"Ying, ayolah! Kau harus segera berangkat!"

Pintu kamar itu menjeblak terbuka lebar. Terlihat sosok gadis berpakaian pink berdiri di sana. Matanya melihat seluruh penjuru ruangan, mendapati sebuah kaki muncul di samping tempat tidur. Kaki siapa lagi kalau bukan pemilik kamar ini.

"YING!"

"Iyaaa~ sebentar lagi aku siap-siap, Yaya." jawab Ying santai sambil matanya menatap langit-langit kamarnya. Wajahnya terlihat berseri, gadis itu seperti sedang senang karena sesuatu.

"Ada apa ini? Senyam-senyum seperti orang gila. Kau kesurupan, ya?!" tanya Yaya tak sabaran. Ia tak habis pikir dengan sahabatnya yang terlalu santai. Tiga jam lagi pesawat akan segera berangkat, namun Ying belum menyiapkan apa-apa.

Ying bangun dari posisi telengtangnya. Senyuman masih terukir di wajahnya, Yaya menghela napas panjang karena kesabarannya sudah hampir habis.

"Yaya, apa kau tahu? Sepertinya aku sedang jatuh cinta." aku Ying tiba-tiba.

"HEEE?!"


"Loved You First" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^

Warning(s) : AU, TauYa or HaliYa, friendship, romance, highschool!AU, latar cerita tahun 1990, typo, gaje, dll.

Selamat membaca^^

...

..

.


Ying tidak akan melupakan hari itu. Hari dimana ia bertemu dengan seseorang, yang mampu memikat hatinya saat itu juga. Katakanlah ia lebay, namun Ying tidak bisa menyingkirkan perasaan itu saat bertemu dengannya.

Halilintar namanya.

Saat itu pukul 4 sore. Ying menjaga toko buku milik keluarga Yaya sedang sahabatnya itu tengah keluar membeli tahu pedas favorit mereka. Toko sedang sepi. Ying yang bosan tidak melakukan apa-apa akhirnya mengitari rak-rak berisi ratusan buku itu. Keluarga Yaya memang sangat menyukai buku, dan ayahnya memanfaatkan hobi itu dengan membuka rental buku. Karena bersahabat dengan Yaya, Ying sering diberi diskon atau bahkan gratis membaca buku apa saja disana.

Pada saat Ying asyik menjelajahi rak-rak buku, terdengar lonceng pintu berbunyi. Pertanda ada pelanggan yang masuk. Ying yang senang akhirnya ia ada kegiatan buru-buru menaruh buku yang sedang dibacanya, dan segera berjalan untuk menyapa pelanggan itu. Namun karena kecerobohannya, ia tersandung sepatunya sendiri.

Memekiklah ia saat merasakan perih luar biasa di lututnya. Ketika ia berusaha berdiri, seorang pemuda tiba-tiba sudah berjongkok di depannya. Ying ingat pemuda itu bertanya dirinya baik-baik saja atau tidak, dan Ying menjawabnya dengan gugup. Pertemuan singkat itu membuat Ying tak bisa melupakannya. Wajah pemuda itu memang tak terlalu jelas terlihat karena memakai topi, namun Ying membaca bordiran nama di seragam pemuda itu.

Halilintar.

"Nama macam apa itu? Serem banget. Halilintar." komentar Yaya sambil mengunyah keripik di mulutnya ketika Ying menceritakan pemuda itu.

Mata Ying menyipit sebal. "Namanya keren, tau! Dia juga sangat tampan, Yaya. Dan suaranya ... manly banget!" pekik Ying membuat Yaya bergidik di sebelahnya.

Keduanya tengah duduk di sofa ruang tamu rumah Ying, dengan sebuah koper besar di samping sofa. Mereka sedang menunggu ibu Ying di kamarnya untuk turun. Hari ini Ying dan ibunya akan ke Jerman, untuk mengunjungi ayahnya yang bekerja disana.

"Haish, kau ini." Yaya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengambil topi rajut berwarna kuning di atas meja, lalu menyematkannya di kepala Ying yang rambutnya dikuncir dua. "Nih, pakai. Aku membuatnya sampai begadang, jadi jangan sampai hilang."

Terkejut karena ada sesuatu di kepalanya, Ying menurunkan benda itu. Dilihatnya topi rajut berwarna kuning itu, ada sebuah bross di depannya berwarna biru, membuatnya terlihat lucu di mata Ying.

"Waaa, terimakasih, Yaya! Akan kujaga dengan nyawaku sendiri!" seru Ying lebay. Yaya terkekeh mendengarnya, dan memeluk sahabat karibnya itu.

"Kau baik-baik ya, disana? Jangan lupakan aku."

Ying membalas pelukan itu dan mengangguk semangat. "Pasti! Kau juga baik-baik disini, Yaya."

Pelukan itu terlepas, mereka memandang satu sama lain dengan senyuman. Lalu tiba-tiba saja Ying teringat sesuatu.

"Yaya, aku mempunyai tugas untukmu!"

Dahi Yaya mengernyit heran. "Heee? Tugas apa?"

...

..

.

Yaya berjalan keluar dari bandara, tempat ia mengantar Ying tadi. Langit sore terlihat indah membentang, namun Yaya sedikit sedih karena sang sahabat pergi selama sebulan ke depan. Yaya berpikir mungkin dirinya akan kesepian hari ini, namun Ying memberinya sebuah tugas selama gadis itu ke Jerman.

Tugas untuk mencari tahu seperti apa Halilintar itu.

"Halilintar, ya?" gumam Yaya seraya membaca secarik kertas yang ditulis Ying mengenai info Halilintar. Disitu hanya tertulis Halilintar, dia tinggi, dan wanginya seperti bau mint. Memang lebih ke sebuah clue, namun Yaya tertantang untuk melakukannya.

Yaya melipat kembali kertas kecil itu sebelum memasukkannya ke dalam saku.

"Sampai jumpa di sekolah nanti, Halilintar."

.

.

.

.

to be continued


A/N:

ahahahaha akhirnya nulis ini juga. keinspirasi sama salah satu film korea yang baru-baru ini dirilis, yg udah nonton pasti tau XD

anyway, ini bakal aku bedain dikit sama filmnya. dan yang pasti ini ber-chapter, gatau ampe berapa tergantung mood aku /plak

buat judul aku gatau kenapa itu, kepikiran ajasii wakakakakak, plotnya jg nnti bakal kearah situ

lanjut kapan? authornya jg gatau wkwkwkwk tunggu aja yaa /yeu