Through Dreams, I Hear You

Rate T

One Piece milik Eiichiro Oda. Author hanya meminjam karakter untuk mendapatkan asupan.

WARNING! Fem!Sabo, OOC (diusahakan tidak), Typo yang tidak disengaja, alur lompat-lompat, tidak jelas (mungkin?), timeline diambil dari after Marineford.

Special thanks for Gumi Kuran at twitter: /Kana_Kuran01 for her wonderful idea!

Happy Reading!

.

.

.

Ace merasa tenang dan damai untuk yang pertama kalinya sejak dia mengerti tentang dunia. Sekelilingnya sangat hening, dan dia tidak bisa merasakan apapun selain perasaan melayang dan lega.

Dia tidak bisa melihat apapun, tidak bisa mencium apapun. Tidak merasakan sakit yang membakar—dadanya—ataupun mendengar tangisan Luffy.

Segalanya seolah-olah berhenti di satu titik.

Hingga sebuah suara untuk yang entah sudah berapa lama kembali menghampirinya.

"Ace, maafkan aku."

Ace tidak mengerti. Dia juga tidak mengenali suara itu. Siapakah dia? Kenapa dia berkata padanya dengan nada penuh penyesalan seperti itu?

"Seharusnya aku mengingatmu lebih cepat. Maafkan aku."

Kenapa dia meminta maaf? Apakah dia berbuat salah pada Ace? Apakah mereka pernah berjanji akan sesuatu?

Ace hampir terperanjat—dia sadar tidak bisa—saat kepalanya diusap. Untuk pertama kalinya setelah kematiannya, dia bisa merasakan sentuhan—sekalipun dia masih tidak bisa melihat apapun.

"Aku akan kembali, jaga dirimu, Ace. Aku menyayangimu."

"Siapa?" untuk yang pertama kalinya sejak kematiannya, Ace membuka suaranya. Tapi tidak ada yang menjawabnya, dan dia tiba-tiba merasa sangat, sangat lelah.

Tanpa dia sadari, kegelapan menenangkan jiwanya.

.

.

.

"Halo, Ace, aku kembali."

Ace terbangun ketika suara yang sama kembali terdengar. Kali ini seseorang itu mengenggam tangannya dan mengusapnya dengan lembut.

"Kau tahu, sudah empat bulan sejak perang di markas angkatan laut. Luffy kini sedang berlatih untuk menjadi lebih kuat. Tapi dia masih menolak percaya bahwa kau masih hidup."

Dia masih hidup? Omong kosong apa yang orang ini bicarakan? Ace sudah mati! Dia merasakan sendiri saat tubuhnya terbakar, tapi lama kelamaan rasa itu menjadi dingin. Sangat dingin.

"Aku tidak akan menyalahkannya. Bagaimanapun kau mati di pelukannya."

"Ace, maafkan aku. Seharusnya aku ikut berada disana dan membantu untuk menyelamatkanmu. Tapi aku malah melupakanmu, melupakan kalian selama bertahun-tahun."

Siapa dia? Apa maksudnya dia melupakan Ace?

Tawa kecil penuh kesedihan memenuhi indra pendengarannya, dan orang itu kembali berkata. "Bahkan walaupun kau percaya bahwa aku sudah mati, kau masih mengingatku." Tempat dimana tato-nya berada disentuh, membuat Ace mengerutkan kening.

Tato ASCE miliknya melambangkan Ace, Sabo, Luffy dan ayahnya, Edward Newgate.

"Maaf, maaf, maaf karena aku tidak mengingatmu dan tidak bisa melindungimu."

Satu-satunya yang hilang dari hidupnya selama ini adalah Sabo. Bolehkah Ace berharap bahwa orang yang sedang berbicara dengannya ini benar-benar Sabo?

"Itu tidak akan terjadi lagi. Sekarang aku akan melindungi kalian berdua, aku juga akan memasang mata pada Luffy sehingga kau tidak perlu khawatir lagi pada adik kecil kita."

"Sabo?" jika Ace masih memiliki jantung, dia yakin organ itu sekarang akan berdetak kencang.

