Sthricynix, In


Eyes of God and Satan

.

Naruto x Highschool DxD


Rembulan bersinar terang tanpa awan menghalangi. Pemuda berambut hitam tersebut berjalan dalam lamunannya. Setidaknya sudah dua bulan lamanya, ketika dia pertama kali tiba di dunia ini. Uchiha Sasuke, seorang Shinobi dari desa Konohagakure, kini telah pergi dari dunia lamanya, untuk sesuatu yang harus diselesaikan di dunia baru ini.

Dari cerita yang disampaikan Kaguya, bahwa ada satu kekuatan mahadasyat yang bahkan berada diluar ambang batas kemampuan sang dewi kelinci. Sebuah kekuatan yang berpotensi untuk menghancurkan tatanan multisemesta. Dan berdasarkan hal itu pula, Naruto dan Sasuke harus berkelana ke dimensi lain dimana tekanan kekuatan tersebut terasa paling kuat. Naruto telah memilih dunianya, begitu pula dengan Sasuke.

Sasuke menyadari, atmosfir dari dunia ini cukup berbeda dalam arti yang menguntungkan Sasuke. Dimana, pemuda bermata hitam itu menyadari bahwa aliran Chakranya telah di- alter secara otomatis oleh sebuah kekuatan yang tidak dia ketahui, sehingga membuat penggunaan jutsunya memakan sedikit sekali Chakra, serta penyimpanan Chakranya yang juga membuncah drastis. Membuat Sasuke berpikir, apakah ini yang selama ini dirasakan Naruto sebagai Jinchuuriki? Pasokan stok Chakra tanpa batas yang membuat Naruto bisa menggunakan ribuan Rasengan sekali jalan tanpa memperdulikan persediaan Chakranya.

Dari dua bulan berada di dunia ini, Sasuke telah berhasil mengumpulkan cukup informasi mengenai medan asing yang baru saja dimasukinya. Dia berada di satu tempat bernama Jepang, tepatnya suatu prefektur, atau desa –jika kau menyebutnya di Konoha– yang bernama Kuoh. Sebuah daerah yang juga menggunakan bahasa yang sama dengan apa yang Sasuke gunakan selama ini. Hanya saja, dengan dialek serta istilah-istilah baru yang cukup asing untuk Sasuke.

Mayoritas dari penduduk di dunia ini merupakan manusia biasa, tidak memiliki kekuatan apapun, dan sangat damai. Sebuah situasi yang sangat berbeda apabila dibandingkan dengan dunianya dulu. Sasuke mengetahui jika menurut beberapa penduduk yang sempat ia temui dan juga beberapa –perkamen– / buku yang ia baca, bahwa dahulu sekali di Jepang, eksistensi Ninja terbukti ada dan diakui. Membuat Sasuke berfikir, apakah dia terlempar di suatu dimensi yang merupakan masa depan dari dunia Ninja? Akan tetapi, fakta bahwa deskripsi Ninja yang dibaca Sasuke, cukup jauh berbeda dengan dunia Shinobi yang dia kenal, meskipun beberapa dokumen juga persenjataan seperti Kunai dan Shuriken ada di dunia Ninja masa lampau.

Dan mayoritas dari para penduduk adalah manusia biasa tanpa kekuatan. Yang berarti, ada sekelompok kecil dari para pemilik kekuatan, dimana Sasuke sudah menyadari keberadaan beberapa dari mereka. Namun, dari observasi Sasuke, eksistensi dari para makhluk berkekuatan ini merupakan rahasia yang tertutup dengan sangat rapat hingga tidak diketahui sama sekali oleh para manusia biasa.

Atas dasar alasan itu pula, Sasuke merahasiakan kekuatannya. Statusnya sebagai satu dari dua Shinobi terkuat di dunia lamanya, berhasil ia tutup dengan baik. Setidaknya sejauh ini. Selama ini Sasuke tinggal di sebuah gua seorang diri. Sasuke tidak mengeluh akan hal itu. Sudah menjadi hal yang biasa selama pengembaraan Sasuke di kehidupan sebelumnya sebagai nukenin. Gua yang cukup nyaman di pinggiran kuoh tersebut, telah menjadi tempat tinggal Sasuke dalam dua bulan kebelakang. Untuk kesehariannya, Sasuke akan berkeliling kota untuk mencari informasi mengenai dunia ini, serta makhluk-makhluk berkekuatan yang cukup asing di bagi Sasuke.

Makhluk-makhluk berkekuatan di dunia ini, cenderung memiliki pancaran emosi yang mutlak. Membuat Sasuke cukup bisa dengan mudah membedakan beberapa dari mereka. Ada beberapa makhluk dengan pancaran energi jahat yang sangat kuat. Dan Sasuke sering memperhatikan makhluk-makhluk tersebut, dan kadang sesekali membunuh makhluk jahat yang ingin mengusik kedamaian dari para manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan.

