Feeling
Summary: Naruto dan Hitori merupakan pasangan muda. Hari-hari mereka lalui dengan banyak hal. Salah satunya urusan ranjang.
Disclaimer: Naruto dan Bocchi the Rock hanya dimiliki oleh pembuatnya masing-masing.
Warning:
Summary hampir gak sesuai dengan isi cerita. Adult scene. Lemon. OOC. Creampie. Breast sucking.
I Hope You All Enjoy This Story :)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pada saat malam hari, tepatnya dalam ruangan di sebuah rumah, dua orang remaja nampak sedang memainkan game konsol, satu lelaki dan satunya lagi perempuan. Mereka bermain sambil ditemani makanan ringan dan minuman kaleng.
"Sihir penyembuhan!"
"Siap!"
Mereka bernama Namikaze Naruto dan Namikaze (Gotoh) Hitori. Sepasang pasutri muda yang bisa dikatakan unik karena sifat mereka bertolak belakang.
Naruto adalah seorang lelaki ramah dan ceria pada siapa saja, sementara di satu sisi, Hitori merupakan seorang gadis kikuk dan mudah canggung bila bertemu orang banyak. Akan tetapi, jika hanya berdua saja, maka Hitori akan menunjukkan sikap aslinya. Yaitu maniak game.
"Naruto! Sekarang!"
"Ya!"
Tulisan [Victory] bisa terlihat di layar televisi. Naruto dan Hitori senang ketika melihat itu. Keduanya berdiri dan segera menari bersama.
"Kita berhasil!"
"Ya!"
"Kita dapat ke level berikutnya!"
"Ya!"
Keduanya bersorak. "Woohoo!"
Karena terlalu bersemangat, mereka terjatuh ke tempat tidur, dengan posisi Hitori menindih badan Naruto. Hitori terbelalak sementara Naruto biasa saja, malah lelaki itu nampak menyukai keadaan mereka yang sekarang. Gadis manis itu segera berdiri.
"M-Maaf, kau baik-baik saja, Naruto?"
Naruto segera beranjak dari kasur dengan senyum lebar di wajahnya, berbicara.
"Ini bukan masalah, Hitori-chan, terlebih lagi kita adalah pasangan suami-istri, jadi hal ini wajar kurasa," katanya.
Hitori mengangguk cepat. "B-Benar ya, kita pasangan suami istri jadi saling mendorong itu wajar, d-dan jika kau ingin membantingku, a-aku tetap setia padamu."
Naruto sweatdrop.
"Hitori-chan. Itu sudah termasuk KDRT namanya."
"Eh? O-Oh… kau benar."
Hitori merasa malu sendiri.
Naruto tersenyum.
"Kebetulan aku merasa lapar, bagaimana kalau kita makan malam?" ajaknya.
"Y-Ya, kau benar juga. Ayo."
Mereka membereskan peralatan konsol lalu keluar dari kamar ini, berjalan turun ke bawah sebelum masuk ke ruang dapur. Naruto memilih duduk, sementara Hitori mengikat rambutnya dengan ikat rambut kemudian memakai apron. Naruto mengamati penampilan istrinya itu. Merasa diperhatikan, Hitori melirik ke arah suaminya, dan raut wajah gadis itu nampak cemas.
"A-Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanyanya.
Naruto menyengir lalu bicara.
"Tidak, hanya saja … aku berpikir betapa beruntungnya diriku, bisa menikahi istri cantik sepertimu," katanya jujur.
Hitori merona, kembali fokus memasak dengan tujuan agar ekspresi malunya tidak terlihat. Meskipun tahu hal ini, Naruto hanya terkekeh dan tidak mengatakan apapun. Saat makanan siap, keduanya duduk berlawanan di meja makan, mengucapkan "Selamat makan." sebelum menyantap hidangan tersebut.
Selesai makan malam, Naruto pindah ke area lain, sementara Hitori mencuci bersih peralatan bekas makan mereka di wastafel sebelum mengeringkan lengannya. Puas, Hitori menyusul suaminya ke ruang tamu, melihat Naruto tengah menyaksikan TV sembari duduk di sofa. Naruto menyadari kedatangan Hitori.
"Kemarilah, temani aku nonton," ajaknya.
Hitori mengangguk lalu duduk di samping lelaki pirang itu. Mereka menyaksikan acara humor yang bisa dibilang lucu saat ini.
Naruto tertawa kecil. "Pelawaknya lucu juga."
"Aku setuju." Hitori merespon.
