Pacar Kakashi-sensei

Rate: K – T

Pairing: Hatake Kakashi x Yamato Tenzou

Slight: Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke x Haruno Sakura

Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. Author hanya meminjam karakternya dengan maksud memuaskan keinginan pribadi.

Warning! OOC, typo yang manusiawi, gaje, pendek (mungkin) dan yang terpenting, HOMOPHOBIA SILAHKAN TEKAN TOMBOL KEMBALI. ANDA SALAH LAPAK. Saya tidak mau menerima hujatan karena ini fanfiksi yaoi. Sudah saya warning dan tolong untuk tidak meninggalkan flame.

Note: Saya tahu kalau Kinoe dan Yamato adalah nama samaran yang diberikan untuk Tenzou. Jadi disini saya akan menggabungkannya menjadi Yamato Tenzou. Bila ada kesalahan, tolong ingatkan saya. Terimakasih.

Ps: kalian tidak akan menemukan pair belok lainnya selain KakaYama dan ShishuItachi dari saya. Saya masih sangat menyukai SasuSaku dan NaruHina. Terutama ShikaTema, SaiIno dan NejiTen. Intinya, saya belok hanya untuk dua pair ini.

Happy Reading!

.

.

.

Di ruangan Rokudaime Hokage sekarang tengah terjadi diskusi antara mantan murid dan gurunya.

Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura, dua ninja yang telah melangsungkan pernikahan itu sedang membicarakan misi di luar desa yang akan dilakukan dalam waktu cukup lama. Suasana cukup tegang, sampai pria berambut kuning masuk tanpa permisi dan mencairkan suasana yang ada.

"Yo! Sasuke, Sakura-chan, Shikamaru, Kakashi-sensei. Apa kalian sedang membicarakan misi, dattebayou?" sapanya dengan cengiran bodoh yang selalu terpasang di wajahnya. Istrinya, Hyuu—Uzumaki Hinata, mengikuti dari belakangnya.

"Pe-permisi, Hokage-sama, Shikamaru-san, Sasuke-san dan Sakura-san..."

"Ohh! Naruto! Hinata! Ada apa datang kesini?" Sakura membalas sapaan mereka, sedangkan suaminya hanya mendengus.

Uzumaki Naruto—mantan dari murid sang Rokudaime—hanya tersenyum semakin lebar. "Tidak ada apa-apa, hanya saja rasanya sudah lama kita tidak berkumpul sejak masing-masing dari kalian menikah—ah, maaf Kakashi-sensei, aku lupa kalau kau belum menikah. Kenapa kau tidak segera menikah?—tapi apa salahnya jika kita berkumpul bersama?"

Haruno—tidak, Uchiha Sakura tertawa canggung, dalam hati mengutuk Naruto yang menyindir bujangan tua didepan mereka terang-terangan. 'Shannaro! Bagaimanapun dia juga Hokage dan gurumu! Baka!'

Shikamaru hanya tertawa kecil mendengar sindiran terang-terangan itu. Ia tidak berminat untuk berkomentar.

"Hee, aku sudah memiliki seseorang kok." Jawaban dari Hatake Kakashi yang tersenyum dari balik topengnya malah menuai ketidakpercayaan dari sekelilingnya. "Sudah sejak aku belum menjadi guru kalian, malah."

Hening.

"EEEEH!?"

"Tidak mungkin!"

"Aku tidak percaya-dattebayou!"

"Kau pasti bercanda."

Hatake Kakashi hanya tertawa, "Jadi, ada apa kalian kemari?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Naruto melangkah mendekat dan menggebrak meja dengan wajah luar biasa horor, "Jangan mengalihkan pembicaraan-dattebayou! Siapa wanita itu? Kami tidak pernah melihatnya!"

"Oi Naruto!" Shikamaru menegur, sahabatnya itu kadang-kadang memang melupakan aturan.

"Hmph, bukan urusanku. Ayo, Sakura." Sasuke menatap dengan wajah datar, berbalik pergi tanpa mau memedulikan tingkah si bodoh Naruto.

"E-eh, Sasuke-kun? Mou, matte yo!" Sakura yang ditinggal langsung ikut menyeret Naruto pergi. "Kakashi-sensei, kami permisi dulu."

"AAAAH! Sakura-chan lepaskan aku dattebayou! Aku masih harus mengintrogasi Kakashi-sensei! Matte! KAKASHI-SENSEI SIAPA WANITA ITU?!"

