Tenang x Suka
Summary
Perasaan suka bisa datang kapan saja, fakta uniknya, hal ini terjadi pada kisah Sakayanagi Arisu dan Uzumaki Naruto.
.
.
.
Disclaimer
Naruto dan You-Zitsu dimiliki oleh pemiliknya masing-masing. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini.
.
.
Genre
Utama: Romance
Selingan: -
.
.
Pairing
[Uzumaki Naruto x Sakayanagi Arisu]
.
.
Pagi hari tiba.
Kondisi kota ini mulai ramai ketika berbagai kendaraan roda dua maupun lebih melintas di jalan raya. Banyak orang juga terlihat di lingkungan kota ini dengan kesibukan mereka masing-masing.
Beralih ke suatu akademi bernama Konoha High School, sejumlah murid berjalan melewati gerbang sekolah, baik secara individu maupun kelompok. Kebetulan siswa ini termasuk golongan pertama.
"Selamat pagi, Uzumaki-kun."
"Pagi."
"Uzumaki-kun, gimana harimu?"
"Baik seperti biasanya."
"Oi, Uzumaki, kudengar ada kecelakaan mobil di dekat rumahmu kemarin malam."
"Begitulah. Kebetulan tadi aparat keamanan telah mengamankan TKP itu."
Nama siswa itu adalah Uzumaki Naruto, seorang lelaki (yang tidak) hanya dikenal ramah dan baik, tapi juga pandai di bidang olahraga.
Lebih dari itu, Naruto juga termasuk salah satu murid populer di KHS, dan memiliki penggemarnya sendiri di kalangan sebagian siswi.
Namun, karena alasan tertentu, mereka hanya bisa mengamati pujaan hati mereka dari kejauhan. Tentunya ini bukan berarti Naruto bersikap dingin atau semacamnya pada mereka.
Tapi itu semua karena…
"Cuaca hari ini cerah sekali ya, benar begitu?"
…kehadiran siswi ini.
Naruto beralih ke samping.
Seorang gadis berambut pendek berwarna ungu tersenyum padanya. Dia mengenakan seragam dengan aksesoris berupa baret hitam di kepala dan pita abu-abu yang terhubung dengan baret itu.
Nama siswi ini adalah Sakayanagi Arisu.
Arisu merupakan salah satu siswi populer di sekolah ini. Tidak hanya anggun dan ramah pada siapa saja, Arisu juga unggul dari segi akademis, dan selalu masuk peringkat lima besar.
Lebih dari itu, ayah Arisu juga merupakan kepala sekolah dari KHS, maka wajar saja apabila banyak murid dan guru menghormatinya.
Belum cukup, Arisu dapat dikategorikan sebagai murid teladan, sehingga popularitasnya lebih tinggi dari kalangan siswi di angkatannya.
Tidak heran sebagian besar murid ingin menjadi kekasih Arisu. Namun, sampai sejauh ini belum ada yang berhasil melakukannya.
Semua kecuali satu orang.
Naruto menyengir.
"Benarkan? Aku juga pikirnya gitu." Naruto menambahkan. "Omong-omong, selamat pagi, Arisu-chan."
Arisu tersenyum.
"Pagi, Naruto."
"Mau ke kelas bareng?"
"Boleh saja. Kenapa enggak?"
Arisu melingkari lengannya pada lengan Naruto. Dua murid ini melangkah secara bersamaan.
Banyak siswa-siswi memperhatikan hal ini. Ada murid (yang iri) maupun sebaliknya.
"Enaknya jadi Sakayanagi-san..."
"Sial, Uzumaki beruntung sekali bisa dekat-dekat sama Sakayanagi-san."
"Bodoh, kau lupa siapa yang bantu nenekmu saat dia tergelincir kulit pisang dua hari yang lalu?"
"Oh, kau benar juga. Semangat, Uzumaki! Aku dukung hubungan kalian berdua!"
Senyum Arisu semakin lebar.
"Senang rasanya saat tahu ada yang senang dengan hubungan kita. Tidakkah kau berpikir begitu, Naruto?" tanya Arisu.
Tidak ada jawaban.
Arisu melirik ke arahnya.
Naruto sibuk mengetik sesuatu.
Arisu mengerutkan alis.
Arisu mengamati layar ponsel(nya).
