Aku Selalu Menunggumu

Rate: T – M [hanya berjaga-jaga]

Pair: Hatake Kakashi x Yamato Tenzou

Warning! Sesuai yang sudah di sebutkan, ini fanfiksi yaoi. Homophobia dimohon segera mundur. Jangan berharap kalian akan menemukan pair yaoi lainnya. Saya straight di Naruto tapi khusus dua orang ini, saya belok. Ooc, gaje, typo dan pendek. Saya sudah lama tidak mengetik. Jadi mari berharap ketikan ini tidak begitu buruk.

Note: Saya tahu kalau Kinoe dan Yamato adalah nama samaran yang diberikan untuk Tenzou. Jadi disini saya akan menggabungkannya menjadi Yamato Tenzou. Bila ada kesalahan, tolong ingatkan saya. Terimakasih.

Happy Reading!

.

.

.

.

Desiran angin bagaikan melodi yang menemani tiap langkah di jalan setapak pada hutan Konoha. Hembusannya menggelitik dan membawa daun-daun layu mengikuti arahnya. Hawa dingin yang membikin kulit merinding ikut serta. Namun hal ini sama sekali bukan masalah bagi para ninja Konoha yang baru saja menyelesaikan misinya.

Musim telah berganti dan lima negara besar sudah melakukan perjanjian damai. Mereka memenangkan perang melawan Madara. Naruto lagi-lagi telah menjadi pahlawan. Semua bergembira, merasa lega karena perang telah berlalu.

Sayangnya kegembiraan itu belum dirasakan sepenuhnya oleh Hatake Kakashi, seorang guru dari Uzumaki Naruto dan hokage ke enam.

Pria dengan rambut putih keperakan itu masih menunggu seseorang kembali membuka matanya. Seseorang yang sangat disayanginya. Seseorang yang membawa separuh hatinya hingga separuh nafasnya.

Yamato Tenzou ditemukan terantai di sebuah batu dengan sulur-sulur tanaman menjalari setengah tubuhnya. Ia hampir mati karena cakra-nya terus menerus tersedot dan sel-sel dalam tubuhnya diserap paksa oleh sulur-sulur sialan itu. Untunglah Sakura dan hokage ke lima dapat menolongnya tepat waktu.

Walaupun sampai sekarang Yamato Tenzou harus terus tertidur di sebuah tabung energi untuk memulihkan sel-selnya yang ditarik paksa hingga ia benar-benar pulih dan terbangun dengan sendirinya.

Kakashi menghela nafasnya dan menatap langit cerah di atasnya. Langit seolah-olah masih merayakan kemenangan sebulan yang lalu. Entah Kakashi harus merasa miris atau ikut berbahagia. Ia selalu menyesali keputusan membiarkan Tenzou seorang diri tanpanya.

"Kakashi-sensei, apa yang sedang kau lakukan disini?" itu Naruto yang baru saja menyelesaikan misi untuk mencari obat-obatan sekaligus melatih lengan barunya.

"Hm... apa ya, mungkin mengamati langit cerah?" Kakashi menjawab tanpa menoleh. Ia tahu Naruto pasti sedang berjalan mendekatinya dari belakang sekarang.

"Kakashi-sensei, apa kau masih memikirkan Yamato-taichou?"

Orang yang menjadi gurunya itu tidak langsung menjawab. Namun Naruto lebih dari paham jika pria didepannya selalu memikirkan Tenzou dan merasa bersalah karenanya.

"Bagaimana menurutmu, Naruto?" Kakashi melirik dari sudut matanya dan menurunkan dagunya, "Apa aku terlihat tidak memikirkannya?"

Naruto menatapnya serius. Terlihat dengan jelas kalau dia juga ikut merasa sedih dan bersalah. Jika bukan karenanya, Tenzou tidak perlu sampai melawan Kabuto dan tertangkap. "Sensei..."

