Disclimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

Boruto yang kini tengah menempuh pendidikan di Jerman mengirim kado hari ayah pada Naruto. Sebuah kado kecil yang cantik.

Tulang garpu, yang mana dalam banyak kepercayaan, diyakini dapat mengabulkan permintaan.

Awalnya Naruto hanya iseng melakukan apa yang putranya itu minta, menarik satu bagian tulang itu dan membuat permohonan, satu hal yang paling ia inginkan di dunia ini.

Siapa sangka pernohonan itu akan jadi nyata?

Siapa sangka jiwa Naruto akan kembali ke masa sebelum Boruto lahir?

Siapa sangka bahwa keinginannya untuk bisa bertemu kembali dengan Hinata akan terwujud?

Siapa sangka permohonan kecil itu akan menghilangkan lembaran pahit masa lalu dan mengubah masa depan?

-Naruto yang datang dari masa depan dengan cinta yang sangat besar pada Hinata. -Hinata yang lugu dan sederhana dalam menyikapi perubahan sikap pria yang ia cintai.

Bagaimana Hinata yang sudah diacuhkan dan ditolak mentah-mentah oleh Naruto menyikapi kembalinya pria itu dalam hidupnya dengan sifat yang 180 berbeda?

Love You Lately

The Mother's Diary Spin-off


.

.

.

.

.

Hinata menatap lesu jam dindingnya yang terasa berdetak begitu lambat. Wanita berambut indigo panjang itu kembali mengelus perut besarnya sembari mendesah malas.

"Huuuhh...ini sangat membosankan..benar kan Boruto?", Hinata kembali mengajak bicara kandungannya.

"Tidak ada yang bisa dilakukan...mau tidur juga belum mengantuk..haaahhh", keluh Hinata yang kini mulai meletakkan kepalanya di atas meja dengan lesu. Sudut matanya tetap melirik malas ke jam dinding.

Tok tok tok

Amethyst Hinata berbinar setelah mendengar suara ketukan di pintu rumahnya yang kedengaran pelan dan ragu-ragu itu. la segera bangkit dan bergegas untuk membukakan pintu bagi orang yang diluar itu. Dalam hatinya begitu senang, membayangkan tentang siapa yang di luar itu.

"Mungkin itu tukang piza yang salah alamat lagi Boruto...lumayan...malam ini kita makan piza gratis..hihihi", Hinata terkikik geli membayangkan dirinya yang kembali mengerjai tukang piza nyasar seperti waktu dua bulan yang lalu.

Ya..singkat ceritanya, waktu itu malam sangat dingin menusuk tulang. Seperti tadi, Hinata juga tengah mengeluh karena kebosanan yang menderanya, namun tanpa diduga seorang pengantar piza datang dengan sepuluh kotak piza pedas ukuran jumbo. Piza boy itu bertanya apakah Hinata yang sudah memesan Piza via online.

Entah setan mana yang merasuki wanita indigo itu, dengan tanpa pikir panjang ia mengangguk. Secara tiba-tiba keinginan makan piza yang amat sangat muncul di diri Hinata setelah melihat sepuluh kotak makanan asal italia itu, alhasil kebohongan nakal itupun tercipta dan wala! Hinata dapat sepuluh kotak piza gratis..karena orang yang memesan piza itu sudah membayar sebelumnya...Keberuntungan bayi...itu menurut Hinata.

la benar-benar terlalu bersemangat membayangkan akan makan piza gratis lagi hingga tanpa sadar setelah ia membuka pintu, wanita berambut indigo itu segera mengulurkan tangannya..bermaksud menerima piza dengan segera, tanpa tahu siapa sebenarnya yang datang.

Sepersekian detik kemudian, Hinata hanya. bisa terpaku pada tempatnya berdiri. Menatap netra sebiru saphire yang ada di hadapannya dengan keterkejutan yang amat sangat.

Pria pirang di hadapannya itu tersenyum lembut menatapnya. Menatap Hinata dengan pandangan memuja, seolah ia adalah berlian ribuan karat yang amat sangat langka.

