!"
Alfred menggunakan sperma itu sebagai pelumas untuk memasukkan dua lalu tiga jari ke dalam lubang Arthur. Membukanya lebih lebar, dia tahu Arthur masih membutuhkan persiapan untuk menerimanya meski ini jauh dari pertama kali mereka melakukannya. Alfred menghirup aroma Arthur dalam-dalam sebelum mengeluarkannya sambil membuka mulut untuk menggigit tengkuknya. Arthur mendesis menahan sakit, terkadang heran dengan kebiasaan Alfred menggigitnya meskipun dia harus mengakui bahwa dia tidak membencinya.
Tapi, pertanyaan terpenting di sini adalah kapan dia akan memasukkannya? Arthur bisa merasakan tubuhnya sangat panas dan membutuhkan itu. Dia membuka mata dan melihat Alfred masih mengenakan kacamata sehingga dia melepasnya dan meletakkannya di meja terdekat. Arthur tersenyum kecil sebelum dia mencium mata Alfred yang terpejam, merasakan tubuhnya tersentak setiap kali Alfred menyentuh titik yang tepat.
"My baby... My lovely America..." Arthur menyeringai ketika dia membisikkan nama negara Alfred dan menjilat daun telinga yang memerah di hadapannya, "...kau sudah besar sekarang, adik laki-lakiku yang menggemaskan, maukah kau memasukkannya sekarang?"
Alfred tidak yakin apakah maksud Arthur memang seluruh tubuhnya atau sesuatu yang lain. Namun, kenyataannya dia memang bertambah 'besar'. Dia mengulurkan tangannya dan mengambil kondom yang tersisa di atas merobek bungkusnya dengan gigi dan memakainya. Alfred mengoles cairan Arthur pada permukaan penisnya untuk membuatnya lebih licin. Arthur bersiul riang sembari menunggu dan melebarkan kakinya selebar mungkin setelah Alfred melepas celananya. Dia memiringkan kepalanya, menantikan kedatangan Alfred dengan wajah yang masih merah padam karena mabuk dan panas.
Masih mengenakan kaus timnya masing-masing, Alfred merasa tubuh mereka panas membara. Beberapa jam yang lalu mereka berada di posisi yang berlawanan, berdebat dengan satu sama lain setiap kali tim mereka melakukan kesalahan, menyombongkan betapa bagusnya tim mereka, bahkan mengomel setiap kritik tentang penyelenggaraan piala dunia itu sendiri. Alfred tahu menyiapkan minuman keras adalah ide yang buruk, terutama ketika dialah yang mengundang Arthur kali ini, tapi yah… tidak setiap hari negara mereka berhadapan di piala dunia, kan?
Alfred memasukkan miliknya ke dalam Arthur dan mulai bergerak. Arthur mengerang dengan wajah penuh kenikmatan, dia menarik Alfred yang kembali menciumnya sembari bergerak dengan hati-hati. Alfred memisahkan ciuman mereka lalu berdiri sejenak untuk menyisir rambutnya ke belakang sebelum memegang kedua paha Arthur dan mendorongnya.
Alfred fokus melakukan penetrasi yang dalam, berusaha untuk tidak terburu-buru. Meskipun dia sangat ingin mencapai puncak, dia masih ingin melihat lebih banyak ekspresi pasangannya. Memastikan Arthur menikmati ini seperti yang dia rasakan meskipun dia mungkin tidak akan mengingat semuanya di pagi hari.
"Cepat… lebih cepat... kenapa kau… begitu lambat!?"
Alfred bisa melihat Arthur semakin frustrasi dan tergerak untuk mendapatkan lebih banyak sentuhan di dalam sana. Alfred memegangi pinggang Arthur sebelum mendorong ke dalam lebih keras sampai dia tersentak, "Aku tidak lambat, hanya berhati-hati." Pria yang lebih muda itu tersenyum puas, "Wow, kau sangat mabuk."
Arthur mendesis dengan protes, "Diam… kau pikir ini salah siapa?"
"Salahku, mungkin. Tapi aku pikir kau bisa menahan diri." Alfred tertawa kecil kemudian mengangkat kedua kaki Arthur agar dia bisa mendorong dirinya lebih dalam, "Lagipula, kau tahu sendiri alkohol dilarang di piala dunia ini." Dia berbisik dengan nada serak saat mulai meningkatkan kecepatannya.
Arthur tersentak oleh titik baru yang berhasil dicapai Alfred. Gosh, it felt so good. Dia menarik napas lalu menjawab, "Kita… tidak di sana sekarang. Berkat seseorang, kita jadi tidak bisa pergi karena dia bilang ada pertemuan politik yang kenyataannya hanya mengecek status lemak di tubuh dengan bosnya."
Alfred berhenti sesaat untuk memproses kalimat itu di kepalanya sampai dia membentak kesal, "Hei! Sudah kubilang, THIS IS MUSCLE!"
Arthur mengerang karena gerakan kasar yang tiba-tiba sebelum dia tertawa sinis, "Oh ya? Aku meragukannya." Tangannya membelai lalu bertumpu pada lengan besar Alfred, "Kalau begitu, tunjukkan padaku apa yang mampu dilakukan oleh otot ini."
"Kau benar-benar tahu bagaimana caranya menggunakan mulutmu saat mabuk, ya?"
Arthur tidak bisa menjawab ketika Alfred menarik diri dan membalik tubuhnya hanya untuk menghujam dirinya jauh lebih dalam. Jeritan Arthur teredam oleh bantal. Alfred memeluknya dari belakang dan tangannya mengikuti lekuk pinggang, memberi jejak pada tubuh yang lebih ramping di bawahnya dan itu menguntungkannya. Alfred menghirup wangi cinnamon yang menguar dari tubuh Arthur dari belakang tengkuknya lalu menenggelamkan wajahnya ke rambut pirang pucat yang berantakan.
Alfred bisa mendengar Arthur mengerang di setiap gerakannya. Mengenai titik itu berulang kali sampai kaki Arthur goyah dan tidak bisa lagi menahan posisinya. Alfred membantunya untuk tetap stabil sementara dia terus bergerak untuk mencari kenikmatan bagi mereka berdua. Dia tidak menyentuh milik Arthur yang gemetaran dan terus mencium tengkuknya sampai Arthur menjambak rambutnya kuat. Alfred mengerti tanda itu dan berhenti, dia menunggu Arthur menoleh hingga mata mereka akhirnya bertemu.
Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun dan Arthur hanya perlu membuka mulutnya. Alfred bergerak maju dan menciumnya. Dia bergerak semakin cepat dan fokus pada satu titik yang membuat Arthur mengerang di tengah ciuman mereka. Mereka berpisah lalu Alfred memasukkan kedua jarinya ke dalam mulut Arthur. Arthur mendesah pelan mengikuti ritme gerakan di tubuhnya sementara dia dengan putus asa menggigit jari Alfred, merasakan cairannya sendiri.
Mereka mencapai puncak di waktu yang sama. Arthur terengah keras saat menemui klimaksnya. Alfred tahu dia bisa lebih gentle, tetapi Arthur pasti akan menentangnya. Bagaimanapun sudah bukan rahasia umum lagi siapa yang memiliki nafsu seksual lebih tinggi di antara mereka. Alfred mencium belakang kepala Arthur dan mengerutkan keningnya saat dia datang. Saat kekuatan gigitan Arthur pada jari-jarinnya berkurang, Alfred menarik tangannya dan mengelus penis pasangannya dengan lembut untuk menenangkannya.
"Kau belum selesai, 'kan?"
Alfred tampak terkejut, tetapi dia kurang lebih bisa mengira Arthur akan mendorongnya saat dia hampir mengeluarkan miliknya. Arthur berbalik dan segera duduk di atas Alfred, membuat pria itu mendesis karena kehangatan yang tiba-tiba kembali menjepit dirinya. Arthur terus menggesek tubuh mereka sembari mencari bibir Alfred untuk dicium.
Sebulir keringat mengalir di sisi wajah Alfred saat dia mendengus, "I should have been more careful if I know soccer can get you excited like this."
"It's football, my lad." Arthur terlihat jengkel meskipun pria di bawah baru saja keluar di dalam dirinya—meskipun masih terhalang oleh pengaman, "Where are your rubbers stock? Jangan bilang kau lupa membelinya lagi."
"Hm? My erasers are on the last rack."
Arthur semakin kesal dan dia mengacak-acak rambut Alfred sepenuhnya, "Kau berniat menantangku, bukan?"
Alfred tertawa dan mencium Arthur sekilas, "England, kau ada di rumahku jadi jangan mempersulit dirimu sendiri, okay?" tanyanya pelan sambil memeluk Arthur lebih erat. Dia meremas bongkahan pantat Arthur berharap bisa lebih mengendurkan otot-otot di dalamnya. Seringai sombongnya semakin lebar saat Arthur mengusap lekuk lengannya yang penuh dengan otot terbentuk tanpa sadar.
Arthur akhirnya tenang tapi dia masih kesal sembari memainkan jari-jarinya di atas lengan Alfred, "…Baiklah." Dia menghela napas dan tersenyum kecil, "Aku akan mencoba untuk tidak mempermasalahkan hasil pertandingan yang seri."
"Kau masih berkutat dengan itu?"
"Aku hanya tidak bisa mempercayainya."
"Jeez, kau benar-benar harus lebih dewasa dan berhenti salty."
"Aku tidak ingin mendengar itu dari pria yang kubesarkan sejak dia masih mengompol."
Sekarang giliran Alfred yang merasa kesal dan dia menarik kepala Arthur lebih dekat. Mereka mengacak-acak rambut satu sama lain tanpa menghentikan tatapan maut mereka. Kontes tatapan tajam ini entah bagaimana membuat nafsu mereka semakin gila dan Arthur bisa merasakan Alfred semakin besar atau bagian dalam tubuhnya di bawah sana mengencang.
Arthur menahan desahan yang akan keluar dan menyeringai licik, menikmati saat-saat dimana dia bisa merasakan perhatian penuh Alfred padanya. Bahkan ekspresi marah Alfred membuatnya semakin manis dan Arthur ingin melihat jauh lebih banyak. Rasanya seperti kembali mendapatkan kekuasaan penuh di atas negara ini setelah sekian lama meski hanya untuk sementara.
"Kau seratus kali lebih baik diam saat mabuk, Artie."
Arthur tahu dia tidak membuat kesalahan saat menarik pengaman yang menutupi milik Alfred dan membuangnya asal. Kali ini tidak ada penghalang kehangatan di antara mereka dan dia akan menantikan jersey blue navy ini kotor oleh kekacauannya.
"Itu tugasmu untuk membungkamku."
.
.
.
Mummy don't know
Daddy's getting hot
At the body shop
Doing something unholy
.
- Sam Smith ft. Kim Petras (Unholy)
.
.
.
FIN
.
.
.
Cuma pengen lihat mereka bergumul setelah menonton pertandingan kemaren, tidak ada alasan lain wkwkwk. Berulang kali ngulang lagu Unholy sambil nulis ini hahaha.
Maaf udah lama ga muncul di FFN, memang lagi fokus sama projek yang kebanyakan English fic di Ao3 dan personal hehe. Untuk yang nungguin NUMBERS sebenarnya akuudah update sampai chapter 7 dan coming soon emang rencananya bakal kuubah ke Bahasa walau entah kapan soalnya nunggu tamat dulu sampai chapter 10, kemungkinan tahun depan ehe.
Dan yes, kalian bisa menikmati fic ini di versi English juga tersedia di Ao3 hahaha I'm still learning but I'll do my best!
Anyway, enjoy! Mind to review, please? Thanks before!
