A little about myself

Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

Naruto Hinata

FANFICTION


Duduk termenung sambil menatap lurus kedepan, iris bulannya seakan tak acuh pada semua objek yang ada disekitarnya, suara gemricik air yang mengalir disungai mendengung merdu ditelinganya, terpaan angin sore begitu menyejukkan tiap helai rambut yang bergoyang mengikuti hembusannya, pohon rindang dengan batang kokoh membuat sandaran punggugnya terasa sangat nyaman, kicauan burung-burung beradu ditelinganya sebagai alunan merdu yang menenangkan hati disetiap kicauannya.

Wajah cantiknya begitu kentara kala langit senja menyinarinya, mata indah yang dihiasi bulu lentik disekitarnya seakan menambah pesona darinya, hidung mungil mancung dan juga pipi seputih salju tampak berseri-seri bagi setiap mata yang memandangnya, angin pelan tanpa henti menerpa helaian indigonya yang terlihat berkilauan.

"Ibu. aku merindukanmu"

Bibir ranum itu menggumam, gumaman yang terdengar akan kerinduan dari dalam hatinya, setetes air keluar dari pelupuk matanya, air mata yang selalu mengalir disetiap kerinduan yang teramat sangat, kerinduan pada kasih sayang dari sosok ibu, sosok yang sangat Ia cintai, dan juga seorang yang sudah lama menghentikan nafasnya. Waktu terus bergulir, setiap detik terasa begitu cepat sore ini, langit senja yang dihiasi pantulan merah menjorok ke orange dari sang surya terpampang jelas diufuk barat, langit biru cerah akan tergantikan oleh langit malam, rembulan akan senantiasa menggantikan sang mentari, dan bintang-bintang akan senantiasa menemani sang rembulan.

Suasana hati yang begitu bimbang menyelubunginya, pilihan yang sangat sulit membuatnya terjebak dalam suatu dilema. dilema yang tanpa henti mengganggu pikirannya, disatu satu sisi pilihan merugikannya, disisi lain juga ia juga tak tau harus apa. Namun satu komitmen yang selalu ia jaga, yaitu, tak akan mengecewakan sang ayah, satu satunya orang tua yang masih tersisa dan sangat ia cintai.

Perjodohan tanpa henti diajukan sang ayah padanya, satu persatu rencana tersebut ia tolak, baginya saat saat seperti ini bukan waktunya untuk merencanakan sesutu yang berkaitan dengan pernikahan.

Usia yang sudah tidak bisa dikatakan muda tak pernah jadi penghalangnya sebagai tolak acuan sebuah kehidupan yang diawali dari altar pernikahan untuk menolak rencana tersebut. Namun, saat kondisi sang ayah terus saja memburuk, membuat dilema itu semakin berkepanjangan. Hanya ada satu yang harus dipilihnya dari dua pilihan yang membuatnya bimbang. Menerima perjodohan tersebut. atau, menolak dan berakhir sang ayah kecewa dan membuat kondisinya semakin buruk, atau bahkan lebih dari itu.

Cinta. Satu kata yang cukup membuatnya takut, satu kali ia pernah menyematkan seseorang pada hatinya, satu kali pula cinta itu menghianatinya, dan sekali hatinya tersakiti, sekali pula hatinya tertutup.

Keterpurukan membuatnya menutup rapat-rapat gerbang dihatinya, dan baginya tak ada alasan untuk membukanya selama presepsinya tentang cinta hanyalah rasa sakit.

Tak pernah terbayang olehnya jika dirinya akan dihianati oleh seseorang yang bisa dibilang mantan kekasih. Kebahagiaan muncul ketika cinta itu terbalaskan, dan sakit hati datang disaat cinta itu menghianatimu, setiap saat kenangan menyakitkan hinggap menjadi benalu, benalu yang terus saja menempel mengakibatkan denyut perih yang tak tertahankan Waktu terus berjalan, setiap detik hingga bertahun tahun membuat perasaan itu tersamarkan oleh waktu meski ada setitik rasa yang masih membekas, tak memungkinkannya untuk melupakan begitu saja. Luka tak akan pernah hilang tapi luka akan membekas, dan hanya bisa tertutupi oleh hati lain yang memegang kunci hatinya, kunci yang hanya dimiliki oleh seseorang yang tak pernah hadir dalam hidupnya, tapi akan datang saat tiba waktunya.

Diusia yang menginjak 24 tahun, bukan perkara sulit untuk mencari pasangan, apalagi jika mengingat bahwa ia memiliki wajah dan perawakan yang sangat memikat. Sudah banyak pria yang terang-terangan menyatakan cinta padanya, dan pada saat itu pula penolakan selalu didapat si pengungkap. membuatnya terheran-heran mengapa tidak ada satu pria pun yang dapat mengambil hatinya.

Tapi sekarang ia sudah tak bisa menolak permintaan sang ayah untuk menjodohkannya, menjodohkannya dengan seorang pria yang bahkan belum dijumpainya, atau setidaknya sedikit mengetahui tentang pria yang akan menyandang sebagai suaminya. Ingin rasanya ia menolak hal ini seperti menolak pria-pria yang dijodohkan padanya atau menyatakan cinta padanya, tapi kali ini berbeda, kali ini permintaan sang ayah teringat pada otaknya, permintaan yang seakan menjadi permintaan terakhir, dan sebagai anak yang berbakti ia menerimanya, menerimanya dengan berat hati.

Dan inilah aku

Hyuga


Seperti biasa gadis bersuarai indgo ini akan datang kekamar sang ayah disetiap pagi guna memberikan sarapan pada ayahnya. "Ayah, ini sarapannya" ujarnya seraya melangkah mendekat kearah sang ayah.

Sang ayah hanya membalas dengan senyuman, sorot matanya memperhatikan sang putri yang terlihat kelelahan.

"Hinata" panggilan berat terdengar oleh indera pendengaran Hinata.

"Uhm" balasnya.

"Sudah kubilang jangan memaksakan dirimu, kau terlihat kelelahan" ujarnya menasehati putrinya.

"Maaf ayah. Hinata hanya menyelesaikan dokumen-dokumen sisa kemarin' balas Hinata lagi.

Sang ayah, Hyuga Hiashi hanya menghela napas pelan mendengar perkataan putrinya, ia merasa tidak berguna sebagai ayah, dirinya hanya bisa bergantung mengingat penyakitnya yang semakin hari semakin parah, memaksakan dirinya bukanlah hal baik, dan bertindak diluar kesanggupannya akan merugikan dirinya dan yang lain.

"Aku keluar dulu ayah, ada urusan sebentar dikantor, jika ingin sesuatu panggil saja Hanabi" ujar Hinata

Hanabi?

Yah itulah adik kandungnya, adik satu-satunya yang sudah menginjak usia 19 tahun, lebih tepatnya 5 tahun dibawahnya. Hyuga Hanabi gadis yang memiliki kepribadian hyper aktif ini berbeda dengan sang kakak. Hanabi lebih pandai berekspresi dibanding Hinata, tidak suka diatur, dan juga berisik, namun dibalik sifatnya yang sedikit pemberontak, ia memiliki sisi kelembutan tersendiri.

"Hn" balas singkat Hiashi, lalu segera mengambil mangkuk yang berisikan bubur.

"Hinata" panggilnya membuat Hinata yang berada di ambang pintu menoleh.