"Oh iya, Hitori-chan, apakah kebutuhan dapur kita sudah berkurang?"
"Tidak juga. Terlebih baru kemarin sore aku pergi belanja ke mini-market."
Naruto berkedip, tersenyum simpul lalu mengelus rambut pink istrinya itu.
"Kerja bagus, aku bangga padamu," puji Naruto.
Hitori berseri.
"Ehehehe, puji aku lagi."
"Baiklah, kau adalah istri yang terbaik, dattebayo."
"Ehehehehehe~"
Hitori bahagia, memeluk lengan Naruto dan tidak lupa membiarkan kepalanya di bahu suaminya. Naruto terkekeh dan mengusap lagi rambut Hitori. Setelah cukup lama menyaksikan televisi, Naruto mendapat pemikiran lain dan berbicara.
"Hitori-chan."
"Hm?"
"Bagaimana kalau kita…"
Naruto berbisik di telinga Hitori. Setelah mendengarnya, wajah Hitori sedikit merah, kemudian dia mengangguk pertanda paham. Hitori berdiri dari sofa kemudian naik ke pangkuan Naruto.
"A-Akan kulakukan."
Hitori menekan bibirnya pada bibir Naruto, menciumnya dengan lembut sementara lengannya menyelimuti leher Naruto, bermaksud memakai itu sebagai pegangan. Naruto mencium balik Hitori, kedua tangannya turun ke bawah, dari pinggang menuju anggota badan lain. Naruto lalu meremas bokong gadis itu.
"Hnggh..."
Hitori mengerang, dan itu dimanfaatkan Naruto untuk menyusupkan lidahnya ke dalam mulutnya, di saat bersamaan masih memainkan pantat indahnya. Mereka berciuman dan sesekali bersilat lidah. Setelah dirasa cukup, Naruto mengangkat Hitori, menggendongnya ke kamar mereka yang terletak di lantai atas. Di dalam kamar, Naruto dengan hati-hati menurunkan Hitori ke kasur. Mereka berciuman lagi dengan posisi Naruto di atas dan Hitori di bawah. Cukup lama seperti itu, karena kebutuhan bernafas, mereka akhirnya berhenti.
"Mau langsung saja?"
"Y-Ya."
Mereka berdiri di lantai dan melepas pakaiannya masing-masing sampai jatuh. Naruto duduk di tepi kasur, sedangkan Hitori berlutut di depan penisnya, yang mula-mula menjilat bagian buah zakar lalu naik ke bagian kepala. Hitori mengulum penis suaminya dengan lembut dan tidak tergesa-gesa. Memejamkan mata, Naruto menyukai mulut Hitori yang sedang memanjakan alat kelaminnya, lalu mengusap pelan rambut pink gadis itu.
"Sssh, kau begitu hebat Hitori-chan."
Diselimuti rasa senang, Hitori mengisap lebih keras, sehingga membuat Naruto keenakan dan akhirnya tidak tahan.
"H-Hitori-chan, aku…"
Merasakan sesuatu yang hangat, dia menelan itu semua, lalu mengeluarkan penis Naruto dari mulutnya. Hitori menjilat sisa cairan sperma yang tersisa sebelum berdiri. Dengan percaya diri, Hitori naik ke pangkuan suaminya, kemudian menurunkan pinggangnya sampai penis Naruto masuk ke dalam liang kewanitaannya. Mereka mendesah saat penyatuan itu berhasil.
"Haahn, Hitori-chan…"
"Ahh, Naru…"
Hitori mengangkat lalu menurunkan pinggulnya secara berulang. Tidak ketinggalan, Naruto meremas buah dada istrinya yang terlalu menggoda untuk diabaikan, sensasi mereka begitu empuk dan juga kenyal. Sudah cukup lama seperti ini, Naruto mengisap puting payudara kanan Hitori, membuat istrinya itu lebih bergairah dari sebelumnya. Beberapa saat kemudian, mereka terhenti, Hitori turun lalu naik ke kasur, sementara Naruto mendorong penisnya masuk ke vaginanya. Kali ini mereka berganti posisi dengan doggy-style.
Plak. Plak. Plak.
"Ahh~ ahhn~ ahh~"
Plak. Plak. Plak.
"Mmnn~ ahh~ ahh~"
Plak. Plak. Plak.
"Ahh~ ah~ ahh~"
Naruto menggerakkan pinggulnya maju-mundur sembari meremas buah dada istrinya. Sementara itu, Hitori mendesah tidak karuan akibat kenikmatan yang diterimanya. Namun, untuk sesaat, Hitori berbicara.
"B-Berbalik."
Naruto menuruti permintaan istrinya, mencabut penisnya, lalu melihat Hitori memutar badan sampai wajah mereka berhadapan. Naruto memasukkan penisnya kemudian menggenjot vagina Hitori sekali lagi. Sambil menggerakkan pinggulnya, Naruto mengisap puting susu bagian kanan, alhasil Hitori menjadi keenakan karenanya. Hitori mendesah sambil menekan muka Naruto dengan tangannya.
"Ahh~ ahh~ ahhn~ Naru~"
Beralih ke anggota badan lain, Naruto mencium bibir Hitori, mereka berciuman dengan salah satunya masih terus menggenjot tanpa henti. Tidak mau kalah, Hitori mengalungkan lengannya pada leher Naruto, menekan wajahnya supaya memperdalam ciuman mereka.
Sudah cukup lama seperti itu, mereka merasakan sesuatu akan meletus.
"N-Naruto, aku..."
"K-Kita lakukan bersama-sama."
Naruto dan Hitori klimaks secara bersamaan. Tubuh mereka nampak berkeringat, tapi di sisi lain, ekspresi puas nampak di muka mereka. Perlahan, Naruto menjatuhkan wajahnya di antara buah dada Hitori, sontak aksi itu membuat istrinya geli.
"Umm, Naruto?"
"Hanya sebentar..."
"Ah, baiklah."
Hitori tersenyum tipis, mengelus rambut pirang suaminya.
"Terima kasih."
Naruto mengangkat wajahnya, penasaran lalu berbicara.
"Untuk apa?"
"Karena menerimaku apa adanya."
Hitori masih mengingat pertemuan pertama mereka di sekolah.
Awalnya, Naruto adalah siswa transfer yang pindah ke sekolah Hitori, dan kebetulan mereka satu kelas. Tidak jarang Naruto berusaha mengajak Hitori berteman, walau pada akhirnya, Hitori selalu kabur saking canggungnya dia untuk berbincang saja.
Namun, pada waktu tertentu, Naruto pernah menyelamatkan Hitori dari kejaran anjing liar ketika pulang sekolah. Saat itu juga, Hitori mulai menyukai Naruto, dan menyimpan perasaan untuknya.
Beruntung, Naruto juga menyukai Hitori, mengatakan kalau dirinya itu 'manis' dan 'imut'. Tak hanya itu, mereka juga mempunyai hobi yang sama, bahkan hingga sekarang Naruto dan Hitori masih bermain game kalau ada waktu luang.
Kalau dipikirkan lagi, Hitori dapat dikatakan beruntung mampu bersama dengan Naruto.
Naruto terkekeh, mengusap lembut rambut pink Hitori.
"Bukankah sudah kubilang berapa kali? Kau itu manis, baik, lucu dan menurutku, itu saja sudah cukup bagiku. Terlebih lagi, tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentangmu… kau adalah wanita yang kusayangi, dan itu tak akan berubah sampai kapan pun juga," katanya serius.
Mata Hitori berkaca-kaca. Gadis itu segera memeluk suaminya.
"*hiks*, terima kasih, karena telah mencintaiku.."
Naruto memeluk balik, tidak lupa mengelus punggungnya. "Ya, sama-sama, dattebayo."
Setelah melepas pelukan, Naruto dan Hitori membersihkan bekas kegiatan seksual mereka di ruangan ini, memakai baju tidur lalu naik ke kasur lagi. Hitori memeluk erat lengan Naruto, seakan tidak ingin melepaskannya begitu saja. Tentunya Naruto tak ambil pusing dengan itu.
"Naruto."
"Hm?"
Hitori nampak malu.
"S-Setiap bangun pagi, maukah kamu…"
Naruto menunggu istrinya berbicara lagi.
"…kubangunkan, dengan ciuman?"
Naruto berkedip, lalu berseri. "Boleh saja. Aku tidak keberatan."
Hitori senang.
"A-Aku pasti, akan jadi i-istri yang baik untukmu," katanya.
"Kau sudah melakukannya semenjak lama, Hitori-chan."
"Benarkah? Ehehehe~"
Naruto terkekeh. Dia lalu berbicara.
"Hitori-chan. Lampu."
"Ah, iya."
Mereka tidur saat lampu di ruangan ini padam.
[E-N-D]
A/N: Bocchi-chan itu imut ;v
