"Loved You First" by Meltavi
Boboiboy © Animonsta Studios
Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^
Warning(s) : AU, TauYa or HaliYa, friendship, romance, highschool!AU, latar cerita tahun 1990-an, typo, gaje, dll.
Selamat membaca^^
...
..
.
"Jadi ternyata memang kau, si penipu dapat sepeda motor karena mengisi survey."
"Kuis, bukan survey."
Taufan tertawa geli. Bukannya mengelak, Yaya malah semakin mempertegas kalau semalam adalah dirinya. Didekatkan tubuhnya pada gadis itu yang sedang mencatat poin-poin penting dari rapat klub siaran barusan, sekilas Taufan menangkap rona merah di kedua pipi Yaya.
"Kau benar-benar menyukai Halilintar, ya?"
Yaya berhenti mencatat dan meletakkan pulpennya kasar. Matanya memandang wajah Taufan di depannya dengan kesal. "Sudah kubilang aku tidak menyukainya!" katanya geram.
Taufan mengangkat alis tak percaya. "Benarkah? Lalu kenapa kau ingin tahu sekali nomor Halilintar?"
Ditanya begitu membuat Yaya mengkerut. Ia mengalihkan pandangannya dari tatapan Taufan yang mengejarnya. "M-memangnya kenapa? 'Kan tidak berarti suka ... " Yaya menggantungkan kalimatnya saat sadar alasannya terdengar konyol. Ia memejamkan matanya dan merutuk dalam hati.
"Kalau suka ya suka saja. Tidak usah malu begitu, Yaya." Dan Taufan takkan berhenti menjahilinya.
"Sudah kubilang tidak!" balas Yaya tanpa sadar nadanya meninggi, membuat Taufan tersentak kaget di tempatnya. "Pokoknya aku tidak menyukai Halilintar. Titik. Tidak pakai koma. Paham?!" Meja di antara mereka digebrak oleh Yaya, gadis itu sudah bangkit dari tempatnya, berniat pergi dari ruang siaran.
Taufan menggelengkan kepalanya. Ia ikut berdiri dan mengucapkan sesuatu pada Yaya hingga langkah gadis itu terhenti.
"Aku tidak akan memberitahu Halilintar, kok."
Yaya membalikkan badannya, memberikan tatapan setajam elang pada Taufan karena lagi-lagi cowok itu menganggap dirinya menyukai Halilintar. Kenapa susah sekali meyakinkan manusia satu ini, sih?
"Tapi dengan satu syarat." kata Taufan lagi, memancing rasa penasarannya.
Yaya meniup kerudungnya jengah. "Apa?" Kini Yaya sudah lelah membela dirinya, setidaknya apapun yang Taufan anggap tentangnya tidak akan mengungkap kenapa ia menjadi stalker Halilintar.
"Kau mempunyai toko rental buku, 'kan?"
Dahi Yaya mengernyit mendengar pertanyaan itu. "Bukan aku. Tapi keluargaku." ralat Yaya. Benaknya mulai bertanya-tanya kenapa Taufan tiba-tiba membahas itu.
"Ya, ya, sama saja." Taufan berjalan mendekatinya dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku celana. "Aku ingin komik Detektif Conan dari tokomu. G-ra-tis."
"Hah?! Apa-apaan–"
"Yasudah kalau tidak mau. Aku beri tahu Halilintar."
Tangan Taufan langsung ditahan ketika kakinya ingin melangkah keluar. Taufan tersenyum kemenangan saat dilihatnya wajah Yaya yang pasrah. Tentu saja gadis itu tak ingin Halilintar mengetahuinya.
"Deal. Besok kubawakan." ucap Yaya menyerah.
Taufan bersorak dalam hati. Tak menyangka Yaya akan menyetujuinya dengan cepat. Yah, meskipun harus pakai ancaman dulu.
"Tapi, darimana kau tau keluargaku mempunyai toko rental buku?" tanya Yaya heran.
