Disclaimer: Naruto belongs only to

Masashi Kishimoto

*Naruto Hinata

FANFICTION


Tak dapat berpikir jernih meski kata-kata penenang berkali-kali mendengung ditelinganya. Raut khawatir terlukis jelas pada wajah sembab memerahnya kala mendapat kabar jika putra semata wayangnya tak bersama perempuan yang tempo waktu lalu dijodohkannya dengan sang putra.

Ia sedikit panik kala tak mendapati sang putra dirumah sesaat setelah pulang dari kantor bersama suaminya. Namun ia kembali tenang kala tulisan tangan pada secarik kertas mengatakan jika Naruto, putranya, pergi menemui Hinata dengan alasan janji, dan wanita bersurai merah itu yakin jika tulisan tangan itu putranya sendirilah yang membuat.

Tapi setelah Hinata meneleponnya dan menanyakan apa Naruto ada dirumah, ia bertambah panik kembali. Pasalnya ia mengira jika putranya bersama wanita itu. Dan sekarang ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Naruto, apalagi saat Hinata menelepon, suaranya terdengar parau yang diyakininya sedang menangis karena juga cemas akan keadaan si pirang yang tak bersamanya.

Malam kini semakin larut, bahkan jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam tepat, namun sang putra belum kembali juga, membuatnya bertambah risau dengan derai air mata membasahi baju suaminya yang kini tengah memeluknya memberi keyakinan jika putra mereka pasti baik-baik saja, meski dalam hati pria itu juga sangat cemas.

"Kita harus mencarinya, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Dia bukan pria dewasa seperti yang lain Minato, aku takut hal buruk menimpanya" Khusina berujar lirih sambil terisak takut dengan keadaan sang putra. Minato, suaminya, sudah menyuruh orang kepercayaannya mencari keberadaan Naruto, dan dia disini tengah mencari solusi agar masalah serta kepanikan tak membuat semua menjadi semakin rumit.

"Aku yakin Naruto pasti baik-baik saja. Putra kita tak sebodoh yang kau kira meski pemikirannya belum dewasa, aku yakin semua akan selesai dan kembali seperti semula" ujarnya menenangkan sang istri yang masih menangis dipelukan hangatnya, tangan kekarnya mengelus punggung bergetar Khusina, mencoba memberi ketenangan padanya.

Pada dasarnya Khusina akan sangat rapuh jika menyangkut hal semacam ini. Wanita itu memiliki kepribadian yang aktif dan ceria, ia juga terkadang mengerikan saat marah, namun dibalik itu semua ada sifat penyayang dan pengertian pada siapapun dalam dirinya. Tapi jika mendapati putra kesayangannya tak berada ditempat yang diketahuinya, apalagi sudah larut malam seperti ini, maka ia akan menangis dan menjadi sangat rapuh karena saking panik dan cemasnya. Naluri seorang ibu memang tak bisa dibantah, sedikit saja rasa panik pada sosok anaknya, maka hatinya tak akan tenang sebelum semuanya selesai.

Matanya terpejam damai menikmati sandaran nyaman pada kepala bermahkotakan indigonya. Tangannya yang dingin terasa begitu hangat kala tangan lain menggenggamnya, menyalurkan rasa hangat tersendiri dalam dirinya. Posisinya yang terlentang meringkuk terasa hangat kala kain berbentuk jaket menyelimuti tubuh rampingya diudara yang begitu dingin dimalam hari.

Jejak-jejak air mata masih terlihat meski sudah mengering diterpa semilir angin malam. Tubuhnya kembali terasa dingin kala jaket yang menyelimuti sebagian tubunya sedikit menyingkap akibat gerakan mengeliat kecil darinya, hingga udara dingin mulai masuk dan mengganggu tidurnya.

Perlahan kelopak mata seputih salju itu mulai terbuka, menampikan kelereng lavender bak mutiara yang terlihat sayu. Mengerjap lemah sembari melenguh khas orang baru bangun tidur, sesekali mengeliat tak nyaman karena posisinya yang bisa dikatakan kurang bagus untuk terlelap.

"Nghhh" lenguhnya kembali dan mulai kembali tersadar dari pingsannya. Matanya terbuka sedikit lebar memantulkan pandangan kaget kala langit gelap dengan taburan bintang menjadi objek pertama yang dilihatnya saat baru terbangun.

Kepalanya terasa berat dan sedikit pusing. Rasanya aneh jika ia tertidur diluar namun ada sandaran empuk seperti bantal, apalagi tangannya yang terasa sangat hangat, berbeda dari biasanya saat ia bangun tidur dan terasa hampa dibagian itu, namun sekarang tidak, karena ada tangan lain yang menggenggamnya erat.

Iris amhetyst-nya mencoba melihatnya, dan benar saja, tangan yang lebih besar dari tangannya menggenggam begitu erat tangan mungilnya. Berwarna tan dan terasa nyaman juga hangat saat saling bertaut, berbeda dengan tangannya yang lain, terasa hampa bergeletak diatas perutnya.

Kelereng lavendernya kembali menoleh kearah lain. Dan seketika ia terlonjak kaget dengan mata melebar setelah melihat wajah pria yang tampak tertidur damai dengan sinar rembulan yang menimpanya, membuatnya terlihat mempesona meski ada bekas air mata dipipi dengan tiga garis tersebut.

Liquid bening kembali merembes dari pelupuk mata sembab nan sayunya. Hatinya terenyuh melihat betapa pedulinya pria yang kini menggenggam tangannya sambil tertidur, menggunakan paha sebagai sandaran kepala indigonya, memberi kehangat lewat genggaman tangan, menyelimuti tubuh ramping kedinginan karena udara malam, jaket orange yang seharusnya dipakai sang pria malah kini menutup tubuhnya hangat, membiarkan udara dingin masuk kedalam tubuh pria pirang itu tanpa jaket, hanya kaus putih polos yang tampak begitu tipis.

Hinata sangat terenyuh dengan kepedulian pria yang kini masih terpejam. Lelaki itu seolah tak peduli dengan tubuhnya yang sedikit bergetar karena dingin, giginya yang bergemelutuk, juga wajah pucat yang kini terlihat begitu mengenaskan. Yang pria itu pedulikan hanya sang wanita yang membuat hatinya sakit beberapa jam lalu. Hatinya memang sakit karena merasa dibohongi, namun kepeduliannya tak akan luntur meski kata benci sempat terlontar dari bibirnya pada sang wanita.

"Hiks... Hiks.." kembali isakan halus keluar serta merta menggambarkan betapa menyesalnya dia. Pria yang tadi sakit hati karenanya, malah melindungi dan menemaninya disini, tak mempedulikan dirinya akan sakit jika kedinginan, karena yang dimaunya hanya sang wanita merasa nyaman dan hangat ditengah udara malam.

Terimakasih Tuhan. Kau masih memberiku kesempatan untuk bersama denganya. Aku tau dia merasa sakit saat dibohongi, meski itu bukanlah sebuah kebohongan namun sebuah salah paham, tapi tetap aku sangat menyesal membuatnya seperti ini. Aku tau ia kurang mengerti tentang kesedihannya sekarang, tapi aku yakin ia merasakannya, ia merasakan sakit juga kecewa kala kebohongan menjalarinya. Jadi, aku berjanji, aku akan menebus kesalahanku, menebusnya bukan karena rasa bersalah, tapi karena hati. Hatiku yang kini telah terisi olehnya, memunculkan gejolak cinta yang sudah lama tertutup, menghangatkan hatiku dikala hampa, membuatku nyaman dikala resah, dan membuatku mencintainya karena itu dirinya, Naru-kun'

Air mata masih setia mengaliri wajah sayunya, senyumnya kembali mengembang melihat lelaki yang kini rela kedinginan hanya untuknya. Deru nafas halus mengiringi tidur lelapnya meski tubuh gemetar karena dingin. Surai pirangnya terkadang bergoyang kala semilir angin malam menerpanya. Wajah polos ditimbun sinar bulan tampak berseri-seri disetiap inchi wajahnya. Kelopak matanya yang tertutup membuat safir cerahnya tersembunyi, menyembunyikan kehangantan yang selalau menjalar pada iris amethyst sang indigo.

"Naru... Kau sangat tampan.. " bibir pulamnya menggumam lirih, tangan seputih saljunya terulur hingga jemari lentiknya menyentuh dan mengelus rahanga sang pria "Apa kau juga mencintaiku? Dan jika air matamu ini sebagai bukti jika rasa cinta itu memang ada, maka aku adalah wanita yang sangat beruntung mendapat hati serta cintamu"

Badannya masih lemah dan terasa berat pada sisi kepala, membuatnya sulit untuk duduk.

Ia berbaring menyamping menghadap perut si pirang. Tangannya melingkar melilit tubuh berbalut kaus tipis putih tersebut, berharap dapat memberi rasa hangat ditengah udara malam yang sangat dingin, karena tubuhnya masih sangat lemah meski hanya sekedar duduk.

"Ngghh..., ibu" tangannya menjulur membalas rengkuhan itu. Bibirnya melenguh menyebut nama sang ibu, mengigau akibat gerakan kecil serta rasa hangat pada tubuhnya.

Hinata mengelus punggung pria didekapannya. Menghirup sebanyak mungkin aroma mint yang selalu menguar dari tubuh Naruto-nya. Mencoba mencari kehangatan dan memberi rasa hangat pada tubuh masing-masing, juga hati mereka.

Tak lama setelah itu Hinata sedikit memiliki tenaga untuk bangkit. Dengan lembut dan penuh perasaan, ia melepas pelukannya yang juga dilakukan Naruto, mendudukan diri disamping lelaki pirang yang masih terpejam itu, dan kembali memeluknya posesif.

"Hiks... Maafkan aku,- "Hinata kembali berlinang air mata. Kali ini tangisnya pecah, menumpahkan semuanya pada perpotongan leher pria yang dicintainya "Naru-kun, jangan membenciku... Hiks.. A-aku tak sanggup jika kau membenciku"

Naruto sedikit terganggu ditidurnya. Isak tangis serta ceruk lehernya yang terasa basah membuatnya sedikit demi sedikit kembali dari tidurnya.

Matanya terbuka dan terkadang tertutup dengan cepat seperti biasa saat bangun tidur. Tubuhnya menggigil tapi entah kenapa ada yang aneh. Ada yang memeluknya sambil terisak, namun ia masih diam sambil mengerjapkan matanya berkali-kali menghadap langit malam.

Hingga kesadarannya kembali dengan sempurna, dan ia mengingat jika tertidur dengan menggenggam tangan gadis itu. Dan kini ia mendapati Hinata memeluknya sambil terisak pilu membasahi lehernya, membuatnya sedikit geli diarea tersebut.

Tangannya terulur membalas pelukan sanga gadis. Mengelus punggungya dengan raut wajah cemas "Kenapa Hinata menangis?" tanyanya. Ia sedikit melirik bekas luka dibagian lutut serta siku Hinata yang kembali merembeskan darah meski sedikit "Apa lukanya sakit lagi? Apa Hinata haus, atau lapar?"

Hunata menggeleng seraya mengeratkan pelukannya, ia bahkan baru tersadar jika memeliki luka, dan ia yakin jika Naruto sempat membasuh luka lecet tersebut.

Entah kenapa Naruto melupakan kejadian tadi. Sekarang ini ia sangat khawatir dengan Hinata, hingga kejadian menykitkan hatinya seakan terlupakan hanya karena rasa cemas.

"Maafkan aku.. " isaknya lirih kembali mengingatkan si pirang pada pria bernama Sasuke yang sempat mengaku sebagai kekasih wanita didekapannya ini.

Naruto sama sekali tak mengerti dengan rasa hatinya sekarang. Tapi yang jelas ia sangat sakit hati saat mengingat kebohongan tersebut, ia merasa Hinata hanya mempermainkannya dan menganggapnya pria bodoh, sama seperti wanita lain.

Dilepasnya pelukan tersebut "A-aku ingin pulang. Pasti ayah dan ibu mencariku" ia bangkit menyisakan keterkejutan pada wanita yang masih terduduk dengan linangan air mata yang menganak sungai.

Tangan tan itu dicekal saat hendak pergi "Naru-kun, kumohon sebentar lagi saja.. Hiks, a-aku masih ingin bersamamu.. Hiks,-"

"Hinata kan sudah punya pacar" Naruto menunduk dan melepas cengkraman tangan Hinata "Jadi dia pasti marah jika tahu Hinata bersamaku"

Pria pirang itu tak akan lupa dengan film-film percintaan yang sering ditontonnya bersama sang ibu. Dan ia tak mau menjadi tokoh antagonis dengan terus bersama gadis yang sudah memiliki kekasih.