Dalam sekejap netra saphirenya mengalirkan air mata, pria itu menangis. Naruto Namikaze menangis sambil mendekap erat tubuh seorang Hinata Hyuga, wanita yang sudah ia sia-siakan dan ia tolak mentah-mentah.

Hinata hanya tak bisa berkata apapun. Tubuh wanita itu terbekukan oleh rasa senang dan kebahagian luar biasa yang meledak secara bersamaan dalam dirinya.

Namikaze Naruto, satu-satunya pria yang ia harapkan jadi pendamping hidupnya kini tengah memeluknya erat dengan penuh kasih sayang...entahlah..Hinata hanya senang. Perlahan tangan seputih susunya membalas pelukan sang pria.

Pelukan yang sarat akan cinta dan kerinduan itu berlangsung cukup lama. Kedua insan lawan jenis itu seolah menjadi egois dan tidak ingin bertoleransi pada waktu yang mencoba mengganggu mereka.

Namun tentu saja pelukan itu akhirnya

berakhir, oleh Hinata yang terlebih dulu

melepas pelukannya. Saphire Naruto menatap Hinata lekat. Tangan tan besarnya membelai pipi mulus sang wanita.

"Hinata...", lirihnya.

Naruto Merasakan sensasi seperti terbang perlahan dan stabil di angkasa ketika tangan mungil nan lembut milik sang hime menggenggam tangannya yang tadi membelai pipi wanita itu. Senyuman manis dan lembut terukir di wajah ayunya.

Dengan malu-malu Hinata mulai membelai pipi Naruto. Mungkin sang wanita juga merasakan rindu yang sama dengan sang pria. Netra saphire Naruto kembali mengalirkan air mata, merasakan sentuhan lembut Hinata bagai mimpi yang jadi nyata bagi pria itu.

"Hey...ada apa? Kenapa kau menangis..?", sapuan tangan Hinata yang lembut menyapu pipi tan Naruto, menghapus jejak-jejak kesedihan di wajah pria yang ia cintai.

Naruto menggeleng pelan, tangan tan nya menangkup wajah Hinata, membuat calon ibu berambut panjang itu menatap bingung padanya.

"Apa ini benar-benar kau..? Aku tidak bermimpi kan? Ahaha..ini memang kau"

Cup

Hinata merasakan benda kenyal yang menempel di bibirnya, manis dan lembut. Ciuman Naruto yang entah kapan terakhir kali ia rasakan, kini kembali mendarat di bibirnya.

Hinata sangat senang sekaligus bingung, Senang karena Naruto tak pernah menciumnya selembut ini sebelumnya, pria itu biasanya mencium bibirnya dengan penuh napsu. Bingung karena tiba-tiba pria yang sudah menolak mentah-mentah dirinya dan bayinya ini tiba-tiba ada disini. Hanya satu yang ia pikirkan.

'Apa yang terjadi dengan hubungan Naruto-kun dan Sakura-senpai?