Sasuke juga sering menemukan makhluk asing, serta manusia yang memiliki kekuatan. Akan tetapi, berkebalikan dengan makhluk sebelumnya, yang ini memancarkan emosi putih yang tulus. Selalu memberikan kebahagiaan kepada orang sekitarnya. Dan sang Uchiha bisa merasakan itu.

–Namun kedua konsep tersebut tidak berlaku untuk manusia aneh di depan Sasuke saat ini.

"Ha? Siapa kau, brengsek?"

Sasuke memandang tajam pria didepannya dengan tatapan dan posisi siaga. Genggamannya sudah dalam posisi yang pakem untuk sigap meraih pedang. Perlahan, bola mata hitam Sasuke berputar dengan pelan sebelum berubah warna menjadi merah darah.

"Aku tanya sekali lagi. Siapa kau, brengsek?!"

Dihadapan Sasuke berdiri satu orang pria berambut perak dengan pistol –nama dari senjata penembak yang baru saja Sasuke pelajari– di tangan kanan, serta sebuah pedang aneh bercahaya putih di tangan kirinya. Sasuke meyakini bahwa energi yang memancar dari tubuh pria itu, adalah energi yang seharusnya berwarna putih. Sebuah kekuatan yang selama ini Sasuke kenal dengan kekuatan kebaikan. Akan tetapi, tidak sedikitpun pancaran emosi dari pria itu yang menunjukkan kata "baik". Sebuah hal yang menurut Sasuke salah, sangat salah.

"Aku minta kau menurunkan perempuan itu." –Sasuke berucap dengan hati-hati.

Pria tadi kemudian memandang Sasuke dengan tatapan aneh dan tidak percaya. Kemudian menyuarakan dengan lantang ketidaksukaannya. "Hah?! Dan kenapa aku harus menuruti perkataan orang asing sepertimu?!" Pria tersebut kemudian menggunakan pistol di genggamannya untuk menunjuk seorang gadis dengan pakaian biarawati yang saat ini sedang melayang di udara, seakan tercekik dan diangkat oleh sebuah tangan besar yang tidak terlihat. Sasuke dapat melihat jelas wajah kesakitan dari gadis berambut pirang tersebut dan air mata yang sedari tadi mengaliri pipinya.

Pria dengan pistol tadi melanjutkan dialognya, "Perempuan ini adalah biarawatiku, dan aku adalah pastornya! Sudah seharusnya dia mematuhi perintahku!" –kemudian mengangkat dan mengayunkan tangannya, hendak menghajar wajah gadis itu dengan pistol besi di tangannya, "YANG AKU LAKUKAN HANYALAH MEMBERI PELAJARAN KEPADA BIARAWATI TOLOL IN– "

Tepat sebelum pistol sang pastor mengenai wajah sang gadis dengan kasar, tiba-tiba saja biarawati tersebut berpindah tempat di sebelah Sasuke. Berteleportasi dan bertukar posisi dengan sebuah balok kayu besar yang kini berada di hadapan sang pastor. Tangan sang pastor yang sudah kepalang bergerak cepat, kemudian menghantam kayu tersebut dengan keras. Membuat sang pastor melukai tangannya sendiri.

"AAAAARGGGGHHHHH! BAJINGAN!!!" Pastor tersebut memegangi tangan yang sepertinya terkilir tersebut. Kemudian menatap Sasuke, dengan mata kiri yang berpendar keunguan di tengah gelapnya malam. Jujur, kedua mata Sasuke yang bersinar tersebut cukup membuat sang pastor bergidik. Namun, tetap saja dia telah kalut dalam emosi dan kemudian mengamuk sejadi-jadinya. "AKU AKAN MEMBUNUHMU DISINI JUGA!"

Sasuke tetap bersikap siaga dan tenang. Tanpa menoleh, dia kemudian berbicara kepada biarawati di sebelahnya. "Aku akan memindahkanmu keluar gudang ini, setelahnya lari dan carilah tempat yang aman."

Biarawati tersebut kemudian mengangguk kemudian berucap "Terima–"

Sebelum akhirnya dia berpindah keluar gedung secara tiba-tiba.

"–kasih."

Sempat kebingungan karena teleportasi yang mendadak, dentingan besi dari dalam gudang kosong tersebut menyadarkan sang biarawati dari lamunannya. Tidak ingin menyianyiakan fakta bahwa dia telah diselamatkan, gadis itu kemudian berlari sekencang-kencangnya. Dia bukan penduduk negara ini, dia bahkan baru pertama kali tiba di kota ini. Dia tidak yakin memiliki tempat untuk bersembunyi atau tidak, namun satu hal yang pasti, dia harus menjauh sejauh mungkin dari gudang tersebut.

