Title :
Can We Start It ?
Pairing :
SenRu (Sendoh x Rukawa)
Warning :
Sho-ai, OOC
Genre :
Fluff
Disclaimer :
SenRu belongs to Inoue-sensei
Note :
Hai, aku baru nulis lagi setelah sekian purnama (个_个)
Karena ada yang nanyain sequel dari 'Pocari Sweet'. Jadi aku bikin ini. Anggep aja ini sequelnya, nyambung ngga nyambung juga sambungin aja. ( . .̫ . )
Enjoy
*
"Hoaaahhhhm..."
Entah untuk yang ke berapa kalinya Rukawa menguap.
Ia mengucek matanya, supaya bisa sedikit terjaga. Kedua mata rubahnya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama. Padahal dia sudah cukup tidur sewaktu mata pelajaran Matematika di sekolah tadi. Mungkin karena latihan harian yang diberikan kapten Gorila nya yang lebih keras hari ini. Staminanya memang tak sebagus si monyet berambut merah, teman setimnya.
Ah, ia benar benar ingin segera bertemu dengan kasur empuk miliknya. Dan tidur semalaman.
Kalau saja sepeda nya bisa dia pakai hari ini. Mungkin dia akan lebih cepat sampai ke rumah.
Sayangnya hari ini dia terpaksa jalan kaki, berangkat maupun pulang sekolah. Sepedanya rusak, karena kemarin dia menabrak pohon sewaktu pulang sekolah, bersepeda sambil tertidur.
Langkahnya semakin gontai. Tinggal satu Blok lagi, dan melewati jajaran pertokoan, ia sudah sampai di rumah.
Sambil meregangkan kedua tangan nya yang panjang, membenarkan letak tas latihan di pundaknya. Matanya melirik ke samping, sebuah minimarket berlogo angka Tujuh dan Sebelas.. Mungkin dia bisa membeli sebotol minuman untuk sedikit menyegarkannya.
Triing..
"Irrashai~~"
Rukawa menghiraukan sapaan penjaga minimarket, berjalan lurus langsung ke tempat dimana minuman dipajangkan.
Sedikit berpikir di depan show case yang memajang berbagi minuman. Matanya tertuju langsung pada satu botol minuman isotonik yang tersisa satu lagi di pajangan.
"Pocari." Gumamnya.
Tangan putihnya terulur membuka pintu show case, untuk mengambil satu botol yang tersisa itu.
Tapi sebuah tangan yang lebih panjang terlebih dahulu mengambil botol minuman bidikannya tadi. Kepalanya menoleh cepat ke arah kiri, melihat siapa yang berani beraninya mendahului dan mencari masalah dengan nya.
"Aku ambil ini."
"Sendoh." Orbs cerulean nya mendelik kesal, mendapati wajah pemuda itu tersenyum tanpa dosa setelah meng-klaim minuman itu miliknya.
"Itu milikku." Argumen Rukawa.
"Benarkah? Tapi aku dulu yang mengambil ya." Senyuman pemuda itu semakin melebar.
"Tsk. Terserah." Desis Rukawa malas untuk beradu argumen lagi. Dia benar benar malas dan lelah. Dengan tangan kanan masih di pegangan show case, dia kembali membukanya mencari minuman lain.
Baru saja dia mau mengambil minuman yang lain, susu strawberry. Tiba-tiba pergelangan tangan kirinya dicekal oleh pemuda disampingnya itu. 'Apa lagi ini?' batinnya.
Sebelum melancarkan protes, Rukawa terkesiap lebih dahulu dengan tindakan Sendoh selanjutnya.
Tanpa aba-aba tangannya ditarik oleh pemuda berambut spiky itu berjalan. Badannya yang lelah sedikit terhuyung. "Aduh!" Membuatnya menubruk punggung lebar milk pemuda itu.
"Ah, maaf." Ucapnya sedikit bersalah. Lalu melanjutkan langkahnya menuju meja kasir, tangan putih itu masih ia tarik.
"Aku akan membayar ini." Ucapnya tiba di meja kasir. Menyodorkan sebotol Pocari dan sekaleng jus lemon yang sebelumnya ia ambil.
Sendoh merogoh saku celana nya, mengambil sejumlah uang sesuai dengan nominal yang disebutkan kasir.
Rukawa hanya memandang bingung, tapi enggan bertanya. Matanya terfokus pada tangan kirinya yang masih dipegang pemuda berstatus rivalnya itu. Entah kenapa wajahnya terasa menghangat.
"Ini uangnya. Arigatou gozaimasu." Setelahnya, Sendoh menarik Rukawa keluar. Menggiring pemuda seputih salju itu untuk duduk di bangku samping minimarket.
"Saa.. Ini untukmu." Ucapnya setelah memastikan Rukawa duduk manis di bangku.
Rukawa yang sedari tadi menunduk diam, mendongakkan kepalanya. Mengernyitkan dahi menatap bingung pemuda yang kini sedang berdiri di depannya itu. Sendoh menyodorkan sebotol Pocari tepat di depan wajah linglungnya.
Tak kunjung mendapat reaksi apa-apa, Point guard Ryonan itu berinisatif, sedikit berlutut, membuka botol lalu meletakannya langsung di genggaman Rukawa.
