Disclaimer : Ensemble Stars! milik Happy Element. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
Kau adalah aku. Aku adalah kau.
Namamu adalah sebuah ungkapan lain dari kata "cinta."
"Jun, aku akan mengambil libur mulai besok. Aku akan istirahat dalam waktu yang belum ditentukan."
"Oke. Tapi, apa yang terjadi, Anzu-san? Apa kau sakit?"
"Aku?Aku baik-baik saja, aku hanya... ingin libur. Hanya itu. Jangan kangen, ya?"
Itu adalah suara terakhir yang Jun dengar sebelum Anzu tidak kembali lagi bahkan setelah seminggu ia tidak menunjukkan pangkal hidung atau menghadirkan auranya.
Jun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Anzu, bahkan tidak begitu yakin alasan Anzu mengambil cuti. Dia bukannya tidak mempercayai Anzu, hanya saja sedikit merasa kurang nyaman.
Namun, menurut ingatan dan sudut pandangnya. Sejak kejadian mengajak Anzu pergi makan es krim, ada perubahan yang terasa dalam perasaan terhangatnya. Gadis itu jadi lebih diam dari biasanya, waktu Jun tanya apa gerangan yang terjadi? Anzu mendadak ceria, meski Jun tahu kalau hanya pura-pura semata.
Hari berikutnya pada pertemuan yang singkat. Anzu tak biasanya menolak ajakan Jun untuk pergi berdua. Jun yang mendapat penolakan itu sampai harus bertanya ulang apakah telinganya menjadi kurang pendengaran atau karena faktor dirinya yang kelelahan.
Penolakan itu disampaikan dengan cara yang belum pernah Jun rasakan sebelumnya, padahal Anzu mengucapkan itu dengan sikap yang biasa. Meskipun perilaku yang Anzu timbulkan sangat sederhana, tapi Jun merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Mungkin ada yang salah? Tapi apa? Apa aku melewatkan sesuatu?
Jadi dia memeriksa chatting lama yang masuk. Melihat satu persatu dan merenung. Apakah ada sesuatu yang ia lewatkan? Seperti, curhat dadakan? Tapi, ia tak mendapatkan petunjuk apapun.
Hari kedelapan, ia masih tidak melihat Anzu. Meski sudah mencari ke sudut paling terkecil sekalipun, Jun tak dapat menemukan Anzu di agency. Aneh, bukankah Anzu sudah cuti terlalu lama?
"Jun, kenapa kau tidak datang ke rumahnya?" - Nagisa.
"Tanya pada adik laki-lakinya!" - Ibara.
"Kalau aku tahu dimana Anzu. Aku sudah beritahu kau, Jun-kun." - Hiyori.
Teleponnya aktif, tapi gadis itu tak mau mengangkat dan membalas chatting. Nagisa yang mencoba menelepon juga diabaikan begitu saja bagaikan sebuah butiran debu.
Kekhawatiran itu menimbulkan gejala kurang mengenakan bagi Jun. Ia yang selalu memandang segalanya dengan santai dan menanggapi masalah dengan nada sarkastik mendadak terjatuh oleh perasaannya sendiri. Dia tidak begitu mengerti bagaimana menjabarkannya, tapi kepalanya mendadak vertigo dan ingin muntah.
Kemudian, dari gejala panik itu. Pikiran bodoh Jun, mengunci suatu tragedi ilusi (yang sebenarnya tidak pernah terjadi) dimana dirinya baru saja melakukan sesuatu yang salah dan menyakitkan terhadap Anzu. Dan itu membuat perutnya semakin mual dan vertigo yang tak mau hilang.
Setelah menenangkan diri dengan teh buatan Hiyori. Pikiran aneh itu perlahan memudar, meski masih ada setitik noda hitam yang ia rasakan. Kecil namun kuat. Setitik noda hitam yang timbul akibat penyakit hati.
Dari balik jendela gedung agency, tampak duo kembar dari luar sana. Mereka berdiri di lapangan parkir, membahas sesuatu yang menurut mereka tampak asik untuk dibagikan. Jun memandangi dua orang itu dari balik jendela, mengalihkan pandangan dari ponsel yang sudah ia gunakan untuk menelepon Anzu sebanyak 5 kali.
