Pasrah. Hanya itu yang bisa Yaya lakukan sambil menanti satpam sekolah mereka menemukan ia dan Taufan. Menyelinap ke ruang guru tanpa izin, lalu ditemukan bersembunyi bersama Taufan dengan jarak sedekat ini. Oh, Yaya tidak bisa membayangkan sanksi apa yang akan ia terima nanti.
Beberapa detik diisi dengan menahan napas dan debaran jantung tak keruan, Yaya dan Taufan sama-sama terkejut kala mendengar suara bel sekolah berbunyi nyaring. Beruntung tak ada pekikan kaget dari mereka sehingga persembunyian mereka tidak jadi ketahuan. Bel sekolah masih berbunyi nyaring, lalu tiba-tiba ada suara decakan yang mereka tebak berasal dari Pak Kokoci.
"Haish. Siapa lagi kali ini?"
Cahaya senter yang menyorot tak terlihat lagi. Kemudian suara langkah kaki tadi terdengar menjauh sampai tak terdengar di telinga mereka. Taufan dan Yaya sama-sama mematung. Masing-masing menganalisis keadaan apakah sudah aman atau belum. Sampai beberapa detik tak ada suara atau apapun yang mencurigakan, Yaya buru-buru keluar dari tempat persembunyian mereka. Taufan pun melakukan hal yang sama. Mereka berpandangan sesaat dengan gugup. Entah sejak kapan, atmosfer canggung melingkupi keduanya.
"Err, maaf soal tadi–"
"Kita harus mencari Halilintar." potong Yaya cepat sebelum Taufan menyelesaikan ucapannya. Cowok itu mengerjapkan mata beberapa kali, terkejut karena perkataannya yang begitu mendadak.
"A-ah, benar. Ayo, kita cari dia." balas Taufan setelah mengerti maksud Yaya.
Yaya merasa lega karena Taufan tak membahas lebih lanjut kejadian barusan. Bukannya tidak mau mendengar permintaan maaf dari cowok itu, hanya saja Yaya tidak tahu bagaimana cara menanggapinya. Jadi daripada membuat mereka terjebak dalam situasi awkward, Yaya segera menghindarinya.
Taufan melangkah lebih dulu, disusul Yaya di belakangnya. Mereka sengaja tak menyalakan senter karena takut menarik perhatian lagi, siapa tahu Pak Kokoci masih di sekitar sini. Yaya menghentikan langkah kala Taufan berhenti di ambang pintu. Kepala cowok itu menyembul keluar, memeriksa keadaan. Di belakangnya Yaya menanti dengan sabar, sambil menahan rasa takutnya karena ruangan yang begitu gelap.
"Sudah aman." Taufan berujar dengan suara rendah, lalu melangkah lagi dengan sangat pelan keluar ruangan. Yaya mengikutinya. Namun tiba-tiba cowok itu berhenti, membuat Yaya menabrak punggung Taufan keras karena tidak siap.
Sementara bibirnya mengaduh sakit, Yaya menyadari ada cahaya senter yang mengarah pada mereka. Keduanya terkesiap sebelum akhirnya menghembuskan napas lega karena ternyata itu adalah Halilintar.
"Kau darimana saja?" tanya Taufan langsung begitu Halilintar sudah tiba di depan mereka.
"Aku membunyikan bel sekolah, agar mengalihkan perhatian Pak Kokoci. Bagaimana? Kalian ketahuan?"
Yaya menjawab dengan gelengan kepala. Ia sedikit kagum dengan Halilintar karena terpikirkan ide itu.
"Hampir. Kita bersembunyi dulu ta ... di." Taufan menghentikan ucapannya setelah sadar sesuatu. Yaya yang jelas menangkap maksudnya berdeham, sementara Halilintar menatap mereka bingung. "Kalau begitu, kita harus pergi sekarang. Sebelum Pak Kokoci menemukan kita."