"Ada apa ayah? Apa ayah menginginkan sesuatu?" ucapnya memandang pada sang ayah.

"Tidak! Jangan lupakan pertemuan kita dengan keluarga Namikaze nanti malam" kembali Hinata merubah ekspresinya menjadi malas mendengar penuturan sang ayah.

"Hm" balas Hinata dan berjalan keluar dari kamar sang kepala keluarga.

Hinata pov

Perjodohan? Pria? Menikah? Cinta?. Apa tidak ada hal lain selain hal menyebalkan itu, kalau boleh jujur, aku malas memikirkan hal semacam itu, meski semua sudah bilang kalau usiaku yang cukup matang untuk berumah tangga, tapi tetap saja aku belum berminat bahkan tidak.

Tak banyak yang bisa kulakukan selain pasrah dan menerima semua itu, teringat juga aku sering kali mengecewakan ayah hanya karena aku tidak mau dijodohkan, dan itu adalah salah satu hal yang tidak ingin kulakukan. Aku tau konndisinya semakin memburuk setiap harinya, apalagi jika aku mengecewakannya, maka hal itu akan semakin memperburuk keadaannya, dan dengan berat hati aku pun menerimanya agar aku bisa membuatnya bahagia,Setidaknya sebelum semuanya terlambat.

Terlambat? Yah, aku takut itu semua terjadi. Mengetahui ayah divonis penyakit kanker paru-paru satu tahun lau membuatku sangat sedih, satu-satunya orangtuaku yang tersisa. Dan yang lebih membuatku hancur, 2 bulan lalu dokter pribadi ayahku mengatakan bahwa beliau tidak akan bertahan lama, waktu maksimal yang dimilikinya hanya 4 bulan.

Bolehkah aku berharap? bolehkah aku meminta? Dan bolehkah aku mendapat keajaiban?. Keajaiban agar ayah Hiashi bisa bertahan lebih lama, bertahan agar aku bisa melihat wajahnya lebih lama lagi dan tidak terikat oleh pikiran-pikiran tentang vonis yang membuatku menangis setiap harinya.

Pria Namikaze. Seseorang yang dijodohkan denganku beberapa waktu lalu pasca kehadiran keluarga tersebut dirumahku, dan yang membuatku sebal, pria yang dijodohkan denganku tidak hadir pada saat itu.

Aneh? Memang!

Bagaimana bisa pertemuan yang membicarakan perjodohannya tidak dihadirinya, dengan alasan dari orangtuanya kalau pria itu sedang menjalani terapi.

Aku sempat bertanya terapi apa yang dijalaninya, tapi hanya sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan oleh dua orang yang tak lain adalah calon mertuaku. Aku sempat terheran melihat senyum itu,seolah ada kesedihan disana. Aku sempat beranggapan bahwa pria atau calon suamiku itu mengalami cacat fisik maupun mental, hingga harus menjalani terapi. Dan lebih parahnya, ayahku menerima perjodohan tersebut, bahkan ayah mengatakan kalau sudah mengenal jauh keluarga Namikze itu, juga mengenal calonku. Sebenarnya aku malas untuk mengatakan kalau ia calon suamiku, tapi apa boleh dikata, toh memang itu kenyataannya.

Terus terbayang dikepalaku seperti apa dia, seperti apa sifatnya, jangankan tau hal itu. mengetahui namanya saja aku belum, entah mengapa mereka merahasiakan nama pria tersebut, membuatku kesal meski aku tetap bersifat sebagai hyuga yang sopan saat itu.

Pernah terlintas difikiranku kalau dia adalah mantan kekasihku pada waktu SMA dulu,Sasuke nama pria itu. Pria yang pernah membuatku merasakan cinta sekaligus sakit pada waktu yang berbeda, entah kenapa malah Sasuke yang aku ingat saat itu, tapi jika boleh jujur, aku masih menyimpan sedikit perasaan terhadapnya, meski ia pernah menyakitiku dan pergi begitu saja, tapi tetap saja dia adalah cinta pertamaku.

Tapi pikiran konyol itu segera aku buang jauh-jauh, mengingat dia adalah seorang Uchiha, dan tidak mungkin menjadi Namikaze bukan? Dan lagi saat ia meninggalkanku, dirinya sudah merencanakan sebuah pertunangan dengan gadis musim semi teman satu kelasku, dan pastinya mereka sudah menikah saat ini. bahkan aku mendapat undangan saat itu meski aku tak menghadirinya, tentu saja aku tak datang, sakit hatiku saat itu mengalahkan semuanya, membuatku membencinya dan berakhir tidak datang, tidak tau dan juga tidak akan pernah ingin tau.

Entah kenapa aku sangat penasaran dengan pria itu, padahal sudah empat kali ayah menjodohkanku dengan beberapa pria yang bisa dibilang sukses dan matang meski aku menolaknya, tapi baru kali ini aku sangat penasaran.Calon suamiku yang belum aku ketahui sama sekali tentang identitasnya, tapi sudah membuatku penasaran setengah mati. tapi mungkin aku penasaran hanya karena ia tak datang pada pertemuan tempo hari lalu, juga tentang terapi yang dijalaninya.

Dan dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin pria tersebut berbeda dengan pria pada umumnya, pria pada umumnya yang menurutku menyebalkan. Aku tidak berharap terlalu tinggi seperti dia memiliki segalannyaatau memiliki sisi sangat romantis. aku hanya ingin kalau dia bisa mengerti diriku, dapat membuatku tersenyum setiap saat, dapat membuatku merasakan kembali yang namanya cinta meski aku sangat takut untuk merasakan hal itu untuk kedua kalinya, dan juga yang paling penting mampu membuatku melupakan Uchiha Sasuke yang sangat sulit tuk kulupakan mengingat ia cinta pertamaku.

Dan sekarang aku tersadar, kalau semua yang kulakukan untuk menjauhi semua pria guna aku juga dapat melupakan cinta tentang Sasuke, segalanya sia-sia, dan aku juga sadar bahwa hanya hati lain lah yang dapat membuatku melupakannya, hati yang dapat membuka kembali gerbang hatiku yang sudah tertutup untuk sebuah kata bernama cinta.

Semoga saja

Hinata pov end


Cafe yang tampak ramai pengunjung ini didominasi interior serta model ruangan bergaya eropa. Warna dan juga suasana ruangan itu terlihat begitu menonjolkan sisi keromantisan, lebih tepatnya eropa modern dengan gaya keromantisan negara prancis.

Hidangan yang ada dimeja terlihat begitu mewah, makanan khas jepang memenuhi meja makan disalah satu sisi cafe, dengan lilin berbau wangi berada ditengahnya. Meski suasana ruangan tersebut begitu menonjolkan sisi bergaya eropa modern, tapi jangan salah, tetap saja menu yang ada didominasi makanan khas jepang, meski ada beberapa menu dari negara asing.

Beberapa orang tampak tenang sambil memandangi sesisi ruangan cafe, tapi tidak dengan seorang pria yang tampak sangat menikmati makanannya, sesekali ia berceloteh memuji hidangan tersebut.

"Naru-kun, perkenalkan dirimu pada gadis cantik itu" ujar seorang wanita berambut merah pada pria yang masih dengan lahap menyantap makanannya.

"Yang mana?" tanyanya polos, bahkan ada sedikit sisa sisa makanan dibibirnya.

