From : Ying

[Aku sudah sampai di Jerman, Yaya! Disini seru banget, akhirnya aku bisa ketemu ayahku setelah sekian lama~ Kamu baik-baik aja 'kan, Ya? Jangan lupa buat cari tahu tentang Halilintar, ya! Hihihi, i love you.]

Yaya tersenyum senang mendapat surel dari sahabatnya itu. Jarinya bergerak cepat mengetik keyboard komputernya di jam 5 pagi ini, dengan suasana kamarnya yang tidak kalah dengan kapal pecah.

To : Ying

[Yup, aku baik-baik saja! Misi mencari tahu tentang Halilintar, akan dilaksanakan kapten!]

From : Ying

[Hahahahahaha, semangat sayang!]

Yaya tidak membalas lagi dan meneruskan persiapan dirinya untuk ke sekolah. Waktu memang masih sangat pagi, tapi semangat Yaya untuk pergi sekolah telah berkobar sejak semalam. Gadis itu mematut dirinya di depan cermin, tersenyum sangat lebar melihat penampilannya.

"Saatnya bertemu Halilintar."


"Loved You First" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^

Warning(s) : AU, TauYa or HaliYa, friendship, romance, highschool!AU, latar cerita tahun 1990-an, typo, gaje, dll.

Selamat membaca^^

...

..

.


Di depan mading SMA Pulau Rintis, kumpulan siswa tampak berebutan untuk melihat kertas yang ditempel di sana. Kertas itu bukanlah sekadar kertas, namun berisi informasi kelas beserta siswa-siswi di dalamnya pada tahun ajaran baru ini. Jam menunjukkan pukul 6 pagi dan kerusuhan itu bertambah parah karena kian banyak siswa yang datang untuk mengetahui di kelas mana mereka berada.

"Yaya Yah ... Yaya Yah ... Yaya Yah ... " gumam Yaya di belakang mereka, menggunakan teropong kecil milik adiknya untuk mencari namanya berada. Ia sama sekali tidak mempedulikan teriakan maupun kericuhan yang sedang terjadi di sekitarnya.

"Ah, itu dia!" Yaya tersenyum senang kala berhasil menemukan namanya di bagian kelas X-IPA-2. "Saatnya mencari nama Halilintar ... " gumamnya lagi. Hembusan napas kecewa terdengar karena ia tak menemukan nama cowok itu di kelasnya. Gadis itu terus menelusuri nama sang pujaan hati sahabatnya di kertas-kertas yang tertempel di mading.

Akan tetapi, seseorang tiba-tiba mendorongnya hingga membuatnya tersentak dan tak sengaja menjatuhkan teropong yang ia pegang.

"Aduh!"

"Ah, maaf! Aku tidak sengaja!"

Yaya dengan keadaan membungkuk meringis kecil, lalu mengambil teropong adiknya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. Ia mendelik sinis pada pelaku yang mendorongnya, rupanya seorang cowok yang kini menyengir malu.

"Apa kau tidak apa-apa?" katanya dengan nada pelan.

Yaya mendengus kesal namun akhirnya mengangguk. Kedua matanya melirik seseorang yang berdiri di samping cowok itu, yang sepertinya pura-pura melihat ke arah lain.

"Ya, aku tidak apa-apa." balas Yaya. Matanya membaca seksama name tag cowok yang menabraknya itu. Taufan, ya? Yaya berdeham pelan seraya diam-diam membaca juga name tag yang sepertinya temannya Taufan ini.

Halilintar.

Mata Yaya sontak melebar kaget.

"Sekali lagi aku minta maaf, ya? Aku per–"

"Tunggu!" seru Yaya tiba-tiba karena tersadar Taufan ingin pergi, membuat dua cowok di depannya tersentak kaget. "Na-nama kalian siapa?" tanyanya terbata-bata. Ia melihat ragu Taufan yang kebingungan, melirik temannya sebentar yang juga meliriknya sebelum menjawab pertanyaan Yaya.

"Err ... Aku Taufan. Dan ini temanku Halilintar." kata Taufan sambil menunjuk temannya.