Jadwal Kencan Khusus Hari ini:
1. Lokasi pertemuan (Gerbang Sekolah - 15. 40)
2. Kegiatan 1 (Makan - 16. 00)
3. Kegiatan 2 (…)
Arisu beralih ke depan.
Sebenarnya masih ada catatan lain, tapi demi kesehatan mentalnya, dia tidak membaca sampai ke bawah.
"…"
Arisu nampak tenang dari luar.
'YEAH! YEAH! YUHUU! YUHUU! KENCAN LAGI SAMA NARUTO! KUKU BIMA ENERGI! ROSSO!'
Sedangkan di dalam sebaliknya.
"…chan. Arisu-chan."
"Huh?"
Arisu tersadar.
Arisu pura-pura batuk.
"M-Maaf, aku kepikiran sesuatu jadi aku gak menyimak yang kau katakan tadi," jawab Arisu.
Naruto berkedip.
"Oh, begitu rupanya."
"Memangnya kau mau ngomong apa?"
"Aku cuma mau bilang kita sudah sampai di kelasmu."
Arisu memperhatikan keadaan sekitar.
Seperti (yang dikatakan) lelaki itu, mereka memang sudah berada di samping pintu kelas Arisu, tepatnya kelas 2-A.
Arisu tersadar.
"Ah, kau benar, makasih banyak, Naruto," kata Arisu.
"Sama-sama." Naruto menambahkan. "Meski aku heran kenapa kau bilang makasih. Padahal ini sudah biasa di antara kita."
Arisu tersenyum.
"Memang benar, tapi mengucapkan terima kasih pada orang yang membantumu merupakan hal wajar, tidakkah kau setuju?"
Naruto terkekeh.
"Kau benar juga."
Bunyi bel terdengar.
Naruto melirik ke arahnya.
"Nanti aku akan jemput kamu pas pulang sekolah, Arisu-chan," kata Naruto.
Arisu mengangguk.
Naruto menyengir.
Naruto mencoba bergerak.
"Naruto."
Naruto beralih ke samping.
"Ya?"
Arisu tersenyum simpul.
"Ada yang ketinggalan."
"Huh? Apa emang?"
Arisu mencium pipi lelaki itu.
Arisu menjauhkan wajahnya.
"Sampai jumpa pas pulang sekolah," ujar Arisu.
Naruto berkedip.
"A-Ah, iya, sampai jumpa lagi," kata Naruto.
Arisu berseri.
Arisu masuk ke kelas(nya).
"…"
Naruto berjalan ke arah lain.
Namun, Arisu sempat mengamati punggung lelaki itu, dan senyuman nampak di wajahnya.
Dia jadi teringat hari itu.
Kejadiannya terjadi saat tiga bulan (yang lalu).
Flashback
Malam hari tiba.
Arisu berjalan seorang diri di trotoar.
Dia baru saja pergi dari rumah teman sekelasnya. Hal ini dikarenakan tugas kelompok (yang tentunya) harus dikerjakan secara bersama-sama.
Walau keadaan lingkungan tampak sepi, kenyataannya, dia sudah terbiasa selama lampu jalan masih menyala.
Arisu mengamati langit gelap.
Arisu tersenyum.
"Malam tetap indah seperti biasanya," gumam Arisu.
Terus berjalan, Arisu tidak menyangka bisa melihat seseorang dari kelasnya, lebih tepatnya seorang lelaki berambut kuning berpakaian sederhana.
Dia tampak berdiri di depan mesin minuman.
'Apa yang dilakukan Uzumaki-kun pada malam hari ini?' pikir Arisu.
Naruto mengambil kaleng minum.
Naruto duduk di kursi samping mesin minuman.
Penutup kaleng terbuka.
Naruto beralih ke samping.
"…"
Naruto berkedip.
"Oh, Arisu-chan, kau sedang ngapain tengah malam begini?" tanya Naruto.
Nada bicaranya terdengar penasaran.
Arisu tersenyum.
Dari setiap laki-laki di sekolah, baru dia seorang (yang tanpa) ragu memanggil nama depannya, dan itu membuatnya tertarik.
"Aku baru dari rumah teman. Kami mengerjakan tugas kelompok." Arisu menambahkan. "Kau sendiri sedang apa?"
"Menatap mesin minuman selama 2 jam."
"Hah?"
"Cuma bercanda, dattebayo."
Arisu (sweatdrop).
"Ah.. iya, kau benar, itu candaan rupanya."