Untuk yang satu itu Yaya mengangguk setuju. Halilintar masih memandang keduanya bingung dan penasaran karena sikap mereka yang aneh, sebelum akhirnya menekan rasa ingin tahunya tersebut dengan berjalan lebih dulu. Ia tidak mengambil jalan sama saat mereka masuk tadi, melainkan ke arah kantin yang akan menyambungkan jalan ke halaman belakang sekolah. Karena Pak Kokoci menuju arah bel sekolah di dekat perpustakaan yang mana berlawanan arah dengan kantin, memudahkan mereka bertiga berhasil tiba di sana tanpa ada kendala.
Halilintar memandang tembok tinggi di hadapan mereka. Tak ada apapun yang bisa menjadi pijakan untuk mencapai atas tembok itu. Ia menoleh pada Yaya yang menunjukkan raut wajah ragu.
"Kurasa ini bisa diloncati." kata Taufan. Belum sempat Halilintar berbicara, Taufan sudah memundurkan langkah dan berlari secepat mungkin lalu melompati tembok itu.
"Hah, mudah ternyata." ucap Taufan entah pada siapa.
"Lalu? Aku bagaimana?" tanya Yaya jengkel. Taufan menatapnya dan tertawa.
"Lompat juga, lah. Masa tidak bisa?" katanya, jelas mengejek Yaya karena ia seorang gadis dan tentu sangat sulit melakukannya. Yang benar saja, Taufan dan Halilintar itu lebih tinggi darinya jadi pasti mudah untuk melompat. Ia yang tingginya seperti botol Yakult bisa apa?
Yaya baru akan membalas Taufan ketika Halilintar sudah berjongkok di dekat tembok, lalu menepuk bahunya sambil menatap Yaya.
"Yaya, naiklah."
Yaya mengerjap kaget. "Eh?"
"Cepat, Yaya. Nanti Pak Kokoci datang," kata Halilintar lagi.
Yaya menggigit bibirnya ragu. Bagaimana bisa ia menginjak bahu Halilintar untuk naik ke atas sana? Pasti sangat berat, belum lagi sepatunya akan mengotori jaket cowok itu. Tapi ...
"Yaya." panggil Halilintar membuat ia tersentak. Cowok itu tampak menunggunya. Sepertinya Yaya tidak punya pilihan lain. Dengan ragu, dihampirinya Halilintar dan menumpukan kakinya pada bahu cowok itu.
Halilintar berdiri dengan hati-hati sampai akhirnya Yaya berhasil mencapai puncak tembok. Ia bertemu pandang dengan Taufan yang masih bertengger manis di sana, melempar senyum mengejek padanya.
"Apa?" sentak Yaya kesal. Taufan mengangkat bahu cuek sebelum turun dengan mudah. Yaya mendecih. Ia baru akan turun ketika mendengar suara lompatan, lalu melihat Halilintar sedang mengangkat tubuhnya dengan mudah dan duduk di sebelahnya.
"Halilintar, makasih ya yang tadi. Dan maaf ..." ringis Yaya sambil melirik bahunya. Halilintar tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak masalah. Ayo, sebelum Pak Kokoci datang." Halilintar sudah melompat turun lebih dulu. Yaya tersenyum dalam hati dan turun dari sana. Untuk yang satu itu Yaya bisa melakukannya meski tak sebaik Halilintar dan Taufan.
Mereka bertiga akhirnya bisa bernapas lega setelah berhasil memijaki aspal luar sekolah.
"Akhirnya, hampir saja ketahuan tadi." dengus Taufan.
Halilintar menggelengkan kepalanya. Ia menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam. Sudah cukup larut. Sepertinya mereka harus pulang sekarang.
"Oh ya, komiknya." pinta Taufan pada Yaya sambil mengulurkan tangannya. Gadis itu memutar bola matanya malas. Diletakkannya komik itu di tangan Taufan, membuat cowok itu tersenyum lebar.
"Sebenarnya kalian sedang apa sih dengan komik itu?" tanya Halilintar tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Yaya terdiam karena bingung ingin menjawab apa. Ia menyerahkan pada Taufan sepenuhnya. Toh rasanya lebih baik jika cowok itu yang menjelaskan, Halilintar 'kan sahabatnya.
"Lihat, Hali." Sebelah tangan Taufan sudah melingkari leher Halilintar. Halilintar memandangnya dengan bingung. "Komik ini, seru banget. Kau harus membacanya." kata Taufan seraya menunjuk-nunjuk buku di tangannya.
