Prohibited
Rate: M
Warning: Age-bending, genderbending, smut/lemon for later chapter, incest (saya gak tahu kalau hubungan antar saudara tiri kalau gak sedarah bagaimana), sort of lolicon, AU. DLDR.
Pairing: Sweden x fem!Finland, slight SuNor.
Moved from my old account :) please be nice to me XD
Pernahkah kau merasa terluka dan hancur ketika melihat orang yang tinggal bersamamu—terlebih lagi kau cintai sejak dirimu kecil—memilih orang lain untuk dijadikan kekasihmu, dibandingkan denganmu. Rasanya itu sangat menyakitkan di dalam hatimu, hingga menimbulkan rasa cemburu di dalam hatimu.
Itulah yang dirasakan Tiina Vainamoinen, seorang gadis enam belas tahun yang merupakan anak angkat dari seorang pemilik toko furnitur ternama, Berwald Oxenstierna. Berwald adalah pria berambut pirang pendek dan berkacamata dan berusia empat puluh tahun, ia merupakan pria yang terkenal di kalangan wanita-wanita muda dan eksekutif. Wajah kaku pria itu masih terlihat tampan walau usianya sudah cukup umur dan ia adalah pria lajang. Hampir setiap hari, telepon rumah berdering dan selalu saja yang dicari adalah Berwald. Mulai dari mengajaknya kencan, minum-minum bersama, pergi ke diskotik dan sebagainya. Tetapi tetap saja ditolak oleh Berwald sendiri—
—karena Berwald sudah memiliki kekasih yang jauh lebih cantik dibandingkan dirinya. Seorang gadis Norwegia yang berusia dua puluh sembilan tahun bernama Halldora Bondevik. Tiina pernah bertemu dengan gadis itu beberapa bulan yang lalu.
"Dia calon istriku," kata Berwald datar dan salah satu tangannya memegang bahu Halldora pelan. "Dia ibumu nanti—."
Tiina tidak mempercayai pendengarannya sendiri, setahunya Berwald belum pernah bercerita selama ini bahwa ayah tirinya memiliki kekasih di luar sana. Mengapa tiba-tiba Berwald berbicara seperti itu kepadanya. Apa ini suatu jenis lelucon baru yang dipasang bukan pada April Mop.
"Sudah mulai sejak kapan, papa?" tanya Tiina penuh arti, matanya terus menatap ke arah Berwald. Berharap Berwald sedang bercanda—walaupun sudah sangat tidak mungkin pria sedingin Berwald bisa bercanda, untuk bercanda saja sudah cukup membuat orang takut karena Berwald selalu memandanginya ataupun orang lain dengan tatapan yang sangat menakutkan baginya. Ia ingin tahu semuanya yang terjadi, berharap ini hanya mimpi dan keisengan belaka saja.
Mata Berwald menatap Halldora dengan tatapan datar. "Tahun lalu."
Ia benci mengingat hal itu, selama ini Tiina berpikir bahwa suatu saat dan ketika ia dewasa, ia bisa melepas statusnya dari seorang anak angkat menjadi seorang kekasih atau istri dari Berwald. Itu adalah impiannya sejak Tiina berusia tiga belas tahun. Ia merasa nyaman tinggal bersama Berwald sejak ia berusia empat tahun, bermanja-manja kepadanya dan menjadikan Berwald satu-satunya tempat untuk bergantung. Saat itu ia belum sadar perasaan sesungguhnya—yang ia tahu rasa nyaman yang mendalam dan selalu ingin terus bersamanya.
Rasa itulah yang berkembang menjadi debaran-debaran aneh di hatinya, yang lama kelamaan berkembang menjadi satu hal—satu hal yang terlarang yaitu cinta terhadap ayahnya sendiri. Bukan cinta sebagaimanakah yang seharusnya. Jika itu benar-benar terjadi—ia melakukan hubungan inses menurut pandangan orang sekitar, sekalipun mereka berdua tidak ada hubungan darah sedikitpun.
"Kau sakit?" seseorang bertanya kepadanya dan menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh. "Tidurlah."
Tiina menegadah dan mata violetnya beradu pandang dengan mata hijau milik Berwald. Tatapan Berwald terhadapnya membius seluruh otaknya—sekarang ia tidak bisa memandang Berwald sebagai ayahnya. Ia memandang Berwald sebagai seorang kekasih ataupun suami. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Aku tidak apa-apa, moi," Tiina menjawab lirih dan matanya memandang ke arah lain. "Hanya sedikit pusing."
Berwald tidak menjawab perkataan Tiina sedikitpun, wajah kakunya sedikit berkedut dan memikirkan sesuatu mengenai Tiina. Ia merasa belakangan ini Tiina sangat aneh—lebih tepatnya beberapa tahun belakangan ini. Sempat terpikir oleh Berwald, apakah Tiina sedang jatuh cinta pada teman cowoknya di sekolah atau sedang memiliki masalah perempuan yang jelas-jelas tidak bisa diceritakan kepadanya. Ia sama sekali tidak tahu—sampai Tiina bisa mengatakannya.
"Mau kugendong?" Berwald menawarkan dan mengelus rambut Tiina dengan lembut.
Tiina menggeleng pelan, wajahnya terasa merah padam. "Aku bukan anak berusia lima tahun yang dulu selalu minta papa gendong. Maaf."
Berwald tampak kecewa dengan penolakan Tiina, tetapi ia baru ingat bahwa Tiina sudah menjadi seorang gadis muda yang beranjak dewasa. Terkadang Berwald sering menganggap Tiina sebagai anak kecil—tetapi di sisi yang lain, Berwald memandangi Tiina sebagai seorang wanita. Bahasa tubuhnya sama sekali tidak bisa berbohong sekalipun Berwald berusaha menyangkali perasaannya.