Yaya mengangguk paham. Ia tersenyum kecil karena akhirnya menemukan Halilintar. Jadi benar itu Halilintar. "Namaku Yaya. Senang berkenalan dengan kalian!"

"Kami juga, Yaya. Kalau begitu, kami kesana dulu, ya?"

Yaya mengangguk, sementara Taufan dan Halilintar berjalan ke arah tangga yang akan menghubungkannya dengan lantai dua. Samar-samar, ia bisa mendengar percakapan dua cowok itu.

"Kau sih, sudah kubilang pelan-pelan saja jalannya. Jadi nabrak dia, 'kan?"

"Ahahahaha. Tidak apa-apa, lagipula gadis itu baik."

"Cish, kau ini."

Tanpa sadar sudut bibir Yaya tertarik ke atas sampai dua punggung tegap mereka hilang dari pandangannya. Rencana baru seketika berkeliaran di otaknya. Sepertinya ini akan sangat mudah bagi Yaya.

...

..

.

Bel istirahat telah berbunyi, teman-teman sekelasnya mulai menuju kantin untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Di tempat duduknya yang tepat bersebelahan dengan jendela, Yaya menuliskan daftar isi di note kecil berwarna pink yang selalu ia bawa ke mana-mana. Note itu sekarang akan ia gunakan untuk menulis informasi mengenai Halilintar.

Daftar isi yang sudah ia catat itu berisi identitas Halilintar, mulai dari nama, umur, tinggi badan, ukuran sepatu dan masih banyak lagi. Hari ini Yaya akan mencari tahunya, meski tidak yakin akan dapat semuanya tapi gadis itu tetap akan berusaha.

"Hei, Yaya. Mau ke kantin bareng?"

Yaya menolehkan kepalanya dan menemukan Amy dan Siti. Keduanya adalah teman sekelasnya saat kelas SMP. Yaya dengan senang hati menerima ajakan mereka dan bersama-sama ke kantin. Biasanya ia selalu dengan Ying, namun untuk sebulan ke depan sepertinya Yaya harus terbiasa tanpa kehadiran sahabatnya itu.

Saat melewati koridor kelas X-IPA-1 alias kelas Halilintar, Yaya sengaja menjinjitkan kakinya untuk mencari cowok itu melalui jendela. Ia tidak menemukan Halilintar di sana, berarti cowok itu sudah terlebih dahulu ke kantin kemungkinan besar. Gadis itu terus berjalan bersama Amy dan Siti. Tak butuh waktu lama hingga ketiganya tiba di kantin. Suasana ramai langsung bisa mereka rasakan, beserta seruan-seruan para siswa kelaparan.

"Sepertinya kita harus membagi tugas. Ada yang membeli makanan, membeli minuman, dan menjaga tempat duduk kita. Bagaimana?" Siti mengusulkan idenya agar mereka bisa menikmati waktu istirahat yang hanya duapuluh menit ini.

Yaya dan Amy langsung menyetujuinya, mereka melakukan suit agar pembagian jobdesk mendadak itu terasa adil.

...

..

.

"BUUU ROTI SELAINYA TIGAA! DUA RASA COKLAT, SATU STRAWBERRY!"

"SAYA DULU BUU! DONAT LOBAK MERAH!"

"WOI, AKU DULULAH!"

Yaya berteriak sekuat tenaga agar ibu penjualnya mendengar pesanannya. Tubuhnya didempet-dempet siswa lain yang juga berebutan mendapatkan pesanan mereka. Awalnya mereka berbaris teratur, namun ada saja siswa yang mengacaukannya karena tidak sabaran. Alhasil Yaya jadi emosi dan ikut-ikutan brutal seperti siswa lainnya.

Ibu-ibu kantin itu bahkan sampai kewalahan mana dulu yang harus ia ladeni. Maka dari itu, ia hanya mendengarkan teriakan yang paling kencang dan sering, walaupun ia agak merasa tidak enak pada siswa yang sudah menunggu sedari tadi.

Setelah sepuluh menit berteriak dan berusaha menahan tubuhnya diantara kerumunan siswa kelaparan, Yaya akhirnya mendapatkan roti selai itu, bonus kerudungnya yang acak-acakan dan tenggorokannya yang sakit.