Wanita berambut merah tadi hanya tersenyum, tangannya mengambil tisu dan membersihkan sudut bibir pria tadi, ia sedikit terkiki geli melihat tingkah laku anaknya saat bertanya.

"Itu" tunjuk wanita tadi kearah gadis bersurai indigo sepinggang yang berada pada satu meja dengan mereka.

"Ibu! Apa maksud ibu dia?" jari telunjuknya terangkat mengikuti gerakan sang ibu, wanita yang dipanggil ibu tadi hanya menganggukkan kepala pelan seraya tersenyum kearahnya.

"Perkenalkan, namaku Naruto Namikaze" ujarnya memperkenalkan diri, ia tampak antusias melakukan hal itu.

"Aku Hinata Hyuga" balas gadis indigo tadi, tangannya terangkat membalas jabat perkenalan pria dihadapannya.

"Ibu, dia cantik" ucap pria tadi lagi-lagi kepada sang ibu.

"Tentu dia cantik, dia anak paman Hiashi." balasnya pada sang putra membuat pria bernama Naruto tadi menoleh kearah Hinata.

"Benarkah-wahh hm, hm, hm" ucapnya lagi dengan kepala yang dimangut-mangutkan "Hinata, kau sangat cantik" lanjut Naruto menatap kagum kearah Hinata.

Hinata hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali melihat tingkah laku pria dihadapannya tidak sopan! Bahkan dia memanggil nama kecilku langsung, padahal dia baru bertemu denganku' ucap Hinata dalam hati, terlihat ia sedikit tersipu mendengar pujian cantik dari Naruto.

"Ayah, apa benar aku akan menikah dengannya?" tanya Naruto lagi, kini pertanyaannya diajukan pada pria bersurai kuning sama sepertinya, hanya saja gaya potongannya yang berbeda.

"Iya, dia calon istrimu. Apa kau suka?" balas sang ayah juga bertanya, pria berambut kuning itu mengacak surai anaknya dengan gemas seakan ia anak kecil.

"Suka?" ulang Naruto menatap intens kearah Hinata "apa dia orang baik?" lanjutnya lagi membuat Hinata sedikit membuka mulutnya.

"Tentu saja dia baik. Kalau tidak, mana mungkin dia calon istrimu" kini sang ibu yang menjawab pertanyaan sang anak.

"Oh" ujar Naruto ber'oh'ria, tanpa beban apapun ia kembali melahap makanannya yang ada dimeja.

'Apa benar usianya 25 tahun? Tapi kenapa prilakunya seperti anak kecil' kembali Hinata membatin melihat tingkah laku Naruto, ia sedikit terkejut melihat bagaimana pria berusia 1 tahun lebih tua darinya bersikap sperti bocah 10 tahun.

Minato dan Kushina yang merupakan orang tua Naruto hanya memandang tersenyum. kearah Hinata, mereka berdua tampak tidak kaget melihat perubahanan raut wajah Hinata yang tampak membeo melihat tingkah sang anak.

"Hinata.." panggil Khusina pada Hinata, sontak Hinata menoleh dan merubah raut wajahnya menjadi lebih sopan kearah wanita merah didekatnya.

"Iya bibi?" balas Hinata dengan seulas senyum kearah Khusina.