Namun ia putuskan untuk menghilangkan pikiran itu sejenak. Ia hanya ingin ada dirinya dan Naruto saat ini, dan tidak ada tempat untuk orang lain.

~~~~~~~~

Naruto menatap seisi flat kecil Hinata. Tempat ini terlalu kecil untuk bisa disebut tempat tinggal. Hati pria Namikaze ini kembali mencelos menyadari betapa sulitnya hidup yang Hinata jalani ditambah lagi wanita itu sedang hamil, dan hidup sebatang kara.

Hinata tersenyum menatap Naruto yang kini tengah mengamati flat kecilnya. Ia meletakkan segelas sencha di meja kecil di depan pria itu. Naruto dengan sigap membantu Hinata yang terlihat kepayahan hanya untuk sekedar duduk.

"Hati-hati hime..", ujar Naruto dengan nada khawatir.

Rona merah kembali muncul di pipi semulus porselen milik Hinata. Apa tadi Naruto baru saja memanggilnya Hime? Entah apa yang terjadi dengan pria itu. Hinata semakin bingung dan senang sekaligus. Calon ibu itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kukira kau tadi tukang piza yang salah alamat Naruto-kun hihihi",Hinata tertawa kecil. Saphire Naruto membelalak senang.

"Kau ingin makan pizza?" tanya pria Namikaze

itu antusias.

Hinata menggelengkan kepalanya dengan kuat sambil mengibas-ngibaskan tangannya. la jadi bingung kenapa pria ini bisa berpikir begitu.

"Ti-tidak Naruto-kun aku-"

"Ssshhhhhtttt...", ucap Naruto, jari telunjuknya ia tempelkan di bibir mungil sang wanita yang sangat ia cintai itu. Hinata terdiam.

Naruto merogoh kantong jaketnya, meraih ponsel miliknya dan segera menghubungi seseorang.

Hinata menatap hal itu dengan pandangan bingung.

"Moshi-moshi, ini restourant cepat saji K2 kan?"

"Dengar, aku pesan pizza aku mau dalam 5 menit pizza itu sudah sampai di lokasiku sekarang"

"Semua, aku mau semua jenis piza yang ada di menumu itu satu-satu, oh ya..dan juga cathering sehat satu paket"

"Apa? Kau tidak punya cathering sehat? Restourant macam apa kau ini!"

"Tck! Yasudah kirimkan saja pizanya, ingat dalam 5 menit harus sudah sampai!"

tuuuuutt

Naruto mematikan sambungan telponnya. Ia men zatap Hinata dengan pandangan menyesal, membuat calon ibu berambut indigo itu benar-benar kebingungan.

"Maaf hime..restourant sial itu tidak menjual paket makanan sehat..oh atau kucarikan-"

"Eh, tidak usah Naruto-kun..tidak perlu repot-repot...lagipula aku sudah makan kok tadi..", tolak Hinata secara halus.

Dalam hati Naruto merasa sangat lega. Ia pikir Hinata belum makan apapun seharian ini, karena saat dirinya ada di potongan masa lalu Hinata, ia tidak pernah melihat wanita itu makan, Sepanjang hari Hinata hanya bekerja dan terus bekerja.

"Benarkah? Kau makan apa Hime?"

"Ummm..Sup Miso"

"Dan..?"

"Dan?" tanya Hinata bingung.

"Hanya sup miso?"

Hinata menangguk sembari tersenyum manis. Naruto benar-benar merasa sangat tidak berguna sekarang. Dalam kondisi Hinata saat ini, harusnya wanita itu makan dengan porsi dua kali lebih besar dari sebelum ia hamil dulu, asupan gizinya juga harus cukup dan tidak boleh kurang.

Narutolah yang seharusnya selalu ada untuk mengawasi dan menjaga pola makan Hinata, tapi jangankan menjaga pola makan Hinata, dirinya selama ini bahkan tidak pernah mengingat wanita itu. Ia merasa benar-benar brengsek dan tidak berguna, lebih buruk dari sampah.