Taufan seketika terdiam. Pandangannya ia alihkan dari tatapan Yaya yang menuntut jawaban darinya. "Ah, itu ... aku hanya mendengarnya dari yang lain." katanya sambil mengendikkan bahu.
Yaya tampak ingin bertanya lagi. Namun secepat itu juga Taufan mencegahnya.
"Sudah, ya. Aku ada urusan. Sampai jumpa!"
Dan Yaya hanya bisa memandang heran kepergian Taufan yang tampak tergesa-gesa.
...
..
.
Sekolah sudah sepi. Beberapa klub yang berkegiatan selepas pulang sekolah tadi telah bubar, tak terkecuali klub penyiaran. Namun itu tidak membuat langkah kaki Yaya pulang ke rumah. Melainkan ke lapangan indoor sekolahnya, untuk menonton anak-anak klub basket sedang latihan.
Yaya mengambil tempat duduk penonton di barisan tengah. Lapangan indoor yang mirip stadion kecil itu memudahkan dirinya untuk menemukan sosok Halilintar di bawah sana. Tengah memantul-mantulkan bolanya ke lantai lapangan, lalu menggiringnya ke ring. Senyum Yaya mengembang kala Halilintar berhasil memasuki bola ke ring. Cowok itu tampak tersenyum lebar seraya ber-tos ria dengan teman-temannya.
Keberadaannya belum disadari Halilintar saat pelatih mereka memulai permainan kembali. Yaya kemudian merogoh sakunya untuk mengambil note kecil. Sejauh ini, ia sudah mendapat banyak informasi tentang Halilintar. Ia juga telah melaporkannya pada Ying, yang direspons antusias oleh sahabatnya itu. Yaya bisa membayangkan ekspresi senang Ying saat menceritakan Halilintar. Entah kenapa, kebahagiaan Ying seperti menjadi kebahagiaannya sendiri.
Suara pluit terdengar, membuat Yaya mengangkat kepalanya. Latihan telah usai dan satu per satu anggota klub basket meninggalkan lapangan. Pada saat itulah, Halilintar menyadari keberadaannya. Yaya tersenyum seraya melambaikan tangannya. Halilintar langsung menghampirinya setelah mengambil seragam dan tasnya.
"Sejak kapan disini?" tanya Halilintar sambil mengatur napasnya yang masih memburu.
Yaya tak langsung menjawabnya. Diulurkannya botol minuman dingin yang ia bawa tadi kepada Halilintar.
"Makasih." Minuman itu kemudian ditenggak sampai tenggorokannya terasa segar kembali.
"Belum lama. Sekitar sepuluh menit yang lalu?" jawab Yaya tak yakin.
Halilintar tersenyum dan menaruh minumannya di antara mereka. Ia menselonjorkan kakinya dengan tangan menyangga tubuhnya dan menatap lapangan di depan mereka yang mulai sepi. Yaya pun melakukan hal yang sama.
"Kau suka basket karena apa?" tanya Yaya membuka obrolan.
Halilintar bergumam tidak jelas seraya berpikir. "Hmm, entahlah. Setiap melihat basket aku selalu menyukainya, dan rasanya menyenangkan saat memantulkannya ke lapangan." katanya. Ekspresi wajahnya tampak senang saat menceritakannya.
"Kalau kau?"
Yaya menoleh. "Hm?"
"Suka klub penyiaran karena apa?" tanya Halilintar balik.
Yaya tersentak atas pertanyaan itu. Tanpa sadar ia menggaruk tengkuknya, bingung menjawab apa. Awal mula ia masuk klub penyiaran 'kan karena Halilintar. Bagaimana ia menjawabnya?
"Ah, itu ... aku hanya ingin mencoba hal baru. Seperti mencari pengalaman baru? Yah, semacam itu." jawab Yaya. Kedengarannya masuk akal, 'kan?
"Kupikir sama seperti Taufan."
"Eh?"