Yaya menghela napas jengah. Ia yang tidak mengerti soal perkomikan hanya memerhatikan keduanya. Halilintar yang awalnya bingung dengan ucapan Taufan perlahan menjadi tertarik. Dua sahabat itu memandangi komik Detektif Conan seolah-olah itu adalah harta karun. Yaya mendengus geli. Ternyata memang benar, Halilintar dan Taufan bersahabat bahkan seperti adik kakak.
Angin malam yang berhembus dingin membuat Yaya merapatkan jaketnya. Ia memandang langit gelap bertabur bintang di atas sana. Sepertinya ia harus pulang sekarang sebelum ibunya mencium kebohongannya yang ingin pergi ke toko kelontong.
"Kurasa aku harus pulang sekarang." ucap Yaya, memutus kesenangan Halilintar dan Taufan yang tengah melihat-lihat komiknya.
"Ah, benar. Kau mau kita temani?" tawar Halilintar. Tidak menyadari lirikan Taufan untuknya.
Yaya menggeleng. Rumahnya tidak jauh dari sekolah jadi ia masih bisa pulang sendiri. "Tidak perlu. Kalian langsung pulang saja."
Taufan menatapnya sangsi. "Benar? Kalau ada yang menculikmu bukan salah kita ya,"
Yaya cemberut mendengarnya. "Aku bisa. , asal kau tahu." jawab Yaya, meski kemampuannya baru sabuk kuning. Biarlah, yang penting terlihat keren.
Taufan memutar matanya tak peduli, sementara Halilintar terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati, Yaya!"
"Kalian juga. Terimakasih ya!"
Ketiganya kemudian berpisah, kembali ke kediaman masing-masing di malam yang semakin larut itu.
...
..
.
Hari ini adalah hari ulang tahun sekolahnya. Kegiatan belajar mengajar ditiadakan, seluruh murid dan guru diimbau untuk ke lapangan sekolah yang sudah disulap seperti tempat konser. Panggung besar dengan puluhan kursi di depannya memenuhi lapangan. Ada bendera kecil warna warni, digantung pada tali yang menjuntai di atasnya. Balon-balon diletakkan di atas panggung, menemani alat-alat musik yang akan dimainkan klub band sekolah. Berbagai hiasan lainnya turut meramaikan tempat lapang itu. Suasana semakin ramai, semua orang tak sabar menantikan pembukaan acara yang akan dimulai sebentar lagi.
"Tolong pegang sebentar."
Pandangan Yaya pada tempat acara ulang tahun sekolah teralihkan ke Taufan yang berada di sampingnya. Mereka berdua berdiri di paling belakang, untuk merekam acara tahunan ini agar bisa menangkap semua titik. Yaya menerima earphone dari Taufan sementara cowok itu sedang menata kamera bersama tripodnya.
Yaya menatap wajah Taufan yang begitu serius men-setting kamera klub mereka. Baru kali ini ia mendapati Taufan memperlihatkan kemampuannya pada kamera. Ia teringat lagi ucapan Halilintar yang mengatakan bahwa Taufan memang sangat meminati bidang ini dan terus menekuninya. Yaya bahkan tak bisa mengerti satu pun tombol-tombol pada benda yang ukurannya hampir seperti batu bata itu.
Sesuai dengan permintaan sang ketua pada mereka tempo hari, Taufan dan Yaya benar-benar melakukannya hari ini–meski cowok itu yang memutuskan sendiri. Disaat teman-temannya yang lain terlihat santai sambil menikmati acara yang sebentar lagi dimulai, ia harus terjebak di sini bersama Taufan, menyiapkan segala atribut untuk mendokumentasikan acara ulang tahun sekolah. Mereka sudah membagi tugas, Taufan menjadi juru kamera sementara dirinya yang akan mewawancarai beberapa murid.
Namun Yaya merasa ia juga menjadi asisten Taufan sekarang. Karena cowok itu terus memerintahnya, entah menyuruhnya membawakan tas cowok itu atau memegangi benda-benda yang belum digunakan.