Rokudaime itu menghela nafas dan menepuk kepala Naruto, "Bukan salahmu. Tidak apa-apa, dia akan segera bangun." Ucapnya sambil memaksakan tersenyum.

Bagaimanapun, Hatake Kakashi juga sudah terlalu rindu dengan sosok Yamato Tenzou.

.

.

.

.

Setiap hari, tanpa peduli dengan tugasnya yang belum selesai, Kakashi akan selalu mengunjungi Tenzou di bekas laboratorium milik Orochimaru (yang sekarang dihuni oleh manusia setengah ular itu untuk memantau kondisi Tenzou dengan pengawasan ketat ANBU.)

Biasanya ia hanya berdiri diam di depan tabung milik Tenzou sambil menatapnya. Sesekali mengusap dinding tabung didepannya seolah-olah tengah menyentuh pipi Tenzou.

Kakashi akan diam dan selalu pergi setelah tiga puluh menit. Ia juga selalu bungkam saat Orochimaru bertanya padanya dengan senyum aneh dan tatapan licik.

Hari ini, Kakashi melihat sebuah benda yang melayang rendah di sekitar leher Tenzou. Matanya langsung membulat dan tangannya tanpa dapat dicegah langsung menyentuh dinding tabung di depannya.

Itu adalah kalung dengan bandul cincin yang diberikannya sebelum perang berlangsung. Kalung yang dianggapnya sebagai 'pengikat' antara dirinya dan Tenzou.

Ternyata Tenzou tetap memakainya, bahkan hingga sekarang.

"Kalung itu selalu terpasang di lehernya. Denyutnya selalu melemah saat aku mencoba melepas kalung itu jadi aku membiarkannya ada di sana." Orochimaru berdiri menyender pada dinding sambil melipat tangan. Tatapannya terarah lurus pada sosok Kakashi yang berdiri diam di depan tabung laboratoriumnya. "Itu pemberianmu kan? Kalian memang pasangan yang menarik."

Kakashi memutuskan untuk tetap diam. Walaupun ia mengakui kejelian Orochimaru tentang perasaannya pada Tenzou.

"Apakah kalian mau memiliki anak? Aku bisa melakukan percobaan untuk itu."

Desahan pelan terdengar, "Aku menghargai tawaranmu, tapi kurasa cukup dengan percobaan-percobaanmu. Kami tidak ingin menambah masalah bagi desa karena keinginan egois kami." Ini adalah pertama kalinya Kakashi menjawab saat ditanya, Orochimaru tampak sangat puas karenanya.

"Oh? Baiklah kalau begitu." Orochimaru memalingkan pandangan dengan nada tidak peduli. "Ngomong-gomong, tubuhnya luarbiasa. Seharusnya dengan kondisi seperti itu dia membutuhkan waktu lima tahun untuk pulih. Bahkan itu adalah sebuah keajaiban mengingat dia masih hidup. Hal ini diluar dugaanku, tubuhnya telah terbiasa dengan patung Gedo. Kemungkinan tubuhnya secara alami balik menyerap energi dari patung Gedo dan beberapa selnya menyatu didalam tubuhnya, walaupun berujung sia-sia. Setidaknya dia memperpanjang umurnya dengan tidak membiarkan sel-sel yang hilang tidak tergantikan kembali. Itu membuat perkembangannya menjadi lebih cepat—tidak, menjadi amat sangat cepat."

Mata Kakashi langsung melirik Orochimaru dengan kilat ancaman, "Kau—!"

"Tenang-tenang, aku tidak menyentuhnya. Hanya saja sel-selnya kembali berkembang dengan cepat dan tidak ada kemungkinan ia tidak akan terbangun dalam waktu dekat."

'Kenapa manusia setengah ular ini bisa mengetahuinya kalau ia tidak menyentuh Tenzou-nya?' Kakashi membatin dengan kesal. Sungguh, ia ingin Tenzou segera bangun jadi ia bisa membawanya pergi dari sini.