"Ada yang ingin kami bicarakan, Ini menyangkut Naruto. Kau pasti bingung bukan dengan sikapnya?" kini tangan Khusina meraih tangan Hinata, menggenggam tangan seputih salju itu dan mengelusnya lembut.

~~~~

Dua insan berbeda gender yang berada ditaman terbuka ini tampak menikmati angin sepoi-sepal yang cukup menyejukkan. Hinata, gadis itu, dan Naruto pria yang bersamanya.

Suara dengungan serta getaran ponsel yang dipegang Naruto membuat Hinata merasa sangat terganggu, beberapa kali ia melirik tak suka pada pria disampingnya yang tengah asyik dengan ponselnya, bukan seperti orang dewasa atau remaja biasanya yang tertarik pada fitur-fitur komunikasi dan informasi seperti media sosial. Tapi, pria didekatnya ini malah sibuk bermain game yang berada diponselnya. Beberapa kali Hinata menggerutu dalam hati mendengar Naruto berteriak senang saat berhasil memenangkan game itu, namun akan mendesah kecewa dan juga sesekali berteriak bila la kalah atau target dalam game itu tak didapatkannya.

"Dasar game bodoh!!"

PRANKK

Mata amethyst milik Hinata terbelalak kala mendapati Naruto melempar ponsel yang tidak bisa dikatakan murah itu ketanah, tepat dibawah kakinya. Ponsel pintar dan tentunya mahal itu hancur berserakan ditanah, bahkan pria pirang disebelahnya itu sesekali menginjaknya dengan ekspresi wajah yang sangat kesal.

"Namikaze-san! Ke-kenapa kau melakukan itu?" tanya Hinata dengan panggilan formal membuat Naruto menoleh kearahnya, tiak lama setelah itu ia menoleh lagi kesana kemari seakan mencari sesuatu.

"Aku tidak melihatnya" ujarnya masih dengan menggerakkan kepala bersurai kuningnya kesana kemari.

"Melihatnya? Kau sedang mencari apa?" tanya Hinata lagi yang masih bingung dengan sikap Naruto.

"Ayah" jawab Naruto singkat, kini wajahnya menatap Hinata biasa, tapi tak lama ia bersuara kembali "Hinata tadi memanggil ayahku, benarkan?" lanjutnya tanpa mengubah tatapannya pada gadis didepannya.

Hinata yang tadi bingung kini tambah bingung lagi. Yang diingatnya dia memanggil Naruto, bukan ayah pria itu, namun buru-buru wajahnya menjauh kala menyadari wajahnya sangat dekat dengan Naruto.

"A-aku.." Hinata menghentikan ucapannya, ia teringat cerita dari ibu Naruto, dan seketika sekarang ia memahami kenapa Naruto merespon seperti itu padanya.

"Hinata kenapa?" tanya Naruto bingung dengan matanya yang berkedip-kedip.

Bukan tanpa alasan Naruto bertanya seperti itu, hanya saja ia sedikit bingung saat melihat Hinata menghembuskan nafanya berkali-kali dengan mata terpejam.

la tolehkan kepala yang dihiasi surai indigo itu kearah Naruto, kembali matanya terpejam dan sesekali menghembuskan nafas pelan, seakan-akan tengah menahan sesuatu yang sangat sulit untuk dikeluarkan.

"Aku tidak memanggil ayahmu! Aku tadi berbicara denganmu" akhirnya Hinata menjawab. Tapi entah kenapa ia menjawab begitu ketus tanpa melihat ekspresi Naruto yang bisa dibilang agak polos dan sedikit terkejut.

"Benarkah? Tapi tadi Hinata memanggil 'Namikaze-san', begitu- dan biasanya, orang-orang memanggil ayah seperti itu..." balas Naruto, suaranya melirih setelah mendengar jawaban ketus dari Hinata.

Sedangkan Hinata yang mendengar itu hanya msndengus kesal, ia berpikir kalau Naruto begitu kekanak-kanakan, bahkan baginya anak-anak saja mungkin tau maksud darinya tadi.

"Sudah lupakan! Jadi aku harus memanggilmu seperti apa?" tanyanya masih dengan nada ketus.

"I-itu, terserah Hinata saja" jawab Naruto semakin lirih, sesekali ia melirik Hinata dari ekor matanya, kepalanya yang tertunduk membuat gadis disampingnya merasa ada sesuatu pada pria itu.

"Hey! Kenapa kau menunduk? Dan juga, kau tadi terlihat ceria, tapi kenapa sekarang malah menunduk sedih seperti itu?" ucap Hinata dengan bertanya, dia yang tadinya ketus kini sedikit familiar.

"A-aku... Apa Hinata marah padaku?" bukannya menjawab, Naruto malah balik bertanya.

Marah? Bisa dibilang ia marah, tapi dibandingkan marah Hinata lebih tampak kesal. Bagaimana tidak kesal, bila orang yang kau ajak bicara sama sekali tidak mengerti akan maksudmu.

Kepalanya ia angkat menghadap langit gelap, matanya terpejam mencoba setenang mungkin, ia memahami akan sikap dan tingkah laku dari Naruto, tapi dia juga tak menyangka harus bicara dengan pria dewasa tapi sisi pemikirannya masih bocah, jangankan pemikirannya, bahkan mungkin jiwanya juga masih bocah.

Kami-sama, kenapa aku harus memiliki calon suami berjiwa kekanak-kanakan seperti dia' ucapnya dalam hati mencoba mencurahkan isi hatinya pada yang diatas.

"Hinata, apa Hinata marah pada Naru?" tanya Naruto takut-takut, manik shapirenya menyendu karena tak ada respon sedari tadi dari gadis disampingnya.

Hinta yang mendengar itu segera mengakhiri kegiatannya tadi, ia menoleh kearah Naruto seraya memaksakan tersenyum.

"Tidak, aku tidak marah. Hanya saja aku bertanya, aku harus memanggilmu seperti apa?" ujarnya menatap Naruto yang masih menunduk. Naruto yang menyadarinya segera menoleh ke arah Hinata dan membalas senyuman itu.

"Hm, apa ya?" Entah kenapa Naruto terlihat begitu lucu sekarang dimata Hinata, pria itu memiringkan kepalanya dan seolah-olah sedang menerawang sesuatu, tapi memang la sedang menerawang sesuatu, lebih tepatnya sedang berpikir.

"Uhm, seperti ibu memanggilku,-Naru-kun! Ah iya, Naru-kun." ucap Naruto antusias setelah mendapat ide yang sangat bagus baginya.

"Naru-kun! Apa-apaan panggilan itu! Itu panggilan yang sangat memalukan" ge "gerutunya dalam hati setelah mendapat jawaban dari Naruto.

"Ke-kenapa aku harus memanggilmu seperti itu?" tanyanya gugup, jantungnya berdegup kencang kala memanggil nama tu dalam hati.

"Kata ibu, itu cocok untukku. Katanya selain aku tampan, panggilan itu juga lucu untukku..." jawab Naruto sambil mengingat ingat bagaimana ibunya berkata seperti itu.

T-tampan! Percaya diri sekali dia! Bahkan semua juga tau kau itu terlalu polos. T-tapi perkataannya sedikit ada benarnya.- Eeh, apa-apaan kau Hinata, dasar bodoh!!" lagi-lagi ia bermonolog pada dirinya sendiri, bahkan ia baru menyadari kalau pria disebelahnya memang terlihat begitu menawan.

Manik bulannya mengamati Naruto yang berfantasy sendiri entah tentang apa. Senyum manis terukir pada bibir peachnya, entah karena apa, setelah melihat Naruto yang seperti itu hatinya terasa hangat dan juga ia melihat bagaimana pria itu terlihat begitu polos dan menggemaskan, berbeda dengan pria-pria yang selama ini dijodohkan dengannya, yang menurutnya menyebalkan dan hanya bisa mengeluarkan kata-kata romantis yang baginya suatu gombalan yang menjijikan.

"Baiklah, tapi berhentilah menghayal." ujar Hinata mencoba menyadarkan Naruto yang baginya terlihat seperti menghayalkan ia dipanggil ' Naru-kum olehnya. "Kau sedang memikirkan apa?" tanya Hinata yang tak kunjung mendapat respon dari Naruto,

"Ah itu, aku tiba-tiba memikirkan ice cream rasa durian. Aku ingin membelinya." jawab Naruto polos. Dan lihatlah Hinata, ia menggembungkan pipi chubynya kecewa, kecewa karena pemikirannya tadi melenceng jauh dari kenyataan.

'Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu, dasar Hinata baka!!" ucapnya lagi dalam hati.

