Merodine V Presented

"Ghost Lens"

A/N: Nyolong update padahal hari Senin udah kena UTS nih. Hahaha

Warning: Don't Like, Don't Read

Disclaimer: Vocaloid bukan milik Merodine!


(Luka P.O.V.)

Cklik! Blitz!

Sebuah foto berhasil aku ambil. Dua anak laki-laki kelasanku yang sedang memamerkan coretan mereka di dinding kelas menggunakan pilox.

"Yo! Makasih ya Luka! Ntar hasilnya gue tunggu ya," ucap salahsatu dari mereka.

"E-Eh, oke..." ucapku. Sebenarnya, ada hal yang mengganjal belakangan ini. Tapi... Aku berusaha untuk menanggapinya normal saja. Mereka berdua pun kembali duduk di kursinya masing-masing.

Aku melihat coretan yang tadi dibuat oleh mereka berdua. Tulisannya adalah 'Satu Hati' dengan pilox warna merah. Aku pun mengecek foto yang ada di kameraku dan... Hal itu terjadi lagi.

Tulisannya berubah menjadi 'Kami Mati'. Warna merah tersebut pun seakan meluber menjadi seperti darah yang mengalir.

"Luka, kau kenapa?" tegur Kasane Ted. Teman sekelasku.

"Ah, ng-nggak apa-apa kok." jawabku. Ted hanya mengangguk dan lalu pergi.

Ah, ada apa dengan kameraku ini? Aku mengecek kembali tulisan di kamera itu dan... Tulisannya 'Satu Hati'. Apakah tadi itu hanya halusinasiku saja?

"Awas!"

Aku melihat sebuah bola datang dan menabrak kaca kelasku. Pecahan kaca itu menancap tepat di wajah teman sekelasku. Lebih tepatnya... Laki-laki yang barusan aku ambil fotonya.

"Uwaaa..!" Yang satu lagi panik melihat wajah temannya penuh darah. Dia pun mencoba kabur dari tempat duduknya.

Brak! Kakinya tersangkut mejanya sendiri dan menyebabkan dia terjatuh. Tangannya memegang sisi meja yang ada didepannya. Meja itu pun berbalik dan menimpa seluruh kepalanya. Tapi yang membuat anak-anak lain menjerit adalah...

Dua pensil mekanik dan sebuah gunting tajam menancap di kepalanya. Keduanya pun tewas didalam kelas.


(Miku P.O.V.)

Benar-benar tak dapat ku percaya. Dua orang dari kelas 9-D meninggal didalam kelas karena sebuah kecelakaan. Jam pelajaran pun menjadi kosong karena guru-guru panik dan sibuk mengurusi kedua murid tersebut. Astaga...

"A-Anu... Ada Hatsune Miku?" seorang gadis memasuki ruang kelasku dengan wajah pucat seakan ketakutan. Dia mencariku, eh?

"Ya, aku." aku menyahut. Ah, ternyata Luka-senpai. Dia adalah mantan pacarnya Kaito. Mau apa dia mencariku.

"Ngg... B-Boleh aku bicara?" tanya Luka.

"Hn? Boleh kok," ucapku. Dia pun masuk kedalam kelasku dan duduk disampingku. Aku dapat melihat jelas kalau tubuhnya gemetaran. Hm... Mencurigakan.

"Ini mengenai... Ngg..." Luka terlihat ragu untuk mengatakannya.

"Bicara saja, Luka-senpai." ucapku. Luka masih saja terlihat gugup.

"Miku! Kau sudah tahu mengenai anak-anak yang mati di kelas 9-D?" Kaito tiba-tiba masuk dengan nafas terengah-engah kedalam kelasku. Dia juga terlihat agak terkejut melihat Luka duduk disampingku.

"Kau ngapain disini?" tanya Kaito sambil menghampiri diriku.

"I-Itu..." Luka terlihat lebih takut pada Kaito.

Tapi... Kaito tiba-tiba malah terlihat seperti pusing. Dia memegangi kepalanya sendiri dan seperti menahan sakit.

"Kau tidak apa-apa, Kaito?" tanyaku pada Kaito. Dia membuka matanya dengan tatapan kaget.

"S-Siapa gadis itu...?" gumam Kaito. Eh? Apa yang dia bicarakan?


(Kaito P.O.V.)

Apaan itu barusan! Aku kembali mendapatkan dialog tersebut tapi... Aku melihat seseorang didalamnya! Gadis dengan rambut oranye...

