B.O.R.E.D (2 of 2)
Disclaimer: Standard Applied
Warning: M rated. NO UNDERAGE ALLOWED! PWP.
.
EXPLISIT & HARD LEMON –buat yang mudah merasa terganggu dengan adegan dewasa, chapter ini lebih baik kamu lewati.
.
.
Napas Naruto masih terengah-engah. Tubuhnya terasa lelah seperti baru saja berlari jarak jauh. Wajah dan lehernya dibasahi keringat, tapi ia juga merasakan kepuasan tersendiri, lebih dari yang selama ini pernah dirasakannya. Ia mencoba mengatur napas dan berpikir jernih, tapi sulit karena saat ini ia tengah terduduk di lantai kamarnya dengan celana tergantung di mata kakinya dan di hadapannya duduk seorang gadis seusianya yang tengar tersenyum puas. Di pipi gadis itu masih menempel sisa-sisa cairan yang baru saja dikeluarkannya tadi. Dalam kondisi seperti ini, mustahil untuk berpikir jernih.
Sakura sendiri masih merasa belum puas. Ia tidak ingin berhenti di sana. Saat ini tubuhnya, meskipun ia telah mengenakan pakaian yang tipis dan pendek, terasa panas. Ia tahu hanya ada satu cara untuk membuatnya merasa lebih baik.
"Naru..."
Naruto memicingkan matanya. Tubuhnya masih terasa sangat letih tapi saat Sakura merangkak ke arahnya, salah satu bagian tubuhnya yang tadinya sudah terkulai lemas kini kembali bangkit dengan gagahnya. Naruto mengumpat dalam hati, jiwa mudanya mengalahkan akal sehatnya. Ia tahu seharusnya mereka berhenti di sana tapi ketika Sakura mendekat ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan sayu tiba-tiba saja Naruto tidak lagi peduli dengan semua logika yang ada. Dia menginginkan gadis ini. Tubuhnya membutuhkan gadis ini.
Sakura berhenti beberapa senti di depan Naruto dan tertawa geli saat melihat organ tubuh Naruto telah kembali berdiri menyambutnya. Matanya tertumpu pada bagian bawah perut pemuda yang juga adalah teman sepermainannya itu selama beberapa detik sebelum ia kembali menatap wajah Naruto yang kini bersemu merah dan menyeringai lebar.
"Kau sudah keras lagi."
Naruto mengerucutkan dirinya, menolak menatap gadis itu, "Itu karena kamu..." Naruto menggumam tidak jelas namun Sakura memilih untuk tidak memedulikannya.
Naruto menahan napas saat Sakura melingkarkan kedua lengannya di lehernya. Gadis itu mendekatkan bibirnya dan berbisik di telinga pemuda bermata biru itu. Napasnya yang panas bersentuhan dengan telinganya dan membuat Naruto merasa geli.
"Lepaskan celanaku."
Sakura mengatakannya dengan nada biasa namun dengan suara lirih. Ia tidak tahu bahwa kata-katanya itu telah merubuhkan tembok pertahanan terakhir yang ada di dalam diri Naruto. Naruto tahu, mereka tidak bisa kembali lagi sekarang.
Sakura tersenyum saat tangan Naruto yang bergetar bergerak ke celana pendek yang dikenakannya. Sakura mengangkat pinggulnya sedikit, membantu Naruto untuk melepaskan celana jinsnya itu.
Naruto melemparkan celana Sakura sembarangan ke seberang ruangan sambil kemudian menendang celanan yang yang sejak tadi menggantung di pergelangan kakinya. Ia menurut saja saat Sakura membantunya melepaskan kaos yang di kenakannya. Kini Naruto sudah benar-benar telanjang.
Sakura memandangi tubuh temannya itu sambil tersenyum. Jari-jarinya menelusuri otot-otot di perut naruto yang didapatnya dari latihan rutin klub sepakbola yang diikutinya di sekolah. Naruto bergidik sedikit merasakan sentuhan Sakura pada kulitnya.
Sakura menjilati bibirnya dan tersenyum, "Perutmu boleh juga..."
