Merodine V Presented

"Ghost Lens"

Disclaimer: VOCALOID bukan milik kami!

A/N: Mohon review-nya

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ


(Kaito P.O.V.)

Drrt.. Drrt.. Handphone-ku bergetar. Saat guru sedang lengah, aku ambil saja hp-ku dan kubaca pesan yang baru saja masuk.

From: Miku_Hatsune

Subject: Aku sakit

Isi: Maaf aku harus pulang duluan karena tidak enak badan.

Eh? Miku sedang tidak enak badan hari ini? Padahal kan tadi pagi dia masih terlihat normal saja. Pasti ada yang aneh nih...

Degh!

A-Aw... Kepalaku terasa sakit sekali... Pandanganku saja mulai berasa buyar. Apa yang terjadi..?

Degh!

"Semua sudah jelas..."

"Apanya?"

"Aku dapat membaca garisnya..."

Degh!

A-Apa yang barusan itu? Seperti ada dua orang berdialog dalam pikiranku...

"Pak, saya boleh izin ke toilet sebentar?" aku langsung berdiri dari tempat dudukku.

"Silahkan, Kai-"

Belum selesai ucapan guruku itu, aku sudah berlari duluan ke toilet. Aku merasa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.

Brak! Aku langsung mendobrak pintu toilet. Disana sedang ada anak laki-laki menatap cermin didepan wastafel. Aku mengenalinya. Dia adalah Zatsune Mikuo. Dia teman sekelas Miku.

"Ah, hai." sapanya. Aku hanya membalas senyum.

"Kau terlihat panik? Ada sesuatu?" tanyanya lagi. Aku hanya menggeleng.

"Tidak apa-apa. Hanya agak mengantuk saja," jawabku. Dia hanya mengangguk-angguk.

"Oh iya... Hatsune Miku pulang duluan gara-gara sakit di kelas. Dia kelihatan berbeda pagi ini," ucap Mikuo.

"Aneh gimana?" tanyaku.

"Entahlah.." dia mengangkat bahunya.

"Hanya saja... Dia seperti ketakutan oleh sesuatu menurutku," ucap Mikuo lagi.

Eh?

"Eh, aku duluan ya? Bye," Mikuo berjalan meninggalkan aku sendiri. Aku masih bingung dengan kata-katanya.

Pertama... Miku sms aku tiba-tiba dan berkata dia sakit. Lalu, aku mendengar sebuah dialog dalam pikiranku. Dan sekarang... Mikuo berkata kalau Miku terlihat ketakutan pagi ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku akan menanyakan Miku!

To: Miku_Hatsune

Subject: Feeling-ku nggak enak

Isi: Sorry, Miku. Tapi aku boleh curhat dikit nggak? Kok feeling-ku tiba-tiba nggak enak ya setelah tahu kamu pulang sendirian ke rumah?

Aku menunggu beberapa saat. Tidak ada balasan sama sekali... Ah, ini membuatku tambah khawatir.

Kriiing! Bel istirahat berbunyi. Aku akan menanyakan hal ini pada Rin dan Len!

To: King_Banana; Queen_Orenji

Subject: Aku ingin bicara!

Isi: Ke belakang gedung sekolah sekarang juga! Aku ingin bicara!

Bodo amat deh Rin sama Len mau mikir apa kek. Yang penting aku harus memberitahu mereka dulu sekarang ini.

"K-Kaito!" baru saja aku berlari keluar dari toilet, seseorang memanggilku. Aku menoleh dan melihat gadis berambut merah muda. Ah, Megurine Luka. Mantan pacarku dulu.

"Aku buru-buru," ucapku.

"Tapi ini penting..." ucapnya pelan. Dia berjalan menuju diriku dengan wajah tertunduk.

"Ada apa?" tanyaku karena nggak tega melihatnya.

"Aku.. A-Aku.." dia terlihat sangat gugup. Ah, ini akan membuang-buang waktuku!

"Maaf. Mungkin lain kali saja ya," Aku pun kembali berlari.

"Kaito!" panggil Luka lagi. Ah sudahlah, pasti hal yang tidak penting seperti biasanya.

Setelah pintu depan sekolah aku lewati, aku segera menuju belakang gedung sekolah. Rupanya Rin dan Len sudah sampai duluan.

"Ada apa sih, niichan? Kok kayaknya penting banget deh?" tanya Rin.

"Udah tau kan kalau Miku pulang duluan hari ini?" tanyaku.

"Udah. Neechan sudah sms kami kok," ucap Len.

"Itu dia. Aku merasa tidak enak saat ini. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi," ucapku.

