Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
RWBY: Monty Oum
.
.
.
Pairing: (belum diketahui)
Genre: fantasy, scifi, supernatural, romance, crime
Rating: M
Setting: AU (Alternate Universe)
.
.
.
Ancient Medals
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Chapter 1. Panggilan dari tebing
.
.
.
Kepala laki-laki berambut pirang itu menunduk karena sedang bersedih. Betapa tidak, dirinya duduk seorang diri di bangku logam yang terletak di koridor. Banyak orang yang melewatinya, mengabaikannya.
"Hei, apa kalian tahu? Laki-laki itu tidak memiliki manna."
"Eh? Apa itu benar?"
"Benar."
"Tapi, di kelas lain, ada satu orang lagi yang tidak memiliki manna."
"Siapa satu orang lagi itu?"
Semua orang membicarakan laki-laki berambut pirang yang sedang menyendiri itu. Mereka berbisik pelan, tetapi pemuda berambut pirang bisa mendengarkan. Karena itu, laki-laki itu memilih pergi dari sana.
Namikaze Naruto, nama laki-laki berambut pirang itu, berlari cepat melewati arus keramaian di koridor itu. Menyembunyikan wajah sedih agar tidak tertangkap oleh orang-orang. Matanya berkaca-kaca. Hatinya mencoba menahan isakan air mata yang hendak meledak.
Naruto pergi ke belakang gedung sekolah berbentuk menyerupai tabung, tetapi berdesain futuristik. Banyak pepohonan rindang dan pohon Sakura yang menghiasi tempat itu, dengan dikelilingi tebing setinggi lima belas meter. Bersama angin yang bertiup pelan, menambah kesegaran di siang hari, saat istirahat.
Naruto duduk di bawah pohon Sakura. Menyandarkan punggungnya di batang pohon. Kepalanya menengadah ke langit. Teringat dengan guru yang telah mengajaknya untuk bersekolah di tempat elit ini.
Mungkin lebih baik, aku kembali ke jalanan daripada dikucil seperti ini, batin Naruto.
Naruto adalah anak yatim-piatu. Dia hidup sendirian di jalanan sejak berumur tujuh tahun. Selalu mencuri untuk keperluan perutnya agar tidak kelaparan dan kehausan.
Seminggu yang lalu, ada guru laki-laki berbaik hati yang menawarinya beasiswa untuk bersekolah di Beacom Academy. Sekolah elit yang ada di kerajaan Vale. Semula Naruto menolak, tetapi guru itu menjanjikan kehidupan yang lebih baik untuknya, mengetuk hatinya untuk menerima beasiswa itu.
Pihak sekolah mengetahui ada kesalahan pada diri Naruto setelah Naruto menjalani beberapa pembelajaran -- Naruto tidak memiliki manna. Mereka menganggap beasiswa itu salah diberikan pada Naruto. Namun, guru yang telah memberi beasiswa untuk Naruto, membela Naruto mati-matian. Sehingga pihak sekolah tetap menerima Naruto, tetapi dengan batas waktu yang ditentukan.
"Naruto, kau harus menjalani injeksi manna buatan di laboratorium kerajaan. Tapi, aku tidak tahu apa resikonya jika kau menjalani injeksi itu, saat berumur tujuh belas tahun. Tapi, aku akan bertanya pada temanku yang bekerja di laboratorium itu."
Naruto teringat ucapan guru baik hati itu ketika di lorong. Guru itu tersenyum, membelai lembut pucuk kepala Naruto. Memperlakukan Naruto seperti anak sendiri.
"Aaah, aku harus melakukan apa sekarang?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.
"Kau tidak boleh sedih karena perlakuan orang-orang padamu," jawab gadis yang berjalan mendekati Naruto. Kedatangannya yang tiba-tiba, mengejutkan Naruto.
"Eh? Si ... siapa kau?"
Gadis berambut putih-kebiruan panjang yang diikat satu, menghentikan langkah. Berjarak beberapa meter dari Naruto. Berseragam khas Beacom Academy.
"Apa kau tidak mengenaliku?" tanya gadis itu, mengerutkan kening.
"Mengenalimu?" Naruto tetap membelalakkan mata. "Kurasa, aku tidak mengenalimu."
"Aaah, dasar! Aku saja mengenalimu karena kau memiliki tanda lahir seperti kumis kucing di dua pipimu. Namamu Namikaze Naruto, 'kan?"
"Benar. Tapi, mengapa kau bisa mengenaliku?"
"Kau pernah menyelamatkan aku dari kejaran para pengawal. Apa kau ingat?"
Naruto ternganga. Membulatkan mata sempurna lagi. Otaknya sedang berputar untuk mencari rekaman ingatan masa lalu. Butuh waktu yang lama, akhirnya ingatan itu muncul di pikirannya.
"Oh ya, aku pernah menolong gadis kecil yang dikejar oleh para pengawalnya. Nama gadis itu ... Weiss Schnee," ucap Naruto tersentak, melebarkan mata lagi.
"Ya, aku Weiss Schnee," balas Weiss Schnee tersenyum, "syukurlah. Kau masih mengingatku."
"Lalu, mengapa kau malah mendekatiku? Bukankah orang yang tidak memiliki manna, dianggap orang yang tidak berguna? Itu yang kudengar dari orang-orang di sekolah ini."
"Karena kau adalah orang yang pernah menyelamatkanku, tentu aku akan mempedulikanmu. Jangan anggap aku sama dengan mereka."
