Minato menikah lagi dengan seorang janda beranak satu, Shuri Himejima, atau yang bisa dipanggil Shuri Namikaze. Dia menikah dengannya beberapa waktu yang lalu, setelah melakukan pendekatan selama beberapa bulan lamanya.
Anaknya bernama Akeno Himejima yang sekarang menjadi Akeno Namikaze. Mempunyai paras yang mirip dengan sang Ibu, serta rambut raven panjang persis seperti Shuri.
Dan dirinya punya seorang putra semata wayang, Naruto Namikaze, sosok putra yang dia rawat dari kecil, ibunya yang bernama Kushina Uzumaki meninggal di dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan Naruto yang masih berusia satu tahun.
Saat ini, Minato tengah bercengkrama dengan keluarga barunya, Akeno berusia dua puluh dua tahun, serta anak kandungnya yang masih berusia delapan belas tahun. Minato senang karena dia mendapatkan keluarga baru setelah sekian lama menduda, dan Akeno merasa senang karena mendapatkan seorang ayah setelah ayah kandungnya meninggal dunia.
Dan kehidupan Naruto pun berubah setelah dia mendapatkan ibu serta Kakak baru seperti Shuri dan Akeno.
...
..
.
Naruto by Masashi Kishimoto & Highschool DXD by Ichiei Ishibumi
Warning: Ooc, AU, Typo, Smut, Lemon, Lime, PWP, Incest/Inseki, NTR?
Pairing: Naruto x Shuri x Akeno.
...
..
Mengakrabkan diri.
...
..
Enjoy it!
"Bergaul-lah dengan ibu barumu Naruto," ujar Minato yang saat ini tengah bersiap untuk pergi. "Ayah akan pergi keluar negeri beberapa Minggu kedepan, bergaul-lah dengan mereka."
Naruto menaikkan kedua alisnya. "Baiklah~" balas Naruto, namun nada yang dia keluarkan itu menyiratkan sebuah kebingungan yang tidak di sadari yang lain.
"Oke, ayah akan pergi dulu, sampai jumpa!" Minato mencium kening Shuri, dia kemudian melambaikan tangannya pada Akeno serta Naruto. "Jaga diri kalian."
"Kau juga, Anata."
Dan Minato pun pergi meninggalkan ketiga orang itu di kediaman Namikaze. Naruto mencerna perkataan Minato barusan, apa yang dimaksud dengan bergaul? Apakah dia harus melakukan hal itu?
Sesaat setelah Minato pergi, Akeno dan Shuri masuk ke dalam rumah, di ikuti dengan Naruto yang masih memikirkan itu. Kedua mata birunya menatap kedua ibu dan anak itu dari belakang, tubuh mereka sama-sama seksi, kedua pantat besar itu bergerak saat mereka berjalan masuk.
Naruto tak bisa begitu saja berpikiran mesum, karena dia tahu jika keduanya itu adalah keluarganya sekarang, yah itu untuk saat ini.
"Okaasan, aku akan keluar, Rias mengundangku di acara ulang tahunnya."
Shuri yang mendengar itu tersenyum kecil, dia kemudian mengiyakan untuk mengizinkan anak gadisnya itu pergi ke acara ulang tahun Rias--sahabat baik Akeno. "Hati-hati, pulangnya jangan malam-malam."
"Baik!"
Akeno pun pergi keluar setelah mengganti pakaiannya, dan saat ini Naruto sedang bersantai di kamarnya meninggalkan Shuri yang sedang membersihkan ruang tamu di lantai bawah.
Beberapa saat kemudian, Shuri mengetuk pintu kamar Naruto. "Naruto-kun, apa Kaasan boleh membersihkan kamarmu?"
Naruto yang sedang bersantai saat itu pun membukakan pintu kamarnya, membiarkan Shuri masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu memakai baju kaos tanpa lengan dengan celana training, namun lekuk tubuhnya masih terlihat sangat menggiurkan bagi laki-laki.
Payudara besar yang Naruto perkirakan berukuran seratus dua, lalu perut yang sedikit berlemak, hanya sedikit namun terlihat seksi saat dilihat Naruto, serta yang terakhir kedua bongkah pantat yang besar bak seorang model papan atas.
Naruto mengakui jika ayahnya sangat pintar mencari wanita seperti Shuri ini. Dan Naruto terangsang melihat tubuh Shuri yang masih terbungkus pakaian.
Naruto menahan dirinya sendiri, dia tak mau jika Shuri melihat penisnya yang ereksi dibalik celana yang dia kenakan.
"Naruto-kun, apa kau sudah punya pacar?"
Naruto menoleh setelah mendengar pertanyaan basa-basi dari Shuri. "Belum, aku tak berniat untuk mencari pacar."