"Itu tidak cukup hime..kau harus makan makanan yang bergizi dengan porsi yang lebih besar dari sebelum kau hamil dulu...supaya bayi kita sehat",ujar Naruto panjang lebar sambil mengelus perut besar Hinata. Ia bahkan meletakkan kepala pirangnya di perut wanita indigo itu.

Hinata terkejut bukan main. Apa Naruto baru saja berkata 'bayi kita'? Tapi bukankah Naruto tidak mengakui bayinya? Sebenarnya apa yang terjadi?. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepala Hinata.

"Tapi Naruto-kun...kau kan-"

Tok tok tok

"Ini pengantar piza.."

Terdengar suara ketukan pintu yang diiringi suara seorang pria yang mengaku sebagai pengantar piza. Hinata hendak bangun dari duduknya dan membuka pintu, tapi Naruto

keburu mencegahnya. "Aku saja yang bukakan hime..kau duduk saja

ya.."

Cup

Naruto mengecup kening Hinata, kemudian segera bergegas membuka pintu.

Hinata sejujurnya sangat bingung dengan sikap pria itu yang berubah 180. Tapi entah kenapa Hinata ingin sekali menjadi egois dan tidak mau memikirkan segala kemungkinan buruk di balik berubahnya sikap Naruto, ia hanya ingin bersama pria itu walaupun hanya sekejap saja.

Walaupun pria itu akan kembali menghianatinya. Hinata tidak akan peduli. Hinata hanya sangat mencintai pria itu, dan tidak mau peduli dengan semua keburukannya.

Dalam beberapa menit, Naruto yang sudah membayar Piza Boy itu segera mentutup pintu depan. Pria pirang itu berjalan menuju Hinata sambil membawa beberapa kotak piza, tak lupa senyum memuja yang ia tujukan pada Hinata.

"Hime..ini piza nya...kusuapi ya?"

Tanpa menununggu persetujuan Hinata, Naruto segera menyuapkan piza yang sudah dipotong kecil-kecil itu ke mulut Hinata.

Hinata tersenyum. Menikmati setiap suapan Naruto dengan begitu bahagia. Seolah semua kebahagiaan di dunia sudah jadi miliknya.

.

.

.

Naruto terkikik geli. Deru napas Hinata yang sedang tertidur kedengaran sangat lucu. Naruto memainkan rambut indigo Hinata yang terurai panjang, mencium harumnya helaian indigo itu.

"Hehe, terkadang aku berpikir..apa isi kepalamu itu Hime...", Naruto menyentil pelan jidat Hinata, membuat wanita itu menggeliat tak nyaman dalam tidurnya.

"Membiarkan aku ada di rumahmu setelah semua yang kulakukan padamu...bukankah itu tidak benar?", lirihnya lagi. Naruto kini mulai merengkuh tubuh Hinata.

Cup

Naruto mengecup kening Hinata lama. Meresapi dan merenungkan segala kesalahannya pada wanita yang sudah mencintainya dengan tulus itu.

"Kebaikan, ketulusan, dan kesederhanaanmu...aku mencintai semua itu Hime..", Naruto kini membelai pipi gembil Hinata.

"Aku akan membawamu pulang.."

.

.

.

.

Namikaze Mansion 06.00 AM

"Lihat, dia membuka matanya"

"Sshhh diamlah Kushina, kau bisa membangunkannya"

"Kau ini bagaimana Minato, kau sendiri juga berisik kan!"

"Tou-san dan Kaa-san berisik sekali sih!"

"Kamu juga berisik tahu!"

"Nggghh"

Hinata mengerang, kelopak matanya yang semula terpejam erat kini terpaksa membuka karena suara kasak-kusuk orang-orang yang mulai membagunkannya. Yang jadi pertnyaan sekarang adalah..

Siapa orang-orang ini? Bukankah dia tinggal sendirian?

"Ya Tuhan!",pekik Hinata kaget sambil memeluk guling. Kushina, Minato dan Naruto terkikik geli dengan reaksi terkejut Hinata. Wanita

berambut indigo itu kini mulai meneliti

wajah ketiga Namikaze itu.

"A-aku-"

"Sssshhhhhhhhh, kau tidak perlu bicara apapun nak..kami sudah tahu semuanya..tidak apa..semua akan membaik mulai sekarang..",ujar Kushina dengan nada keibuannya. Tangannya mengusap surai indigo Hinata dengan lembut.

