そっけない
Sokkenai
Indifferent
.
.
-Rum-
.
.
All the characters belong to Hoyoverse.
そっけない by Radwimps.
.
.
.
Ia tak bisa tidur. Berulang kali matanya mengerjap, namun tak kunjung datang rasa kantuk yang ia nanti. Dalam hati ia bertanya mengapa, namun dalam hati yang sama ia tahu apa alasannya.
Jendela ruangan itu sengaja dibuka, membiarkan angin sepoi berhembus menerpa wajah mereka. Hawa hangat dari tubuh-tubuh yang terlelap membuat ruangan itu sedikit lebih panas dari titik toleransi sang pemilik rumah. Acara kecil-kecilan yang digelar dadakan ternyata menguras lebih banyak tenaga dari perkiraan.
Xiangling tertidur memeluk Guoba di sudut ruangan. Chongyun dan Xingqiu bersandar pada satu sama lain, juga terlelap pulas. Sofa di ruangan itu ditempati oleh Paimon dan perutnya yang membuncit, penuh dengan santapan malam itu. Kapten Beidou bersandar di samping sofa, tangan beristirahat di atas perutnya yang juga penuh dengan berbagai hidangan. Kaedehara Kazuha juga ikut dalam keramaian malam itu, tertidur di depan sofa, mendengkur perlahan mengiringi desis angin malam.
Di tengah-tengah ruangan itu, berbaring 2 orang yang juga dimakan oleh lelahnya pesta pora.
Yang satu adalah sang pemilik rumah, sang gadis mentari. Lumine, yang tampaknya juga tidur lelap seperti tamu-tamunya. Punggungnya bergerak membelakangi pemuda disampingnya, yang hingga masih juga terjaga dalam sengsara. Ia ingin pergi dari tempat ini, namun terasa beratnya tubuh yang seakan berbeda mau dengan otaknya.
Bahkan kini, tangannya juga bergerak sendiri, turun dari atas perutnya dan mendarat di samping tubuhnya. Kehangatan dari tubuh Lumine terasa jelas meski tak ada sentuhan fisik antara mereka.
Xiao menatap ke atap ruangan, mendapati lampu dengan binar kuning remang, memberi kesan hangat ke setiap sudut ruangan. Pipi pemuda itu juga terasa panas, namun bukan karena cahaya lampu yang sama, melainkan sinar wajah sang gadis bersurai mentari yang kini juga memenuhi benaknya. Xiao mencuri lirik pada sosok di sampingnya. Hanya punggung yang ia dapati disana, namun itu pun tak mengapa. Jarak mereka saat ini sudah mampu membuat jantung Xiao menderu, semakin tak karuan seiring waktu.
Manik kelam Xiao bergerak menjelajahi ruangan. Furnitur dan orang-orang yang pulas tertidur di sekitarnya. Satu persatu ia lihat dengan seksama, mengingat wajah senyum dan tawa mereka selama acara. Matanya terhenti pada Kazuha, yang baru hari ini juga ia kenal lewat Lumine. Pemuda Inazuma yang kini ikut dengan rombongan Beidou melintasi lautan Teyvat.
Xiao ingat wajah Lumine saat mengenalkannya pada Kazuha.
Ekspresi senyum hangat yang tak berbeda dari biasa, hanya semakin manis setiap dilihatnya.
Xiao menutup mata untuk sesaat.
Malu Xiao untuk mengakui, namun ia mempertanyakan senyum sang gadis yang tampaknya kian hangat di sekitar pemuda itu. Apakah memang karena perayaan yang meriah itu menambah suasana, atau adakah rasa lain yang bermain di hati Lumine saat iris emasnya menatap sang surai pucat itu?
Keringat menetes jatuh di pelipisnya, menyadarkan Xiao bahwa pikirannya sudah terlalu jauh menerka-nerka.
Kembali ia melirik sang gadis dan surai emasnya.
Gadis itu memang tak pernah menyatakan atau bahkan menjanjikan rasa padanya.