"Aku akan menjaganya, Ace. Jadi kau tidak perlu khawatir."

"Kau benar-benar masih hidup? Sabo?"

Pertanyaan itu tidak terjawab. Hanya saja rambutnya kembali diusap dan sesuatu yang lembut menyentuh keningnya.

"Aku akan kembali lagi, Ace. Jaga dirimu."

"Tunggu! Apakah kau benar-benar Sabo?!"

Lagi-lagi, tidak ada yang menjawabnya. Sebelum dia menyadarinya, kegelapan kembali menenangkan jiwanya.

.

.

.

"Halo, Ace, bagaimana kabarmu hari ini?"

Ace terbangun dan kembali merasakan tangannya digenggam. Kali ini, dia bisa mencium aroma lautan yang bercampur dengan harumnya bunga.

"Maafkan aku karena tidak dapat mengunjungimu selama beberapa bulan. Dragon-san menugaskanku dalam misi pengamatan, setelahnya kami harus menyelamatkan orang-orang yang diperbudak oleh Tenryuubito."

Pekerjaan apa yang Sabo lakukan? Itu terdengar berbahaya. Ace tahu pasti bahwa Sabo tidak menjadi bajak laut, karena jika dia menjadi bajak laut, Ace sudah pasti akan melihat bounty milik Sabo dan mencarinya.

"Revolusioner berencana melakukan misi yang sulit setelah ini."

"Oh, jadi kau kini menjadi Revolusioner? Bagaimana caranya kau menjadi salah satunya?"

"Kami berniat membebaskan rekan kami, dan untuk itu kami harus menyusup masuk kedalam kediaman Tenryuubito. Ini adalah misi jangka panjang, jadi aku tidak tahu kapan aku bisa melihatmu lagi, ataupun apakah aku akan kembali dengan selamat."

"Apa? Tunggu, kalau begitu jangan pergi!"

"Aku sangat menyayangimu, Ace. Begitupun saudara-saudaramu. Jangan pernah berkata bahwa kau tidak layak dicintai, kau tidak layak hidup. Aku akan mengatakan padamu, dan aku akan mengatakannya berkali-kali lagi bahwa kami mencintaimu. Kau layak untuk hidup, menjadi manusia yang juga balas mencintai orang lain."

"Aku sudah mengetahuinya. Luffy yang menanamkan itu padaku. Kau tidak perlu khawatir aku akan membunuh diriku lagi, Sabo."

"… Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu, Ace. Aku harap kau segera sadar."

Tangan Ace gatal untuk balas mengenggam tangan Sabo—tidak membiarkannya pergi, membuatnya tetap di sisinya selamanya dan mendengarkan suaranya, menceritakan padanya tentang hari-harinya, ataupun tentang masa lalu mereka yang kini mereka ingat, atau bahkan Luffy yang kini pasti bertambah kuat.

"! Marco-san! Tangannya bergerak!"

"…"

Ace tidak mendengar apapun selain suara Sabo. Tapi genggaman di tangannya mengerat dan Ace membalas genggaman itu dengan sekuat tenaga.

"Apakah menurutmu dia akan segera sadar?"

"…"

Kenapa dia tidak bisa mendengar suara Marco? Hanya suara Sabo yang terdengar di telinganya. Apakah itu sebabnya selama ini dia selalu diam dalam kekosongan yang menenangkan tanpa ditemani satupun suara?

"Kuharap begitu. Aku harus pergi sekarang, tolong jaga dia untukku."

Usapan lagi-lagi dirasakan Ace di puncak kepalanya, kemudian sesuatu yang hangat dan lembut menempel di dahinya selama beberapa saat.

"Sampai jumpa lagi, Ace. Aku menyayangimu."

Dan kegelapan lagi-lagi menarik kesadarannya dan menenangkan jiwanya.

.

.

.

Kali ini, Ace terbangun. Tapi tidak ada satupun suara yang menyambutnya. Tapi dia mulai merasakan empuknya kasur yang berada di bawah punggungnya. Dia juga mulai bisa mencium aroma dan guncangan samar yang biasa terjadi ketika mereka berada di dalam kabin kapal.