"Ledsen," gumam Berwald pelan. "Aku sedikit—."
Tubuh Tiina serasa bergidik mendengar ucapan Berwald yang terakhir itu dan Tiina meninggalkan tempat itu segera sebelum perasaannya semakin kacau. Hidup bersama seorang ayah tiri yang ia cintai setengah mati hanya membuat perasaannya sama sekali tidak karuan. Lagipula sudah tidak ada harapan lagi untuknya agar bisa bersama dengan Berwald. Berwald sudah memilki orang lain di dalam hidupnya—orang itu akan menjadi ibu tirinya dan ia akan menjadi lalat dalam kehidupan mereka.
Sementara itu, Berwald memandangi Tiina dari kejauhan dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa dimengertinya. Apakah perasaan yang menyelimutinya ini? Berwald sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi kepadanya.
Sesampainya Tiina di kamar, ia menangis keras dan menutupi wajahnya dengan bantal. Kesal mengapa ia tidak bisa menjadi wanita di depan Berwald—Berwald selalu menganggapnya sebagai anak kecil berusia lima tahun, dan setiap sikap manjanya disalahartikan oleh Berwald.
Tiina bukan ingin bermanja-manja pada Berwald. Lebih karena ia mencintai pria itu di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Ia ingin memiliki Berwald untuknya sendiri, menganggapnya sebagai seorang kekasih.
Mina rakastan sinua, papa.
.
.
.
"Ada apa?" tanya Halldora Bondevik sambil mengelus punggung Berwald dengan lembut sembari memeluknya dari belakang. "Muram?"
Berwald diam, tubuhnya sama sekali tidak berbalik ketika Halldora memeluknya. Tetap diam di tempatnya sendiri. Bahkan bertanya pada Halldora mengenai keadannya saja pun tidak dilakukannya.
Otaknya memikirkan hal-hal lain—mengenai Tiina seorang. Tiina belakangan ini bertingkah sangat aneh, entah apa yang meracuni pikiran anak tirinya yang paling ia cintai itu. Apa ia pernah membuat suatu kesalahan kepada Tiina.
Bukan—Tiina seperti menjaga jarak terhadapnya. Sejak ia mengatakan pada anak tirinya bahwa ia akan memperistri Halldora, Tiina berubah menjadi agak lebih aneh dari biasanya. Bukan aneh, tatapan mata yang ditujukan padanya lebih seperti tatapan kecemburuan. Kecemburuan yang amat dikenalnya. Tapi bukan kecemburuan yang disebabkan karena membenci Halldora. Tiina tidak mungkin membenci seseorang tanpa alasan yang jelas kecuali jika ia cemburu karena mencintai orang itu. Seingatnya, Tiina bukanlah tipe orang yang mudah cemburu dan cenderung polos.
Apa mungkin diam-diam, Tiina mencintainya—sebagai seorang kekasih. Bukan cinta berdasarkan kekeluargaan.
"Ledsen—tinggalkan aku sendiri," kata Berwald dengan nada ketus dan sikap menghindar. "Pergi."
Halldora berjengit pelan dan melepaskan kedua tangannya dari tubuh Berwald lalu meninggalkan tempat itu sesegera mungkin sebelum Berwald mulai menatapnya tajam. Sedikit terdengar dengusan kecil dari mulutnya.
"Tunggu aku di depan," balas Halldora datar.
Pintu ruangan ditutup dengan keras. Berwald kembali duduk di bangkunya sambil memikirkan sesuatu hal. Mengapa semuanya menjadi membingungkan dan rumit seperti ini. Ia masih ingat ketika ia berusia dua puluh sembilan tahun, seseorang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya dan meninggalkan seorang anak kecil berusia kurang dari dua tahun tertidur meringkuk karena kedinginan. Pada saat itu, yang dilakukan oleh Berwald adalah mencari-cari dimanakah gerangan ibunya dan berpikir mungkin masih ada di sekitarnya tetapi setelah seminggu penuh, akhirnya Berwald tidak menemukan orangtua anak itu sama sekali.
Sampai pada akhirnya Berwald memutuskan untuk mengasuh anak itu sendiri. Kehadiran Tiina dalam kehidupan Berwald memberi warna baru, ia belajar mengenal dunia yang sama sekali asing baginya. Dan Tiina—ia tampak menyukai Berwald walau pertama kali bertemu dengan Berwald, Tiina ketakutan setengah mati.
"Nggak," isak Tiina kecil, berusaha melepaskan diri dari gendongan Berwald. "Lepaskan aku!"
Berwald cuek saja dan tangannya masih menahan Tiina kecil, ia harus menyerahkan anak itu ke tempat terdekat agar ibunya bisa menemukan anak yang sedang digendongnya. Sementara itu, Tiina kecil ketakutan dan memandang sekelilingnya, berharap ibunya saja anak itu hilang ketika orangtuanya berlibur ke Swedia. Bisa jadi kan—secara garis wajah anak itu adalah gadis Finlandia dan nama anak itu Vainamoinen.
Oh dia tidak perlu banyak bertanya darimana dia tahu—yang jelas di jaket anak kecil itu terdapat sulaman nama lengkapnya.
"Mama mana?" tanya Tiina dengan nada cemas. "Om penculik ya?"
Berwald mendengus kecil, sudah menolong anak kecil ia malah dikatain oleh anak berumur dua tahun dengan sebutan penculik. Jika memang Berwald adalah penculik, sudah pasti Berwald akan menyekap anak itu dan meminta tebusan pada orangtuanya. Tapi memangnya dia kurang kerjaan apa—sampai-sampai minta tebusan untuk anak itu. Lagipula dia kan kaya.
"Bukan."
Tiina menangis, tangannya yang kecilmemukul-mukul dada Berwald. "Om seram! Aku mau ketemu mama! Turunkan aku."
