"Loved You First" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^

Warning(s) : AU, TauYa or HaliYa, friendship, romance, highschool!AU, latar cerita tahun 1990-an, typo, gaje, dll.

Selamat membaca^^

...

..

.


"Kamu ke mana semalam?"

Pertanyaan langsung dilontarkan saat Yaya baru saja duduk di kursi meja makan. Ibunya menata piring untuk sarapan mereka tanpa menatapnya, tapi Yaya tahu wanita paruh baya tersebut menunggu jawaban darinya.

"Itu ... Yaya ... " Sesaat Yaya bingung harus menjawab apa. Ia memutar otaknya cepat dengan mata berkeliaran, berharap mendapatkan jawaban yang masuk akal. Tidak mungkin 'kan ia menjawab kalau dirinya ke telepon umum hanya untuk mencaritahu nomor Halilintar? "Yaya ... habis ngembaliin buku ke rumah temen. Buku novel." dustanya, jantungnya berdegup cepat menanti respon dari ibunya.

"Kamu nggak baca novel terus, 'kan?" Kini kedua iris serupa dengan milik matanya menatap Yaya selidik. Sang gadis mengangguk kaku.

"Bagus. Kamu udah SMA, Yaya, jadi harus lebih serius dari yang kemarin." ucap ibu Yaya. Wanita itu duduk di hadapannya, sementara Yaya mulai menyantap makanannya setelah mengangguk pelan.

Tak berapa lama kemudian, ayah dan adiknya ikut bergabung bersama mereka. Celotehan adiknya terdengar selama mereka sarapan, mengundang tawa ayah dan ibunya sesekali. Biasanya Yaya ikut ke dalam momen itu, namun pikirannya kembali pada kejadian semalam.

Rasa senang dan puas tentu menghampirinya karena berhasil mendapatkan nomor telepon rumah Halilintar. Tapi rasa bingungnya mendominasi Yaya, ia masih tak bisa menemukan jawaban kenapa Halilintar bisa tahu kalau ia yang menelepon cowok itu. Mereka tidak pernah mengobrol sebelumnya, menyapa pun tidak. Jadi kenapa cowok itu bisa menebak dirinya?

Helaan napas panjang yang ia keluarkan menarik perhatian keluarganya. Yaya mengaduk makanannya dengan tidak minat, tanpa ia sadari seluruh tatapan bingung sudah tertuju padanya.

"Yaya, kamu kenapa, sayang?" Sang ayah yang memang memiliki perhatian seluas samudera lebih dulu bertanya. Seketika Yaya terkesiap. Ia menegakkan tubuhnya dan baru menyadari ia telah melamun.

"Eh? Yaya nggak papa, kok."

"Kangen kak Ying, ya?" Totoitoy—adiknya, menebak dengan nada jahil. Ayah dan ibunya tertegun sebelum mengulum senyum.

"Nggak papa kalau kamu kangen Ying, tapi tetep nggak boleh kehilangan semangat. Yah, Mama tau kalian udah kayak adik kakak, tapi kalau kamu sedih pasti Ying juga sedih." hibur ibunya.

"Ying sebentar lagi juga pulang, kok. Papa kemarin dapat kiriman surat dari ayah Ying, katanya Ying akan pulang awal bulan nanti." kata ayahnya.

Yaya meringis. Ia bingung harus memberikan respon bagaimana, karena bukan itu alasan ia sempat melamun tadi.

"Kak Yaya, nanti bilangin kak Ying bawa oleh-oleh yang banyak ya, Totoitoy nggak sabar dapat oleh-oleh dari Jerman!"

"Hush, nggak boleh gitu." tegur ibunya, membuat sang ayah terkekeh dan Totoitoy yang cemberut, ngambek. Yaya mengulas senyum tipis. Membahas Ying membuat ia jadi merindukan gadis itu.

Keluarganya memang sudah mengenal dekat dengan keluarga Ying. Mereka telah bertetangga selama bertahun-tahun, bahkan rasanya sudah seperti keluarga sendiri. Ying yang tidak pernah absen untuk main ke rumahnya, begitupun sebaliknya. Yaya ingat waktu itu ia pernah tak ingin pulang karena mau bersama Ying terus. Akhirnya Ying memutuskan agar Yaya menginap di rumahnya semalaman. Kedekatan mereka seperti kakak-adik, bukan lagi sahabat. Dan Yaya bersyukur ia memiliki Ying di hidupnya.

