"Loved You First" by Meltavi
Boboiboy © Animonsta Studios
Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^
Warning(s) : AU, TauYa or HaliYa, friendship, romance, highschool!AU, latar cerita tahun 1990-an, typo, gaje, dll.
Selamat membaca^^
...
..
.
Seminggu terlewati sejak tahun ajaran baru dimulai. Kini Yaya perlahan-lahan tahu bagaimana rasanya menjadi anak SMA. Tugas yang terus bertambah, beberapa guru yang kadang bisa menjengkelkan, dan juga klub yang ia ikuti bisa menambah beban pikirannya.
Yaya meniup kerudungnya dengan wajah cemberut. Bel akan berbunyi sebentar lagi, tapi suara bising yang berasal dari obrolan teman-temannya terus terdengar. Topiknya adalah Halilintar. Entah bagaimana, cowok itu bisa populer di kalangan siswi. Yaya tak jarang mendengar para siswi berkata Halilintar memiliki wajah tampan. Ya iya sih, Yaya juga mengakuinya. Tapi, bukankah berlebihan jika membicarakannya terus? Ditambah lagi, bagaimana reaksi Ying nanti kalau ternyata Halilintar sepopuler ini dan susah didapatkan?
Yata menggeleng beberapa kali. Tidak, tidak. Ia tidak boleh memikirkan itu, Ying pasti bisa mendapatkan Halilintar. Hanya saja Yaya harus berusaha lebih keras untuk mencomblangkan mereka. Gadis itu lalu menatap note kecilnya. Beberapa informasi tentang Halilintar sudah ia dapatkan dari usahanya sendiri. Makanan favoritnya adalah burger, minuman favoritnya adalah soda, hobinya adalah bermain basket, dan masih banyak lagi yang dicatat di sana. Namun tetap saja, Yaya masih kurang tahu mengenai Halilintar. Ditambah lagi, ia belum pernah mengajaknya mengobrol.
Bel masuk kemudian terdengar, gosip tentang Halilintar seketika tak terdengar lagi. Seluruh teman-temannya sudah duduk di tempat masing-masing, sementara Yaya menegakkan tubuhnya dengan ogah-ogahan. Ia tidak terlalu semangat hari ini. Alasannya ialah karena Halilintar yang mendadak populer di sekolahnya, dan juga ada rapat bersama klub penyiaran selepas pulang sekolah. Klub yang Yaya kira akan diikuti Halilintar, namun nyatanya tidak.
"Hari ini kita akan membahas tentang ..."
Gurunya sudah mengoceh di depan sana. Yaya menatap jendela kelas di sebelahnya. Kedua iris matanya menemukan para siswa entah dari kelas berapa tampak sedang bermain bola. Kelas olahraga rupanya. Yaya melihatnya terus sampai kedua matanya mendapati Halilintar juga ada di sana, tengah menggiring bola dengan cepat. Senyum Yaya terukir, matanya tak terlepas dari sosok cowok itu di lapangan sekolahnya. Beberapa siswa berusaha mengejarnya, Halilintar dengan gesit menghindar. Namun karena terlalu cepat berlari, cowok itu tersandung oleh kakinya sendiri dan jatuh.
"Astaga!" teriak Yaya tanpa sadar menarik perhatian guru dan teman-temannya.
"Yaya Yah? Kenapa kamu berteriak?"
"Eh?" Yaya tersentak kaget. Seluruh teman-temannya sudah menatapnya bingung dan sang guru yang menanti jawabannya. Seketika Yaya ingin menenggelamkan diri. "A-ah, itu ... tadi ada burung lewat, Bu. Hehe." jawabnya dengan kikuk.
Gurunya menatapnya penuh selidik. Walau begitu, jawaban Yaya akhirnya diterima dan gurunya tak menanyai lebih lanjut. Yaya menghembuskan napas lega, ia diam-diam melihat jendela kelasnya lagi ketika sang guru melanjutkan materi. Terlihat Halilintar sedang dipapah oleh Taufan meninggalkan lapangan, sepertinya mereka menuju ruang kesehatan.
"Apa dia baik-baik saja?" gumam Yaya pelan. Hatinya dijalari perasaan khawatir ketika dua cowok itu sudah hilang dari pandangannya.