"Tentu saja aku tidak mengambil darahnya. Aku hanya mengecek dari reaksi cairan di dalam tabung itu. Perkembangannya sangat mengagumkan hingga aku ingin sekali mengambil beberapa sampel." Orochimaru mengatakannya dengan begitu santai hingga Kakashi benar-benar ingin mencabiknya dengan chidori. Ia tidak heran kenapa Orochimaru bisa menebak isi hatinya. Pasti karena ekspresi wajahnya sekarang. "Yah, aku tidak terlalu tertarik lagi karena bagaimanapun aku sudah pernah menelitinya."

Pria setengah ular itu menatap mereka dan berbalik pergi. Tampak tidak tertarik dengan drama percintaan mereka.

Kakashi memperhatikan punggung gemulai itu hingga hilang di telan kegelapan sebelum kembali melihat pada Tenzou.

Pemilik hatinya itu seperti tahanan didalam tabung laboratorium. Kedua kakinya dijalari sulur-sulur hingga pinggang dan kedua lengannya juga sama. Di bagian wajah, terpasang selang yang tersambung pada tabung udara (itu sebabnya Kakashi tidak dapat melihat kalung yang dipakai Tenzou sebelum ini. Selain karena kalung itu tertutup kerah baju Tenzou, selang-selang itu juga menghalangi.)

Wajah Tenzou terlihat pucat, mungkin akibat cairan didalam tabung atau karena kondisi tubuhnya yang memang belum membaik. Kakashi ikut sedih melihatnya. Ia ingin membawa Tenzou keluar dan merawatnya seorang diri. Sayangnya ia tahu bahwa tugas hokage tidak bisa di telantarkan begitu saja.

"Waktuku habis, aku akan mengunjungimu lagi besok, Tenzou.." Kakashi menempelkan dahinya dengan dinding tabung, berusaha menatap wajah Tenzou dengan lebih dekat. Setelahnya ia berbalik dan melangkah pergi.

.

.

.

.

Hari ini Kakashi datang lebih awal.

Entah kenapa instingnya menyuruhnya untuk datang dan melihat tenzou lebih awal dari biasanya.

Keadaan Tenzou masih sama seperti sebelumnya. Yang berbeda hanyalah cairan yang mengelilingi Tenzou berubah menjadi lebih jernih sehingga Kakashi dapat melihat wajah tenzou lebih jelas.

"Tenzou..."

Kakashi mengakuinya, ia amat merindukan Tenzou. Merindukan suaranya, senyumannya, segalanya. Ini lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan gurunya dan teman-temannya. Jika ia bisa, ia ingin agar bisa menggantikan Tenzou pada saat itu.

"Se...npa...i.." suara itu akan Kakashi anggap sebagai halusinasi jika saja ia tidak melihat bibir Tenzou bergerak samar. Kelopak matanya bergerak-gerak sebelum terbuka perlahan dan menampakkan manik hitam kesukaan Kakashi. Kedua tangannya terayun dan menyentuh tangan Kakashi di balik dinding laboratorium dengan sangat lemah. "Sen...pai.."

"Tenzou!" Kakashi nyaris kelepasan menghancurkan dinding tabung jika saja dia tidak ingat bahwa Tenzou masih dalam perawatan. "Tenzou, bersabarlah..."

Anehnya, Tenzou malah terlihat ketakutan. Gerakannya kacau dan sulur-sulur yang menjalari tubuhnya malah bergerak-gerak liar. Pria itu menutup matanya dan perlahan tenggelam. Sulur-sulurnya malah menajam dan menghancurkan dinding tabung dari dalam. Selang yang tersambung pada tabung oksigen terputus begitu saja karena gerakan liar. Kakashi khawatir Tenzou kenapa-napa.

"Hancurkan saja tabungnya, sepertinya dia memiliki trauma." Itu Orochimaru yang datang untuk melihat keributan. Beberapa ANBU juga terlihat di belakangnya. Begitupun Tsunade yang mungkin datang untuk mengecek kondisi Tenzou.