Segera si kembar menghilang dari pandangan. Jun yang masih setengah sadar, beranjak dari ruangan santai dan kemudian berlari santai menuju resepsionis agency, tentu saja untuk menemui Yuta dan Hinata.
Kiranya, Jun mendengar panggilan keras Ibara yang diabaikan dengan sengaja dan decakan kesal Nagisa yang baru pertama kali ini Jun dengar. Tapi yang jelas, Jun sedang berlari. Hanya itu saja.
Distorsi suara si kembar berpindah, merambat melalui celah-celah gedung agency dan menyebar luas masuk ke pendengaran milik Jun. Setibanya di belokan, mereka terkejut karena hampir bertabrakan.
Serentak keduanya menyapa. "Sore, Sazanami-san!"
"Selamat Sore..."
Dipandanginya si kembar itu dengan seksama oleh Jun. Membuat si kembar keheranan dengan apa yang mereka dapati. Meski si kembar tidak bertanya secara gamblang tentang perlakuan seniornya ini, Jun sadar kalau ulahnya menebarkan rona kebingungan.
Dengan penuh ketidakjelasan hati, akhirnya Jun bertanya. "Apa kalian tahu, kenapa Anzu-san tidak datang ke Agency beberapa hari ini? Aneh bukan? Jin-sensei tidak bilang apapun!"
Hinata dan Yuta saling berpandangan dengan ekspresi yang serupa. Ada senyum canggung terbingkai disana. Dari pemandangan yang Jun dapati, sudah jelas jawaban yang akan ia terima, tidak akan terdengar menyenangkan bagi siapapun.
"Kami tahu dari Akehoshi-senpai. Katanya Anzu-san dapat ancaman pembunuhan." Nada suara Hinata ini terlalu rendah, bahkan Jun merasa bahwa ia telah mendengar kabar kematian.
Meskipun jantungnya berdetak normal, tapi ia mulai berkeringat dingin. Karena gejala panik, kepalanya menjadi sakit, perutnya terasa mual lagi dan mungkin saja ia akan segera muntah.
Apa yang aku lakukan? Kenapa aku baru tahu kejadian ini? Kenapa aku selalu tidak tahu?
Kenapa...
"Si-siapa..."
"Maaf?"
"Siapa yang mengancam seperti itu?"
"Sebenarnya aku tidak begitu tahu tentang detail kejadiannya! Tapi, Akehoshi-senpai bilang begitu. Aku hanya tahu soal Anzu-san yang menangis dan dia minta libur. Lalu, aku bertanya pada Trickstar karena itu terakhir kali Anzu-san terlihat bersama seseorang. Lalu, Akehoshi-senpai cerita begitu..." Yuta menoleh ke bahunya. "Ya 'kan?"
Hinata membenarkan. "Betul. Itulah cerita yang kami dapatkan. Mungkin Anzu-san sedang menenangkan diri. Ia mungkin tak cerita karena tak mau membuat semua khawatir. Tapi... semua orang jadi tahu..."
"Ayo kita temui dia!"
"Tentunya kami bersedia, Sazanami-san. Tapi, bukankah agency kita ada manggung? Aku rasa kita prioritaskan itu dulu. Kalau sampai gagal, Anzu-san bisa banyak pikiran."
.
.
"Ancaman pembunuhan? Bukankah itu berlebihan ya? Hey, Jun-kun. Kau baik-baik saja 'kan?"
Mereka masih di agency, tapi Nagisa dan Ibara sudah lebih dulu ke ruangan latihan. Meninggalkan Hiyori dan Jun yang tampak ingin berdua.
"Ohii-san. Apa aku terlihat baik? Aku sedang memikirkan soal Anzu-san!"
"Aku mengerti, kok. Aku juga khawatir pada Anzu. Tapi, bukankah seharusnya kita melaporkan ini? Karena selain menghambat pekerjaan ada nyawa yang menjadi taruhannya. Terlebih, dia tidak mau cerita pada yang lainnya, padamu dan kita. Ini masalah serius!"
Itu bukan masalah serius lagi! Tapi sudah masalah bagi semua orang!