"Tidak... Naru-kun, kau salah paham" sanggahnya masih mengalirkan liquid bening.

"Kenapa Hinata bohong? Padahalkan tadi Hinata mengangguk jika aku pacarmu, tapi kenapa pria tadi itu kekasihmu? Pasti Hinata membohongiku 'kan?"

Hinata kembali tertohok dengan ungkapan lirih dari Naruto. Pria itu berujar parau menahan tangis, hatinya sakit mengingat adegan pelukan dari wanita yang entah apa dihatinya, karena sesunguhnya ia belum mengerti.

"Kenapa semua wanita itu tak ada yang menyukaiku? Padahalkan aku tak berbuat apapun, aku hanya ingin bersikap baik pada semuanya, tapi mereka selalu membodohiku, bahkan Hinata juga, padahal Hinata adalah perempuan yang paling dekat denganku setelah ibu" air matanya mengalir. Entah apa yang terjadi, tapi yang pasti terlihat sisi kedewasaannya meski hanya sedikit.

Hatinya tak sanggup lagi dengan ucapan pria yang kini menunduk meneteskan air mata. Benarkah ia membodohi Naruto? Benarkah Naruto sesakit itu? Entahlah? Tapi yang pasti Hinata sangat menyesal dan merasakan sakit yang sama. Ia tak menyangka jika Naruto sesakit itu, mempercayai begitu saja ucapan Sasuke, dan berakhir ia salah paham dan merasa dibohongi.

"Naru-kun, kumohon percaya padaku.. Hiks, hiks"

"Tidak! Aku tidak mau, kau pembohong!" ia hendak berlari namun kembali merasakan cengkraman pada tangannya, dan iris safirnya bisa melihat Hinata yang sangat kacau dengan derai air mata membasahi wajahnya.

Naruto menghempaskan begitu saja sedikit kasar, membuat Hinata limbung dengan lutut lecetnya yang membentur rumput, membuat luka itu semakin lebar.

"Hiks..., hiks, s-sakit..-" ia merintih sambil memeluk lututnya yang lecet. Tubunya lemas, lutut dan siku yang penuh luka, ditambah mendapat perlakuan kasar semacam ini, menimbulkan sakit hati yang teramat sangat.

Disisi lain Naruto sangat kaget menyadari apa yang diperbuatnya. Dalam dirinya ia tak pernah berbuat seperti ini pada perempuan dan sang ibu juga melarangnya keras berbuat kasar apalagi pada wanita.

Naruto berjongkok dengan rasa mnyesal yang luar biasa, ia tak menyangka akan mendorong Hinata, wanita yang disukainya "Hinata.. Maafkan Naru..., a-aku tidak bermaksud" ia semakin mendekat dan mengelus area sekitar lecet dilutut sang gadis, hingga ringisan kecil keluar dari sang empu "Apa itu sangat sakit?"

Naruto bangkit mengambil sesuatu dibalik pohon yang sempat dibelinya saat hendak membasuh luka lecet Hinata saat jatuh pingsan dijalan tadi.

Hanya sebotol air mineral saja, karena hanya itu yang bisa diperbuat "Pasti sakit" dituangkan sedikit air tersebut dan membasuhnya menggunakan tangan kosong "Aku tidak bisa mengobati, jadi aku hanya bisa membasuhnya, agar lukanya tidak infeksi dan melebar"

Hinata masih diam mengamati sambil mendengar pria pirang dihadapannya itu, dan terkadang ia meringis kecil saat lukanya dibasuh dengan air. Hatinya kembali mencelos saat Naruto mengatinya pembohong, apalagi ia sempat dihempaskan dengan kasar, tapi meski begitu, pria itu tetap tak tega dan kembali perhatian padanya.

"Hinata, jangan marah..., aku minta maaf, t-tadi aku tak bermaksud seperti itu, aku hanya sakit hati saja" ucapnya menunduk lirih, tak lupa nada bersalah mendengung ditelinga sang gadis.

Tak ada lagi kata-kata yang sanggup dikeluarkan Hinata, hanya dekapan erat penuh penyesalan dan cinta secara bersamaan yang dapat ia lakukan. Cukup untuk sekarang ini Hinata tak ingin Naruto beranjak kemanapun, ia ingin Naruto membalas dekapannya dan bersedia memberi kepercayaan untuknya.

"Naru-kun percaya kan padaku?" ucapnya parau masih memeluk sipirang. Sedangkan Naruto tetap diam, ia tak tau, lebih tepatnya bingung.

"Naru-kun..-" Hinata mengeratkan pelukannya, ia takut Naruto pergi karena tak percaya "Aku hanya pacarmu, aku bukan pacar pria lain, Naru-kun percaya kan?"

"Benarkah?" ada nada gembira disana meski

masih ragu "Tapi kenapa Hinata mau dipeluk pria itu? Apa kau menyukainya?" Hinata menggeleng cepat mencoba membuat

Naruto percaya.

"Aku tak menyukainya. Yang aku sukai hanya Naru-kun" ucap Hinata malu-malu, disembunyikan semakin dalam wajah meronanya didada sang pria.

Naruto mengedipkan mata pertanda kaget,

ada rasa berbeda dan senang saat mendapat pernyataan itu. "Benarkah?" Hinata mengangguk sekilas "Hinata tidak bohong 'kan?" tanyanya penuh

harap.

"Sama sekali tidak. Aku tidak berbohong. Naru-kun percaya kan padaku?" ucapnya sangat mantap seraya mengeratkan pelukannya.

Naruto membalas pelukan itu tak kala erat "Aku juga. Aku sangat mencintai Hinata"

Hinata terpekik kaget mendengar pernyataan cinta Naruto. Satu sisi ia sangat senang mendengarnya, tapi disisi lain ia ragu Naruto tak mengerti pasti dengan ucapannya.

la melepas pelukan tersebut membuat si pirang sedikit kaget dan kecewa "Naru.. Kau mengertikan apa itu cinta?" Naruto hanya mengangguk sekilas dengan polosnya, dan Hinata tak yakin dengan hal itu "Jika Naru-kun tau, coba katakan padaku"

"Itu emm, seperti aku selalu ingin didekat Hinata dan-" Naruto memiringkan kepalanya mencoba mengerti seperti film-film romantis itu lagi "Kata ibu dia sangat mencintai ayah, dan tidak ingin ayah dengan perempuan lain. Seperti itu... Aku tidak suka saat Hinata dinalul via tadi, abn sabit hati"dipeluk pria tadi, aku sakit hati"

Ucapan terakhir dari Naruto terdengar sangat lirih dan menyakitkan, dan itu membuat Hinata yakin jika Naruto memang mengerti. Dan benarkah Naruto merasa sakit hati? Hanya karena ia dipeluk Sasuke, kalau iya, maka cemburu adalah kata yang pas untuk menggambarkan perasaan Naruto.

"Maafkan aku ya Naru-kun... aku tidak berbohong tentang hal ini, aku jujur, sungguh aku hanya ingin dirimu"

Naruto mendongak menatap netra bak rembulan yang berkaca-kaca itu. Pelukan hangat diberikan pada Hinata-nya. Ia sangat tak suka sekaligus sedih saat Hinata menangis, dan itu memang menguatkan tentang perasaannya.

Tangan mungil itu melingkar dtubuh si pirang. Membenamkan wajahnya yang kembali teraliri air mata, namun kali ini cairan bening itu menggambarkan tentangnya yang sangat bahagia, bahagia karena merasa dicintai Naruto.

"Aku juga mencintaimu Naruto-kun, aku sangat mencintaimu.."

Akhirnya pernyataan cintanya keluar. Perasaan yang sempat terombang-ambing, mengalami kebingungan, ingin kepastian, selalu gundah dan merindu, ingin bersama dan didekatnya, kini dikeluarkannya dengan mantap dan perasaan bahagia menjalar kerelung hatinya, jauh dari kata bahagia.

Keduanya menikmati pelukan hangat dimalam dingin tersebut, suasana hening setelah pernyataan cinta masing-masing terbawa oleh angin dan menimbulkan desiran hati, debaran jantung yang memompa up-normal, juga rasa sangat senang untuk mereka.

Cinta memang sangat sulit meski hanya sekedar untu ditebak, tapi yang pasti cinta keduanya sangatlah unik, dimana sang wanita yang bertahun-tahun terpuruk karena sakit hatinya, dipertemukan dengan seorang pria berjiwa anak kecil yang sama sekali tak mengenal apa itu cinta, tak mengenal kedekatan pria dan wanita dari segi tersebut, namun sekarang mendapatkannya setelah ada rasa sakit yang baru pertama kali dirasakannya, dan itu sangatlah sakit.

Disisi lain Hinata yang selalu bimbang dengan perasaannya, kerap kali menyangkal dan tak menyadarinya, namun selalu merasa rindu dan ingin mendekat kapanpun. Hingga mereka dipersatukan lewat kejadian rumit yang menerjunkan keduanya dalam rasa sakit masing-masing, hingga cintanya tak dapat ditepis lagi dan tersemat menjadi satu dengan keinginan untuk memiliki dan dimiliki satu sama lain.

NARUTO HINATA

.

.

.

.

.

.

.

Semua heran, sangat heran dengan Hinata. Bukan hanya sikap, tapi penampilannya akhir-akhir ini lebih feminim dari biasanya, dan tentunya menambahkan kesan manis darinya.

Sikapnya pada Naruto bahkan sangat manis. Tak segan ia memeluk bahkan mencium sipirang didepan banyak pasang mata. Baginya dimana ia merasa nyaman, disitu tak ada keraguan untuk bersikap manis.

Naruto yang sulit mengartikannya, kini ia merasa biasa dan juga melakukan hal yang sama. Ia sedikit beranjak menuju jenjang dewasa melalui jembatan bernama kasih sayang dari wanita karir yaitu Hinata.

Keduanya hampir setiap hari bertemu. Entah itu ditaman, lewat janji, rumah Naruto, bahkan kadang Naruto datang kekantor Hinata. Alasannya simpel, Rindu.

Disisi lain Hinata sudah terbiasa bahkan sangat senang saat Naruto datang. Ia biasanya sedikit memberi Naruto bimbingan tentang perusahaan saat mereka bersama dikantor.

Meski sulit mengerti, tapi Naruto sedikit paham dengan hal itu walaupun ia selalu mencari alasan agar Hinata tak membahas hal itu, karena ia sangat tak suka dengan pekerjaan sekelas orang dewasa seperti itu.

Dari hal kecil hingga hal mengejutkan yang baru dijumpainya, ia dapat dari kebersamaan bersama Hinata. Gadis bernetra amethyst itu sendiri tak memiliki rencana atau setidaknya mengatur agar Naruto mendapat hal baru bagi pria itu.

Yah~ hal itu terjadi tanpa disengaja dan tanpa mereka sadari. Naruto mulai mengerti kehidupan luar dan hal-hal baru yang biasanya membuatnya berbinar dan terkejut.

Rasanya memang sangat cepat. Namun Hinata merasa Naruto sudah lebih dewasa dari biasanya meski cara bicaranya masih sama seperti dulu, memanggil seseorang jarang menggunakan kata kamu atau kau, tapi menggunakan namanya. Juga memanggil dirinya dengan sebutan Naru, jarang menggunakan kata aku.

Kebersamaannya semakin terlihat. Mulai dari saling bertemu hingga berhubungan melewati ponsel, keduanya selalu mesra setiap saat.

Mengejutkan juga seorang seperti Hinata dengan Naruto yang sangat polos menjadi sangat mesra menyaingi pasangan dewasa dan remaja lainya. Meski terkadang Hinata merasa malu, tapi disisi lain ia juga mengaharapkannya saat bersama, dan merindukannya saat terpisah.

"Hinata... Jangan membahas dokumen itu lagi, Naru bosan Hinata" rengeknya mengerucutkan bibir kedepan.

Hinata yang berada disampingnya terkikik melihat tingkah menggemaskan Naruto. Sudah biasa baginya menghadapi pria itu sebal saat seperti ini, tapi ia ingin Naruto mengerti sedikit tentang dunia usaha.