Naruto terkekeh.
"Begitulah." Naruto masih bicara. "Omong-omong, kau mau ke mana lagi?"
"Aku sedang dalam perjalanan pulang sebetulnya."
"Oh, kalau gitu mau kuantar sampai ke rumah? Kebetulan aku ada waktu luang saat ini."
Arisu masih tersenyum.
"Terima kasih, tapi aku cuma perlu naik bus sekali untuk sampai ke rumahku."
Naruto berkedip.
Naruto menyengir.
"Hati-hati di jalan kalau begitu."
"Begitu pula denganmu."
Arisu meneruskan perjalanan.
Sudah cukup jauh, Arisu mengambil arah lain, lalu berjalan lurus sampai melihat halte bus.
Arisu melangkah ke arah sana.
Arisu duduk di kursi kosong.
'Sepi juga. Mungkin karena hari sudah hampir tengah malam,' pikir Arisu.
Arisu mengeluarkan mp3 player dan earphone.
Arisu memejamkan matanya.
'Lagu anime memang yang terbaik.'
Fakta uniknya, Arisu memiliki hobi yang agak lain dimiliki oleh murid teladan; yaitu menyukai anime.
Maka dari itu, Arisu terkadang menikmati hobinya saat tak ada orang, baik di lingkungan sekolah maupun tempat lain.
Pengecualian untuk di rumah tentu saja.
Namun, pada waktu tertentu, Arisu merasa kesepian karena tak mempunyai seseorang untuk diajak bicara tentang hobinya.
Arisu berkedip.
Arisu menggeleng.
'Jangan berpikir negatif diriku. Pasti suatu hari nanti akan ada seseorang yang bisa mengerti hobimu.'
Demi membuang pikiran negatif, dia mengambil ponsel, dan membuka internet.
Arisu terkejut.
'Kecelakaan bus? Bentar, bukannya ini bus yang biasa kunaiki?'
Arisu mencari info terkait berita ini di mesin pencarian.
Benar saja, baik secara kronologis maupun waktu kejadian, itu sesuai dan sama sekali bukan penipuan.
'Karena ini benar… gak akan ada bus yang datang kalau gitu.'
"…"
Arisu memperhatikan kondisi sekitar.
Keadaan sekeliling nampak hening sekali. Beberapa kali memang ada mobil atau motor lewat, tapi itu hanya terjadi sebentar, dan kemudian sepi kembali.
"…"
Arisu menyimpan perangkat musiknya.
Arisu berdiri.
'Baiklah... tetap tenang, ini mungkin pengalaman pertamamu, tapi kau pasti bisa mengatasinya.'
Arisu menarik nafas kemudian membuangnya.
Arisu mengambil beberapa langkah.
'Kerja bagus diriku. Ini permulaan yang baik.'
Selain hobinya, dia sebenarnya mempunyai ketakutan pada sesuatu, dan ketakutan ini cukup umum di kalangan umat manusia.
'Setidaknya, penerangan di jalan masih berfungsi seperti biasanya.'
Arisu menahan seringainya.
'Ayo kegelapan, takuti aku kalau kau bisa!'
Lampu tepi jalan mendadak padam.
Arisu terdiam.
"…"
Yaitu takut pada kegelapan.
"AWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAAWAWAWAWAWAWAWAWA!"
Arisu reflek berlari sekuat tenaga.
"AWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAAWAWAWAWAWAWAWAWA!"
Sampai akhirnya, dia tidak sengaja menabrak seseorang, dan berakhir jatuh.
Arisu panik.
"M-Maaf, aku gak liat ke mana aku jalan…"
Naruto menyadari siapa pelakunya.
Naruto terkekeh.
"Jangan khawatir, ini bukan masalah besar, dattebayo."
"…tadi."
Entah mengapa, Arisu merasa lega, mungkin ini karena orang (yang ditabraknya) merupakan kenalannya dari sekolah.
Naruto mengumpulkan beberapa kaleng makanan.
Arisu melihat hal ini.
"Biar aku bantu."
"Makasih."
Mereka berdiri.
Arisu melirik ke samping.
Arisu beralih kepadanya.
"Aku terkejut, kau cepat sekali bisa langsung berada di minimarket ini, kau lari?" tanya Arisu.
Naruto keheranan.