"Earphone-nya." Tangan Taufan terjulur, meminta benda yang dititipkannya pada Yaya tadi. Sang gadis mendengus seraya menyerahkan earphone di genggamannya.
Taufan sudah berkutat kembali pada kamera. Lelah karena berdiri terus, Yaya mengambil posisi jongkok dengan mata lurus ke depan. Ia tak sadar Taufan sudah meliriknya sambil memasangkan earphone di telinga.
"Kau sudah menyusun pertanyaan?" tanya Taufan.
Yaya mengangguk sambil menggumam tak jelas. Ia mengeluarkan notes kecil di sakunya dan membaca kembali beberapa pertanyaan yang akan ia lontarkan saat sesi wawancara nanti.
"Ada satu pertanyaan yang aku bingung harus menuliskannya juga atau tidak. Menurutmu bagaimana?"
"Pikir sendiri lah. Itu 'kan tugasmu." balas Taufan enteng.
Mendengarnya membuat Yaya emosi. Ia memandang Taufan sengit meski harus mendongakkan kepalanya. Cowok itu membalas tatapannya tanpa ada dosa sama sekali.
"Apa?"
"Aku sudah membantumu daritadi, dan kau tidak ada rasa terimakasihnya." balas Yaya masam.
Taufan memutar matanya malas. Ia menggantungkan earphone-nya di atas kamera sebelum berjongkok di sebelah Yaya.
"Mana."
Alis Yaya terangkat ketika Taufan mengulurkan tangannya. Sadar apa yang diminta Taufan, Yaya menyerahkan notes miliknya pada cowok itu.
"Targetmu siapa?" tanya Taufan, membaca satu per satu pertanyaan yang sudah dibuat oleh Yaya. Pertanyaannya sudah bagus, Taufan tak mengomentarinya jadi ia memilih bertanya hal lain.
"Siapa saja." jawab Yaya.
"Kau harus menentukannya dari awal. Biar mudah nanti." kata Taufan memberikan saran.
Yaya mengerjap seakan tersadar sesuatu. Benar juga. Kenapa ia tidak memikirkannya? "Menurutmu siapa yang cocok dijadikan narasumber?"
Taufan terdiam sejenak untuk berpikir. "Hm, yang kita kenal saja. Temanmu juga boleh." jawabnya. Ia lalu mengembalikan notes milik Yaya dan kembali berdiri di sisi gadis itu.
Yaya langsung memikirkannya. Yang ia kenal atau dekat. Matanya berbinar seketika saat terpikirkan satu nama.
"Aku tahu! Halilintar!"
Taufan terkekeh mendengarnya. Ia sudah menduga Yaya akan mengusulkan Halilintar untuk mereka wawancarai nanti. Namun Yaya tidak tahu saja apa yang Halilintar tidak sukai.
"Halilintar tidak suka difoto atau direkam, asal kau tahu,"
Yaya bangkit dari posisi duduknya untuk menatap Taufan tak percaya. "Benarkah?"
Taufan mengangguk. Ia mencoba merekam sesuatu dengan kamera untuk mengetesnya sementara mulutnya membalas ucapan Yaya. "Seingatku. Dulu aku pernah memotretnya, dan dia langsung marah besar. Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa dia tidak suka difoto." katanya.
Yaya mengangguk paham. Senyum licik tercipta di bibirnya saat sebuah ide tiba-tiba muncul. Oh, ini kesempatan besar untuknya menggali lagi informasi Halilintar.
"Selain tidak suka difoto, apa lagi yang Halilintar tidak sukai?" tanya Yaya, ia sudah bersiap mencatat di notes sementara Taufan masih sibuk merekam sesuatu. Membuat Yaya lega, setidaknya Taufan tak tahu apa yang sedang dilakukannya sekarang.
"Balon. Dia membencinya."
Yaya mengerjap kaget. "Halilintar ... takut balon?"
"Ya. Dia phobia terhadap balon. Aku tidak tahu apa sebutannya ... "
"Glophobia."
"Nah itu!" seru Taufan. Sesaat kemudian, cowok itu terdiam dan menatap balik Yaya. "Sebentar. Kau sedang mencari tahu tentang Hali lagi, ya?" tuding Taufan tepat sasaran.