Yaya menghela napas panjang. Ia kembali menatap ke depan, meski kepalanya tak berhenti memikirkan Halilintar.
...
..
.
Waktu istirahat telah tiba dan Yaya langsung memelesat cepat menuju ruang kesehatan. Kakinya yang pendek berlari melewati koridor-koridornkelas sampai akhirnya menemukan ruang kesehatan. Baru saja ia ingin menghampiri ruangan tersebut, Halilintar dan Taufan tiba-tiba muncul sehingga membuat dirinya refleks balik badan untuk bersembunyi di balik pilar. Yaya mengintip sedikit dari sana sambil menajamkan pendengarannya.
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Hm. Ini tidak terlalu sakit kok, hanya luka kecil biasa. "
"Baiklah. Kau ke kelas saja, biar aku yang ke kantin."
"Oke."
Yaya buru-buru menyembunyikan dirinya ketika sadar Halilintar berjalan menuju ke arahnya. Saat cowok itu melewati tempat persembunyiannya, Yaya menatapnya cemas karena langkah Halilintar yang sedikit tertatih.
"Kenapa dia memaksakan diri, sih? 'Kan enak jika berbaring di ruang kesehatan." gumam Yaya entah pada siapa. Ia terus mengawasi Halilintar di sana yang sesekali menanggapi sapaan para siswi cari perhatian. Yaya mendengus kesal. Ia lalu berbalik badan, melangkahkan kakinya menuju kantin untuk mengisi perut.
Di kantin, Yaya hanya membeli sekaleng soda karena ia membawa bekal sendiri–karena kapok membeli jajanan kantin. Gadis itu baru akan kembali ke kelas ketika tak sengaja bertemu dengan Taufan yang baru saja memesan makanan. Yaya meringis. Kakinya sudah bersiap untuk melangkah kabur ketika Taufan tiba-tiba membuka mulutnya.
"Oh, Yaya. Jangan lupa hari ini ada rapat klub siaran." katanya mengingatkan.
"Kau saja. Aku ingin pulang." balas Yaya cepat.
"Benarkah? Padahal hari ini klub basket juga latihan, lho. Sayang sekali jika kau pulang." kata Taufan lagi.
Mendengarnya Yaya langsung menatap Taufan sewot. "Lalu kenapa kalau klub basket latihan? Lagipula Halilintar–" Yaya refleks menutup mulutnya ketika sadar ia salah bicara. Taufan tersenyum penuh arti padanya, membuat ia buru-buru melewati cowok itu.
"Tahu saja Halilintar sedang cedera." ucap Taufan. Yaya menghadap cowok itu lagi dengan tatapan matanya yang tajam. "Tapi Halilintar tetap ikut latihan kok, walaupun hanya menontoni saja."
Yaya mendengus. "Aku tidak bertanya, tuh."
"For your information?" balas Taufan sambil mengangkat bahunya cuek.
Yaya mendecak kesal dan berlalu meninggalkan Taufan. Cowok itu mengira dirinya menyukai Halilintar, padahal bukan itu kenyataannya. Yaya ingin sekali mengatakan yang sebenarnya, kalau ia hanya membantu Ying untuk dekat dengan Halilintar. Tapi rasanya Taufan belum bisa dipercaya, dan Yaya takut cowok itu akan menghancurkan rencananya.
"Cish. Aku tidak akan datang. Kau saja yang mewakili tim kita, ya." ucap Yaya sedatar papan jalan. Ia dan Taufan memang ditempatkan pada tim yang sama. Entah Yaya harus bersyukur atau tidak, karena Taufan benar-benar menyebalkan. Seperti sekarang.
Gadis itu memutar balik tubuhnya, namun baru langkah pertama ia ambil, tiba-tiba Taufan bersuara lagi.
"Kalau kau datang, akan kuberitahu nomor telepon Halilintar."
Yaya memejamkan matanya. Diambilnya napas panjang agar ketenangan datang padanya. Gadis itu kembali menghadap Taufan, yang kini sudah menampilkan wajah meledeknya.