Berwald sedikit kesal dan akhirnya menurunkan gadis kecil itu. "Jalan sendiri."
Tiina menangis keras setelah ia diturunkan oleh Berwald. "Nggak mau! Om Jahat!"
"Kenapa jahat?" tanya Berwald dengan wajah datar. "Aku turunkan."
Tiina cemberut, tangannya menarik-narik celana panjang Berwald. "Gendong! Takut diculik—."
Wajah Berwald facepalm mendengar perkataan Tiina. Tadi katanya minta diturunkan, sekarang minta digendong. Anak kecil itu memang ada-ada saja, pikir Berwald geli. Aku sulit mengerti apa maunya anak ini.
Ingatan Berwald ketika pertama kali bertemu Tiina benar-benar membuat Berwald merasa geli. Tentu ia benar-benar tidak menyangka bahwa anak yang dulu sering bertingkah manja kepadanya bisa membuatnya salah tingkah untuk saat ini dengan perubahan-perubahan aneh Tiina. Perubahan yang selama ini berusaha dipahaminya sendiri.
Tanpa sadar, ingatannya melayang ke mana-mana. Ingatan yang hampir sama dengan awal-awal pertemuan mereka.
"Papa!" seru seorang gadis kecil kepadanya dengan nada terisak-isak. "Minta gendong!"
Berwald yang waktu itu sedang sibuk membaca koran terkejut Tiina kecil memanggilnya sambil menangis. Jalannya tertatih-tatih—mungkin gadis itu habis terjatuh ketika bermain di halaman depan. Bangkit dari tempat duduknya dan menaruh koran itu di mejanya. Kakinya melangkah ke arah Tiina dan menggendong Tiina dan memeluknya pelan. "Jangan menangis, anak manis."
Tiina menyeruak pelan dan memeluk kepala Berwald dengan kedua tangan kecilnya. "Ada anjing galak—ngejar-ngejar sampe jatuh. Takut," isaknya. "Om itu menyuruhku menyentuh anjing galak."
Dasar orang gila, siapa sih yang berani-beraninya menyuruh anak kesayangannya menyentuh anjing galak. Jangan bilang kalau itu kerjaan si Mathias Kohler alias si kambing Denmark itu.
"Biar papa tembak dia," ucap Berwald dan mengelus-elus rambut Tiina dengan lembut lalu menciumnya. "Tidak usah takut."
Air mata Tiina perlahan-lahan reda, senyuman mulai mengembang di bibir kecilnya. "Jag alskar dig, papa. Moi—," ucapnya dengan menggunakan bahasa asal Berwald.
Jantung Berwald serasa berdegup kencang, ia mulai merasa bersalah terhadap Tiina. Tidak tahu apa yang terjadi kepadanya tetapi ia mulai berpikir ke arah yang lebih kompleks. Ia merasa hubungannya dengan Halldora sama sekali sia-sia dan tidak ada perasaan cinta mendalam terhadap Halldora, hanya sebatas kecocokan semata.
Lebih tepatnya, Berwald tidak pernah menganggap Halldora sebagaimana seorang kekasih. Ia hanya memacarinya dengan alasan untuk menahan dirinya agar tidak tertarik dengan Tiina.
Tetapi rencana itu gagal total. Bisa dibilang kegagalan terbesar sekaligus kesalahan di dalam hidupnya. Semakin ia terus bersama Halldora—keinginan untuk memiliki Tiina untuk dirinya sendiri semakin besar. Hasratnya sama sekali tidak bisa dikontrol sepenuhnya.
Ya, dia mencintai Tiina sebagai seorang wanita seutuhnya. Selama ini ia tidak menyadarinya sama sekali.
Cinta tidak dapat diduga olehnya. Sebuah cinta tumbuh karena adanya kebersamaan secara terus menerus. Ia mulai tidak bisa memandang Tiina sebagai anaknya. Alih-alih membayangkan Tiina adalah seorang anak, Berwald membayangkan bagaimana ketika Tiina tumbuh dewasa dan kecantikan Tiina memancar keluar. Bukan tidak mungkin Tiina akan melebihi Halldora yang dianggap paling cantik oleh teman-temannya.
Harus ia akui, bahwa ia mencintai Tiina selama ini. Statusnya sebagai ayah tiri membuatnya ia terpaksa meredam rasa cinta itu terhadap Tiina, hampir setiap malam Berwald memimpikan Tiina di dalam tidurnya. Bahkan yang dilakukan Berwald adalah 'memuaskan' diri sendiri sebagai pengganti Tiina. Membayangkan Tiina di dalam fantasinya yang paling kelam dan nista.
Tunggu—ia sama sekali sudah tidak waras. Kemanakah logika di otaknya yang selama ini ada di otaknya.
Berwald mengakuinya, ia seperti pria pedo. Memikirkan yang tidak sepantasnya mengenai Tiina.
Jika ia tidak bisa mengendalikannya—ia tak ada ubahnya seperti pria yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sudah banyak berita tentang pemerkosaan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Ia tidak mau Tiina kehilangan kepercayaan terhadapnya dengan menuruti otaknya sendiri. Biarlah Tiina yang menyerahkannya sendiri jika gadis itu siap.
Permasalahan utamanya, Tiina sudah terlanjur berpikir bahwa Berwald mencintai Halldora. Mengingat hal itu hanya membuat Berwald merasa jijik terhadap dirinya sendiri dan rasa bersalahnya semakin muncul.
BRAK! Meja dibanting dengan keras dan wajah kakunya mulai berekspresi. Persetan dengan Halldora atau siapapun. Demi apapun ia menyesali keputusannya untuk menjadikan Halldora sebagai kekasihnya. Mengapa ia malah menyakiti dua pihak yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Tiina," kata-kata itu tanpa sadar terucap di bibirnya, kedua tangannya masih terkepal dengan penuh gemetar. "A—aku—."
