Disclaimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto
Naruto Hinata
FANFICTION
Flashback
Saffire bertemu amethyst
Ia tersentak, saffire biru itu seakan menariknya dalam pesona, ia sadar saat ini sedang bertatap langsung dengan pria pirang diseberang meja sana, namun entah karena apa, tubuhnya seakan membeku, tak dapat merespon pikirannya meski hanya untuk berpaling, namun saat suara dari seorang yang tadi bersamanya membuat ia dapat segera melepas kontak mata dengan Naruto.
"Hinata! K-kau kenapa?" Ino terlihat khawatir melihat sahabatnya terengah-engah, padahal dia yakin kalau sedari tadi Hinata hanya duduk bersamanya.
Hinata masih mengatur nafasnya, efek dari tatapan itu begitu tak terduga, jangan salahkan Naruto yang menatapnya seperti itu. salahkan Hinata yang menahan nafasnya saat itu.
...Ada apa ini? Kenapa tatapannya membuatku seperti ini?... 'ia berbicara dalam hati, Hinata tak menyangka hanya dengan seperti itu jantungnya seakan berhenti berdetak setelah itu berdetak tak karuan.
Lama Hinata terhanyut oleh fikirannya, sampai-
"Hinata-chan" suara girang yang Hinata yakini adalah seorang perempuan membuatnya mengarahkan kepala indigonya keasal suara.
Iris matanya membulat bahkan mulutnya sedikit terbuka. Apa ini? Khusina Namikaze, calon mertuanya, serta Naruto Namikaze, calon suaminya, orang yang tadi dia bicarakan kini berdiri tepat dihadapannya.
...Gawat!! Oh tuhan, gosip tidak akan terelakan lagi... 'ucapnya dalam hati seraya memandang Ino dalam, sangat dalam. Ia tak akan lupa bagaimana gadis pirang itu dapat membongkar segala rahasia hanya lewat gosip, dan sekarang ia berada diposiai tersebut.
"Hay Hinata" lambaian tangan serta cengiran lebar dari pria berjaket orange itu mengarah tepat pada Hinata, karena memang yang disapanya adalah wanita itu.
Hinata menunduk dan sesekali melirik kearah teman sekantornya itu, bisa dilihat Ino memincingkan matanya seolah menatap Hinata penuh tanya, curiga, dan tentunya penjelasan. Bagaimana tidak ingin penjelasan, mengingat sedari tadi Hinata seolah takmengenal dua orang itu saat mereka berdua membicarakannya.
"Hinata" panggilan Khusina sontak membuat Hinata mendongak, ditatapmya mata tanzanite itu dengan tersenyum kearahnya "kau kenapa? Apa kami berdua mengganggu?"
...Bukan hanya itu, bahkan bibi datang diwaktu yang sangat tidak tepat... 'kembali ia membatin frustasi, namun dilihat dari wajahnya, ia seolah menyembunyikan itu semua dengan senyuman manis.
"Bi-bibi, bu-bukan b-begitu" ia terdiam kembali melirik Ino yang menyeringai penuh arti kearahnya, dan tentu itu tidak baik baginya "Bibi dan Naru-kun sama sekali tidak mengganggu... A-aku tadi hanya kaget saja" Hinata pasrah saat ini, biarlah semua terbongkar, bahkan ia memanggil Naruto dengan sebutan yang baru-baru ini diberikan pada pria itu.
WHAT THE HELL...!!!
Begitulah teriak Ino dalam hati. Apa telinganya tak salah dengar? Hinata memanggil pria pirang yang sedari tadi digosipkannya dengan sebutan manja seperti itu, bahkan seumur hidupnya baru kali ini dia mendengar sahabat indigonya itu memanggil pria seperti itu terkecuali sasuke saat SMA dulu. (Catat: Ino berteman dengan Hinata sejak SMA")
"Sayang, apa dia temanmu?" tanya Khusina pada Hinata
"Eumm, dia temanku "jawabnya.
Khusina mengarahkan pandangannya kearah Ino, ia tersenyum yang dibalas senyum pula oleh Ino. Sampai kedua tangan putih mereka saling berjabat.
"Yamanaka Ino, teman lama Hinata" ujar Ino memperkenalkan diri, tanpa memandang Khusina ia menatap Hinata seraya tersenyum penuh arti.
"Namikaze Khusina, dan dia putraku" tunjuknya pada Naruto, lalu kembali bersuara "Namikaze Naruto, calon istri Hinata"
WHAT THE FUCK...!!!
Iris aquamire-nya terbelalak mendengar itu. Ino yakin seyakin-yakinnya jikalau telinganya masih berfungsi dengan baik, dan tak mungkin pula ia salah mendengar perkenalan tadi.
"C-calon?" Ino melongo kearah Khusina, lalu kearah Naruto "Suami?"
Khusina hanya mengangguk meng-iyakan, sedangkan Naruto seakan tak peduli dengan perbincangan para wanita itu.
Lihatlah Hinata saat ini. Ia seakan pasrah dengan takdir tuhan, tak banyak yang bisa dilakukannya selain menikmati seringai yang muncul pada Ino, dan seringai itu tentunya sebuah maksud yang akan menggemparkan banyak orang termasuk dirinya.
"Saya ada keperluan mendadak... Saya pergi dulu, Hinata-" Ino menatap Hinata sambil tersenyum jahil "Aku pulang dulu, ibu memerlukanku dirumah"
"T-tapi l-ino" Hinata mencoba menahan Ino agar tak pergi, namun malah perkataan Ino membuatnya mengumpat berkali-kali dalam hati.
"Temani calon mertuamu, dan calon suamimu Hinata... Aku pulang dulu" sebelum Ino benar-benar pergi, ia sempat berbisik pelan ketelinga Hinata "Kalian cocok, sangaaatt cocok... Dan satu lagi! Oh tuhan, panggilanmu itu sangat mesra- Naru-kun, khekhekhe"
Hinata yang mendengar itu menatap tajam sahabat pirang cerewetnya itu, namun yang ditatap seperti itu hanya menyeringai sebagai respon hingga membuat Hinata mendengus pasrah akan nasib kedepannya.
Untuk kedua kalinya sejak pertemuan pertama mereka, Naruto dan tentunya juga Hinata kembali duduk berdua disebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Kali ini mereka bukan ditaman seperti sebelumnya, tapi tepat dibawah pohon yang mungkin sengaja ditanam sebagai penghias trotoar agar terlihat sejuk.
Khusina memang sengaja merencanakan ini setelah pertemuan tidak disengaja mereka dicafe tadi, dengan alasan untuk menemui klien kerjanya secara mendadak dan berakhir ia disini berdua bersama pria kuning yang merupakan calon suaminya.
Bagi Hinata alasan itu sedikit tidak logis. Mengingat ada klien yang mendadak menghubunginya dan harus segera ditemui, jangan lupakan Hinata yang sering seperti itu, namun mereka selalu merencanakannya dan memilih-milih tempat yang bagus untuk bertukar argument. Dan alasan kedua yang menitipkan Naruto padanya. Apa sekarang ini Hinata memjadi baby syter Naruto sampai harus dititipi seperti itu? Dan juga pria itu sudah besar dan tentunya dewasa, memang Naruto akan hilang jika tidak dibegitukan?- oh tuhan! Demi apapun sekarang ini Hinata pusing dengan masalahnya.
"Kenapa lama sekali?" Naruto bergumam lirih sembari menunduk lesu tanpa melihat gadis disebelahnya yang memperhatikan dirinya dengan ekspresi tak biasa.
"Hinata..." gadis itu merespon dengan menaikkan satu alisnya tanpa bersuara "Aku haus" rengekan manja namun lembut itu membuat Hinata merespon singkat.
"Lalu...?"
"Aku tidak membawa uang, dan aku haus" Hinata mulai tau kenapa Naruto seperti itu. ingin dibelikan menggunakan uangnya.
Mendengus, Hinata merogoh tas kecil bermotif bunga lili yang ia bawa "Ini-belilah minuman ditoko seberang dekat situ" seraya memberikan beberapa lembar uang, Hinata juga menunjuk toko diseberang jalan tepat didepan mereka "Dan cepat kembali!"
2
Mata Naruto berbinar, ia tak akan buang waktu dengan hal itu, dengan gerakan cepat diambilnya uang tersebut tanpa rasa sungkan atau setidaknya sopan sedikit, namun Hinata bisa memakluminya.
"Terima kasih" setelah ucapan itu berdengung, Hinata merasakan kecupan lembut dipipinya. Iris amethystnya membualat sempurna, bibir ranum itu terbuka sangat lebar, dan jangan lupakan wajah cantiknya yang sudah memerah, sangat merah bahkan, hingga siapapun yang melihatnya akan gemas dengan rona merah itu.