"Hinata, ada apa?" tanya Naruto yang melihat Hinata menggembungkan pipinya lucu.

"T-tidak ada?" jawabnya gugup. "Ne Naru-kun, kau tadi bilang mau membeli ice cream..."

"Eh, kenapa Hinata memanggilku seperti ibu?"

Wajah Hinata merona mendengar

ucapan super polos dari Naruto. Memang kenyataannya dia tak pernah memanggil pria dengan sebutan semanja itu.

"Hinata, kenapa wajahmu memerah?" lagi lagi Nauto bertanya dengan wajah super polosnya, membuat Hinata memalingkan wajah meronanya kearah lain.

"T-tidak apa apa..." balas Hinata kembali menoleh kearah Naruto.

"Ibu benar..." ucap Naruto, sedangkan Hinata hanya mengernyitkan alisnya "Hinata memang sangat cantik..." lanjutnya menatap Hinata lekat.

Double pooofff

Kembali wajahnya memblushing mendengar Naruto memujinya cantik, bahkan rona merah itu menjalar sampai ketelinganya.

'A-apa-apaan ini! Ke-kenapa wajahku memanas! Aku tidak pernah seperti ini jika dipuji pria, t-tapi ke-kenapa- arrgghh lupakan saja' innernya mulai meracau tak jelas merutuki dirinya yang blushing.

Memang sudah banyak pria yang berkata dirinya canik, manis dan lain sebagainya. Tapi sejauh ini ia hanya acuh tak acuh, hanya gombalan yang tak berarti baginya. Namun berbeda kala dengan wajah super polos dari Naruto dan saat itu pula bibir pria itu memujinya, dan seketika wajahnya memanas hebat seperti tadi. Ia merasa tak ada gombalan atau rayuan sama sekali dari pria bersurai kuning itu, hanya ucapan tulus layaknya bocah yang dilontarkan Naruto padanya, mengingat bagaimana sifat Naruto yang kekanak-kanakan, lugu, dan tentunya masih terlihat sangat polos.


Pernah terbayang olehmu akan suatu hal yang tak kau inginkan datang menghampirimu dan memasuki kehidupanmu, pasti pernah. Tapi aku tak yakin ada yang seperti diriku. Yah inilah aku, gadis yang dikenal arogan, cuek, dan terkadang dingin, meski aku tau itu bukan sifat asliku, namun hal itu memungkinkan tentang diriku selama ini yang begitu tersakiti.

Dan perihal 'tapi aku tak yakin ada yang sepertiku, hal itu ku lontarkan bukan tanpa alasan. Yah bagaimana tidak, bayangkan saja kalian memiliki calon suami yang terapan pemikirannya masih terpaut usia anak-anak, tingkah lakunya, juga jiwanya.

Dan jika ada yang bertanya tentang kenapa pria Namikaze itu bisa seperti itu, mungkin semua yang melihatnya mengartikan dia mengidap syndrom tertentu, atau juga keterbelakangan mental, tapi juga tak salah bila saja pemikiran itu hinggap pada seseorang, mengingat saja bagaimana sisi kekanak-kanakan dari Naruto, meski pada dasarnya semua itu salah besar.

Namikaze Naruto, pria bersurai kuning dan matanya yang sangat biru, dan anehnya pria itu memiliki tiga guratan tanda lahir dikedua sisi pipinya. Jujur saja jika diperhatikan memang dia lumayan tampan, tubuhnya yang tinggi tegap tanpa ada cacat sedikitpun seolah menyamarkan bagaimana tingkah laku kesehariannya, dan saat aku berjalan beriringan dengannya kemarin, aku merasa seperti gadis mungil, bagaimana tidak, tinggiku hanya sebatas bahunya, oh ya-tuhan dia sangat tinggi dan jangan lupakan wajah super polosnya yang menurutku bodoh, tapi disisi lain jujur dia juga terlihat lucu.

Bicara tentang pria itu, atau lebih tepatnya calon suamiku, aku teringat tentang Uchiha Sasuke. Pria idaman para gadis dan semua mata yang memandang dia pasti akan berujar-

Perfect

Begitu juga denganku, tapi hal itu sudah lenyap jauh-jauh sebelumnya disaat aku menyadari kalau pria itu bermain dibelakangku. Pria berkulit putih, tinggi semampai juga sikapnya yang cuek itu berbeda dengan Naruto, sangat jauh beda.

Naruto memiliki sikap jauh dari sisi kedewasaan, pikirannya yang masih terpaut pada usianya sekitar 8 tahun, membuatnya tak mudah beradaptasi dengan sekitar. Meski jika dari sudut pandang fisik bisa dibilang Naruto memang pria idaman wanita.

Sedangkan Sasuke, pria itu memiliki ketenangan yang begitu luar biasa dalam hal apapun, sikap juga perilakunya yang dewasa menambahkan kesan tersendiri darinya, gayanya yang selalu terlihat cool membuat para wanita yang melihatnya bisa menjerit kesetanan, tapi itu sama sekali tak berlaku untukku saat ini, dan seterusnya.

Dan siapapun pasti akan memilih si uchiha itu dibandingkan Naruto, bahkan jika aku sendiri aku juga sependapat dengan pilihan itu seandainya pria yang kubandingkan bukan Sasuke.

Tapi bagiku tidak buruk juga pria pirang itu, daripada aku harus dipaksa kencan dengan pria-pria yang dijodohkan ayah padaku, pria yang menurutku sangat menyebalkan juga membosankan, tak ada satupun dari mereka yang dapat mengalihkanku sedikit saja untuk melirik kearah mereka.

Yah, pria menyebalkan yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang bahkan dalam waktu semalam hanya karena kencan dengan seorang wanita, pria yang hanya bisa menebar gombalan menjijikan meski ada sisi keromantisannya, tapi itu sama sekali tak berpengaruh padaku. Dan apa ada yang percaya, kalau ada dari satu di antara mereka mengajakku tidur hanya karena kita berkencan dan dia ber-asumsi sendiri kalau aku calon istrinya, menyebalkan bukan?.

Tapi kali ini berbeda, kali ini pria bernama Naruto itu sama sekali tak romantis, membuatku sedikit kesal lantaran dia bukan pria seperti itu, padahal dalam hati aku memaki para pria yang menggombal dan menebar keromantisan padaku, dan kenapa juga sekarang aku yang ingin diperlakukan romantis bukan seperti Naruto kemarin yang hanya sibuk dengan ponselnya, dan berakhir ponsel itu hancur hanya karena dia kesal.

Tidak bisa dipungkiri, seorang gadis memang ingin sekali diperlakukan sangat manis, dilindungi sepenuh hati, dicintai, juga dihargai pada semua sisi yang dimilikinya. Namun bagiku itu hanya sebuah hayalan jika saja aku menikah dengan Naruto, jangankan memperlakukanku seperti itu, mengenal apa namanya cinta saja mungkin dia belum tau, dan juga kulihat dia kemarin sangat rapuh, aku sempat sedikit membentaknya meski pelan lantaran aku kesal, juga aku menyadari dia tampak ketakutan setelahnya, suara yang tadinya antusias memjadi lirih dan terkadang terbata karena takut mungkin.

Aku teringat bibi Khusina saat menceritakan tentang Naruto, cerita yang membuatku mengerti akan sikap pria itu, dimana Naruto mengalami gangguan pada sistem kerja pada otaknya. Dan bisa dipastikan tingkahnya yang sekarang merupakan pengaruh dari kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun silam.

Flashback

"Naruto ikut ayah. Ibumu dan Hinata ingin bicara sebentar" ucap Minato pada Naruto yang sedari tadi asyik menyantap makanannya.

"Kemana?" tanya Naruto pada sang ayah.

"Sudah ikut saja" Naruto hanya menoleh kearah sang ibu dan dibalas senyuman serta anggukan darinya.

"Baiklah" akhirnya pria pirang itu menurut dan mengikuti langkah sang ayah.

Kini tinggalah Khusina dan Hinata berdua. Iris mata Khusina menatap kepergian sang suami dan putranya yang mulai menjauh, setelah dirasa waktunya tepat, ia pun mulai bersuara.

"Ne Hinata-chan" panggilnya membuyarkan lamunan Hinata yang berada tepat disampingnya.

"Uhm" balas Hinata seraya tersenyum

lembut kearah wanita yang merupakan calon

mertuanya.