"Keluarkan dia dari dalam sana sebelum dia menjadi gila! Kakashi!"

Tanpa menunggu lagi, Kakashi langsung menghancurkan dinding tabung sepenuhnya hingga pecah berkeping-keping. Ia langsung menarik Tenzou dari sulur-sulur yang mulai melemas dan melepas sisa selang yang terpasang di wajah kekasihnya tanpa memerdulikan sisa air yang masih mengucur keluar.

"Tenzou! Kau bisa dengar aku?"

Nafas Tenzou sedikit putus-putus saat tubuhnya mulai bergerak lemah menyamankan diri di pelukan Kakashi. "Ka ... kashi ... sen ... pai ... aku ... maaf ..."

Kakashi menyentuh pipi Tenzou yang dingin, mungkin akibat terlalu lama terendam didalam air. Mata Tenzou terbuka dengan sayu, terlihat bersalah sekaligus takut. Pria itu ingat dengan jelas bahwa terakhir kali Tenzou terlihat ketakutan adalah saat mereka masih remaja. "Tidak perlu minta maaf, kau baik-baik saja sekarang. Aku disini, istirahatlah."

Ia mengecup singkat pipi Tenzou dan menggendongnya seperti pengantin dengan mudah tanpa peduli dengan ANBU (yang pasti akan otomatis bungkam tanpa disuruh) dan dua dari sannin legendaris yang ada disana. Bila Tenzou sekarang sadar, ia pasti akan menyindir senpai-nya itu dan memaksa untuk berjalan dengan kakinya sendiri.

"Yamato!" Tsunade melihat Tenzou didalam gendongan Kakashi dan memeriksanya sebentar. Lalu mengangguk kemudian. "Dia baik-baik saja. Hanya saja cakra-nya masih benar-benar lemah. Kau mau membawanya ke rumah sakit Konoha atau rumahmu, Kakashi?"

"Tsunade-sama!" bahkan Kakashi sendiri tidak dapat menebak kalau kalimat itu yang keluar dari bibir sang Godaime hokage.

Tsunade melipat tangan dan berbalik dengan tidak peduli, "Tidak apa-apa kalau kau mau merawatnya di rumahmu. Hanya saja, jangan biarkan dia melakukan sesuatu. Suruh dia beristirahat total agar segera pulih."

"Baik, Tsunade-sama—"

"Oh, Kakashi, jangan lupakan tugasmu sebagai hokage."

" ... "

Kakashi mati kutu. Sepertinya itu sindiran untuknya—

"Yah, kuserahkan Yamato padamu. Aku akan mengambil alih tugas sementara. Bayar aku dengan sake selama seminggu penuh!"

—Atau mungkin tidak.

.

.

.

.

Setelah hari itu, Kakashi selalu berada di rumah dan melayani Tenzou hingga pulih.

Adik tingkatnya itu awalnya tertidur sepanjang hari dengan wajah pucat, lalu setelah hari kedua barulah keadaan tubuhnya mulai membaik. Namun Kakashi tidak memperbolehkan Tenzou untuk meninggalkan futon miliknya.

Saat mandi ataupun harus ke kamar mandi, Tenzou selalu digendong oleh Kakashi hingga yang di perlakukan layaknya putri merasa malu luar biasa. Ia sudah memberontak beberapa kali namun tentu saja gagal.

Dan hari ini, Tenzou ingin mengetahui alasan dari senpai-nya itu memperlakukannya dengan sangat manis. Perlakuan yang didapatnya itu selalu tidak baik bagi kesehatan jantungnya. Apalagi Tenzou pernah melihat cincin yang sama dengan yang ada di kalungnya melingkar pas di jari manis Kakashi.

"Senpai, aku sudah baik-baik saja."

Kakashi menoleh, menatapnya dan tersenyum dari balik maskernya itu. "Bagus kalau begitu."