"Gak juga, aku pakai jalan pintas, kau liat ada gang di antara bangunan ini, bukan? Aku lewat situ," jelas Naruto.
"Oh… begitu."
Arisu melupakan fakta itu.
Naruto tersenyum.
"Aku akan pulang, jadi, sampai jumpa lagi di sekolah besok," kata Naruto.
Naruto memutar badannya.
Arisu panik.
"B-Bentar, Uzumaki-kun," panggil Arisu.
Naruto melirik ke arahnya.
"Ya? Ada apa?" tanya Naruto.
Nada bicaranya terdengar penasaran.
"Uh… soal itu…"
Arisu merasa dilema.
Gadis itu sebenarnya cemas pulang sendirian.
Namun, di satu sisi, dia tidak enak hati karena sebelumnya pernah menolak kebaikan dari lelaki itu.
"Oh, kau mau kuantar pulang?"
"Eh?"
Naruto memperhatikan kondisi sekitar.
"Berbahaya juga kalau perempuan pulang seorang diri pada saat malam hari." Naruto menambahkan. "Terlebih lagi mengingat kita satu sekolah, kurasa bukan hal aneh kalau aku membantumu. Itu pun jika kau mau."
Arisu berkedip.
"Apa itu gak apa-apa?" tanya Arisu.
"Apanya?"
"Maksudku… sebelumnya aku menolak bantuanmu… jadi…"
"Oh, itu bukan masalah, aku bukan tipe orang yang mudah emosi cuma karena hal semacam itu."
Arisu kehabisan kata-kata.
"Kau ini… benar-benar ramah ya, Uzumaki-kun."
Naruto terkekeh.
"Dapat pujian dari cewek manis, itu bukan hal buruk."
Arisu matanya melebar.
Naruto tersadar.
"M-Maaf, aku gak bermaksud untuk-"
"E-Enggak apa-apa, aku tahu kau cuma bercanda tadi."
"Tapi aku serius."
"…"
"…"
Semburat merah muda nampak di wajah mereka.
Arisu berdeham.
"Jadi… kita berangkat sekarang?" tanya Arisu.
Naruto mengangguk.
Dia begitu karena tidak mempercayai mulutnya saat ini.
Mereka berjalan bersama.
Karena tidak ingin merasa canggung, salah satu di antara mereka memulai percakapan, itu dimulai dari sisi wanita.
"Tetap saja, apa kau yakin gak mau sesuatu dariku? Jika itu masih dalam jangkauanku, aku mungkin bisa mengabulkannya," tawar Arisu.
Naruto mengelus dagunya.
"Kalau gitu... ajari aku."
"Eh?"
"Pelajaran yang gak kumengerti."
Arisu terkejut.
"Yah.. kurasa aku bisa, tapi kenapa dengan itu?"
Naruto melipat lengannya.
Ekspresi lelaki itu tampak serius.
"Karena aku sering mengantuk di kelas."
Arisu melongo.
"Hah?"
"Aku serius." Naruto menambahkan. "Entah kenapa terkadang aku sulit menerima pembelajaran... dan melihatwajah Jiraiya-sensei dan Ebisu-sensei, memperparah keadaan."
Arisu penasaran.
"Cara mengajar mereka membosankan?"
Naruto menggeleng.
"Bukan. Itu karena aku pernah lihat mereka di mall menggoda nenek-nenek yang lewat."
"Itu… aku gak tahu harus bilang apa."
"Cuma bercanda. Jangan dibawa serius."
Arisu (sweatdrop).
"Oh… gitu," kata Arisu.
Nada bicaranya terdengar canggung. Mungkin itu karena dia tidak terbiasa berbicara humor.
Naruto tertawa kecil.
"Tapi di bagian menggodanya memang benar, cuma ganti 'nenek-nenek' dengan wanita," ujar Naruto.
Arisu tertarik.
"Ada lanjutannya?"
"Keduanya dikejar sama suami wanita itu."
Arisu berkedip.
Arisu tertawa.
"I-Itu, oh ya ampun."
Naruto menyengir.
"Ya, aku tahu, lucu memang, sama seperti di salah satu episode anime Keseharian Laki-laki SMA."
Arisu mendadak berhenti.
Naruto kebingungan.
"Err… Arisu-chan? Kenapa kau berhenti?"
"Uzumaki-kun… kau suka anime?"
"Yah, gak semua, tapi begitulah."
"…"
Arisu melirik ke arahnya.