Gadis itu kembali membicarakan mengenai garis, entah apa maksudnya. Dan aku juga bingung. Siapa yang mengincar kami? Aku ingat-ingat kembali penglihatan yang aku dapatkan barusan. Keadannya seperti saat malam hari dan... Ah, sisanya gelap. Aku tidak bisa ingat. Sial.

"Kaito?" Miku menegurku.

"Ah, sorry..." ucapku. Miku terlihat cemas karena tingkahku. "I'm okay, Miku."

"Ah, baiklah..." ucap Miku.

Perhatianku kembali teralih pada Luka. Sedang apa dia disini?

"Miku, Luka ngapain disini?" tanyaku pada Miku. Percuma nanya sama Luka. Nggak dijawab sih.

"Dia ingin cerita sesuatu tapi sampai sekarang masih sulit sekali berbicara." jawab Miku. Aku menoleh pada Luka dan melihatnya tertunduk diam. Aku rasa memang ada sesuatu sedang terjadi padanya.

"Kau kenapa, Luka?" tanyaku. Aku pun mengambil kursi dan meletakannya disamping Miku.

"Ini masalah kameraku..." ucap Luka takut. Aku dan Miku terdiam bingung.

Degh!

Ah, s-sial... Kepalaku lagi-lagi berguncang keras.

Degh!

Ssssh... Aku dapat mendengar suara sesuatu. Suara itu...

Hujan?

"Semua sudah jelas..."

"Apanya?" ... Itu mirip suaraku?

"Aku dapat membaca garisnya..."

"Garis? Garis apa maksudmu...?" Sekarang seperti suara Miku yang terdengar.

Blitz! Sebuah cahaya kilat datang. Dan kini aku dapat melihat jelas dua orang gadis didepanku. Yang satu Hatsune Miku dan satunya... Siapa?

"Dia mengincar kita... Dia telah membentuk garisnya..." Ucap gadis berambut oranye itu.

Degh! Tidak! Jangan berakhir dulu! Siapa dia sebenarnya!

"Kaito, apa kau mengerti sesuatu?" suara Miku mengejutkan diriku.

"Ah, a-apa yang barusan kau bilang?" Aku masih merasakan pusing.

"Hei... Dari mana saja kau barusan, huh? Tumben gak dengerin," ucap Miku.

"S-Sorry. Barusan aku bengong. Hehehe..." ucapku sambil nyengir. Tapi sungguh... Aku masih penasaran dengan gadis berambut oranye yang ada di pikiranku itu.

"Well... Luka-senpai tadi kan bilang kalau kematian dua temannya itu terjadi tepat setelah mereka difoto. Mencurigakan, bukan?" tanya Miku.

"A-Ah, iya..." ucapku.

"Jadi... Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Luka takut. Aku jadi kasihan juga melihat dia ketakutan seperti itu.

Tep.

Aku meletakan tanganku di pundaknya. Luka menoleh terkejut kepadaku.

"Tenanglah. Aku dan Miku akan siap membantu dirimu," ucapku.

"A-Arigatou..." ucap Luka pelan.


(Normal P.O.V.)

Miku sedang mengecek foto-foto yang ada di kamera Luka. Semuanya normal saja kalau diperhatikan.

"Hm... Mungkin kematian dua teman sekelasmu hanyalah kebetulan," komentar Kaito.

"Ah, belum tentu." ucap Miku. Miku menunjuk sebuah foto.

Tampak ada dua orang cewek sedang bergaya. Yang satu tersenyum kearah kamera, sementara yang satu tampak membuang sisa permen karet keluar jendela. Disebelah kepalanya sedang ada seekor burung gagak terbang. Anehnya, gambar itu jadi terlihat seperti burung gagak itu menembus kepala si cewek yang sedang membuang permen karet keluar jendela.

Setelah itu Miku menunjuk foto yang lain. Seorang cowok yang sedang mengangkat seekor kucing dari ekornya. Kucing itu terlihat sangat sakit sementara si cowok terlihat senang. Anehnya mata si kucing seperti mengarah ke coretan tipe-x di dinding yang bertuliskan 'REVENGE'.

"Mereka berdua sudah mati sebelumnya, kan?" tanya Miku sambil menunjuk dua foto tadi. Luka mengangguk-angguk.

"Bagaimana cara mereka mati?" tanya Miku.

"Yang pertama mati karena kepalanya tertembus sebuah peluru nyasar... Yang satu karena motornya menabrak pembatas jalan saat menghindari seekor kucing hitam..." jawab Luka.

"Dugaanku tepat," ucap Miku.

"Ada apa, Miku?" tanya Kaito.