"Yaya kau baik-baik saja?" Amy langsung bertanya khawatir ketika ia datang sambil memeluk tiga roti selai. Siti juga menatapnya cemas.

"Tidak. Aku ingin pingsan." Roti selai itu diletakkan di atas meja bersama dengan kepalanya yang direbahkan. Yaya mendengus kesal sambil ngos-ngosan, mengabaikan Amy dan Siti yang terkikik geli melihatnya.

"Ini, minum dulu."

Segelas es teh disodorkan, Yaya dengan cepat meminumnya hingga tandas. Tolong ingatkan dirinya untuk ke kantin lebih awal, karena Yaya kapok jika harus berteriak hanya untuk mendapatkan makanan.

Mereka kemudian makan dengan tenang dengan latar suasana kantin yang masih diisi oleh seruan-seruan siswa. Siti dan Amy asyik mengobrol, sementara Yaya masih mengisi energinya lagi dengan mata berkeliaran mencari sosok Halilintar. Senyumnya mengembang ketika menemukan cowok itu tengah bersandar di tembok kantin bersama Taufan. Di tangan cowok itu terdapat sekaleng soda, yang sesekali disesapnya sembari menanggapi ucapan Taufan.

Soda, ya? Yaya langsung mengingatnya baik-baik di kepala, jika esok hari Halilintar meminum soda lagi itu berarti soda adalah minuman favoritnya.

"Kalau kau Yaya? Nanti ingin masuk klub apa?"

"Eh?" Yaya mengerjap kaget ketika Amy dan Siti tengah menatapnya. Berarti daritadi ia melamun tanpa sadar karena memperhatikan Halilintar terus. "A-ah ... sepertinya aku masuk klub ... penyiaran! Iya, penyiaran!" ucap Yaya asal, karena ia sama sekali belum memikirkan klub apa yang akan ia ikuti nanti. Yang penting, ia harus menjawab pertanyaan Amy dan Siti jika tidak mau tertangkap basah sedang melamun.

"Oh, ya? Kalau aku dan Siti akan masuk klub tari. Sepertinya akan seru ... "

Yaya hanya mengangguk dan kembali pada kegiatannya yang terhenti sementara mereka lanjut mengobrol. Matanya tak menemukan Halilintar di tempat tadi, yang berarti cowok itu sudah pergi. Yaya mendesah kecewa, ia pamit lebih dahulu ke kelas pada Amy dan Siti. Namun sebelum ke kelas, Yaya berdiri di tempat Halilintar tadi dan meletakkan tangannya di atas, alias sedang mengukur tinggi Halilintar. Jika tangannya berhasil membuat dua jengkal sampai menyentuh sebuah garis pada tembok itu, berarti tinggi Halilintar dua jengkal di atasnya. Yaya mendongak ke atas, menemukan tangannya berhasil mencapai garis pada tembok itu.

"Yes!"

"Yaya, kau sedang apa?"

Suara seseorang membuat ia terlonjak kaget hingga melompat kecil. Kepalanya menoleh cepat dan mendapati Taufan sudah berdiri di dekatnya dengan tatapan bingung.

"T-taufan? Ah, itu ... aku hanya mengukur ... " Yaya memutar otak cepat sebelum Taufan mengira dirinya tidak waras. "Mengukur ... tinggi tembok ini! Ya, benar! Ternyata tinggi sekali ya, berbanding terbalik dengan tinggi tubuhku. Hahahahaha ..." ucapnya sambil tertawa sangat garing. Taufan memicingkan mata, menunjukkan kalau cowok itu tak paham dengan perkataannya.

Tahu alasan konyolnya tak dapat diterima, Yaya langsung menghentikan tawanya. "Kalau begitu, aku kelas dulu. Ada PR yang belum kukerjakan. Sampai jumpa!" Dengan kecepatan penuh, Yaya berlari ke kelasnya dengan wajah malu.

"Tapi 'kan kita baru masuk!"

Dan ia sama sekali tidak memedulikan seruan Taufan untuknya.