Naruto tidak mengatakan apa-apa. Ia menarik tubuh Sakura ke pangkuannya. Tangannya melingkar di pinggangnya dan merengkuh tubuh langsing sakura sehingga dada Sakura yang masih berlapis pakaian menempel ketat ke dadanya. Dengan sedikit malu-malu, perlahan-lahan diciumnya bibir merah gadis bermata hijau toska itu. Sakura tidak butuh waktu lebih dari sedetik sebelum merespon ciuman itu dengan cara balas melumat bibir Naruto.
Itu ciuman pertama untuk keduanya namun mereka sama-sama bereksperimen dengan pengalaman pertama mereka tersebut. Entah siapa yang pertama memulai, tahu-tahu saja lidah keduanya sudah bertemu dan bergulat. Keduanya, secara naluriah, mencoba untuk mendominasi ciuman tersebut, keduanya tidak mau mengalah satu sama lain dan terus menyerang dengan agresif.
Jari-jari lentik Sakura bertaut dengan rambut pirang Naruto sementara kedua tangan Naruto berada di pipi Sakura, keduanya mencoba mendapatkan lebih banyak bibir dan lidah dari satu sama lain.
Sesuatu yang keras mendesak bagian bawah Sakura yang masih menggunakan celana dalam. Sakura tahu benda apa itu. Masih sambil mencium Naruto ia menggesekan bagian bawahnya dengan benda yang sejak tadi mendesaknya itu.
Naruto menjauhkan wajahnya dari Sakura dan membenamkannya di leher putih Sakura. Ia mengeluh panjang saat Sakura semakin cepat menggerakan pinggangnya. Ia meletakan kedua tangannya di bagian belakang Sakura dan meremasnya.
"Sakura..." Naruto tahu kalau mereka tetap di posisi itu maka ia akan keluar lagi dan ia tidak ingin keluar secepat itu.
Dengan segala kemampuan yang dimilikinya ia menjauhkan diri dari Sakura dan membiarkan gadis itu duduk di lantai beralas karpet dengan kaki setengah terbuka. Sebelum Sakura sempat protes Naruto sudah menempatkan diri di antara kedua kakinya. Dengan hati-hati ia meregangkan kedua tungkai indah milik cinta pertamanya itu. Dengan sedikit ragu ia menyingkapkan sedikit ke samping celana dalam yang dikenakan Sakura. Wajahnya memerah saat untuk pertama kalinya ia melihat milik Sakura.
Sakura tidak mengatakan apa-apa, ia tidak ingin membuat Naruto takut dan berubah pikiran. Saat ini ia tidak ingin Naruto berhenti, ia ingin melakukan lebih dari ini. Dengan napas terputus-putus dan sambil menggigit bibir bawahnya ia menatap pemuda yang tampaknya tengah terkesima dengan bagian bawah tubuhnya itu.
Jantung Sakura seperti akan melompat keluar dari rongga dadanya saat dengan ragu-ragu Naruto mengusapkan ibu jarinya. Sakura menggigit bibirnya lebih kuat lagi agar tidak mendesah.
Naruto mengusapkan ibu jarinya dengan telunjuknya yang basah karena cairan Sakura. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dan menghirup aroma tubuh bagian bawah Sakura dan tersenyum saat ia menyadari bahwa ia menyukai aroma itu. Ia menjadi penasaran dan kemudian menjulurkan lidahnya dengan malu-malu untuk mulai menjilati bagian yang berwarna merah muda tersebut. Sakura kali ini tidak bisa menahan untuk tidak mendesah lagi.
"Nggh..."
Sakura mendesah lirih. Sebelah tangannya bertaut dengan rambut Naruto dan sebelah tangannya lagi menyibakan kaos yang dikenakannya dan bermain dengan dadanya. Lidah Naruto yang basah dan panas menggelitik bagian bawahnya dan membuatnya tanpa bisa dikendalikan mengeluarkan lebih banyak cairan lagi dibagian bawahnya.