Tuhan, apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia merutuki dirinya sendiri mengapa dirinya tidak bisa mencintai Halldora sebagai seorang wanita—semakin lama ia berpacaran dengan Halldora, cintanya terhadap Tiina semakin tumbuh kuat dan nyaris seperti heroin yang pernah didengarnya.
Air mata menetes dari wajah kakunya. Hancur sekaligus terluka. Membayangkan Tiina yang begitu polos dikecewakan olehnya. Seandainya Tiina tahu, bukan Halldora yang akan ia jadikan istri. Itu hanyalah dalihnya akan perasaannya sendiri.
Ia akan menunggu Tiina hingga Tiina berusia delapan belas tahun dan ia akan menyeret Tiina ke altar bersamanya. Tinggal menunggu waktu saja.
Akan ia lakukan. Dan pada saat itu kecantikan alami Tiina akan mekar. Ia akan bangga kepada Tiina dan bisa mengatakan pada teman-temannya bahwa dialah satu-satunya wanita yang ia cintai lebih dari separuh hidupnya.
Sekeluarnya dari ruangan tersebut, Halldora sudah menunggunya dengan wajah masam. Tampaknya Halldora sudah akan bersiap-siap menyembur Berwald. Dapat terlihat dari wajah merah panasnya itu.
"Lama," dengus Halldora. "Apa yang kau lakukan di dalam."
Berwald diam saja dan memeluk Halldora pelan. "Ledsen."
"Kenapa minta maaf?" tanya Halldora bingung. Berwald tersenyum miris, bagaimana sekarang ia mengatakan pada Halldora bahwa ia sendiri tidak berniat untuk menjalin hubungan serius dengan wanita itu—apalagi hingga memperistrinya karena cintanya terhadap Halldora hanya sebatas mitra kerja semata. Mungkin Halldora menarik secara fisik tetapi tidak akan pernah menarik untuk Berwald sebagai seorang wanita.
"Lupakan saja."
.
.
.
Sesampainya di rumah, ia disambut oleh Tiina dengan wajah sumringah. Tiina tampak siap dan rapi sedangkan kemeja Berwald sendiri sudah berantakan dan wajahnya sudah menunjukkan wajah lelah. Kumis tipis mulai bermunculan dan kacamatanya berembun. Ia merasakan keringat bermunculan di tubuhnya.
"Selamat datang, Papa!" sapanya riang sambil mengenakan celemek berwarna pink muda. "Aku sudah menyiapkan banyak makanan untuk papa. Papa pasti lelah."
Anak yang baik, gumam Berwald. Syukurlah ia tidak apa-apa—kuharap dia lupa mengenai itu.
"Hn?"
"Ada apa?" tanya Tiina bingung. "Papa mau mandi sekarang?"
Berwald tidak menjawab pertanyaan Tiina. Bola matanya memandangi Tiina dari atas ke bawah. Mulai berpikir sesuatu yang tidak-tidak mengenai Tiina. Lehernya—buah dadanya yang masih berkembang, kulitnya yang mulus—terlalu indah untuk dilewatkan. Ia ingin memiliki gadis itu semalam penuh saja dan membuat Tiina larut dalam lubang kenikmatan bersamanya.
Membayangkan bagaimana seandainya hal itu benar-benar dilakukan. Itu akan menjadi dosa manis yang tidak terkira dan tidak terlupakan.
"Sejak tadi Papa diam saja?" tanya Tiina bingung. "Papa sedang marah padaku, moi?"
Ya Tuhan—suara Tiina membius jiwanya dan menganggu kewarasannya perlahan-lahan. Ia baru saja selesai mandi. Suara Tiina seolah-olah menggodanya untuk berbuat lebih.
Tanpa Berwald sadari, wajahnya berubah menjadi lebih tegang dari yang biasanya, tangannya bergerak ke arah bahu Tiina dan mencengkramnya erat. Di bagian vital miliknya mengeras.
Gemetar.
"Ikutlah denganku!" katanya dengan wajah mengerikan hingga membuat Tiina sedikit bergidik. "Sekarang!"
"E—ei? Apa maksudnya ini! Aku sama sekali tidak mengerti apapun!"
Berwald memandangi sekelilingnya, kedua tangannya masih mencengkram bahu Tiina dengan erat. Tiina mulai mengerang-ngerang kesakitan.
"Sebenarnya ada apa, papa?" Tiina bertanya sekali lagi. "Kumohon katakan sesuatu padaku, moi."
Tiina tidak akan pernah mendapatkan jawabannya—sampai kapanpun—karena Berwald sudah menyeretnya ke arah tempat tidur. Sesampainya di kamar, Berwald mendorong Tiina dengan kasar sehingga tubuh Tiina terhempas di tempat tidurnya. Wajah Tiina menunjukkan ketakutannya, bingung mengapa ayah tirinya seperti hilang kendali.
"Jangan kabur," desisnya dan menahan kedua tangan Tiina ke belakang. Ia mulai memajukan bibirnya dan menempelkan bibir tersebut ke bibir Tiina.
"Nggh—papa—"
Tiina mengerang dan mulai menendang-nendang. Tak berapa lama Berwald melepaskan ciumannya dari bibir Tiina.
"Kenapa!" isaknya. "Apa yang terjadi, papa?"
Berwald tidak mau menjawab pertanyaan Tiina sedikitpun. Salah satu tangannya memegangi punggung Tiina dan mencari-cari dimana letak kancing atau risleting.
"Mau apa?" Tiina mulai terisak, air matanya tumpah. Tak berapa lama, Berwald membuka tali celemek dan melemparkan celemek itu ke sembarang arah. Setelah itu, ia membuka baju Tiina dengan kasar-dengan cara merobeknya dengan kasar.