'Aku tidak tahu siapapun kau. Tapi Tuhan, tolong lindungi pria yang telah menyelamatkanku tadi', gumam sang biarawati memanjatkan doa dalam hatinya.

Mata kiri Sasuke masih berpendar di gelapnya malam. Kemampuan sensorik yang jadi salah satu kemampuan dasar Rinnegan, memberitahunya bahwa sang gadis sudah berada cukup jauh. Sasuke kemudian memandang pastor yang saat ini berusaha menekan pedang bercahayanya yang dapat Sasuke tahan dengan mudah menggunakan Tantonya.

Sadar serangannya dapat dimentahkan pastor tersebut mengangkat kemudian memutar arah tebasan pedangnya. Berusaha membelah Sasuke dari arah samping. "HEAH!"

JRASHHHHH~!

Pastor tersebut menyeringai, mengetahui dia berhasil menebas Sasuke. Siapapun pemuda berambut hitam yang menjadi lawannya kali ini, sang pastor yakin bahwa pemuda tersebut tetaplah manusia. Dan tidak ada manusia yang akan bertahan hidup apabila terkena tebasan pedang cahaya miliknya. Pastor tersebut kemudian tertawa–

–Untuk kemudian menyadari bahwa Sasuke yang terbelah, tiba-tiba meledak dalam kepulan asap putih, dan berubah jadi sebuah balok kayu yang terbelah dua dan jatuh di depan sang pastor.

"Apa yang–" sang pastor memandangi kayu tersebut sesaat, sebelum merasakan sensasi dingin dari arah belakangnya. Pastor tersebut bereaksi cepat dengan memutar badannya, sembari menggerakkan pedang untuk menebas siapapun orang yang berdiri di belakangnya saat ini.

Dan saat pedang sang pastor hampir membelah leher Sasuke. Gerakan sang pastor secara total berhenti mendadak. Dia hanya berhenti dengan pedang yang saat ini berada di dekat leher Sasuke. Sang pemuda Uchiha tersebut hanya diam. Mata merahnya hanya menatap tajam tepat kedalam mata sang pastor.

Pastor tersebut menatap mata merah Sasuke yang memiliki 3 tomoe tersebut. Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa kelu. Dia masih cukup sadar untuk memproses hal yang terjadi. Dan sang pastor tetap berusaha untuk menggerakkan tangannya. Sadar bahwa jarak untuk menjagal Sasuke hanya seuras jari. Hanya saja, sang pastor terus merasa tidak bisa melepaskan pandangannya dari mata merah darah yang berputar pelan tersebut, seakan-akan memaksanya untuk tenggelam di dalamnya.

Saat itu juga, Freed Sellzen mengakui kekalahannya yang memalukan. Menerima apapun akibat yang akan dia terima.

~X~

Sasuke mengayunkan pedangnya dengan kasar, usaha untuk membersihkan darah yang menempel pada Tantonya. Mata Sharingannya memandang tubuh Freed yang telah terpisah dengan kepalanya. Berputar pelan, mata merah tersebut kemudian kembali menjadi sehitam malam.

Dia tidak berniat untuk membunuh pastor tersebut. Dari apa yang dia pelajari tentang dunia, pastor seharusnya adalah mereka yang membawa manusia kedalam jalan kebenaran. Alasan yang membuat Sasuke yakin akan energi putih yang awalnya dia rasakan. Hanya saja, ketika kemudian Sasuke berhasil memenjarakan Freed dalam Tsukuyomi, Sasuke bisa melihat memori masa lampau sang pastor yang sedemikian kotornya, membuat sang Shinobi memutuskan untuk mengakhiri nyawa musuhnya. Berharap biarawati berambut pirang yang diselamatkan Sasuke menjadi korban terakhir sang pastor bejat.

'Jadi, dunia ini juga tidak sesederhana hitam dan putih.' Sasuke bergumam sambil berjalan meninggalkan gedung, 'Ada makhluk yang memiliki energi kebajikan, akan tetapi melakukan kekejian'.

Sasuke cukup kaget pada awalnya. Banyak Shinobi jahat yang telah terperangkap dan tewas dalam Genjutsunya. Hanya saja, semua memiliki alasan akan kejahatan yang mereka lakukan. Punya sesuatu yang dilindungi dan kasihi. Sedangkan pastor bernama Freed tersebut berbeda. Terlepas dari kekuatan suci yang dia miliki, Freed menikmati kejahatan yang dia lakukan. Dan hanya melakukannya demi kesenangan pribadinya. Tidak ada rasa sakit masa lalu, atau alasan khusus yang melandasi perbuatannya.