Suara desahan Sakura yang seperti menikmati perlakuannya membuat kapten tim sepakbola sekolahnya itu semakin berani. Dengan kedua jempolnya ia membuka dan menahan tubuh Sakura sebelum kemudian ia menusukan lidahnya ke dalam celah sempit yang ada. Sakura nyaris menjerit. Tangannya yang kini terkepal menarik rambut Naruto namun sang pemuda tampak tidak keberatan, ia malah mencoba memasukan lidahnya lebih dalam lagi.
Sakura mengeluarkan suara yang terdengar seperti terisak-isak saat Naruto menggerakan lidahnya lebih cepat. Naruto sendiri merasa bagian bawah tubuhnya berdenyut keras mendengar suara isakan Sakura. Ia tidak tahan lagi. Ia ingin segera melakukannya tapi ia tahu bahwa ini adalah pertama kalinya untuk Sakura dan ia tidak ingin tergesa-gesa melakukannya.
Sakura mengeluarkan suara desahan memrotes saat Naruto menjauhkan wajahnya. Ia masih ingin merasakannya. Tapi protesnya tidak berlangsung lama karena tidak lama kemudian ia merasakan ujung jari telunjuk Naruto perlahan memasuki tubuhnya.
Naruto tersenyum melihat ekspresi sakura saat itu. Kedua matanya terpejam, kaos beserta bra yang dikenakannya tersingkap ke atas sementara kedua tangannya meremas dadanya yang putih. Leher jenjangnya dihiasi bulir-bulir keringat dan dari bibirnya yang setengah terbuka tersengar suara rintihan seiring perlahan jari telunjuk Naruto menyusup masuk ke dalam tubuhnya.
Naruto berhenti saat jarinya tidak bisa masuk lebih jauh lagi. Sesaat ia tidak bergerak, memberikan kesempatan pada tubuh Sakura untuk terbiasa dengan benda asing di dalamnya. Ia dapat merasakan tubuh Sakura menjepit-jepit jarinya. Ia bisa membayangkan anggota tubuhnya yang lain menggantikan jarinya itu...
Perlahan ia mulai menggerakan jarinya keluar masuk, mencoba melakukannya selembut mungkin agar tidak menyakiti gadis yang disayanginya itu.
Tubuh sakura terbaring diatas karpet. Rambutnya menempel di wajahnya yang dibasahi keringat dan pipinya merona merah. Ia terlihat sangat cantik. Naruto masih tidak percaya bahwa gadis secantik Sakura kini berada di kamarnya, mengerang nikmat dalam kondisi setengah telanjang. Ini seperti yang selama ini diimpikannya.
Naruto memasukan satu lagi jari perlahan-lahan. Kali ini jari tengahnya. Sakura menggeliat saat Naruto mulai menggerakkan kedua jarinya ke dalam tubuhnya. Cairan yang dikeluarkan Sakura membuat Naruto lebih mudah mengeluar-masukan jarinya dengan cepat.
Punggung Sakura melengkung dan napasnya tersenggal-senggal saat Naruto menggerakan jarinya semakin cepat.
"Ahn, ah ah ah..." Sakura membuaka matanya namun ia tidak bisa melihat apapun, seluruh tubuhnya terasa geli dan nikmat saat Naruto menggunakan jempol tangannya yang tidak sibuk untuk mengusap permukaan miliknya, "Naruto... Aku merasa aneh..."
Naruto tahu apa yang dirasakan gadisnya itu dan tersenyum puas, "Jangan ditahan Sakura..."
"Ah... Geli..."
Naruto hanya tersenyum dan semakin cepat menggerakan tangannya. Ia ingin melihat gadis yang paling berharga untuknya itu mencapai puncaknya. Saat melihat Sakura menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya kuat-kuat, Naruto tahu, sebentar lagi ia akan keluar. Ia pun mempercepat gerakannya.
"A-ah, Naru..."
Tidak ada kebanggaan yang paling besar yang dapat dirasakan seorang laki-laki dibandingkan dengan saat gadis yang disayanginya mencapai puncak sambil meneriakan namanya.
Naruto berjengit saat merasakan tubuh Sakura menjepit jarinya lebih kuat dan semakin banyak cairan yang keluar. Ia dapat merasakan tubuh Sakura berdenyut saat gadis remaja itu mengalami orgasme pertamanya. Naruto menunggu beberapa saat sebelum akhirnya dengan hati-hati menarik keluar jari-jarinya.