Halilintar mengangguk. Ia menekuk kakinya dan menumpukan lengannya di paha. Kepalanya tertoleh untuk menatap wajah Yaya dari samping. "Taufan sangat menyukai bidang itu sejak SD. Dan dia benar-benar menekuninya sampai sekarang."
"Ah, begitu." Yaya mengangguk mengerti.
"Dia sampai ingin menyeretku untuk masuk ke klub yang sama dengannya juga. Untung saja aku mengetahui ada klub basket di sekolah ini, jadi aku langsung mendaftarnya."
Yaya tersenyum tipis ketika kepalanya mengingat lagi hari pendaftaran klub yang diadakan sekolahnya. "Ya, aku tahu."
"Eh? Kau tahu darimana?" tanya Halilintar terkejut.
Seketika Yaya gelagapan karena baru sadar ia keceplosan. "Err ... Taufan yang menceritakannya waktu itu," ucap Yaya ragu. Dalam hati ia meminta maaf pada Taufan dan berdoa agar cowok itu tak mengetahui hal ini.
Halilintar mendengus geli. "Dasar."
Melihat reaksi Halilintar membuat Yaya bernapas lega sekaligus penasaran. Ditatapnya wajah Halilintar seksama sementara cowok itu memandang ke arah lapangan.
"Kau sepertinya dekat sekali dengan Taufan?"
"Memang. Kami dekat sejak kecil. Bisa dibilang ... sahabat?" kata Halilintar seperti tak yakin.
Yaya terkekeh mendengarnya. "Aku juga mempunyai sahabat sejak kecil."
"Oh, ya?"
"Yep. Tapi dia sedang ke Jerman saat ini." ucap Yaya, nadanya berubah sendu. Hal itu membuat Halilintar menatap sepenuhnya padanya.
"Namanya siapa?"
"Ying." Dan dia menyukaimu, Halilintar. "Dia sahabat terbaikku. Kami tidak terpisahkan sampai akhirnya ia pergi ke Jerman untuk mengunjungi ayahnya sementara. Ah, aku jadi merindukannya." gumam Yaya.
Halilintar terdiam. Matanya kembali menatap lapangan, mendapati bola basket di sana. Sebuah ide muncul di kepalanya. Cowok itu lalu bangkit, menghadapkan tubuhnya ke Yaya yang mengernyit bingung.
"Mau main basket?"
Yaya mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
Tak lama kemudian, lapangan indoor itu diisi oleh suara basket yang dipantul-pantulkan ke lantai lapangan. Halilintar mengajarinya sebentar karena Yaya sama sekali tidak paham cara memainkannya. Beberapa kali tangan Yaya terpeleset saat menggiringnya dan membuat bola itu memantul ke sembarang arah.
"Aku tidak bisa, Halilintar."
Halilintar terkekeh. "Coba lagi." Ia melempar bola itu ke Yaya yang langsung ditangkap sang gadis. Yaya menggiringnya dengan gerakan lambat bersama wajah kebingungannya. Halilintar tertawa kecil. Ia mengikuti Yaya yang terus berusaha. "Aku rebut, ya?" godanya.
"Jangan! Halilintar, aku hampir bisa!" seru Yaya, berusaha menghindari Halilintar yang ingin merebut bolanya.
Namun itu tak membuat Halilintar berhenti, ia malah semakin ingin mengusik Yaya. Halilintar berpura-pura memberi gesture merebut bola dari belakang Yaya. Gadis itu panik sambil terkekeh, terus berusaha menghindar.
"Halilintar!"
"Aku rebut."
Bola itu telah berpindah tangan, Halilintar menggiringnya ke arah yang berlawanan. Terdengar Yaya yang mengejarnya sambil berseru, tangan gadis itu meraih lengannya untuk merebut kembali bola itu. Halilintar tertawa, tangannya dengan lihai memasukkan bola itu ke dalam ring.
"Curang!" seru Yaya kesal.
Halilintar terkekeh. Ia memberikan bola itu pada Yaya lagi. Mereka berdua kembali melanjutkan permainan diselingi seruan dan tawa hingga matahari terbenam.