"Sayang sekali, padahal Kaasan ingin tahu pacarmu," balas Shuri sembari dirinya terus membersihkan beberapa barang Naruto.
"Tapi jika Kaasan belum menikah dengan tousan, mungkin Kaasan akan aku lamar."
Wajah Shuri merona seketika. "Ara-ara, Kaasan kan sudah tua," balas wanita itu, dia menghentikan kegiatannya sejenak.
"Tidak kok, Kaasan masih muda." Naruto pun duduk di sebelah Shuri, dia ingin mengakrabkan dirinya dengan wanita itu. Naruto mengangkat tangannya, kemudian memeluk pinggul Shuri, jemarinya merayap ke atas hingga sampai pada payudara Shuri.
"E-eh, apa yang kau lakukan pada Kaasan?"
"Tousan bilang jika aku harus bergaul dengan Kaasan, dan Akeno."
Shuri mengerutkan dahinya mendengar perkataan Naruto barusan. "Bergaul?" Naruto mengangguk, membuat Shuri mengerjapkan kedua matanya. Namun sebelum wanita itu mengatakan sesuatu, dia sudah disumpal oleh bibir Naruto, Shuri tak siap dengan apa yang dilakukan Naruto.
Dia hanya pasrah saat bibirnya dicium oleh pemuda itu, kedua payudaranya pun tak luput dari remasan Naruto, pemuda pirang itu merebahkan tubuh Shuri di atas kasurnya, salah satu tangannya yang meremas payudara besar itu pun turun ke bawah hingga merangsek masuk ke dalam celana training milik wanita itu.
Naruto merasakan jika Shuri tak mamakai celana dalam sama sekali, dia pun dengan leluasa menggosok bibir vagina Shuri yang sudah mulai basah.
Shuri mendesah tertahan saat vaginanya mulai di mainkan oleh Naruto. Sementara Naruto mulai mencium leher putih Shuri, memberikan sebuah kissmark di sana.
Shuri memegang lengan kekar putra tirinya itu, dan mencoba untuk menariknya, namun usahanya sia-sia karena tenaga Naruto jauh lebih kuat daripada dirinya.
"Naruto... Kaasan mohon hentikan..."
"Tapi..."
"He-hentikan..."
"Kenapa dihentikan jika bagian ini basah?"
Wajah Shuri semakin dibuat merah, dua merasa malu saat vaginanya sudah sangat basah. "Ka-karena kita tak boleh melakukan ini, ki-kita ibu dan anak."
"Dan tak ada hubungan darah."
"Umm..." Naruto menarik dirinya, dia menatap Shuri yang sedang mengalihkan wajahnya ke arah lain, kedua tangannya langsung menarik celana training Shuri hingga terlepas, Shuri tentu saja terkejut dengan apa yang dilakukan Naruto saat ini.
"Basah kan?"
"..." Shuri menggigit bibir bawahnya, kaos yang dikenakannya pun ditarik ke atas, kedua payudaranya pun terekspos, puting susu yang sudah berdiri tegak itu terlihat menggugah selera bagi Naruto.
"Kaasan?"
Shuri menghela napas pasrah. "Baik, Kaasan izinkan hal ini, tapi jangan katakan ini pada ayahmu ya?"
"Tentu!"
Naruto mulai kembali, dia meremas payudara Shuri, memainkan puting susu yang mulai mengeluarkan cairan putih dari sana. Naruto sedikit terkejut akan hal itu, namun Shuri memberitahunya bahwa itu karena hormonnya yang tak stabil, jadi dia bisa mengeluarkan air susu.
Naruto mengangkat kedua bahunya tak peduli, dia kemudian mengarahkan lidahnya pada vagina Shuri, pemuda itu menjilati bibir vagina Shuri yang sudah basah. Wanita itu mendongak ke atas saat Naruto menjilati vaginanya, Minato tak pernah melakukan ini setelah menikah, pria yang menjadi ayah Naruto itu hanya akan melakukannya sekali, dan tak membuat dia klimaks.
Namun berbeda dengan anaknya yang memperlakukan dirinya dengan berbeda.
Shuri juga merasakan jika lubang pantatnya di tusuk sesuatu oleh Naruto, kedua tangan Shuri meremas kepala pirang itu, kemudian menekannya ke vaginanya. Dia klimaks untuk pertama kalinya.
Tubuhnya langsung terkulai lemas di atas ranjang Naruto, dia seolah takluk di depan Naruto.
"Hyah! Mou! Naruto! Jangan dicubit." Shuri menggembungkan pipinya saat Naruto mencubit perutnya. Naruto hanya tertawa kecil melihatnya, dia pun membuka kedua kaki Shuri, melebarkannya sehingg vagina Shuri terlihat.