"Urusai!" Sakura tanpa berperasaan langsung menjitak kepala Naruto hingga benjol.

"Na-naruto-kun!"

Blam.

Selepas pintu tertutup, Shikamaru menggaruk kepalanya, "Merepotkan..."

Kakashi hanya melihat kelakuan mantan murid-muridnya yang tidak berubah walaupun mereka telah menikah dengan senyuman, "Kau tidak penasaran, Shikamaru?"

Yang ditanya hanya mengangkat bahu, "Itu bukan urusanku. Merepotkan sekali jika harus ikut mencaritahunya." Ujarnya sambil mengangkat bahu.

.

.

.

.

Keempat ninja itu pada akhirnya berakhir di kedai dango atas permintaan Hinata. Sasuke sebenarnya tidak ingin ikut. Namun terpaksa menuruti keinginan istrinya saat Sakura ikut menariknya. Naruto sendiri tidak ingin menolak permintaan Hinata-channya.

"Jadi ayo kita mulai rapatnya-dattebayou." Naruto menautkan kedua tangannya, memasang wajah sok serius. "Kita bahas wanita yang berhasil menjadi kekasih dari Kakashi-sensei."

"Hentikan. Itu bukan urusan kita." Sasuke menghentikan ucapan Naruto yang sangat tidak berguna, "Lebih baik kita pulang, Sakura."

"Oi Teme! Kau tidak penasaran apa? Ingat-ingatlah. Kakashi-sensei tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Saat pernikahanku dan Hinata-chan pun, Kakashi-sensei hanya terlihat berbincang dengan para kage dan ninja lainnya! Dia tidak terlihat bersama wanita!"

"Benar, Sasuke-kun, Kakashi-sensei tidak pernah terlihat bersama seorang wanita. Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa dia telah memiliki kekasih?" Sakura ikut membujuk. Ia berusaha mengingat-ingat saat teringat seseorang. "EEHH?! Jangan bilang kalau wanita itu adalah Hanare-san!?"

"Bukannya Hanare-san sudah meninggal ya-ttebayou? Waktu itu ia melompat dari tebing dan Kakashi-sensei tampak sangat sedih." Naruto mengigit dango tusuk ke tiganya dengan beringas. Mencoba ikut mengingat-ingat sosok kunoichi dari desa Jomae itu.

Sasuke atas bujukan Sakura kembali duduk, diam memperhatikan sahabat dan istrinya yang sedang bertukar pikiran sambil mengunyah dango manis yang dipesan Sakura. Uzumaki Hinata juga melakukan hal yang sama—lagipula ia tidak mengetahui siapa Hanare yang dimaksud.

"Tapi, Naruto. Apakah kau ingat kalau Kakashi-sensei pernah mencium wanita itu?" Sakura menjentikkan jari, ingat dengan kenakalan mereka yang berakibat insiden ciuman yang tidak sengaja antara guru mereka dengan Hanare. "Kalau dipikir-pikir lagi, kaulah yang mengakibatkan hal itu terjadi."

Naruto menggaruk kepalanya, dari ekspresi wajahnya sudah jelas ia melupakan kejadian itu. "Aku tidak ingat-dattebayou."

"Eh, Hinata, Sakura, Sasuke-kun dan Naruto! Sudah lama tidak bertemu!" sesosok gadis berambut pirang dan baju ungu menyapa mereka, tanpa sungkan langsung mengambil tempat duduk di sebelah Sakura. Diikuti Sai yang duduk disebelah Naruto setelah melempar senyum palsu-nya itu. "Wah, kalian berkumpul bersama begini, kenapa tidak mengajakku dan Sai?"

"Ino! Kebetulan sekali!" Sakura langsung menggenggam kedua tangan sahabatnya itu, "Ino, kau kan ratu gosip, apakah kau tahu siapa kekasih Kakashi-sensei?"

"Nah, iya Ino-san! Kau kan paling cepat kalau hal seperti ini. Apa kau pernah melihat Kakashi-sensei berjalan bersama seorang wanita?" Naruto ikut memanasi, bertanya-tanya pada sang ratunya gosip di Konoha. "Sai! Kau juga, apakah kau pernah melihat Kakashi-sensei berjalan bersama seorang wanita?"

