Prohibited
Rate: M
Warning: Age-bending, genderbending, smut/lemon for later chapter, incest (saya gak tahu kalau hubungan antar saudara tiri kalau gak sedarah bagaimana), sort of lolicon, AU. DLDR.
Pairing: Sweden x fem!Finland, slight SuNor.
Moved from my old account :) please be nice to me XD
Mimpi buruk Tiina baru akan dimulai—mulai saat ini juga. Ia tidak tahu bagaimana mengatakan yang seharusnya, tetapi ini jauh lebih dari mimpi buruk yang siap menghancurkan masa depannya yang indah.
"Tiina—kamu?" tanya Berwald kaget, matanya memandang ke arah perut Tiina yang masih rata.
Tiina tidak menjawab dan ia masih terus muntah-muntah. Seluruh tubuhnya digerogoti rasa mual yang amat sangat. Rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh seribu duri di dalam tubuhnya. Ia tidak menyadari gejala apa yang dialami olehnya. Tetapi satu hal pasti—ia mengalaminya belakangan ini dan sama sekali belum pernah dirasakan oleh tubuhnya.
Terutama sejak insiden itu.
Dan jangan bilang bahwa ia—otaknya mulai membayangkan akan ada seorang anak yang tidak diinginkan kehadirannya, mual-mual setiap hari tanpa henti di pagi hari, rasa sakit yang menghunjam di tubuhnya dan proses persalinan yang amat sangat menyakitkan. Bagi gadis seumur Tiina, itu merupakan bagian yang paling mengerikan di dalam hidupnya. Gadis seusianya merupakan saat-saat untuk bersenang-senang dan mengenal dunia luar—tetapi kini hal itu dirampas di dalam hidupnya oleh orang terdekatnya.
"Pergi—kumohon menjauh dariku," ucap Tiina lemah, wajahnya memucat seolah-olah sebentar lagi ia akan terjatuh dari tempatnya sendiri. Salah satu tangannya masih memegangi perutnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku—tidak mengerti—huekh—."
Tuhan, apa yang terjadi denganku—tidak mungkin jika aku—ini tidak mungkin kan? Ini pasti hanya masuk angin biasa, bukan macam-macam—jangan sampai itu benar.
Berwald tidak peduli dan ia terus menjaga Tiina, tidak peduli berapa kali Tiina mengusirnya. Ia merasa bertanggung jawab atas kejadian itu. Tentu saja, Berwald merasa bersalah karena ia tidak menjaga Tiina dengan baik. Ia tahu Tiina takut terhadapnya sekarang ini—rasanya menyedihkan jika orang yang ia percayai selama ini balik mengkhianatinya. Apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya?
Menjadikan Tiina istrinya? Itu akan ia lakukan jika Tiina berusia delapan belas tahun—untuk saat ini ia sama sekali tidak bisa melakukannya karena suatu hal. Pemerintah setempat tidak akan bisa melegalkan pernikahan di bawah umur kecuali ada wali yang mengijinkan. Tiina sama sekali tidak memiliki wali—satu-satunya wali hanyalah Berwald sendiri.
Tetapi Tiina masih terlalu muda untuk menanggung hal seberat ini. Ya Tuhan, pria macam apa dia yang tega memperlakukan anak tirinya dengan begitu kejam seperti ini. Ia tidak menyangka perbuatannya akan menjadikan masalah menjadi serumit ini.
"Ke dokter," kata Berwald pada akhirnya, menatap tajam Tiina. "Besok—ke dokter kandungan—harus."
Tiina balas menatap Berwald dengan tatapan tajam dan menampar pipi Berwald dengan kasar. "Aku tidak mau," tambahnya gemetar. "Untuk apa? Aku sama sekali tidak memerlukannya. Kau pria bajingan!"
Benar-benar keras kepala, batin Berwald sambil mengusap pipinya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi—mencemaskan keadaannya setengah mati tetapi yang bersangkutan menolak untuk diperiksa. Seandainya sesuatu yang terburuk terjadi kepada Tiina, ia tidak apa-apa dan akan tetap menjaganya.