"Sabo, apa kau yakin tidak ingin beristirahat sebentar? Kau baru kembali dari misi."

Ace tersenyum hingga menyadari bahwa dia bisa mendengar suara Marco.

"Marco! Kau bisa mendengarku? Hey!"

"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertemu dengan Ace sebentar."

"… apa yang terjadi? Aku mendengarkan, kau tahu."

"… misi kami tidak berjalan dengan baik. Jadi kami terpaksa mundur beberapa saat. Belum lagi Kurohige masih mengincar Luffy dan mulai mengincar Revolusioner."

Ace menggeram dan mengumpat kasar ketika mendengar bahwa pria bangsat itu masih mengincar saudaranya. Bahkan kini dia juga mengincar Sabo?!

Dia baru mulai tenang ketika tangan Sabo lagi-lagi mengusap rambutnya dan mengenggam tangannya.

"Halo, Ace. Bagaimana kabarmu hari ini? Aku membawa berita yang akan membuatmu bangga, kau tahu? Luffy berhasil mengalahkan Doflamingo. Kau tahu, Shichibukai yang menjadi raja di Dressrosa itu? Dia mengalahkannya dan membantu kami membebaskan rekan kami yang menjadi mainan."

"Oh, dan dia bisa terbang! Kau pasti tidak akan percaya ini, tapi dia menjadi mirip sekali dengan Dragon-san saat menggunakan 'Gear-4' nya. Aku juga sudah bertemu dengannya dan mengatakan bahwa kau masih hidup. Dia tidak percaya pada awalnya, tapi untunglah aku berhasil meyakinkannya. Kurasa dia akan berkunjung dalam waktu dekat."

"Apa yang kau katakan padanya hingga dia percaya? Aku sudah pernah mencoba memberitahunya, tapi dia menolak percaya!"

"Aku menjelaskan bawa Ace hanya mati untuk sementara dikarenakan otot jantungnya terkejut. Setelah mendapat pengobatan, otot jantungnya pulih dan dia kembali bernapas. Aku ingat dulu aku mengajarkan Luffy bahwa jantung yang berdetak menandakan bahwa orang itu hidup. Itu sebabnya dia tidak percaya padamu. Karena dia melihatnya dan merasakannya sendiri saat jantung Ace berhenti berdetak."

Tangannya digenggam erat sebelum genggaman itu kembali normal. Tangan Sabo bergetar dan Ace dapat merasakannya dengan sangat jelas.

"Aku harap kau segera sadar, Ace. Kami merindukanmu."

Ace ingin bangun. Dia ingin membuka matanya dan melihat Sabo. Dia ingin membuka matanya dan berbicara dan memeluk Sabo dan tidak membiarkannya pergi. Dia ingin, tapi tidak bisa.

"Ngomong-ngomong, aku mendapatkan mera-mera no mi Ace kembali. Doflamingo menggunakannya untuk mengacaukan rencana Luffy dan Trafalgar Law. Kebetulan saja aku juga membutuhkan jalan rahasia yang terletak tepat dibawah ring, jadi aku sekalian mengambil hadiahnya."

Marco tertawa kecil. "Dan aku yakin kalian tidak akan terima jika buah milik Ace jatuh ke tangan orang lain, yoi."

"Tentu saja tidak. Lagi pula, Ace masih hidup. Dan kekuatan ini adalah miliknya."

Ace ingin berteriak. Dia ingin bangun dan sadar dan memeluk Sabo dan mengucapkan terima kasih. Tapi dia tidak bisa. Ada sesuatu yang menahannya.

"Ace, aku sangat menyayangimu. Kami akan menunggumu sadar."

"Kau akan pergi? Ini lebih awal dari kunjunganmu yang biasanya."

"… markas kami diserang tadi malam, Marco-san. Aku harus segera kembali dan membantu Dragon-san mengurus perpindahan dan persembunyian baru."

"Apakah… apakah kau baik-baik saja?"

Tawa lelah terdengar di telinganya dan Ace ingin menangis.

