Teneesee Line part 2 of 2

Katekyo Hitman Reborn belongs to Amano-Sensei

Rating : T

Genre(s): Friendship, Hurt/Comfort, Romance

Pair : 2786, 2795 a little bit R86 as a hint ^^;

Warning: OOC, AU, Lebay, boring, typo, tidak berbobot dan sejuta kenistaan lainnya.

Lagu pemberi inspirasi kali ini: Bondan Feat Fade 2 Black- Bunga & John Mayer- Say what you mean to say.

-o-

-Beginnings are usually scary and endings are usually sad, but it's the middle that counts. You have to remember this when you find yourself at the beginning.-

~Normal PoV~

Kyoko terus diam termenung begitu mendapatkan informasi buruk yang ia dapatkan dari oni-channya itu. Bahkan ia tidak sadar bahwa ia telah menginjakan kakinya di rumah sakit tempat sahabatnya berada, di dalam ruangan unit gawat darurat.

Terlihat kedua orang tua Haru yang sedang duduk di bangku panjang di depan ruang UGD. Sang ibu tengah menangis sedang sang ayah tampak terus mencoba untuk menenangkan istrinya.

"Ah, kau datang juga Jyuudaime!" Sahut Gokudera yang ternyata telah sampai lebih dulu, Tsuna hanya mengangguk memberikan respon.

"Bagaimana keadaan Haru?" Tanya sang decimo, Gokudera menggeleng, menandakan bahwa jelas nasib Haru sedang terombang-ambing.

Sedang Ryohei segera mendatangi adiknya, menanyakan keadaannya. Kyoko sendiri hanya menatap sang kakak dengan pandangan kosong lalu menundukan kepalanya. "Hn…." Jawab gadis itu lesu, jelas membuat Ryohei semakin cemas dengan keadaan sang adik.

Tidak hanya kedua guardian itu, Yamamoto, Bianchi dan Reborn pun berada di sana. Menunggu dengan segudang rasa Kyoko tidak begitu peduli akan keberadaan mereka untuk saat ini. Ia terus memandangi pintu ruangan tempat Haru berada.

Meski kedua pasang matanya tertuju pada pintu tersebut, namun yang ada dalam pandangannya hanyalah kehampaan. Pikirannya tengah dilanda kekacauan, terus mencari kesimpulan dari kejadian hari itu. 'Ini tidak mungkin…Ini hanyalah mimpi…ini pasti hanya mimpi! Aku sedang bermimpi buruk! Pasti! Kumohon…bangunkan aku!' Sang gadis hanya bisa terus menerus berteriak meminta pertolongan dari lubuk hatinya. Meski ia tahu ini adalah realita yang tidak mungkin bisa diubah. Batinnya terus bertanya, bertanya apa makna dari semua ini. Namun jelas saja, tidak ada yang mampu menjawab.

"Kyoko-chan…?" Sahut Tsunanyoshi memandangi raut wajah pucat milik adik Sasagawa tersebut. " Tenanglah, aku yakin Haru pasti baik-baik saja…Jangan terlalu cemas…ya?" Ucap lelaki bermata caramel tersebut mencoba untuk menenangkan situasi. Meski ia sendiri harus mengakui bahwa ia cukup panik, terbukti dari kedua belah tangannya yang kian mendingin, tapi ia juga tahu bahwa rasa cemasnya tidaklah sebesar dan sedalam gadis berambut orange tersebut. Tiada yang memberi komentar saat itu, seluruhnya hanya bisa menatap Kyoko dengan pandangan Iba.

"Ciaosu~~ Tsuna! Kyoko!"

Ucap seseorang yang tengah bediri di hadapan Tsuna dan Kyoko membuat keduanya mengalihkan pandangannya menuju bayi hitman tersebut.

"Reborn…chan?" Sahut Kyoko lirih. Memandang bayi yang berada di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kau ingin tahu sesuatu Kyoko…?" Lanjutnya. Kyoko tidak memberi jawaban apapun, karena ia sendiri tidak tahu apa yang Reborn maksud dan untuk saat ini ia tidak begitu ingin berpikir. Hingga ia memutuskan untuk diam dan menundukan kepalanya.