Tapi apakah salah jika Xiao mendapati semua tingkah dan laku Lumine padanya seakan menyiratkan tanda? Rasa yang tak pernah dijanjikan atau terucap di antara keduanya, apakah salah jika setelah semua hal yang mereka lewati, salahkah jika Xiao mendambakannya?
Atau apakah Lumine memang selalu baik hati pada semua orang?
Bukan dugaan yang bodoh, kan? Gadis itu telah bertualang ke tempat yang mungkin hanya bisa ia bayangkan. Empat negara di Teyvat telah ia langkahi, di keempat tempat itu juga ia telah menulis sejarah dalam namanya sendiri. Gadis itu bukan miliknya seorang. Meski selama ini mereka bersama, hal itu membuat Xiao merasa kurang.
Atau apakah cara Xiao melihat semua ini salah?
Belum sempat ia terpikirkan oleh hal lain, pergerakan dari orang di sebelahnya membuat Xiao terkejut dan waspada. Bukan dalam konteks bahaya akan serangan musuh yang tak terduga, namun karena jantungnya yang kini tak karuan melihat wajah Lumine, terbaring tepat di sampingnya, menghadap pada tubuh Xiao. Bahu Lumine hanya sejengkal berjarak dari pundaknya, dan jemari sang gadis nyaris menyentuh jemarinya. Mata Xiao mencuri pandang ke arah kelopak mata yang tertutup itu. Alis mata, bulu mata dan bentuk hidung, serta bibir yang terkatup dalam lelap. Lumine itu sangat cantik, saat ia bangun maupun saat tidur. Xiao yakin pendapat itu bersifat universal di antara semua mata yang menjatuhkan pandangan di wajah sang gadis.
Xiao membuang pandangannya ke arah lain.
Ia merasa bersalah melihat Lumine di jarak sedekat ini. Tidak jelas lagi apa yang sebenarnya ia hadapi. Apakah itu cinta atau hanya obsesi? Apakah ia ingin memiliki atau mendambakan rasa dimiliki? Atau apakah jemari Lumine yang kini menempel pada punggung tangannya membuat dirinya gila?
Ya.
Tanpa Xiao sadari, kulit mereka sudah bertemu. Pemuda bersurai kelam itu menahan nafasnya, belum berani untuk melihat apa yang terjadi di tangannya. Jari telunjuk Lumine terasa lembut, bergerak perlahan menelusuri kulit Xiao. Teka-teki muncul di kepalanya, menebak dan mempertanyakan realita.
Dengan kepala yang tak lagi bisa mengambil keputusan, Xiao membalikkan badan, mata dan tubuhnya kini lurus menghadap Lumine, yang juga telah menghadap lurus ke arahnya. Iris emas Lumine masih tertutup oleh kelopak matanya, tak tahu kapankah mereka akan terbuka. Namun tak ada yang menghentikan Xiao untuk mengapresiasi kecantikan gadis itu. Saat ini, seluruh dunia sedang menutup mata mereka juga. Hanya Xiao yang bisa melihat wajah Lumine dengan jelas.
Pertanyaan demi pertanyaan datang dan pergi di kepalanya. Namun mata Xiao entah bagaimana hanya terfokus pada tiap fitur wajah sang gadis, baik kontur maupun kelembutan warna kulitnya di bawah binar lampu gantung ruangan itu.
Xiao ingin menciumnya.
Bolehkah?
Satu kata itu muncul, lagi dan lagi. Muncul terus menutupi pertanyaan-pertanyaan lain yang ada di kepalanya, berdebat dengan satu sama lain.
Apakah Lumine tidak tidur?
Apakah ia terganggu karena aku meliriknya terus di acara malam ini?
Bolehkah aku menyentuh bibirnya?
Apakah ia selama ini hanya bersikap baik padaku sebagai seorang teman?
Bolehkah aku mencium keningnya?
Aku ini kenapa?
Bolehkah aku mencium bibirnya?
