Yamigawa: Saya lagi ulangan tau. Malah disuruh update. Tuh, dah saya update. Gak review awas aja. #songong.
Merodine V Presented,
Ghost Lens
Warning: cerita berbelit-belit dengan ending yang rumit, OOCness, Don't Like don't read!
Disclaimer: Entahlah... Yang jelas Vocaloid bukan milik saya.
.
.
.
Miki P.O.V.
Sudah dua tahun aku pindah ke Taiwan dan meninggalkan Jepang. Aku tinggal sendirian di sebuah rumah dengan dua orangtua angkatku sejak panti asuhan yang aku tinggali di Jepang terbakar dan hancur. Dan sekarang, entah mengapa aku menginginkan untuk datang ke Jepang kembali. Seperti... Ada yang memanggilku untuk datang.
Pesawat sudah take off dan kini aku berada dalam perjalanan menuju Jepang. Aku tidak yakin dengan apa yang tengah aku kerjakan, dan aku merasa sangat bimbang. Suasana henung sekali diatas pesawat, bahkan nyaris tidak terdengar apapun kecuali suara mesin pesawat. Memang, kini tengah malam. Tiba-tiba aku mencium bau khas minuman soda datang kepadaku.
"Permisi, nona. Apa anda perlu sedikit minuman?"
Ternyata yang datang adalah seorang pramugari. Aku mengangguk dan tersenyum kecil, kemudian mengambil segelas soda. Kemudian, pramugari tersebut meninggalkan ku kembali, tapi,
"Ehm, maaf mengganggu, tapi, apa yang anda cari sebenarnya sedang menuju kepada anda,"
E-Eh!
A-Astaga... Itu hanya khayalanku saja. Pramugari itu hanya pergi saja dan tidak menoleh kepadaku lalu berucap seperti tadi. Mungkin, ini hanya karena bawaan ketakutanku saja...
"Maaf, nona," seseorang disamping kursiku memanggil. Daritadi wajahnya tertutupi majalah yang ia baca, jadi aku tidak dapat mengenalinya. Tapi, saat majalah itu dilepas,
"Aku tiba,"
I-Itu...! Me-Megurine Lu-...!
DUARRR!
.
.
.
Miku P.O.V.
Sial, hujan sangat deras disini. Pandanganku pun hanya terpusat pada tetesan air hujan yang perlahan mengalir di kaca kelasku. Tinggal menunggu beberapa menit sebelum bel pulang berbunyi, tapi tiap detiknya berasa sangat lama. Aku penasaran dengan semua yang tengah terjadi beberapa hari ini.
Belakangan ini Kaito mulai terlihat aneh. Aku dapat melihat dua sosok Mikuo. Sosok berjubah hitam yang dulu pernah ada kini telah mulai muncul lagi. Ditambah lagi kamera Luka-senpai yang sepertinya memiliki kutukan tertentu.
"Satu orang lagi... Telah ikut didalam permainan ini..." Tiba-tiba aku mendengar suara halus itu kembali. Dan disaat yang sama, Mikuo berdiri dari kursinya dan berlari keluar kelas.
"Mikuo, mau kemana kau!" Guru di kelasku meneriaki Mikuo.
Kriiiing!
Pas sekali dengan bel sekolahku! Aku harus caritahu ada apa sebenarnya. Tanpa ku sadari, ternyata Akita Neru berlari disampingku.
"Kau mau ngapain, cewek setan?" Ejek Neru dengan wajah kesal.
"Ada sesuatu yang terjadi," jawabku singkat. Tapi aku sendiri tidak pasti dengan apa yang sedang terjadi.
Akhirnya aku dan Neru menemukan Mikuo di tengah lapangan depan. Di tengah hujan yang deras, aku melihat Mikuo berdiri didepan seorang... Anak kecil?
"Mikuo, apa yang sedang kamu lakukan ditengah hujan?" Panggil Neru. Dengan segera aku mengenakan kacamata hantu milikku. Dan... Tepat di samping Mikuo dan anak kecil itu, ada Mikuo yang lain dan gadis dengan rambut pink atau oranye.