Reborn tampak tidak peduli dengan gesture yang dilakukan sang gadis tersebut. Ia terus melanjutkan ucapannya.

"Haru mengalami kecelakaan ditengah perjalanannya untuk menemuimu."

Mata sang gadis sentak terbelalak. Sekujur tubuhnya yang mati rasa membuatnya jatuh terduduk. Dapat ia rasakan satu hunjaman keras dari detak jantungnya. Menggambarkan situasi betapa kacaunnya pikiran dan nuraninya. Bahkan ia tidak sadar bahwa air mata yang sedari tadi tidak mampu keluar telah pecah membasahi kedua pipinya.

Kembali ia meratapi kesalahannya. Sang gadis terus memaki dirinya sendiri. Betapa bodohnya dirinya. Ia terus menyalahkan dirinya. Haru mendapatkan cobaan ini karena kesalahan fatal Kyoko. Hal itu terus ia yakini.

Kyoko semakin terisak. Kini air mata telah menemani pilu dihatinya. Ia tidak tahu harus berkata apa menanggapi ucapan Reborn, lebih tepatnya ia tidak sanggup untuk berkata. Sedang Tsuna yang mencoba untuk menenangkan kembali gadis yang terpuruk saat itu, terpaksa harus menahan niatnya saat Reborn menahan langkahnya. Membuat sang decimo terpaksa melangkah mundur menjauhi kedua pihak tersebut. Begitu pula dengan orang-orang yang berada disekitarnya.

"Kau tahu Kyoko?" Tanya Reborn kembali, Kyoko masih terdiam di tempatnya. Dengan keadaan terisak.

"Masalah ini, sebenarnya bukan karena hubunganmu dengan Tsuna…" Lanjut sang sun arcobaleno, Kyoko tidak bergeming. Meski ia mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan oleh seorang yang berada di hadapannya.

"Inti dari permasalahan ini adalah dirimu yang tidak mampu bersikap jujur dan keraguanmu. Kau takut dengan respon buruk yang mungkin akan Haru berikan jika ia tahu dengan keburukan yang kau perbuat."

Masih belum ada respon dari Kyoko, namun setidaknya otaknya mulai kembali bekerja. Yang dikatakan Reborn memang benar. Ia hanyalah seorang gadis penakut, tidak… tepatnya seorang pengecut yang takut kehilangan persahabatnya yang disebabkan oleh keeogisan dirinya kurang, tidak lebih. Ia meneguk ludahnya memberanikan diri untuk membuka mulutnya.

"Lalu…Apa yang harus aku lakukan?"

Tiba-tiba pintu ruang darurat pun terbuka memotong ucapan sang gadis berambut orange itu. Dokter keluar, memberi penjelasan situasi dan kondisi sang pasien yang ia tangani. Kyoko terus menggengam kerah bajunya erat. Ia benar-benar tidak siap dengan kabar buruk yang mungkin akan didengarnya.

Haru mengalami cedera serius di bagian kepalanya.

Bagus! Sekarang nyawa Haru benar-benar tengah terombang-ambing.

Sang dokter melanjutkan penjelasaanya dengan mengatakan terdapat serpihan tulang tengkorak di kepala sang pasien. Dan ia harus segera menjalani operasi jika ingin selamat.

Mendengar penjelasan itu, pikiran Kyoko pun membeku seketika. Dalam sekejap ia menerobos pintu ruang UGD, tidak mempedulikan ocehan para dokter yang melarangnya masuk. Betapa shocknya ia melihat perawakan gadis berambut hitam kecoklatan itu sekarang. Wajah berparas ceria miliknya kini penuh dengan sejuta luka dan memar, rambut hitamnya yang selalu tampak terikat rapi kini tampak acak-acakan dan kotor. Beberapa bercak kemerahan pun menghiasi leher juga lengannya. Parahnya kini sekujur tubuhnya di geluti oleh selang-selang yang seakan adalah tempat Haru meletakan nasib hidupnya.