"Eh? Kakashi-sensei?" Ino terlihat terkejut, terlihat jelas tidak mengetahui apapun. "Aku tidak pernah melihatnya jalan dengan siapapun kecuali Guy-sensei atau kapten ANBU dengan ninjutsu mokuton itu—siapa namanya? Yamato-san? Tunggu—Kakashi-sensei punya kekasih?!"

"Aku pernah melihatnya kok." Ucapan Sai yang tiba-tiba membuat seluruh pasang mata yang ada di meja itu menatap kearahnya dengan horor. "Aku pernah melihat Kakashi-sensei berjalan bersama Hinata-san dan Sakura-san." Ucapnya polos.

GUBRAK!

Naruto, Ino, Hinata, Sakura dan Sasuke sukses terjungkal karenanya. Naruto ingin sekali mencekik Sai hingga menatapnya dengan kekesalan yang ketara. "Bukan jalan dalam artian ituuuuu!"

"Hm? Lalu berjalan dalam artian seperti apa?"

"Aduh Sai, maksud kami itu kencan! Apakah Kakashi-sensei pernah terlihat berkencan bersama seseorang?" Sakura menepuk jidatnya karena kepolosan suami sahabatnya.

Sai menyentuh dagunya, "Tidak, tapi selama ini aku sering melihat Kakashi-sensei di kantor Hokage bersama dengan Yamato-taichou." Ia mengingat-ingat, lalu lidahnya langsung meloloskan ucapan tanpa filter disertai senyuman penuh percaya diri. "Menurutku, Kakashi-sensei itu gay."

Mendengar bahwa mantan gurunya adalah gay, Naruto langsung merinding disko. "Ka-kakashi-sensei tidak mungkin gay-dattebayou..." ucapnya horor, mengingat perilaku Kakashi padanya dulu saat masih remaja. 'Tidak mungkin kan aku pernah ditaksir oleh orang gay—hiks, Hinata-chan... tolong aku-dattebayou...' batinnya ngeri sambil mendusel pada Hinata. "Hi-hinata-chan..."

"Oi. Kau benar-benar percaya begitu saja? Heh..." Sasuke akhirnya angkat bicara, melihat tingkah laku bodoh Naruto membuatnya geli. "Kenapa tidak mengawasi orang tua mesum itu saja untuk memastikannya?"

"Eh? Apa maksudmu, Sasuke-kun?" Sakura menoleh pada suaminya, yang hanya dibalas wajah datar andalan sang Uchiha. "Jangan bilang, kau mau memastikan rumor Kakashi-sensei itu benar atau tidak."

Ino menjentikkan jari, "Sou! Kenapa kalian tidak memata-matai Kakashi-sensei saja? Kita kan pernah melakukannya dulu! Dengan begitu kita akan tau kebenarannya!"

"Be-benar juga, kita dulu pe-pernah melakukannya... ta-tapi itu kan untuk mengungkap identitas dibalik maskernya..." Hinata menyetujui, tubuhnya didusel oleh suaminya hingga pipinya merona malu. Untung saja teman-temannya mengabaikan kelakuan absurd Naruto.

"Tidak." Ini Sasuke yang menjawab, rupanya dia telah terseret dalam arus pembicaraan bodoh ini. "Kita pernah melakukannya sebelum kali yang kedua. Dan kembali gagal walaupun kita telah bekerjasama."

"Itu kan saat kita masih anak-anak. Sekarang kita telah dewasa-ttebayou! Tapi aku tidak mau memata-matainya sendirian!"

"Bagaimana lagi..." Ino mendesah pasrah, sedetik kemudian mengepalkan tangan dengan semangat. "Yosh! Kalau begitu ayo kita membagi tugas untuk memata-matai Kakashi-sensei! Aku dengan Sai-kun. Sasuke-kun dengan Sakura dan Naruto dengan Hinata!"

"Naruto dan Hinata akan memata-matainya saat dirumah, byakugan cocok untuk mengintai tempat yang tidak dapat kita lewati. Sasuke-kun dan Sakura, kalian memata-matai saat dia berjalan-jalan di desa. Aku dan Sai-kun akan memata-matai saat dia berada di kantor Hokage."

"Matte-ttebayou! Kenapa aku yang kebagian tugas malam?!" Naruto langsung protes. Kalau dia kebagian tugas malam kan jadinya tidak bisa dapat jatah dari Hinata.