Mata Xiao sedari tadi terkunci pada bibir itu, tak lagi sadar bahwa tubuhnya sudah mendekat pada Lumine, mengantarkan wajahnya mendekati wajah gadis itu. Ia bisa merasakan nafas Lumine pada kulitnya. Hatinya masih gundah gulana menyadari apa yang sedang terjadi dan apa yang akan ia lakukan. Tetap maju? Xiao mau. Tapi apa yang akan terjadi kalau Lumine sebenarnya tidak tidur, bahkan marah dengan dirinya yang bertindak tanpa izin?
Tak habis pertanyaan itu dan bibirnya kini ada di depan wajah Lumine. Meski tanda tanya tak berakhir dalam hatinya, wajahnya masih bergerak perlahan-lahan mendekati sang gadis dan bibir ranumnya. Sedikit lagi dan mereka akan bertemu. Semakin dekat mereka, semakin kacau jantung Xiao menderu.
Dan sebuah suara mengigau yang amat kuat bergema di ruangan besar itu.
"Hoooh, Sweet Madame enak... Oi. Sweet Madame Paimon jangan dipegang-pegang!"
Mata emas Xiao melirik ke arah sumber suara, pada Paimon yang ada di atas sofa. Ingin ia berdecak kecewa, namun siapa sangka, Kaedehara Kazuha yang entah sadar atau tidak dari tidurnya, melempar lembut bantal sofa ke arah Paimon, membuat si rakus itu berhenti dari ocehannya dan melanjutkan dengkurannya.
Xiao menarik mundur tubuhnya, menyadari si pemuda Inazuma juga sudah kembali ke dunia mimpi. Kecewa ia rasakan, namun tak ingin ia membuat adegan.
Sekarang apa?
Pertanyaan itu terlontar di kepalanya. Dan seakan bisa membaca pikiran, sang gadis tak basa-basi menarik pakaian Xiao, membuat wajah mereka kembali berjarak beberapa jari saja. Nafas Lumine kembali terasa di kulitnya, membuat Xiao hilang kendali atas pikirannya. Ia biarkan tubuhnya bergerak sesuai mau sendiri, meski ia tahu keduanya menginginkan hal yang sama.
Bibir keduanya bertemu, menempel satu sama lain. Selama beberapa detik Xiao menahan bibirnya di atas lembutnya bibir Lumine, seakan menunggu untuk sebuah balasan. Namun tak ada gestur signifikan dari sang gadis dan matanya yang masih tertutup rapat.
Apa aku baru saja membuat sebuah kesalahan besar?
Pertanyaan itu terlontar dalam otaknya, seiring menarik diri mundur, melihat wajah Lumine untuk sesaat. Sang gadis masih tak bergerak dari diamnya, membuat Xiao semakin bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah Lumine sedang bermain-main dengannya?
Xiao kembali maju untuk menciumnya. Sebuah ciuman singkat yang ia lakukan untuk mendapatkan kepastian dalam hatinya. Apa yang Lumine inginkan dari dia? Apakah ini sebuah kesalahan? Ia tak lagi mengerti apa-apa. Ingatan Xiao melayang ke santapan malam itu, apakah ia menenggak alkohol atau apapun yang bisa membuatnya semabuk ini. Lagipula dari mana Xiao mendapatkan keberaniannya? Dari tarikan kecil Lumine di dadanya? Kalau memang Lumine telah memberinya keberanian, mengapa kini gadis itu sendiri yang tak memberi tanggapan?
Teka-teki di kepalanya terhenti saat sang gadis tiba-tiba bergerak dari tidurnya, maju dan mempersatukan bibir mereka. Matanya masih tertutup, namun Xiao sadar kalau kini sang gadis lebih bertenaga. Keduanya melumat lembut mulut satu sama lain, candu dan ingin merasakan lebih. Sesekali mereka mendorong wajah ke depan, membuat yang satunya tak ingin kalah dan membalas dengan tenaga yang lebih lagi. Tak sekalipun tercipta suara yang bisa membangunkan tamu di sekitar, namun keduanya sama-sama tahu dan merasakan keinginan hati untuk saling memiliki di antara mereka.