Ia tersenyum sombong saat melihat gadis yang terkapar lunglai di lantai kamarnya itu. Matanya setengah terbuka dan terlihat tidak fokus. Ia bernafas melalui mulut dan terengah-engah. Tubuh putihnya dibasahi keringat namun dibalik ekspresi lelah yang terpampang di wajahnya, ia juga tampak puas.
Sakura tampak sangat seksi dan Naruto tidak bisa menunggu lagi.
"Kita lanjutkan ya?" tanyanya.
Sakura belum menjawab apa-apa ketika Naruto mulai melepaskan celana dalam berwarna putih yang sejak tadi sebenarnya masih dikenakan Sakura. Ia membantu Sakura melepaskan kaos dan branya sekaligus. Kini keduanya sudah sama-sama telanjang bulat.
Naruto menatap tubuh di hadapannya itu, polos tanpa sehelai benang pun dan Sakura masih terlihat sangat cantik seperti biasanya. Naruto adalah pemuda paling beruntung di dunia saat itu bisa mendapatkan gadis secantik Sakura.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto lembut pada Sakura yang kelelahan. Sakura hanya mengangguk dengan pipi merona merah. Naruto tersenyum, sebelah tangannya membelai milik Sakura yang masih sangat sensitif pasca orgasme, "Kita lanjutkan?"
Sakura tidak menjawab, hanya mengerang lirih yang dianggap Naruto sebagai persetujuan.
Perlahan Naruto mendekat ke arah Sakura. Ia mengangkat kedua kaki Sakura dan meletakannya di atas pundaknya. Ia pernah beberapa kali melihat posisi seperti ini di film porno yang dipinjamnya dari teman, kali ini ia berniat untuk mempraktekan semua yang dipelajarinya dari film itu.
"Naruto..." Sakura mendesis saat perlahan Naruto mulai menggesekan miliknya pada tubuhnya yang basah.
Naruto hanya menyeringai. Ia ingin segera memasukannya tapi ia ingin menggoda Sakura. Ia menggesekan bagian kepalanya namun tidak memasukannya. Naruto ingin agar Sakura memohon padanya.
"Naru..." Sakura menggoyangakan pinggulnya dengan frustasi, mencoba memasukan benda itu dengan caranya sendiri namun kedua tangan Naruto yang berada di pinggangnya menahannya, "Naruto!"
"Katakan 'aku mohon'."
Sakura menatap Naruto dengan tatapan tidak percaya. Di situasi seperti ini si bodoh itu masih saja mencoba menggodanya. Sakura adalah gadis dengan harga diri yang lebih besar dari gunung Fuji dan ia tidak memohon pada siapa pun. Tidak kali ini, tidak kapan pun. Sakura mendelik pada Naruto namun pemuda itu hanya terkekeh dan malah menggodanya dengan menggesekan kembali miliknya yang keras dan panas padanya.
"Aaahn..." Sakura tidak tahan lagi, kali ini ia harus menelan bulat-bulat harga dirinya, "Ah-ku mohooon... Naruto... Cepat masukan..."
Naruto tersenyum puas, "Nah, tidak sulit kan?"
Ia menggosokan ujung miliknya beberapa kali lagi, melumurinya dengan cairan Sakura agar memudahkan proses masuknya nanti, sebelum kemudian perlahan-lahan memasukan kepalanya ke tubuh Sakura. Naruto berhenti saat baru kepalanya saja yang masuk, menikmati sensasi yang didapatnya dari tubuh Sakura yang terasa panas dan menjepit miliknya.
Sebelum Sakura sempat protes Naruto pun mendorong masuk sisa miliknya sampai kemudian tertahan di tengah-tengah oleh sebuah pembatas yang tidak tampak.
"Naru..."
"Sakura..." Naruto menatap gadis di bawahnya itu, "Kau yakin?"
Sakura mengangguk.
"Ini akan sakit..."
"Lakukan saja!" desis Sakura.