"Aku ingin bercerita tentang Naruto. Apa kau tau kenapa sikap dan tingkah lakunya jauh dari kata dewasa?" sorot mata Hinata mulai bertanya-tanya, kepalanya menggeleng menandakan gadis itu tidak tau sama sekali.

"Sekitar 19 tahun yang lalu, saat Naruto masih berusia 6 tahun, dia mengalami kecelakaan. Ia saat itu tengah bermain dihotel yang kupesan dengan Minato dilantai 3. Aku dan suamiku yang masih sibuk dengan pekerjaan kami tak menyadari kalau Naruto sudah berada diambang jendela hotel yang terbuka, dan tepat saat itu, jendela tersebut terbuka membuat Naruto dengan mudah melewatinya, dan saat kami mulai menyadarinya, tiba-tibadia terpeleset dilantai balkon hotel, kakinya yamg kecil itu meluncur dengan cepat kearah pinggiran balkon dan berakhir ia terjatuh kebawah" Khusina menunduk tak dapat menahan tangisnya saat mengingat betapa bodohnya dia dan suaminya tak bisa memantau Naruto kecil. Derai air mata membasahi pipi putihnya, kedua tangannya digunakannya sebagi penutup mulut agar isakannya tak terdengar orang-orang didalam cafe itu.

"B-bibi" Hinata yang melihat itu bahkan ikut terbawa suasana, air mata tak luput sebagai pertanda bahwa si sulung hyuga ini bisa merasakan bagaimana perasaan ibu beranak tunggal didekatnya ini.

Dengan sangat lembut tangannya bergerak memeluk sang calon mertua agar lebih tenang, satu tangan digunakan untuk mengelus punggung Khusina dengan lembut, sedang satu tangannya lagi mendekap erat wanita itu.

"Jika bibi tak sanggup, tidak usah diteruskan. Aku mengerti bagaimana perasaan bibi" masih dengan posisi seperti tadi. Hinata mencoba mencairkan suanana yang sangat haru ini, ada rasa tidak nyaman saat semua orang mulai menatap mereka aneh.

Khusina pun melerai pelukan itu, ia menggeleng sambil mengusap air mata dipipinya dengan punggung tangannya

"Tidak apa, aku ingin kau tau sedikit lagi" dan Khusina pun mulai bercerita lagi.

"3 jam lebih aku menangis diruang tunggu rumah sakit, menunggu hasil dari operasi yang dijalani Naruto saat itu. Setelah beberapa lama lagi aku sangat lega mendapati operasi itu berhasil tanpa kendala, aku bersyukur, sangat bersyukur karena Naruto bisa diselamatkan. Tapi fakta lain membuatku hancur, Naruto mengalami gangguan pada kepalanya dan itu berdampak besar pada kinerja otak dan juga syarafnya, benturan keras pada kepalanya membuatnya seperti itu, dan aku semakin hancur saat dokter mengatakan bahwa Naruto mengalami koma yang mungkin sangat panjang, dan itu memang menjadi fakta bahkan ingatannya sedikit memudar meski tidak seutuhnya" kembali Khusina menangis tersedu-sedu saat mengingatnya

"17 tahun Naruto mengalami koma, sampai ia terbangun tepat diusianya yang menginjak 23 tahun. Waktu selama itu membuatku rindu akan keceriaannya, aku sangat merindukan Naruto kecil yang merengek meminta sesuatu padaku, ingin didongengkan saat akan tidur, atau bermanja-manja pada orangtuanya. Aku memang orangtua yang bodoh bukan? Membuat anakku sendiri menghabiskan masa kecil dan remajanya hanya dengan tidur tanpa tau hal apapun, tanpa bisa merasakan bagaimana rasanya bersama teman saat remaja, bagaimana dia bisa memiliki ketertarikan pada seorang gadis saat ia remaja, yang dilakukannya hanya tertidur sangat panjang. Dan itu semua salahku, salahku yang begitu ceroboh hingga insiden itu terjadi" tangisnya semakin pecah, ia merasa sangat menyesal membiarkan anaknya bermain sendiri tanpa pemgawasan lebih, isak tangis itu semakin terdengar, tak ada lagi hal yang lebih menyedihkan dibanding ingatan itu bagi Khusina.

Air mata yang sempat mengering meluncur kembali membasahi pipi putih milik Hinata, dirinya tak menyangka betapa tidak beruntungya Naruto, betapa kelam masa yang dialaminya meski hanya tertidur, ia merasa sangat tersentuh akan cerita dari bibir Khusina, Hinata yang merasa dirinya sangat tidak beruntung karena adat dari Hyuga yang begitu menekannya kini seakan terbuang, perjodohan dan sakit hati yang pernah ia rasakan menurutnya tak sebanding dengan kisah Naruto. Ia yang masih bisa merasakan masa kecil, bisa merasakan masa remaja, dapat memgecap manisnya cinta, juga dapat menjalani kehidupannya dengan normal sampi sekarang, tidak seperti Naruto yang tak tau menahu tentang semua hal itu. Terbaring dikasur tanpa bisa melihat indahnya dunia selama 17 tahun membuatnya tak bisa membayangkan bagaimana tak beruntungya pria itu. Masa remaja yang begitu menyenangkan dilewati begitu saja dengan tidur panjang hingga beranjak dewasa.

"Naruto" gumam Hinata lirih tanpa sadar, ia seakan mengenal lama pria itu sampai tangisnya semakin deras, tak bisa dipungkiri sifat simpati serta empatinya mulai muncul, sifat yang telah lama ia tekan sejak hatinya sakit dulu.

"Bibi. Bibi tidak usah bersedih, yang terpenting sekarang dia sudah tidak apa-apa, bahkan pertumbuhannya tak kala dari pria-pria normal seusiannya" ucap Hinata mencoba memberi Khusina pengertian. Hinata juga sedikit kaget, bila dibayangkan pertumbuhan serta apa yang di lalui Naruto selama ini tidak sesuai, tapi itulah kenyataannya. Naruto dapat tumbuh dengan normal meski sifat dan jiwanya masih terpaut pada usia anak-anaknya.

"Arigatou" balas Khusina lirih, masih dengan derai air mata yang membasahi pipinya.

Hinata menanggapinya dengan senyuman, lalu pelukan dihadiahkan pada Khusina olehnya, entah kenapa ia merasa mendapat sosok seorang ibu kembali dari diri Khusina.

Hey Hinata!" tepuk seseorang pada bahu gadis yang tengah melamun ditaman "kau melamun? Tidak biasanya"

Sedangkan Hinata hanya menoleh atau lebih tepatnya hanya melirik sekilas kearah orang tadi.

"Hey, hey! Ayolah... Jangan seperti itu" ujar orang tadi lagi, ia seperti sudah biasa menghadapi respon gadis bersurai indigo itu.

"Bisakah kau pergi! Aku sedang tidak ingin diganggu" datar, itulah suara yang dikeluarkan oleh Hinata. Seseorang yang diketahui bergender lelaki itu hanya tersenyum kecut menanggapinya.

"Tidak!" ia mengambil langkah kecil, dan duduk disebelah Hinata "begini lebih baik"

"Kau tau? Kau itu manis dan-" belum sempat pria itu menyelesaikan ucapnnya, delikan tajam mengarah padanya, dan itu tentu dari Hinata.

"kau menghancurkan moodku-K-I-B-A" dengan cepat ia berdiri dan melangkah pergi dari pria itu.

"Ck... Apa-apaan itu, selalu seperti ini" ia mendecih kesal melihat punggung Hinata yang semakin menjauh. Lantas iapun beranjak dari sana, dan pergi berlawanan arah dari Hinata.

Dari jauh tampak gadis bersurai pirang tengah berlari memuju bangku taman tadi. Sesampainya disana ia hanya melongo dan mengarahkan kepalanya kesana- kemari guna mencari seseorang, namun tidak membuahkan hasil.

"Hinata! Hinata!!" ia berteriak memanggil temannya yang pergi entah kemana, ia merengut kesal karena ditinggal begitu saja, padahal ia pergi sebentar hanya ingin membeli minuman dingin serta cemilan untuk mereka berdua, tapi sial menimpanya. Hinata sudah pergi dari sana.

"Dasar anak itu! Awas saja kalau ketemu lagi"

Gadis tadi pergi dari sana dengan wajah kesal bukan main, beberapa cemilan serta 2 minuman dingin pada bingkisan yang ia genggam terlihat bergelantung manja ditangannya yang awalnya untuk dirinya dan Hinata, tapi setelah tak menemukan Hinata, ia pun beranjak pergi pula dari taman.

~~~~~

Pria pirang terlihat berjalan malas mengikuti langkah ibunya. Kepalanya sedikit menunduk dengan kedua tangan dimasukan kesaku jaket orange miliknya, langkah lebarnya sesekali seperti menendang udara.

Sang ibu yang asyik memilih-milih baju sama sekali tak melihat raut wajah sang putra yang ditekuk. Kini mereka berada di pusat perbelanjaan berbagai barang dan aksesoris mewah seperti baju yang kini menarik perhatian wanita berambut merah itu.

"Hey, coba lihat sayang" ujarnya membalikan badan kearah sang putra dan memperlihatkan baju yang ia pilih "bagaimana? Bagus bukan"

"Bisakah kita langsung pulang, aku mengantuk" jawab pria pirang tadi sambil menyilangkan tangannya didepan dada.

"Oh ayolah, bukankah Naru-kun sudah berjanji pada ibu, hm" ia angkat tangan kanannya dan menampakan jari kelingking yang sengaja digoyangkan "Naru-kun bilang tidak akan mengingkari janji 'kan"

Naruto yang melihatnya kembali menunduk dan menampakan raut wajah lesu, bukan tanpa alasan ia seperti itu dari tadi, pasalnya sang ibu sudah hampir 2 jam keliling disini, namun tak satu barangpun diambilnya, yang ada hanya memilih dan memgembalikannya lagi seakan tak berminat.

"Baiklah, tapi setelah ini kita makan" Naruto mengelus perut yang terbalut jaket tersebut "aku lapar"

Khusina yang melihat anaknya merengek malah terkikik, baginya itu seperti rengekan manja dari Naruto seperti biasanya.

"Iya. Setelah ini kita makan" ia tersenyum kearah sang putra "Anak ibu mau makan apa, hm?" tanyanya yang membuat Naruto berubah menjadi antusias.

"Aha, sepertinya-

-banyak! aku susah menyebutkannya bu" ucapnya yang membuat Khusina semakin gemas melihat itu.

Pada awalnya wanita itu tau kalau menyangkut soal makanan, sang anak langsung berbinar mendengarnya, apalagi jika diajak makan di cafe atau restaurant, dan yah itulah kelemahan Naruto salah satunya.

"Hihihi... Ibu selesaikan belanja dulu, setelah itu kita makan, OK!"

"OK"

~~~~

Dua orang wanita muda ini terlihat saling baradu argument. Dari kejadian tadi, dimana Hinata meninggalkannya sesaat kembali dari ruko untuk membeli minuman dingin, dan Hinata yang hanya cuek tanpa mau memikirkan ocehan teman super cerewetnya itu.

"Kau menyebalkan Hinata" ucapnya kesal lantaran dari tadi Hinata hanya diam tanpa mendengar ocehannya.

"Ku tanya sekali lagi! kau kenapa tadi langsung pergi?" tanyannya sedikit mengeraskan suara.

Sedangkan Hinata hanya melirik dengan ekspresi datar tanpa ada niatan menjawab pertanyaan itu.

Dia yang mendapat perlakuan seperti itu menjadi diam, ia memandangi cinnamon roll diahdapannya sambil mengaduknya malas.

"Sudah"

Suara dari Hinata membuatnya menoleh, ia yang terlanjur kesal tak membalas ucapan gadis didepannya.

"Dari tadi kau mengoceh tanpa memberiku kesempatan berbicara, dan sekarang kau kesal karena aku tak menjawabnya... Jadi, siapa yang patut kesal disini Ino?" ujar Hinata panjang lebar, ia menunggu saat dimana Ino diam dan dia bisa berbicara jelas seperti itu.

"Terserah kau saja" jawab Ino tak acuh, benar saja sekarang ini ia terlanjur malas menanggapi Hinata.

"Hahhh..." Hinata menghela napas kasar lalu menatap kearah Ino "Kau tau? Tadi teman anjingmu menghampiriku yang sedang bad-mood... Karena merasa diganggu, aku pergi begitu saja tanpa menunggumu-sebenarnya aku lupa kalau menunggumu waktu itu" jelasnya pada Ino, ia begitu tenang menghadapi perwatakan temannya yang terkenal suka bersolek itu.

"Apa aku boleh bertanya?" tanya Ino, ia menampilakan wajah datar yang mengarah kepintu keluar cafe.

"Hn" jawab Hinata singkat.

"Apa kau masih menyukai Sasuke?"

Hinata membeku mendapat pertanyaan dari teman pirangnya itu. Entah kenapa ia merasa Ino sedang sangat serius sekarang, terlihat dari nada bicaranya yang tak lagi cerewet seperti tadi, dan sontak hal itu menarik untuk Hinata pertanyakan balik.

"Ke-kenapa kau bertanya seperti itu?" Hinata tak menjawab, sebenarnya dia juga tidak tau harus menjawab apa.

"Hanya bertanya saja... Lagipula aku kasihan melihat Kiba yang mengejarmu terus, tapi pada akhirnya kau selalu mengacuhkan dirinya" mendapat jawaban yang kurang pas membuat Hinata tak lagi ingin meneruskan percakapannya, diesapnya teh ocha pesananya, lalu mengikuti arah pandang Ino.

Hinata kaget melihat siapa yang diperhatikan Ino dari tadi, dari arah timur terlihat calon suaminya yang berjalan mengikuti langkah sang ibu dari belakang, siapa lagi kalo bukan Naruto.

"I-itukan" gumamnya menatap intens kearah Naruto. Entah kenapa hari ini ia melihat pria itu lebih dewasa dari pertemuan pertama mereka.

Naruto memakai jaket orange yang resletingnya hanya menutupi sebagian tubuhnya saja hingga terlihat baju polos berwarna putih bagian dalamnya, salah satu lengan jaket yang ditekuk sebatas siku, celana jeans selutut yang tampak begitu cocok dengan atasan yang dikenakannya, ditambah gaya berjalan santainya dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku jaket, terlihat begitu cool dimata Hinata saat ini.

'Itukan Naruto! Benarkah dia bisa setampan itu' batinn Hinata tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

Mutiara lavender itu terus mengamati pria disebrang meja sana, Amethyst nya seperti terhanyut dalam genangan air yang dibuat si pria, namun tak butuh waktu lama tatapan terpana itu lenyap seketika hanya karena melihat perubahan sikap Naruto lagi.

'Tetap saja dia bersikap bodoh seperti itu! Oh ya tuhan, kenapa juga aku tadi sempat terpesona"

Lihat saja apa yang Naruto lakukan sambil berjalan. Kakinya melebar dengan langah mengudara seakan mengikuti gerakan tentara yang sedang bertugas, kedua tangannya ditekuk dibelakang tengkuk sambil nyengir-nyengir tanpa dosa, bahkan ia sama sekali tak mempedulikan tatapan aneh dari para pengunjung dicafe tersebut.

Ino yang melirik Hinata menjadi tertarik, ia melihat gadis indigo itu tengah mencibikan bibirnya, tampak lucu juga bagi Ino, terang saja ia sangat jarang meilhat Hinata berwajah masam seperti itu.

"Hinata..." panggilan Ino sontak membuat sang empu menoleh padanya, ia hanya menaikkan satu alisnya pertanda merespon dengan tanda tanya pada teman cerewetnya itu.

"Coba lihat pria berambut kuning itu.." Hinata mengarahkan kepalanya kearah jari telunjuk Ino, dan benar saja, gadis pirang itu ternyata menunjuk Naruto.

Hinata hanya mengangguk.

"Kudengar dia beberapa kali dijodohkan dengan seorang wanita"

"B-beberapa kali?" potong Hinata sedikit syok, selama ini dia mengira bahwa dirinya orang pertama yang dijodohkan dengan Naruto.

"Iya! Kau tau? Wanita yang berkencan dengannya selalu menolak perjodohan itu setelah selesai berkencan dengan pria kuning itu" jelas Ino sedikit berbisik. Mungkin dia takut kalau ada yang mendengar, apalagi yang digosipkannya.

"A-apa? Be-benarkah?" Hinata kembali membeo dengan raut wajah terkejut, lantas ia kembali menatap Naruto yang asyik mengunyah makananannya.

Jelas saja Ino! Andai saja kau tau kalau sikapnya sangat memalukan untuk diajak berkencan' inner Hinata berbicara sendiri, tanpa disadarinya, bibir ranumnya malah tersenyum melihat tingkah konyol Naruto disana.

'Tidak buruk menurutku... Daripada harus berkencan dengan pria-pria mesum dan sok romantis!" kembali ia membatin tanpa menghilangkan senyumanya kearah Naruto.

"Dan aku dengar lagi, dia kembali dijodohkan!" ujar Ino lagi, dan ucapan Ino tadi membuat Hinata menoleh cepat kearahnya.

"I-ino... Kau tau semua itu darimana? K-kau seakan tau semuanya" Hinata gelagapan, tentu saja yang dibicarakan Ino adalah dirinya, tapi nampaknya gadis bernetra Aquamire tersebut tidak tau siapa wanitanya.

"Dari tadi kau gugup- sebenarnya kau kenapa?" bukannya menjawab, Ino malah bertanya sambil memincingkan matanya kearah Hinata, dan Hinata yang mendapat tatapan curiga seperti itu malah gelagapan lagi.

"I-itu... A-aku hanya i-itu te-tersedak, ahaha iya tersedak" jawab Hinata kikuk, ia meminum teh ocha nya agar membuat ino percaya sekaligus mengurangi kegugupannya.

Tanpa menaruh curiga lebih lanjut, Ino kembali mengeluarkan gosipnya. Catat: Ino si-ratu gosip.

"Aku yakin! Penolakan akan didapatinya lagi" Ino menyesap pelan minumannya, lalu kembali bersuara "Padahal kalau dilihat dia tampan juga, apalagi dia itu seorang Namikaze. Aku sebenarnya penasaran kenapa semua menolaknya"

Hinata yang mendengarnya kembali pandangannya di arahkannya ke-Naruto. Mutiara lavendernya menatap sendu pada pria pirang atau calon suaminya itu, entah kenapa ia kasihan pada Naruto setelah mendengar cerita singkat dari Ino, padahal selama ini dia selalu menolak banyak pria dan ia tak pernah sedikitpun merasa kasihan, dan sekarang rasa simpatinya kembali hadir, padahal bukan dia orang yang menolak Naruto.

'Mungkin kau juga akan menolaknya Ino. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Entah karena ayahku, atau mungkin hal lain' ucapnya dalam hati, pandangannya tetap mengarah pada Naruto.

Dan saat itu pula saffire bertemu amethyst