...

..

.

To : Ying

[Yiingg, aku sudah bertemu dengannya. Halilintar memang tampan, Ying, seperti yang kamu bilang. Pantas kamu menyukainya. Sepertinya dia baik? Tapi aku belum mengajaknya mengobrol sih, karena sifatnya agak pendiam. Dia tinggi, sekitar 170-an? Dan dia sepertinya menyukai minuman soda, besok akan kupastikan, ya. Dia juga punya teman, namanya Taufan. Untuk hari ini, itu saja yang bisa aku beri tahu tentang dia.]

Jari Yaya menekan tombol send, pesannya untuk Ying langsung terkirim saat itu juga. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, tersenyum lebar macam orang gila.

Tak lama kemudian balasan Ying datang.

From : Ying

[Benarkah? Ah, aku ingin melihatnya juga. Andai aku ada di sana ...]

To : Ying

[Tunggulah sebulan lagi. Kamu akan bertemu dia nanti.]

From : Ying

[Benar, aku masih harus di sini sampai sebulan, karena ayahku benar-benar menahanku untuk tidak pulang. Tapi, apa Halilintar tidak punya pacar sampai saat itu? Aku takut dia direbut gadis lain.]

To : Ying

[Tenang saja, Ying. Aku akan menjaga dia untukmu. Kamu baik-baik ya, disana!]

From : Ying

[Aaaaaa terimakasih Yaya! Kamu memang sahabat terbaik!]

...

..

.

"Hari ini kalian dipersilahkan untuk memilih klub yang diminati. Jadi untuk hari ini kegiatan pembelajaran ditiadakan."

Seluruh siswa SMA Pulau Rintis bersorak senang di lapangan itu. Di barisan kelasnya, Yaya memanjangkan lehernya untuk melihat Halilintar agak jauh dari barisannya. Cowok itu berdiri tegap menghadap ke depan, tak ikut menyeruakan kesenangannya seperti yang lain.

Mereka kemudian dibubarkan untuk kembali ke kelas masing-masing sebelum mengunjungi stand-stand dari setiap klub yang dibuat oleh kakak kelas. Yaya lebih dulu menjelajahi stand klub sekolahnya tanpa menunggu Amy dan Siti. Karena kedua gadis itu meminati bidang yang tidak disukai Yaya. Maka dari itu Yaya mencari Halilintar, bermaksud ingin membuntutinya agar tahu klub apa yang akan diikuti cowok itu. Karena jika ia berhasil masuk klub yang sama dengan Halilintar, tugasnya akan berjalan mudah.

"Ah, itu dia." gumam Yaya ketika berhasil menemukan Halilintar yang lagi-lagi bersama Taufan di stand klub penyiaran. Sepertinya kedua cowok itu bersahabat, terbukti selalu bersama kemanapun mereka pergi.

Baru saja Yaya ingin menghampiri mereka ketika otaknya kembali mengingat kejadian kemarin, saat Taufan melihatnya tengah mengukur tinggi Halilintar. Yaya merutuk dirinya di dalam hati. Ia akhirnya terpaksa bersembunyi di balik pilar untuk memperhatikan Halilintar. Dari sini Yaya bisa mendengar keduanya tengah berdiskusi di depan kakak kelas dari klub tersebut yang terus mengajak mereka ikut klub penyiaran.

"Yup, disini juga bisa belajar kamera dan apapun yang berhubungan dengan fotografi. Klub ini akan membantu kalian untuk bekerja di bidang penyiaran dan yang berhubungan dengannya."

"Tuh, Hal! Kita masuk klub ini saja, mudah kok."

"Baiklah, tapi kau juga, 'kan?"

"Iya, iya. Aku juga masuk kok, tenang saja."

Yaya melihat keduanya sama-sama mengisi sebuah lembar kertas yang sepertinya formulir pendaftaran. Ia tersenyum kecil ketika dua cowok itu sudah selesai mendaftar dan berlalu. Yaya dengan cepat menghampiri stand itu.