Kyoko memandang pandangan tragis tersebut dengan pandangan matanya yang mulai mengabur, air mata kembali menghujani wajahnya. Bibirnya bergetar hebat. Lalu berteriak. "BERTAHANLAH HIDUP HARU-CHAN!"

Tidak butuh waktu yang lama dokterpun berhasil menangkap sosok sang gadis berambut orange tersebut dan membawanya keluar dan UGD dengan paksa. Sedang Kyoko yang terus mencoba untuk melepaskan diri terus berteriak dengan kata-kata yang sama, mencoba untuk menyemangati sahabatnya meski ia ragu apakah sahabatnya mampu untuk mendengar teriakannya. Ia putuskan untuk tidak mempedulikan hal itu. Ia terus melakukan hal yang sama, hingga pintu UGD kembali tertutup. Jika seandainya ia tahu, bahwa sejuta teriakan tersebut telah tersampaikan kepada sang penerima.

"K…Kyo-ko…chan…."

Dan setetes air mata pun jatuh mata sang gadis yang masih tertidur.

-o-

Akhirnya hari penentuan pun datang. Hari dimana Haru akan melakukan operasi hematoma-nya(1) dan mengangkat serpihan tulang yang berada di dalam kepalanya.

Kyoko sendiri memutuskan untuk tetap menunggu di rumah sakit, ia terus menerus duduk terdiam di depan pintu ruang operasi. Begitu pula dengan kedua orang tua Haru.

Rasa bosan sedikitpun tidak menyelip di hatinya. Ia terus menutup rapat kedua matanya mencoba untuk berdoa setulus hati demi keselamatan sang sahabat, tidak peduli sudah berapa lama waktu berlalu ia terus melakukan hal itu. Setidaknya hal inilah yang paling bisa ia lakukan saat ini.

"Kau masih disini…Kyoko-chan…?" Mendengar suara milik orang tersebut otomatis membuat sang gadis membuka matanya. Didapatinya Bianchi dan Tsuna yang sedang menatap dirinya. "T-Tsu…Tsuna-kun? Bianchi-san?" Sapa Kyoko.

"Jadi…kau terus-terusan menunggu disini?" Tanya Tsuna sambil menatap penampilan gadis tersebut yang tampaknya masih memakai pakaian yang sama, lalu ,mengambil posisi duduk di bangku sebelahnya. Dilihatnya Kyoko mengangguk. Hingga gadis tersebut terkejut begitu melihat sebuah tas kertas menghampiri di depan matanya. "Kau tampak kacau…Segeralah berganti baju, lalu rapikan dirimu." Ucap Bianchi yang menyodorkan bungkusan itu. Kyoko mencoba untuk tersenyum kecil dan berkata, "Terima kasih."

-o-

Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah 6 jam waktu berjalan sejak operasi dimulai. Baik Tsuna maupun Kyoko terus berdiam di tempat. Bianchi telah izin untuk pulang lebih dahulu dengan alasan mengurus rumah serta menjaga Nana. Sesekali Ibu Haru bercakap dengan Kyoko, seperti apa anaknya, kegiatan macam apa saja yang mereka lakukan dan berbagai macam hal lainnya. Kyoko menceritakan segalanya dengan, sedang Tsuna hanya diam mendengarkan.

Tidak butuh waktu lama, kesunyian pun datang kembali menemani, Ibu Haru tengah tertidur di bangku. Sedang Tsuna maupun Kyoko masih tetap berdiam untuk memulai pembicaraan. Memang, mungkin suasana seperti inipun tercipta karena kejadian saat itu. Saat ia meminta putus hubungan dengan Tsuna.

Hingga akhirnya Tsuna pun memutuskan untuk memulai pembicaraan. "Kyoko-chan…" Sahutnya membuat Gadis yang mempunyai nama tersebut sedikit terkaget lalu menoleh ke arah pemuda yang memanggilnya. "Ya?" Sahutnya membalas.