"Baka Naruto, Sai itu ANBU, dia cocok untuk memata-matai di kantor Hokage tanpa dicurigai. Sedangkan Sasuke-kun memiliki sharingan, Kakashi-sensei tidak bisa dengan mudah lepas dari pengawasannya!" Sakura setuju dengan Ino, dan Hinata yang pemalu hanya mengangguk-angguk. Ia juga sebenarnya penasaran. Ini membuat Naruto mau tidak mau akhirnya pasrah.

"Oke, sudah diputuskan! Kita mulai pengamatannya mulai besok!"

.

.

.

.

Yamato Tenzou bersedekap disebelah Kakashi, cemberut dan menolak menatap senpai-nya itu. "Kakashi-senpai bilang untuk tidak mengungkapkannya dulu. Tapi kau malah mengungkapkannya duluan!"

Yang dicemberuti hanya tertawa, "Ayolah Tenzou. Bukankah ini sudah saatnya mendeklarasikan pernikahan kita? Lagi pula, aku yakin mereka pasti akan mengerti. Aku sudah bosan dikira akan membujang selamanya." Tatapannya hangat saat melihat 'istri'nya itu cemberut dengan sangat manis.

"Senpai, kita sudah menikah selama sepuluh tahun dan aku masih belum mengerti jalan pikiranmu." Tenzou mendengus lelah, "Apakah aku perlu menyamar untuk sementara?"

"Bagaimana ya..." Kakashi dengan santai malah tersenyum dan merengkuh pinggang Tenzou agar jatuh ke pangkuannya. "Kalau kau mau, aku tidak masalah. Lagi pula mengganggu anak-anak itu sangat menyenangkan."

"Senpai!" pipi Tenzou merona, ia sedikit meronta dari dekapan Kakashi untuk menyamankan diri. "Aku tidak mau menampakkan wajahku lagi saat mereka melihat kita dalam posisi seperti ini. Kau terlalu nekat."

"Memangnya apa yang salah? Kita sudah menikah secara sah, kau milikku dan aku milikmu." Bisik Kakashi, tangannya menjelajahi leher Tenzou dengan halus hingga menyentuh kalung berbandul cincin emas putih disana. "Lihat, kau bahkan masih memakainya di lehermu." Ujarnya sebelum menangkup pipi Tenzou dengan sebelah tangan dan menciumnya setelah melepas masker.

Tenzou tidak menolak—dia tidak akan pernah bisa menolak. Ciuman senpai-nya terlalu memabukkan. "hh—senpai... jangan disini..." bisiknya terengah disela-sela ciuman mereka.

Kakashi mengecupi bibir tipis yang terasa manis itu, beralih menuju pipi, hidung lalu pelipisnya. "Hm... aku menginginkannya." Bisiknya seduktif. Tapi ia tahu bahwa Tenzou tidak mungkin membuka seluruh pakaiannya di kantor Hokage. Bisa-bisa Tsunade menghajarnya habis-habisan. Jadinya ia mengakhiri godaannya dengan satu ciuman pada telapak tangan Tenzou.

"Senpai, apa kau mau pulang sekarang?" Tenzou bertanya, melupakan kekesalannya pada suaminya yang menyebalkan. Toh, mau bagaimanapun mereka menyembunyikannya, pada akhirnya akan ketahuan juga nantinya. "Kalau iya aku akan pergi sekarang. Aku harus membeli bahan makanan dulu."

"Kenapa kita tidak pulang bersama saja?" Kakashi bangkit dengan Tenzou di pelukannya, masih ingin bermanja sedikit lebih lama. "Kita bisa kembali memasak bersama seperti pengantin baru."

"Kakashi-senpai, tugasmu belum selesai 'kan?" yang dipeluk dalam gendongan hanya tersenyum dengan wajah gelap, "Dan tolong turunkan aku. A. N. A. T. A."

"Hmm, biarkan saja. Akan kulanjutkan besok. Ayo pulang." Gumam Kakashi tidak peduli. Hanya saja Tenzou tetap diturunkannya dari gendongan tangan dan beralih menggenggam salah satu tangan 'istri'nya. "Sekali-kali kau harus lebih sering memanggilku dengan sebutan itu, anata."

"Terserah padamu."

.

.

.

.