Ia mengambil kecupan singkat dipipi kanan si pirang "Sebentar saja ya, setelah ini kita ke cafe" tawarnya kembali mengecup rahang Naruto. Itu adalah kebiasaan Hinata jika merayunya

Naruto mengangguk dengan tersipu, kali ini berbeda dengan Hinata. Ia malah mengambil kecupan dibibir sang gadis, membuat sang empu merona sempurna juga terkejut.

"Na-naru-kun.." gumamnya memandang kekasihnya dengan merona, lalu ia menelusupkan wajah meronanya pada ceruk leher kekasihnya setelah kembali mendapat kecupan dibibir, namun bedanya itu dilakukan Naruuto berkali-kali. Meski itu bukan pertama kalinya, tapi tetap saja akan terasa berbeda jika dibibir.

Itu memang benar. Ciuman dibibir barusan adalah untuk kesekian kalinya bagi mereka berdua. Oh ya tuhan! Bahkan Hinata sendiri yang mengajarkan Naruto hal semacam itu, tapi ia tetap akan sangat malu.

"Hinata pasti malu" Naruto terkekeh. Untuk semacam perkataan itu, ia masih sangat polos hingga membeberkannya begitu saja "Kita kan sudah sering berciuman dibibir, kenapa Hinata masih malu sih?"

Hinata semakin malu sekarang. Untuk sekarang ia merutuki dirinya yang sempat berciuman mesra dengan Naruto sesaat setelah mereka saling menyatakan cinta, dan itu adalah ciuman pertama untuk Naruto, tapi sepertinya tidak untuknya. Tapi yang pasti untuk mereka, itu yang pertama.

"Naru-kun jangan berkata seperti itu" ia mencubit hidung kekasihnya pelan, lalu mengambil kecupan dihidung tersebut berkali-kali tanpa bosan.

Naruto berkedip banyak "Berkata apa?"

Sungguh sekarang Hinata tak ingin membahasnya. Memang tak ingin membahasnya, tapi ia tergoda mengecup bibir Naruto yang tampak lucu saat penasaran.

"Seperti-" ia memajukan perlahan wajahnya dan secepat kilat menempelkan bibirnya pada bibir sang kekasih.

Awalnya memang terkejut dari pihak pria, namun ia juga mengikuti wanitanya memejamkan mata, menikmati buaian tempelan bibir berdurasi cukup lama, tanpa melumat atau mengecap, hanya menempel.

"Se-seperti itu" ucapnya lirih dan memeluk sang kekasih. Hinata tak kuasa menahan rasa malunya meski dirinya sendiri yang bertindak nekad. Bahkan disisi Naruto sendiri, ia juga memperlihatkan raut wajah tersipu juga malu. Rasa yang sering di rasakannya akhir-akhir ini.

"Hinata curang! Aku kan belum siap, bahkan Naru juga tidak tau tadi" ucapnya dengan nada kesal "Lagi"

Hinata menggoyangkan tubuh rampingnya, namun masih memeluk si pirang "Tidak mau! Naru-kun mecuuumm"

Suara sedikit berteriak itu terdengar sangat imut bagi Naruto, dan entah apa yang terjadi, ia menyeringai setelah memikirkan sesuatu.

"Huaaa- ada apa itu!!" ia sedikit berteriak membuat Hinata melepas pelukannya dan mencari-cari hal yang membuat sang kekasih berteriak.

Tanpa buang waktu, kedua tangannya menarik wajah sang gadis dan mencium bibirnya lembut. Kedua wajah berbeda warna kulit itu merona hebat, namun, bagi keduanya merona adalah alasan rasa malu mereka yang berawal dari cinta masing-masing seperti sekarang ini.

"Naruhmm umgh" Hinata mengerang disela-sela ciuman mereka. Tangannya sudah melingkar manja pada leher sang kekasih. dan tanpa diduga keduanya saling membalas lumatan bibir yang entah kapan berlangsung, tapi yang pasti ini sangat mengejutkan dan memabukkan tentunya.

setelah lama, Bibir basah itu kini terpisah, menyisakan sedikit benang saliva diantara keduanya. Dan dengan cepat sang pria menghapus ceceran saliva tersebut. Itu adalah insting dari pria, yah- insting memang selalu berpihak jika menyangkut hal bernama cinta, dan sekarang seakan Naruto bertransportasi menjadi sosok dewasa sungguhnya setelah ciuman hangat mereka berlangasung hingga selesai.

"Manis... "Hinata menunduk mendengarnya, seulas senyum juga terpatri melihat Naruto yang sangat romantis baginya.

Ia mendongak, memperlihatkan wajah cantiknya yang sudah merona "Naru-kun, aku mencintaimu... Naru-kun juga aka selalu mencintaiku 'kan?"

Naruto mengangguk menggapinya, lalu ia mengambil kecupan sekilas dibibir "Naru akan selalu mencintai Hinata, sampai kapanpun, Naru hanya milik Hinata, dan Hinata hanya milik Naru"

Keduanya saling berpelukan, melepas rindu dan menyalurkan rasa cinta masing-masing. Hinata yang meneteskan air mata bahagia dan Naruto yang memejamkan mata meikmati harumnya lavender yang semerbak memanjakan indera penciumannya.

Dari balik pintu terdapat Khusina juga Ino yang sangat terkejut juga pastinya tak menyangka jika Hinata dan Naruto berinteraksi se-mesra itu jika berdua.

Khusina yang hendak memanggil sang putra guna menemui ayahnya dikantor kini diwurungkannya setelah melihat bagaimana bahagiannya sang putra dengan wanita yang dicintainya didalam sana. Ia sangat tak menyangka jika Naruto kecil dan menggemaskannya bisa seperti itu, sungguh seorang Khusina sekarang sangat terkejut. Tapi yang pasti ia sangat bahagia mendapati putranya mendapat kebahagian lewat cinta, hal yang menurutnya mustahil jika mengingat Naruto pernah 4 kali ditolak mentah-mentah oleh wanita, tapi Hinata tidak, bahkan kemesraan mereka sangatlah mesra.

Tak jauh beda. Ino juga sangat kaget melihat Hinata yang jauh dari sikap biasanya. Terang-terangan keduanya saling mengecup dan mengumbar kata cinta, bahkan ia sangat yakin jika Hinata tak pernah seperti itu saat dulu bersama Sasuke. Dan disini ia tersenyum melihat bagaimana sahabatnya itu terlihat sangat bahagia. Dan sama seperti Khusina, ia juga mewurungkan niatnya memberi ulasan tentang jadwal hari ini pada sang atasan, lagipula itu tak begitu penting baginya.

"Sebaiknya kita tak mengganggu mereka, mereka terlihat sangat bahagia jika bersama" ucap Khusina sedikit berbisik, dan Ino membalas dengan anggukan setuju.

"Benar bibi, aku juga berpikir seperti itu"

Merekapun beranjak dari sana meninggalkan kedua pasangan yang masih menikmati hari-hari mereka yang penuh cinta, penuh kebahagiaan, dan penuh dengan rasa ingin selalu bersama setiap waktu.

Pria bernama lengkap Namikaze Naruto itu tampak sangat sebal kala gadisnya terus saja sibuk pada layar ponsel yang menampilkan chat-chat penting dan hal itu sama sekali tak dimengertinya,

Sedari tadi ia mencoba mengganggunya guna mencari perhatian, namun sayangnya Hinata seperti merasa tak terganganggu, ia lebih sibuk dengan rekan bisnisnya.

"Hinata..." Hinata hanya menoleh sambil tersenyum, lalu ia kembali fokus membalas pesan diponselnya "Jangan bermain ponsel terus, katanya Hinata mau menemani ku disini"

Hinata memutar bola matanya mendengar rengekan dari sang kekasih yang entah keberapa kalinya. Sungguh ia ingin Naruto sedikit mengerti tentang waktu kerjanya atau setidaknya membiarkannya leluasa merencanakan pertemuan dengan perusahaan lain lewat chat di ponsel.

"Naru-kun mengertilah, sebentar saja" ia mengela nafas panjang, lalu kembali fokus pada ponselnya.

Naruto menggembungkan pipinya. Ia menyesal tak membawa ponsel hari ini "Kalau begini aku tadi membawa ponselku saja"

Hinata tak merespon, membuat si pirang memasang wajah memelas memandang depan dengan tatapan kosong, rasanya ia seperti diabaikan.

"Hinata... Apa masih lama? Dari tadi Hinata hanya bermain ponsel terus" ucapnya tetap dengan posisi tadi.

"Aku tidak sedang bermain. Aku sedang menjalin kerjasama Naru-kun. Kau tak akan mengerti" balasnya sedikit merasa tak suka, dan ia juga dapat melihat Naruto meliriknya sekilas, lalu kembali memandang kosong kedepan.

"Padahalkan Naru hanya ingin diperhatikan Hinata.. " ucap Naruto pelan dengan ekspresi memelas. Disebelahnya Hinata langsung mengehentikan aktifitasnya tak lupa rasa bersalah mendengar ucapan lirih dari kekasihnya "Tapi tak apalah. Naru memang tak akan mengerti"

Sungguh Hinata sangat terenyuh mendengar ungkapan Naruto yang terdengar seperti berharap dan pasrah diwaktu bersamaan. Rasanya hal itu sangat menyentuh uluh hatinya, berbeda saat Naruto berkata dengan suara kesal dan mengganggunya, kali ini pria pirang itu seperti tak ada niatan sedikipun mendapat perhatian darinya, karena sudah sangat tak tau harus bagaimana lagi bersikap. Mungkin berdiam diri jauh lebih baik.

Kakinya dilipat, kedua lengannya ia letakkan diatas lutut, sedang kepalanya ia letakkan dilipatan tangannya menyamping, menghadap arah bertolak dengan sang kekasih. Ia hanya berdiam menikmati semilir angin yang mungkin dapat menghiburnya, karena jujur saja Naruto akan sangat terpukul jika diabaikan.

"Naru-kun... " panggilnya pelan. Telapak tangannya menggapai punggung lesu sang kekasih. Mengelusnya pelan, mencoba mencari atensi agar menuju padanya.

Naruto diam tak bergeming. Matanya terkatup meski sama sekali tak tidur, ia saat ini tengah membayangkan berdua dengan gadisnya, saling mengumbar kemesraan seperti biasa, bukan seperti sekarang yang rasanya ia hanya diabaikan. Bahkan elusan halus dari arah samping sama sekali tak dapat menyadarkannya dari fantasy-nya.

'Apa dia marah ya? Sepertinya aku terlalu mengabaikannya'

Hinata berdiri, berjalan memutar menuju samping kanan sang pria, ingin rasanya melihat wajah pri-nya yang menghadap arah lain, dan sekarang tidak lagi.

Hembuasan nafas mengiringi atensinya pada wajah polos sang kekasih yang tengah memejamkan mata. Raut wajah bersalah kini mendominasi sang gadis kala melihat Naruto-nya seakan memelas ingin mendapat perhatian.

"Hey..." tepuknya pelan pada pipi sang pria, dan tepat, si pirang langsung menampakan biru shappire-nya "Naru-kun kenapa?"Kelopak si pirang mengerjap beberapa kali, lalu kepalanya ia tolehkan kearah samping kiri, memastikan gadisnya masih disana, padahal mata birunya baru saja melihat wajah cantik sang kekasih.

"Hinata?" ia kembali menoleh kekanan, dan dapat dilihat Hinata-nya tersenyum manis meski ada guratan sendu disana.

Naruto mengucek matanya, menyilangkan kedua kaki menjadi bersila "Kenapa Hinata sedih? Apa bisnisnya gagal?" Disisi Hinata sendiri ia sedikit terkejut, rasanya Naruto dapat membaca raut sendunya "Pasti gara-gara Naru. Maaf..., aku mengganggu Hinata terus tadi"

Kali ini sang indigo sempat syok. Meski si pirang dapat membaca raut wajahnya, namun sepertinya lelaki itu salah mengartikan tatapan penuh iba darinya. Dan disini ia kembali kasihan melihat Naruto tertunduk merasa bersalah juga takut melihat dirinya sedih.

"Hinata... Maaf ya, Naru tadi hanya ingin deperhatikan Hinata saja, tapi jika itu menganggumu, aku akan diam saja, aku tidak akan mengganggu Hinata lagi"

Kali ini Hinata malah berkaca-kaca mendengar pernyataan Naruto, sepertinya ia sudah keterlaluan, dan lagi sebenarnya yang harus memahami disini adalah dirinya, mengingat saja kekasih pirangnya belum sepenuhnya mengerti keadaan serta kehidupan dewasanya, dan ia disini kembali menyesal karena mengabaikan Naruto yang hanya meminta sedikit diperhatikan olehnya.