Yaya menyengir malu.
"Cish. Dasar kepo." cibir Taufan, kembali merekam dengan kameranya.
"Terus, terus? Halilintar suka apa? Taufan, ayolah." ujar Yaya setelahnya.
"Tanyakan saja sendiri. Aku bukan informan Halilintar, ya."
Yay cemberut. "Seenggaknya kau harus memberitahuku tentang Halilintar, 'kan aku sudah memberikanmu komik Detektif Conan."
Taufan akhirnya menatapnya. "Memangnya itu kesepakatannya? Aku cuma bilang tidak akan akan memberitahu Halilintar kau menyukainya, tahu?"
"Sudah kubilang aku tidak menyukai Halilintar, Taufan."
"Tuh! Kau mengelak lagi!" Taufan berkacak pinggang pada Yaya. Gadis itu sontak menutup mulutnya. "Aku heran padamu. Jika kau tidak menyukai Halilintar, lalu kenapa kau repot-repot ingin tahu tentangnya?" Taufan menatapnya lurus, membuat Yaya salah tingkah dan membuang wajahnya.
"Huh. Bukan urusanmu, tahu!"
"Tentu saja urusanku. Hali sahabatku, jadi aku harus mengetahuinya. Ini juga melanggar hak privasi seseorang, tahu? Kau bisa terkena sanksi karena diam-diam mengumpulkan informasi seseorang."
Mendengarnya membuat Yaya gelagapan. Ia memanyunkan bibirnya sementara Taufan terus menatapnya serius. Kenapa cowok ini mendadak galak, sih?
"Jadi? Apa alasanmu, Yaya Yah?"
Yaya tertegun ketika nama panjangnya disebut oleh Taufan. Matanya menatap balik cowok itu, yang terus memandanginya lekat. Iris sewarna langit itu seperti mengunci pergerakannya sampai Yaya lupa caranya berbicara sementara jantungnya berdetak begitu kencang.
"Ish! Sudahlah, kau tidak perlu tahu!" sentak Yaya kesal, membuang wajahnya agar terhindar dari tatapan Taufan.
Taufan mengangkat alisnya. Ia menggeleng pelan sebelum menghadap pada kamera lagi.
"Kemarilah. Kau harus membantuku merekam." ujar Taufan.
Yaya menatapnya lagi dengan dahi berkerut. "Aku 'kan tidak bisa,"
"Kau anggota klub siaran juga, jadi kau harus tahu caranya." Taufan memberi gestur untuk dirinya mendekat. Yaya mendesah sebelum akhirnya berdiri di belakang kamera. "Lihat ke sini." Yaya mencoba mendekatkan sebelah matanya pada jendela bidik. Ia bisa melihat jelas apapun yang tertangkap di sana. "Tekan tombol ini jika kau ingin memperbesar atau memperkecil gambar." Tangan Taufan menunjuk tombol dengan lambang plus dan minus. Yaya mengangguk. "Jika kau ingin membuat pergerakan, arahkan dengan ini." Yaya cukup terkejut kala Taufan meraih tangannya untuk memegang handle tripod. Cowok itu menggerakkan kamera ke kanan dan kiri lewat tangannya. Dan Yaya baru sadar, posisi Taufan seperti mengukung tubuhnya meski hanya sebelah tangan.
"A-aku tahu. Kau bisa berhenti." ucap Yaya. Taufan memundurkan tubuhnya, membuat Yaya lebih leluasa menggunakan kamera.
"Kutinggal sebentar. Jangan dirusakkan, oke?"
Yaya mendengus dan mengangguk. Mana berani ia merusakkan aset berharga milik klubnya sendiri?
Taufan meninggalkannya sendirian di sana. Yaya memanfaatkan itu untuk mencoba merekam sesuatu, memainkan tombol zoom in dan zoom out, atau mengarahkan kamera ke arah yang ia inginkan. Ternyata mudah, meski Yaya baru mengenal sedikit fitur yang ada di benda itu. Ia tanpa sadar tersenyum, kini kameranya diarahkan ke arah kanan, lalu tak sengaja menangkap dua orang tengah berbincang jauh dari tempatnya berada. Itu Taufan dan Halilintar. Tangan Yaya berhenti mengarahkan kamera dan menekan tombol zoom in, membuat gambar Taufan dan Halilintar di sana terlihat lebih jelas.