Pada akhirnya Tenzou mengikuti keinginan Kakashi. Hanya saja ia melepas rambutnya yang panjang hingga jatuh mengenai bahu. Tidak lupa ia melepaskan pelindung dahi bergaya gappuri miliknya. Cincin yang semula selalu melingkar di lehernya sebagai kalung telah dilepas dan dipasang di jari manisnya, melingkar apik dan pas.

Siapapun yang melihatnya akan menyangkanya sebagai seorang gadis pada awalnya. Porsi wajahnya walau terlihat dewasa tapi juga menyimpan kepolosan, ini membuat beberapa orang secara langsung tertarik mendekatinya. Itulah guna cincin yang melingkar indah di jari manisnya. Untuk mencegah orang lain menggodanya. Lebih lagi kali ini ia menggunakan pakaian kasual, bukan pakaian ninja.

Yamato Tenzou jadi terlihat seperti gadis dewasa cantik yang memikat siapapun untuk menggodanya.

"Kau yang memintaku untuk seperti ini, anata." Ujar Tenzou saat meletakkan bento diatas meja kerja Hokage, melihat sang suami yang kerepotan dengan berkas laporan dan permintaan yang menggunung. "Sudah kubilang untuk menyelesaikannya kemarin. Kau sampai melupakan bento-mu seperti ini."

Yang dimarahi hanya tertawa kecil. Mereka sepenuhnya menyadari enam pasang mata yang diam-diam memperhatikan interaksi mereka dari sudut jendela besar yang melingkupi setengah kantor Hokage. "Padahal kau tidak perlu repot-repot begini. Aku akan pulang nanti."

"Dan meninggalkan pekerjaanmu pada Shikamaru, lagi? Tidak. Lebih baik kau segera selesaikan pekerjaanmu itu dan berhentilah menyusahkan Shikamaru." Tenzou menggeleng, bersedekap dada dengan tatapan kelam. "Bagaimana bisa negara ini memiliki Hokage sepertimu dan tangan kanan seperti Shikamaru itu..."

Yang menjadi objek hanya tertawa, "Nah, anata, bagaimana jika kau memberiku semangat agar aku bisa menyelesaikan ini dengan cepat? Shikamaru juga belum datang."

"Kau yakin?" Tenzou bertanya dengan ragu. Sepenuhnya tahu apa maksud dari penyemangat yang diminta oleh Kakashi.

"Kenapa tidak? Kita telah menikah, kenapa kau masih saja malu-malu?"

"NANI?! KAKASHI-SENSEI TERNYATA SUDAH MENIKAH-DATTEBAYOU?!" teriakan Naruto menggelegar diikuti suara jitakan yang cukup memilukan. Kedua orang yang berada di dalam kantor Hokage langsung menoleh ke sumber suara, menahan tawa dalam hati masing-masing.

"AHO! NARUTO NO BAKA! KITA JADI KETAHUAN KAN!" Sakura dan Ino dengan kompak menjitak kepala kuning Naruto kuat-kuat, membuat Hinata prihatin dengan suaminya itu. Salah-salah, bisa-bisa Naruto yang sudah bodoh akan bertambah bodoh.

"ITTAIIIII SAKURA-CHAN! INO-CHAN!"

"Oiii! Sasuke, Naruto, Sai, Sakura, Hinata dan Ino! Apa yang sedang kalian lakukan?" Kakashi berjalan mendekati jendela, melambaikan tangan pada mantan murid-muridnya dengan wajah seolah-olah tidak mengetahui apapun. Tenzou mengikuti dari belakangnya, hanya memperhatikan sambil mengulas senyum geli.

Yang dipanggil akhirnya keluar dari tempat persembuyian dengan ekspresi yang berbeda-beda.

"Maaf sensei, kami menguntitmu." Sakura menundukkan kepalanya seolah-olah merasa bersalah walaupun dalam hatinya mengumpati Naruto. 'Shannaro! Kalau saja Naruto tidak berulah, kami pasti bisa tahu siapa istri dari sensei! Tunggu, kami memang sudah tahu sekarang. Tapi kami sama sekali belum pernah melihatnya!'

"Hm? Kenapa kalian menguntitku?" Kakashi kembali bertanya seolah-olah keheranan, membuat Sasuke diam-diam mendengus. Ia sudah tahu siapa sebenarnya 'istri' dari gurunya.