Lama ia membatu karena kecupan dipipinya itu, hingga ia sudah tak merasakan adanya Naruto disitu, keterkejutanya itu membuat apapun disekitarnya seakan tak ada, sampai matanya melihat Naruto yang tengah mengantri ditoko yang berada tidak jauh darinya.
"Naruto..."
Gumaman itu mengalun halus dari bibirnya, ia mengelus sisi pipinya yang baru saja dikecup Naruto, ia tak menyangka hal ini terjadi, dan lebihnya lagi, ia sama sekali tak marah ataupun kesal mendapat perlakuan tersebut, hatinya mendadak berdebar, wajahnya memanas, juga tubuhnya yang membatu. Dirinya sendiri yakin, kalau pria lain yang melakukan hal tersebut, bisa dipastikan akan mendapat cercaan ataupun pukulan darinya.
Jangankan mengecup pipi-sedikit menyentuh kulit saja ia akan merasa tak nyaman, apalagi sampai dengan yang dilakukan Naruto tadi.
"Digoda sedikit pria saja aku selalu tidak suka, tapi kenapa sekarang seakan aku bisa menerima perlakuan lancang Naruto tadi?" ia kembali bergumam lirih, dirinya tak akan lupa dengan pria-pria yang selalu menggoda dan memcoba mendekatinya, dan dia tidak akan lupa akan selalu menatap tajam atau mengabaikan godaan dan kehadirannya itu. Tapi sekarang berbeda, kali ini Naruto Namikaze, satu-satunya pria yang dapat membuat Hinata membatu dan berdebar setelah kecupan sekilas tadi.
Ia masih dengan pemikirannya tadi, matanya memperhatikan Naruto diseberang sana. Hinata sangat yakin kalau sekarang ini Naruto sedang mengumpat kesal ditoko itu, hanya karena sikap lucu yang membuatnya tersenyum dan meyakini presepsinya tersebut, padahal hanya kurang 2 pelangan lagi ia akan mendapat giliran, tapi juga namanya Naruto, apapun itu sikapnya akan selalu seperti anak-anak.
Kali ini iris matanya menatap intens pria kuning itu, mendadak ia berdiri karena melihat ada sedikit masalah disana. Segera menghampirinya guna tau apa yang terjadi.
Terlihat sekarang ini Naruto sedang memunguti beberapa barang beliannya yang berserakan dilantai seperti: ice cream, 2 kaleng susu, juga beberapa makanan ringan. Setelah selesai ia berdiri dan mengucapkan permohonan maaf pada seseorang berjaket hitam dengan tudung yang menutupi sebagian kepalanya terkecuali wajah yang ditutupi masker.
Seseorang bertudung yang rupanya pria tadi tampak kesal bahkan marah, terlihat dari tatapan serta gertakan giginya.
"Apa kau tak punya mata? Kau-bodoh!! sialan!!" pria tadi menunjuk-nunjuk Naruto dengan telunjuknya "kau tau ponsel ini sangat mahal, hah!! Dan kau seenaknya menabrakku dan membuat ponselku jatuh, Dasar sialan!!"
"Ma-maaf, a-aku sungguh t-tidak s-sengaja" Naruto sekarang ini sangat takut, ia paling tidak bisa jika dibentak ataupun ditatap tajam seperti itu, dirinya pasti akan sangat ketakutan jika mendapat perlakuan kasar seperti itu, dan sekarang ia diposisi seperti sekarang ini.
Dari dekat Hinata bisa melihat dan mendengar hal itu. Mendadak ia sangat marah melihat orang yang tidak sengaja namun tetap dipermasalahkan, apalagi ini hanya masalah. sepele.
"Jika sampai ponselku rusak, akan kuhajar kau!!" ia kembali membentak dengan menekan kata-katanya, lalu mengecek ponselnya, melihat apa benda canggih itu memgalami masalah setelah terjatuh.
"Berapa harganya? Akan kubayar 10 kali lipat dari dari harga aslinya!"
Suara dari arah ambang pintu toko sontak membuat semua pembeli menoleh kearahnya.
Disana terdapat Hinata yang berjalan pelan seraya menatap tak suka pria bertudung yang sedari tadi membentak Naruto, dikeluarkan sebuah 'cek' kosong dan menyodorkan kearah pria tadi.
Hinata tersenyum remeh kearah pria bertudung yang menutupi sebagian wajahnya itu. Sebenarnya ia sama sekali bukan tipe orang yang suka pamer atau menggunakan kekayaan untuk meninggikan dirinya, namun mendadak ia marah melihat kejdian tadi, dimana Naruo tanpa sengaja menabrak seseorang setelah selesai membayar barang beliannya, dan yang ditabrak terus saja membentak marah meski Naruto sudah meminta maaf, apalagi suara Naruto yang jelas terdengar ketakutan mendapat bentakan kasar itu, membuat mau tak mau ia sedikit melibatkan hartanya disini.
"Tulis berapa yang kau mau, dan segera pergi dari sini" sang pria bertudung tadi hanya mematung mendapati hal itu, ia melongo dibalik masker penutup wajahnya, ia merasa menjadi pecundang disini, bahkan dengan tak sopan Hinata melempar kertas itu kearahnya.
Hinata mengarahkan pandangannya pada Naruo yang menunduk ketakutan, entah kenapa dirinya tak rela Naruto diperlakukan semacam itu, apalagi melihatnya ketakutan seperti itu, rasanya ingin sekali ia mencakar wajah pria bertudung didepannya ini.
"Hi-hinata..."
Suara pelan terdengar di telinganya, suara itu tampak seperti terkejut, meski pria bertudung tadi menggunakan masker, ia yakin jika pria tadi yang menggumamkan namanya, dan sekarang ia yang terkejut akan hal itu, dari mana pria itu mengetahui namanya- begitulah pikir Hinata..
"Kau mengenalku?" Hinata menyipit mencoba mengenalinya, ia sedikit tau dengan mata itu, tapi sepertinya ia sama sekali tak mengenalinya.
Setelah tudung dan terakhir masker dari pria itu terbuka Hinata terkejut dibuatnya, bagaimana tidak? ternyata orang itu sangatlah dikenalinya meski tak dekat, pria yang akhir-akhir ini mengejarnya, mengejar dalam artian ingin mendapatkan perasaannya, tapi selalu ditolaknya,
"K-kiba" pekiknya setelah mengenali pria bertato segitiga terbalik berwarnah merah yang ada dipipinya itu, salah satu pria yang selalu dihindarinya, dan slaah satu pria yang pernah menyatakan cinta padanya.
"Kenapa kau ada disi-"
"Kau!!"
Belum sempat Kiba menyelesaikan perkataannya, Hinata memotongnya dan menatap nyalang kearahnya seraya bersuara menekan kepadanya, seakan gadis itu siap menelannya begitu saja.
"Kau memang tak berperasaan!! Padahal dia sudah minta maaf, dan lagipula dia tidak sengaja, kenapa kau harus membentaknya seperti itu!!" kali ini Hinata sudah tak mampu menahan emosinya, wajah pria yang satu ini seakan tak ingin dilihatnya muncul begitu saja dengan marah-marah tak jelas.
"Sudah kuduga kau memang pria egois!! Cih.. Hanya ponsel terjatuh kau bertindak seenakmu" kata-kata kasar keluar dari bibirnya, ia juga sebenarnya heran, hanya melihat Naruto seperti itu membuatnya sangat marah, ia seakan menghilangkan citra Hyuga dengan bibir kasarnya tadi, apalagi pria yang membuat masalah itu Kiba, pria genit yang selalu menggoda dan men-stalker dirinya.
Mulut Kiba terbuka lebar mendapati Hinata seperti itu, ia memang sering mendapat omelan kekesalan dari gadis itu, tapi sekarang jauh berbeda, sekarang ini seakan Hinata teramat marah padanya, namun yang membuatnya penasaran lagi adalah pria yang sedari tadi dibentaknya, siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Hinata? Kenapa Hinata bisa sekasar itu hanyak karena pria kuning tadi?-- itulah pikir Kiba yang sangat terheran-heran.
"A-aku-" ucapan Kiba terhenti, ia mendapati Hinata beranjak dari depannya menuju Naruto, membuat hatinya ngilu mendapat perlakuan kasar dan tatapan nyalang dari gadis yang disukainya.
Kiba terus saja mengamati Hinata yang mengelus tangan tan milik Naruto, sesekali gadis itu berucap menghibur kearahnya, bahkan panggilan manja serta suffix-kun mengarah pada pria bersurai kuning itu, dan disini dia merasa tersakiti melihat interaksi tersebut.