"Kaito-senpai, sejak kapan kau jadi seperti Miku-senpai?" tanya Len lagi.

"Au ah! Pokoknya kita harus ketemu Miku sepulang sekolah! Kita harus jenguk dia, ok?" ucapku.

"Iya, iya." jawab Len ogah-ogahan. Rin kelihatan gemetaran sekarang.

"Lalu bagaimana dengan aku? Aku masih takut ucapan kakek itu sungguhan terjadi," ucap Rin. Aku memegang pundak Rin.

"Seandainya memang itu benar terjadi, maka aku akan melindungimu. Setidaknya aku akan menggantikan posisimu," ucapku. Rin tercengang.

"T-T-Tidak boleh, Senpai!" ucap Rin gemetaran. Aku dapat melihat setitik airmata di kelopak mata Rin.

"Baiklah..." ucapku menyerah. Rin menghapus airmatanya.

"Ini hanya takhayul, omong kosong! Tidak akan ada yang kenapa-kenapa!" Len berjalan meninggalkan kami.

"L-Len..." Rin terdiam.

Aku menepuk pundak Rin. Rin menatapku dalam-dalam dan langsung memelukku erat. Dia menangis di pelukanku.

"Tidak akan ada yang kenapa-kenapa, persis seperti kata Len. Tidak apa-apa," ucapku sambil mengelus rambut blonde milik Rin.

Ya... Tidak akan ada yang apa-apa...


*Skip Time*

Sekarang sudah waktunya pulang dan aku sudah bersama Rin dan Len. Kami bertiga akan menjenguk keadaan Miku dirumahnya.

Tok. Tok.

"Sebentar," suara Miku mulai terdengar. Klek. Pintu pun terbuka. "Kalian?"

"Kami khawatir padamu, Miku." ucapku. Rin dan Len mengangguk.

"Oh. Ya sudah masuk saja dulu," Miku mempersilahkan kami bertiga masuk. Kami langsung menuju ruang tamu.

"Kebetulan aku sedang minum teh. Dan entah kenapa aku sudah mengira kalian akan datang," ucap Miku sambil tersenyum.

"Ah, hebat sekali..." ucapku setengah berbisik. Kami pun duduk melingkar.

"Jadi... Ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan kan?" tebak Miku. Kami terdiam sesaat.

Brak!

Tiba-tiba Len menggebrak meja. Rin dan Miku, serta aku kaget melihat perlakuan Len yang tiba-tiba itu.

"Hentikan semua omong kosong ini dan bilang padaku kalau Rin tidak akan apa-apa!" bentak Len. Miku terdiam. Perlahan dia menoleh pada Rin dengan tatapan sedih.

"Aku belum bisa memastikannya," jawab Miku pelan. Sangat pelan.

"B-Brengsek!" Len berniat memukul wajah Miku, tapi aku menahannya.

"Dia kakak kelasmu, Len! Dan kau adalah seorang lelaki! Tidak sepantasnya kau melakukan itu!" aku memarahi Len. Mata Len memerah.

"Apa peduliku! Aku jujur, aku takut Rin kenapa-kenapa! Aku takut semua omong kosong itu justru kenyataannya!" ucap Len.

"Diam!" jerit Rin. Semuanya langsung terdiam dan melihat Rin yang menangis.

"Aku tidak mau ada siapapun diantara kita yang celaka... Hiks... Tapi jika memang aku yang harus celaka... Maka biarkan saja aku yang kena..." ucap Rin sambil terisak. Miku menempatkan tangannya di pundak Rin.

"Seandainya memang akan terjadi sesuatu... Aku akan mencegahnya," ucap Miku.

Apa? Mulutku menganga dan tidak dapat percaya ucapan Miku. Mencegahnya? Apa mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan... Sial... Aku tidak mengerti.

"Sudahlah tenang saja. Aku yakin tidak akan ada siapapun yang celaka," ucap Miku sambil tersenyum. Tapi aku menyadari hal yang lainnya tidak menyadari. Kaki Miku masih bergetar.

"Kalau begitu kami akan pulang." ucap Len tiba-tiba.

"Ya sudah," ucap Miku.

"Sebelumnya aku minta maaf atas perkataan dan perlakuanku, Miku-senpai." ucap Len. Tubuhnya membelakangi Miku. Seakan tidak berani menatap Miku secara langsung.

"Ya, aku mengerti Len. Hati-hati dijalan,"

Aku dan Rin pun ikut permisi dan meninggalkan rumah Miku. Miku melambaikan tangannya pada kami yang sudah berada di depan gerbang.

"Dadah," ucap Miku. Aku berusaha tersenyum dan melambaikan tanganku.

Degh!