Yaya kemudian pamit berangkat duluan. Kakinya melangkah pelan menuju sekolahnya yang berjarak dekat dari rumah. Tak butuh waktu lama ia tiba di gedung bertingkat tiga itu. Yaya menghempaskan tubuhnya di kursinya, kepalanya direbahkan pada meja. Kelasnya tidak begitu berisik hari ini, dan tak ada gosip mengenai Halilintar. Membuat Yaya dapat bernapas lega.

Tapi ia harus membuangnya jauh-jauh saat tiba-tiba pintu kelasnya digebrak oleh seseorang.

"Woi, woi! Halilintar bertengkar sama kakak kelas di atap sekolah!"

Seketika kelas heboh. Yaya menegakkan tubuhnya dengan mata membelalak, mengikuti teman-temannya menuju atap sekolah dengan panik.

Halilintar. Bertengkar. Dua kata itu sudah cukup mampu membuat Yaya khawatir setengah mati.

Tubuh mungil Yaya bergerak gesit menyalip kerumunan di tangga menuju rooftop. Yaya harus melawan desakan manusia-manusia kepo itu untuk mendapatkan barisan paling depan, menyaksikan sendiri Halilintar berdiri di sana sementara di hadapannya ada lima cowok yang Yaya ketahui kakak kelas mereka.

"Kau mau merebut Shielda dariku, 'kan?! Ngaku!" bentak salah satu dari mereka, namanya Sai. Matanya menatap nyalang Halilintar yang tampak tak takut. "Jawab, woi!" Sai bergerak maju untuk mendorong tubuh Halilintar membentur tembok, dengan tangannya mencengkram kerah seragam Halilintar.

Halilintar tertawa sinis. Ia menepis kasar tangan Sai dari kerah bajunya. "Kenapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri? Alasan Shielda memutuskanmu? Bukannya kau yang sering menyakiti dia dengan kekerasan?" balas Halilintar dingin.

Rahang Sai mengeras. Satu begoman mentah dilayangkan ke pipi Halilintar, membuat semua orang yang mengerumuni mereka terkejut. Yaya melebarkan matanya saat mendapati sudut bibir Halilintar berdarah.

"Apa kau bilang?! Ngomong sekali lagi!" teriak Sai seperti kesetanan.

Halilintar menyeka darah di sudut bibirnya. Ia menatap Sai sekali lagi. "Kurasa telingamu berfungsi dengan baik untuk mencerna ucapanku tadi."

Sai menggeram emosi. Tinjunya bersiap mendapat di pipi Halilintar lagi, namun dirinya terkejut saat tangan seseorang tiba-tiba menahannya. Membuat kepalan tangan Sai tertahan di udara begitu saja.

"Jangan sakiti dia!"

Sai merintih kesakitan ketika tangannya dipelintir kuat oleh Yaya, lalu gadis itu menendang alat vitalnya kuat, mengundang sorakan dari kerumunan siswa kepo. Rasa ngilu seketika menghampiri tubuh Sai, membuat ia jatuh berlutut sambil mengerang tertahan.

"Kau–!"

Yaya menatap Sai setajam elang. Tubuh kecilnya berdiri di depan Halilintar seolah melindungi, ia tidak tahu Halilintar terheran-heran dengan mulut menganga di belakangnya. Suara sorakan dari kerumunan siswa-siswi tak ia dengarkan, Yaya tetap berdiri di sana tanpa takut sedikitpun.

"Berani-beraninya!"

Sai lalu kembali berdiri meski terhuyung, tangannya yang terkepal bergerak menuju Yaya, membuat gadis itu terkejut dan menutup matanya erat. Ia bersiap menerima pukulan yang akan mendarat di wajahnya. Namun waktu terasa begitu cepat saat tiba-tiba tangannya ditarik mundur, lalu wajahnya tidak terasa sakit sama sekali.

"Sudah cukup."

Dengan pelan, Yaya membuka matanya. Tahu-tahu saja ia sudah di samping Halilintar dengan tangan cowok itu mencekal tangannya, dan Taufan yang berada di depannya menahan tangan Sai di udara. Yaya terperangah. Taufan menepis tangan Sai kasar sebelum menoleh ke belakang.

"Kalian tidak apa-apa?"

Yaya tak menjawab karena rasa terkejut masih menguasainya. Sepertinya Halilintar menjawab dengan anggukan karena Taufan tak bertanya lagi. Kemudian kerumunan yang mengepung mereka ricuh karena guru kedisiplinan akan datang. Yaya yang langsung tersadar segera melepaskan cekalan tangan Halilintar dari tangannya.