"Kami ingin mengetahui kekasih Kakashi-sensei. Tidak kusangka ternyata sensei malah sudah menikah." Sai menjawab dengan sangat lugas, mengundang pelototan dari dua wanita bar-bar di dekatnya. "Dari buku yang kubaca, bila sudah ketahuan lebih baik segera utarakan kebenarannya agar tidak terjadi salah paham yang mungkin akan berakibat buruk."

Ino menepuk jidatnya, 'astaga suamiku yang polos, kenapa kamu tidak bisa mengerti situasi?' batinnya lelah.

"Kakashi-sensei, teganya kau tidak memberitahu kami-dattebayou." Naruto cemberut, seolah-olah dia adalah anak kecil yang merajuk pada ayahnya. "Sejak kapan kau menikah? Kenapa kita tidak tahu-ttebayou?"

Tenzou melirik pada Kakashi sebelum menjawab dengan suara ringan, "Kami sudah menikah lebih dari sepuluh tahun."

"NANI? SEPULUH TAHUN?!" koor membahana dari Ino, Sakura dan Naruto memenuhi indra pendengaran. Sasuke membuang pandangan, merasa kesal karena teriakan cempreng sahabatnya. Begitupun Hinata yang hanya dapat terdiam dan Sai yang diam dengan ekspresi terkejut.

"ITU SUDAH LAMA SEKALI!" Naruto melanjutkan teriakannya.

"Urusai!"

BLETAK!

"ITTAI YO, SAKURA-CHAN!" Naruto protes karena lagi-lagi dijitak dengan sangat tidak berperikeNarutoan. Sayangnya yang diprotes tidak mengubrisnya sama sekali. "Hinata-chann... Sakura-chan membullyku-ttebayou..."

"I-itu karena salah Naruto-kun sendiri..."

"Ha'i ha'i, sudah cukup. Jadi kalian menguntitku karena penasaran dengannya?" Kakashi menoleh pada Tenzou, tersenyum menyebalkan yang entah kenapa sukses membuat Tenzou merasa was-was.

"Anata," gumam Tenzou dengan tatapan peringatan ketika lengan Kakashi dengan sengaja melingkari pinggangnya untuk membawanya lebih merapat. "Apa yang ingin kau lakukan?"

"Yosh, perkenalkan, istriku, namanya Hatake Tenzou. Anata, kau pasti sudah mengenal mereka semua kan?"

"Hatake Tenzou?" ulang Ino, "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu..."

"Aku juga sering mendengarnya. Tapi dimana dan siapa?" Sakura berusaha mengingat-ingat. Sasuke disebelahnya hanya diam dan memandang istrinya.

"Aku juga-ttebayou. Nama Tenzou-san terdengar akrab di telingaku."

"Bukankah itu panggilan Kakashi-sensei pada Yamato-taichou?" Sai menjawab dengan senyumannya yang makin lama makin terlihat menyebalkan, "Setelah kuperhatikan, wajah anda mirip dengan Yamato-taichou, Hatake Tenzou-san."

Pernyataannya itu membuat Naruto, Sakura, Sai dan Hinata ikut memperhatikan wajah Tenzou yang mulai terlihat tidak nyaman.

'Ini tidak adil, Kakashi-senpai...' Tenzou mencubit lengan Kakashi yang ada di pinggangnya, tersenyum dengan wajah menyeramkan. 'Setelah ini... tidak akan ada jatah untukmu selama tiga tahun.' tekatnya kesal.

"EEH?! YAMATO-TAICHOU?! KAU YAMATO-TAICHOU KAN?!" Naruto menyadari tatapan seram yang diberikan Tenzou pada Kakashi itu hanya dimiliki satu orang. "KAKASHI-SENSEI, KAU BENAR-BENAR GAY-DATTEBAYOU?!"

"Ahahaha, bagaimana ya..." Kakashi tertawa, mengabaikan rasa sakit pada lengan yang dicubit Tenzou.

"GYAAAAA! HINATA-CHAN TOLONG AKUU!" Naruto berteriak heboh saat menyadari dua orang yang dulu selalu berada di dekatnya itu ternyata gay. Tidak lama kemudian, dia pingsan dengan mulut berbusa dan roh yang melayang.

.

.

.

.

End.

a/n:

Hahaha, saya buat apaan sih ini? Nggak tau deh. Yang penting dapet KakaYama. Ahahahaha.