Naruto kembali melipat kaki dan tangannya, tak lupa menghadap kesamping berlawanan dengan Hinata. Jujur saja ia tak mau mengganggu Hinata saat ini, ia takut kekasih indigonya itu marah karena dirinya, meski dalam hati ingin sekali rasanya mendapat perhatian lebih seperti biasanya.

Hinata mendekat, tangan mungilnya meraih tubuh lesu sang pria yang meringkuk menghadap kelain arah "Naru-kun..." bibirnya menggumam menyebut nama sang pria, memelukanya menyamping dan mengeluskan wajah cantiknya pada bahu kekasihnya.

Naruto merespon, ia sedikit duduk tegak lalu membalas pelukan Hinata. Menyandarkan kepala indigo tersebut kedadanya, mengelusnya pelan tak lupa pipi tan-nya yang juga dieluskan pada puncak kepala sang gadis. Entah apa? Tapi rasanya inilah yang harus dilakukan.

Tangan mungilnya melingkar pada tubuh sang pria, mengelus punggungnya lembut "Naru-kun, maafkan Hinata ya... Aku tadi tak bermaksud"

"Kenapa Hinata minta maaf? Hinata kan tidak salah apapun masih dengan posisi seperti tadi, Naruto tak mengerti sebenarnya saat ini.

Hinata menggelengkan kepalnya, lalu ia melepas pelukan tersebut "Aku salah karena mengabaikanmu Naru-kun..., jadi aku minta maaf, pasti Naru-kun sedih"

Si pirang mengangguk "Iya, Naru memang sedih" lalu ia menghadap kekasihnya sambil mengurvakan bibir "Tapi jika Hinata sibuk, tak apa. Kata ibu kita harus memahami kondisi orang lain meskipun kita ingin sesuatu"

Kembali Hinata menggeleng Tapi sepertinya untukmu itu sangat tidak mengenakkan. kau pasti terpukul jika dipaksa memahami keadaan orang-orang seperti kami, dan berakhir pengabaian yang kau dapat... Seharusnya aku yang memahamimu'

Hinata mendekat dan mengambil ciuman lumayan lama dipipi sang kekasih "Naru-kun tidak perlu seperti itu.. "Naruto hanya diam saat Hinata menangkup kedua pipinya "Sekarang Naru-kun ingin apa? Aku sudah selesai" kali ini Hinata berbohong. Sungguh ia sekarang belum menyelesaikan rencana pertemuannya, tapi entah kenapa ia akan sangat bodoh jika mengabaikan pria yang dicintainya.

"Aku tidak ingin apa-apa. Begini saja sudah cukup... Lagipula Naru bukan anak kecil yang selalu meminta sesuatu" ucapnya polos. Ia menggeleng pada tangkupan sang gadis.

Hinata melepas tangkupan tangannya. Ia terkikik mendenngar ungkapan terakhir Naruto "hihihi. Iya, aku tau... Tapi aku ingin membelikan Naru-kun sesuatu, mintalah"

"Hmm.. " memasang pose berpikir "Tidak usalah... Aku disini saja bersama Hinata" lalu ia menunduk dan memainkan rumput "Sebenarnya Naru hanya ingin diperhatikan Hinata saja, bukan minta sesuatu"

Kali ini Hinata tersenyum, lalu membisikan sesuatu "Naru-kun tidurlah dipangkuanku" si pirang mendongak menatap kekasihnya "Pasti nyaman"

Kaki jenjangnya ia selonjorkan menjadi memanjang. Menepuk pahanya agar sang kekasih menidurkan kepala pirangnya disana "Ayo Naru-kun"

Naruto mengangguk antusias. Tak buang waktu, ia meletakkan kepalanya pada pangkuan Hinata, dan saat itu pula surainya merasakan elusan lembut dari sang wanita.

Dari sana ia dapat menatap wajah cantik sang kekasih dengan jelas, saling mengumbar senyum menatap satu sama lain, tak lupa rona merah menghiasi wajah keduanya.

Tangan tan-nya terangkat menggapai pipi chuby Hinata. Mengelusnya seraya memejamkan mata, menikmati lembutnya pipi sang kekasih, juga usapan pelan pada surai pirangnya.

"Naru-kun.. " panggil Hinata pelan. Ia membuka matanya saat tak merasakan lagi elusan pada pipinya "Pasti sudah tidur"

Bibirnya tersenyum melihat sang kekasih tertidur dipangkuannya, rasanya sangat cepat untuk tertidur begitu saja, tapi memang itulah nyatanya.

Ia sedikit membungkuk dan menyampirkan surai indigonya kesamping. Mengecup lama dahi pria yang dicintainya "Mimpi indah" lalu ia mengambil kecupan sekilas dibibir "Maksudku mimpikan aku"

Dibawah pohon rindang pada sore yang sejuk untuk bersantai. Saling melengkapi dengan kebersamaan yang mereka miliki. Menikmati indahnya cinta yang membuat keduanya bersatu, dan saling menyalurkannya melewati kasih dan sayang.

.

.

.

.

.

.

Pria penggila anjing tersebut sangat berbeda dari biasanya. Pancaran mendamba pada wanita Hyuga yang biasanya menjadi kesan hatinya, kini berubah menjadi tatapan penuh rasa tak rela akan kenyataan cintanya yang kandas sebelum tali start dikibarkan.

"Maaf, aku tak bisa berlama-lama" gelang jam yang melingkar pada pergelangan tanganya menjadi atensi utamanya, ucapan dari bibir gadis indigo itu seakan menggambarkan sebuah alasan darinya agar dapat segera menghilang dari sana.

Sang sahabat, Ino. Sudah mengerti akan situasi kurang mengenakan saat ini "Tahan sebentar.. " memejamkan mata, membukanya kembali dan menyendu kearah pria didekatnya "Biarkan Kiba sedikit berbicara kepadamu"

Pria itu, Inuzuka Kiba. Hanya menunggu bergulirnya waktu dimana sang gadis tercinta memberikan izin untuknya berbicara.

"Bicaralah... Tapi jika mengenai perasaanmu, maaf, aku tidak bisa menerimanya" ucapnya. Kali ini tersirat rasa iba pada setiap bait ucapan bibirnya.

Kiba tersenyum "Aku tau" balasnya singkat "Aku hanya ingin bertanya. Kuharap kau dapat meyakinkan tentangku yang harus melupakan rasa ini"

Dua orang wanita seumuran itu menatap Kiba penuh tanya, rasanya pria itu sangat berbeda dari biasanya. Sikap periangnya seolah membias berubah menjadi rasa sakit.

"Setiap orang pasti tak luput dari hadirnya sebuah getaran perasaan, tentunya hal itu juga termasuk kita didalamnya" ucapnya. Ino mengangguk, sedangkan Hinata masih diam menjadi pendengar sebaik mungkin.

"Aku hanya sedikit bertanya padamu, Hinata" Wanita indigo itu menatap intens pria dihadapannya, dan sama seperti tadi, Kiba membalasnya dengan senyuman "Apa kesanmu saat banyak pasang mata memandang dirimu yang seorang perempuan anggun malah bersanding dan selalu memancarakan cinta pada pria sepertinya, Namikaze Naruto"

"Apa maksudmu? Kuharap kau tak memancing emosiku!" Hinata geram saat ini. Ia sungguh tak mengerti jalan pikiran Kiba.

"Maaf sebelumnya, hanya saja semua tau jika dia pria yang sangat polos bahkan tak sedikitpun memperlihatkan sisi dewasanya" Hinata terpejam, ia mati-matian menahan emosi pada dirinya "Dan kenapa seorang sepertimu tidak sedikitpun malu bersanding dengannya?, bahkan meski kau tau dia pernah ditolak mentah-mentah hanya karena sikapnya"

Kali ini Ino tersentak. Ia tak habis pikir dengan ucapan Kiba yang terdengar lancang "Ingat janjimu. Kau tidak akan bertindak terlalu jauh Kiba"

"Biarkan saja..., aku ingin mendengar semua darinya, tentang pandanganmu pada Naruto. Aku ingin mendengarnya" Kini Hinata yang berujar tenang. Entah kenapa emosinya meredam disaat ia ingin mencakar wajah Kiba.

"Dari sekian banyak pria yang mengejarmu, menurutku Naruto adalah yang terburuk. la jauh dari kriteria pria mumpuni dalam segi apapun" ia memandang Hinata yang terlihat tenang, lalu kembali berujar "Pada sisi kedewasaan dia sangat kurang. Pemikirannya yang sangat belia bahkan membuat banyak orang termasuk aku memandangnya bodoh, bahkan aku menafsirkan jika ia sangat penakut, terbukti hanya dengan bentakan ia sudah memucat"

Sudut bibirnya terangkat. Iris Amethyst-nya mengerling membayangkan pria pirang yang sangat dicintainya. Entah kenapa ucapan Kiba malah membuatnya dapat menilai seseorang dari banyak garis pandang dan presepsi pemikiran diluar logika.

"Kau benar, aku tak akan menyangkal atau membelanya, bagiku semua ucapanmu tantang Naru-kun itu sangat benar adanya" ujarnya masih mempertahankan senyum tulus, dan hal itu pula yang membuat Ino dan Kiba menatapnya bingung.

"Jika aku mengatakan alasanku tentang cinta, kalian pasti sudah tau. Tapi aku ingin sedikit membeberkan rasa hatiku yang hanya kurasakan padanya, padanya yang membuatku merasakan cinta, sebuah perasaan yang selalu inginku pertahankan, meski aku tau tanpa kupertahankan semua rasa ini akan selalu ada"

Hati Kiba terenyuh. Iris matanya dapat menangkap aura penuh cinta pada Hinata, aura sakral yang hanya ditujukan pada Namikaze Naruto.

"Terlalu naif jika aku menggambarkan sosok Naruto yang sempurna dimataku. Dia pria polos yang sama sekali tak mengerti tentang jalanya hidup selama belasan tahun. Dia tidak seperti kita yang masih beruntung dapat melihat dan merasakan indahnya dunia dengan waktu sebagai pengantar. Naruto hanyalah seorang yang ingin selalu mendapat perhatian dan kasih sayang dari semuanya. Ia tak pernah meminta lebih selain hal itu, kesederhanaan dan kepolosan darinya selalu dipandang aneh oleh semua orang termasuk diriku sendiri. Namun aku sudah banyak belajar dibalik jalannya waktu yang mengantarkannya mengisi hariku yang selalu memendam rasa sakit pada masa laluku"

Hinata menunduk. Setetes airmata mengalir mengiringi untaian kata yang membuat hatinya tergerak untuk memberi perhatian sangat lebih lagi dan lagi pada Naruto-nya.

"Saat aku belum menyadarinya, ia selalu hadir membawa getaran aneh yang denganku selalu menyangkalnya. Aku selalu menyangkalnya karena jujur saat itu aku malu jika perasaan itu hadir pada pria kekanakan sepertinya" Hinata menyeka air matanya "Tapi semakin aku menyangkalnya, hatiku semakin kuat mendapat rasa itu. Dan saat aku menyadarinya, aku sangat malu dan tak dapat berpikir jernih. Dengan tega aku membentaknya karena rasa kesal juga malu akan perasaanku sendiri. Namun aku sadar jika aku hanya melampiaskan kebodohanku padanya"

"Disaat perasaan rindu selalu menusukku, aku tak henti-hentinya menangis setiap malam karena kebodohanku sendiri. Rasanya sangat sakit saat aku sadar akan rasa hatiku yang tulus malah menerjunkanku pada perasaan malu untuk mengakuinya"

Cipratan kenangan bersama sang kekasih hinggap bagai ceri didalam sampanye. Rasanya sangat sakit kala mengingat bagaimana ia pernah membuat Naruto ketakutan setengah mati. Menolak dengan keras permintaan kecil dari pria itu, dan berujung pada rasa sesal akan hatinya.

Dilain sisi Kiba hanya menatap wanita dihadapannya sendu. Rasanya Hinata begitu tulus mencintai kekasihnya tanpa ada guratan keraguan disetiap inchi wajahnya, dan disini ia merasakan patah hati juga rasa lain yang menggerakkan dirinya untuk berjalan memutar membawa perasaannya.

Hinata menengadah dengan mata terpejam, menghirup sebanyak mungkin oksigen guna menetralkan nafasnya yang seakan tercekat dikala memory kerinduannya pada sang kekasih terngiang dikepalanya.

