Kisah lainnya dari pair favoritku di Eyeshield 21, Mamori dan Akaba. Semoga pembaca menyukainya.
Warning! AU, rate T, OOC (bila ada), dan jika ada kekurangan lainnya.
Eyeshield 21
Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata
Irasional
Neary Lan
Dulu mereka pernah bersama, menikmati manisnya kehidupan cinta hingga menyatukan keduanya pada jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Satu sama lain bahkan berjanji takkan pernah berpisah ataupun meninggalkan, kecuali kematian yang berkehendak. Di bayangan kedepannya hanya ingin tergambarkan hal-hal yang bahagia hingga mereka tak pernah bosan untuk membicarakannya.
Namun, tampaknya keduanya begitu naif akan kebahagiaan yang telah mereka bangun. Akan selalu ada pihak yang tak menghendaki kebahagiaan bagi keduanya, keduanya harus dipisahkan. Kisah mereka harus dipaksa berakhir dengan cara yang tak pernah mereka duga, nyawa bahkan menjadi ancaman hingga melemahkan keduanya.
Di malam yang harusnya menjadi hal yang membahagiakan untuk keduanya justru berakhir dengan sebuah perpisahan yang menyedihkan. Isak tangis bahkan tak dapat meluluhkan sang keras hati, salah satunya memilih mengalah demi menyelamatkan nyawa sang terkasih. Ia tahu dirinya tak berdaya hingga membuatnya terpaksa mengalah. Saat itu ia tak dapat menyelamatkan hubungan mereka.
Mereka tak pernah tahu apa yang terjadi pada satu sama lain sejak perpisahan menyedihkan itu. Selama dalam pengasingannya ia hanya bisa merenungi segala ketidakberdayaannya. Bahkan tiap malam ia hanya dapat menangis sambil merindukan sang terkasih yang terpaksa ditinggalkannya. Kenangan mereka selalu berputar dalam benaknya, tak pernah sekalipun ia lelah memikirkan keadaan sang terkasih.
"Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau masih memikirkanku?" Gumam Hayato.
Hal seperti itu selalu menjadi tanya bagi satu sama lain, namun tentu takkan ada yang menjawabnya. Sang terkasih bahkan kadang memiliki pemikiran buruk jika ialah penyebab segala hal buruk ini terjadi. Berbagai macam pemikiran pengandaian selalu muncul di benaknya sembari ia menyalahkan dirinya.
"Bagaimana kalau saja aku tak pernah mengenalmu? Bagaimana saja kalau kita tak saling jatuh cinta? Bagaimana jika seandainya kita memiliki latar yang tak bertolak belakang?" Lirih Mamori.
Semua pemikiran buruk itu terus menghantuinya, meskipun ia tahu itu akan mempengaruhi kondisi dirinya. Saat ini ia berada dalam kondisi yang membuatnya begitu membutuhkan sang terkasih. Ia selalu merasa sedih karena tak mampu menyampaikan kabar bahagia mengenai kehidupan lain yang dititipkan padanya. Malam dimana seharusnya mereka berbahagia justru menjadi petaka dan hal terburuk sang terkasih tak sempat mengetahui kabar membahagiakan ini.
Waktu pun terus berlalu dan menyertai perasaan suram serta perilaku murung yang ditunjukkan keduanya. Saling berjauhan seperti ini tentu menyakiti keduanya, namun sang penguasa sama sekali takkan berbelas kasih untuk pasangan ini. Mereka bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk dapat bersama kembali. Bahkan pemikiran terburuk selalu melintas dalam benak, mereka takkan pernah dipertemukan kembali selamanya.
"Aku ingin bertemu denganmu? Kenapa takdir begitu kejam pada kita? Apa kesalahan yang telah kita lakukan?"
Begitulah tanya yang selalu digumamkan keduanya dalam hening. Namun, sang antagonis akan tertawa meremehkan kemalangan keduanya. Seakan sebuah kebenaran mutlak, ia dengan tegas menyatakan kesalahan yang dilakukan kedua pasangan malang itu.
"Berani-beraninya kau jatuh cinta dengan wanita rendahan sepertinya. Ia tak pernah layak bersanding denganmu. Aku tak menyangka seleramu memilih pasangan akan serendah ini," katanya pada putranya sendiri yang menatap nyalang padanya. "Sedangkan kau berani-beraninya menggoda anakku. Tak pernahkah kau berkaca dan melihat kelayakan dirimu untuk bersanding dengannya? Kau tak lebih dari sekedar hama," hinanya pada kekasih putranya yang meringkuk ketakutan.
Hinaan yang menyakitkan itu selalu tersimpan dalam memori keduanya. Hanya malam sunyi dan isak tangis ataupun kalimat penuh umpatan yang menemani dikala ingatan terkutuk di malam itu teringat kembali. Hal ini membuat malam terasa begitu panjang, mata seakan enggan terpejam. Keduanya biasanya lebih memilih untuk melamun sambil menatap rembulan bisu yang mendengar keluh kesah mereka.