Mata Tiina terpejam ngeri, nafasnya semakin tidak beraturan dan tak terkendali. Berwald mulai memandangi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam berwarna putih berenda dan rok hitam dengan penuh hasrat mendalam. Dengan cekatan Berwald membuka rok yang dikenakan Tiina.
"Hentikan! Kumohon hentikan!"
Erangan Tiina membuat Berwald semakin berhasrat. Ia tidak peduli apakah perbuatannya ini akan menghancurkan rasa cinta Tiina yang selama ini dimilikinya. Ia tak sanggup membayangkan Tiina akan menjadi milik pria lain.
Ia melepaskan cengkraman tangannya pada kedua tangannya untuk melonggarkan Tiina. Tiina menyadari bahwa pegangan Berwald sudah mengendur.
Ia tidak bisa bernafas lega sekarang-karena Berwald membuka penutup dadanya. Mata tajamnya kini memandangnya dari atas kebawah. Lidah Berwald mulai menjilat payudara gadis itu dengan hasrat menggebu-gebu. Menghisap,mencubit dan menjilat- lalu menggigit dilakukannya dengan seksama tanpa sedikitpun ada yang terlewat.
Perlahan-lahan Tiina membuka matanya dan wajah Tiina merah padam melihat apa yang dilakukan Berwald terhadap payudaranya. Terdapat bekas hisapan-hisapan serta ujungnya mengeras.
"Suka?" tanya Berwald serak dan ciuman itu berpindah ke dahi Tiina.
Tiina menangis, ia ingin lepas dari Berwald. Sejujurnya, ia sangat bingung mengapa Berwald bertingkah seperti itu. Sekalipun Tiina mencintai Berwald, bukan berarti ia rela menyerahkan segalanya untuk pria itu—termasuk keperawanannya. Lagipula ia sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa terus bersama-sama dengan Berwald. Ia sudah memiliki Halldora. Jika ia melakukan itu, sama saja ia mengkhianati Halldora.
Tunggu—bukankah itu yang selama ini ia inginkan. Memiliki pria itu untuk semalam penuh sesuai dengan impiannya.
"Mau berbuat apa?" tanya Tiina lemah. "Kita ini ayah dan anak. Hentikan, kumohon—."
Pria itu tidak mendengarkan perkataan Tiina dan semakin menjadi-jadi—semakin Tiina memintanya berhenti. Tapi mengapa Berwald melakukan hal itu semacamnya, jika Berwald tidak memiliki perasaan cinta mendalam terhadapnya. Apakah Berwald hanya sedang mempermainkannya?
Berwald terus bergerak dan mencicipi tubuhnya sedikit demi sedikit tanpa ada satupun yang terlewatkan. Tiina terus menjerit karena Berwald mengecup tubuhnya dengan kasar hingga mengeluarkan darah di area leher Tiina. Ia menjilatnya berkali-kali.
"Kumohon—berhenti!" pinta Tiina dengan penuh harap. "Jangan lakukan ini padaku."
Berwald tersadar, ia lupa melepaskan penutup aurat milik Tiina. Ia memundurkan tubuhnya dan melepaskan celana dalam berenda itu dan melepaskan benda tersebut dari dalam tubuh Tiina.
Lalu ia melepaskan pakaiannya sendiri hingga tidak ada sehelai benangpun tersisa di tubuhnya. Sesaat ia teringat ada satu kondom di kantong celananya.
Mengapa benda itu tidak kau gunakan saja, bodoh!
Untuk apa ia gunakan benda itu, tidak akan terjadi apa-apa pada Tiina. Tiina masih berusia enam belas tahun. Tidak mungkin jika Tiina—ah ia terlalu berpikiran jauh ke depan.
Berwald kembali ke posisinya dan merengkuh Tiina dengan erat. Mencari-cari dimana letak milik Tiina tersebut. Ia membutuhkan waktu lama untuk menemukannya, sekitar beberapa menit.
Dan ia memasukkan miliknya ke dalam milik Tiina dan menghujamnya dalam-dalam. Mencari-cari dimana titik pertahanan tersebut. Tiina mengerang ngeri, matanya mulai nanar-pertanda bahwa tidak lama lagi hidupnya akan berubah total sejak kejadian ini. Ia bisa merasakan milik Berwald berada di dalam miliknya. Terbenam sepenuhnya.
"Lepaskan—aku—."
Yang Berwald inginkan saat ini adalah meraih klimaksnya. Memeluk Tiina dengan erat, mencium salah satu bahu Tiina dan menggigitnya perlahan.
Nafas Tiina semakin melemah, wajahnya memucat. Rasa sakit di bagian kewanitaannya mulai melemahkan urat syarafnya. Sebentar lagi ia akan jatuh pingsan.
"Tiina—"
Titik kenikmatan itu berhasil diraihnya—bersamaan dengan melemahnya kesadaran Tiina.
"Papa," isaknya dan Tiina perlahan-lahan menutup matanya.
Jatuh pingsan dalam kesedihan mendalam dan kekecewaan. Hatinya hancur berkeping-keping atas perlakuan Berwald.
Berwald tersadar apa yang telah diperbuatnya terhadap anak tirinya sendiri. Ya Tuhan, ia benar-benar melakukannya pada anak tirinya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Tiina tersadar.
Ia melepaskan dirinya dari tubuh Tiina dan membaringkannya di tempat tidurnya. Sebercak darah segar memerciki sprei tempat tidurnya, darah yang berasal dari milik Tiina.
"Maafkan aku," ucapnya pelan dan memeluk Tiina sambil menangis.
.
.
.
Tiina terbangun dari tempat tidurnya dengan kepala yang amat sangat pusing. Ia benar-benar tidak ingat apa yang dilakukannya semalam hingga seluruh tubuhnya terasa sakit yang amat mendalam. Ia memandangi sekelilingnya dan mendapati di ruangan tersebut tampak berbeda dengan kamarnya.