Baru saja aku berjalan selangkah, kepalaku kembali merasa pusing...

Degh!

"Semua sudah jelas..."

"Apanya?"

"Aku dapat membaca garisnya..."

"Garis? Garis apa maksudmu...?"

"Dia mengincar kita... Dia telah membentuk garisnya..."

Degh!

Apa! Dialog ini seperti sambungan dari dialog yang sebelumnya muncul dalam pikiranku!

"Kaito-senpai, cepatlah~!" panggil Rin yang sudah lebih jauh dariku.

"A-Ah, iya..." aku menyahut.

Apa yang terjadi? Aku yakin sekali ada sesuatu dibalik semua ini... Ini pasti bukan kejadian kebetulan. Pasti ada sebabnya.

*Skip Time*

Malam harinya aku sangat tidak konsentrasi untuk belajar. Aku memilih untuk membuka laptopku dan membuka web browser. Aku penasaran dengan fenomena yang aku rasakan sekarang ini.

"Mitos angka 13... Lingkaran setan... Legenda Vampire... Ah, tidak ada yang cocok! Ck," decakku kesal. Apakah tidak ada sesuatu pun yang dapat menjelaskan fenomena yang sedang terjadi pada diriku!

Drrrtt... Drrrtt... Handphone-ku bergetar. Rupanya ada sms masuk dari Miku.

From: Hatsune_Miku

Subject: ...

Isi: ...

Eh? Apa maksudnya ini? Apakah sedang ada sesuatu yang terjadi pada Miku! Buruk!

Drap! Drap! Drap!

Aku langsung mengambil jaketku, berlari sekencang yang aku bisa menuju rumah Miku. Sampai disana suasana rumahnya sangat sepi. Aku kembali berlari. Entah kemana aku akan mencari, tapi aku yakin sedang terjadi sesuatu!

Brak! Aku menabrak seseorang.

"Aduh..." dia mengaduh kesakitan.

"Miku?" aku terkejut melihat sosok gadis didepanku. Tapi aku juga lega karena ternyata Miku tidak apa-apa.

"Maafkan aku!" aku langsung membantu Miku berdiri.

"Tidak apa-apa. Uhh... Kebetulan sekali kau sedang keluar, Kaito." ucap Miku.

"Kau duluan yang membuatku panik karena mengirimkan sms kosong," ucapku. Miku langsung memelukku tiba-tiba.

"Maaf, Kaito..." bisik Miku.

"Kenapa?" tanyaku. Miku melepaskan pelukannya.

"Maaf aku sudah membuatmu kaget. Tadi aku... Salah pencet kok," ucap Miku. Ah, ternyata begitu...

"Kalau begitu aku menemanimu pulang ya?"

"B-Baiklah..." jawab Miku. Sigh... Untunglah Miku ternyata tidak apa-apa.

Setelah Miku sampai dirumahnya aku langsung pamit pulang. Sampai dirumahku aku pun langsung merebahkan diriku di kasur. Ahh... Saatnya aku tidur.


*Skip Time*

Pagi harinya aku bersama Rin dan Len berangkat ke sekolah bersama-sama. Anehnya, kami tidak bertemu dengan Miku. Baik itu di jalan maupun di koridor sekolah. Aneh...

Sampai jam istirahat pertama tiba, pikiranku terus melayang kemana-mana. Saat pelajaran berakhir aku pun berjalan keluar kelas. Entah mengapa langkah kakiku ini menuju ke kelas 8-A. Kelasnya Hatsune Miku. Belum sampai kedepan kelasnya pas, aku berpapasan dengan Zatsune Mikuo. Dia sedang bersama Akita Neru, pacarnya. Mikuo tiba-tiba menarik lengan bajuku dan berbisik, "Apa kau tau yang sedang terjadi pada Hatsune Miku?"

"Apa maksudmu?" aku balas menarik lengan bajunya. Dia menepis tanganku.

"Lihat sendiri," ucapnya.

Aku langsung saja menuju ke kelas Miku. Sampai disana aku mendapatkan sosok Miku sedang tertidur di mejanya. Aku menepuk-nepuk pundak dia. Miku pun terbangun dan menengadah.

"M-Miku?" aku kaget melihat Miku. Matanya melotot padaku dan aku melihat jelas kantung mata dibawah matanya. Mukanya juga terlihat pucat.

"K-Kaito... A-Aku..." Miku tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

"Kau kenapa?" tanyaku.

"Aku..." Miku kembali terdiam.

Dan ucapan Miku yang selanjutnya adalah ucapan yang harusnya tidak akan pernah Miku ucapkan. Miku bilang...

"... Takut."