...
..
.
"Kamu jaga toko sebentar, ya? Mama mau ke rumah dulu."
Yaya hanya mengangguk patuh dan melihat sosok ibunya telah menghilang dari pintu toko. Setelah yakin ibunya benar-benar pergi, Yaya mengendap-endap di antara rak-rak buku milik keluarganya. Ia menjelajahi rak bertuliskan komik yang terletak di sudut ruangan. Karena Yaya tak pernah menyentuh bagian itu, ia harus melihat seksama buku-buku komik yang terjejer rapi di sana.
Dragon Ball. Crayon Sinchan. Doraemon. Kenji. Mata Yaya terus membaca satu per satu judul komik di sana. Lampu remang-remang sedikit membuatnya kesulitan mencari, belum lagi kakinya yang harus berjinjit untuk memeriksa rak bagian atas. Yaya menghela napas gusar setelah tak menemukan komik Detektif Conan di bagian rak pertama. Ia beralih pada rak kedua, melakukan hal yang sama lagi sambil berharap keluarganya tak menangkap basah apa yang sedang ia lakukan.
"Ini dia!" pekik Yaya kegirangan, lalu buru-buru membekap mulutnya. "Diamlah, Yaya. Nanti ada yang dengar." rutuknya untuk diri sendiri.
Yaya menatap komik Detektif Conan di genggamannya dengan mata berbinar, senyumnya mengembang puas karena berhasil menemukannya. Dengan hati-hati, Yaya menyembunyikannya di dalam jaket pink yang ia kenakan sekarang, sebelum sang ibu mengetahui dan mengomelinya. Sungguh, Yaya tak berniat membuat keluarganya rugi. Tapi ia juga tidak punya pilihan lain, karena Taufan benar-benar sangat menyebalkan.
Setelah menyembunyikannya dengan sangat baik, Yaya kembali ke kursi kasir dan berperilaku seakan tidak terjadi apa-apa. Ibunya kembali lagi tak lama kemudian, Yaya memulai aktingnya seolah ia adalah aktris papan atas.
...
..
.
"Letakkan tas kalian di atas meja. Sekarang."
Semua murid di kelas itu meneguk ludah. Dengan berat hati, diletakkannya tas masing-masing di atas meja. Tak terkecuali Yaya. Gadis yang duduk dekat jendela itu sudah menampilkan wajah pucat sejak guru kedisiplinan tiba-tiba datang ke kelasnya dan mengumumkan razia dadakan. Siapapun yang membawa benda tak berhubungan dengan keperluan sekolah akan dikenakan hukuman dan denda.
Maka dari itu, Yaya serasa ingin kabur saja sekarang.
Guru berwajah garang dengan hiasan kumis tebal itu sudah mulai menghampiri meja pertama, tiga meja di depannya. Yaya ketar-ketir, bagaimana caranya melenyapkan buku komik yang ia bawa dalam sekejap mata agar tidak ketahuan? Ia merapal doa keras-keras dalam hatinya, supaya buku itu mendadak jadi benda tak kasatmata dan tidak dapat dilihat oleh siapapun.
"Kamu ini mau kondangan atau sekolah? Keluar sekarang!"
Kelasnya semakin tegang berkat omelan sang guru kepada salah satu temannya yang membawa peralatan make-up. Dia langsung keluar kelas dengan wajah pias, membuat Yaya kasihan melihatnya.
Tunggu. Kenapa Yaya harus kasihan padahal nasibnya juga akan seperti dia nanti?
Jantung Yaya semakin berdegup kencang ketika guru itu hampir tiba di mejanya. Keringat dingin sudah meluncur mulus di pelipisnya. Yaya melirik ke arah teman-temannya, menemukan berbagai macam ekspresi dari mereka. Haruskah ia pasrah sekarang? Tapi kalau ibunya tahu bisa tamat riwayatnya nanti.
"Buka tas kamu."
Yaya hampir terlonjak di tempatnya ketika nada bariton itu terdengar. Guru kedisiplinan sudah tiba di samping mejanya, menatap Yaya dengan tatapan elang. Yaya meneguk ludah. Dengan gerakan pelan, ia membuka resleting tasnya dan membiarkan gurunya menggeledah isi tas miliknya. Yaya tak berani menatap proses penggeledahan itu, ia menunduk ke bawah dengan pasrah.
"Detektif Conan?"
Mata Yaya terpejam erat, menunggu titah selanjutnya dari guru garang itu. Ia tak bisa melakukan apa-apa lagi. Sepertinya ini karma untuk Yaya karena telah membohongi ibunya.
"Yaya Yah. Keluar sekarang, berlutut sambil angkat komik ini tinggi-tinggi di depan kelas."
Hukuman yang sungguh memalukan. Yaya tahu guru kedisiplinannya sengaja memberi hukuman untuk murid yang melanggar peraturan sekolah. Karena benar-benar membuat siapapun malu dan jera.
Dan Yaya tidak bisa menghindarinya sekarang. "Baik, Pak." Ia berjalan meninggalkan kelas dengan lesu, merasakan tatapan kasihan dari teman-temannya yang lain.
Yaya menghela napas saat kakinya sudah mencapai pintu kelas. Didapatinya Suzy, yang tadi terkena hukuman lebih dulu karena membawa peralatan make-up.
"Kau dihukum juga?" tanya Suzy.
Yaya mengangguk sambil melirik komik yang sedang ia pegang. Suzy terkekeh. Membuat Yaya tersenyum tipis karena setidaknya ia ditemani Suzy selama menjalani hukuman.
Jadilah, mereka berdua mengambil posisi berlutut dengan mengangkat tinggi-tinggi barang masing-masing. Yaya mendesah panjang. Seharusnya ia tak menyetujui kesepakatannya bersama Taufan. Sekarang lihatlah, ia jadi kena hukuman berkat perjanjian konyol itu. Jika dipikir kembali, kenapa juga dirinya harus takut Taufan akan membeberkan tentang ia yang menyukai Halilintar? 'Kan itu sama sekali tidak benar, dan ia hanya perlu menjelaskannya pada Halilintar nanti. Yaya yakin Halilintar memahaminya.
Yaya mendengus. Sepertinya ia terjebak dalam perangkap yang Taufan buat. Cowok itu pasti sengaja melakukannya agar dirinya terkena hukuman. Jika bukan itu, apalagi alasannya?
Digertakkan giginya sampai terdengar bunyi gemelutuk, mengundang tatapan tanya dari Suzy yang terheran-heran. Yaya meremas buku yang ia pegang, memaki dalam hati manusia bernama Taufan.
Awas saja kau nanti, Taufan!
...
..
.
"Kau dihukum?"
"Ya." balas Yaya ogah-ogahan.
"Lalu bagaimana dengan bukunya? Disita dong?"
Yaya menahan diri untuk tak mematahkan pensil yang sedang ia pegang. Ditatapnya Taufan tajam seolah-olah cowok itu tersangka utama kasus pembunuhan.
"Iyalah! Dan ini semua gara-gara kau!" bentak Yaya seraya menunjuk wajah Taufan dengan telunjuknya.
Yang ditunjuk tentu tak terima. "Kok salah aku?"
"Terus salah siapa lagi? Kau yang menyuruhku membawa komik itu dan sekarang aku harus terkena hukuman karena ketahuan Pak Tarung!" balas Yaya berapi-api.
Taufan memandang Yaya tak percaya. "Kenapa itu jadi salahku? Kau sendiri yang tidak berhati-hati sampai Pak Tarung menemukannya! Dasar cewek!"
"Apa kau bilang?!"
Yaya memandang sengit Taufan yang juga tak takut menatapnya. Ruang siaran seketika menjadi tegang berkat adu cekcok mereka. Keduanya saling memberikan tatapan membunuh selama beberapa detik, sebelum akhirnya Taufan menyerah dan membuang wajah. Yaya juga melakukan hal yang sama karena sadar kelakuan mereka seperti anak kecil.
"Sudahlah. Sekarang pikirkan apa yang harus kita lakukan agar buku itu kembali." ujar Taufan.
Yaya mendudukkan tubuhnya dengan gusar. Komik itu sudah ia serahkan pada Pak Tarung, selaku guru kedisiplinan sekolahnya untuk disita. Yaya tidak tahu berapa lama penyitaan itu. Tapi yang pasti, buku itu harus kembali sebelum keluarganya tahu.
"Bagaimana ... kalau kita mengambilnya?"
Yaya mendongakkan kepala untuk menatap Taufan yang tiba-tiba memberikan saran.
"Maksudmu menyelinap ke ruang guru?"
Taufan mengangguk. Ia mengambil posisi duduk di samping Yaya agar lebih leluasa menjelaskan kepada gadis itu. "Setahuku, Pak Tarung akan menaruh barang-barang sitaan di loker ruang guru. Kita hanya memerlukan kuncinya."
"Dari mana kita mendapatkan kunci itu?"
"Satpam sekolah."
Yaya menyipitkan matanya. "Bagaimana kau tahu? Kau mata-mata, ya?"
Taufan memutar bola matanya malas. "Dari kak Kaizo." Ia melihat Yaya mengangguk-angguk seperti orang bodoh. "Jadi? Kau setuju atau tidak?"
Yaya terdiam sejenak sebelum membalas. "Kita tidak mungkin melakukannya pada siang hari 'kan? Pasti ..."
"Malam hari." sambung Taufan membuat Yaya lagi-lagi terdiam. Otaknya mulai memikirkan berbagai resiko yang mungkin akan mereka dapatkan jika ketahuan.
Tapi ide itu adalah satu-satunya cara untuk mengembalikan komik milik keluarganya.
"Baiklah." putus Yaya akhirnya setelah berpikir cukup lama. Ia menatap tatapan Taufan yang tak terkejut mendengar keputusannya. "Aku akan melakukannya."
Taufan tersenyum. "Jam 8 malam di sekolah. Aku tunggu."
...
..
.
"Kalian yakin akan melakukan ini?"
Taufan dan Yaya saling berpandangan, sementara Halilintar menanti jawaban dari mereka dengan sabar. Ketiganya kini berdiri di dekat pohon depan sekolah mereka.
"Yah ... mau bagaimana lagi. Hanya itu cara yang bisa dilakukan." cicit Yaya.
Halilintar menghela napas. Ia benar-benar kaget saat Taufan meminta tolong padanya untuk menyelinap ke ruang guru malam-malam begini demi sebuah komik yang katanya sangat penting itu. Halilintar tak paham dengan kelakuan kedua temannya, apa yang membuat komik itu harus direbut kembali saat ini juga?
"Maaf, Halilintar. Seharusnya aku tidak membuatmu ikut terseret ke dalam masalahku," ujar Yaya menyesal.
Taufan meliriknya malas. Teringat lagi bagaimana Yaya yang menyalahkannya saat sore tadi di ruang siaran. Dasar menyebalkan.
"Itu tidak masalah. Aku tidak keberatan, hanya saja ... " Ucapan Halilintar menggantung, kini ia menatap penuh pada Taufan di sebelahnya. Yang ditatap menghela napas jengah.
"Tenanglah. Kita pasti berhasil jika mengikuti rencana yang sudah kubuat." Taufan memberikan kode untuk mendekat, Halilintar dan Yaya menurut dan mendengarkan baik-baik apa yang akan dikatakannya. "Kita harus mendapatkan kuncinya terlebih dahulu, di pos satpam. Pak Kokoci akan berkeliling saat jam 8, dan kita bisa diam-diam mengambilnya. Setelah dapat kuncinya, kita ke ruang guru. Halilintar yang akan berjaga di depan ruang guru kalau ada apa-apa, dan kau Yaya–" Taufan menunjuk sang gadis yang gelagapan. "Ikut bersamaku ke ruang guru untuk mencari komik itu."
Halilintar mengangguk paham. "Baiklah, aku mengerti. Aku harus memberikan kode apa jika ada sesuatu?"
Taufan menyalakan senter yang ia genggam sedari tadi. "Mainkan tombol senternya ke arah kami, agar tidak menimbulkan suara." jelas Taufan.
"Tunggu. Kita keluar lewat mana?" tanya Yaya kemudian saat teringat sesuatu.
"Halaman belakang sekolah." jawab Taufan.
Halilintar mengernyit. "Maksudmu kita manjat temboknya?"
Taufan mengangguk. "Maka dari itu aku menyuruh kalian memakai pakaian hitam agar mudah bersembunyi, bukan yang cerah kayak mau ke pesta." sindir Taufan pada Yaya yang mengenakan jaket pink.
"Lupa." bela Yaya tak mau disalahkan. Taufan memutar bola matanya sementara Halilintar terkekeh tanpa suara.
"Yasudah. Ayo kita masuk."
Mereka bertiga kemudian berjalan mengendap-endap memasuki sekolah. Halilintar di depan, Yaya di tengah, dan Taufan berjaga di belakang dengan mata mengawasi sekitar. Ketiganya melangkah tanpa suara menuju pos satpam yang diterangi sebuah lampu. Halilintar merentangkan tangan kirinya, membuat Taufan dan Yaya seketika berhenti.
"Ada apa?" bisik Yaya panik.
Halilintar tak menjawab langsung karena matanya berkeliaran mengecek keadaan. Ia kemudian memberikan kode untuk meneruskan langkah lagi hingga tiba di depan pos satpam.
"Pak Kokoci tidak ada. Aku akan mengambil kuncinya sebentar."
Taufan dan Yaya mengangguk setuju, membiarkan Halilintar masuk ke dalam pos satpam untuk mencari kunci cadangan di sana. Dari informasi yang Taufan dapatkan, Pak Kokoci biasa menaruhnya di gantungan baju, bertumpuk dengan pakaian yang digantung di sana. Penerangan lampu di sana tak menyulitkan Halilintar menemukan kumpulan kunci yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu. Ia tersenyum saat kunci-kunci itu telah berada di tangannya.
"Sudah?" tanya Taufan ketika dirinya kembali.
Halilintar menunjukkan kunci yang ia dapatkan pada Taufan dan Yaya. Helaan napas lega terdengar dari keduanya.
"Ayo, sebelum Pak Kokoci kembali."
Mereka melanjutkan aksi mengendap-endap lagi menuju ruang guru. Semua lampu yang dimatikan membuat mereka kesulitan melihat, namun Halilintar sebagai pemimpin jalan cukup lihai menentukan langkah aman. Tak ada apapun yang mencurigakan selama mereka menyusuri koridor sekolah. Yaya seketika merasakan bulu kuduknya merinding karena merasakan suasana yang begitu mencekam, namun sebisa mungkin menyembunyikannya dan terus berjalan.
Di belakang, Taufan menatap was-was sekitar mereka. Sepertinya Pak Kokoci tidak berada di lantai satu. Selama berjalan Taufan tak menemukan cahaya apapun, membuatnya sedikit tenang.
Setelah puas mengendap-endap, ketiganya tiba di depan pintu ruang guru. Halilintar langsung mencoba semua kunci untuk membukanya. Ia mengira akan memakan waktu yang lama, namun saat kunci ketiga dicoba, pintu ruang guru terbuka membuat ketiganya menghela napas lega.
"Aku akan tunggu disini. Cepatlah." kata Halilintar seraya memberikan kunci itu pada Taufan.
Taufan dan Yaya mengangguk, segera melaksanakan tugas mereka. Dihampirinya meja Pak Tarung yang terletak hampir di sudut ruangan. Yaya mencari di bagian meja guru, sementara Taufan membuka loker Pak Tarung.