'Seperti diriku.'

Hal itu membawa Sasuke pada masa lalu. Tepat setelah kematian Itachi. Awalnya, Sasuke mengira bahwa hal-hal keji yang ia lakukan hanyalah sesuatu yang diperlukan untuk menyelesaikan ambisinya. Akan tetapi, setelah Sasuke berhasil membunuh sang kakak, Sasuke tetap berjalan dalam kegelapan. Dan bahkan semakin gelap. Dia mencoba membunuh Karin, Kakashi, bahkan Naruto juga Sakura. Tanpa alasan yang jelas. Dan Sasuke ingat, dia menikmati itu.

Sasuke sadar bahwa hal tersebut tidak bisa dia ubah. Sebuah dosa masa lalu yang akan selalu menghantui dirinya. Meskipun sang kakak serta sahabat terbaiknya telah menyelamatkannya dari kegelapan, Sasuke sadar bahwa hal-hal keji yang ia lakukan telah terpatri terlalu dalam di hati dan kesadarannya. Dan, tanpa sadar menjadi satu hal kecil yang juga ia nikmati. Ya, dia menikmati menyiksa pastor gila itu dalam dunia Tsukuyomi miliknya. Dia juga menikmati bagaimana dia membelah leher sang pastor.

'Aku adalah pembunuh yang keji dan itu tidak akan bisa diubah.' Sasuke menggumam. 'Setidaknya, aku bisa mengarahkan itu kepada mereka yang jahat. Karena hanya dengan cara itu aku bisa mempertahankan kewarasanku sebagai manusia.'

Pemuda bermarga Uchiha tersebut kemudian lenyap ditelan kegelapan malam.

'Manusia yang bisa membedakan baik dan buruk.'

~X~

Berdiri di atap sebuah gedung, Sasuke memandang kearah bawah, sebuah gereja kecil di pinggiran kota. Sasuke bisa melihat gadis yang ia selamatkan tadi dihampiri oleh beberapa biarawati lainnya dari dalam gereja, menunjukkan kekhawatiran mendalam akan kondisi sang gadis yang terlihat terluka, lusuh, dan kelelahan. Para biarawati tersebut kemudian membawa gadis tadi kedalam gereja mereka, untuk memberikan perawatan.

Sasuke merasa tugasnya untuk gadis tersebut sudah selesai. Setidaknya, sudah ada rekan-rekan biarawatinya yang akan mengurusnya. Sang pemuda kemudian bersiap melakukan Shunshin, pulang ke gua sederhananya.

"Yah, jujur saja kekuatan anehmu itu cukup menarik perhatianku anak muda."

Tapi tidak sebelum Sasuke mendengar suara bariton dari arah belakangnya. Membelalakkan mata, Sasuke langsung bergerak secepat kilat, memutar badan dengan Tanto dalam genggamannya. Sasuke bergerak menyerang pria tak diundang itu, Sharingan telah aktif di mata kanannya dan Rinnegan yang siaga di mata kirinya.

Tanto yang telah dilapisi elemen petir yang menjadi ciri sang pemuda Uchiha itu bergerak secepat kilat sampai kemudian dapat dihentikan dengan mudah oleh pria dibelakangnya dengan tangan kosong.

Sasuke membelalakkan matanya mengetahui bahwa Tanto yang dilapisi Chidori tersebut bisa ditahan semudah itu. Sadar bahwa lawannya kali ini memiliki level yang jauh berbeda dari makhluk apapun yang pernah ia lawan di dunia baru ini, Sasuke kemudian mempersiapkan diri untuk bertarung dengan serius. Sharingannya kemudian berputar sebelum berubah menjadi Eien Mangekyou Sharingan miliknya, diikuti pendaran energi keunguan yang mulai berkobar dari tubuh Sasuke, bersiap mengeluarkan Susano'o, sebelum di interupsi oleh pria berambut hitam emas di depannya.

"Tenanglah, aku tidak menemuimu dengan niatan buruk." Pria tersebut kemudian melepas Tanto Sasuke yang masih dalam posisi siaga.

"Namaku Azazel, senang bertemu denganmu . . ." Azazel kemudian sadar bahwa dia belum menanyakan nama pemudia di depannya. ". . . eh, siapa namamu tadi?"


To Be Continued.


So, that's it for the prologue. Ini adalah spin off dari Brother. Di fic saya yang sebelumnya, Naruto memilih One Piece sebagai dunia barunya. Sementara untuk Sasuke? Seperti yang kalian sudah baca di chapter ini. So, i think that's it. Kindly give me your thoughts about this chapter in review section. See you next time~

Sthricynix, out.