"Semua orang memiliki kekurangan tersendiri.." kali ini ia menghadap kiba tersenyum, matanyapun terbuka dan mentatap lembut pria itu "Naru-kun juga sosok yang memiliki kekurangan, bahkan hal itu selalu menjadi belati yang menusuk hatinya tanpa disadarinya. Namun ia hanya mengekspresikannya lewat cara yang tak dimiliki bamyak orang"

"Aku sudah banyak belajar disetiap kebersamaanku dengannya. Selalu mendapati kekurangannya dari sikap dan pemikirannya, dan didisitulah hatiku selalu terbuka untuk menerima setiap apa yang dimilikinya termasuk kekurangannya. Karena bagiku kekurangan tidak untuk ditutupi, namun bukan berarti harus kita perlihatkan, tapi kekurangan ada untuk dipahami, memahami setiap apapun yang dimiliki seseorang tidak hanya melalui satu titik arah pandang"

Hatinya kembali terenyuh mendengar ungkapan gadis bermahkotakan surai indigo itu. Pikirannya melayang disetiap untaian kata yang ia lontarkan pada pria bernama Naruto. Kata yang selalu mendeskripsikan pria itu hanya dari segi kekurangannya, mengungkapkannya melalui presepsinya sendiri tanpa melihat dari banyak arah pandang. Dan hatinya seakan menekan palung terdalamnya karena ada hal berat yang seolah menusuknya, hal berat yang mungkin diakibatkan rasa sesalnya memandang seseorang tanpa memahaminya.

"Kiba..." Kiba tercekat, tatapannya tertuju penuh kearah tangannya yang kini tengah digenggam oleh Hinata "Jangan bersedih saat orang yang kau cintai tak bersamamu, yakinlah kau akan menemukan kebahagian dengan seseorang yang tulus mencintaimu"

Kiba menunduk "Kenapa bukan dirimu, maksudku kau akan bahagia bersama orang yang mencintaimu dengan tulus dan itu aku" suaranya sangat pelan, entah kenapa ada keraguan didalamnya, namun rasa cinta menekan segalanya, hingga kata-kata itu keluar menyisakan pedih pada palung hatinya.

"Jangan pernah memandang kebahagiaan hanya melalui perasaan cintamu, pahamilah setiap seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, selalu menghangatkan hatimu, selalu mengantarkan kebahagiaan padamu setiap saat, tak ingin dirimu bersedih, dan satu lagi, selalu ada disampingmu walau dalam keterpurukanmu" Hinata mengakhirinya dengan mengeratkan genggamannya, dan ia dapat melihat raut berbeda dari pria didepannya.

Kiba sangat tak menyangka jika hatinya akan sangat tersentuh dengan semua ungkapan Hinata, bahkan kini kepalanya menunduk dalam hingga ada seseorang yang hinggap disaat ia tersentuh seperti sekarang ini.

Matanya memanas, rasanya sangat ingin meneteskan air mata, tapi entah kenapa tak dapat mengalirkannya dikala hinggap seulas senyum yang selalu mengarah padanya.

Jangan menangis Kiba-kun'

Kali ini ia tak dapat membendungnya. Alunan halus yang mendengung seakan membuatnya hanya teringat pada sosok yang telah lama dikenalnya. Sosok yang selalu menguatkannya dalam keterpurukan, menghiburnya dikala kesedihan menjalarinya, dan hanya ada satu yang membuat hatinya tertuju penuh kearah sosok itu.

"Yakinlah kau dapat melupakan perasaanmu saat ini, dan percayalah kau akan sangat mengerti semua ucapanku saat kau menemukan kebahagian itu" ucap Hinata lembut, ia tersenyum sesaat setelah melihat Kiba seolah menyadari sesuatu melalui ungkapannya.

Hinata bangkit dari duduknya, lalu membuka suara "Maaf, aku harus pergi. Kurasa sudah cukup pertemuan kita disini" Kiba mendongak menatap Hinata yang hendak pergi "Dan kita bisa memiliki status sebagai teman baik, kurasa itu bagus untuk kita berdua"

Bibirnya mengurva membentuk sebuah senyum tulus. Iris matanya menatap kepergian si sulung Hyuga yang tanpa terduga membuatnya teringat pada seseorang yang selalu ada untuknya, seseorang yang jauh darinya.

'Entah aku bisa melupakan rasa ini padamu atau tidak Hinata, tapi aku yakin denganya diriku akan bahagia dan dapat menemukan cinta tulus yang kau maksud'

"Naru-kun... " tubuh tegap itu didekapnya sangat erat, rasa rindu tak lagi tertahankan kala melihat wajah polos yang tampak berseri-seri menyambutnya dengan riang.

"Apa Naru-kun sudah makan? Apa kau ingin sesuatu? Atau Naru-kun ingin pergi jalan-jalan?" tanyanya beruntun membuat sipirang hanya mengedip lucu, pria itu merasa Hinata sangat rindu padanya.

"Aku sudah makan.. " jawabnya membalas rengkuhan sang gadis tak kala erat "Kenapa Hinata bertanya banyak seperti itu?"

Hinata menggeleng pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya, merengkuhnya posesif tanpa ada niatan untuk melepasnya.

Sejak pertemuannya bersama Kiba kemarin malam, Hinata seolah dihantui oleh rasa rindu yang membuatnya sulit tidur semalaman, bahkan kini faktanya ia meninggalkan pekerjaan kantornya dan lebih memilih menemui sang kekasih guna melepas rindu yang teramat sangat.

"Naru-kun... Aku sangat merindukanmu, kenapa Naru-kun tidak datang kekantorku? Padahal aku sudah menunggu sejak pagi" cicitnya merengek tanpa melepas pelukannya "Bahkan aku

langsung kemari setelah makan siang karena sangat ingin bertemu denganmu"

"Ehh.." Naruto kembali berkedip banyak, ia bingung harus menjawab apa, tapi mungkin alasan tak kekantor sang kekasih tidak buruk.

"Aku malas" Hinata tersentak, lalu memukul-mukul punggung sang pria seraya mencicit jahat berkali-kali "Nanti pasti mengganggu Hinata terus, bagaimana jika Hinata terganggu terus? Kan pasti Hinata marah"

"Naru-kun jangan seperti itu" ia melepas pelukannya, lalu menatap sang kekasih sedih, rasanya tidak enak dibagian dada saat ia teringat selalu mengabaikan Naruto-nya jika dikantor "Aku sama sekali tak terganggu, aku malah akan sangat senang jika Naru-kun mengunjungiku"

Sipirang hanya mengangguk, lalu ia mencubit pipi kemerahan gadisnya "Hinata serindu itukah padaku?"

"Tentu saja. Naru-kun berjanjilah kau tak akan menganggap dirimu pengganggu jika bersamaku, karena itu tidak benar" ujarnya seraya meraih kedua tangan sang kekasih dan menggenggamnya erat, menyalurkan rasa hangat untuk pria tercintanya dan dirinya.

"Baiklah..." dipeluknya lagi tubuh ramping sang kekasih "Aku juga sangat merindukanmu" mengecup puncak kepala gadisnya dengan sayang, dan dibalas dengan lilitan lengan pada tubuhnya "Apa Hinata mau menemaniku?"

Kepala bermahkotakan indigo tersebut mengangguk, lalu keduanya melepas pelukan hangatnya.

"Memangnya Naru-kun sayangku mau kemana?" tanya Hinata menggoda, entah kenapa rasa cintanya bertambah berkali-kali lipat jika mengingat perkataannya kemarin.

"Bagaimana kalau ketaman?" usulnya namun mendapat gelengan dari gadisnya "Eh? Memangnya kenapa?"

"Kita selalu ketaman, aku bosan Naru-kun... Bagaimana jika, emm-ah ya, bagaiamana dengan taman bermain?" kali ini si pirang berbinar, ia tak akan lupa bagaimana serunya ditempat menyenangkan itu. "Tapi nanti malam saja, karena jika sekarang taman bermain belum buka"

"Nanti malam? Jadi masih lama?" Hinata mengangguk "Berarti Hinata sekarang akan pergi?"

Hinata terkikik mendengar ungkapan kecewa dari sang kekasih, padahalkan dirinya seharian ini ingin berdua dengan Naruto-nya, dan nanti malam adalah puncak dimana ia akan bersenang-senang bersama sang kekasih.

"Tidak... Aku akan menemani Naru-kun sekarang, nanti malam juga saat kita akan ketaman bermain"

"Wahhh-jadi Hinata hari ini akan bersamaku terus?" kembali Hinata mengangguk merespon, namun wajahnya sangat memerah kala Naruto memajukan wajah tan-nya tepat didepan wajah mronanya.

"Hinata... Ayo kita berciuman."

Blushh

Sontak saja wajah cantiknya semakin memerah kala mendengar ajakan berciuman sang kekasih yang terdengar sangat polos. Rasanya Naruto begitu saja memintanya tanpa beban atau sedikit malu.

"Na-naru... Ru-rumahmu kan b-banyak pelayannya, j-jadi ditempat lain saja ya." ujar Hinata terbata masih meronakan wajahnya.

Naruto mengangguk lesu "Baiklah. Tapi Hinata janji akan menciumku kan?" Hinata menatap sang kekasih sambil tersenyum tipis, lalu ia mengangguk.

Namun apa jadinya jika tiba-tiba ia dikecup Naruto. Seperti sekarang yang sama sekali tak diduganya, karena Naruto melakukannya dengan cepat dan tanpa aba-aba. Meski sekilas, namun tetap saja itu sangat mengejutkannya.

Si pirang terkekeh melihat wajah malu-malu sang gadis "Maaf ya, Naru tidak sabar."

"Naru-kun mesum" cicitnya memukul pelan

dada sang kekasih "Aku terkejut tau"

Kembali Naruto tertawa kecil "Ayo masuk, pasti Hinata haus dan kelaparan" Hinata tersenyum dan mencubit perut pria pirang itu "Aww- Hinata, sakit... Kenapa kau mencubit perutku?"

"Habisnya Naru-kun bicara sembarangan" ia menggembungkan pipi meronanya "Aku tidak selapar itu, aku hanya sedikit haus"

"Hehe... Kalau begitu ayo masuk" ia menarik tangan gadisnya untuk masuk "Kita menonton TV bersama, pasti menyenangkan jika hanya berdua dikamarku..."

"Eh..."

BLUSH

.

.

.

.

.

.

.

.

Disclimer: Naruto belongs only to Masashi Kishimoto

Naruto Hinata

FANFICTION

Hari ini memang saat yang kurang bagus untuk wanita bersurai indigo sepinggang ini. Bukan apa-apa, hanya saja ia sedih jika melihat perempuan yang bisa dikatakan calon mertuanya ini dalam kondisi kurang baik.

Kushina saat ini sedang terbaring lemah dikasur king size yang setiap malam selalu digunakan sebagai alas beristirahat menghilangkan lelah, tapi terkadang juga akan lebih lelah jika sang suami ingin memilikinya.

Memang wanita baya itu hanya demam dan flu biasa, tapi ia sama sekali tak dapat beranjak dari ranjang empuknya saat ini sampai sembuh. Bukannya Kushina tak bisa berjalan atau ia sakit parah hingga tak dapat berdiri, tapi sang putra tercinta sama sekali tak membiarkan dirinya meski hanya sekedar duduk atau banyak pergerakan.

"Ibu..." Gumam pria yang tak lain adalah sang putra. Kushina dapat mendengar nada cemas bercampur khawatir saat suara anaknya menerpa gendang telinganya, iris matanyapun tak luput untuk tak memandang raut sedih putra semata wayangnya.

"Apa ibu sudah baikan?" Kushina mengangguk mencoba kuat agar sang putra tak semakin cemas, meski ada guratan sendu dikala dirinya membuat Naruto cemas, tapi rasa bahagia juga menjalarinya karena ia merasa menjadi orangtua paling beruntung bisa mendapat perhatian penuh dari anaknya meski hanya sekedar demam, tidak lebih.

Disisi lain Hinata tersenyum simpul melihat seseorang yang sangat menghawatirkan ibunya. Rasanya ia sedih jika mengingat mendiang ayahnya yang selama sakit parah namun kurang mendapat perhatian semacam ini, dan disini ada rasa sesal tersendiri dari dalam hatinya dikala hinggap memory tentang ia yang memberi perhatian pada sang ayah saat menjelang kematiannya, bukan setiap saat seperti yang dilakukan Naruto. Tapi setidaknya ia sangat menyayangi ayahnya dan dapat membuat sang ayah merasakan kasih sayang serta cinta kasih darinya.