"Lihat apa!" bentak Tiina panas, wajahnya merah padam ketika Berwald memandanginya terus menerus seolah-olah pria itu akan memangsanya. "Ini semua hasil perbuatanmu."
"Tiina—kumohon."
"Tidak, moi."
Berwald diam, tidak berani berkata-kata lagi. Ia membiarkan Tiina memarahi dirinya habis-habisan sesuka hati gadis itu. Mungkin saja Tiina tidak bermaksud untuk melakukannya dan hanya efek mual-mual yang berkepanjangan, batin Berwald dalam hati.
Tiina benci merasa lemah sekaligus gemetaran dihadapan Berwald. Kelemahannya adalah ia terlalu berharap akan cinta yang diberikan pria itu. Ia harus terus menyakinkan dirinya sendiri bahwa Berwald sudah memiliki tunangan yang jauh lebih cantik dan lebih pantas darinya.
Tetapi tiba-tiba Tiina terpikir suatu ide bagus yang jauh lebih masuk akal dibanding memaksanya melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan oleh para korban pemerkosaan pada umumnya. Ya sudatu ide yang jauh lebih baik, yang mungkin pria itu tidak akan pernah lupakan seumur hidupnya.
"Baiklah," Tiina mendengus kasar. "Aku tidak memintamu untuk bertanggung jawab, aku hanya meminta satu hal."
"Apa?"
"Urus aku pada masa-masa persalinan," kata Tiina ketus. "Aku tidak mau terjadi apa-apa pada anakku. Jika kau adalah pria, kau pasti akan melakukannya," tambahnya dan ia terkejut ketika ia menyadari ia mengeluarkan kata-kata seperti itu di depan Berwald.
Berwald menatap Tiina dengan tatapan tajam—hatinya sedikit terluka dengan perkataan Tiina yang kasar—terutama mengenai harga diri pria. "Baiklah," katanya kesal. "Tapi kau harus kubawa."
"Mau dibawa kemana!" bentak Tiina kasar dan ganti menatap Berwald dengan tatapan jijik yang amat sangat. "Aku tidak mau ikut bersamamu!"
"Dokter," gumam Berwald lamat-lamat. "Kau memperlukannya—untuk membuktikannya."
"Tanpa dokter pun semuanya sudah jelas. Tidak usah diperpanjang lagi—karena hasilnya sudah ketahuan," tukas Tiina dengan nada kejam yang belum pernah ia ucapkan pada siapapun. Benci ia mendengar Berwald sengaja memperumit masalah serius yang ada. Atau pria itu memang sengaja ingin memancing kemarahannya.
"Tiina," Berwald menggeram. "Turuti perkataanku."
"Buat apa aku menurut padamu—aku sama sekali tidak takut kepadamu," tambah Tiina dingin, memberanikan diri untuk bertahan dari kemarahan Berwald yang sebentar lagi ditujukan kepadanya. "Jangan menakut-nakutiku seperti itu, pengecut."
Pada akhirnya, Tiina menyerah dan keesokan harinya, ia merelakan dirinya dibawa ke dokter dengan tatapan maut yang diberikan Berwald secara bertubi-tubi, ditambah dengan muntah-muntah yang tidak berhenti selama beberapa jam. Selama perjalanan menuju ke klinik, Tiina terus berdoa kepada Tuhan semoga ia tidak jadi punya anak—kalaupun memang benar itu terjadi, ia berharap Berwald tidak membawanya ke dokter untuk mengugurkan kandungannya.
"Aku tidak mau ke dokter—aku benci pada dokter, moi," pinta Tiina lemah. "Jangan bawa aku ke dokter untuk menggugurkan kandungan. Aku tidak mau, kumohon."
Berwald tidak mengatakan apa-apa kepada Tiina ketika menyetir mobil, ia terus berpikir apakah hasilnya postif atau negatif nanti. Jika hasilnya positif, ia akan mengurus Tiina sesuai apa yang diminta Tiina—bahkan Tiina boleh meminta lebih dari itu. Mungkin memaksanya untuk menjadi suaminya, jika Tiina memang mau. Jika hasilnya negatif pun juga tidak apa-apa—ia akan melakukan hal yang sama asalkan Tiina tidak sakit hati lagi terhadapnya.