Ya, itu bukan kamarnya sendiri—kamarnya tidak mungkin sesimpel itu. Kamar miliknya jauh lebih bermotif. Tapi mengapa ia bisa berada di kamar ini sekarang? Bukankah ini adalah kamar Berwald, tetapi mengapa ia bisa berada di sini sekarang?
Ia menundukkan kepalanya ke bawah dan merasakan bahwa tubuhnya licin dan terasa dingin lalu Tiina melihat ke seluruh tubuhnya sendiri yang terbungkus selimut putih dan mendapati sebercak darah dari kewanitaannya sendiri. Ia tidak mengenakan sehelai benang pun di dalam tubuhnya.
Bagaimana ia bisa lupa—bahwa semalam ia diperkosa—oleh ayah tirinya sendiri. Mengapa ia bisa tidak menyadarinya sama sekali.
"Tidak!"
Rasanya luka tidak terperi—sekaligus rasa malu yang amat mendalam yang tidak bisa dilukiskan oleh apapun. Air mata Tiina menetes deras dari wajah polosnya. Tubuhnya serasa mual seolah-olah ditusuk dari belakang.
"Papa," isaknya tertahan. "Mengapa papa lakukan ini padaku?"
Hati Tiina benar-benar hancur karena perlakuan Berwald yang seperti itu. Ia benar-benar merasa terhina dan diperlakukan tidak senonoh. Bingung mengapa belakangan ini Berwald berubah drastis dan tega memperlakukannya seperti itu. Memang ia mencintainya tetapi—
—ia sama sekali belum siap untuk melakukannya. Usianya masih terlalu muda dan ia dibawah umur. Ia sama sekali tidak mengerti apapun soal pria dan bagaimana cara ia menghadapinya.
Dan Berwald hanya menganggap Tiina adalah anaknya, bukan seorang wanita di dalam pandangannya. Lagipula, ia adalah anak tiri dari Berwald dan pria itu akan memperistri Halldora, mitra kerjanya sendiri. Suatu fakta yang tidak akan pernah bisa diubah sampai kapanpun karena Berwald sudah mengumumkan hal itu pada semua orang. Ia akan menjadi anak mereka dan mungkin ia akan terus mengharapkan cinta dari pria itu tanpa ada kemungkinan untuk terbalas dan mungkin saja Berwald menganggap kejadian itu hanya kekeliruan semata. Menyakitkan sekali.
Tetapi yang jadi pertanyaan Tiina adalah mengapa Berwald memperlakukannya seperti itu.
KLEK! Suara pintu dibuka dan Berwald memasuki ruangan dimana Tiina terbaring. Wajah Berwald menunjukkan wajah kaku seperti biasa seolah-olah tidak pernah ada kejadian apa-apa semalam. Tiina langsung menutupi tubuhnya dengan selimut dan menunjukkan sikap menghindar.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Berwald pelan dan memeluk Tiina dengan hati-hati. Ia tidak bisa berkata maaf kepada Tiina untuk saat ini karena mungkin Tiina sedang tidak mau disentuh akibat perlakuan Berwald.
Tiina mendorong Berwald ke arah lain dan menatap Berwald dengan tatapan tajam dan penuh kebencian, berusaha menahan diri agar ia tidak menangis di depan Berwald. "Pergi dari hidupku—kau brengsek!" Ia meraung dengan kasar dan menendang-nendang Berwald. Takut jika kejadian semalam terulang lagi. Luka di hatinya masih terasa segar.
Biar saja ia dikatakan oleh Berwald sebagai anak tidak tahu diri. Rasa sakit yang dialaminya sama sekali bukan main-main. Tega-teganya seorang ayah memakan anaknya sendiri karena nafsu belaka. Ia sama sekali tidak peduli jika Berwald pada akhirnya mengusir dirinya dan membiarkan Tiina tidur di jalanan. Teserah jika ayah tirinya ingin berhubungan dengan banyak wanita cantik atau memperlakukan mereka seperti binatang, sekarang ia sama sekali tidak mau tahu mengenai soal itu. Ia benar-benar benci sekarang padanya.
Berwald tidak membalas dan diam saja ketika Tiina memperlakukannya dengan kasar. Setimpal dengan apa yang ia lakukan terhadapnya. "Maafkan aku," ucap Berwald dengan nada lirih. "Aku—."
Tiina bangkit dari tempat tidurnya, selimut masih menutupi tubuhnya yang kini sudah ternoda. "Benci—aku benci padamu," kata Tiina dengan nada lirih. "Aku menyesal—pernah mencintaimu. Mencintaimu sebagai seorang pria."
Tiina meninggalkan Berwald yang masih terpaku di ruangannya dengan ekspresi terluka yang amat dalam—gadis itu mulai trauma terhadapnya. Berwald serasa dipukul oleh palu godam yang amat keras sekali, bagaimana ia bisa tega berbuat seperti itu kepada anak tirinya sendiri sekaligus gadis yang dicintainya. Ia benar-benar hilang akal ketika semalam ia melakukannya pada Tiina. Hasrat yang selama ini terlepas begitu saja begitu ia melakukannya. Sebuah ungkapan cintanya yang paling dalam dan terbungkam dari dalam mulutnya setelah sekian lamanya. Ia tidak akan kaget jika pada akhirnya Tiina kehilangan kepercayaannya terhadap Berwald.