"Senpai, ada yang ingin aku tanyakan." Tenzou mengambil nafas dan mempersiapkan diri untuk bertanya pada Kakashi yang kini sibuk membaca buku sambil duduk menyandar di dinding. "Kenapa senpai mengurusku? Bahkan memperlakukanku seperti itu."

"Hmm? Seperti apa maksudmu?"

"Seperti... seperti... aah! Kakashi-senpai! Kau menggodaku kan?!"

Senpai-nya tertawa, lalu dalam sekejab sudah ada di depannya dan bersiap untuk memeluknya. Tenzou masih terlalu lemah dan malas untuk menyadari rencana absurd Kakashi. Jadinya ia diam saja dan berakhir didalam pelukan Kakashi.

"Senpai?"

"Tenzou, akan aku beritahu satu hal."

"Bisakah senpai memberitahuku tanpa harus memelukku seperti ini?"

"Aku mencintaimu."

"Hah?"

"Aku mencintaimu, Tenzou. Aku tahu ini salah tapi aku benar-benar mencintaimu."

"..."

"Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku tidak bisa menghilangkan kau dari pikiranku. Senyumanmu dan tingkahmu, bahkan perasaan berdebar yang selalu ku rasakan. Dan pada akhirnya aku menyadari, bahwa aku sama sekali tidak bisa kehilanganmu."

"..."

"Tenzou?"

Tidak ada jawaban hingga Kakashi berniat untuk merenggangkan pelukan mereka. Tapi tanpa di duga, Tenzou menahan gerakannya dengan balas memeluknya erat-erat.

"Hey, Tenzou?"

"... Ore mo, suki da." Bisik Tenzou dengan debaran yang menggila. Ia hanya berharap bahwa senpai-nya itu tidak mendengar degup jantungnya yang begitu kencang.

Kakashi ikut terdiam sebelum tertawa dan kembali memeluk Tenzou dengan sangat erat. "Arigatou, Tenzou."

Mereka diam dalam posisi berpelukan itu cukup lama sebelum tangan Kakashi dengan mudah mengangkat pinggul Tenzou untuk duduk diatas pahanya. Posisi ini lebih nyaman daripada posisi sebelumnya, jadi mereka dapat saling menempel lebih lama.

"Senpai, apakah kalung yang waktu itu..." Tenzou tiba-tiba bertanya, memecahkan keheningan yang nyaman bagi mereka. "Apakah arti dari 'pengkiat' adalah ... aku milikmu?"

"Bagaimana menurutmu, Tenzou?" Kakashi balas bertanya, maskernya telah ditarik hingga setengah bibir hingga kini ia bebas menciumi leher Tenzou yang terbuka lebar.

"Apakah itu artinya senpai mengajakku menikah? Ah, jangan disana—geli... senpai, tolong hentikaaannh..." desahan tidak sengaja lolos, membuat Kakashi langsung membeku dan bergerak menjauhkan diri.

Ia belum ingin kelepasan dan menyakiti Tenzou.

"Kau... mau menerimanya?" Kakashi memundurkan tubuhnya sedikit agar dapat melihat wajah Tenzou dengan jelas. Orang yang dicintainya itu memerah malu.

"Eh?"

"Menikah, kau mau?"

Mereka saling menatap hingga Tenzou tiba-tiba menyentuh pipi Kakashi dan mengusapnya lembut sambil tersenyum manis. "Un, aku mau."

Ah, kalau begini Kakashi mana tahan?

Dengan cepat bibir mereka bertautan, mengecap rasa sama lainnya tanpa ada yang berniat mendominasi. Berusaha saling memberikan pengertian dengan ciuman manis yang singkat.

Ya, setidaknya mereka kini bahagia. Penantian Kakashi dan Yamato sendiri telah berujung manis.

.

.

.

.

END.

a/n:

Udahlah, saya nggak tahu ini saya nulis apaan. Yang penting KakaYama.

Sudah lelah saya, nggak kuat ngetik lagi. Ahahaha.