"Soal yang kemarin…Aku…Jika memang yang kau ucapkan kemarin adalah hal yang benar-benar kau inginkan…" Kyoko terus mendengarkan, wajahnya yang pucat semakin memucat. Ia tahu benar bahwa lanjutan ucapan yang akan ia dengar adalah hal yang buruk. Itu pasti.

"Mari kita akhiri segalanya."

Seakan bumi jatuh di atas pundaknya. Kyoko menundukan kepalanya, memandangi lantai rumah sakit. Memang hal inilah yang Kyoko inginkan. Putus dengan Tsuna dan bisa kembali berbaikan dengan sahabatnya. Tapi entah apa yang membuat batinnya sakit ketika Tsuna sendirilah yang mengatakan kata itu. Kata 'Akhiri.'. Bukan…bukannya ia tidak tahu mengapa. Ia jelas sekali mengerti akan perasaannya. Ia tidak mau berpisah dengannya, tidak mau berpisah dengan Tsuna. Apakah memang pemuda tersebut benar-benar serius dengan keputusan itu. Memilih jalur itu? Betapa ia ingin Tsuna menarik kata-katanya. Namun jelas ia harus membunuh akan harapannya tersebut. Tidak peduli betapa ia menyayangi Tsuna dan Haru. Tidak peduli betapa ia memohon tidak ingin melepaskan Tsuna dan kehilangan Sahabatnya.

Egois.

Ya. Ia akui dirinya memang egois.

Sekejap gadis tersebut berdiri, "aku mau ke toilet." Ucapnya tanpa memandang wajah sang pemuda, lalu berlari meninggalkannya. Ia benar-benar tidak bisa menahan air matanya yang kian terus mengalir. Air mata yang tidak ingin ia tunjukan kepada pemuda yang ia cintai.

Beberapa saat kemudian pintu ruang operasi pun terbuka, sosok-sosok wajah khawatir segera berkumpul menuju sang dokter. Kyoko benar-benar mencoba untuk menghabiskan air matanya saat di toilet. Bisa ia rasakan bagian bawah matanya yang nampak bengkak, serta matanya yang nampak memerah. Namun Kyoko tidak begitu peduli dengan tampangnya saat ini. Jantungnya masih berdegup kencang, yang membuatnya tanpa sadar mengenggam erat lengan jaket milik Tsuna. Ia benar-benar ketakutan dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi, namun juga berharap dengan adanya kabar baik. Tsuna yang menyadari hal itu sendiri tidak berkata ataupun berbuat. Sand decimo sendiri

membiarkannya. Karena ia sendiri mengerti akan kondisi gadis itu saat ini.

"Operasinya berjalan dengan baik." Ucap dokter tersebut.

Ucapan yang terdengar bagai sebuah nyanyian sukses membuat Kyoko kembali terjatuh lemas. Meski detak jantungnya belum berhenti berdetak kencang. Pertama kali dalam hidupnya ia bersyukur dengan amat sangat.

-o-

~Rumah sakit Namimori ruang pasien 86 : Haru Miura~

Waktu menunjukan pukul 3 pagi. Haru masih tertidur pulas di ranjang putihnya. Meski operasinya berjalan dengan baik, tetap saja Haru butuh istirahat. Kyoko terus duduk disamping tempat tidur tersebut. Menunggu sahabatnnya itu untuk membuka mata. Sedang Tsunayoshi memilih untuk tetap di luar kamar pasien. Sambil memandangi langit dari jendela di samping lorong rumah sakit. 'Mendung…' Gumam sang pemuda tidak mengalihkan perhatiannya.

Kyoko terus mengamati wajah sahabatnya. Masih dengan sosok yang sama. Gadis yang dipenuhi dengan balutan perban serta selang-selang yang menjadi penyambung nyawanya. Sambil mengehela nafas, Kyoko pun menggengam tangan sahabatnya, "Berjuanglah…Haru-chan…" Ucapnya.

Sudah 2 jam ia menemani Haru. Rasa kantuk yang tidak tertahankan mulai mengambil alih kesadarnya. Tangannya tidak lepas menggengam tangan sahabatnya. Hingga saat ia hampir menuju alam mimpi. Sebuah gesture segera membuyarkan rasa kantuknya. Ia merasakan bahwa tangan milik sahabatnya sedikit bergerak.