Yang Tiina sama sekali tidak ketahui adalah bahwa Berwald benar-benar mencintainya dari lubuk hati yang mendalam. Menyesal ia salah menunjukkan rasa cintanya dengan perlakuan kasar semacam itu. Terpikir olehnya bagaimana jika akhirnya Tiina membencinya sedemikian rupa atau yang paling parah kemungkinan Tiina mengandung anaknya dan karena malu akhirnya anak itu digugurkan olehnya—semalam ia sama sekali tidak mengenakan pengaman sedikitpun dan ia menolak untuk memakainya sama sekali, meremehkan dampak ke depannya karena dibutakan oleh nafsu yang bergejolak di dalam dirinya—dan ia benar-benar tidak kuat membayangkan hal itu. Darah yang berasal dari dalam Tiina adalah pengingat atas perlakuan keji Berwald terhadap Tiina.
Mengapa aku begitu bodoh. Ya ampun—aku melukai perasaan gadis sekecil itu. Apa yang harus kulakukan sekarang?
—00—
"Kau mulai seperti anko uzai itu lagi!" bentak Halldora jengkel. "Berhenti."
Berwald tidak peduli dan terus meminum beberapa gelas minuman alkohol. Ia sama sekali tidak pernah melakukannya sekalipun teman Halldora yang berkebangsaan Denmark itu selalu mengajaknya minum bir atau minuman apapun tetapi ia selalu menolaknya dengan alasan tidak sehat untuk tubuh.
Tetapi kali ini ia ingin bermabuk-mabukan sepuasnya dan sesuka hatinya untuk melupakan semua kejadian yang membuatnya merasa terluka sekaligus rasa bersalah yang mendalam. Sial, jika ia bisa ia akan meminum beberapa gelas lagi.
"Aku tidak menyangka," keluh Halldora dengan nada pasrah. "Ada apa ini?"
"Diam," ujar Berwald serak, kesadarannya mulai hilang karena dipengaruhi oleh alkohol. "Buat apa aku hidup—."
Halldora berjengit, kekasihnya yang satu ini mengerikan sekali jika sudah mabuk. Seumur-umur pria yang sedang mabuk itu jika sedang ada masalah selalu memendam perasaannya sendiri tanpa membiarkan orang lain terdekatnya mengetahui hal itu tetapi kali ini berbeda, seperti ada beban masalah yang menghadangnya. Halldora yakin, masalah itu merupakan masalah yang orang banyak sama sekali tidak tahu.
"—jika dia tidak mencintaiku."
Apa maksudnya ini, batin Halldora. Bukankah gadis yang benar-benar dicintainya berada di depannya sekarang ini. Selama ini ia selalu menjadi kekasih yang baik untuk Berwald dan berusaha mengerti sifat Berwald yang sulit dipahami logikanya. Lalu mengapa tidak ada hujan dan tidak ada badai, Berwald berbicara sembarangan seperti itu.
"Apa maksudmu?" Halldora menggeplak kepala Berwald dengan kasar secara berulang-ulang agar Berwald segera tersadar dari mabuknya dan merebut gelas alkohol itu lalu melemparnya ke arah lain. "Buang minuman itu sekarang juga."
"Tiina—."
Halldora terkejut, sama sekali tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri. Jadi ini alasan Berwald bermabuk-mabukkan karena gadis yang bernama Tiina itu. Bukankah Tiina yang pernah dikenalnya itu adalah Tiina Vainamoinen yang merupakan anak tiri dari pria itu. Atau ada Tiina yang lain?
Tapi apa mungkin Berwald mencintai anak tirinya sendiri. Usia mereka terlampau jauh? Sekalipun anak tiri, hubungan mereka adalah hubungan terlarang. Pasti pria itu hanya sedang mabuk sehingga nama Tiina yang keluar. Nama Tiina kan banyak, mungkin Berwald hanya sedang meracau saja—mungkin saja namanya sebentar lagi akan tersebut oleh Berwald.
"J—jag alskar dig, Tiina Vainamoinen."
Halldora membuka mulutnya ngeri, pupil matanya sedikit membesar. Wajah Berwald ketika mengatakan hal itu tampak lebih hidup dibandingkan ketika Berwald bersamanya. Jadi selama ini Berwald jarang membicarakan soal pernikahan mereka berdua setelah lima tahun berpacaran gara-gara hal ini. Mengapa ia baru bisa menyadarinya sekian lama ini? Bahwa Berwald mencintai orang lain dan bukan dirinya. Dan ia dikalahkan oleh anak tiri pria itu yang akan menjadi anaknya nanti. Pantas saja pria itu selalu mendahulukan gadis itu sekalipun gadis itu memiliki masalah yang bisa dikatakan tidak penting, bahkan pria itu pernah membatalkan janjinya hanya karena Tiina.
Sekarang semuanya menjadi lebih jelas, sejak dulu Berwald sudah mencintai Tiina dan ia sama sekali tidak sadar akan hal itu, menganggap hanya relasi ayah dan anak semata. Kenyataannya, ia hanyalah pengganti Tiina semata. Ia mendapatkan fakta baru yang lebih menyakitkan dirinya sendiri. Sedih dan terluka—tidak mampu dijelaskannya.
.
.
.
Berwald tertidur di ruang kerjanya dengan waktu yang cukup lama setelah pada akhirnya ia pingsan karena tubuhnya tidak mampu menahan kadar alkoholnya. Wajahnya terlihat lebih damai setelah melepaskan beban yang berada di pundaknya—
—walau setelah ini, ia harus menghadapi suatu hal sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap Tiina.
Halldora masih terus menunggu Berwald hingga pria itu terbangun. Ia bisa saja meninggalkan Berwald karena racauan pria itu semalam yang sangat menyakiti hatinya tetapi ia tidak mau melakukannya. Tangannya membelai rambut Berwald perlahan dengan lembut.
"Aku dimana?" tanya Berwald setengah mengantuk. "Ada di bar—."
Halldora berusaha bersikap biasa di depan Berwald. Jangan sampai pria itu tahu bahwa semalam pria itu meracau yang sebenarnya. "Semalam kamu mabuk. Sudah ketularan anko uzai rupanya," dengusnya dengan nada kasar.