"Ber papa," Tiina akhirnya berkata sambil menangis keras. "Aku mau pulang—aku takut pada dokter. Aku tidak mau, moi. Aku tidak mau ke dokter penggugur kandungan—hentikan—aku tidak mau. Jangan bawa aku ke sana."
Mobil berhenti tiba-tiba di tengah jalan dan untungnya jalanan pada malam itu sedang sepi. Berwald menarik nafas panjang dan menatap Tiina dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti Berwald sendiri, antara tatapan dingin sekaligus sedih karena Tiina menganggap Berwald adalah pria kejam yang tidak bertanggung jawab. Demi apapun juga, Berwald tidak akan menyuruh Tiina melakukan aborsi sekalipun anak yang ada di rahim gadis itu sama sekali tidak diinginkannya. Ia menyayangi anak-anak dengan caranya sendiri—termasuk Tiina dulu.
"Itu pikiran burukmu mengenai diriku," kata Berwald sinis dan memukul setir mobil dengan gemetar. "Aku tidak menyangka—aku bukan—seperti itu."
Tiina seperti tercekik mendengar perkataan Berwald. Matanya menunduk ke arah bawah, memainkan tangannya sendiri. "Memang—seorang pria keji yang tega memperkosa anak tirinya sendiri akan lebih mudah bagi korbannya untuk berpikiran buruk. Terutama jika pria itu pernah melukai hati seorang anak yang mencintai ayah tirinya," gumam Tiina tidak yakin. "Aku tidak tahu apakah hal itu memang benar—tetapi aku merasakannya."
"Ja," Berwald mengakui dengan berat hati. "Ada benarnya—tetapi tidak semua—kau tahu maksudku."
"Apanya? Jangan mengalihkan pembicaraan, moi," Tiina mulai marah. "Jangan lagi membuatku merasa kesal dan kau menghancurkan hidupku."
Berwald mengerti bahwa percuma saja menjelaskan segala sesuatunya pada Tiina karena Tiina sama sekali tidak mau mendengarkannya sekarang ini. Karena dibandingkan dokter—Tiina jauh lebih membutuhkan seseorang yang dapat menyembuhkan luka hatinya.
"Sudahlah!" tukas Berwald jengkel. "Perlukah dibahas lagi!"
Akhirnya, ia sama sekali tidak jadi membawa Tiina ke dokter dengan tujuan agar Tiina tidak ketakutan lagi atau bahkan berpikir macam-macam tentang dirinya dan Berwald hanya pergi ke toko obat untuk membelikan Tiina beberapa test pack untuk ia coba ketika sampai di rumah nanti.
"Benda apa ini, moi?" tanya Tiina dengan raut wajah bingung ketika Berwald menyerahkan satu kantong plastik biru. "Apakah ini pil aneh yang seperti aku lihat di gambar-gambar?"
Berwald menahan nafasnya menghadapi anak tirinya yang satu ini. Apa ia tidak pernah diajarkan mengenai hal ini ketika di sekolah? "Beberapa alat uji—jauh lebih baik daripada aku memaksamu ke dokter," kata Berwald dengan jelas, panjang, tidak seperti biasanya. "Nanti saja di rumah."
—00—
Sesampainya di rumah, Tiina menggunakan benda itu satu per satu untuk mengetahui apakah hasilnya positif atau negatif. Ketika Tiina menggunakan benda tersebut—ia sama sekali tidak terlalu takut dan sudah bisa menduga apa hasilnya. Bahkan sekalipun ia menggunakan semua test pack, hasil yang didapat selalu dua garis.
Ia tersenyum miris memandangi dirinya sendiri di cermin toilet. Ya, ia akan menjadi seorang ibu tanpa suami. Kehilangan masa muda yang seharusnya ia miliki untuk mengasuh seorang anak. Dan Berwald juga tidak akan membalas cintanya sampai kapanpun. Cara apa lagi yang akan ia lakukan untuk mendapatkan cintanya. Sesaat terpikir di benaknya untuk menyingkirkan Halldora jika Halldora datang ke rumahnya dan mengerjai wanita itu habis-habisan—tetapi buru-buru ditepisnya pikiran tersebut, ide itu terlalu jahat untuknya.