"Ada apa ini?! Kembali ke kelas kalian!"

...

..

.

Keheningan tercipta di antara mereka berdua yang sama-sama menutup mulut. Yaya duduk tak nyaman di sisi ranjang ruang kesehatan, melirik Halilintar yang duduk tiga jengkal di sampingnya. Keduanya disuruh ke sini untuk mengobati luka Halilintar, sementara Taufan sedang di ruang kedisiplinan bersama Sai untuk menjelaskan kronologinya.

Yaya berdeham pelan. Ia mengubah posisi duduknya menjadi menyamping, menatap Halilintar sepenuhnya.

"Lukamu." katanya. Yaya menunjuk sudut bibir Halilintar menggunakan telunjuknya. "Harus diobati."

Halilintar yang masih kebingungan mengangguk. Tangannya bergerak mengambil kotak P3K di nakas samping ranjang, mengambil kapas dan salep di sana. Ia berusaha mengoleskan salep itu di lukanya, namun rasanya sulit karena ia tidak bisa melihat dimana luka itu berada.

"Perlu kubantu?"

Halilintar tertegun sedikit mendengar tawaran itu. Entah kenapa kepalanya mengangguk tanpa ia sadari, menyerahkan kapas itu kepada Yaya. Tubuh Yaya bergeser untuk memangkas jarak mereka. Ia dengan pelan menekan kapas itu pada luka Halilintar.

Ringisan tertahan lolos begitu saja saat rasa perih terasa di sana. Hal itu membuat Yaya meminta maaf, lalu kembali melanjutkan mengobati lukanya.

"Sudah selesai." ucap Yaya. Ia merapikan kembali kotak P3K itu.

"Terimakasih."

Yaya mengangguk. Keduanya kembali terdiam, membiarkan hening merajai. Sampai kemudian Halilintar membuka suaranya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Halilintar. Meski Yaya tidak jadi terkena pukulan dari Sai, Halilintar tetap bertanya kalau-kalau gadis itu ternyata terluka. Apalagi disebabkan olehnya.

"Tanganku sedikit sakit sih, karena memelintir kakak kelas jelek itu kuat banget." Halilintar menahan tawanya mendengar kata 'kakak kelas jelek' yang terdengar begitu polos dari gadis itu. "Tapi ini bukan masalah besar. Nanti juga sembuh sendiri." lanjutnya sambil tersenyum.

Halilintar mengangguk pelan. Diperhatikannya Yaya seksama, Halilintar baru menyadari figur gadis di sampingnya sangat mungil. Tapi Yaya dengan segenap keberaniannya datang begitu saja untuk menahan bogeman mentah Sai untuknya. Bahkan Yaya bisa memelintir kuat tangan Sai yang tubuhnya dua kali lipat dari Yaya, serta menendang kelemahan cowok itu hingga tak berdaya. Yaya benar-benar gadis pemberani.

"Lagipula, kenapa dia sampai ingin memukulmu, sih? Memangnya kau salah apa padanya?" tanya Yaya dengan raut kesal.

Halilintar mengendikkan bahu. "Kau mendengar nama Shielda tadi?" Yaya mengangguk. "Shielda tiba-tiba mendekatiku dan bercerita kalau Sai sering memperlakukannya dengan kasar. Aku memberikannya nasihat untuk memutuskannya saja jika itu membuatnya terluka. Dan Shielda benar-benar melakukannya, tapi Sai mengira aku merebut Shielda darinya."

Yaya menggelengkan kepalanya tak percaya. "Drama banget." komentarnya.

Halilintar tersenyum tipis. "Saat aku tiba tadi Sai menghampiriku dan berkata ingin berbicara padaku di atap sekolah. Semua mendengarnya, dan kejadian selanjutnya kau sudah melihatnya tadi."

"Lalu? Kenapa kau tidak menghajar si jelek itu?"

"Aku baru ingin menghajarnya ketika kau tiba-tiba muncul." ungkap Halilintar.

Yaya terkekeh kecil sambil menggaruk pipinya yang tak gatal. Ia melakukannya karena benar-benar tidak tahan lagi melihat Halilintar dibuat tersudut seperti tadi. Jadi tanpa berpikir panjang, Yaya masuk ke dalam lingkaran pertengkaran itu bermodalkan kemampuan taekwondo-nya yang masih sabuk kuning.