"Kamera ini memberikan kutukan pada orang yang di foto. Hanya saja ada pengecualian. Hanya yang sedang merusak atau menyakiti sesuatu saat di foto saja yang terkena kutukan," Miku menerangkan.

"B-Berarti... Kamera ini dikutuk, begitu...?" tanya Luka pelan. Miku menggeleng.

"Aku belum bisa memastikan," ucap Miku.

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Luka. Dia sudah terlihat sangat takut pada kameranya tersebut.

"Entahlah. Mungkin aku harus memeriksa kamera ini sendiri," ucap Miku. "Boleh aku bawa dulu kan?"

"B-Baiklah..." ucap Luka. Miku segera memasukan kamera tersebut kedalam tasnya. Tapi...

Cklik! Blitz!

Kamera tersebut tiba-tiba mengambil foto dengan sendirinya. Miku dapat melihat foto tersebut dengan jelas. Sementara dalam pandangan Kaito dan Luka foto tersebut hanyalah sebuah cahaya putih. Yang Miku lihat dalam foto tersebut adalah... Dirinya. Kaito. Luka. Dan sosok laki-laki berambut pink yang matanya tertutupi rambut. Bibirnya menggeram. Mengambarkan kalau dia sedang marah. Dengan sendirinya foto tersebut ter-delete.

"Apa-apaan itu barusan..?" gumam Miku heran. Luka dan Kaito hanya diam tidak mengerti.

"Itu kamera milik siapa?" tanya Mikuo yang tiba-tiba ada dibelakang Miku. Miku sendiri saja sampai terkejut.

"A-Apa?" tanya Miku.

"Itu kamera siapa?" Mikuo mengulangi pertanyaannya lagi.

"Luka-senpai," jawab Miku. Mikuo ber-oh-ria. Tapi sesaat kemudian tatapan matanya berubah.

"Sesuatu aneh sedang terjadi, benar kan?" tanya Mikuo.

Miku terdiam menatap mata Mikuo. Tatapan yang amat lembut dan... Miku merasa mengenali tatapan itu.

"Emm.. Miku," panggil Kaito. Miku menoleh.

"Kenapa?" tanya Miku.

Miku terkejut melihat Kaito sedang memegang kacamata miliknya. Miku pun segera merebutnya dari tangan Kaito.

"Sejak kapan kau memakai kacamata, huh?" tanya Kaito. Miku terlihat salah tingkah. Dia bingung harus menjawab apa pada Kaito.

"Mungkin Miku merasa pandangannya sudah mulai buyar," ucap Mikuo yang langsung kabur setelah itu.

"Aneh..." komentar Kaito. Miku sendiri malah merasa beruntung karena ucapan Mikuo tadi berhasil mengalihkan pembicaraan.

Tapi Miku makin merasa ada keterkaitan dibalik semua ini. Mengenai kamera milik Luka, keanehan pada diri Mikuo, dan fenomena sosok berjubah hitam. Sementara penglihatan Kaito dalam pikirannya itu semakin jelas dan memunculkan sosok seorang gadis berambut oranye. Apakah yang sebenarnya sedang terjadi?


Sementara itu di sebuah pesawat...

Seorang gadis berambut oranye sedang melihat keluar jendela pesawat dan menatapi langit yang mulai gelap. Tangannya terus memainkan kalung yang ada dilehernya. Dari iris matanya dapat ditebak kalau perasaan gadis ini sedang bimbang dan gugup.

"Kenapa aku merasa ingin kembali ke kota ini lagi?" gumamnya.

To Be Continued...


Yamigawa: Yang merasa Mikuo mencurigakan angkat tangan. #ikutan angkat tangan

Miku: #angkat tangan

Mikuo: #angkat tangan juga

Yamigawa: Gak kreatif lu pada ikut-ikutan aja.

Kaito: Eh, emang ada apa Vocaloid yang rambutnya oranye? siapa sih?

Yamigawa: Mau tau?

Kaito: #ngangguk-angguk

Yamigawa: Tunggu aja di next chapter. Sekarang mintain review gih. #nyiapin pasukan kelelawar.

Kaito: O-Oke deh... Readers, kalo ada, minta review ya. Daripada aku dijadiin makan malemnya kelelawar si bocah serem bin aneh itu.

Yamigawa: Hah? Paan?

Kaito: Lo ganteng! Suer deh!

(Maaf. Adegan selanjutnya dilarang untuk dilihat jadi lebih baik anda mereview cerita ini saja. Tidak ada paksaan, hanya permintaan sang author. Terimakasih.)