H-Hei... K-Kenapa pandanganku membuyar? Dan... A-Ah! Kepalaku sakit sekali! A-Aku... Kenapa-...?
.
.
.
"Miki, Mikuo, Luki! Aku menemukan sebuah buku aneh lho di perpustakaan!"
"E-Eh? B-Bukankah kau tidak boleh asal ambil buku di perpustakaan? Nanti dimarahin loh..."
"Ah, peduli amat! Toh, nggak ada yang tau,"
"Emang buku apaan sih? Buka dong, buka!"
"Ntar dulu Luki! Gak sabaran banget sih,"
"Bacain ke kami ya, Miku,"
"Iya. Judul buku ini... E-Ew... Aku lupa kalo aku nggak pinter baca, hehehe..."
"Yah, aku aja deh yang bacain,"
"Iya deh, Luki,"
"Eh... Tapi, apa nggak apa-apa kalau kita asal membacanya aja?"
"Miki tenang aja, aku jamin nggak apa-apa kok,"
"Tau nih, Miki! Diem-diem aja apa! Kami tau kamu mah kan masuk panti asuhan ini karena dibuang sama orangtuamu! Ngerti kan? DIBUANG! Jadi, jangan atur kami mulu kenapa!"
"Luki, jaga ucapan kamu!"
"Tapi emang bener 'kan?"
"Iya... Aku emang cuma anak buangan, kok. Hehehe,"
"Miki, udah jangan dimasukin ke hati ucapan Luki,"
"I-Iya,"
.
.
.
Degh!
A-Aw... Mimpi apa itu barusan? K-Kenapa aku bisa ada disana? Dan... Siapa Miki dan Luki itu sebenarnya? Kenapa disaat itu aku sudah bisa mengenal Mikuo?
"Miku, kau sudah sadar rupanya..." Ucap Kaito yang ternyata sudah berada di sampingku.
"Kenapa aku bisa ada disini?" Tanyaku. Di ruangan ini aku melihat ada Kaito, Rin, Len, Neru, Luka, Mikuo, dan gadis kecil yang tadi bersama Mikuo.
"Kau pingsan tadi. Sekarang kita berada di ruang UKS," jawab Kaito. Mikuo maju dengan wajah resah.
"Bisakah... Aku minta waktu untuk berbicara empat mata dengan Miku?" Tanya Mikuo. Kaito mengangguk. Dengan segera, semuanya beranjak keluar ruangan UKS. Tinggallah aku, Mikuo, dan gadis kecil itu di ruangan ini. Mikuo duduk disampingku dengan memangku gadis kecil itu. Tangan Mikuo meraih remote TV dan menyalakan TV di ruangan ini.
"Sungguh fenomena luar biasa! Gadis bernama Kaai Yuki yang sudah meninggal, lima menit kemudian hidup kembali dan kabur dari rumah sakit! Sekarang, masih dicari dimana Yuki berada!"
Cklik. TV pun kembali dimatikan.
"Anak ini yang bernama Kaai Yuki," ucap Mikuo. Anak kecil itu... Kaai Yuki?
"Bagaimana bisa dia hidup kembali setelah dia meninggal?" Tanyaku.
"Aku tau situasi ini membuatmu bingung. Maka dari itu, pertama-tama, coba gunakan kacamatamu itu," pinta Mikuo.
Tanpa pikir panjang, aku menggunakan kacamataku dan aku kembali melihat dua orang Mikuo, serta seorang perempuan dengan rambut pink oranye itu.
"Gadis yang berambut pink oranye yang kau lihat bernama Furukawa Miki, teman masa kecilmu," ucap Mikuo lagi.
Apa-apaan ini? Aku bahkan tidak pernah mendengar nama Furukawa Miki sebelumnya. A-Aw... Lagi-lagi kepalaku pusing. Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Mikuo.