Rasanya, Jun ingin marah-marah hari ini. Tapi, dia tak tahu kepada siapa marah ini harus disalurkan? Yang jelas, ia tak tahu siapa orang yang mengancam itu dan Jun sendiri belum bertemu Subaru. Jadi, sulit untuk menemukan jawaban.
Hiyori berpendapat untuk menemui Anzu ke rumahnya secara langsung. Lagipula, Jun lumayan sering main ke rumah gadis itu, jadi orangtua Anzu tidak akan terkejut kedatangan seorang Sazanami Jun.
Tapi, Jun berpikir kalau ini akan sangat canggung. Melihat, ia tahu kejadian ini dari Yuta-Hinata. Bukan dari dirinya sendiri yang sadar.
"Tidak perlu takut begitu, Jun-ku . Walaupun kau tahu berita itu dari orang lain, setidaknya Anzu tahu kalau kau peduli padanya! Mari, kita ke rumahnya dan memberi support. Aku yakin, dia senang melihatmu."
"Terima kasih, Ohiisan..."
.
.
.
Tidak ada yang aneh dari rumah Anzu pada hari itu. Kecuali tentang gadis itu dengan wajah kaget menyambut mereka berdua dengan penampilannya yang mengenakan piyama dan memeluk setoples cemilan. Tentu saja ia terkejut bukan main, melihat Jun dan Hiyori yang masih mengenakan kostum manggung datang ke rumah.
Setelah mempersilakan mereka masuk dan duduk di ruang santai (karena kamar Anzu berantakan, jadi ia tak mengizinkan mereka masuk) Anzu dan Jun hanya saling bertatapan dalam kecanggungan.
Adik laki-laki Anzu juga sama terkejutnya. Tapi, ia tak menampakan ekspresi itu pada Jun dan Hiyori.
Hiyori kemudian berinisiatif, ia mulai membual tentang kejadian hari ini, kue yang enak dan teh yang wangi milik Eichi. Lalu setelah semuanya ia sampaikan, ia memalingkan padangan pada Jun yang tersipu malu.
Yang Jun katakan hari itu adalah. "Anzu-san. Apa kau baik-baik saja? Aku ingin kau segera masuk dan mulai bekerja!"
Tapi sebenarnya bukan itu yang mau ia katakan. Jadi, Hiyori meralatnya. "Jun khawatir setelah kau cuti dalam waktu yang lama. Lalu, ia mendengar kalau kau mendapat ancaman pembunuhan. Makanya, ia meneleponmu berulang kali. Karena sebenarnya... dia khawatir dan rindu padamu barangkali?"
Bukan barangkali, tapi itu memang fakta. Ohii-san!?
"Oh... Jun. Aku tidak tahu kalau kau akan sekhawatir itu. Maafkan aku yang tidak mau menjelaskan." Ada senyum diwajah Anzu.
Lalu, Anzu melanjutkan dengan lembut. "Aku baik-baik saja, kok! Walau aku sempat kaget dan takut. Tapi, Akehoshi mengatakan kalau aku akan baik-baik saja!"
Mendengar nama Akeshoshi disebut, ekspresi Jun langsung berubah sendu. Anzu yang sadar langsung memperbaikinya. "Aku juga berterima kasih karena Jun dan Tomoe-san sudah mau datang repot-repot ke rumahku! Jun, kau datang kesini sehabis manggung dan bolos latihan bukan?"
Yang ditanya mengangguk polos.
"Terima kasih karena kau sudah memikirkanku sampai sejauh ini! Kalau Jun bersemangat, aku juga pasti akan baik-baik saja! Aku bersyukur kau mengkhawatirkan aku. Kau orang baik yang pernah aku kenal. Aku senang bisa berkerja dengan Jun."
"An... zu-san? Bukankah itu memalukan untuk dikatakan?" Tentu saja Jun jadi malu setengah mati mendengarnya.
"Tidak, kok. Aku jujur mengatakannya. Aku juga merindukan Jun yang semangat. Jadi, ayo kita berjuang bersama."
Sepertinya aku suka padamu. Karena namamu adalah sebuah ungkapan lain dari kata "cinta." Jadi, setiap kali aku menyebutkan namamu, itu adalah seberapa kali aku jatuh hati.
Tentu saja Jun mengatakan itu dalam hati.