Ini mungkin perasaan lelaki itu saja.
Hanya saja, untuk sesaat, mata gadis itu sempat berkilauan.
Arisu berseri.
"Enggak, gak ada apa-apa."
"Oh… baiklah."
Mereka berjalan lagi.
Namun, khusus kali ini, gadis itu mengenggam erat lengannya. Terkadang dia suka menunjukkan senyum manis padanya.
Naruto salah tingkah selama perjalanan.
Flashback End
Arisu menahan senyumnya.
'Beruntungnya diriku ini.'
Seorang guru masuk.
Pelajaran lalu dimulai.
Waktu sekolah telah lama berakhir.
Mereka baru saja keluar dari sebuah restoran.
Naruto dan Arisu berada di tempat hiburan saat ini.
Selain keduanya, banyak orang juga datang ke sini, baik untuk bermesraan dengan kekasih atau bersenang-senang bersama teman.
"Makanan tadi itu enak," kata Naruto.
"Jangan lupa minumannya," sahut Arisu.
"Itu juga gak boleh dilewatkan."
Arisu tersenyum tipis.
Naruto menyengir.
Keduanya bergandengan tangan selama berjalan. Terutama Arisu (yang dengan) santai meletakkan kepalanya di bahu dia.
Naruto sangat bahagia.
'Gaah, Arisu-chan manis sekali, dattebayo.'
Naruto berkedip.
'Kalau dipikirkan lagi, aku penasaran apakah kita masih tetap pacaran jika waktu itu aku gak pergi belanja ke mini-market.'
Setelah kejadian malam itu, Arisu menjadi lebih sering mendekatinya, baik saat jam istirahat maupun pulang sekolah.
Mereka sering berbincang mengenai komik, karakter animasi kesukaan juga alur novel tertentu. Tentunya percakapan ini hanya terjadi ketika mereka berdua saja.
Saat di publik, Naruto dan Arisu membicarakan hal-hal sederhana, seperti tugas sekolah maupun musik favorit (yang sedang) terkenal pada tahun ini.
Hingga pada suatu hari, dia mengungkapkan perasaannya pada lelaki itu, dan ini terjadi di kantin.
Naruto masih mengingat ekspresi kaget semua orang kala itu.
Kejadian penembakan itu memang mengejutkan kalau dipikirkan lagi.
Tentunya Naruto menerima perasaan Arisu.
Hal ini wajar, karena dia memang menyukai tipe wanita pendek, karena bagi dirinya perempuan seperti itu menarik dan juga imut.
Arisu melihat sesuatu.
"Mau coba berfoto?" (Arisu).
"Boleh." (Naruto).
Arisu senang.
Mereka memasuki sebuah [Photo-Box].
Tidak lama kemudian.
Naruto dan Arisu keluar dari tempat itu.
Keduanya memperhatikan lembaran foto tersebut.
Arisu tertawa kecil.
"Mukamu lucu sekali, Naruto," ujar Arisu.
Naruto menggaruk pipinya. Tingkah lelaki itu menandakan kalau dirinya merasa malu.
"Ya… keliatannya begitu."
Arisu merasa gemas.
Arisu mengecup bibirnya.
Naruto mencium balik (dengan antusias).
Merela berhenti berciuman.
"Tapi kalau boleh jujur, aku suka tingkah lucumu itu," kata Arisu.
Naruto tertawa gugup.
Arisu menahan tawanya.
"Kita teruskan?" (Arisu).
"Ah, kau benar." (Naruto).
Mereka berkeliaran lagi.
Arisu tersadar.
"Naruto."
"Ya?"
"Ada yang kelupaan."
Naruto penasaran.
"Apa itu?"
Arisu membuka lebar tangannya.
"Gendong," pinta Arisu.
Nada bicaranya terdengar manja.
Naruto gelagapan.
"A-Ah, baiklah," kata Naruto.
Arisu berseri.
END
A/N: Halooo reader-san sekalian! Gimana fanfic one-shot kali ini? Baik? Buruk? Tunjukkan pemikiran kalian di kolom review :D
Pairing Naruto x Arisu memang salah satu favorit author. Leganya ini bisa kesampaian juga :D
Berikutnya mungkin…
Nah, siapa saja bisa itu :D
Terakhir…
Sampai jumpa di fanfic one-shot berikutnya :D
{Racemoon: Sign-out}