"Miki meninggal hari ini karena kecelakaan dalam pesawat. Rohnya menempati tubuh Yuki yang sudah tidak bernyawa. Dapatkah kau mengerti itu?" Tanya Mikuo. Aku mengangguk, meskipun ucapan Mikuo kedengaran tidak masuk akal.
"Hal yang sama berlaku padaku," ucap Mikuo. Eh?
"Maksudmu?"
"Kau pernah hilang ingatan. Sebelumnya, aku, kau, Miki, dan seorang laki-laki bernama Luki pernah tinggal di sebuah panti asuhan. Tapi, suatu malam, Miki marah pada Luki dan hampir saja membunuh Luka, kakak perempuan Luki. Pada akhirnya, Luki yang terbunuh oleh Miki. Miki yang frustasi kemudian membakar habis panti asuhan kita. Kau, aku, dan Luka, berhasil selamat. Begitu pun Miki. Beberapa tahun kemudian, kita baru sadar bahwa roh Luki terus ingin membalas dendam,"
"Tunggu! Lalu, apa alasannya aku bisa hilang ingatan?" Tanyaku. Ini semua terdengar aneh di telingaku.
"Pada suatu malam, Luki berhasil mendatangi Luka dan menghapus semua kenangan Luka mengenai masa lalunya. Luka pun hilang ingatan. Kau saat itu sudah mengenal Kaito. Kau, Kaito, dan Miki kabur dengan menggunakan mobil untuk menghindari kemarahan Luki. Tapi, kalian berhasil terkejar. Dan di saat itulah, aku meninggal,"
Ah, aku sama sekali tidak habis pikir dengan semua cerita ini. Siapa Megurine Luki? Hei... Kalau Mikuo meninggal waktu itu, lalu siapa Mikuo ini?
"Kau bilang kau meninggal saat itu, tapi kenapa kau bisa ada disini?"
"Siapa namaku?"
"Zatsune Mikuo,"
"Namaku saat itu adalah Satzune Mikuo. Saat ini, aku berbagi tempat dengan Zatsune Mikuo yang asli. Itulah sebabnya, kau dapat melihat dua Mikuo saat menggunakan kacamata itu,"
"Darimana kau tau tentang kacamata ini?" Tanyaku. Mikuo tersenyum.
"Kenakalanmu dulu yang membuatmu menemukan kacamata itu. Kau mencurinya dari perpustakaan, hehe," ucap Mikuo.
"Lalu, kakek yang waktu itu memberikan kacamata ini padaku?"
"That's me," jawabnya.
"A-Apa...? Jadi, semua ini memang sudah direncanakan?"
"Tidak juga. Hanya saja, jika aku diam saja, maka aku, kau, Luka, Kaito, Rin, Len, Neru, dan semua orang yang kau kenal berada dalam ancaman Luki," ucap Mikuo.
"Bagaimana dengan kamera Luka?" Tanyaku.
"Itu adalah permainan Luki. Tujuannya adalah membuat Luka depresi dan membunuh dirinya sendiri,"
"Lalu, kakek itu pernah bilang kalau Rin dalam bahaya. Apa ada hubungannya?"
"Kan aku sudah bilang, kakek itu adalah aku. Aku bilang Rin dalam bahaya, agar kau cepat bertindak," jawab Mikuo.
Semuanya masuk akal sekarang. Ini semua adalah sebab Luki. Dia sedang mengancam nyawa kami semua sekarang ini. Tapi...
"Bagaimana caranya aku menyelamatkan seluruh nyawa teman-temanku dari ancaman Luki?" Tanyaku.
"Hapus semua foto dirimu, teman-temanmu, dan seluruh orang yang ada didalam kamera Luka. Kita hanya punya sedikit waktu," ucap Luki. Dengan segera, aku berdiri dan keluar dari ruang UKS.
"Kaito, Rin, Len, Neru, Luka! Kita harus menghapus semua foto kita sekarang-..."
"Miku! Awas!"
.
.
.
Normal P.O.V.