"Halo, selamat datang di klub kami–"

"Kak! Saya mau daftar!" seru Yaya tiba-tiba sebelum kakak kelas itu menyelesaikan ucapannya. Sang kakak kelas hanya bisa melongo di tempat sambil memberikan Yaya formulir pendaftaran.

Yaya mengisinya dengan cepat, lalu berterimakasih pada kakak kelas itu sebelum pergi dengan hati senang.

Dan disinilah ia berada. Di sebuah ruangan klub penyiaran bersama teman-teman angkatannya. Wajahnya tidak lagi ceria seperti tadi pagi, karena ternyata Halilintar tidak ikut klub ini. Mereka memang diperbolehkan mendaftar dua klub, namun hanya bisa memilih satu. Dan Halilintar, entah klub apa yang ia ikuti sekarang. Yang pasti itu membuat Yaya badmood karena rencananya akan berjalan sulit.

"Baik, mungkin itu saja untuk pertemuan perdana kita. Terimakasih untuk kalian yang sudah mau ikut berkontribusi ... "

Berkontribusi apanya? batin Yaya kesal.

"... pertemuan ini saya tutup. Silakan jika kalian ingin pulang."

"Terimakasih, kak!"

Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan itu. Yaya bangkit dari duduknya dan berjalan gontai. Ia tak sadar kalau Taufan memperhatikannya dengan alis terangkat. Yaya berjalan di koridor sendirian dengan bibir cemberut, dan tiba-tiba saja Taufan berjalan di sampingnya, membuat Yaya menoleh kaget.

"Taufan?! Sejak kapan kau di sini?!"

"Sejak ... tadi? Wajahmu kenapa?" tanya cowok itu ringan.

Yaya menggeleng. Ia berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya karena belum bisa melupakan saat cowok itu menegurnya di kantin tempo hari.

"Tidak mengukur tembok lagi?"

"Taufan!" Yaya berseru kesal dengan perasaan malu. Ia meringis ketika menemukan ekspresi Taufan yang kaget.

"Aku cuma nanya. Kalau PR? Udah selesai?"

"Taufan, stop!" Oh, shit. Yaya baru tersadar cowok itu sedang meledeknya. Bukan murni bertanya. Kini Yaya semakin malu dan ingin menenggelamkan dirinya sekarang.

Tawa kecil Taufan terdengar dan Yaya hanya bisa mendengus kesal. Ia melangkah cepat agar bisa terbebas dari kejahilan teman Halilintar ini. Ah, iya, Halilintar! Yaya baru ingat tugasnya itu. Langkahnya dihentikan dan membalikkan tubuhnya. Taufan ikut berhenti dan mengernyit bingung karena ia tiba-tiba berhenti.

"Mana Halilintar? Biasanya kalian bersama terus?" tanya Yaya pura-pura menyindir. Itu hanya modus untuk mengetahui klub mana yang Halilintar ikuti.

"Hm? Halilintar? Dia ikut klub basket. Yah, itu kesukaannya sedari dulu, sih."

Kesukaannya, ya? Yaya tersenyum licik di dalam hati ketika sebuah rencana baru muncul di otaknya. Mungkin Taufan bisa digunakan untuk membantunya mengenal Halilintar.

"Ada apa? Kau suka padanya, ya?"

Tapi sepertinya akan berjalan dengan tidak mulus.

.

.

.

.

to be continued


A/N:

Hai haii, aku kambek!

Maaf yah update-nya lama karena ada satu dua hal yang harus diurus /soksibuk

Ini masih permulaan yaa, dan kayaknya bakal bisa ditebak alurnya karena pasaran banget. Aku juga nggak akan naro konflik berat di sini, karena memang kisah romansa remaja kayak biasa aja hihihi

Soal latar kemaren aku nulis 1990 doang, aku lupa nambahin karena harusnya 1990-an (lebih gatau tepatnya tahun berapa) /plak/ intinya kayak latar film 20th Century Girls, nggak beda jauh dari itu kok (walaupun aku nggak terlalu tahu tahun 1990-an gimana /plak)

Mungkin itu aja. Makasih yang udah review, fav, follow, dan menunggu ff gajelas ini update. Aku sayang kalian, sampai jumpa di chap berikutnya~