"Ibu... Apa ibu ingin sesuatu? Apa ibu tidak kedinginan? Apa masih pusing?" tanya Naruto bertubi-tubi tak lupa aura khawatir disetiap ucapannya. Ia mengeluskan punggung tangan sang ibu pada pipi bergurat miliknya, menggenggamnya menggunakan kedua tangan, dan dapat ia rasakan tangan sang ibu yang terasa panas meski kedinginan.

Satu tangannya menggapai surai pirang sang putra dan membelainya lembut. "Ibu sudah lebih baik, hanya dengan adanya putra ibu yang tampan ini, ibu pasti akan segera sembuh dan sehat seperti biasa..."

Naruto mengangguk masih dengan posisi seperti tadi, namun masih tersirat kecemasan pada raut wajahnya. "Tapi ibu harus tetap minum obat, agar ibu cepat sembuh dan tidak sakit lagi..."

Hinata yang sedari tadi berdiri memperhatikan, kini ber-inisiatif untuk berjongkok mengikuti kekasih pirangnya yang sedari tadi berjongkok dengan tatapan penuh kekhawatiran yang tertuju pada sang ibu.

"Naru-kun..." telapak tangannya mendarat pada bahu sang kekasih, mengelusnya pelan mencoba memberi pengertian. "Bibi Kushina pasti cepat sembuh, jadi Naru-kun tak perlu se-khawatir itu..."

Tak ada respon dari si pirang. Hinata mengehela nafas panjang mencoba memahami Naruto yang terlampau sedih melihat sang ibu sakit, dan sekarang Hinata tau jika dibalik kepolosannya, Naruto menyimpan segudang rasa kasih sayang pada siapapun apalagi itu sang ibu.

"Demamnya belum turun..." punggung tangan berwarna tan itu menyentuh dahi yang masih terasa panas milik sang ibu. "Aku akan mengambil kompres..., ibu tunggu sebentar, aku akan segera kembali."

Berdiri lalu berbalik tanpa menatap gadis yang bersetatus kekasih dengannya.

Entah kenapa rasa cemas pada sang ibu membuatnya tak sedikitpun memberi atensi pada Hinata.

"Hinata..." Hinata menoleh sesaat setelah mendengar panggilan lemah dari Kushina. Ia tersenyum yang dibalas senyum pula oleh wanita berambut merah itu. "Naruto memang seperti itu jika aku sedang sakit. Kuharap kau bisa memeahami sikapnya."

Mengangguk pelan seraya menggenggam tangan sang calon mertua. "Bibi tenang saja, Hinata mengerti..., lagipula Hinata malah sangat senang karena Naru-kun begitu perhatian pada bibi..."

"Kau benar..." Kushina tertawa kecil, "Kau tau? Aku sudah sering mengalami hal semacam ini, dan aku juga tau jika dia pasti akan berlebihan untuk mengurusiku."

Hinata hanya diam, namun senyumnya tak luntur, ia juga melihat bagaimana sikap Naruto yang sangat berlebihan tadi, bahkan. untuk bergerakpun Kushina akan tidak diperbolehkan oleh pria itu, padahal sang ibu hanya demam dan sedikit pusing, tapi bisa dilihat bagaimana pria pirang itu sangat amat menyayangi ibunya.

"Minato pasti akan berwajah masam nanti..." Hinata merengut dengan kilatan raut wajah penasaran, "Aku yakin jika Naruto pasti akan memilih tidur denganku dan menjagaku, lagipula itu selalu dilakukannya saat bibi sedang sakit.." diam dengan mata yang terkadang berkedip, "Dan kau pasti tau kalau paman Minato akan cemberut jika disuruh tidur berpisah dengan bibi."

Kali ini Hinata mengerti. Ia mengangguk menanggapinya, tapi dilain hati ia sempat terkikik mendengar Naruto-nya akan tidur dengan sang ibu, rasanya pria itu memang sangat menyayangi ibunya sampai tak mau sejengkalpun terpisah meski itu dalam keadaan tidur.

"Hinata minggirlah!"

Hinata tersentak, lalu ia menoleh keasal suara dan dapat dilihat Naruto yang membawa baskom berisi air yang diletakkan diatas nampan, dan disamping baskom itu terdapat kain sederhana yang diyakininya untuk mengompres.

"Hinata cepat minggir!" sedikit nada tinggi diberikan padanya, hingga terselip perasaan tak nyaman dan setitik sesak mendengar Naruto baru kali ini membentaknya walau bisa dibilang masih pelan.

Menghela nafas lalu segera beranjak menuju sisi lain. Pipinya menggembung kesal, ia sedikit tak suka saat Naruto membentaknya.

"Naru-kun..." Naruto yang masih mengompres dahinya sama sekali tak menatapnya, hanya daheman kecil yang didapati Kushina sebagai balasan. "Kau tidak boleh seperti itu, ibu tak pernah mengajarkanmu membentak seseorang, apalagi itu Hinata, dia kan kekasihmu sayang..."

"Maaf... Aku tak bermaksud, Naru hanya ingin cepat mengompres ibu agar demamnya turun." ucapapnya pelan menatap penuh maaf pada sang ibu.

Menghadap gadis disebelahnya dengan safir-nya yang memancarkan rasa bersalah. "Maafkan aku ya Hinata. Tadi itu tidak sengaja.."

"Iya..." balas Hinata seraya mengelus lengan si pirang. "Naru-kun tak perlu minta maaf, sebaiknya Naru-kun menyelesaikan kompresannya..."

Ingin rasanya Hinata mambantu, tapi ia tau jika Naruto pasti menolaknya, dan yang bisa dilakukannya hanya diam memperhatikan bagaimana si pirang begitu telaten mengompres ibu tercintanya.

"Apa ibu boleh bertanya?"

Naruto mengangguk masih dengan tatapan sendu, sesekali menyentuh wajah cantik ibunya guna mengecek suhu tubuhya.

"Apa yang Naru-kun lakukan dengan Hinata

berdua dikamar tadi...?"

Blushh

Wajah Hinata langsung memerah bak tomat yang direbus berulang kali saat mendengar Kushina begitu saja menyakan hal yang membuatnya malu seribu bulan.

Kushina terkekeh melihat wajah calon menantunya yang memerah. Sebenarnya ia sengaja menanyakan hal itu, karena jujur Khusina sangat suka melihat rona merah dipipi Hinata yang hanya Naruto pria yang dapat membuat guratan kemerahan pertanda malu tersebut.

"Hanya menonton TV bersama, memakan camilan dan jus yang ada dikulkas..." jawabanya yang begitu jujur.

Khusina tersenyum jahil kearah Hinata, "Apa hanya itu?, Ibu tidak yakin..."

Hinata hanya menunduk dalam menyembunyikan wajah meronanya, ia saat ini terlampau malu jika mengingat tadi berdua dikamar Naruto, karena dalam seumur hidupnya baru kali ini ia memasuki kamar pria yang bukan keluarganya, bahkan berdua dengan sipemilik kamar, apalagi jika mengingat kemesraan dirinya dengan sang kekasih tadi.

"Ibu ingin tau saja... Kami kadang berciuman jika ingin. Benarkan Hinata?" ungkapnya tanpa malu sedikitpun.

"Na-naru-kun, ja-jangan berbicara s-seperti i-itu.." cicitnya menahan malu, tak lupa ia mencubit gemas pinggang Naruto.

"Fufufu, ternyata putra ibu sudah nakal sekarang..., bahkan kalian selalu bercumbu mesra." tertawa kecil dengan nada menggoda.

Hinata kembali menunduk dengan wajah merona. "B-bibi... Jangan ba-bahas itu..."

Khusina semakin tertawa meski sudah membekap mulutnya, membuat Hinata semakin malu. "Bibi Kushina... K-kumohon." lanjutnya memelas dengan wajah malu-malu, membuat Kushina menghentikan tawanya namun tetap mentap jahil sang calon menantu.

Sore ini terasa menyenangkan. Kushina yang terus saja menggoda Naruto dan Hinata, dan Hinata yang terus menunduk menyembunyikan wajah super malu yang kini memerah bak tomat, sedangkan dengan Naruto dia hanya biasa-biasa saja dengan wajah polosnya, terkadang mengedikkan bahu atau tak peduli dengan godaan sang ibu.

Hinata mematung ditempat melihat bagaimana pria yang sangat dicintainya memeluk erat wanita lain tepat didepan matanya, bahkan sesekali menciumi sisi kepala perempuan itu dengan penuh kasih sayang, mendadak hatinya berdenyut sakit melihat interaksi yang bisa dikatan terlampau mesra itu.

la menunduk memegangi dadanya yang terasa tercekat. Matanya yang tampak berkaca-kaca dengan jelas memancarkan kecemburuan dan sakit hati secara bersamaan, entah kenapa ia mengingat bagaimana rasanya saat Naruto melihatnya berpelukan dengan Sasuke.

'Apa sesakit ini saat kau melihatku berpelukan dengannya. Hati ini sakit, sangat sakit...

Hinata tak berani mendongakkan kepala bermahkotakan indigo miliknya. Ia tak ingin melihat sang kekasih berpelukan dengan wanita lain seperti sekarang ini, rasanya memang sangag sakit, bahkan tubuhnya tak dapat merespon kehendak hatinya untuk menjambak perempuan itu, hanya diam merasakan bagaimana hatinya, dan juga ingatan tentang dirinya yang pernah menyakiti si pirang hinggap begitu saja.

"Kenapa sangat lama? Aku sudah menunggu lama tau..." ucap Naruto yang terdengar jelas oleh Hinata, pria itu seakan tak memandang sang kekasih yang diam mematung.

'Bahkan kau tak mempedulikanku sejak tadi. Dan kini kau malah sangat memperhatikan wanita lain...

Tak masalah bagi Hinata jika Naruto tak memperhatikannya seperti tadi saat sedang mengurusi sang ibu yang sedang sakit. Tapi jika kekasih pirangnya itu berbuat seperti ini padanya, tak acuh padanya hanya karena wanita lain, Hinata tak akan rela dan tak akan sanggup menahan sakit dihatinya.

"Hihihi... Tadi macet." Hinata sedikit melirik saat mendengar kikikan kecil dari wanita berambut merah yang hampir sama dengan Kushina, kembali hatinya berdenyut saat melihat bagaimana tangan wanita itu dengan lancang mengelus pipi bergurat milik Naruto-nya.

Tuhan... Apa kau sengaja memberiku karma karena kejadian itu? Sampai tubuhku kau buat seakan tak dapat bergerak dan terus merasakan denyutan sakit dihatiku dengan pemandangan tak mengenakkan semacam ini...'

"Bibi Kushina mana?" tanya wanita tadi.

Naruto menunjuk kamar sang ibu dan berbicara. "Dikamar. Ibu sedang tidur, jadi Sara melihatnya nanti saja ya, saat ibu sudah bangun..."

Nada sedih dan cemas mendengung pada indera pendengaran wanita bersurai merah yang dipanggli Sara tadi. Ia pastinya tau jika Naruto akan sangat mengkhawatirkan sang ibu jika keadaannya seperti itu, dan disini ia melihat dengan jelas bagaimana raut wajah si pirang.

"Hey! Naru-kun jangan sedih, hm... Pasti ibu Naru-kun cepat sembuh, percayalah."

Naruto hanya mengangguk sekenanya, ia membalas pelukan mereka lagi sesaat Sara kembali merengkuh tubuh lesunya yang tampak berantakan, wajah antusias yang dikeluarkan seakan hilang menjadi kecemasan jika mengingat keadaan sang ibu.

'Siapa wanita itu Naru-kun? Kenapa kau memelukanya seperti itu? Apa aku kurang memeperhatikanmu? hingga kau berbuat seperti ini didepan mataku sendiri...'

"Kumohon hentikan ini..." lirih Hinata yang sama sekali tak terdengar oleh dua insan yang masih berpelukan hangat diseberang sana. "Kenapa aku harus merasakan patah hati untuk kedua kalinya?" lanjutnya lagi meneteskan air mata peluh, manik lavendernya sudah tak sanggup untuk melihat bagaimana kekasihnya memeluk wanita lain disana.

Mendadak ia terlonjak kaget saat merasakan tepukan pelan pada bahunya.

Menolehkan wajah sembabnya kearah sang empu, dan saat itu pula ia langsung berhambur memeluk sang penepuk bahunya. Entah kenapa ia sangat ingin dipeluk, hingga saat mendapati Kushina dibelakangnya membuatnya langsung memberikan rengkuhan pada wanita itu.