Entah kenapa, Yaya merasa tubuhnya bereaksi aneh. Jantungnya berdegup cepat lagi kala matanya tak berhenti memperhatikannya. Bagaimana cowok itu berbicara, bagaimana ia tersenyum, dan bagaimana caranya tertawa. Yaya mematung di tempatnya. Matanya tak berkedip sekali pun sampai tiba-tiba dia menoleh, balik menatapnya. Walau jarak mereka begitu jauh, namun Yaya tetap bisa merasakan tatapannya yang menubruk netranya. Dan dia tersenyum tipis padanya.
Yaya segera menjauh dari jendela bidik kamera, buru-buru membuang wajahnya ke sembarang arah. Apa-apaan itu? Kenapa ia jadi salah tingkah sendiri? Yaya berusaha mengendalikan dirinya sebelum tubuhnya bereaksi lebih aneh lagi. Gadis itu berkutat kembali pada notes-nya, berusaha melupakannya meski sangat sulit.
"Sudah?"
Notes yang ia pegang hampir terlempar berkat suara itu. Yaya menghembuskan napas, melirik Taufan yang sudah berada di dekat kamera bersama Halilintar. Kenapa mereka tiba-tiba ada di sini?
"Eh? Oh, err, sudah ... " jawab Yaya gugup setengah mati.
"Kalian sedang melakukan dokumentasi?" tanya Halilintar.
"Ya, semacam itu. Kenapa? Kau tertarik ingin ikut?" balas Taufan menyeringai.
Halilintar mendengus. "Bukan, lah."
"Sebenarnya, kita juga sedang mencari narasumber. Kau mau tidak, Halilintar?" Yaya menatapnya penuh permohonan. Dilihatnya Halilintar yang melirik Taufan, sementara yang dilirik mengangkat bahu cuek.
"Yah, aku tahu kau memang tidak suka direkam. Tapi, please, kali ini saja!" mohon Yaya lagi.
"Tunggu. Kau tahu darimana?" tanya Halilintar heran. Yaya menunjuk Taufan dengan dagunya. Halilintar mendelik kesal pada sahabatnya itu. "Tidak mau. Lagipula aku tidak jago diwawancarai,"
"Pertanyaannya mudah kok, kau cuma harus menjawabnya dengan jujur dan santai," bujuk Yaya tak kunjung menyerah. "Dan lagi, wajahmu juga tampan, Halilintar. Pasti akan bagus di kamera dan banyak yang menontonnya,"
Yaya tak menyadari perubahan wajah Halilintar yang sedikit memerah karena perkataannya itu. Sedangkan Taufan berusaha menahan tawa, yang kemudian lenyap di detik berikutnya berkat sikutan dari Halilintar.
"Tapi–"
"Oke, ayo kita lakukan!" Yaya tiba-tiba mendorong Halilintar ke depan kamera, membuat cowok itu terkejut namun tak bisa mengelak.
"Eh? Tunggu, Yaya! Aku belum setuju!"
"Taufan, cepat! Rekam kita!"
"Taufan, kau jangan coba-coba–"
"Oke, siap? Kamera rolling and ... action!"
Dan Halilintar hanya bisa mendesah pasrah kala Yaya mulai membacakan pertanyaan pertama.
...
..
.
Acara ulang tahun sekolah telah selesai dilaksanakan. Yaya duduk di bangku pinggir halaman sekolah, memandangi para panitia membersihkan tempat yang tadi digunakan acara ulang tahun sekolah. Langit jingga di atas sana menunjukkan waktu sudah sore. Namun Yaya tak ingin segera pulang, memilih untuk duduk di sini ditemani angin sepoi-sepoi yang membelai wajahnya pelan.
Sesuatu yang dingin tiba-tiba terasa di pipinya, membuat Yaya terlonjak kaget di tempatnya. Suara tawa terdengar setelahnya, membuat Yaya menoleh dan menemukan Halilintar di sana.
"Halilintar!" protes si gadis.