Weiss menukikkan alis. Raut mukanya yang tampak dingin, mencerminkan keseriusan. Orang-orang mengira dirinya adalah orang yang sangat tertutup, sebab dirinya akan mengucapkan kalimat pedas yang akan menusuk hati. Tapi, di balik wajahnya yang dingin, ada hati yang hangat.
Naruto terkesima dengan perkataan Weiss tadi. Mengukir senyum menyerupai garis lengkung di wajahnya. Hatinya berbunga-bunga karena masih ada yang menganggap keberadaannya.
"Terima kasih karena kau mempedulikanku, Weiss. Apa aku boleh memanggilmu begitu?" tanya Naruto tetap tersenyum.
"Ya, boleh saja," jawab Weiss mengangguk, tanpa tersenyum.
"Apa itu berarti kita berteman sekarang?"
Naruto berdiri, mengulurkan tangan ke arah Weiss. Menampilkan senyum lagi. Matanya melembut. Weiss menatap tangannya, kemudian mengangguk cepat.
"Ya. Kita berteman sekarang," ujar Weiss bertampang datar.
"Syukurlah. Akhirnya aku punya teman juga," sahut Naruto menghela napas panjang. Berusaha menenangkan hatinya yang sempat nelangsa.
Naruto dan Weiss menjauhkan tangan. Perhatian Naruto tertuju ke tebing. Jantungnya berdetak kencang saat menatap tebing sangat lama.
"Kemarilah," ucap suara misterius dari tebing.
"Weiss, apa kau dengar sesuatu dari sana?" tanya Naruto menunjuk ke tebing.
"Tidak. Memangnya kau mendengar apa?" Weiss menggeleng.
"Ada suara yang berkata, 'kemarilah'. Mengisyaratkan aku untuk mendekati tebing itu."
Giliran Weiss melebarkan mata. Tercengang. Weiss terperanjat ketika melihat sinar mata Naruto perlahan meredup. Wajah Naruto sangat hampa.
"Naruto?" Weiss memegang bahu kiri Naruto.
Naruto mengabaikan ucapan Weiss. Pelan-pelan, dia berjalan ke arah tebing. Weiss mengikutinya.
Tebing itu berjarak cukup jauh dari gedung sekolah. Ada hutan yang menjadi pemisahnya dengan halaman belakang sekolah. Naruto dan Weiss menjelajahi hutan yang tidak terlalu luas, lewat jalan setapak yang telah ditumbuhi semak-semak belukar.
"Naruto, tunggu!" seru Weiss mengikuti Naruto dari belakang.
Naruto tetap diam, berjalan sangat cepat sehingga Weiss kewalahan mengejarnya. Mereka berhasil keluar dari hutan dan tiba di kaki tebing.
Naruto berjalan mendekati kaki tebing. Weiss tidak mengikutinya, memilih terpaku di antara pepohonan. Gadis berambut menyerupai warna es itu, melihat Naruto menempelkan tangan kanan di permukaan tebing.
Tiba-tiba, peristiwa yang tidak disangka, muncul. Mengagetkan Weiss. Simbol sihir segitiga jingga muncul di sekeliling tangan Naruto yang melekat di permukaan tebing. Dari tengah simbol sihir itu, sesuatu sebesar koin keluar dan merasuk ke telapak tangan Naruto.
Naruto berteriak karena proses benda asing masuk ke tangannya. Rasanya sangat sakit seperti diinjeksi. Proses itu berlangsung hanya beberapa detik saja.
Naruto merasakan tangan kanannya menegang. Tidak bisa digerakkan. Seluruh darahnya mengalir sangat cepat karena efek jantung yang berdetak laju. Kepalanya sakit, seolah berputar.
"Naruto!" pekik Weiss. Gadis itu berlari menghampiri Naruto.
Naruto tumbang ke belakang karena tidak kuat menahan perasaan sakit yang mendera dirinya. Pingsan. Untung, Weiss menangkapnya dan membelit perutnya dari samping.
"Naruto! Bangun! Bangun!" Weiss bertampang kusut. Panik sekali. Menggoyang-goyangkan badan Naruto, berharap Naruto sadar. Namun, usahanya itu tidak membuahkan hasil.
Weiss nyaris kehilangan akal. Memutuskan merebahkan Naruto ke tanah berlapis rerumputan. Kemudian berlari memasuki hutan dan kembali ke sekolah untuk meminta bantuan.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Cerita baru publish. Terinspirasi dari mimpi. Terus saya memutuskan untuk menulisnya cepat agar tidak lupa. Jadi, mohon maaf jika kalian menganggap saya terlalu banyak membuat cerita, tetapi tidak melanjutkannya. Itu saya lakukan agar cerita-cerita yang saya dapatkan, tidak hilang dari pikiran, lebih baik ditulis dan dipublish. Jadi, saya tidak bosan untuk menulis.
Cerita ini juga dipersembahkan untuk seorang reader yang merequest cerita di fandom Naruto x RWBY ini. Entah reader dari Wattpad atau Fanfiction. Saya nggak tau namanya, lupa. Maaf, saya bisa mewujudkannya sekarang.
Oke, bagaimana pendapatmu tentang cerita ini? Memang temanya pasaran, mungkin ya? Tapi, saya akan berusaha menyajikannya dengan cara berbeda.
Sekian sampai di sini, terima kasih.
Dari Hikayasa Hikari
Rabu, 23 November 2022