Menangis dalam diam, itulah yang dilakukan Hinata. Meski tak bersuara, namun tetap ia tak akan dapat menyembunyikan fakta jika ia sedang menangis dengan kilatan kecemburuan menyerubungi hatinya.

"Cemburu, eh?" ucap Kushina yang terdengar menggoda, rasanya wanita merah itu tak kuasa untuk tak menggoda sang calon menantu yang kini dipelukanya erat sama seperti yang dilakulan Hinata.

Terkikik kecil masih memeluk Hinata. Kushina tau apa penyebab calon menantu cantiknya sperti ini, tak lain karena sesuatu yang kini juga dilihatnya, sang putra yang berpelukan dengan seseorang yang sangat dikenalinya, rambut merekapun sama.

"Wah- dia sangat cantik, bahkan rambutnya sama dengan bibi.." ucap Kushina yang membuat Hinata tersentak dan semakin sakit diarea hatinya.

Hinata melepas pelukan itu dan menatap wajah Kushina penuh tanya. "B-bibi... Apa aku membuat kesalahan? Hingga Naru-kun berpelukan didepan mataku sendiri.."

Matanya sembab, pipinya bahkan penuh dengan aliran air mata. Raut wajahnya sangat menandakan bagaimana rasa hatinya, ia bahkan tak dapat berpikir jernih dengan fakta yang sebenarnya ada, rasa sakit dihatinya kini mendominasi, hingga hanya ada patah hati kembali dirasakannya.

"Naru-kun tidak mungkin tak mencintaiku lagi..., dia sudah berjanji padaku." ungkapnya lirih menunduk, membuat wanita dihadapannya tak tega untuk tak bertindak.

Kushina semakin mendekat dan mengelus lengan Hinata lembut. "Mereka sangat cocok bukan?"

Hinata tercekat ditempat, namun masih seperti tadi, ia menunduk bahkan saat ini semakin dalam, hatinya sudah tak sanggup dengan kenyataan jika Kushina menyukai wanita itu.

Isakan kecil keluar dan terbang bersama udara, mendatangkan rasa sakit untuk diri Hinata, mengundang kehancuran dihatinya yang tak tertahankan.

"Memang sangat cocok..." Kushina tertawa kecil dan memeluk kembali tubuh ramping calon menantunya dengan hangat dan erat. "Tapi sebagai sepupu..."

Bahagia, senang, dan lega hinggap menyerubungi dirinya. Rasanya hati tak dapat menolak untuk tak menangis lagi, fakta yang seseungguhnya kini didapatinya, didapatinya sesudah hatinya merasakan sakit luar biasa hanya karena cemburu, menangisi segala hal itu dari kesedihannya hingga kebahagiannya, dan disini ia kembali ingin menebar cinta pada Naruto, tak ingin rasanya hal semacam ini kembali terjadi, karena kecemburuan itu membunuhnya, dan ia berkali-kali mengucapkan rasa syukur dengan derai air mata yang kini berubah menjadi liquid bening penuh kelegaan dan kebahagiaan.

Terbukti dengan jelas bahwa gadis bernetra amethyst inu sangat mencintai Naruto, sang kekasih. Derai air mata tak luput sebagai bukti akan hatinya yang sempat merasakan sakit akibat cemburu.

'Aku akan lebih perhatian padamu Naru. Tak bisa kubayangkan jika hal ini kembali terjadi denganmu dan wanita lain... Aku sangat mencintaimu, dan akan selalu bahagia apapun alasannya asalkan bersamamu, hanya dirimu...

"Ibu? Hinata?"

"Hey Naru-kun..." balas Kushina menyapa dan melepas pelukan pada Hinata.

Naruto menoleh kearah sang kekasih dan

dapat dilihat Hinata-nya yang sembab, dan

ia yakin seyakinnya jika kekasih tercintanya

habis menangis.

"Kenapa Hinata menangis?" tanya sipirang langsung mendekat dan memeluk Hinata, sama halnya dengan Naruto, Hinata memeluknya juga bahkan terisak disana, menumpahkan hatinya yang sempat terombang ambing antara cemburu dan bahagia hampir bersamaan. "Hinata, jangan menangis."

Hinata menggeleng dan semakin mengeratkan pelukan hangatnya. Hanya ini, hanya pelukan hangat dan dibalas pula oleh sang pria yang diinginkannya, cinta dan kasih sayang dari kekasihnya, hanya Naruto-nya, tidak akan ada yang lain.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam ini terasa berbeda bagi Hinata. Suasana bersalju dengan kuantitas sedang menghujam bumi Konoha beberapa hari ini. tapi bukan karena itu, hanya saja suasana hatinya tengah berbunga-bunga menanti sang kekasih yang baru pertama kalinya mengajak berkencan.

Sepuluh menit terasa begitu lama untuknya. Bola Amethyst-nya memandang tak berkedip gerakan dari jarum berwarna merah pada jam dinding, memastikan jika saat tepat pukul menunjukan angka delapan ia harus segera menyambut kekasihnya.

Bukan hanya itu, Hinata juga terkagum saat pria pirang yang selalu dipanggilnya dengan sebutan 'Naru-kun' itu akan menunjukan kebolehannya yang sudah seminggu lalu mulai lancar menunggangi mobil. Cukup mengejutkan untuknya, namun juga miris disaat bersamaan kala membayangkan Naruto menyetir mobil.

Tiga bulan sudah hubungan mereka tampak baik-baik saja. Sedikit banyak perubahan Naruto kini sangat terlihat. Sikap serta jiwanya kini berkembang pesat seolah masa remaja terlewati begitu saja, namun jika Hinata boleh jujur ia tetap menganggap Naruto seperti pria kecil lucu-nya.

Jiwa dan sifatnya mungkin sudah berkembang jauh, namun terkadang juga sikapnya akan kekanakan dengan berbinar kala terkejut, yah tidak semudah itu merubah sikap seseorang seperti Naruto yang seolah sudah mematen alami dalam dirinya, karena pada dasarnya ia masih polos.

Status mereka kini sudah lebih dari sekedar sepasang kekasih. Pesta sederhana dari keluarga Namikaze mengikat keduanya dalam hubungan pertunangan, satu langkah dibelakang impian Hinata, yaitu menikah dengan Naruto-nya.

Kali ini rasanya Hinata tak menemukan tanda-tanda sang kekasih datang. Rumahnya terlihat sepi lantaran adiknya Hanabi tak pernah dirumah bila masih pukul delapan, jujur saja Hinata sering mengomel kala adik satu-satunya itu kerap kali pulang larut malam bahkan terkadang menginap dengan izin melalui pesan, ada tidaknya izin darinyapun sama sekali tak berpengaruh pada Hanabi. Namun Hinata percaya, Hanabi bisa menjaga diri sendri walau sebagai kakak ia sangat cemas.

"Sudah jam 8 lebih, Naru-kun kenapa belum datang ya? Apa terjadi sesuatu pada-oh astaga!!" Hinata tersadar akan ucapannya sendiri. Ia terpekik menyadari jika Naruto masih sangat amatir dalam menyetir, dan sekarang ia cemas mengingat Mansion Namikaze menuju rumahnya melewati jalur yang begitu padat apalagi dihari menjelang libur seperti sekarang.

Mengingit jemarinya sendiri, Hinata tampak bingung bercampur khawatir sekarang. Mungkin ia khawatir pada sang kekasih, tapi ia bingung harus melakukan apa, karena jujur Hinata saat ini tak dapat berpikir jernih.

Kali ini ada rasa lega kala ketukan pintu tertangkap oleh gendang telinganya, namun mendadak ia sedikit kaget juga heran kala yang memasuki rumahnya itu sang adik, masuk tanpa diperintah mungkin sudah biasa untuk gadis itu, tapi baru kali ini ada ketukan pintu sebelum adiknya itu masuk.

"Hanabi!" Hinata menghampiri sang adik, namun hanya tatapan datar yang didapatinya. "Tidak biasa kau jam segini pulang?"

Hanabi melirik malas sang kakak, "Jam berapapun aku pulang kau selalu mengomel. Sebaiknya kau menemui calon suamimu didepan rumah."

"Bukan begi-eh?" Hinata mengerjap mencerna perkataan Hanabi. "Ma-maksudmu Naru-kun?"

Memutar bola matanya bosan. Hanabi merasa sang kakak memang lemot. "Siapa lagi? Kupikir hanya dia, tapi dari ucapanmu ada pria lain..." Hinata mewurungkan niatnya untuk keluar, rasanya sang adik keterlaluan sekarang ini. "Kau tak akan mendapat sarapan besok pagi..." ucapnya kesal.

"Apa peduliku?" mengdedikkan bahu sekilas, "Lagipula aku hanya pulang mengambil sesuatu." lanjutnya beranjak menuju kamar, sedangkan Hinata sudah mengira jika sang adik akan menginap lagi dirumah temannya.

Kembali langkahnya terhenti kala ada sosok yang menyembulkan kepalanya diambang pintu keluar, dengan mudah ia dapat mengenalinya.

"Hinata!" sedikit berteriak. Naruto membuka lebar pintu besar yang menghalangi jalan sekaligus pandangannya.

Menghampiri sang pria dengan senyuman, hendak memeluk tapi Naruto malah mundur menolak, mendadak ia terkejut karena baru kali ini Naruto menolak pelukannya. "Na-naru-kun."

"Jangan dulu..." maju mendekat menatap lembut gadisnya, dan saat itu pula Hinata terpekik untuk kesekian kalinya kala setangkai bunga mawar kini berada tepat didepan matanya. Digenggam sang kekasih, mengarahkan padanya. Namun ada yang aneh.

"Naru-kun... K-kau?" Hinata mengerucutkan bibirnya, "Kau pasti mencabutnya diteras depan rumah? Lihat masih banyak sekali durinya."

"Eh-a-aku i-itu hehehe..." menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Naruto nyengir malu kearah sang gadis.

'Apa ini bisa disebut romantis? Tetap saja dia masih polos. Dasar Naru-kun... batinya meracau merutuki sang kekasih.

Sungguh Hinata tidak ingin lagi jika hanya duduk manis membiarkan Naruto yang menyetir mobil. Hampir disaat perjalannya ia hanya menahan napas dan sesekali terpejam menjerit dalam hati kala si pirang melajukan mobil BMW miliknya dengan sangat cepat, sangat miris baginya mengingat hal itu, apalagi Naruto seolah tak punya haluan disetiap belokan biasa maupun tajam.

"Saat pulang aku saja yang menyetir!" ucapnya mutlak. Sedangkan pria disebelahnya hanya mengerucutkan bibirnya lantaran sedari tadi Hinata mengulang setiap kalimatnya.

Kini mereka berada diarea taman bermain. Menyusuri setiap wahana atau chelenge yang biasa ada ditempat semacam itu. Namun entah kenapa gadis bersurai biru kelam itu seolah tak menikmati kebersamaan kali ini yang bisa dikatakan kencan.

"Hinata, bagaimana jika kita membeli gula kapas?" kali ini Hinata berbinar, jujur saja ia sangat menyukai jajanan manis tersebut.

"Dimana penjualnya?" tanyanya mengedarkan pandangan kesana kemari. "Tidak ada." lanjutnya bergumam,

"Kita harus mencarinya. Tapi, siapa yang bayar?"

"Tentu saja Naru-kun, memang siapa yang mengajak kencan jika bukan kau.." ucap Hinata sebal. Naruto hanya mengangguk sebagai respon.

Ingin sekali Hinata menjitak kepala lelaki disebelahnya itu. Sungguh tidak ada romantis-romantisnya sekali, membuatnya mendengus terkadang menggembungkan pipinya sarat akan kekesalannya.

Ini jauh dari bayangan tentang sisi dari ajakan kencan kekasih pirangnya. Jujur saja Hinata hanya bisa diam dan terkadang menahan nafasnya kala jantungnya berdegup begitu kencang ditambah pipinya yang terus saja memanas menampilkan rona kemerahan yang terlukis indah disana.

Tarikan pesona dari blue saffire Naruto sama sekali tak dapat membuatnya bergeming, yang ada iris polosnya semakin dalam tertuju kearahnya, seolah ada tarikan gravitasi yang tak dapat dibantah kekuatan tarikan tersebut.

Sudut bibir kecoklatan itu terangkat naik, menampilkan senyuman tipis penuh arti. Memandang wajah memerah yang tampak berseri-seri itu kala sinar terang rembulan seolah hanya tertuju pada wajah cantik gadisnya.