"Tidak butuh." balasnya, meski dalam hati Yaya ingin berkata sebaliknya. Oh ayolah, itu tawaran yang sungguh menggiurkan karena dirinya tidak perlu repot-repot lagi mencari tahu. Tapi, harga diri harus tetap dijaga. Yaya harus menahannya.
"Kenapa? Bukankah kau suka padanya?"
"Kata siapa, huh?"
Taufan mengangkat bahu. "Entah. Aku hanya menebak?"
Yaya menggertakan giginya kesal. Tak mau memperpanjang obrolan mereka, Yaya berjalan menuju kelasnya. Meninggalkan Taufan yang terkikik geli di sana.
"Kutunggu di ruang siaran ya!"
...
..
.
Yaya berjalan mengendap-endap di koridor lantai satu sekolahnya, tepatnya menuju ruang siaran. Bel pulang sekolah masih akan berbunyi limabelas menit lagi, namun Yaya keluar kelas—lebih tepatnya izin dengan alasan ke kamar mandi kepada gurunya–untuk ke ruang siaran. Gadis itu melangkah sedikit cepat dengan mata mengawasi sekitar, takut ada yang memergokinya.
Beberapa menit yang lalu, Yaya memaki dirinya sendiri karena bisa-bisanya tak memikirkan ide ini sejak awal. Saat Taufan berkata ia akan memberikan nomor telepon Halilintar padanya jika dirinya hadir rapat klub penyiaran, Yaya terus mempertimbangkannya karena tawaran itu sungguh menggiurkan.
Secara ajaib, sebuah ide tiba-tiba menghampiri Yaya di tengah-tengah pelajaran terakhir. Baru terpikirkan olehnya, bisa saja data-data Halilintar tercatat di formulir pendaftaran klub penyiaran, mengingat cowok itu sempat daftar tempo hari. Meskipun tidak jadi masuk, pasti formulir pendaftaan itu masih tersimpan di ruang siaran. Yaya sangat yakin dengan itu.
Yaya buru-buru menutup pintu ruang siaran rapat-rapat setelah dirasa tidak ada siapapun yang melihatnya. Kakinya dengan cepat menghampiri lemari besar di sudut ruangan, mencari-cari berkas data para anggota. Ia harus memeriksa beberapa laci, hingga akhirnya matanya menangkap setumpuk kertas yang ia yakini adalah formulir pendaftaran.
Dengan terburu-buru Yaya mencari formulir pendaftaran milik Halilintar. Di sela-sela pencariannya, kedua netranya menemukan formulir milik Taufan, membuat dirinya membaca sebentar biodata cowok itu.
Nama : Taufan
Tempat, tanggal lahir : Kanada, 13 Maret 1981
Dahi Yaya mengernyit ketika membacanya. Jadi Taufan asli Kanada? Pikirnya. Namun Yaya tak memikirkannya lebih lanjut, tangannya kembali mencari berkas Halilintar. Senyumnya terukir kala matanya berhasil menemukannya.
"Ini dia!" Dengan cepat Yaya membaca satu per satu biodata cowok itu. Wajahnya berubah sumringah ketika tiba di bagian nomor telepon rumah. Ia langsung mengingatnya baik-baik, namun belum sempat dirinya menghafal seluruh digit nomor telepon itu, suara ketukan pintu membuat Yaya terlonjak kaget.
Tumpukan kertas itu kembali ditaruh di tempatnya, Yaya buru-buru duduk di kursi dengan kikuk bersamaan dengan pintu yang dibuka oleh seseorang.
"Yaya? Kamu bolos kelas?" tanya orang itu, rupanya sang ketua klub yang Yaya ingat namanya Kaizo.
"Eh? Nggak kok, aku–"
"Nggak usah khawatir. Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa." ucap Kaizo dengan senyum simpul, membuat Yaya menggaruk kepalanya bingung. Tapi yah, itu lebih baik daripada Kaizo memergokinya membaca biodata anggota.
"Ah, ya ... makasih, kak." balas Yaya kikuk.
Kaizo kemudian duduk di kursi tepat di depannya. "Ngomong-ngomong karena kamu di sini, aku ingin bertanya." kata Kaizo. Yaya mengangkat alis penasaran. "Kamu satu tim dengan Taufan, 'kan?" Meskipun bingung, kepala Yaya mengangguk. "Sebentar lagi ada acara ulang tahun sekolah. Sebenarnya angkatan kalian belum boleh ditugaskan untuk meliput sebuah acara, tapi saat melihat tim kalian cukup mampu, aku ingin menawarkan kalian untuk meliput acara ulang tahun sekolah nanti."
Mata Yaya mengerjap bingung.
"Tugasnya hanya merekam beberapa bagian acara nanti, lalu mewawancarai dua sampai tiga siswa tentang kesan pesan terhadap diadakannya acara tersebut. Bagaimana?"
Yaya menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia menatap Kaizo yang seperti menunggu jawabannya, tapi Yaya benar-benar tidak tahu harus membalas apa. Lagipula, ia harus mendiskusikannya bersama timnya terlebih dahulu, 'kan?
"Err, itu ... "
"Setuju, Kak!"
Suara seseorang membuat keduanya sama-sama menoleh. Yaya membulatkan matanya saat mendapati Taufan sudah berdiri di dekat pintu, entah sejak kapan. Dan sepertinya cowok itu mendengar percakapan mereka.
"Woi–"
"Meliput saja kan, Kak? Apa ada yang lain?" tanya Taufan dengan nada tertarik, kakinya melangkah mendekat dan duduk di samping Yaya yang masih memelototinya.
Kaizo mengangguk. "Yap. Kalian ada berapa orang? Tiga? Empat?"
Yaya baru akan menjawab saat tiba-tiba Taufan menyahut.
"Hanya kita berdua, Kak."
"Lho? Kenapa bisa?"
"Sebenarnya ada Iwan dan Suzy, tapi kemarin mereka tiba-tiba bilang padaku kalau mereka mengundurkan diri karena ikut klub lain. Aku ingin memberitahu kak Kaizo saat rapat nanti tadinya." jelas Taufan. Sementara Yaya hanya diam karena baru mengetahuinya juga.
"Ah, begitu." Kaizo mengangguk-angguk paham. "Baiklah. Kalian yang meliputnya, untuk pengeditan biar aku yang mengurusnya."
"Oke."
Tanpa sepengetahuan Kaizo, Yaya menyenggol kaki Taufan di bawah meja. Taufan hanya menatapnya sambil tersenyum aneh, membuat Yaya ingin menabok cowok itu rasanya.
Kaizo kemudian pamit keluar sebentar untuk membeli makanan. Pada saat itulah Yaya langsung menghadap ke Taufan dan melayangkan protes.
"Kau! Kenapa seenaknya menerima tawaran kak Kaizo?!" tanya Yaya sewot.
"Apa? Bukankah bagus? Kita jadi dilirik oleh kakak kelas, dan itu kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, kau tahu?" balas Taufan terkesan enteng.
"Tapi 'kan aku belum mengetahui apa-apa, Taufan! Memegang kamera saja aku tidak pernah."
"Kamera biar aku yang urus. Kau bagian mewawancarai siswa saja nanti. Mudah, 'kan?"
Yaya mendengus kesal. Satu hal tentang Taufan yang harus ia catat baik-baik, cowok itu seenaknya sendiri. Ya iya sih, Yaya tahu Taufan ditunjuk sebagai ketua tim–walaupun kini tersisa mereka berdua saja–, tapi 'kan ketua juga harus mendiskusikan dengan anggotanya dulu sebelum mengambil keputusan. Jadi ini sangat tidak adil bagi Yaya.
"Kupikir kau tidak akan datang? Ingin sekali nomor Halilintar, ya?" sindir Taufan setelah mengingat sesuatu.
Tatapan tajam diberikan. Yaya bangkit dari kursinya, tangannya bergerak menoyor kepala Taufan sambil berlalu pergi dari ruangan siaran, menghiraukan teriakan protes cowok itu.
...
..
.
"Satu ... dua ... tiga ... "
Koin itu dihitung jumlahnya oleh Yaya di depan telepon umum yang akan ia gunakan. Total koin yang ia punya ada sepuluh, itu berarti ia hanya bisa mencoba hingga sepuluh kali saja. Tentu ia melakukan ini untuk mencari nomor Halilintar. Yaya hanya perlu mencoba dari angka 0-9 untuk melengkapi jumlah digit nomor telepon cowok. Karena saat memeriksanya di ruang siaran tadi, Yaya kekurangan satu angka sebab Kaizo yang muncul secara tiba-tiba.