Naruto melepas semua pakaiannya, hingga telanjang bulat. Penisnya sudah mengacung tepat di depan vagina Shuri. Pemuda pirang itu menghela napas, kemudian mulai memasukkan benda besarnya ke dalam tubuh Shuri.
"Eh-eh, Na-naaahhh!!!"
Naruto terus mendorong pinggulnya hingga semua penisnya masuk ke dalam tubuh Shuri, dia kemudian menggerakkan pinggulnya. Kedua kaki jenjang Shuri dia pegang dengan pinggulnya yang terus bergerak maju mundur.
Shuri mendesah nikmat saat penis Naruto bergesekan dengan dinding vaginanya. Kedua tangannya meremas kasur Naruto, dia menahan diri agar tak keluar lagi setelah klimaksnya yang pertama.
Namun, cairannya tak bisa dibendung lagi, Shuri klimaks untuk yang kedua kalinya.
"Bi-biarkan Kaasan istirahat!"
"Aku belum keluar."
"Akh! Na-naru... Akh!"
Cairan susu terus keluar dari kedua puting susu Shuri, cairan itu terus keluar memancar bak air di gurun Sahara.
Tubuh Shuri sudah tak kuat menahannya lagi, tubuhnya melengkung ke atas sembari dia klimaks untuk yang ketiga kalinya.
Naruto pun menenggelamkan penisnya dalam-dalam, dia mengeluarkan semua spermanya hingga meluber keluar dari vagina Shuri.
Wanita itu menarik napas sebanyak mungkin setelah dia klimaks untuk yang ketiga kalinya. Sementara Naruto menarik penisnya dari dalam vagina Shuri, dia melihat lelehan spermanya yang keluar dari vagina Shuri.
"Kaasan, bagaimana? Apa ini yang disebut bergaul?"
Shuri langsung bangun dari tidurnya, dia menjewer telinga Naruto. "Ini bukan bergaul, tapi menggauli ibumu, dasar bego!"
"Adududuh!"
-o0o-
"Astaga Naruto, apa kau tak puas?"
"Hm?"
"Ini sudah yang keberapa kali? Dan lihat jamnya sekarang." Naruto melihat jam di dinding kamarnya, jarum jam sudah menunjukkan angka tiga sore, dan dia melakukan hal itu mulai dari jam delapan pagi. "Kaasan tak masalah dengan ini, tapi tahu waktu."
"Maaf Shuri-kaasan." Naruto menarik penisnya dari vagina Shuri. Dia menarik pergelangan tangan Shuri, dan duduk di kursi yang biasa digunakan Naruto untuk mengerjakan sesuatu, sementara Shuri duduk di atas pahanya.
"Melelahkan." Shuri bersandar di dada Naruto, tubuhnya dipenuhi oleh keringat setelah melakukan pergumulan bersama pemuda itu beberapa jam. "Kau tidak lelah sama sekali?"
"Tidak, ini juga aku lakukan karena aku merasa bosan di hari libur ini."
"Lakukan sesukamu deh."
"Sesukaku? Berarti dengan kak Akeno?"
Shuri langsung menatap tajam Naruto. "Hah?! Akeno?! Memangnya dia mau?"
"Lihatlah dia Kaasan, dia ada di pintu kamar."
Akeno yang tertangkap basah karena mengintip pergumulan mereka berdua pun membuka pintu kamar, wajah cantik itu terlihat sangat merona saat melihat sang ibu bersetubuh dengan anak tirinya.n
Shuri yang melihatnya beranjak dari tempatnya, dia menarik Akeno yang sedang berdiri dengan wajah merah merona. "Akeno?"
"A-ada apa Kaasan?"
"Lepas bajumu!"
Naruto menatap Shuri sembari mengerutkan dahinya. "Kaasan?"
"Sudah terlanjur ketahuan Naruto, jadi bagaimana lagi?" Shuri menuntun Akeno untuk membuka pakaiannya hingga dia telanjang bulat, Naruto meneguk ludahnya kasar, penisnya berdiri kembali. Dia seolah tengah melihat sebuah pemandangan yang membuat dirinya tak bisa berkata apa-apa. Shuri menarik Akeno, keduanya berlutut di depan Naruto. "Ikuti apa yang Kaasan lakukan." Akeno mengangguk mengerti.
Shuri mengapit penis Naruto, lalu memberikan sebuah isyarat pada Akeno untuk berada di sisi lain dari penis itu, keempat payudara besar itu mengapit penis Naruto.
"Uhhh..."