"Kyoko…chan?" Panggil gadis yang baru saja kembali ke alam sadarnya. Membuat gadis bernama Kyoko tersebut sentak mengalihkan pandangannya menuju wajah seseorang yang memanggil namanya. "Syukurlah bisa bertemu kembali denganmu…Kyoko-chan…" Ucap Haru tersenyum kecil.

Kyoko tidak bergeming. Ia terus memfokuskan dirinya menatap wajah sahabatnya itu. Sahabat yang ia tunggu akhirnya terbangun, memanggil namanya dan menatap dirinya. Sedang Tsuna yang masih berada di luar memutuskan untuk melihat keadaan gadis berambut orange tersebut.

"Ah...ano….permisi…" Ucap Tsuna, mengetuk pintu lalu masuk.

"Tsuna-san juga datang? Halo desu…" Respon Haru tersenyum kecil. Tsuna sedikit membelalakan matanya melihat gadis yang telah terbangun dari alam mimpi itu. Lalu menyapa balik, "Halo juga Haru…Kau tampak sehat." Ucapnya yang masih dibalas Haru dengan senyum lembutnya.

"Hahi? Matamu merah sekali Kyoko-chan…Kau tidak apa-apa?" Tanya Haru yang tampak khawatir. Meski sebenarnya ia sendiri tahu bahwa sahabatnya itu pasti setengah mati mencemaskan keadaannya.

"Hehehe…iya…Ga apa-apa kok." Respon Kyoko sambil meraba pelan bagian kantung matanya.'panas' gumam Kyoko dalam hati.

Suasana pun hening sejenak. Sebenarnya banyak yang ingin Kyoko ucapkan saat itu. Tapi entah mengapa segala yang ingin ia ucapkan nampak mengganjal di tenggorokannya hingga membuatnya bingung harus memulai dari mana.

"A-anu…Haru-chan…aku…ingin-" Tidak sempat ia berkata Haru memotong pembicaraannya.

"Haru ingin mengatakan sesuatu desu…"

"A-apa itu?" Respon Kyoko membiarkan sahabatnya berbicara terlebih dahulu.

"Soal itu…Haru, Haru kecewa karena Kyoko-chan tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya sama Haru." Ucap Haru, masih menatap wajah sahabatnya yang tampak shock. "Haru tidak akan marah kok mengetahui kalau memang Kyoko-chan dan Tsuna-san bersama. Haru senang kok." Tambahnya. Tsuna yang memang masih terlalu awam berurusan dengan masalah 'cewe' hanya bisa terdiam di tempat karena tidak tahu harus berkata apa. Sedang Kyoko menatap Haru dengan pandangan tidak percaya."Kau serius…Haru-chan?"

Sejenak Haru terdiam. Memandang kedua orang yang ada di hadapannya. Pelan ia menggelengkan kepalanya. "Tidak…Aku bohong." Jawab Haru sebuah jawaban yang bagaikan sebuah anak busur yang menacap di dadanya. "Jelas saja…Haru sedih…Haru benar-benar sakit hati. Merana dan hancur…Haru benar-benar tidak tahu harus bagaimana dengan perasaan ini." Ucapnya.

Kyoko semakin merasa bersalah. Bahkan ia bisa merasakan suatu beban di atas pundaknya bertambah. Akankah tidak ada kesempatan lagi untuknya untuk kembali berbaikan dengan sahabatnya itu? Apa yang harus ia lakukan? "Haru-chan…aku…-"

Haru kembali memotong ucapan sahabatnya itu, " Tapi Haru akan belajar menerima semua itu. Haru tidak ingin menyakiti perasaan ataupun merusak hubungan baik Tsuna-san dan Kyoko-chan. Haru juga tidak ingin hal ini merusak persahabatan kita Kyoko-chan. Karena setelah Haru pikir-pikir kembali, Haru lebih merasa hancur jika kehilangan kalian berdua. Haru sangat menyayangi kalian."