"Maaf, maaf. Lagian kau melamun saja, sih." katanya terkekeh. Cowok itu mengambil tempat duduk di sampingnya, menyodorkan es krim rasa strawberry yang disambut Yaya dengan senang. Hilang sudah rasa kesalnya tadi.
"Taufan belum kembali?" tanya Halilintar. Ia membuka es krim miliknya setelah meletakkan satu es krim untuk Taufan di antara mereka berdua.
Yaya menggeleng dengan lidah sibuk menjilat es krimnya. "Belum. Mungkin sedang ngobrol dengan kak Kaizo,"
"Kau tidak ikut?"
"Tidak. 'Kan Taufan ketua timnya, jadi kurasa dia saja cukup untuk melaporkan tugas kita," jawab Yaya enteng.
Halilintar menggeleng pelan. "Kau anggota yang merepotkan ternyata."
"Enak saja! Justru dia yang menyeretku ke tugas ini, tahu!" sungut Yaya kesal. Ia memakan es krimnya dengan kasar. "Mana kita hanya berdua, dan dia seenaknya saja menyetujui permintaan kak Kaizo. Huh!"
Halilintar tergelak. Ia menggigit es krimnya tanpa merasa ngilu sedikitpun. "Taufan memang seperti itu jika sudah menyangkut apa yang ia suka. Ambisinya sangat besar,"
Yaya setuju. Halilintar pernah menyebut Taufan sudah tertarik bidang ini sejak lama. Jadi tidak heran cowok itu begitu antusias untuk melaksanakan tugas klub penyiaran, walau seharusnya mereka belum boleh diterjunkan langsung. Tapi tetap saja, Yaya yang belum menyiapkan apapun jadi kena tumbalnya.
"Apa kau juga seperti itu? Terhadap basket?" tanya Yaya tiba-tiba. Halilintar tampak tertegun sebentar. Sayangnya Yaya tidak menyadari, raut wajah Halilintar berubah sekilas sebelum melayangkan senyum.
"Yah, sedikit. Tidak sebesar Taufan,"
Yaya mengernyit. "Kenapa?"
Hening beberapa saat sebelum Halilintar menjawabnya.
"Aku pernah mengalami hal tidak mengenakkan di basket." Yaya terdiam, hanya untuk memperhatikan Halilintar yang menatap ke arah sepatunya. "Saat ikut turnamen dulu ... aku pernah kalah. Dan sampai saat ini aku belum berani mencobanya lagi," katanya dengan suara rendah.
Yaya terkesiap. Es krim di tangannya seketika terlupakan. Ia menatap Halilintar yang menatap ke depan, entah apa yang dilihatnya.
Halilintar sendiri tidak mengerti kenapa ia menceritakan ini pada Yaya. Namun hatinya terus menuntun dirinya untuk terus bercerita. "Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi turnamen itu sangat besar bagiku dan aku tidak berhasil, sampai rasanya aku ingin berhenti bermain basket."
Yaya terus diam mendengarkan.
"Tapi Taufan tidak membiarkanku. Dia selalu bilang padaku kalau aku tidak boleh menyerah. Dan karena Taufan, aku masih bermain basket sampai sekarang."
Yaya tersenyum. "Itu bagus." Ia jadi teringat Ying, yang selalu menemani dan mendukungnya. Rasanya sangat menenangkan, membuat kita tidak merasa sendirian. "Kau bisa, Halilintar. Asal kau mau memcobanya, kau pasti bisa." katanya seraya menatap Halilintar.
Halilintar menoleh padanya dan tersenyum. "Makasih."
"Ah, es krimnya jadi cair!" seru Yaya, membuat Halilintar tertawa kecil.
Jauh dari tempat mereka berada, seseorang menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Tatapan yang terasa ganjil.
.
.
.
.
to be continued
A/N :
Maaf minggu kemaren ga apdet karena ada satu dua hal yang harus diurus;_;
Gimana chapter ini? Kasih tau dong di review hehehe, kuharap nggak aneh ya (walaupun diri ini ngerasa aneh) /plak
Segitu aja mungkin author notes-nya, selamat malam minggu dan sampai jumpa di chapter selanjutnya ya!