"Tapi, kenapa kau melakukannya?"

Pertanyaan Halilintar membuat Yaya terdiam. Ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba sok belagak ingin melindungi Halilintar. Disaat teman-temannya tak berani ikut campur tadi.

"Eum, itu ..."

Suara pintu yang dibuka membuat keduanya tersentak. Yaya tak jadi menjawab, ia memandang satu-satunya pelaku yang memutus pembicaraan mereka.

"Ah, maaf, aku mengagetkan kalian." ujar Taufan. Kakinya melangkah mendekati Halilintar dan Yaya.

Yaya diam-diam menghela napas karena tak perlu menjawab pertanyaan Halilintar barusan. Dirinya tidak tahu Taufan menatapnya lamat sebelum beralih pada Halilintar.

"Bagaimana?"

"Sudah selesai. Sai memdapatkan hukuman membersihkan kamar mandi selama tiga hari. Tapi ada kabar buruk untuk kita."

Mendengarnya Yaya menoleh. Taufan menatap keduanya bergantian.

"Kita juga dihukum. Membersihkan halaman belakang sekolah sepulang sekolah nanti." ucap Taufan, ada nada geram yang terselip di sana.

"Tunggu. Kita? Maksudmu kau dan Yaya juga terkena hukuman?" tanya Halilintar. Ada sesuatu yang aneh menggelitik perut Yaya kala Halilintar menyebut namanya.

"Ya. Aku sudah mengatakan sebenarnya, tapi Pak Tarung tetap kekeuh menghukum kita bertiga." balas Taufan pasrah. Halilintar berdecak kesal.

"Aku tidak apa-apa. Lagipula kita dihukum bersama, 'kan? Jadi rasanya bukan masalah besar." kata Yaya enteng. Taufan mengangkat alis sementara Halilintar menatapnya penuh rasa bersalah.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Taufan, memperhatikan lengannya.

Yaya tanpa sadar ikut menatap tangannya. "Ya, aku baik-baik saja."

Taufan menghela napas. Setelahnya mereka kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Yaya berjalan ke arah yang berlawanan dengan Halilintar dan Taufan. Punggung kecil yang semakin menjauh itu ditatap sampai hilang dari pandangan, tanpa menyadari tatapan tanya yang diberikan oleh sahabatnya.

...

..

.

Selama pelajaran berlangsung, Yaya terus menahan senyum karena kejadian tadi pagi. Meski namanya langsung menjadi topik pembicaraan hari ini, Yaya tetap senang karena akhirnya ia bisa mengobrol dengan Halilintar. Kini langkahnya semakin dekat menuju pujaan hati sahabatnya. Yaya tak sabar menceritakannya pada Ying nanti.

Istirahat tiba begitu cepat, Yaya langsung bangkit ketika guru mereka sudah meninggalkan kelas. Gadis itu baru akan melangkah saat tiba-tiba mejanya sudah dikerubungi teman-teman sekelasnya.

"Yaya, kau baik-baik saja? Kak Sai tidak mengancammu, 'kan?"

"Kau benar-benar keren, Yaya! Aku sampai menahan napas saat kau maju untuk melindungi Halilintar tadi!"

"Bagaimana keadaan Halilintar? Tadi dia kena pukul, 'kan?"

"Yaya, ajari aku taekwondo dong biar bisa ngelindungin Halilintar juga!"

"Bagus, Yaya! Kak Sai pantas mendapatkannya!"

"Yaya, Yaya!"

Tangan Yaya memijit pelipisnya. Seharusnya ia tahu tindakannya bisa berakibat sejauh ini. Halilintar adalah cowok populer di angkatannya, dan pasti siapapun yang berurusan dengannya akan menjadi topik pembicaraan juga. Namun Yaya bersyukur setidaknya mereka tidak membicarakan hal-hal buruk tentangnya berkat keberaniannya yang sungguh di luar dugaan itu.

"Ah, maaf teman-teman. Aku sudah lapar, aku ke kantin dulu, ya? Sesi wawancaranya nanti saja. Sampai jumpa!" Dengan secepat kilat, Yaya kabur dari teman-temannya yang mendadak jadi wartawan. Ia menghembuskan napas lega setelah berhasil menapaki koridor.

Tatapan dengan berbagai sorot mata terus menghujamnya tanpa henti. Yaya seberusaha mungkin mengabaikannya, tujuannya ke kantin hanya untuk isi perut, bukan mengajak tawuran. Gadis itu terus berjalan dengan santai hingga tiba di kantin, tanpa membalas satu pun tatapan yang terus mengejarnya.

