Jangan Pernah Pergi

Rate: T - M

Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

Pair: Hatake Kakashi x Yamato Tenzou

Warning! Ini fanfiksi yaoi pertama di fandom Naruto (author straight di fandom ini kecuali buat dua orang ini). Author juga sudah lama tidak mengetik fanfiksi, jadi aku berharap tulisan ini tidak begitu buruk. Typo, OOC (SANGAT DIUSAHAKAN tidak), Gaje, dan mungkin sedikit berantakan. Aku tidak tahu. Ini setengah AU setengah AR (lebih ke AU sih.) Jadi ya... Begitulah.

Note: Aku tahu kalau Kinoe dan Yamato adalah nama samaran yang diberikan untuk Tenzou. Jadi disini aku akan menggabungkannya menjadi Yamato Tenzou. Bila ada kesalahan, tolong ingatkan aku. Terimakasih.

Selamat membaca!

.

.

.

Yamato Tenzou memperhatikan punggung Hatake Kakashi yang berjalan di depannya. Perang semakin dekat dan mereka akan terpisah selama beberapa waktu karena Tenzou harus mengawal Naruto.

Mereka berjalan santai dalam hening. Kakashi masih setia dengan kebisuannya dan Tenzou lebih memilih memandang langit cerah di atas sana daripada merusak suasana hening.

Sebenarnya, Tenzou sendiri tidak mengerti hubungan macam apa yang mereka bentuk. Senpainya itu selalu baik kepadanya dan seolah-olah selalu memberinya perhatian khusus karena Kakashi akan selalu menolong dan menopangnya disaat ia hampir jatuh. Dia sendiri merasa nyaman dengan Kakashi dan selalu berdebar aneh saat Kakashi menyelamatkannya.

Tubuh didepannya mendadak berhenti, dan Tenzou langsung mengalihkan tatapannya dari bintang-bintang yang bersinar cerah.

"Na, Tenzou." tubuh didepannya berbalik menghadapnya. Posturnya santai dengan kedua tangan yang tersembunyi dalam saku celana. "Apakah kau akan pergi selama itu?"

'Pertanyaan macam apa itu?' Tenzou membatin namun tetap menjawab senpainya, "... Ya, Kakashi-senpai sendiri tahu kalau perang ini bertujuan untuk melindungi Naruto."

"Benar juga ya... Aku menanyakan hal bodoh."

Angin malam merambati kulit, mengirim gemetar dingin namun tidak sampai menyakiti. Dua anak adam saling berpandangan sebelum salah satunya mengangkat tangan dan menepuk bahu yang lainnya.

"Tenzou... Berjanjilah kau akan baik-baik saja."

Tenzou mengerjap, jantungnya kembali berdebar hangat hingga pipinya terasa panas. "Se-senpai?"

Tatapan Kakashi lurus padanya. Tampak bersungguh-sungguh sekaligus khawatir. Tenzou dapat merasakan pegangan pada bahunya mengerat.

"Aku akan baik-baik saja, senpai. Senpai tidak perlu khawatir. Ada Aoba-san dan Guy-san. Aku juga tidak selemah itu hingga dengan mudah dapat dikalahkan musuh." Tenzou mengambil tangan Kakashi di bahunya dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Senyum menenangkan tercetak di bibirnya.

Kakashi diam dan tatapannya teralih pada tautan tangan mereka. Tangan Tenzou benar-benar hangat dan menenangkan rasa tidak tenangnya. Ia tersenyum lega kemudian.

"Tenzou, ada yang ingin kuberikan padamu. Anggap saja ini sebagai pengikat diantara kita." Kakashi mengeluarkan tangan lainnya dan menunjukkan sebuah kalung besi tipis dengan bandul berbentuk cincin putih polos.

Tenzou menatap Kakashi dengan bingung. Untuk apa dia diikat? Dan lagi, memangnya bisa mengikat orang dengan sebuah kalung?

Tangan senpainya melepaskan genggaman tangan mereka dan mengambil pengait kalung itu. Tubuhnya maju selangkah lebih dekat dan melingkarkan kalung itu di lehernya.

Tenzou harus menahan rasa panas di kedua pipinya saat mencium bau khas milik senpainya. Seperti rumput segar yang menenangkan.

Tangan yang tadinya mengaitkan kalung di lehernya mendadak menyentuh kedua pipi panasnya setelah selesai melakukan tugasnya. Perilaku ini membuat dada Tenzou berdebar hingga ia khawatir suaranya terdengar oleh Kakashi. Tangan hangat senpainya itu membawanya untuk mendongak dan menatap wajah rupawan milik Kakashi.

"Tenzou, jangan pernah pergi dariku... Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi." bisik Kakashi dari balik maskernya sebelum mulai mendekat.

Tenzou mendengar bisikan itu. Tanpa sadar kedua tangannya terangkat dan berhenti di kedua bahu Kakashi. Perilakunya seolah mendorong tapi nyatanya tangan itu hanya terdiam lemas di atas sana.

Suasana sangat mendukung untuk mereka berciuman. Sayangnya Kakashi berhenti saat bibirnya nyaris menyentuh Tenzou.

Mereka itu... Apa?

Mempertimbangkan situasinya, Kakashi lebih memilih mengecup dahi Tenzou yang tertutup lambang Konoha. Setelahnya ia mundur beberapa langkah dan kembali memasukkan kedua tangannya di balik kantung.

"Se-senpai..." Tenzou terkejut dengan kecupan yang didapatnya. Itu terlalu mendadak dan wajahnya sekarang sudah memerah sepenuhnya.

"Ini sudah saatnya kau kembali, kan? Besok kau akan berangkat. Istirahatlah." Kakashi lagi-lagi tersenyum melihat reaksi Tenzou. Lalu ia dengan cepat menghilang.

Tenzou yang ditinggalkan tangsung berjongkok sambil memegangi dadanya. Pipinya panas dan dadanya berdebar kencang seolah-olah ada burung yang bergerak-gerak didalamnya.

"Senpai..." kata-katanya terhenti begitu saja. Ia terlalu malu untuk mengingat apa yang baru saja terjadi. "Aaaah, bagaimana caraku bisa tidur jika wajah senpai selalu muncul didepanku?!"

Dan begitulah, Tenzou berangkat keesokan harinya dengan wajah kuyu dan mata mengantuk. Lingkaran hitam tampak di bawah matanya dan itu membuat wajahnya makin mengerikan. (Itu kata Naruto.)

.

.

.

.

END.