"Ini untuk yang tempo hari." Senyuman tak pernah lepas dari pemuda Ryonan itu. "Hari dimana kalian mengalahkan kami."
Ah iya, Rukawa baru ingat, hari itu dia memberinya sekaleng Pocari.
"Sankyuu.." lirih Rukawa. Lalu meneguk separuh isi botol.
Ahh, benar - benar menyegarkan.
Menyeka sudut mulut dengan punggung tangannya.
Dia merasa energinya sedikit kembali bertambah. Mungkin karena minuman yang dia minum, atau mungkin karena orang yang memberinya. Entahlah.
Pikiran untuk segera tiba di rumah lalu tidur semalaman pun, perlahan terlupa.
"Apa yang kau lakukan di daerah sini?"
Sendoh menghentikan tindakannya yang sedang membuka kaleng jus nya, sedikit terkejut dengan pertanyaan inisiatif Rukawa.
Jangankan dia, Rukawa sendiri juga terkejut dengan apa yang batu saja keluar dari mulutnya. Sempat merutuk dalam hati.
"Hmmm..." Sendoh terlihat seperti berpikir. Meminum jus lemon ya, "Aku mencarimu ke sekolah, lalu aku mengikutimu sampai sini." Jawabnya enteng.
"Penguntit." Cecar Rukawa.
"Kau bisa bilang seperti itu." Sendoh mengendikan bahu, tak peduli dengan sebutan yang ditujukan padanya.
"Untuk apa?" Rukawa kembali merutuk dalam hati. Ini seperti bukan dirinya. Biasanya dia tak peduli dengan apapun kecuali basket.
Sendoh tersenyum hangat. "Menyemangati-mu." Menepuk lembut puncak kepala Rukawa. "Sebelum kalian berangkat ke Interhigh." Lanjutnya, mengusap rambut hitamnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, sang Super Rookie hanya bisa diam membatu. Ini benar bukan seperti dirinya. Pukulan, atau tendangan bisa ia layangkan pada siapapun yang berani menyentuhnya.
Tapi Sendoh. Entah kenapa sentuhan serta suara lembut Sendoh, menjadi candu tersendiri bagi Rukawa. Serta jangan lupakan desir aneh yang merambat di dadanya.
Ia teringat obrolan Miyagi-senpai dengan Si bodoh berambut merah, yang tak sengaja ia dengar saat di ruang ganti latihan Shohoku. Tentang bagaimana perasaan mereka saat bertemu dengan Ayako-senpai dan adik dari kapten Gorila.
Persis seperti apa yang ia rasakan saat ini. Mungkinkah dia...
"Rukawa."
Panggilan lembut Sendoh, membawa pikirannya kembali ke alam sadar.
Matanya melotot, dan wajahnya memanas saat Sendoh menggenggam tangannya.
"Aku tau ini aneh." Semakin erat genggamannya, " Tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkanmu, semenjak hari itu."
"Makanya aku mencarimu tadi ke sekolah."
"Mungkin setelah ini, kau akan menjauhiku dan menyebutku aneh." Jeda. "Tapi setidaknya aku bisa mengutarakan perasaan-ku padamu." Lanjutnya tersenyum sendu.
"Rukawa." Sendoh menarik nafas dalam-dalam. "Aku menyukaimu." Titik.
Rukawa hanya bisa terdiam.
Sendoh melepaskan genggaman nya. Tersenyum pahit, tahu dengan konsekuensi atas pernyataannya barusan.
"Saa.. Aku pergi dulu." Beranjak dari duduknya. "Semangat untuk kalian Shohoku di Interhigh nanti." Lalu melangkah mundur.
"A.. aku."
Langkahnya tiba-tiba berhenti saat ia rasakan, tarikan di ujung jacket birunya.
Berbalik dan langsung terhuyung ke depan, saat kedua sisi jacketnya di tarik kuat oleh Rukawa.
Onyx cobalt miliknya membelalak. Tak percaya dengan apa yang dia rasakan.
Benda lembut dan kenyal, menempel di bibir tipisnya.
Iya. Kaede Rukawa sekarang sedang menciumnya.
Tak lama memang, tapi itu sukses membuat jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.
"Aku juga." Lirih Rukawa setelah menjauhkan bibirnya. "Menyukaimu." Menunduk malu setelah menyadari apa yang ia lakukan tadi.
Beruntung tak ada orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka.
Tersenyum cerah, Sendoh memegang kedua pipi putih Rukawa.
"Benar dugaanku."
"Apa?" Rukawa memiringkan kepala tak mengerti.
"Bahwa bibirmu terasa lebih manis daripada Pocari."
"Do - Do ahou!" Rukawa mencoba melepaskan kedua tangan Sendoh di wajahnya. Takut pemuda Ryonan itu bisa merasakan hawa panas yang menjalar dari wajahnya. Lihat saja kulit seputih itu mulai memerah.
Sendoh hanya bisa terkekeh, melihat tingkah Rukawa. Kembali kedua tangan nya yang besar, menangkup kedua pipi mulus Rukawa.
"Bisakah kita memulai hubungan kita?" Bertanya lembut
Yang disambut anggukan pemuda berponi itu.
"I love you."
"So do I."
End.
Note : Aaahh, sumpah cringe banget.. (ᗒᗩᗕ)(ᗒᗩᗕ)(ᗒᗩᗕ).. maafkan kalo ga jelas.