"Kalau sudah ketemu beri tahu aku." bisik Taufan di sela-sela mencarinya.
Yaya mengangguk. Ia tak berhasil menemukannya di meja, gadis itu beralih ke laci meja, membukanya satu per satu sambil menyenterinya. Ia sedikit frustrasi kala usaha pencariannya tak membuahkan hasil. Seluruh meja Pak Tarung sudah ia jelajahi, Yaya menoleh pada Taufan yang masih sibuk mencari.
"Aku tidak menemukan apapun." ucap Yaya pasrah.
"Aku ju–tunggu. Yaya, kemarilah." Taufan memberikannya kode untuk mendekat, Yaya buru-buru menghampiri Taufan yang mengarahkan senternya pada sesuatu di dalam loker. "Ini, 'kan komiknya?" tanya Taufan ragu. Wajah Yaya langsung berbinar ketika matanya merasa familiar dengan buku itu.
"Iya, benar! Akhirnya kita menemukan–"
"Sstt. Pelankan suaramu." tegur Taufan. Yaya buru-buru menutup mulutnya sambil tertawa tanpa suara. Taufan tersenyum seraya mengambil komik itu dari sana dan mengunci kembali pintu loker tersebut.
"Sekarang kita pergi–"
Ucapan Taufan terhenti saat menemukan cahaya senter yang diarahkan secara acak. Kode dari Halilintar. Matanya bisa melihat sosok Halilintar yang pergi dari sana, membuat Taufan dan Yaya menahan napas.
"Kita harus kabur–"
"Ikut aku." potong Taufan cepat. Tangannya menarik tangan Yaya yang terkejut untuk bersembunyi.
Senter dimatikan, Taufan membawa mereka ke samping lemari yang cocok dijadikan tempat persembunyian. Ruang yang begitu sempit membuat Yaya dihadapkan langsung pada Taufan. Tingginya yang sebatas dagu cowok itu membuat wajahnya hampir menabrak dada Taufan. Yaya meringis. Posisi mereka begitu dekat sekarang, membuat siapapun mengira mereka sedang melakukan macam-macam.
Oh, Yaya ingin melarikan diri rasanya.
"Taufan–"
"Sstt. Diamlah." bisik Taufan. Ia mengintip sedikit untuk mengecek keadaan. Terlihat pancaran cahaya dari lampu senter, Taufan buru-buru menyembunyikan kepalanya lagi sambil menarik Yaya mendekat padanya.
Yaya terkesiap. Jantungnya tiba-tiba berdegup cepat, entah karena Pak Kokoci yang sebentar lagi akan menangkap basah mereka atau keberadaan Taufan yang hanya berjarak beberapa inci darinya. Aroma vanilla dari tubuh Taufan bisa ia cium dengan jelas. Yaya berusaha mengangkat wajahnya untuk menatap mata Taufan yang juga sama menatapnya. Ada perasaan aneh yang menghampiri saat sorot mata teduh itu tertuju padanya.
Suara langkah kaki terdengar. Keduanya tertegun dan bersiap menghadapi Pak Kokoci. Yaya memejamkan matanya, ia bisa merasakan eratan tangan Taufan pada pergelangan tangannya semakin kuat. Jantung mereka sama-sama berdetak kencang. Langkah kaki itu terus terdengar mendekat.
Taufan dan Yaya tahu, mereka akan terkena masalah setelah ini.
.
.
.
.
to be continued
A/N :
Hayooo itu siapa XD
Aku nggak jago bikin sebuah clue, jadi aku pun nggak berharap banyak ada yang nangkep clue yang aku selipin di chapter ini /plak
Tenang, cerita ini aku bawa sesantai mungkin kok, nggak serius serius amat. Jadi enjoy aja okeeyy?
Serangan tugas sebentar lagi tiba, tapi aku usahain ff ini terus lanjut x) Segitu dulu dari aku, sampai jumpa di chapter berikutnya~
Review?