Cincin yang tersemat di jari manis menjadi satu-satunya pengikat dan pengingat jika mereka masihlah satu kesatuan. Kehidupan dan kenangan manis itu masih hidup dalam diri mereka. Namun, manusia adalah makhluk yang dikenal tak pernah puas. Kenangan memang abadi, tapi entah kenapa kenangan baik itu selalu berakhir dengan kenangan buruk.
Kesepian dan kesedihan yang selalu menyelimuti hati kini perlahan-lahan mengikis kewarasan mereka. Ada kalanya mereka masih berpikir jika sang terkasih berada didekat masing-masing. Ketika berusaha untuk mencapainya mereka tersadarkan jika semua itu hanyalah ilusi. Ilusi yang terkesan nyata hingga membuat orang-orang mulai memandang prihatin akan nasib menyedihkan keduanya.
"Aku mau kembali. Bawa aku kembali padanya. Aku bisa gila jika jauh darinya. Persetan dengan omongan memuakkan sang tua bangka, lepaskan aku!" Hayato memberontak dalam kesia-siaannya. Segala ucapannya hanya bagai angin lalu.
"Aku mau kembali. Tak bisakah aku bersamanya kembali? Aku ingin kami bersama lagi, kami bertiga dengan bayi ini. Apakah permintaanku ini begitu sulit untuk dikabulkan Tuhan? Atau aku memang tidak layak membuat permintaan ini?" Mamori menangis dalam tiap doanya sambil mengelus perut yang berisi kehidupan lainnya.
Mereka tak pernah tahu jika jatuh cinta akan semenyakitkan ini. Mereka hanya ingin bersama dalam segala kesederhanaan yang dimiliki. Hanya impian untuk membangun kehidupan berkeluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Namun, sebelum semua itu terwujud penuh sudah harus terpaksa direngut. Skenario kehidupan mereka sungguh tertulis begitu menyedihkan. Kini hanya perasaan sakit yang terus menggerogoti hati, entah bagaimana lagi mereka mencoba untuk bertahan.
Jika pikiran buruk terus menumpuk dan menjadi stres, maka berlarut-larut dapat saja menjadi depresi. Bila depresi telah menguasai diri perlahan-lahan pikiran irasional dapat mengambil alih diri. Segala perilaku-perilaku yang tak biasanya akan mulai muncul dan lebih banyak merugikan diri sendiri. Puncak yang mengerikan adalah bila telah terjadi tindakan menyakiti diri atau pemikiran ingin mengakhiri nyawa. Pilihan yang dipilih atas keluhan hidup yang tak berjalan semestinya dan telah menyerah sepenuhnya atas kerasnya kehidupan dunia.
"Aku takut, mimpi buruk itu terus muncul. Apa aku bisa bertahan dengan semua ini? Apa lebih baik aku mati saja?" Tanya Mamori yang merasa putus asa. "Tapi, aku tak boleh berpikir seperti itu. Aku harus tetap hidup demi anak ini. Ah, aku merindukanmu."
"Kurasa dia takkan peduli jika aku mati. Buat apa aku hidup tapi hatiku terasa kosong. Aku tak butuh hidup bergelimang harta seperti ini. Aku hanya membutuhkannya," sarkas Hayato hingga membuatnya tertawa. "Mungkin memang kesenangan baginya melihat anaknya menderita dan mati perlahan-lahan."
Mereka berdua sudah merasa hancur dan kosong. Bahkan harapan-harapan yang selama ini dibangun perlahan-lahan mulai terkikis. Keduanya kadangkala terlihat bagai sosok tak bernyawa, bagai boneka cantik yang menghiasi kamar. Rasa semangat yang memudar, lebih sering mengurung diri, enggan untuk makan yang tentunya dapat berdampak bagi kesehatan. Bahkan keduanya kini sering mengalami sakit dan buruknya berharap tak ingin membuka mata kembali.
Salah satu pemikiran buruk yang pernah terlintas dalam benak kedua pasangan ini adalah berbahagia di tempat lain. Mereka beranggapan jika kebahagiaan dunia tak layak bagi keduanya, mungkin di dunia lain mereka akan mendapatkannya serta dipersatukan kembali. Kebersamaan semacam itu tentu akan lebih kekal abadi dibandingkan di dunia yang fana dan kejam terhadap keduanya.
"Haruskah aku membuat pilihan ini?"
Sebuah pistol dan pisau telah berada digenggaman kedua pasangan ini. Hanya tinggal menunggu waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Cukup menembakkan peluru di pelipis atau mengiris pergelangan nadi, bentuk eksekusi diri sendiri yang dipilih. Namun, sebenarnya di dalam hati masih memiliki rasa takut, terlalu sulit untuk mengendalikan diri termasuk kontrol emosi.
Keduanya berpikir telah berada di tepi jurang keputusasaan. Jurang gelap yang seakan-akan mengundang untuk dikunjungi. Tentunya lamunan yang berlarut dengan segala pemikiran yang kacau lambat laun menyusupkan ide yang menyesatkan. Godaan semu yang mungkin terdengar menggiurkan untuk para manusia yang berputus asa. Tidak heran jika pistol dan pisau berkali-kali ada dalam genggaman mereka dan mencoba menuruti bisikan menyesatkan.