Sekaleng soda dan makanan pedas sepertinya cocok untuk ia santap siang ini. Yaya baru akan berjalan ke salah satu gerai ketika namanya dipanggil oleh seseorang. Terlihat Halilintar dan Taufan yang duduk di salah satu meja kantin menatap ke arahnya. Tanpa ragu Yaya menghampiri mereka.

"Minumlah."

Yaya mengangkat alis saat sekaleng soda disodorkan oleh Halilintar. Ia menerimanya dengan pelan seraya mengulum senyum.

"Terimakasih." Ditenggaknya minuman itu hingga tenggorokannya terasa segar. "Hah ... akhirnya aku bisa bernapas."

Taufan terkekeh. Keduanya tahu apa yang Yaya maksudkan.

"Maaf, ya? Karenaku kau jadi kerepotan."

Yaya buru-buru menggeleng saat Halilintar mengucapkan nada sesal itu.

"Tidak, tidak. Ini bukan salahmu. Aku memang suka mencampuri urusan orang lain, kok. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah." ucapnya menggebu-gebu. Halilintar tertawa geli mendengarnya.

"Oh, ya? Bukankah karena kau menyukai–"

"Perdamaian. Aku sangat menyukainya. Hahaha." Yaya tertawa garing seraya menginjak kaki Taufan di bawah meja. Si empunya merintih tanpa suara, membuang wajahnya ke sisi kiri tanpa sepengetahuan Halilintar sehingga ekspresi kesakitannya tak terlihat. "Begitulah diriku." Yaya berhenti menginjak kaki Taufan, lalu beralih meminum sodanya lagi.

"Benarkah? Kalau begitu, aku harus membalas kebaikanmu." balas Halilintar.

Taufan terbatuk keras mendengarnya. Ia kembali mengangkat kepalanya, menatap gadis di sampingnya yang menunjukkan wajah tanpa dosa.

"Tidak perlu. Aku ikhlas melakukannya." ucap Yaya konyol. Halilintar tertawa. Sesaat Yaya berhenti bergerak hanya untuk mendegar suara tawa Halilintar yang begitu candu.

"Dia benar. Kau tidak perlu repot-repot melakukan itu, Hali." timpal Taufan. Ia tersenyum manis pada Yaya, yang Yaya balas dengan senyum manis juga. Tanpa kata-kata, mereka saling memberikan sinyal peringatan yang hanya dimengerti keduanya. "Itu akan membuang-buang waktumu." tambah Taufan lagi. Tatapan sinis kembali dilayangkan untuk si gadis sebelum kembali menyantap makanannya.

Yaya menyengir. Sedangkan Halilintar hanya geleng-geleng kepala. Setelahnya tak ada yang berbicara lagi. Suasana riuh kantin menjadi pengisi suara di antara mereka bertiga. Sampai kemudian, Taufan bersuara lagi saat ingat sesuatu.

"Oh, ya, Hali. Kemarin ada yang meneleponmu lewat telepon rumahmu."

Halilintar mengangkat alis. "Oh ya? Siapa?"

Yaya menatap bergantian keduanya. Ia yang tidak tahu apapun hanya mendengarkan, kembali menenggak minuman soda yang Halilintar berikan.

"Sepertinya tukang tipu. Dia mengatakan kalau kau mendapatkan sepeda motor karena mengisi surveynya. Lalu tiba-tiba saja dia meminta nomor pager-mu."

Yaya tersedak minumannya sendiri. Tenggorokonnya terasa perih, membuat ia terbatuk-batuk dengan mata membelalak.

"Yaya, kau tidak apa-apa?" Halilintar bertanya cemas.

Yaya mengangguk meski batuknya belum reda. Tangannya menepuk-nepuk dadanya, berharap batuknya bisa menghilang. Ia mengangkat pandangannya untuk menemukan tatapan khawatir Halilintar, dan Taufan yang sepertinya sedang menahan tawa.

Jadi yang mengangkat teleponnya itu Taufan?!

"Makanya kalau minum pelan-pelan." ujar Taufan, membuat Yaya tersenyum masam. Awas saja kau nanti, Taufan!

"Sudah mendingan?" Dan Halilintar tetap bertanya sampai batuknya benar-benar menghilang.

"Ya ... aku tidak apa-apa," Yaya bernapas lega saat merasakan tenggorokannya plong. Halilintar bernapas lega sebelum kembali beralih lagi pada Taufan.