"Tidak ada yang terluka. Tapi ini membuktikan bahwa kalian harus lebih hati-hati lagi. Kalau Kurohige bisa menemukan markas kami dan menghancurkannya dalam semalam, maka dia juga bisa menemukan tempat ini dan…"

Kata-kata itu tidak pernah selesai, tapi Ace entah bagaimana memahami maksud Sabo.

"… kapan adik kalian akan berkunjung?"

"Entahlah, dia tidak memberiku kepastian. Kurasa dia akan menyelesaikan urusannya lebih dulu sebelum berkunjung kesini. Dia baru saja kembali dan sudah begitu banyak petualangan yang menantinya."

"Aku akan menunggunya jika begitu."

Rambutnya kembali diusap, tetapi sesuatu yang kenyal dan lembut—dia yakin itu bibir Sabo—tidak menempel di keningnya seperti terakhir kali.

"… Marco-san, kalau aku tidak kembali, tolong sampaikan permintaan maafku kepada Ace."

"Apa maksudnya itu, yoi! Kau akan hidup dan kau akan kembali mengunjungi Ace! Aku tidak menerima penolakan!"

Sabo tertawa, tapi Ace tidak merasakan kebahagiaan. Apa yang akan Sabo lakukan?! Apakah dia akan pergi? Tunggu! Tidak! Dia tidak boleh kehilangan Sabo untuk yang kedua kalinya!

"Baiklah." Hanya itu jawaban Sabo sebelum bibir Sabo mendarat di keningnya seperti sebelum-sebelumnya. Lalu tanpa disangka-sangka, bibir itu mengecup ringan bibirnya.

Seketika Ace bernapas. Dia bisa merasakan sekelilingnya, dia bisa merasakan anggota tubuhnya, dan dia bisa mencium aroma lautan yang lebih kuat. "Sa..bo.."

Tarikan napas tajam terdengar dan seketika pipinya ditangkup oleh tangan hangat.

"Ace? Ace!"

"Ace, yoi!"

Wajahnya basah, tapi Ace berusaha untuk membuka matanya. Kelopak matanya sangat berat hingga Ace ingin menyerah, tapi dia tidak ingin kembali kedalam kegelapan yang menenangkan. Dia ingin bersama Sabo dan keluarganya dan Luffy dan rekan-rekannya.

Dia membuka mulut untuk mengambil napas ketika kelopak matanya mulai terbuka. Di atasnya, seorang gadis dengan manik mata biru seindah langit dan rambut pirang panjang sedang menangis dan mengaburkan warna mata indah itu.

"Ace!"

Ace mencoba untuk tersenyum. "Sa..bo.."

Isak tangis terdengar setelahnya dan Ace dapat melihat dari ujung matanya bahwa Marco berlari keluar. Dia yakin pasti untuk mengabari rekan-rekan mereka. Sedangkan Sabo kini memeluknya erat dan menangis di dadanya.

"Oh, Ace, hiks, Ace! Akhirnya kau sadar hiks!"

Ace tidak dapat mengatakan apapun dan hanya tersenyum, sekalipun matanya juga panas dan dia yakin bahwa dia juga menangis.

"Kau tidur lama sekali! Aku sangat khawatir! Dan kau hampir mati! Hiks, berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan hal itu lagi!"

"Aku… kembali… Sabo…"

"Hiks-selamat datang kembali hiks-Ace!"

Suara langkah kaki yang terburu-buru dari belakang Sabo membuat gadis itu melepaskan pelukannya dan Ace sedikit merengut. Dia belum puas memeluk Sabo—sekalipun tubuhnya sangat lelah dan seperti tidak memiliki tenaga.

Keluarganya dan rekan-rekannya muncul, menatapnya, dan jatuh kedalam tangisan dan kegembiraan.

"Ace-san!"

"Ace-san sudah sadar!"

"Ace! Akhirnya kau sadar juga, bocah!"

Dan Ace tidak sedikitpun menyesal telah meninggalkan kegelapan. Tidak jika dia dapat melihat senyum lebar orang-orang yang dicintainya.

.

.

.

END.