"Tapi-"

"Kau jangan khawatir Hinata-chan..aku sudah memberi pelajaran pada si bodoh itu, dia tidak akan menyakitimu lagi",ujar Minato sambil melirik Naruto yang wajahnya sudah bonyok seperti jambu yang jatuh dari pohon dan membentur tanah.

"Naruto-kun!",pekik Hinata kaget, mendapati pria yang sangat ia cintai kini babak belur.

Hinata berlari menuju Naruto, mengusap wajah kekasihnya itu dengan khawatir.

Sekarang Kushina dan Minato makin yakin bahwa tidak ada wanita yang lebih baik dan lebih pantas untuk bersama putra mereka selain Hinata. Naruto sangat beruntung.

"Bagaimana bisa begini..?", lirih Hinata, wanita itu menangis di dada bidang Naruto.

"Hey hey..kenapa kau menangis..? Ini hanya...umm..pertengkaran kecil antara ayah yang galak dan anak lelakinya yang nakal, tapi kau tidak perlu khawatir..sekarang kami sudah baikan..benar kan ayah?", Naruto melirik Minato, sedangkan yang dilirik hanya mendesah pasrah.

"Lihat, benar kan?"

Hinata menatap Minato dan Kushina dengan senyum manis yang tidak pernah absen dari wajahnya yang tak kalah manisnya. Kushina dan Minato balas tersenyum.

"Hey, apa kita akan diam di sini terus? Makanan di bawah nanti jadi dingin Iho..", ujar Minato.

"Ya ya..ayo kita makan Hinata-chan..",ajak

Kushina.

Tanpa menunggu jawaban Hinata, Kushina langsung menggandeng calon ibu berambut indigo itu dan membawanya menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan. Sementara Minato dan Naruto mengekor pada kedua wanita itu.

"Hati-hati turunnya Hinata-chan..",ujar Kushina sambil tetap menggandeng tangan Hinata.

.

.

.

.

.

Setelah sesampainya di ruang makan.

"Ayo makan Hinata-chan..kuambilkan ya..", tawar Kushina.

"Tidak per-"

Lagi-lagi tanpa menunggu jawaban Hinata, Kushina berbuat seenaknya. Ibu berambut merah menyala itu mengambil piring yang agak besar.

Amethyst Hinata membulat sempurna ketika Kushina mulai menyendokkan nasi dengan porsi yang tidak kira-kira bayaknya ke piring itu.

"Ba-san-"

"Kau lupa ikannya Kushina..",ujar Minato sambil menambahkan dua ekor salmon asap ke atas piring berisi nasi segunung itu. Hinata jadi ingin menangis melihat makanan porsi jumbo itu.

"Oh oh! Sayurnya juga belum", Naruto menambahkan beberapa sendok sayuran ke piring itu. Baiklah..sekarang Hinata ingin pingsan saja.

"Wah..kalian berdua benar..sekarang makanan ini sudah lengkap...Nah..makanlah Hinata-chan..", Kushina meletakkan makanan porsi rasaksa itu di depan Hinata. Wanita berambut indigo itu menelan ludahnya dengan susah payah.

"Ah..sa-saya sudah makan..",ujar Hinata, berusaha menolak secara halus.

"Kapan?",pekik ketiga Namikaze itu secara bersamaan, bukankah Hinata baru saja bangun? Memangnya kapan wanita itu makan?

"Kemarin.."jawab Hinata enteng.

Ketiga Namikaze itupun sweatdroop seketika. Mereka saling bertatapan dengan pandangan yang entah apa artinya.

"Ya itu kan kemarin...sekarang kau harus makan lagi..",ujar Kushina sambil tersenyum, menatap Hinata penuh harap, begitu juga dengan Minato dan Naruto.

Baiklah, Hinata tidak bisa mengelak lagi sekarang. Dua ikan salmon di piringnya seolah bergoyang-goyang dan mengejeknya.

'Ayo makan kami...dan kau akan jadi sangat gendut..."

'Enak saja! Gen ku itu lipid resistant tau! Aku tidak akan gendut walau makan sebanyak apapun!'Awas saja kau ya, aku akan memakanmu sampai habis tak bersisa...!!',batin Hinata membantah.