"Naru-kun, ayo kita keluar" Hinata mencoba mengajak Naruto keluar, namun pria itu menggeleng sembari terus menunduk, membuat Hinata merasa kasihan melihatnya yang ketakutan.
"A-aku belum m-mendapat maaf kali ini ia memdongak menatap Hinata "Kata ibu aku h-harus meminta maaf jika a-aku bersalah" ia kembali menunduk setelah menyelesaikan perkataannya yang terbata takut-takut.
"T-tapi Naru-kun sudah minta maaf kan... Jadi jika dia tak memaafkan biarkan saja" Naruto mengangguk membenarkan ucapan Hinata, namun tak sepenuhnya dia lega begitu saja.
"...lagipula dia bukan orang baik... " kali ini Hinata berbisik, ia sebenarnya sudah tidak tau harus bagaimana, hingga ia berbohong pada Naruto, meskipun Kiba sangatlah menyebalkan, tapi Hinata tau kalau pria itu baik, hanya saja ia memiliki tempramen yang buruk.
"A-ano... T-tapi-"
Hinata menarik tangan Naruto begitu saja, ia sudah terlanjur kesal disana, ditambah lagi Naruto yang memperlambat dirinya untuk pergi dari Kiba, entah kenapa sekarang ini Hinata tidak ingin melihat wajah Kiba.
Namun saat melewati pria pecinta anjing itu, tiba-tiba tangannya dicekal, dan pelakunya adalah Kiba.
"Lepas! jika kau tak ingin terkena masalah" tanpa berbalik Hinata berujar mengancam, ia sama sama sekali tak takut saat mengeluarkan ancaman itu, dan suaranyapun terdengar pelan tapi sangat menekan disetiap katanya, membuat Kiba sontak melepaskannya.
"Ma-maaf" Hinata masih diam ia menunggu lanjutan kata Kiba yang terdengar menggantung "aku hanya ingin bertanya, siapa pria kuning bodoh itu?"
"Berhenti memanggilnya bodoh!!" Hinata berbalik dan membentak, membuat Kiba tersentak akan pembelaan itu "dan untuk pertanyaanmu itu-" Kiba mencoba memekakan telinganya, dilihatnya Hinata berbalik memunggunya lagi dangan tangan yang masih menggenggam tangan Naruto "dia calon suamiku"
"A-apa? T-tidak mungkin" Kiba kaget, sangat terkejut "k-kau bilang tak punya kekasih, d-dan sekarang kau bilang dia calon suamimu... K-kau-haissh"
Kiba frustasi, ia mengelap kasar wajahnya, fakta ini sungguh membuatnya mati langkah untuk mengejar Hinata, pantas saja dari tadi Hinata marah besar padanya dan bersikap lembut juga khawatir pada Naruto, ternyata pria itu calon suaminya.
'Kurasa ini lebih baik! Aku sebenarnya kasihan padamu Kiba. Kau selalu mengejarku namun tak pernah kuhiraukan... Dan kurasa fakta ini mungkin akan membuatmu berhenti, aku tidak mau ada yang tersakiti lagi karena aku, maafkan aku
Setelah itu Hinata benar-benar pergi dari toko itu, ia melangkah pergi dengan tangannya yang menggenggam tangan Naruto yang masih bergetar ketakutan meski pelan, namun entah kenapa itu membuatnya cemas.
End Flashback
Hinata mengingatnya, yah dia mengingat kejadian ditoko kemarin. Pembelaannya pada Naruto kemarin cukup membuatnya marah besar pada Kiba, tak ada guratan penyesalan sama sekali padanya setelah memarahi pria anjing itu.
Namun yang cukup atau bahkan sangat membuatnya gelisah adalah kejadian setelahnya, dimana setelah mereka berdudua: Naruto dan Hinata keluar dari toko, disitulah awal dari penyesalannya saat ini.
Wajah ketakutan serta mata yang berkaca-kaca terus saja terekam olehnya, bahkan dalam mimpi ia memimpikan wajah Naruto yang seperti itu, dan lebih parahnya lagi hal itu adalah dirinya penyebabnya.
Ia seakan dihantui oleh rasa gelisah seperti ini, namun lebih tepatnya ia dihantui oleh rasa penyesalan yang bahkan tak pernah terpikir olehnya, tak pernah sekali pun ia merasa seperti ini hanya karena pria, jika adanya Naruto memang berbeda dengan pria lain, pria itu sungguh membutuhkan kasih sayang serta perhatian penuh.
Teringat lagi wajah calon mertuanya yang seakan kecewa dengannya, tatapan menuntut, serta pengabaian yang entah kenapa membuatnya sakit hati, hampir sama saat ia diabaikan oleh mendiang sang ibu sewaktu kecil dulu saat membuat kesalahan, meski ibunya tak marah, tapi pengabaiannya yang cukup membuatnya sakit hati.
Dan sekarang disini dia, didalam kamar setelah bangun pagi, mengingat kejadian setelah ditoko, dan sebelum ia pulang kerumah.
Flashback, once in the store
"Minumlah, jangan seperti itu terus" tak ada jawaban. hanya gelengan yang diterima Hinata.
Gadis berusia 24 tahun itu tentu tau apa yang membuat Naruto seperti itu, pasca kejadian ditoko seberang tadi, Naruto hanya diam menunduk tanpa beraktifitas riang seperti biasanya, bahkan minuman yang dibelinya tadi sama sekali tak disentuh, padahal Hinata tau kalu pria pirang itu sangat haus.
"Jangan seperti ini... Ayolah, tidak perlu dipikirkan" Hinata mulai kesal, suaranya tak selembut tadi, entah mengapa ia ingin sekali meninggalkan begitu saja pria yang merupakan calon suaminya itu.
"A-aku tidak haus" Hunata memutar bola matanya, sejujurnya ia tak suka pria pengecut, tapi nalurinya pada Naruto berbeda.
"Aku sudah membelikanmu semua ini! Lalu aku mengganti rugi ponsel pria tadi" Naruto melirik Hinata yang terlihat marah padanya "Setidaknya hargai niat baikku" nadanya ketus, sangat ketus. Ia tak kan lupa bagaimana ia melempar kertas kecil namun berharga tadi kearah Kiba, meski ia tidak tau apa Kiba mengambilnya, tapi yang pasti dirinya merasa sudah merugi disini, walaupun tak dipermasalahkan.
"Ma-maaf" Naruto menunduk lebih dalam
"Hinata..."
Hinata menoleh, ia melihat Naruto yang
melirik takut padanya, dia bertambah kesal jika meladeni orang penakut seperti itu. "A-ku.. A-apa aku boleh memelukmu?" Hinata mendelik kearah pria disebelahnya, belum
selesai ia merasa kesal, sekarng malah Naruto
ingin memeluknya.
"Tidak!" Naruto tak lagi melirik, ia memejamkan matanya sembari terus menunduk "Sudah kubilang cepat minum! Jangan meminta yang aneh-neh"
"Ma-maaf" ucapnya lirih, ia sekarang ini seperti tikus ketakutan
Sesungguhnya sejak kejadian ditoko tadi ia sangat ketakutan, pelukanlah yang bisa menenangkannya, biasanya sang ibu atau ayahnya yang akan melakukan hal itu, tapi sekarang hanya ada Hinata, tapi gadis itu tak mau Sifat serta jiwa-nya yang membuatnya seperti ini, pada dasarnya Naruto memang sosok yang manja dan ingin selalu mendapat perhatian, dan saat dia merasa ketakutan, hanya pelukan hangat serta kata-kata lembut yang dapat membuatnya tenang.
"A-aku pulang saja" ujarnya pelan, Hinata yang mendengarnya mencoba menghalangi.
"Tunggu bibi Khusina dulu, aku harus bilang apa saat dia mencarimu" cegahnya, ia tak mau wanita merah itu salah paham setelah ini "Lagipula aku tak mau mengantarmu, rumahmu jauh dari sini"
"Aku pu-pulang sendiri saja, a-aku tak mau merepotkanmu" Naruto tetap bersikukuh, ia saat ini tak mau bersama Hinata, bukannya menenangkan, gadis itu malah terus berkata seolah-oleh memarahinya.
"Sudah kubilang tidak! Jangan menambah masalahku!" Nadanya kembali meninggi, dan respon Naruto tetap sama, tapi kali ini matanya terlihat berkaca-kaca. (Oh shiitt, cengeng banget nih orang).
"Ba-baikalah, ma-maafkan aku" ia mendengar, yah Hinata mendengar suara sedikit parau itu, tapi ia sama sekali tak peduli.