"Oh—begitu," gumam Berwald tidak peka, wajahnya terlihat lusuh seperti tidak terurus. "Terlalu banyak masalah belakangan ini."
Halldora tersenyum kecil dan memeluk Berwald pelan. "Istirahatlah kalau begitu."
Berwald merasa bersalah, ia sama sekali tidak pernah bisa mencintai Halldora dan memanfaatkan Halldora sebagai pengganti Tiina. "Maaf," hanya kata-kata itu yang terucap dari mulut Berwald. "Tack sa mycket."
"Tak apa-apa. Jaga dia baik-baik."
"Hn?" tanya Berwald bingung—apa yang Halldora sedang bicarakan ini.
Halldora tidak kuat lagi untuk merahasiakan sesuatu dari pria itu. Walaupun akhirnya nanti Berwald memutuskannya ia sama sekali tidak peduli karena ia menyerah terhadap perasaan Berwald terhadap Tiina yang begitu dalam. "Aku yakin gadis itu tahu perasaanmu."
"Kau tahu darimana?" Berwald bertanya dengan nada ketus. "Aku tak bilang kalau-"
"Kau sudah mengatakannya semalam ketika mabuk berat," jawab Halldora pelan. "Kurasa aku menyerah saja. Terima kasih atas waktu lima tahun yang berharga untukku," tambahnya dengan seulas senyuman yang dipaksakan sekaligus ketidakrelaan di dalam hatinya. "Berbahagialah dengan gadis itu."
Berwald sedikit tercengang mendengar perkataan Halldora dan ia bersiap-siap menerima makian gadis Norwegia itu karena racauan tololnya yang sama sekali tidak bermanfaat, tetapi ia sama sekali tidak melakukannya dan hanya memberikan senyuman yang seolah-olah mengatakan bahwa tidak apa-apa.
Sebelum Halldora meninggalkan tempat itu, ia mencium bibir Berwald pelan sebagai ucapan perpisahan. "Jeg elsker deg."
Berwald tak berkata apapun kepada Halldora tetapi dalam hati pria itu mendoakan agar Halldora segera bisa mendapatkan pengganti dirinya yang jauh lebih baik darinya, sekaligus berterimakasih pada Tuhan karena memberinya kesempatan untuk terus bersama Tiina tanpa suatu beban apapun. Mungkin akan membutuhkan waktu yang lama agar Tiina tidak trauma terhadapnya, ia akan menebus kesalahannya dengan cara apapun juga.
Tack sa mycket, Halldora. Atas pengertianmu yang diberikan untukku. Kuharap kita masih bisa menjadi teman baik.
-00-
Sejak tragedi pemerkosaan yang dilakukan Berwald terhadap Tiina, Tiina berubah menjadi sosok pemurung dan menjauhi setiap pria yang ada. Sikap Berwald telah membuatnya trauma yang teramat dalam terhadap pria. Sebisa mungkin ia berusaha menjauh dari Berwald dan Tiina bisa sedikit menarik nafas lega karena belakangan ini Berwald sering pulang larut malam. Ia tetap melakukan tugasnya sebagaimana seorang anak, tetapi ia mengurangi intensitas kedekatannya.
Tiina harus mengakui sejak kejadian sebulan lalu itu membuat hati Tiina terluka yang amat dalam karena hingga saat ini Tiina masih mencintai Berwald dan tidak pernah bisa membencinya dengan alasan apapun. Selama ini Berwald sudah membiayai hidupnya dan menjadi pengganti ayahnya. Sedih rasanya, semua kenangan itu ternodai.
Ia berjalan ke arah ruang tamu dan melihat-lihat sekelilingnya dan mendapati banyak sekali foto-foto bergambar dirinya ketika ia masih kecil hingga dewasa. Terkadang ada juga foto memalukan ketika ia menangis entah karena apa dan Berwald menggendongnya dengan erat sambil menunjukkan tatapan mautnya yang terkenal dimana-mana. Kenangan itu rasanya seperti hidup kembali di dalam pikirannya. Tanpa sadar seulas senyuman tipis muncul di bibir mungilnya.
"Tidak tidur?"
Tiina tersadar siapa yang memanggilnya dan tersedak ngeri, Berwald ada di belakangnya sekarang. Dan mengapa pria itu pulang cepat hari ini.
"Aku belum mengantuk," kata Tiina kasar dan menyembunyikan ketakutannya sambil berlari meninggalkan tempat dimana Berwald berdiri. "Tinggalkan aku sendiri!"
Tetapi ia tidak bisa lama-lama berlari karena mendadak langkahnya terhenti. Perutnya serasa mual-mual dan mulai memuntahkan sesuatu. Terduduk di lantai secara tiba-tiba dan keseimbangan tubuhnya menurun.
"Hoekh.. hoekh!"
Berwald memegangi tubuh Tiina dan membawa Tiina ke kamar mandi terdekat. Wajah Tiina seperti memucat dan akan pingsan pada saat itu juga.
"Masuk angin?" Berwald bertanya pada Tiina pelan dan mengelus tubuh Tiina agar Tiina merasa lega ketika memuntahkan sesuatu dari dalam tubuhnya. "Kurang istirahat."
"Eng.. Sudah seminggu ini aku muntah-muntah," ucapnya tanpa sadar. "Haidku terlambat."
Haid terlambat—seminggu ini muntah-muntah. Apa jangan-jangan Tiina—
TBC
A/N Ini fic dari akun lama saya, maaf banyak fic yang sudah saya pernah buat di akun lama tapi saya hapus akhirnya dan dipindah ke sini karena saya nggak sreg aja di akun lama dan saya pilih pindah di akun ini soalnya udah tenang. Jadi anda bisa cek akun lama saya pasti banyak yang dihapus.