Beberapa waktu dihabiskan hanya untuk menikmati satu sama lain, Lumine menarik dirinya mundur, mengatur nafas dengan mata yang masih menutup. Xiao menatapnya lembut, memperhatikan tiap perubahan pada ekspresi si manis di hadapannya. Senyuman tipis tergambar di wajah Lumine, sesekali menggigit bibir sendiri. Xiao mendapati dirinya bernafas lebih lega dari biasanya, dan perlahan-lahan maju untuk kembali merasakan bibir ranum sang gadis di bibirnya.
Sebelum ia sempat menyentuh wajah itu, rasa hangat menjalar di punggungnya. Xiao menatap sekitar mereka dan wajah Lumine yang kini memantulkan sinar terang dari arah jendela. Matahari telah terbit, cahayanya dengan lembut menyentuh kulit mereka.
Iris emas Lumine terbuka, pandangannya lurus ke arah jendela yang ada di belakang Xiao. Warna matanya indah senada dengan cahaya yang masuk melalui jendela. Namun aneh kembali terasa di dada Xiao, sebab manik Lumine tak sekalipun mendaratkan tatapan di wajahnya.
Tanpa ada berkata-kata, Lumine bangkit dan duduk dari tidurnya. Dirapikannya pakaian dan rambutnya, lalu berdiri tegak, beranjak dari ruangan itu ke tempat lainnya. Seisi ruangan masih sunyi memulai pagi. Xiao yang menatap hal itu semua dan tenggelam dalam lamunan.
Apa yang baru saja terjadi?
Tidak ada jawaban yang muncul untuk pertanyaan itu. Xiao menutup matanya dengan lengan, menarik nafas panjang. Ada perdebatan dalam hatinya. Satu sisi yang merasa lega, tapi sisi satunya lagi...
Xiao menghela nafas panjang lagi. Ia bahkan tak mengerti perasaannya sendiri.
Belum ada tamu lain yang terbangun dari mimpi. Xiao pun masih terbaring, bingung memikirkan arti. Apakah Lumine hanya bermain dengan perasaannya? Atau apakah Lumine memberi tanda kalau ia boleh maju dan menyatakan cinta?
Ketakutan muncul di hati Xiao. Ketidakpastian yang ia benci menguasai hati. Pada akhirnya, Xiao hanya tak ingin menjadi salah satu paragraf dalam buku tebal jurnal petualangan hidup Lumine. Ia ingin jadi satu-satunya untuk Lumine.
Apakah melekatnya bibir mereka menjadi konfirmasi bahwa Lumine juga memiliki perasaan yang sama?
Xiao tidak tahu. Tak ada kata-kata dari sang gadis mentari untuk menjawabnya.
Kini ia hanya memiliki sejumlah pertanyaan baru di hatinya. Harapan baru untuk dinantinya.
Xiao membuka matanya.
Ia akan tetap menunggu sampai akhirnya.
.
.
.
Haii~ author here.
Ini fanfic pertama aku setelah bertahun-tahun, dan fanfic pertama aku untuk Genshin Impact. Gaya nulis aku kaku banget deh kayaknya ;-;. Terakhir aku nulis fanfic tu sekitar 5 tahun (?) yang lalu, itu pun untuk Naruto hahah. Jadi untuk pemanasan (lagi pengen banget nulis hehe) aku bikin oneshot ini deh!
Untuk inspirasi fanfic ini, aku ambil semua dari lagu Sokkenai – Radwimps. Suka aja gitu denger lagunya. Vibesnya santai dan sayu, tapi ternyata liriknya sendu.
Terus kenapa XiaoLumi ya? Aku juga ga tau. Aku ship Lumine sama banyaaaak banget karakter Genshin. xiaolumi, chilumi, kazulumi, scaralumi, ayalumi, semua sama lumi, aku sama lumi juga gas :)). Aku suka aja sama Lumine. Rasanya dia cocok2 aja dipasang ke siapapun hahahah. Dia cantik, kuat, personality wise juga aku suka karena dia playful, kadang sassy, kadang emosional, jadi banyak hal yang ngebuat aku makin cinta-
Anyways!
Makasih udah baca :)) moga ga terlalu crimge dan have a nice time for your rest of the day! 3