"Baiklah...ittadakimasu-"

"Tunggu!",pekik Naruto.

"Hm?"

"Aku akan menyuapimu..."

Pipi Hinata merona seketika. Pria yang tadinya bahkan tidak pernah bicara panjang padanya ini, kini jadi begitu perhatian padanya. Hinata senang, tapi Hinata juga bingung. Apa ini baik atau buruk untuknya?

Tapi untuk saat ini Hinata tidak ingin memikirkan hal itu dulu. Jika ini memang hanya akan bertahan sementara, Hinata ingin dalam waktu yang singkat ini, dia bisa merasakan cinta Naruto untuknya. Menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Hinata tersenyum senang saat Naruto menyuapinya dengan penuh kasih sayang.. Naruto sangat menyukai itu. Ia ingin Hinata terus tersenyum dan tidak pernah bersedih lagi.

Naruto memang tidak tahu apakah harapannya akan bertahan selamanya atau justru hanya bertahan sementara, tapi jika memang hanya sementara, ia ingin dalam singkatnya waktu itu..Hinata mendapat semua kebahagiaan yang layak ia dapatkan.

"Terimakasih untuk makanannya Ba-san, Ji-san..", ujar Hinata setelah makanannya habis.loh? Habis?

Wanita itupun berusaha berojigi dengan

susah payah, mengigat kandungannya yang

sudah menginjak usia 6 bulan. "Tidak!",pekik Kushina dan Minato sambil mengerucutkan bibir mereka.

"Hm?". Hinata sangat bingung sekarang.

"Kau harus memanggil kami Tou-san dan Kaa-san",pinta Minato, Kushina mengangguk membenarkan.

Hinata jadi gugup sendiri. Memanggil ayah dan ibu Naruto dengan sebutan Tou-san dan Kaa-san, bukankah itu artinya ia sudah jadi istrinya Naruto?

Tidak tidak! Hinata menggeleng kuat. Dia tidak akan berpikir kekanak-kanakan seperti itu. Ia tahu pasti dimana posisinya, dan dia tidak akan meminta lebih.

"Ah..baiklah..Tou-san, Kaa-san..trimakasih untuk makananya.."

"Itu sudah kewajiban kami Hinata-chan.." "Kalau begitu saya permisi pulang dulu-"

"Tidak!!!",pekik Kushina, Minato, dan Naruto.

Ketiga Namikaze itu memeluk kaki Hinata, berusaha mencegahnya melangkah pergi. Wanita berambut indigo itupun memekik kaget.

"Jangan pergi Hime...",lirih Naruto.

"Ya..jangan pergi Hinata-chan..", lirih Minato.

"Kau mau pulang kemana..? Ini kan rumahmu..", lirih Kushina.

"Tapi kan-"

"Tidak ada tapi-tapi, ayo kita bawa dia", ujar Naruto. Minato dan Kushina mengangguk.

Hinata memekik kaget ketika ketiga Namikaze itu mulai mengangkat tubuhnya dan membawanya kembali ke kamar tempatnya tidur semalam.

'Hehehe aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku lagi Hime...aku akan membuatmu benar-benar bahagia'

.

.

.

.

.

.

"Naruto-kun..boleh kubuka mataku sekarang?",tanya Hinata sambil berusaha mengintip dari syal yang membalut kedua matanya.

"Belum sayang, kau baru boleh membuka mata setelah kuperintahkan, mengerti?", ujar Naruto sambil mengencangkan syal yang membalut mata Hinata, kemudian mencubit hidung bangir wanita itu dengan gemas.

"Aww, terserah kau sajalah...asal kau senang aku juga senang...",ujar Hinata dengan senyuman manis andalannya.

"Kau memang yang terbaik Hime...sekarang pegang tanganku ya..kita jalan pelan-pelan menuju kejutanmu"

"Kejutan? Aku tidak suka terkejut", kata-kata Hinata tadi praktis membuat pria Namikaze ini sweatdroop.

"Berhenti mengatakan hal yang membuatku ingin memakanmu sekarang hime..", ancam Naruto. Hinata segera membuat gerakan seperti mengunci mulut dan membuang kuncinya.

"Itu baru pacarku..sekarang kita mulai jalan ya..?", Hinata mengangguk.

Kedua pasangan yang sudah melewati badai besar dalam kehidupan asmara mereka itupun melangkah perlahan menuju sebuah tempat. Tempat yang sudah disiapkan Naruto, khusus untuk wanita yang sangat ia cintai itu.

Ini mungkin agak terlambat..tapi kuharap ini akan jadi momen yang tidak terlupakan dalam hidup kita hime...awal dari perjalanan baru kita berdua..ups, bertiga.."

"Nah..sudah sampai.."

"Waaaahhhh indah sekali..",ujar Hinata takjub.

"Apanya yang indah, matamu kan masih tertutup",ujar Naruto sweatdroop karena kelakuan ajaib Hinata.

"Hehe gomen gomen...sekarang boleh kulepas kan?"

"Biar aku yang membuka syalnya.."

Hinata mengangguk setuju. Naruto melepas syal yang menutup mata Hinata dengan perlahan. Amethyst wanita Hyuga ini membulat sempurna mendapati apa yang ia lihat di depannya.

Atmosfer romantis, Satu set meja untuk romantic dinner, hiasan lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip...semuanya sangat indah. Sekarang Hinata benar-benar merasa menjadi pemeran utama wanita dalam ftv roman yang selalu ia tonton setiap pagi.

"Sugoii..." ujarnya.

"Kau suka? Ini semua kusiapkan khusus untuk wanita paling istimewa dalam hidupku..",ujar Naruto sambil menggenggam erat tangan Hinata.

"Siapa? Sakura-senpai?", tanya Hinata dengan polosnya.

Pertanyaan Hinata yang satu ini praktis membuat Naruto seperti tersambar petir di malam yang indah ini.

"Maksudku itu kamu Hime..., kau yang paling istimewa dalam hidupku",ujar Naruto sambil menatap kedua amethyst Hinata dengan lembut.

Rona merah kembali tercetak di wajah cantik wanita berambut indigo ini. Hinata tidak pernah merasa begitu berharga, begitu dicintai, dan begitu diinginkan seperti ini...Ia sangat bahagia sekarang, terutama karena Naruto lah yang sudah membuatnya merasakan hal itu.

"Duduklah Hime.."

Dengan hati-hati, Naruto membantu Hinata duduk di kursi yang sudah ia siapkan sebelumnya. Pria itu kemudian duduk bersimpuh di depannya dan sekali lagi menggenggam tangan mungil semulus porselen milik Hinata.

"Ini mungkin akan kedengaran sangat bullshitt bagimu Hime, mengingat betapa aku sudah mengacuhkanmu dan memperlakukanmu dengan tidak pantas selama ini..." ujar Naruto dengan penuh keseriusan.

Saphirenya pun tak pernah lepas dari amethyst sang wanita pujaan. Apa yang pria itu lakukan benar-benar membuat Hinata terlalu bahagia. Seperti dirinya terbang bebas menuju angakasa.

"Naruto-kun..."

"Aku tahu aku sudah keterlaluan padamu, membuatmu terluka dan terus terluka tanpa pernah sekalipun berpikir betapa susahnya kehidupan yang kau jalani..", Naruto memberi jeda pada ucapannya. Satu tangannya yang bebas merogoh sagu jasnya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru berwarna hitam.

Mutiara lavender milik Hinata membelalak kaget ketika Naruto membuka kotak itu yang ternyata berisi cincin berlian. Cincin berwarna silver yang unik dan indah.

"Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku padamu..meskipun aku tau maaf saia tidak cukup...meskipun hal itu tidak saja tidak cukup...meskipun hal itu tidak akan bisa menghapus semua luka yang sudah kugoreskan dalam hidupmu..",lirih Naruto. Saphirenya yang meneduhkan itu kini mulai mengalirkan air mata.

"Naruto-kun kau.."

"Aku tahu ini memang egois...tapi aku ingin melamarmu Hime..aku ingin kau jadi pendamping hidupku, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu..aku ingin malaikat sepertimu mengubah hidupku yang tidak berarti dan hampa menjadi lebih bermakna.."

Naruto kemudian mengambil gitar yang sudah ia siapkan di bawah meja makan malam mereka.

"Aku tahu aku memang tidak pandai menyanyi...aku hanya ingin menyanyikan sebuah lagu untukmu..entah akan kedengaran bagus atau tidak, yang jelas isi lagu ini..adalah isi hatiku tentangmu..Hime..", ujar Naruto yang membuat Hinata merona hebat.

Dengan penuh penghayatan, Naruto memetik dawai-dawai gitar itu. Bibirnya dengan lancar melantunkan lagu yang khusus ia tujukan pada Hinatanya.

Lagu singkat namun sangat bermakna bagi Hinata itupun berakhir. Naruto meletakkan gitarnya. Mengambil kembali kotak cincinya dan membukanya lebar-lebar di depan Hinata. Bibirnya kembali mengucapkan kata-kata yang mampu membuat calon ibu berambut indigo itu merasa seperti ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya.

"Hinata..will you marry me? Do you wanna be my wife, my other half, and my destiny?", ujar Naruto lantang, penuh keseriusan, dan tanpa keraguan.

Hinata tertawa kecil. Tanpa Naruto duga, wanita itu menutup kotak cincin yang Naruto berikan untuknya. Saphire Naruto membelalak kaget. Seperti

tersambar petir dan dihujam serpihan kaca yang ribuan jumlahnya. Hal yang ia takutkan kini benar-benar terjadi di depan matanya. Hinatanya menolaknya...Hinatanya membencinya...Sekarang rasanya Naruto ingin mati saja..

Hinata mengambil gitar Naruto tadi. Membuat pria itu membelalak bingung. Jari-jarinya yang lentik dengan lihai memetik dawai-dawainya. Tak lupa bibir mungilnya yang indahpun ikut melantunkan lagu.

"Hi-hime..kau.."

Hinata kemudian membuang gitarnya. Dalam sepersekian detik, wanita indigo itu langsung memeluk erat tubuh sang kekasih.

Grep!

"Naruto-kun..tanpa kau melakukan semua ini pun..aku pasti mau menjadi istrimu..perlu kau tahu bahwa menjadi pendamping hidupmu adalah impianku sejak lama...", lirih Hinata sambil mengeratkan pelukannya pada Naruto.

Saphire Naruto mengalirkan air mata haru. la sangat bahagia bahwa Hinata ternyata menerima lamarannya. Ia sangat bersyukur bahwa dirinya adalah pria paling beruntung di dunia karena bisa memiliki cinta tulus Hinata.

Naruto bersumpah bahwa ia tidak akan melakukan hal bodoh lagi, ia tidak akan menyakiti Hinata lagi. Naruto berjanji..dalam hidupnya, Hinata hanya akan merasakan kebahagiaan..hanya kebahagiaan.

"Apa ini artinya kau menerima lamaranku Hime..?" tanya Naruto yang kemudian membalas pelukan Hinata.

"Tentu saja aku menerimanya..memangnya kau tidak bisa bahasa inggris? Tau begitu aku tidak menyanyikan lagu itu tadi", ketus Hinata sambil memukul punggung Naruto dengan gemas.

Hinata melepas pelukannya pada Naruto, menatap pria itu dengan kesal sambil mengembungkan pipinya. Kelakuan Hinata itu benar-benar membuat Naruto gemas dan ingin mencubit pipi wanita itu.

"Hehe..gomen gomen...aku tahu artinya kok..."

"Apa?"

"Intinya kau mencintaiku kan?", ujar Naruto dengan pedenya.

Dalam sekejap Naruto berhasil mengeksekusi jarak anatara bibirnya dan bibir sang wanita. Mencium bibir Hinatanya dengan sangat lembut dan penuh cinta.

Kedua insan itu memejamkan mata, merasakan hembusan angin yang seolah membuat mereka semakin larut dalam ciuman lembut itu.

To Be Continue