Naruto mengangguk. Kalau pun Sakura memintanya berhenti, sekarang sudah terlambat. Ia tidak lagi bisa menahan dirinya. Perlahan-lahan ia menarik tubuhnya hingga hanya kepalanya saja yang tertanam sebelum kemudian menghentakan pinggangnya dengan cepat, menembus batas penghalang yang menandai hilangnya keperawanan Sakura.
"Ah, ah..." Naruto memejamkan matanya, ia terdiam beberapa saat, tubuhnya terasa berdenyut-denyut saat seluruhnya tertanam di tubuh Sakura. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini, "Sa-sakura..."
Saat ia membuka matanya, pemuda itu berjengit melihat ekspresi kesakitan di wajah teman sekelasnya itu. Ia merasa bersalah karena telah menyebabkan rasa sakit yang dirasakan gadis itu. Naruto diam tidak bergerak untuk beberapa saat, membiarkan Sakura terbiasa dengan tubuhnya. Tangannya bergerak menuju dada putih Sakura dan memijatnya dengan lembut, mencoba mengurangi rasa sakit yang dirasakan gadis itu.
Setelah hampir tiga puluh detik Sakura menggerakan pinggulnya, Naruto menganggapnya sebagai pertanda bahwa rasa sakitnya sudah mulai berkurang. Perlahan-lahan ia menarik tubuhnya sampai hampir seluruhnya sebelum kemudian kembali menghujamkannya dengan cepat. Kali ini ujung tubuhnya membentur sesuatu di dalam tubuh Sakura yang membuat Sakura mengerang nikmat. Naruto kembali menggerakan pinggulnya, mencoba mencari titik yang tadi disentuhnya itu.
Tubuh sakura yang sempit dan menjepit tubuhnya membuat Naruto melenguh nikmat. Ia mempercepat gerakan pinggulnya dan menghujamkan tubuhnya lebih dalam lagi. Cairan yang dikeluarkan tubuh Sakura membuatnya lebih mudah bergerak. Sakura sepertinya sudah tidak merasakan sakit sama sekali, kali ini ia malah meletakan kedua tangannya di pinggul Naruto, memintanya bergerak lebih cepat lagi.
Naruto menurutinya. Ia bergerak sangat cepat, ia tahu nanti tubuhnya akan terasa pegal-pegal karena tapi ia tidak peduli. Saat ini seluruh anggota tubuhnya kecuali tubuh bawahnya tidaklah penting.
"Naru... lebih... lebih..."
Naruto menarik keluar tubuhnya seluruhnya, membuat Sakura mengeluarkan suara protes tapi Naruto tidak mengatakan apa-apa hanya memutar tubuh Sakura, membuatnya menopang tubuhnya dengan tangan dan lututnya. Dari belakang, perlahan-lahan naruto kembali memasukkan tubuhnya.
Dengan kedua tangan di pinggul Sakura, Naruto kembali menghentakan tubuhnya keluar masuk. Dengan posisi ini ia dapat bergerak lebih cepat dan menyentuh titik-titik lain di dalam Sakura yang belum tersentuh olehnya tadi. Sakura yang dalam posisi merangkak hanya bisa mengerang tidak berdaya sementara Naruto terus menerus menyerangnya dari belakang.
"Naru.. uh..." Sakura bersusah payah untuk berbicara sementara tubuhnya terus berguncang, "Aku... lagi... Aku hampir sampai..."
"Sssh..." Naruto menampar pinggul sakura sambil tetap menyerangnya, "jangan ditahan... uh... keluarkan..."
Sakura berusaha keras menopang tubuhnya sementara tubuh Naruto keluar masuk dengan cepat ke dalam tubuhnya yang sudah sangat sensitif. Ia dapat merasakan sesuatu di dalam dirinya bergolak. Kali ini lebih besar dari yang dialaminya sebelumnya.
Otot-otot yang menjepit tubuh Naruto mulai berkedut. Ia tahu, itu pertanda bahwa Sakura sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Ia pun mempercepat gerakannya, mencoba untuk mencapai puncaknya bersamaan dengan Sakura.
"Aaaah..."
Naruto ikut melenguh ketika otot-otot itu berkedut dengan kuat dan menjepit miliknya erat-erat. Cairan tubuh Sakura keluar dengan keras bersamaan dengan suara erangan Sakura. Tubuh gadis itu bergetar hebat saat orgasme kedua menyerangnya. Sakura masih berada di tengah-tengah orgasmenya ketika Naruto kembali bergerak dengan lebih cepat.
Tubuh Sakura yang sedang sangat sensitif bereaksi hebat pada tubuh Naruto yang terus bergerak di dalam tubuhnya. Sakura tahu kalau Naruto tidak berhenti juga maka tubuhnya tidak akan sanggup lagi bertahan dan ia akan pingsan kelelahan.
"Naru... cukup..." mohon Sakura, terisak tidak berdaya ditengah-tengah rasa nikmat yang dirasakannya.
"Sebentar lagi..." janji Naruto, "Sebentar.. ah..."
Naruto menghentakan pinggulnya kuat-kuat sebanyak beberapa kali sebelum kemudian tubuhnya menyemburkan cairan panas berwarna putih ke dalam tubuh Sakura.
Seperti halnya Sakura yang meneriakan namanya, Naruto pun meneriakan nama gadis yang dicintainya itu saat ia mencapai puncaknya.
Sakura dapat merasakan benda panas cair mengisi tubuhnya dan menggeliat nikmat saat benda panas itu memenuhi tubuhnya. Ia mengerang kecil menikmati sensasi aneh yang baru pertama kali itu dirasakannya sementara Naruto menggerakan pinggulnya untuk memompa keluar semua cairan yang ada di dalam tubuhnya.
Setelah semua cairannya keluar, Naruto tidak langsung mengeluarkan tubuhnya dari Sakura. Ia mencoba mengatur nafas sementara jantungnya berdegup kencang. Ia belum pernah sekali pun merasa seperti ini sebelumnya. Lelah, pegal, dan puas.
Setelah beberapa detik, perlahan ia menarik tubuhnya keluar. Saat tubuhnya keluar dari Sakura gadis itu seperti kehabisan tenaga dan terkulai lemas. Dari tubuhnya perlahan tampak keluar cairan putih yang merupakan gabungan antara miliknya dan milik Naruto yang bercampur cairan merah, yang tidak salah lagi adalah darah tanda terkoyaknya selaput dara Sakura.
Naruto tersenyum melihat Sakura yang terkapar memunggunginya di lantai. Ia beranjak mendekat dan menciumi pundak putih gadis itu. Sakura mendesah merasakan bibir Naruto menjelajahi pundak dan punggungnya kemudian merayap naik ke lehernya.
"Aaah, Naru..."
Naruto tersenyum, "Ya?"
"Hentikan," kata Sakura menolak meskipun ia tidak bergerak menjauh atau mendorong Naruto agar berhenti, "Aku capek..."
"Jadi," gumam Naruto sambil menciumi pipi gadis cantik tersebut, "masih bosan?"
Sakura tersenyum dan membalikan badannya, "Yang benar saja..." Ia menarik leher naruto ke arahnya dan menciumnya. Naruto tidak keberatan sama sekali dan balas menciumnya.
Sayangnya keduanya tidak menyadari sosok berambut hitam yang sejak tadi bersandar di bingkai pintu kamar Naruto dengan tangan terlipat di depan dada. Pemuda itu menatap keduanya dengan ekspresi bosan di wajahnya. Mungkin mereka bisa membantunya mengatasi rasa bosannya...
...siapa tahu kan?
.
.
END
.
.
Author's note:
MAU SEQUEL THREESOME NARUxSAKUxSASU? ;) kalau lebih dari 20 orang mau, akan saya buatkan.
.
Makasih untuk yang sudah baca dan review. Ini pertama kali saya menulis lemon jadi jujur, deg-degan juga dengan reaksi pembaca. Takut dengan tanggapan yang akan diberikan. Tapi saya berterima kasih untuk semua yang sudah mau membaca dan meninggalkan review positif untuk cerita ini, itu sangat membantu meningkatkan percaya diri saya untuk menulis fanfic rate M.
Buat yang udah atau mau request, check info di profil saya baru bisa saya terima sebagian requestnya :D
Begitu senggang saya kerjakan :9
.
Recchinon