Bibirnya mendekat, semakin dekat hingga kecupan singkat tercipta pada sudut bibir sang gadis, membuat kelopak mata itu terpejam menyembunyikan kelereng lavender milik Hinata-nya yang kini duduk diam dipangkuannya.

"Hinata, kenapa diam?" berbisik pelan seraya mendesiskan nafas hangatnya pada rongga telinga sang gadis.

Membuka perlahan kelopak matanya, menampilkan bola mata Amethyst yang langsung tertuju penuh kearah mata biru sang kekasih. Hinata sangat gugup, nafasnya memburu panas menggambarkan dirinya begitu terpesona.

Kembali Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata, mengecup lembut dengan durasi cukup lama dihidung mancung mungil Hinata, "Cium aku..."

Nada sensual dibarengi pinggang rampingnya yang semakin merapat dengan perut sang kekasih. Hinata hanya diam mematung mendapati Naruto jauh dari sikap biasanya, sungguh Hinata hanya dapat mengangguk pelan.

Tangan tan milik Naruto melilit pinggang gadis dipangkuannya, telapak tangan kirinya mengelus penuh kelebutan pada surai indigo Hinata, wajahnya masih sama seperti tadi, sangat dekat dengan nafas yang saling beradu seolah beresonansi dalam panasnya suhu tubuh masing-masing.

"Hinata..." panggilnya yang terdengar erotis, "Cium aku. Aku menginginkannya..."

Mengecup sekilas dengan mata sayu yang masih terbuka, rona merah itu semakin kentara sesaat setelah kecupan singkat yang diawali darinya, hingga iris matanya menangkap senyum tipis dari Naruto.

"Na-naru-kun..." gumamnya terbata.

"Hm..?" merespon singkat, Naruto kali ini dapat merasakan Hinata sangat gugup.

Menunduk malu sembari menautkan kedua telunjuknya, "Eto... A-apa aku boleh tu-turun?"

Hinata mendongak, dan saat itu pula ia

mendapat gelengan pelan pertanda tolakan.

"Kenapa?" kembali Hinata menunduk, "Apa

Hinata tidak suka jika kupangku?"

"Bu-bukan begitu... A-aku hanya emm eto..." tak dapat lagi Hinata melanjutkan, namun entah kenapa ada tarikan terangkat pada sudut bibirnya.

Semakin merapatkan posisi mereka, Naruto bahkan menempelkan dadanya dengan dada Hinata, membuat jantung keduanya memompa tak karuan. "Begini saja."

Terpaku dengan keadaan sekarang ini. Bahkan Hinata hanya diam saat telapak tangan Naruto terus saja mengelus pinggangnya, menciptakan desiran aneh yang sungguh membuatnya tegang.

"A-aku malu Naru-kun..." menunduk malu memperhatikan tangan Naruto yang baginya nakal, namun tetap, ia hanya diam dari rasa geli yang sungguh berbeda itu.

"Katakan Hinata hanya milik siapa." pinta sang pria, tangannya berhenti dari aktifitasnya.

"A-aku hanya milikmu Na-naru-kun."

"Kalau begitu, tidak perlu malu..." Hinata mendongak pelan dengan wajah yang sangat memerah. "Sekarang cium aku."

Mengangguk pelan, "Uhum..."

Bibir keduanya menempel dengan Hinata yang memulai dan Naruto yang diam menerima.

Pagutan bibir itu semakin liar, bahkan nyatanya kini Naruto melumat bibir sang kekasih penuh gairah namun sangat lembut diasaat bersamaan, hingga lengan Hinata mengalung pada lehernya dengan posisi masih berada diatas paha. Sungguh ini pemandangan yang terlampau mesra.

Mengerang menikmati cumbuan tersebut. Hinata membalas lumatan Naruto tak kalah sensual. Saling mengecap manisnya ciuman itu dengan lidah yang menari didalamnya dengan suara kecipik serta lenguhan mengerang sebagai alunan musik pengatar ciuman mereka.

Surai kuning Naruto diremas dengan sangat gemas oleh Hinata, menyalurkan bagaimana sensasi dari ciuman tersebut. Sungguh baru kali ini Hinata merasakan gairah yang membuat tubuhnya memanas setelah sekian banyak ia berciuman dengan Naruto, namun kali ini terasa berbeda.

Semakin gencar lumatan Naruto kali ini. Terasa sangat liar dan kuat dibaringi dengan pinggang Hinata yang kian merapat akibat ulahnya. Bahkan suara kecapan halus kini menjadi lebih keras dan mendesah.

"Emmhh Naruhtoh-kunhh umgh..."

Tak dapat berpikir jernih sama sekali, Hinata mengerang dengan desahan yang sangat erotis, membuat Naruto menegang mengabaikan pasokan oksigen yang mulai dibutuhkannya. Bagi keduanya ini sungguh memabukkan.

Ciuman panas tersebut berakhir dengan wajah yang masih sangat dekat. Benang saliva yang bercampur itu masih terpaut pada bibir masing masing, membuat sang pria bertidak dengan menghisapnya pelan tanpa ada rasa jijik sedikitpun.

"Terimakasih..." ujar Naruto sembari memberi kecupan singkat pada bibir Hinata, ia kali ini menempelkan begitu lama wajahnya dengan wajah sang gadis.

'A-apa benar jika i-ini Naru-kun? Kenapa dia bisa berubah sangat jauh dari biasanya? Itu tadi sungguh romantis, t-tapi aku sangat tak menyangka... Naru-kun mesum ahh..."

"Naru-kun, sebenarnya ada apa?" tanya Hinata membuat Naruto mengernyit.

"Memang Naru terlihat aneh?" tanyanya balik.

Hinata tersenyum jahil, ia mencolek pipi sang kekasih. "Naru-kun sekarang nakal..."

Naruto diam, ia hanya merespon dengan kedipan mata, "Nakal bagaimana?"

"Seperti yang tadi." jawab Hinata meronakan wajah cantiknya.

"Biarkan saja," menelusupkan wajahnya yang kini tersipu pada perpotongan leher sang gadis, membuat Hinata mendesis pelan merasakan geli diarea lehernya kala nafas hangat Naruto menerpa disana. "Hinata hanya milikku."

Mengelus dan terkadang meremas surai pirang sang pria. Hinata tersenyum melihat tingkah manja kekasihnya, "Iya..." memekik kaget kala Naruto memeluk tubuhnya erat, ia sungguh tegang dengan posisi dadanya yang begitu menekan dada bidang Naruto, ditambah bibir Naruto yang mengecupi leher jenjang miliknya, "Nah-naruhh..."

Meski terdapat sedikit penolakan, namun tubuh Hinata sungguh terlihat suka dengan hal ini, terbukti dengan adanya remasan pada surai kuning Naruto, ditambah lenguhan kecil yang keluar walaupun sudah dengan kuat menggigit bibir bawahnya. Hinata tak dapat menolak perlakuan mesum kekasihnya, sungguh ia tak menyangka jika akan seperti ini dampak yang ditimbulakan dari teganganya serta panasnya tubuh keduanya, membuat insting pria dari sang kekasih menerjunkannya pada kegiatan yang jauh dari sikapnya.

Bercak merah kecil tercipta pada leher mulus Hinata, gigitan kecil dari Naruto membuat bercak kemerahan itu terpampang menjalar dipadukan wajah meronanya semakin merah bahkan sampai ketelinga.

Naruto mengusap leher Hinata, ia menatap tanda kepemilikannya dengan sangat intens. "Memerah?" ia mendongak melihat wajah merona sang kekasih, "Hinata, apa itu sakit...?"

Tak dapat lagi Hinata berkata, hanya pelukan mendadak yang diberikannya. Dalam hati ia sungguh tak menduga jika Naruto akan membuat tanda dilehernya, membuatnya malu seribu bulan meski terdapat senyum tipis dibibirnya.

"Naru-kun mesum." mencicit pelan seraya mengeratkan pelukan pada leher si pirang.

Naruto terkekeh, ia mengusap lembut surai biru kelam Hinata, membuat Hinata semakin malu dengan resoon itu, hingga semakin dalam disembunyikan wajah meronanya pada ceruk leher sang kekasih, terkadang juga ia mengeluskan hidung mungilnya disana.

Menampilakan wajah ringisan kekehan kecil. Naruto sedikit geli pada lehernya. "Hinata, ge-geli..." ucapnya menginginkan Hinata berhenti, namun Hinata malah tertawa kecil seolah dapat membalas perbuatan sang kekasih yang membuat bercak kemerahan pada lehernya.

Kemesraan mereka terganggu saat ada getaran ponsel dari saku Naruto berdering menandakan ada panggilan masuk untuknya.

"Halo..."

"Baiklah, besok kita bertemu..."

Sambungan terputus, menyisakan Hinata yang bingung dengan keadaan sang kekasih yang terlihat serius tak seperti biasanya, bahkan ada guratan geram pada wajahnya.

"Naru-kun? A-ada apa?" Naruto menghadapnya, ia menatap sendu, membuat Hinata khawatir juga penasaran, "Sebenarnya ada apa? Katakan itu tadi siapa?!" kali ini Naruto menunduk mendengar pertanyaan menuntut tersebut, "Naru-kun sudah berjanji tidak boleh merahasiakan sesuatu bukan?"

Naruto mengangguk pelan, ia tak ingin memberitahu Hinata, namun ia juga sudah berjanji tak akan merahasiakan sesuatu. "Tapi Hinata jangan marah..."

Menatap Naruto dalam, Hinata sungguh tak tau apa sebenarnya yang terjadi, "Katakan!" ucapnya menekan.

"A-aku besok harus bertemu dengan To-toneri..."

Iris Amethyst-nya membulat sempurna, mulutnya bahkan terbuka lebar dengan penuturan Naruto. Sungguh ia tercekat dengan hal itu, dan Hinata yakin jika ini tidak baik bagi Naruto untuk kedepannya.

"Tidak boleh!" perintahnya mutlak, sedangkan Naruto hanya menunduk.

"Ta-tapi..."

"Jika Naru-kun tetap bertemu dengannya, aku yang tak akan mau bertemu denganmu lagi." Hinata turun dari pangkuan si pirang, ia berdiri seraya melipat tangan didepan dada, wajahnya memancarkan ketidaksukaan yang mematen.

"Tapi, bagaimana jika Toneri mengambil Hinata?" Naruto mendongak perlahan, ia sebenarnya tak mau melihat wajah marah Hinata.

Kembali terkejut, Hinata yakin jika Toneri merencanakan sesuatu. "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Dan juga alasan Toneri ingin bertemu dengan Naru-kun."

Kepalanya kembali menunduk, ia yakin tak akan bisa bertemu Toneri jika Hinata seperti ini.

"Toneri mengajakku berkelahi." Hinata terpengangah, "Jika Naru menang, Toneri tidak akan menganggu Hinata, dan jika Naru tidak mau, Toneri malah akan mengambil Hinata... Aku tidak mau jika dia mengambil Hinata."

Hinata sungguh tak menyangka Toneri bertindak sejauh ini, namun lebih dari itu ia tak akan membiarkan Naruto berkelahi dengan pria Otsutsuki itu, lagipula Hinata yakin jika dengan mudah Toneri mengalahkan Naruto, mengingat sang kekasih tak dapat beladiri.

Mengambil duduk bersebelah dengan sang pria, iris matanya menatap Naruto tak bergeming. "Aku tidak mau tau, yang pasti Naru-kun tidak boleh bertemu apalagi berkelahi dengannya. Aku yang akan berbicara padanya..."

"Ta-tapi Hinata. Bagaimana jika Hinata kenapa-napa?" ujarnya langsung menampilkan kekagetan dengan penuturan sang gadis.

"Tidak akan terjadi apapun," kali ini suaranya melembut, "Tapi jika Naru-kun yang datang, aku tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi."

"Tapi, a-aku tidak bisa... Aku harus me-"

"Naru-kun!" potongnya menekan, membuat Naruto diam. "Hahh- aku berjanji tak akan terjadi apapun..."

Naruto melengkungkan bibirnya kebawah, sungguh ia tak bisa menuruti Hinata, namun ia juga tak bisa jika Hinata sudah seperti ini.

"Baiklah..." ucapnya lirih menyendu.

'Lihat saja kau Toneri! Beraninya kau memanfaatkan kepolosannya... Kali ini kau keterlaluan.'

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung...