Masih kuingat masa smp yang jadi pertemuan pertama antara aku dan dia. Padahal tak ada yang spesial selama waktu itu tapi entah kenapa hubungan kami tak pernah putus setelah lulus smp bahkan sampai sekarang saat kami sudah menginjak kelas dua sma.
Dulu saat pertama melihat dia aku hanya menganggap dia menarik. Kami akrab seperti teman biasa. Hingga entah bagaimana awalnya, aku dulu sampai sekarang mengejar-ngejar cintanya meski padahal aku tak menyukainya.
Ah iya, itu berawal dari ada orang yang tahu kediamanya yang hanya tinggal beberapa ratus meter dari kediamanku, orang itu menjodoh-jodohkan kami, dari dia merembes ke yang lain. Aku tak keberatan dan hanya tersenyum malu saat di jodoh-jodohkan. Berbeda dengannya, dia sedikit marah dan menyatakan diri tidak tertarik padaku.
Aku tidak terluka, tidak marah, tidak dendam karena dari awal aku memang tidak menyukainya. Tapi ada sesuatu di hatiku seperti ketidakpuasan yang menyuruhku untuk membuat dia tertarik padaku agar hatiku puas.
Dari situlah dimulai dengan banyaknya provokasi di sekitarku juga aku memulai pendekatanku pada dia. Tiap malam aku mengirim pesan walau tak dibalas, saat berkumpul kucari kesempatan untuk merayunya, bahkan dalam kesempatan itu aku terkadang mengatakan "Aku menyukaimu jadilah pacarku!" aku seberani itu karena kuyakin dia pasti akan menolak pernyataan ku itu. Lagipula jika dia menerimaku langsung rasanya rasa tidak puas itu makin bertambah.
Aku tak menyadarinya. Sejak hari aku di jodoh-jodohkan oleh teman sekelasku hari-hariku terasa lebih menyenangkan, terasa bersemangat saat melihat dia di sekolah, melihat dia menanggapi rayuanku dengan memeletkan lidahnya. Itu seperti ada perasaan asing namun tak asing yang masuk kedalam hatiku. Itu aneh namun aku tak merasa aneh. Ini seperti aku bahagia.
Setelah lulus smp dia pergi ke luar kota. kami pergi ke sekolah yang berbeda akhirnya. Aku kesepian, merasa akan sulit untuk tahun kedepan. Aku tidak tahu, aku pun aneh dengan itu padahal dari awal aku tidak menyukainya. Aku merayunya hanya saat dilihat teman-temanku, kami bertukar pesan tapi aku tidak pernah merayunya itu pun(mengirim pesan) sudah tidak lagi sejak aku mengejar-ngejarnya.
Sebenarnya aku takut dia menerima cintaku, aku takut dia juga suka padaku. Dan entah kenapa saat dia terus menolakku aku merasa aman. Aku sebernya kenapa? Ini perasaan apa namanya?
Tapi sekarang kami berpisah dan aku jadi merasa takut hari hari seperti biasaku hilang. Dia di kota berbeda, sekolah berbeda dan rumahnya tidak lagi beberapa ratus meter dari rumahku, walau rumah itu masih ada di sana karena itu rumah neneknya.
Aku menatap hpku melihat history pesan dia dan aku. Beberapa minggu setelah kelulusan aku mengirim padanya, bertanya kabarnya dan apakah dia diterima di sekolah yang diinginkannya. Kukira pesanku itu tidak akan dibalas tapi sebuah pesan sederhana darinya yang hanya berkata "Iya." membuat semangat ku melambung. Saat kusadari aku senang.
Setelah itupun kami terus bertukar pesan, walau awalnya dia hanya membalas singkat pesanku tapi lama kelamaan dia mulai sedikit bertanya padaku. Dibalas pesannyapun aku sudah senang, padahal waktu smp dia tidak pernah membalas pesanku sesering ini.
Satu tahun. Perasaanku tetap nyaman dengan saling menerima pesan dengannya. Sepertinya aku jatuh cinta padanya, baru kusadari saat ku kelas 2 sma dia adalah cinta pertamaku. Padahal aku hanya terbawa alur dulu.
Lalu hari ini. Dia bilang kalau dia akan datang ke sini, ke tempat yang dulu pernah dia tinggali. Dia akan pulang kampung.
Aku bersemangat saat tahu itu, tapi langsung gugup setelah menyadari aku harus menyapa nya lagi, walaupun dia tidak memintaku untuk menemuinya.
"Sudah lama ya?"
"Hm.. ya."
Aku berlatih dengan menyapa kaca. Kukira sedikit hambar jika tidak ku peragakan cara dia menyapa sapaanku jadi aku memperagakannya.
"Apa kau.. sudah gila?"
"Tentu tidak! Kenapa kau main masuk saja ke kamarku Ayah!"
Seseorang malah kebetulan masuk dan melihat ku , dia menanyakan apakah aku sudah gila dengan wajah bersemangat, dan orang menyebalkan itu adalah Ayahku.
Siangnya aku keluar untuk jalan-jalan. Hari ini libur sekolah jadi ini masih pukul 10 pagi aku keluar rumah.
Aku berjalan menuju rumah dia yang dulu. Berharap dia sudah sampai saat aku tiba disana, atau kami berpapasan saat ku dalam perjalanan ke sana.
Aku tak sabar untuk melihatnya, cinta pertamaku.
Butuh waktu 15 menit aku untuk sampai.
Ada dua mobil yang terparkir. Aku berhenti beberapa puluh meter dari mobil itu. Kukira aku belum siap.
"Cepat bawa itu! Lambat."
"Diam kau! Akukan baru saja bangun!"
Itu dia, kupikir. Pikiranku langsung mengatakannya. Ada dua orang, laki-laki dan perempuan keluar dari mobil masing-masingnya membawa tas.
Yang perempuan kupikir itu dia.
"Huft..."
Aku menarik napasku dalam-dalam. Niatku kesini memang untuk menemuinya aku tidak akan ragu. Aku hanya butuh tarikan napas sekali lagi.
"Huh.. ini sulit."
Kakiku terasa berat. Dalam hati dan pikiranku terus mencemooh tindakanku yang sekarang sangat bodoh. Menghampiri seseorang yang dulu pernah kurayu untuk jadi bahan lelucon. Itu menahanku, ini tidak akan berhasil aku akan mati dalam rasa malu, teriak pikiranku.
"Baiklah pertama mengirim dia chat."
Aku menulis 'apa kabar' disana dan mengirimnya.
Itu langsung dibalas.
"Cepat sekali!"
Aku hampir berteriak kencang. Disana tertulis 'Baik' pendek sekali dan dingin. Kupikir dia hanya kebetulan sedang stand by memegang hp dan notip chat ku langsung muncul jadi dia langsung membalasnya. Ya pasti itu.
Aku membalas 'apa kau sudah sampai?' Butuh 3 menit untuk dia membalasnya lagi.
Dia membalas 'Aku sudah sampai baru saja'
'Oh baguslah kau selamat dijalan berarti.'
'Itu pertanyaan terbesarmu? Itukan sudah terjawab saat aku pertama kali membalas mu! Ah kau membuatku mengetik panjang'
'Haha.. ya kupikir tanganmu hanya kebetulan menempel di layar hp mu saat kau kecelekaan, karena hanya satu kata tadi'
Dia hanya membalas dengan emoticon memeletkan lidah.
"Pfft.."
Aku tersenyum geli. Kupikir ini saatnya untuk mengakhiri.
Tak biasanya dia terasa begitu terbuka.
Ahh.. mungkin dia semakin dekat. Aku merasakan dia semakin dapat aku gapai. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan jika dia kudapatkan? Aku takut semua ini menghilang, semuanya.
Huh.. Sombong sekali aku ini. Memangnya siapa aku ini?
Tapi serius aku takut. Aku takut semua ini berubah.
Hari itu aku pulang ke rumah. Tidur dengan nyenyak sambil memikirkan percakapan singkatku dengan dia sampai pagi.
Dia... Dia.. Dia itu siapa? Namanya.. siapa?
Aku lupa... mimpiku semalam.
--
gabut. pemanasan.