Tak lama setelah itu, mobil merah bermerek unggulan datang menghampiri mereka berdua. Naruto yang melihatnya sangat senang karena sang ibu sudah datang meski ia masih tidak menampakan ekspresi bahagianya, satu-satunya hal yang membuatnya takut sekarang adalah Hinata.
'Akhirnya datang juga-ffyuuh aku bebas sekarang' ucap Hinata dalam hati, tanpa menduga apa yang terjadi selanjutnya.
Dari sisi pintu mobil yang terbuka, menampilkan Khusina yang tersenyum lembut kearah mereka. Iris tanzanite miliknya menangkap sang calon menantu juga membalas senyumannya, namun ia tak menangkap aura keceriaan dari putra kesayangannya.
GREP
"Na-naru..."
Tanpa aba-aba, Naruto langsung memeluk sang ibu erat, sangat erat. Ia sudah tak sanggup lagi untuk tidak mendapat pelukan setelah kejadian tadi, bahkan Khusina merasakan tubuh sang anak yang sedikit bergetar, dan wanita baya itu tau kalau sang anak menangis.
Hinata pucat pasi sekarang ini, ia lupa kalau Naruto bukanlah pria dengan mental dewasa, dan sekarang ia merutuki kebodohannya yang lupa untuk menenangkan sipirang itu.
"I-ibu.. Ayo pulang" suaranya sangat pelan, namun jangan kira Hinata tak mendengarnya.
Tatapan penuh tanya didapatinya dari Khusina, ia menunduk tak berani menatap wanita itu, apalagi suara tampak menuntut serta tidak biasanya mendengung jelas ditelinganya.
"Aku butuh penjelasan dengan semua ini" suaranya sangat menuntut, melihat sang putra tercinta seperti itu membuat naluri seorang ibu bangkit, apalagi jika mengingat kondisi sang putra, dan disini sekarang tuduhan atas kejadian ini dilayangkan pada Hinata.
"B-bibi, a-aku bisa jelaskan s-semuanya" ucapnya takut-takut namun tak dihiraukan.
"Hey.. Sudah, hm-ibu disini, jangan takut" ia masih menenangkan Naruto tanpa mempedulikan Hinata yang tampak menatap mereka berdua penuh arti "Kita pulang. Naru-kun mau langsung pulang 'kan"
Naruto mengangguk dalam dekapan sang ibu, baginya tak ada kasih sayang yang bisa melampaui hal ini, cukup memeluk baginya sudah cukup, tak ada lagi yang perlu di takuti selama dalam posisi nyaman seperti itu.
BRAK
Hinata terperanjat kaget mendengar suara pintu mobil yang tertutup dengan kasar, ia tak lagi mendapati Khusina yang lemah lembut, ceria, super heboh, dan tentunya penyayang. Tapi yang didapati dari tatapan itu adalah hal yang membuatnya merasa sangat bersalah, tatapan tak suka dari wanita itu membuat hatinya ngilu, ia yang biasanya dalam posisi seperti itu jika sedang bersama temannya dan merasa terganggu, dan sekarang ia dalam posisi terbalik, mendapat tatapan tajam.
!... Apa ini karma?... 'pikirnya menjurus ke karma.
End Flashback
•
•
•
•
•
•
Pikirannya terus melayang pada kejadian itu, kejadian yang membuatnya merasa amat berasalah pada mereka berdua, terutama Naruto. Rasanya ingin sekali ia menemui pria itu dan mengucapkan maaf bahkan memeluknya, karena hal ini sungguh menyiksanya, ia selalu terpikir dan berujung sulit tidur karena rasa bersalah itu, meski hal itu tidak begitu serius, namun ada yang berbeda saat mengingat bagaimana raut wajah ketakutan Naruto.
"Naru-kun, maafkan aku..." ia bergumam lirih sembari memandangi langit pagi, dan entah kenapa saat itu pula langit biru membuatnya ingat tentang pancaran kecerian dari mata biru milik Naruto, matahari yang kini bersinar terang juga mengingatkannya akan tingkah ceria pria itu, hatinya menghangat mengingat hal itu, namun kembali berubah sendu karena ingatan dimana ia marah pada pria itu, dan berakhir ketakutan karena dirinya.
Matanya tertutup erat, kepalanya menunduk, tangan kanannya mencengkram dada kirinya. Hatinya mendadak ngilu mendapat perlakuan dari Khusina pasca kejadian itu, wanita baya itu berubah mengerikan saat menyangkut putranya seperti kemarin, dan disini ia memyesal karena memperlakukan Naruto kurang baik, meski ia hanya sedikit meninggikan suara, tapi tetap saja, rasa bersalah menyelubunginya saat terlintas wajah pria itu yang ketakutan dengan mata yang berkaca-kaca.
'A-aku.. A-apa aku boleh memelukmu?...
Permintaan kecil itu kembali memdengung ditelinganya. Saat itu ia ingat betul jika bibirnya mengucapkan kata 'Tidak dengan nada tinggi, dan saat itu pula raut wajah kecewa, sedih, dan takut didapatinya dari Naruto, dan kenapa baru sekarang dia baru merasakan raut wajah itu? Dan kenapa hatinya sangat tak rela melihat hal itu? Dan disini ia menyesal karena tidak mau mengabulkan permintaan kecil itu, padahal Naruto tak bermaksud apapun, hanya ingin mendapat pelukan agar dirinya sedikit lebih tenang, namun yang ada malah penolakan kasar.
"Maafkan aku... Naru, apa kau masih mau bertemu denganku?" air matanya meleleh, baru kali ini ia merasa seperti ini, merasakan rindu pada sosok yang terkadang membuatnya naik darah, tapi dari sisi lain selalu membuatnya berdebar.
Siapapun yang saat ini melihat Hinata akan sangat kaget, Hinata yang biasanya arogan dan menolak mentah-mentah kehadiran pria, kini menangisi seorang pria berjiwa anak kecil, laki-laki yang membuatnya merasa menyesal sedalam ini, dan juga lelaki yang baru dikenalnya.
Drrrt
From: Bibi Khusina Subject:-
'Dia tidak ingin bertemu denganmu, dia bilang kau sama dengan wanita-wanita yang selama ini pernah memperlakukannya tidak baik, sama sepertimu yang membentaknya hanya karena ingin dipeluk...'
'Satu lagi-
Terimakasih sudah membelanya, Naruto yang bercerita padaku...'
Kembali ia memeteskan air mata, ia bisa dengan jelas membaca pesan balasan yang dikirimnya beberapa menit lalu, dan dugaannya benar, Naruto tak ingin bertemu dengannya, dan lebih parahnya lagi, Naruto menganggapnya sama seperti wanita-wanita yang pernah membentaknya, mendadak hatinya sakit mendapat fakta tersebut, apalagi membayangkan jika selama ini Naruto selalu dipandang pria aneh tanpa tau sebenarnya, karena hanya dirinya yang mengetahui perihal sikap dan sifat Naruto.
"Pasti kau berkali-kali ketakutan seperti kemarin karena dibentak, maaf karena aku sama seperti mereka" kembali ia bermonolog dengan raut penyesalan yang dalam, dan dia tak akan lupa bagaimana reaksi Naruto saat sang ibu datang, tak ada izin, tak ada rasa sungkan sedikitpun untuk melakukan sebuah pelukan mendadak, yang ada rasa aman, nyaman, dan cinta seorang putra pada sang ibu dan sebaliknya, sedangkan dirinya, ia ingat saat Naruto bersuara takut-takut untuk meminta izin memeluknya, bukan seperti pada Khusina yang langsung dipeluknya begitu saja, dan entah apa? Hinata ingin sekali dipandang Naruto seperti itu, dapat menumpahakan semuanya sama seperti saat pria pirang itu bersama sang ibu.
"Padahal dia hanya ingin memelukku agar tenang, tapi kenapa aku malah marah padanya?" terus saja ia merutuki kebodohanya, jika saja sekarang ada Naruto didepannya, dengan secepat mungkin ia akan memeluk pira itu, bukan lagi ego-nya sama seperti waktu itu, ego yang menjurus pada rasa sesal seperti sekarang ini.
"Kenapa aku sangat merindukanmu?, Hiks, kumohon jangan seperti ini.. Hiks" isakan halus itu terdengar, hatinya tak akan menyangkal lagi, ia sangat merindukan pria itu, ditambah penyesalan yang membuatnya ketakutan, satu hal yang membuatnya meringkuk ditempat tidur seperti sekarang ini.
"Dia pria yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan remaja selama ini" Hinata meringkuk kembali diatas ranjang "Dia yang selalu dipandang aneh serta bodoh oleh wanita lainya" ditariknya selimut tebal dan kembali menutupi sebagian tubuhnya "Dia pria yang secara tak sadar selalu merasakan sakit hati karena perasaannya" ditutupnya kelopak mata indah miliknya "Dan dia pria yang tanpa kuduga kupandang berbeda dengan pria lain"
Saat ini ia tak ingin pergi kekantor, ia ingin sendiri, merenungi hatinya yang terombang-ambing karena pikirannya yang tertuju penuh kearah Naruto, jika kemarin ia memutuskan tidak pergi kekantor besoknya karena takut menanggapi gosip-gosip yang pastinya disebarkan oleh Ino.
Tapi sekarang
la tidak ingin beranjak kemanapun karena Naruto, jikalau ia ingin pergi, mungkin hanya pria itu tujuannya, dia sudah tidak peduli dengan fakta atau gosip yang beredar pasca kejadian kemarin. Dia sudah gila, bukan gila, tapi gelisah, hatinya tertuju oleh pria pirang yang baru-baru ini memasuki kehidupannya, dan bisa membuatnya seperti ini.
Naruto pria itu, pria berusia satu tahun diatasnya, pria unik yang sikap serta perilakunya terpaut dari usia belianya, pria yang menurutnya pengecut juga penakut, pria yang selalu bertingkah bodoh dan konyol, dan satu-satunya pria yang sedikit demi sedikit membuatnya menjadi Hyuga Hinata yang dulu.
.
.
.
.
.
.
Waktu terus berlalu hingga satu minggu terlewatkan begitu saja. Hari-hari yang tak begitu menarik didapatinya seminggu ini, ia selalu tampak murung, menjadi lebih pendiam, bahkan tingkat emosinya lebih dari biasanya, membuat beberapa orang terundang untuk penasaran.
Hinata memang akan merubah sikap saat hatinya tidak tenang, terakhir ia merubah sikap saat ditinggal Sasuke, dan sekarang hal itu hadir kembali, namun kali ini bukan karena pria yang notabenya adalah sang mantan kekasih, tapi semua ini karena Naruto, Namikaze Naruto.
Ia adalah salah satu tipe wanita yang kerap kali memendam sesuatu sendiri, memendam rasa sakit, gundah, gelisah, dan lain sebagainya tanpa ingin membaginya keorang lain. Dan hal itu memicu pada perubahan sikap serta emosinya sekarang, dan jikalau ada obatnya, maka hal itu adalah masalah itu sendiri.
Sesungguhnya ia sangat tersiksa dengan hal ini, namun ia bisa apa? Naruto sudah tidakingin bertemu dengannya, menganggapnya wanita kasar karena membuatnya ketakutan.
Hinata mencoba kuat dibawah risalah hatinya, ia tak mau terlarut dalam semua ini, namun itu seakan percuma, disini bukan saat dulu ia ditinggal Sasuke, dan puncak permasalahannya merupakan kesalahan Sasuke, tapi disini yang salah adalah dirinya, membuat Naruto membencinya dan membuat kepercayaan seorang Khusina luntur.
Tidak! Naruto tidak membencinya. Pria itu terlalu lugu untuk suatu kata seperti benci, pria itu hanya takut, ia terlalu trauma dengan bentakan dan wanita kasar yang pernah dialaminya, pada dasarnya seseorang seperti dirinya memang harus mendapat perhatian lebih.
Satu kesalahan sebenarnya memang ada pada Khusina, 2 tahun setelah Naruto tersadar dari Koma-nya, ia terlalu rindu pada putranya, apa yang dimimta selalu dikabulkannya, namun satu hal, pergaulan luar serta hal-hal asing tak pernah diperlihatkan olehnya, hanya fasilitas kenyamanan yang didapatinya, membuat jiwa anak kecil yang dimilikinya tak tumbuh seperti pada umumnya.
Bukan tanpa alasan ia bertindak seperti itu, jika dipikirkan memang itu wajar saja, bayangkan saja jika seseorang mempunyai orang yang amat disayangi baru terbangun dari Koma panjangnya, apalagi 17 tahun seperti yang dialami Naruto, maka bukan mustahil jika cinta kasih serta perhatiannya bertambah berkali-kali lipat, tidak ingin kejadian bodoh terulang lagi dengan memanjakannya secara penuh, namun dampak dari itu semua merupakan mentalnya.
Tanpa dijelaskan mungkin Hinata sudah mengetahui fakta ini, melihat saja bagaimana wanita bersurai merah yang selalu memanjakan putranya disetiap saat, apapun yang diminta selalu dikabulkannya dalam sekejap, namun anehnya kenapa juga Naruto harus terlibat dalam hal seperti perjodohan, hal yang menyangkut pria serta wanita dewasa, tapi disini Naruto jauh dari kata dewasa.
Gosip beredar bahwa Khusina ingin segera meminang cucu, dan hal itu sebenarnya cukup mustahil jika Hinata pikirkan, membayangkan saja jika Naruto harus melakukan 'itu' tanpa tau sama sekali tentang seks.
Namun semua itu segera dilenyapkan oleh pikirannya yang terlampau jauh 'Bagaimana bisa aku membayangkan hal-hal mesum seperti itu' ia meracau dalam hati memaki dirinya sendiri, sebenarnya sempat terlintas di pikirannya jika ia dan Naruto menikah dan menuju malam pertama.
Akhir-akhir ini pikirannya selalu dipenuhi oleh pria pirang itu. Mulai dari rasa bersalah, rindu, ingin melihat wajahnya, dan tentunya melihat tingkah konyolnya. Jika dulu ia menganggap itu hal bodoh, tapi sekarang itu adalah hal lucu yang menggemaskan.
Satu minggu pikirannya tertuju penuh kearah Naruto, bagaimana pria itu sekarang? Apa ia tetap sama? Apa Naruto membencinya? Apa masih ada kesempatan untuknya meminta maaf? Dan pikiran yang sempat membuatnya malu serta bingung adalah tentang perjodohan itu. Dalam diri yang paling dalam, hatinya ingin sekali hal itu masih berlaku, namun ia tidak tau atau lebih tepatnya menyangkal, ia tetap beranggapan bahwa hanya sekedar merasa bersalah, tidak lebih.
Bahkan sekarang ia tengah menatap foto seorang pria yang tak lain adalah foto Naruto. Tak sengaja ia mengambil foto itu di-internet saat mencari tau tentang keluarga Namikaze, dan entah apa yang dipikirkannya saat itu, ia malah mengambil salah satu foto anak dari pasangan Namikaze Minato dan Namikaze Khusina.
Ia terus saja tersenyum memandangi foto yang menurutnya lucu itu. Mulai dari Naruto kecil sampai dewasa. Tidak banyak memang, tapi cukup mengherankan untuk gadis seperti Hinata.
Tanpa mempedulikan tatapan aneh dari sekitarnya, ia malah tersenyum terkadang tertawa kecil dan sesekali bergumam lirih seolah-olah mengomentari foto tersebut.
Saat menengadah ia tak sengaja melihat pria berambut kuning berlari kecil jauh darinya, sontak ia berdiri namun saat sudah dekat ternyata itu bukan orang yang selama ini membuatnya sulit tidur.
"Ternyata bukan" ia kembali berjalan gontai menuju bangku yang diduduki tadi, namun saat ia hendak duduk kembali diwurungkannya, matanya malah menajam kearah seseorang yang mengambil tempatnya tadi.
Seseorang yang ternyata pria itu malah tersenyum tipis kearah Hinata, dan entah kenapa Hinata ingin sekali pergi ke wastafel dan segera muntah melihatnya.
"Terpesona, eh? Sampai tatapanmu menajam seperti itu" ujarnya percaya diri, tanpa melihat Hinata yang sudah muak melihatnya.
"Jangan harap Otsutsuki!!" ia pun beranjak dengan cepat meminggalkan pria pucat yang ternyata Toneri.
Namun baru beberapa langkah tangannya malah dicekal, tapi jangan remehkan gadis Hyuga, dengan sekali hempas cengkraman Toneri terlepas dari tanganmya.
"Wow... Aku lupa jika perempuan dari Hyuga memang sangat kuat" Hinata malah mengelus tangannya yang tadi dicengkram Toneri, seolah ada noda yang menempel disana "Apa kita bisa dinner malam ini, Honey?"
"Dengan pria keparat seperti dirimu,- CUIH.. Lebih baik aku berkencan dengan tikus tanah" ia sengaja meludah ketanah sebagai tanda penolakan keras, dan Hinata adalah satu-satunya wanita yang dapat memyulut api emosi dari Toneri.