Shuri mengeluarkan salivanya untuk membuat licin payudaranya dan payudara Akeno. Ibu dan Anak itu kemudian menggerakkan payudara mereka naik turun, Naruto memenjamkan kedua matanya menikmati titjob yang diberikan keduanya.
"Bagaimana Naruto?"
"Enak kaasan... Uhhhhh..."
Akeno hanya diam sembari terus melakukan hal tersebut. Dia pun menarik dirinya, kemudian mulai berdiri tepat di atas penis ereksi Naruto, wajah malunya pun berganti dengan wajah yang sangat mirip dengan ibunya. Akeno menggigit bibir bawahnya dengan sebuah senyuman terangsangnya, dia mengarahkan penis Naruto ke vaginanya.
Sementara itu, Shuri berdiri dibelakang Akeno, dia meremas payudara putrinya dari belakang.
"Ufufufu..."
"Kaasan, Akeno tertawa sepertimu."
"Ara, mirip sekali ternyata."
Akeno mendorong pinggulnya ke bawah, dia memasukkan penis Naruto ke dalam vaginanya, bibir bawahnya pun dia gigit untuk meredam desahannya. Naruto merasaka sempitnya vagina Akeno, berbeda dengan sang ibu yang sudah agak longgar sedikit karena melahirkan sosok gadis cantik seperti Akeno.
"Uhh, sempit sekali."
"Se-sesak."
Akeno pun menggerakkan pinggulnya naik turun, dia merasakan nikmat yang tidak dia rasakan saat dirinya bersama mantan pacarnya dulu, berbeda dengan pria yang sudah menjadi mantannya, penis Naruto lebih besar dan berurat daripada dia.
Akeno terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat, tubuhnya melengkung saat klimaksnya yang pertama dikeluarkan. Namun, Akeno masih terus melanjutkan gerakan pinggulnya.
Berbeda dengan Shuri, stamina Akeno melebihi wanita itu. Naruto sedikit kuwalahan akan gadis itu, sang ibu pun mengangkat tangannya, tanda dia tak ikutan, Shuri duduk di kasur Naruto untuk beristirahat.
Naruto mengangkat tubuh Akeno, dan meletakkanya di atas kursi kerjanya dia kemudian berjalan ke Shuri, dan mengangkat kedua kakinya.
Naruto memasukkan penisnya ke dalam vagina Shuri, kemudian menggerakan pinggulnya.
"He-hey! Ka-kaasan masih istirahat!"
"Bodoh amat~"
Naruto terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat, desahan-desahan nikmat keluar dari mulut Shuri saat Naruto terus menghujam penisnya ke vagina Shuri.
"Ka-kaasan akan keluar!"
Tubuh Shuri mengejang saat cairannya kembali keluar, Naruto menarik penisnya kembali, kemudian dia beralih ke Akeno yang sedang menunggu. "Naruto?"
"Kak Akeno akan merasakannya kok."
"Eh!?" Naruto mengangkat tubuh Akeno, kemudian memasukkan penisnya ke dalam vagina gadis itu untuk kedua kalinya. Pemuda itu kemudian menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Deshaan nikmat pun keluar dari mulut Akeno, suaranya benar-benar seksi saat di dengar oleh pemuda pirang itu. "Na-naru aku..." Kedua tangan Akeno memeluk erat leher Naruto, dia mengeluarkan cairannya yang kedua.
Naruto pun meletakkan Akeno disebelah Shuri yang sudah mulai membuka matanya.
"Err, bisakah kalian menerima ini?" Dia menarik penisnya dari dalam vagina Akeno, dia memegang penis ereksinya sembari mengatakan hal tersebut. Shuri bangun dari tidurnya, sementara Akeno mencoba untuk bangun, keduanya membuka mulut mereka lalu memberikan akses Naruto untuk menyemburkan spermanya ke wajah mereka.
"Ugh!"
Naruto menyemburkan spermanya tepat di wajah mereka berdua.
-o0o-
Beberapa Minggu kemudian, Minato masuk ke dalam rumahnya, tak lupa dia mengucapkan salam pada penghuni rumah.
Dia segera berjalan ke ruang tamu setelah melepaskan sepatunya.
"Aku pulang!" Dia kembali mengucapkan salam pada mereka, namun dia melihat hal yang berbeda sekarang, Naruto berada di tengah dengan Shuri dan Akeno yang berada di sebelahnya. "Apa yang kau lakukan?!"
"Ka-kan katanya aku disuruh menggauli mereka?"
"Bukan menggauli itu dasar bodoh! Tapi mengakrabkan diri dengan ibu dan kakak tirimu!" Minato melangkah mendekati Naruto, dan memukul wajahnya.
Shuri dan Akeno hanya tertawa kecil melihatnya.
...
..
.
End!