Segala pikiran irasional yang semakin menumpuk dapat membuat siapa pun memilih jalan singkat. Mereka sudah lelah, diliputi rasa takut bahkan sudah merasa tak berarti lagi. Namun, bila memiliki pemikiran itu kadangkala di dalam hati masih berharap akan ada jalan keluarnya. Seakan-akan keduanya ingin sang terkasih yang sama-sama jauh dapat mencegah pemikiran konyol itu meskipun hanya berupa pesan yang tersampaikan dalam hembusan angin.
"Apa yang telah kulakukan? Bisa-bisanya aku berpikir seperti itu. Terlalu putus asa membuatku tak bisa berpikir jernih," gumam Hayato dan Mamori saat menyadari kekeliruan dalam pemikirannya.
Kedua pasangan ini ingin diselamatkan dari jurang kegelapan yang menyesakkan. Tak seharusnya mereka berhenti untuk percaya satu sama lain bahkan terhadap kemungkinan untuk bersama kembali. Tak peduli jika harapan dan kesempatan yang begitu kecil sekalipun. Perlahan-lahan mereka menyadari untuk dapat bangkit dari keterpurukan. Takkan pernah bosan juga untuk terus berdoa, pasti akan datang hari bahagia itu. Tak peduli berapa lama mereka menantinya.
"Kita pasti bisa bersama kembali. Aku pun ingin kau juga mempercayainya. Pasti hari itu akan datang. Jadi tunggulah."
Sang bulan kembali menjadi saksi bisu pasangan yang saling merindu. Malam yang hening menjadi waktu yang tepat untuk mengenang masa-masa indah yang dialami. Jika kali ini sosok yang dicintai hanya muncul dalam kenangan, suatu saat akan ada masanya kenangan baru akan dibuat kembali. Akan selalu dinanti hari dimana keduanya dapat saling tersenyum sambil menggenggam tangan satu sama lain.
Tapi ...
Andaikan memang itu yang dapat terjadi pada keduanya. Pada kenyataannya semua yang terjadi hanyalah tetap menjadi angan-angan semata. Hari-hari berat memang mereka lalui dengan susah payah demi memupuk sebuah harapan.
Sebuah kisah selalu ingin diakhiri dengan indah, tak peduli bagaimana pahitnya kisah itu bermula. Namun, nasib begitu mempermainkan keduanya hingga skenario terburuk yang tampaknya telah ditetapkan untuk akhir kisah kedua pasangan ini. Percayalah bahwa tak ada siapa pun yang ingin mengalami akhir kisah tragis maupun menyedihkan.
Sang terkasih yang dijaminkan keselamatannya saat ia mengalah dulu pada akhirnya tetap berakhir mengenaskan di tangan sang penguasa. Ia yang merasa syok ketika melihat sosok tak bernyawa itu dan menjadi gelap mata. Tak peduli bila darah sang penguasa juga mengalir di nadinya, ia tersenyum kala sang ayah merenggang nyawa di tangannya sendiri. Seakan-akan ia ingin membalas perbuatan yang sama pada sang terkasih, mata dibalas mata.
Setelah ia menuntaskan keinginan terpendamnya selama ini, ia merasa tak bisa berbahagia karena ia juga tengah berduka. Hatinya hancur, separuh hidupnya telah meninggalkannya tanpa mereka dapat menepati janji untuk bersama kembali. Ia rasanya ingin menertawakan nasibnya yang begitu menyedihkan, seakan-akan kebahagiaan tak layak untuk mereka.
Tangisan maupun jeritan pilu menggema dalam ruangan, ia sudah tak kuat lagi dengan kenyataan di hadapannya. Pistol di tangannya mulai ia arahkan ke dirinya, baginya tak ada gunanya ia hidup dan lebih baik menyusul sang terkasih. Sepertinya mereka memang lebih baik bersama di dunia lain dibandingkan dunia nyata.
"Tunggulah, aku akan segera menyusulmu," ucap Hayato sambil tersenyum menatap langit malam tak berbintang. Tanpa ragu ia pun segera mengakhiri nyawanya.
Sang bulan kembali menjadi saksi bisu dari kejadian memilukan tersebut. Sebuah tubuh tak bernyawa kembali terbaring. Semua kisah hidup serta percintaan kedua pasangan ini harus berakhir dengan tragis. Sepertinya takdir terlalu kejam bermain terhadap nasib keduanya. Namun, sang tokoh utama berpikir mungkin ini adalah penyelesaian yang terbaik di balik kisah tragis mereka. Setidaknya mereka dapat bertemu kembali di dunia lainnya dan dapat berbahagia di sana.
"Selamat datang, Hayato," sambutnya dengan senyuman manisnya.
"Aku pulang, Mamori," jawabnya sambil tersenyum hangat.
"Akhirnya kita bersama kembali," ucap keduanya sambil menangis haru dan berpelukan erat.
Tamat