Gagang telepon tersebut diraih, Yaya meletakkannya di telinga sambil memasukkan sekeping koin. Ia mulai memasukkan beberapa nomor hingga nada sambung terdengar. Yaya menunggu seraya menggigit bibirnya, sampai sebuah suara terdengar.
"Halo?"
"Halo, selamat malam. Apakah saya bisa berbicara dengan Halilintar?" tanya Yaya dengan nada suara sedikit dicemprengkan agar suara aslinya tidak diketahui.
Hening sebentar sebelum terdengar lagi sahutan lagi dari seberang sana.
"Maaf, anda salah sambung."
Tut.
Yaya menghela napas. Ia mencoret daftar percobaan pertamanya, lalu lanjut sederet nomor di barisan kedua pada note kecilnya untuk dilakukan hal yang sama seperti tadi.
"Halo, selamat malam. Apakah saya bisa bicara dengan Halilintar?"
"Halilintar? Siapa dia? Aku tidak tahu."
Tut.
Koin kembali dimasukkan, jari Yaya menekan tombol-tombol angka itu lagi.
"Halo, selamat malam. Apakah saya bisa bicara dengan Halilintar?"
Kali ini tak ada sahutan, dan tiba-tiba panggilan terputus.
Yaya mengerang frustrasi. Ia terus mencoba lagi, sampai akhirnya koinnya tersisa satu. Gadis itu menyandarkan kepalanya lelah, menatap koin itu pasrah.
"Aku tidak boleh menyerah. Ayo Yaya, kau pasti bisa." gumam Yaya pada dirinya sendiri, kembali mengangkat kepalanya dengan semangat.
Suara nada sambung menyapa telinganya, Yaya memejamkan mata seraya berharap kali ini usahanya berhasil. Tak lama kemudian suara seseorang terdengar.
"Halo?"
"Halo, selamat malam. Apakah saya bisa bicara dengan Halilintar?"
Hening. Yaya menggigit bibirnya, jantungnya berdegup kencang.
"Ini ... siapa?"
Mata Yaya seketika berbinar mendengarnya. Dapat!
"Selamat! Anda mendapatkan satu unit motor karena telah memenangkan kuis di web kami. Untuk pengiriman hadiah bisa dilakukan jika Anda mengirim nomor pager* Anda. Silakan disebutkan. Biiippp!"
Yaya menunggu dengan sabar, tangannya bersiap menulis nomor yang akan disebutkan Halilintar. Jantungnya terus berdegup kencang, Yaya menahan sekeras mungkin agar tidak berteriak senang.
"Yaya?"
Tubuh Yaya terlonjak kaget dan hampir terjungkal dari tempatnya berdiri. Ia buru-buru menaruh kembali telepon genggam itu sebelum pergi dari sana dengan seribu langkah dan wajah memerah menahan malu.
Astaga. Kenapa Halilintar bisa tahu kalau itu dirinya?!
.
.
.
.
to be continued
*Pager : Alat telekomunikasi pribadi untuk menyampaikan dan menerima pesan pendek. Penyeranta numerik satu arah hanya dapat menerima pesan yang terdiri dari beberapa digit saja, khas layaknya sebuah nomor telepon yang digunakan penggunanya untuk menelepon. (Wikipedia)
A/N :
Haloowwww, adakah yang menunggu ff ini apdet /gada /oke...
Jujurly aku bingung bngtt cara mendeskripsikan latar jaman dulu, maaf kalau gaje yah dan kalau ada kritik atau saran boleh banget ditulis di kolom review, biar aku perbaiki^^
Dan ini words-nya cuma sampe 2k, karena aku ga sanggup nulis panjang-panjang /plak/ jadi harap maklum dan sabar yah
Sebentar lagi masuk kuliah, dan kayaknya bakal apdet lama hehew tapi liat nanti juga deh. Kalau nggak sibuk akan kuusahakan apdet
Kayaknya itu aja author's note-nya, makasih yang udah baca dan sampai jumpa lagi~!