Toneri merupakan pria yang begitu tenang dan juga licik dalam hal apapun, namun entah kenapa ia selalu tersulut emosi jika bersama Hinata.
"KAU!!" Ia kembali mencengkram lengan Hinata, dan kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya, membuat Hinata merintih kecil karena terasa sakit
"Lepas!! S-sakit, lepaskan aku!!" Ia merintih sambil berteriak ingin dilepas, tubuhnya memberontak namun percuma, tenaga Toneri jauh lebih besar.
"Jika kau menurut ini akan mudah. Jadi menu-"
BRUK
"Akhh"
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tiba tiba ada yang mendorongnya dengan sangat keras, hingga ia terjembab kebawah.
"Dasar orang jahat! Jangan sakiti Hinata"
Deg
Hinata terkesiap, jantungnya seakan berhenti dan kembali memompa dengan sangat cepat, sesaat ia terdiam dengan pikirannya yang mengenali suara itu, apalagi suara baritome yang terdengar cempreng itu adalah sosok yang sangat dirindukanmya.
Dengan ragu ia menoleh, pelan, sangat pelan. Kali ini ia tidak ingin kecewa, mungkin saja itu hanya halusinasinya saja seperti sebelumnya, tapi ini bukan.
"N-na-naru.. Na-naru-kun"
Pada saat yang sama matanya berair, raut kebahagiaan langsung terpancar olehnya. la seakan menjadi seorang putri yang diselamatkan oleh pangerannya melihat bagaimana Naruto mendorong Toneri untuknya.
"Naru-kun" ucapnya lirih, matanya tertuju penuh kearah Naruto yang memandang tak suka kearah Toneri.
BUAGH
"Ugh.."
"NARUTO-KUN!!!
Pukulan sangat keras dihadiahkan Toneri pada pipi Naruto, Entah sejak kapan ia berdiri, namun yang pasti sekarang ini ia terlampau marah.
Naruto tersungkur ketanah dengan luka lebam dipipinya, ia tidak takut, sama sekali tidak takut. Naruto akan menjadi pria jantan saat seperti ini, kebanding jika dibentak ia akan ketakutan, namun jika berkelahi ia sama sekali tak takut.
"Dasar kau!!"
Naruto berdiri mencoba memukul Toneri, namun sayang, dengan mudah Toneri
menangkisnya. Hingga tangan kanan Toneri terkepal keras siap menghadiahkan pukulan lagi kepipi Naruto.
Grab
Tangan besar tiba-tiba mencekal tangan Toneri yang hampir mengenai pipi Naruto, memelintirnya hingga Toneri merintih ingin dilepas.
"Sekali lagi kau memukulnya, kupastikan kau mati disini sekarang juga"
BUAGH
"Akh.."
Bogem mentah didapati Toneri. Tampak pria baya berambut pirang sama seperti Naruto berdiri tepat disamping sang putra, memeluk sang putra dan mengelus surai pirang yang sama sepertinya.
"Kau tak apa nak? Apa itu sakit?" tanyannya khawatir, mungkin setelah ini dia yang akan kesakitan mendapat kemarahan dari istri merahnya jika membawa Naruto dengan kondisi pipi lebam seperti itu. Jangankan lebam, melihat sang putra kelelahan saja Khusina bisa marah besar, apa lagi terluka, bisa-bisa Minato akan dibunuh seketika 'mungkin aku akan tidur diluar
Bukannya sakit, Naruto malah nyengir kearah sang ayah, ia sama sekali tak ketakutan meski sedikit sakit diarea pipinya "Aku kuat ayah, aku tak akan kesakitan" sang ayah tersenyum bangga kearah putranya, ia tak akan lupa kemajuan mental dari Naruto saat ini.
"Kau Otsutsuki" Minato berjongkok tepat pada wajah Toneri, ia menyingkap lengan baju yang dikenakannya hingga memperlihatkan otot besar miliknya "Kau mungkin pernah dengar jika Minato Namikaze pernah melawan 4 perampok bersenjata saat di mall dengan tangan kosong. dan kau tau? Aku hanya tergores pisau dibagian lengan, dan 1 diantara 4 perampok itu mati karena aku, dan juga 3 lainnya yang kritis sampai sekarang, kurasa berita itu masih hangat dibeberapa stasiun TV"
Toneri mati kutu sekarang. Ia tentu tau berita itu, masih 1 bulan berita itu tersiar, dan sekarang ia berhadapan dengan orang itu, Namikaze Minato, sendirian. 4 perampok saja salah satunya mati dan yang lain kritis sampai sekarang, apalagi dia sendirian, bisa dipastikan kalau clan Otsutsuki sudah menyiapkan upacara kremasi untuk dirinya.
"Mungkin kau tertarik... Bagaimana, hm?" Minato sengaja mengelus luka jahitan dilengannya yang pernah tergores pisau, dan Toneri yang melihatnya seketika menjadi pucat tanpa bisa bersuara sedikitpun.
"Ayah.." Minato menoleh seraya tersenyum lembut kearah sang putra "Ayo kita pulang"
Minato berdiri dan menuju Naruto, dan hal itu membuat Toneri lega "Kau tak ingin bersama dengannya sebentar" tunjuk Minato kearah Hinata yang masih diam mematung,
dia masih terlena dengan interaksi antara Minato dan Toneri tadi, hingga ia terfokus hanya kesitu, namun sekarang ia tersadar dan kembali menatap Naruto.
Naruto hanya diam membuat sang ayah paham akan sikapnya "Jangan memendam kebencian, itu tidak boleh" ujarnya pelan, Minato tentu tau masalah antara Naruto dan Hinata "kau mau kan berbicara dengannya?"
Naruto menggeleng pelan dan sedikit melirik Hinata melalui ekor matanya, mendadak ia takut mendapat bentakan kasar lagi dari gadis itu. Hinata yang melihat penolakan Naruto menjadi sakit hati, ia tak menyangka jika Naruto setakut itu padanya, padahal barusaja pria itu menjadi sangat jantan dengan berani melawan Toneri, bahkan ia tak takut sama sekali setelah mendapat pukulan keras dipipinya.
"Ki-kita pulang saja" Minato menghela nafas pelan ia mengangguk menyanggupinya.
"Naru-kun tunggu" Hinata menghampiri Naruto pelan, ia bisa melihat Naruto yang menunduk tak berani menatapnya, ia ingin sekali memeluknya, tapi saat ada ayah dari Naruto, mendadak ia merasa lancang, apalagi jika pria baya itu mengetahui ia pernah membuat sang putra takut, sontak saja Hinaa takut jika dicaci maki.
"A-ayah ki-kita pulang" Naruto berujar lirih saat memgetahui Hinata semakin dekat, namun ia tetap menunduk.
Disisi lain Hinata menatap Minato penuh harap, dan benar saja, pria itu mengangguk seraya tersenyum lembut kearahnya, seakan-akan memberi kode izin.
"Lihatlah, dia ingin minta maaf" ujar Minato lembut sembari memgelus surai pirang sang putra. Ia berbeda dengan Khusina, ia lebih memperhitungkan secara dalam segala sesuatu, tidak begitu saja memgambil kesimpulan sepihak yang sering dilakukan sang istri tercinta.
"D-dia pasti membentakku lagi... Pu-pulang saja" Naruto tetap bersikukuh ingin pulang, ia begitu trauma dengan bentakan serta tatapan tajam.
Hinata yang mendengarnya langsung saja meneteskan air mata peluh, ia tak memyangka jika Naruto memandangnya seperti itu, padahal disini ia ingin minta maaf 'ternyata kau sangat amat ketakutan padaku'
"Na-naru.. Maafkan aku, aku waktu itu tidak bermaksud membentak Naru-kun" Naruto mendongak menatap Hinata yang terlihat sembab karena menangis "Ja-jadi a-apa kau mau memaafkanku?" Hinata menunduk dalam, berharap mendapat jawaban yang sesuai.
Naruto mengannguk "I-iya... Hinata tidak akan membentakku lagi kan?"
Kali ini Hinata mendongak dengan raut kebahagiaan "Tak akan pernah" jawabnya mantap membuat Naruto ikut tersenyum "Na-naru-kun.. A-apa aku boleh memelukmu?"
Saat ia mengatakan itu, permintaan kecil Naruto yang ditolaknya keras terlintas kembali, membuat ia kembali menyesal semakin dalam, apalagi saat ia mendapat anggukan kepala dari Naruto sebagai jawaban, lantas rasa bersalahnya menjadi semakin besar, ia teringat kata pepatah "Air ketuban dibalas air susu" dan disini ia merasa menjadi racun sebagai air ketuban, dan Naruto menjadi penyejuk seperti susu.
'A-aku.. A-apa aku boleh memelukmu?"
'... Tidak!!...
Grep
Cukup! la tak sanggup harus mengingat penyesalan itu, lantas ia langsung memeluk Naruto yang dibalas juga oleh sang pria.
Tangisnya pecah, ia merasa bahagia sekarang, berada dipelukan Naruto yang sangat hangat, ia dapat merasakan telapak tangan pria pirang itu mengelus lembut surai indigonya, rasa hangat, aman, nyaman menjadi satu dalam diri Hinata, risalah serta gundah hati terbiaskan oleh pelukan hangat mereka berdua.
"Hiks... Hiks, m-maafkan aku, padahal Naru-kun hanya ingin memelukku saat itu... Hiks, t-tapi aku malah membentakmu" Hinata menagis tersedu-sedu dalam dekapan Naruto, ia sangat lega dapat menumpahkannya disana, dada Naruto terasa bidang, detak jantungnya terdengar memompa up-normal, tubuhnya hangat, aroma maskulin bahkan menguar memanjakan indera penciumannya.
"Tidak apa-apa" Hinata mengeratkan pelukannya, wajahnya saat ini merona hebat "Hi-Hinattahh Naru s-sesak"
Sontak saja Hinata melepas pelukannya karena terlalu kencang, dan juga Naruto yang
terdengar seperti orang sesak tadi.
jantungnya terdengar memompa up-normal, tubuhnya hangat, aroma maskulin bahkan menguar memanjakan indera penciumannya.
"Tidak apa-apa" Hinata mengeratkan pelukannya, wajahnya saat ini merona hebat "Hi-Hinattahh Naru s-sesak"
Sontak saja Hinata melepas pelukannya karena terlalu kencang, dan juga Naruto yang terdengar seperti orang sesak tadi.
.
.
.
.
.
"Naru-kun, makannya hati-hati" noda-noda tipis terlihat disudut bibirnya, membuat Hinata harus bertindak untuk membersihkannya.
"Ice creamnya enak. Hinata mau?" ujar Naruto seraya menyodorkan sesendok ice cream kearah Hinata.
Hinata malah memerah melihatnya, bagaimana tidak? Itu sendok yang sedari tadi digunakan Naruto menikmati makanan favoritenya, dan sekarang ia menawari Hinata denga sendok yang sama, oh tuhan! Ia memang tidak tau apa itu ciuman tak langsung.
"U-untuk Naru-kun saja, aku sudah kenyang" ujarnya lembut sedikit terbata, ia tersenyum melihat perkataan polos Naruto, baginya itu hanya dimiliki Naruto seorang.
Puk
Tanpa sengaja lelehan dari ice cream yang tadi disendok Naruto jatuh pada baju Hinata, sontak saja Hinata sedikit marah karena bajunya kotor.
"Apa yang kau lakukan" ucapnya tapi terdengar pelan.
"A-ku tidak sengaja, aku-"
"Lihat! Ini jadi kotor, Naru-kun memang kau tidak bisa hati-hati!! kau ti-" ucapannya terhenti, ia tersadar sedang marah pada Naruto, dan bisa dilihatnya bagaimana pria itu menunduk dan kembali kejadian yang membuatnya meyesal terulang.
"A-aku mi-minta maaf, a-ku sungguh tak sengaja" ucapnya pelan, ia kembali ketakutan mendapat hal semacam itu.
"Na-naru.."
"A-aku p-pulang saja" Hinata mendadak mengingat kejadian sebelumnya, dimana Naruto ingin pulang karenanya.
Hinata tanpa aba-aba langsung memeluk Naruto, ia tak lagi menuruti ego-nya saat ini, yang terpenting kejadian bodoh minggu lalu tak terulang, ia tak ingin menangis lagi disetiap malam karena menyesal.
"Naru-kun, maafkan aku, aku tidak bermaksud marah, aku hanya kaget" Hinata berujar lirih, ia mencoba mengambil suara yang pas agar tidak seperti menyakiti Naruto.
"Kenapa Hinata sekarang jadi pemarah?"
Nyut!!
Hatinya berdenyut sakit mendengar kata itu dari Naruto. Apa benar ia seperti itu? Dan lagi ia emang pemarah selama ini, tapi saat Naruto yang mengatakannya, seakan hatinya mendenyut merasakan sakit.
"Naru-kun.. Maafkan aku" Hinata masih memeluk Naruto, ia tak sanggup berkata lagi, dan terlebih ia tak dapat membayangkan Naruto tak lagi ingin bertemu dengannya "Naru..."
Naruto hanya diam, entah ia takut atau menikmati pelukan Hinata, yang pasti sekarang ia sedikit tidak senang jika berada didekat gadis itu, yang terkadang sangat manis, lalu berubah menjadi pemarah.
Hingga Hinata merasakan tangan Naruto yang melingkar dilehernya, sedang dirinya yang memeluk tubuh pria itu. Entah apa yang dipikirkan Hinata, sampai ia terbuai tak mau melepas pelukan mereka, bahkan hal itu juga merasuki Naruto, dia yang baru pertama kalinya merasakan sentuhan hangat semacam ini dari lawan jenisnya.
"Ekhmm" daheman disengaja tersebut sontak membuat Hinata melepas pelukannya hingga ia salah tingkah dan berakhir merona hebat, tapi bisa dilihat Naruto yang tampak biasa saja "Sudah sore. Kita pulang"
"Pulang?" ulang Naruto pada sang ayah yang masih rapi, padahal ia berjalan jauh kearea parkir guna menyelesaikan sesuatu tadi.
"Tentu saja" Naruto menoleh kearah Hinata dan kembali kearah sang ayah "Ada apa?"
"Tapi aku masih ingin bersama Hinata" Hinata mengerjapkan matanya, entah kenapa mendadak ia senang mendengar Naruto tak
lagi ketakutan dengannya, malah sekarang
ingin bersamanya.
Menghembuskan nafasnya, Minato sebenarnya juga senang jika Naruto semakin dekat dengan Hinata, tapi istrinya sedari tadi sudah memarahinya ditelepon karena terlambat pulang hingga 1 jam. Jika saja ia tak membawa Naruto, mungkin Khusina tak akan semarah itu.
"Tapi ibu sudah menyiapkan makan malam, kau tidak ingin mengecewakannya bukan?" mendadak Naruto teringat ibunya, orang nomor satu baginya didunia ini.
"Tapi bagaimana dengan Hinata?"
"Maksudmu?" tanya Minato tak mengerti.
"Sebentar lagi malam, seorang gadis tidak boleh keluyuran malam-malam ayah! Apa kau tidak mengerti?" jawabnya membuat Minato dan Hinata menatapnya penuh arti.
"Iya, ayah mengerti. Emm-bagaimana kalau kita mengantar Hinata dulu?" iris shapire-nya langsung memancarkan kebahagiaan, ia merasa senang mendengar usulan ayahnya, dan pastinya ia bisa memastikan Hinata baik-baik saja.
Tanpa ragu ia mengangguk antusias sembari menampakan deret gigi putihnya, dan hal itulah yang membuat hati gadis Hyuga itu menghangat.
"Tidak perlu paman Minato, aku bisa pulang sendiri, tak perlu repot-repot" tolaknya lembut. Ia merasa sungkan jika harus diantar calon mertua, mungkin.
"Tidak bisa begitu! Hinata mau yah.." melihat Naruto memohon membuatnya luluh, wajah super polos yang terlihat memelas tersebut sontak membuat kikikan kecil keluar dari bibir peach-nya.
Hinata mengangguk pelan dengan senyum lembut kearah Naruto, ia sebenarnya bingung, sejak lama ia jarang merasakan wajahnya memanas, tapi kini ia selalu memanas jika dekat dengan Naruto, dan diyakininya kalau ia meronakan wajahnya.
"Yoshh... Bagaimana kalau aku yang menyetir" ujar Naruto membuat Minato pucat seketika.
"Tidak!! Kita bisa mati" ucapnya keras tanpa sadar. Ia tak akan lupa jika Naruto pernah menghancurkan mobil hanya karena latihan menyetir, apalagi sekarang perjalanannya sangatlah padat, ia tak bisa membayangkan kejadian jika Naruto yang menyetir.
"Eh, tapi kenapa tidak boleh ayah?" Naruto terlihat sendu mendapat penolakan kasar seperti itu, ia sebenarnya tak takut sekarang, hanya saja ia kecewa.
"Na-naru menyetir lain kali saja, ya?" Minato berkeringat dingin saat ini, namun sepertinya ia menemukan cara jitu "Kalau Naru yang menyetir, Naru mau, ayah duduk bersama Hinata dibelakang, hm? Oh dan nanti ayah bisa berpelukan dengannya" seringai muncul dibibir pria kuning tersebut.
Hinata sedikit kaget dengan pernyataan pria yang mirip Naruto tersebut, namun sesegera ia mengerti maksudnya, apalagi kalau bukan membujuk Naruto 'Apa dia cemburu ya?!
"Tidak boleh! Kau akan kuadukan ibu jika memeluk Hinata" Minato kembali bergidik ngeri mendengarnya " lagipula Hinata hanya boleh dipeluk olehku, iya kan Hinata?"
Hinata kembali merona mendengarnya, ia seakan tak bisa menolak sama sekali, dan dia disini bingung mendapati Naruto seakan cemburu, sepertinya pria pirang itu sedikit mengerti.
"Kau tau Hinata? Naruto tadi tiba-tiba berlari kencang saat tanganmu dipegang pria Otsutsuki tadi" Minato tertawa kikuk lalu melanjutkannya "Kurasa dia cemburu"
"E-eeh" Kembali ia merona mendengarnya, benarkah Naruto mengerti arti sebuah kecemburuan? Dan benarkah Naruto cemburu karenanya? Ada rasa lain saat ia mengetahui hal itu, meski itu belum tentu benar.
"Jangan kira Naruto sepolos itu" Hinata dibuat terkejut lagi "Khusina sering mengajaknya melihat sinetron tentang percintaan, jadi kurasa ia pasti tau meski tak paham, dan juga aku yakin dia bisa merasakannya meski ia tak mengerti"
Benar! Sangat benar bagi Hinata. Entah kenapa Minato seakan menjadi penuntun pikirannya tentang Naruto
'Apa benar Naru-kun cemburu waktu itu?"
•
•
•
•
•
"Ada apa denganmu Hinata?" tanya seorang yang memiliki iris sama sepertinya.
"Kau tidak sopan Hanabi, bahkan kau memanggilku tanpa sebutan seorang adik kepada kakaknya" sang adik, Hanbi hanya tertawa kecil mendengar protes sang kakak.
"Kita sudah sering membahasnya, jadi kurasa tidak ada masalah" gadis bersurai kecoklatan itu memasang ear-phone pada salah satu telinganya "setidaknya kau perlu hiburan dengan sedikit mendengar musik rock"
Tanpa izin, ia langsung saja memasang ear-phone tersebut ketelinga Hinata yang tengah terbaring menikmati film di TV.
"Bisakah kau tak menggangguku? Kau bisa menghancurkan mood yang sudah kutata dengan baik" ujar Hinata langsung melepas ear-phone tersebut.
"Begini rupanya kau memperlakukan adik yang dulu kau bilang kesayangan. Cih.. Bahkan kau tak pernah sedikitpun peduli padaku" rajuknya kasar, entah kenapa Hinata merasa bersalah pada adik satu-satunya itu.
la mematikan TV dan duduk berhadapan dengan sang adik "Maafkan aku" dielusnya lembut surai kecoklatan itu "Aku tak bermaksud mengacuhkanmu, sungguh aku menyayangimu, tapi akhir-akhir ini aku sedang banyak masalah, jadi kuharap kau sedikit mengerti"
"Masalah? Pria? Aku yakin" tak taukah kau Hanbi, jika tadi kakakmu sudah bersikap semanis mungkin, dan sepertinya kau menyinggungnya.
"Hanabi!" sentak Hinata sedikit tinggi, ia sangat tak suka jika adiknya itu ikut campur dengan masalahnya.
Hanabi turun dari kasur sang kakak "Kuharap kau tak melupakan janjimu besok malam" setelah itu dia pergi dengan membanting pintu
Hinata hanya menghela nafas panjang, sungguh ia mengerti sikap sang adik, tak mendapat perhatian dari sosok ibu sejak ia lahir sampai sekarang, ditambah sang ayah yang sakit, dan disini dirinyalah yang merasa bersalah kepada Hanabi.
Hanabi memang sering mengganggunya, tapi Hinata tau jika sang adik hanya mencari perhatian padanya, meski terkadang caranya menyikapi kurang tepat, namun Hanabi hanya bermaksud agar lebih dekat dengan kakak perempuannya itu.
"Maafkan aku Hanabi, lain kali aku akan lebih memperhatikanmu" gumamnya lirih seraya mengamati fotonya bersama sang adik sewaktu kecil.
"Kau dulu sangat manis dan manja, tapi sekarang kau sedikit lebih liar meski aku tau itu pengaruh kurangnya perhatian dari keluarga" ia tak akan menyangkal sikap sang adik yang sedikit pemberontak dan sulit diatur, karena memang sejak ia bekerja dan merubah sikap, perhatiannya pada sang adik tercinta menjadi kurang.
.
.
.
.
Ibu, Hinata dan Hanabi sudah besar, maafkan Hina yang kurang bisa memberi kasih sayang pada Hanabi" ia kembali meneteskan air mata "Hinata janji tidak akan egois lagi hanya karena laki-laki"
Sudut bibirnya terangkat, ia teringat seorang lelaki yang baru-baru ini selalu membuatnya tersenyum.
"Lagipula ada seseorang yang membuat Hina merasa sangat nyaman" ia bermonolog bermaksud berbicara dengan sang ibu lewat gumaman kecil "Sikapnya memang jauh dari kriteria pilihanku, tapi entah kenapa dia malah yang berhasil membuat Hina nyaman dan selalu memikirkannya"
la kembali mengembangkan senyuman, diusapnya lembut air disudut matanya "Mulai sekarang ibu akan melihat Hinata yang tidak egois, Hinata akan menjadi perempuan yang lebih baik"
'Semoga ibu bahagia disana, Hinata menyayangimu'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
The next day,
"Lama sekali" gerutunya kesal lantaran bosan menunggu balasan panggilannya.
Tut
"Akhirnya"
"Halo, ada apa sadako?"
"Berhenti memanggilku sadako!"
"Baiklah, ada apa?
"Emm, apa aku boleh main kerumahmu?"
"Boleh-, Uappaaa!!"
"Bisakah kau tak berteriak Ino! aku bisa tuli"
"Baiklah-tapi jangan lama-lama"
"Memangnya kenapa kalau lama?"
"Aku tidak ingin kemesraanku dengan
Sai-kun terganggu"
"Haissh, kau ini! Baiklah"
"Apanya yang baiklah?"
"Tentu saja aku tak ingin mengganggumu dan suami pucatmu yang sok cool itu"
"APA kau bilang?!! Kau-"
"Sudah lupakan, aku berangkat sekarang"
Tut Tut Tut
"Anak itu terlalu mendamba suami pucatnya itu" gerutunya seraya memasukkan ponsel kedalam tas "Baiklah kau sudah cantik Hinata. Sekarang berangkat"
Ia pun beranjak pergi tanpa menggunakan mobil. Jujur saja ia tak begitu suka naik mobil, bukannya apa-apa, hanya saja ia selalu merasa pengap dan lagipula rumah Ino tak terlalu jauh dari rumahnya, mungkin ia bisa sedikit berolahraga dengan berjalan kaki menikmati keramaian kota.
Dalam perjalanan ada rasa cemas saat mengingat bagaimana kemarin sore Naruto mendapat luka lebam, dan tentu saja Khusina akan bertambah tidak suka dengannya, apalagi itu dilakukan Naruto untuknya.
"Pasti bibi Khusina semakin kecewa padaku. Bagaimana ini?" ia sama sekali tak fokus, belum sempat ia meminta maaf pada Khusina, sekarang bertambah masalah dengan lebamnya Naruto karena pukulan Toneri "Naru-kun itu terlalu polos, dia pasti menceritakan semuanya jika ditanya"
Tebakannya mungkin benar, jika Naruto pasti tak akan berbohong karena pria itu terlampau polos. Dan sekarang ia kembali takut jika membayangkan bagaimana reaksi wanita cantik berambut merah itu melihat pipi dengan tiga guratan anaknya yang membiru.
"Kenapa Naru-kun sama sekali tidak takut saat itu? Padahal dibentak sedikit saja dia sangat ketakutan" ia kembali mengingat bagaimana Naruto menjadi sangat pemberani kemarin "Apa dia memiliki trauma tersendiri? Ah-mungkin saja. Lagipula aku belum begitu mengenal semua tentangnya"
Hinata tetap bicara sendiri dalam perjalanannya. Setiap saat ia selalu teringat Naruto, bahkan dalam mimpi ia pernah memimpikan pria pirang itu, mungkin hatinya mulai terbuka untuk kata bernama cinta, atau bahkan sudah terbuka lebar.
.
.