Tsuna maupun Kyoko terdiam seribu bahasa. Bukannya merasa lega, Kyoko malah merasa semakin bersalah mendengar perkataan Haru. Segala gundahan, kesedihan kebingungan semuanya bercampur baur menjadi ketidak yakinan di hatinya.

"Tsuna-san…" Panggil Haru, membuat pemuda berambut coklat tersebut menoleh kearah dirinya. "Maaf. Waktu itu Haru langsung pergi tanpa pamit. Haru benar-benar tidak sopan ya…" Ucapnya, kali ini Tsuna yang membalasnya dengan tersenyum kecil. "Tidak apa Haru…Aku tidak begitu kepikiran kok." Ucapnya.

"Lalu…Tsuna-san…?" Panggilnya yang dijawab dengan kata 'ya?' oleh Tsuna.

"Jaga Kyoko-chan baik-baik ya…" Ucap Haru dengan nada memohon, sentak membuat Kyoko maupun Tsuna saling berbalas pandang, lalu keduanya kembali memandang Haru.

"Tidak bisa! Haru…aku benar-benar tidak bisa!" Ucap Kyoko, air matanya kembali terpecah. "Aku sudah melukai perasaanmu! Aku sudah membohongimu..Aku harusnya mendukungmu! Bukan menjadi seorang pembohong dan berkhianat! Aku…aku…"

Haru menggengam balik tangan sahabatnya tersebut. Mencoba untuk menenangkan Kyoko. "Tapi Haru tidak apa-apa kok…Haru tidak keberatan…Haru akan ikut bahagia

jika Kyoko-chan juga bahagia." Tambahnya membuat Kyoko semakin terisak, air matanya tidak kunjung lelah. Perasaannya benar-benar bercampur aduk sekarang. Apa boleh begini? Apa tidak apa? Rasa sedih maupun senang membuatnya semakin tidak mengerti akan perasaannya. "Tapi aku tidak bisa Haru…Aku sudah terlalu banyak membuatmu menderita..aku tidak pantas-…" Haru mengeleng sekali lagi ia memotong perkataan sahabatnya. "Tidak apa…Haru juga berbuat salah kok. Haru lebih sering memikirkan perasaan Haru sendiri hingga tidak pernah mempedulikan perasaan Kyoko-chan…Haru selalu mengadu dan hanya menumpukan masalah pada Kyoko-chan." Ucap Haru yang mengingat-ingat waktu-waktu kebersamaannya dengan sahabatnya itu. "Maafkan Haru ya Kyoko-chan…sudah menampar wajahmu." Pinta Haru. Kyoko menundukan kepalanya, Ia tidak sangup berkata apapun karena nampaknya Haru sendiri sudah membuat keputusannya dengan bulat. "Aku juga…maaf telah menyakiti perasaanmu Haru-chan…"

Suara isak tangisan pun memenuhi suasan di ruangan itu. Kyoko maupun Haru menangis bersama. Tsuna yang sedari tadi memperhatikan percakapan kedua gadis hanya diam membisu. 'Jadi inikah permasalahannya?' Bisiknya dalam hati. Namun tetap saja ia bersyukur kedua gadis itu kini kembali rujuk dari masalah.

Kembali Tsuna menerawangkan pandangannya ke jendela kamar. Disadarinya langit mendung kini mengeluarkan semburat hujan. Hujan yang seakan-akan turun untuk memperingati kejadian hari itu. Hujan yang seakan turun untuk menghapus segala kepedihan yang melekat diantara keduanya. Kedua sahabat tersebut.

-o-

Waktu pun berlalu dengan cepat setelah kejadian itu, Haru kembali menatapi pemandangan yang tertampak dari jendela estalase café yang ia singgahi. Langit tampak begitu cerah meski udara terasa sejuk. Mungkin karena musim semi tengah menghampiri. Diperhatikannya sejumlah orang-orang yang berlalu lalang di sekitar jalan. Gadis itu terus menghela.