~~~~

Kaki jenjang yang dibalut stocking tinggi berjalan kasar sesekali ia hentakan pada trotoar, wajahnya yang ditekuk menandakan ia sedang sangat kesal, apalagi gerutuan yang terus saja keluar dari bibir pulamnya.

"Sial! Sial! Siaaal!" gerutunya "Dasar babi gendut sialan! Bodoh!" lagi, dihentakannya hells yang dikenakannya berbunyi nyaring sepanjang trotoar.

"Bersiaplah dengan gosip-gosip kampungan Hinata, mungkin sebaiknya kau tak perlu kekantor besok" ia berbicara sendiri seolah mengintrupsi dirinya. Kepalannya menengadah menghadap langit, entah kenapa ia ingin berdo'a atas kejadian yang menimpanya hari ini.

Hingga-

Tinn tinn

Ia terlonjak kaget, hampir saja ia meloncat karena suara bell dari arah samping. Matanya melebar melihat apa yang ada disampingnya, dan tentunya juga siapa.

"Hey honey... Mungkin kau butuh tumpangan" suara dari pria yang bertengger dimobil tersebut sontak membuat Hinata melotot kearah pria itu.

"Kurasa tidak!" balasnya seraya memalingkan wajah tanpa mau menatap balik.

"Bagaimana jika aku memaksa" ucap pria bersurai putih tadi. Hinata yang mendengarnya kembali menoleh dan menatap tajam si pria.

Hinata mendekat kearah pria itu, disandarkan tangan kanannya disisi mobli, ia tersenyum sangat manis hingga membuat pria berkulit pucat itu terpesona untuk kesekian kalinya.

Tangan seputih salju Hinata terangkat mengarah kepipi sipria, dielusnya lembut pipi yang sudah tersipu itu seraya berkata pelan "Jika aku berkata 'tolong' dengan suara sedikit keras, mungkin clan Otsutsuki akan dipermalukan dan menjadi treending topik se-Jepang dengan tuduhan 'menculik gadis yang ingin pulang disore hari', bagaimana, hm? Apa kau tertarik?"

Pria bermarga Otsutsuki itu hanya membeku dibuatnya, dia memang sedikit takut dengan ancaman itu, tapi dia lebih syok tentang gosip 'putri sulung Hyuga Hiashi terkenal akan ancaman mematikan terhadap pria yang mengganggunya' ternyata memang benar, dan dia sekarang disini mati kutu mendengar ancaman bernada manis tapi beracun.

Diarahkan kepalanya kesana kemari, dan benar saja, sangat banyak orang berlalu lalang disekitar mereka, apalagi mengingat ini jam padat kota Konoha.

"Apa kau masih berani mengajakku tidur, hm? Apa tubuhku terlalu menarik untukmu TO-NE-RI" diremasnya pipi pria itu lalu mendorong dengan sedikit keras, Hinata tidak akan lupa kejadian beberapa minggu lalu dimana pria bernama lengkap Otsutsuki Toneri ini mengajaknya tidur, setelah 2 jam lebih makan malam lantaran permintaan sang ayah yang lagi-lagi soal perjodohan.

Toneri yang mendapat perlakuan seperti itu wajahnya memerah, ia sangat marah dengan Hinata hari ini, seumur hidup baru kali ini dia mendapat perlakuan yang menurutnya mempermalukannya, apalagi gadis itu merupakan incarannya, membuat ia ingin sekali bertindak nekad jikalau keadaan tidak seperti sekarang.

"Awas kau Hyuga! Kau akan tau akibatnya jika membuatku marah" ucapnya menekan, tetapi iris matanya tak melihat sigadis ketakutan, yang ada malah tertawa renyah.

"Kau mengancamku? Fufufu... Aku menunggu" tanpa beban tanpa dosa, Hinata berkata tanpa rasa takut sedikitpun, entah kenapa ia malah geli mendengar ancaman itu.

"Shiittt!!!" ia tutup kaca mobilnya dengan perasaan dongkol bukan main, sebelum itu ia melihat Hinata yang terlihat seperti mengejek.

"Semoga selamat sampai tempat Kami-sama...mmuaach"

Hinata sengaja memberi ciuman dengan jemari ditempelkan dibibir dan mengarahkannya pada Toneri sebagai ejekan, dan itu sontak membuat pria yang berada didalam mobli itu memdecih, ia merasa sangat dipermalukan saat ini.

Mobil sport berwarna silver itupun pergi, dan Hinata masih sempat-sempatnya melambaikan tang seraya tertawa nista, ia merasa sangat menang dalam argumentnya melawan Toneri.

Lantas ia pun beranjak menuju kediamannya, pertemuan menyenangkan dengan Toneri hari ini membuatnya melupakan kejadian di cafe tadi bersama Ino. Dimana Naruto dan Khusina menghamipirnya lantaran tanpa sengaja melihatnya saat itu.