Dengan cepat Mikuo menarik Miku kembali kedalam ruang UKS. Hampir saja Miku tertimpa lampu neon yang berada diatasnya. Serpihan kaca berhamburan di lantai. Miku pun baru tersadar kalau di pojok koridor berdiri seorang laki-laki dengan wajah menyeramkan dan senyum menyeringai. Itu dia... Megurine Luki.
"Semuanya, kabur dari UKS sekarang!" Teriak Miku. Semuanya pun kabur bersama-sama. Sosok Luki itu pun mengejar mereka.
"Semuanya, lari menuju kelasku! Kita harus segera ambil kamera Luka!" ucap Miku.
"T-Tapi, apa yang terjadi sebenarnya!" Tanya Len yang daritadi terus menggenggam tangan Rin dengan erat.
"Luki akan membunuh kita semua," ucap Miku.
"Apa!" Pekik Neru. Sementara, Rin terus berlari sambil menangis ketakutan ditangan Len.
"Sudahlah, yang penting kita harus lari dulu!" Ucap Mikuo.
Mereka pun akhirnya sampai di depan kelas Miku. Tapi, ternyata Luki sudah menunggu mereka duluan. Saat Mikuo membuka pintu kelas, sebilah pisau hampir saja menusuk jantungnya dan hanya menggores lengannya saja. Darah mengalir dari sisi kiri lengan Mikuo. Dengan cepat, Mikuo menendang tangan Luki dan menyebabkan pisau di tangannya itu terlempar. Mikuo pun langsung dicekik oleh Luki, tapi Kaito menolong Mikuo. Saat Mikuo terlepas, malah gantian Kaito yang dicekik oleh Luki.
"Mikuo, kenapa Luki dapat kami lihat secara nyata? Bukankah dia hantu?" Tanya Miku. Sementara Luka sedang menghapus satu per satu foto di kameranya.
"Sepertinya, Luki sudah pernah masuk neraka," jawab Mikuo asal dan kembali menolong Kaito.
Foto pun satu per satu dihapus Luka. Sementara foto yang sudah dicetak, disobek semuanya oleh Miku, Rin, dan Neru.
"JANGAN HAPUS FOTO ITU, ATAU KALIAN AKAN MENYESAL!" Pekik Luki.
"DIAM KAU! JELAS-JELAS KAU INGIN MEMBUNUH KAMI!" Balas Mikuo.
"JANGAN!" Ucap Luki dan melemparkan Mikuo dan Kaito sekaligus. Tapi terlambat, semua foto sudah berhasil dihapus dan disobek. Kini, Luka tinggal membanting kamera itu saja.
"TIDAK!"
Luka pun membanting kamera itu dan sosok Luki menghilang bersamaan dengan hujan yang berhenti. Dan akhirnya... Semuanya telah berakhir.
.
.
.
Yamigawa: Pada percaya nih cerita beneran abis? Gak sih :P
Rizuka: Lah? Emang masih ada lanjutannya?
Yamigawa: Tantangan buat readers. Cari kejanggalan di cerita ini yang belum sempet diceritain. Kalo ada yang sadar, dibikinin 'Ghost Lens II' deh.
Rizuka: Maksudnya?
Yamigawa: Ghost Lens tamat, tapi mau dibikin Ghost Lens II. Itu pun kalo ada yang sadar kalo nih cerita belum abis.
Kaito: Kenapa Kaito-...! #disekep.
Miki: Apa hubungannya Miki-...! #disekep.
Mikuo: Siapa Satzu-...! #disekep.
Miku: Siapa pemilik asli kacama-...! #disekep.
Luki: Kenapa Luki bisa diliat-...! #disekep.
Gakupo: Kapan saya dapet peran? #ditendang.
Yamigawa: Rusuh aja pada!
Rizuka: ... *speechless*
Yamigawa: Nih fic resmi saya tutup. Review tetep wajib. Dan kalo ada yang sadar apa aja kejanggalan di cerita ini, 'Ghost Lens II' bakal di-publish dalam waktu singkat. Btw, met UAS bagi yang menjalankannya. Jangan lupa REVIEW dulu.