"Silahkan…ini pesanan anda." Suara dari seorang waiter muncul di depan meja Haru. "Muscatel(2) dan chesse cake kan?" Haru menganggukan kepalanya sebagai tanda 'itu benar', lalu menjawab. "Terima kasih."

Haru mengulum sedikit potongan cheese cakenya sambil meluruskan pandangannya ke luar jendela. "Semakin banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sini desu…Apa karena hari ini malam minggu?" Gumamnya bertanya kepada diri sendiri, hingga sesuatu yang sangat ia kenal tertangkap jelas di kedua matanya.

Terlihatlah sosok Tsuna dan Kyoko berdua. Tampak Tsuna yang tampak membawa 2 cangkir minuman hangat sedang Kyoko tengah memeluk erat sebuah boneka berbentuk ikan jelas sekali tampak kedua pasangan tersebut tengah berkencan, dan jelas mereka nampaknya tidak menyadari kehadiran Haru di sekitar lokasi tersebut.

Haru menatap keduanya dengan pandangan sendu. Sejak hari itu Kyoko dan Tsuna pun memutuskan untuk tidak berpisah. Haru tersenyum gembira mengetahi keputusan itu. Meski jauh di dalam. Senyum tersebut bukanlah pancaran perasaan sesungguhnya. Di sisi lain ia bahagia ia bisa kembali mengobrol bersama Kyoko seperti sedia kala, meski dilain sisi ia hancur menerima kenyataan pahit bahwa sahabatnya tetap mempertahankan hubungannya dengan pemuda yang hingga saat ini masih ia cintai.

'Masih terasa…rasa sakit ini…' Gumam Haru dalam hati kecilnya, lalu mengalihkan pandangannya dari jendela menuju teh Muscate yang belum ia teguk. Tersenyum kecil ia putuskan untuk mengulum habis santapan yang berada di hadapannya.

Setengah jam berlalu Haru pun memutuskan untuk pulang, setelah yakin bahwa tidak ada sosok Kyoko maupun Tsuna di sekitar distrik tempatnya berada. Ia pun segera berlari dari tempat itu. Ia tidak mau bertemu dengan keduanya atau siapapun untuk hari ini.

Tidak terasa langkah kakinya membawanya berlari tanpa arah. Gadis itu sendiri tidak tahu kemanakah ia akan melangkah selanjutnya. Hingga jejak kakinya berhenti di sebuah taman di pinggiran kota Namimori(3). Sunyi menjadi pemandangan yang umum di taman tersebut. Hingga Haru melangkahkan kedua kakinya memasuki pelosok ke dalam.

Beberapa helai daun yang mengering kian berjatuhan. Haru terus menghayati pemandangan itu. 'Ternyata memang menyakitkan ya…melihat mereka bersama…' Kedua matanya mulai berlinang. Hingga tidak tertahankan, semburat air mata pun terpancar. Ini adalah jalur yang ia ia hanya bisa berharap bahwa jalur yang ia pilih inilah yang tidak akan berbuah penyesalan. Tidak peduli seberapa rumit dan menyakitkan. Meski rasa sakit ini akan terus menemani dirinya. Haru menangis, di atas gelaran nasib yang tercipta untuknya meratapi scenario kehidupan yang tidak dipahaminya.

-Let my soul smile, through my heart and my heart smile through my eyes that I may scatter rich smiles in sad hearts-

~Part 2 of 2~

(1)Ini cuman hasil-hasil dari cerita sepupu saya yang kecelakaan motor, sama seperti Haru. Sepupu saya juga kedapetan jake-pot di kepalanya. Kenapa jadi melenceng dari pengertian? Hematoma adalah sekumpulan darah yang terletak diluar pembuluh darah yang biasanya menyebabkan pendarahan, bahasa kerennya memar. Ok! Saya gatau ini ocehan saya bener atau kaga. Berhubung saya buta biology ataupun sejenisnya. Maklumin aja bahasa kedokteran saya ga ngepek XD

(2)Muscatel = Teh yang berasal dar wilayah Darjeeling, yang dipetik pada akhir musim semi.

(3)Iya…masih di lokasi yang sama…kea fic saya yang two eagles and us itu.