"Jadi? Setelah itu apa?"

"Aku pesan makanan dulu, ya? Kalian tunggu di sini." ucap Yaya cepat, tak mau mendengarkannya lagi.

Sebelum bangkit, Yaya menyenggol lengan Taufan dengan sengaja, membuat si empunya berjengit. Tanpa bertanya pun Taufan tahu, itu adalah kode dari Yaya agar dirinya tak berkata macam-macam lagi pada Halilintar.

...

..

.

"Cish, seharusnya aku melempar si jelek itu dari atap sekolah!" Yaya berseru kesal, mengambil sapu lidi yang tergeletak begitu saja dekat tembok.

Sesuai hukuman yang telah ditetapkan oleh guru kedisiplinannya, mereka bertiga melaksanakan hukuman tersebut, yaitu membersihkan halaman belakang sekolah. Tempat yang jarang dipijaki oleh siswa-siswi karena keseramannya, hingga membiarkan tempat tersebut kotor dan tak terawat. Dedaunan yang jatuh berhamburan dari pohon besar di sana mengotori seluruh halaman. Melihatnya saja sudah membuat Yaya ogah membersihkannya.

"Sayangnya itu akan membunuhnya. Dan kau akan masuk penjara, Yaya." sahut Halilintar. Cowok itu berdiri tak jauh dari Yaya, memandang sekitar mereka seolah memperkirakan berapa lama waktu yang dihabiskan untuk membersihkan tempat ini.

Yaya mendengus. "Andai saja membunuh itu tidak dosa." katanya. Kalau tidak karena Sai, mereka pasti bisa pulang cepat. Kini nama Sai tercatat di daftar hitam seorang Yaya Yah.

"Tidak usah bawel. Bersihkan saja agar kita bisa pulang." kata Taufan. Cowok itu sudah mulai menyapu dari pinggir halaman. Yaya memandangnya sinis, masih kesal karena pembicaraan mereka di kantin tadi.

"Aku menyapu dari sisi kanan, Taufan sisi kiri, Yaya bagian tengah. Bagaimana?" tanya Halilintar, mulai membagi tugas agar hukuman mereka cepat selesai.

Taufan dan Yaya serempak mengangguk. Mereka bertiga bergerak ke posisi masing-masing. Menyapu apapun yang mengotori halaman, lalu menyeroknya dengan pengki sebelum membuangnya ke tempat sampah.

Sesekali obrolan dan candaan dilemparkan, entah Taufan yang jahil melemparkan dedaunan ke arah Yaya yang tentu saja dibalas dua kali lipat oleh gadis itu. Atau Halilintar yang pura-pura menaiki sapu lidi seolah ia penyihir jahat dan mengejar Yaya dan Taufan kesana kemari. Ketiganya tertawa. Hukuman mereka terasa jauh lebih menyenangkan tanpa adanya rasa tertekan, tak terasa sudah satu jam mereka di sana. Kini, halaman belakang sekolah telah bersih tanpa adanya sampah sedikitpun. Ketiganya menatap dengan bangga hasil pekerjaan mereka dengan sapu lidi di tangan masing-masing.

"Mission complete."

.

.

.

.

to be continued


A/N :

Haloooo, welkambek to my channel~ /ala-ala Jessica Jane

Chapter ini jadi awal kedekatan mereka bertiga ya ges ya. Sempet bingung gimana ngebuat karakter Halilintar, akhirnya kubuat dia pendiam tapi yang nggak pendiam pendiam amat, ngerti 'kan maksud aku? /g

Yak bener, kayak dia pendiam ke orang ga yang dia deket, tapi sama orang terdekatnya bisa perhatian bahkan cerewet. Dan Yaya udah masuk bagian ke dalam orang-orang terdekat Hali uyeay /plak

Nggak deng gagitu, Hali sebenernya baik ke Yaya karena Yaya udah nolongin dia. Untuk sementara ini. Selanjutnya? Kita liat nanti mwehehehehe /ketawa Adudu

Kalian #TeamHali atau #TeamTaufan. Pilih yaa jangan golput :p Ini sebenernya buat seru-seruan aja, untuk plot tetap berjalan sesuai rencana jadi keputusan tetep ada di tangan akoh /mel

Aku banyak bacot juga, segitu dulu deh curcolnya sebelum panjang seperti kenangan bersama mantan. Sampai jumpa di chapter depan yoww~!