"Kapan kau jadi wanita dewasa sesuai keinginanmu, moi?" gumam Tiina kepada dirinya sendiri di cermin dengan wajah sendu dan lelah. "Supaya kau bisa mendapatkan pria yang kau cintai sesuai keinginanmu—karena pria yang kau cintai lebih mencintai orang lain yang jauh lebih cantik darimu, moi."
Setelah ia mengatakan itu semua, lagi-lagi Tiina menangis—kali ini ia merasa hancur dan terluka akan fakta yang ada. Benci membayangkan semisal Berwald adalah suaminya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap anaknya tetapi hanya sebatas tanggung jawab yang tidak ada cinta di dalamnya. Hampa tidak berarti dan seumur hidupnya ia habiskan untuk berharap dan berharap.
"Kenapa papa tidak pernah bisa memandangiku sebagai wanita—aku tidak mau jadi anakmu," isak Tiina keras. "Aku benci—benci padamu, papa."
Di balik pintu toilet tersebut, diam-diam Berwald mengintipnya dari belakang dan menatap Tiina dengan perasaan sedih mendalam—terutama ketika Tiina mengatakan bahwa Berwald mencintai gadis yang lebih cantik darinya. Tak tahu apa cara yang harus ia lakukan agar Tiina yakin bahwa Berwald lebih mencintai Tiina—bahkan sejak dulu sebelum akhirnya Berwald menjalani hubungan yang ia sesali. Kata-kata terakhir Tiina menyentak pikiran Berwald dalam-dalam—membuatnya sadar bahwa Tiina sama sekali bukan anak-anak tetapi juga bukan gadis dewasa.
.
.
.
Selama seharian penuh, Berwald memikirkan Tiina bahkan di dalam tidurnya sendiri. Tiina sudah jauh berubah banyak ketika di depannya sekarang. Tiina yang dulu sudah mati—ia tidak bisa menemukan sisa-sisa Tiina yang dulu. Tiina yang selalu bermanja-manja seperti anak kecil yang ingin dibelikan permen ataupun minta digendong. Dan Berwald hanya bisa menemukan Tiina yang dulu ketika Berwald sedang tidak ada di depannya.
Dan sekarang Berwald menyesali perbuatannya yang telah memperumit hidupnya sendiri.
Tujuh bulan kemudian
Toko perlengkapan bayi tersebut sangat besar—mungkin merupakan toko terbesar yang berada di pusat kota Stockholm. Desain toko tersebut mengingatkan Berwald pada taman bermain anak-anak yang berada di dekatnya. Terdapat tiga lantai di toko tersebut—lantai satu merupakan bagian pakaian bayi perempuan dan laki-laki serta baju untuk calon-calon ibu yang sedang mengandung, lantai dua merupakan tempat dimana mainan bayi di jual, dan yang paling terakhir adalah lantai tiga yang khusus menjual perabotan bayi—termasuk botol bayi, dot susu dan sebagainya. Ia bisa tahu karena terlihat jelas dari luar apa yang sedang dijual di dalam toko tersebut.
Berwald memandangi banyak calon ibu yang berdatangan ke toko tersebut, bahkan beberapa ada yang membawa suaminya dengan wajah riang seolah-olah tidak sabar menunggu anak mereka lahir dengan selamat. Ada yang kandungannya masih belum terlihat besar dan ada juga yang tampaknya akan langsung melahirkan di tempat jika tersenggol sedikit saja.
"Banyak calon ibu muda," gumamnya pelan. "Mungkin ia bisa dapat teman."
Sebelum ini, Berwald mengajak Tiina untuk pergi bersamanya ke toko ini. Tetapi sayangnya berakhir dengan kemarahan Tiina yang berapi-api. Bahkan Tiina berani melemparkan satu botol vodka kosong pemberian Ivan ke arah Berwald—yang untungnya sama sekali tidak mengenai wajah Berwald dan malah menakuti anjing kecil mereka, Hanatamago. Terlintas di benak Berwald, sejak kapan Tiina berani berbuat segitu berbahayanya.
Ya, dia kan sudah akan melahirkan, gumam Berwald setengah menyakinkan diri sendiri. Pasti dia juga ingin ada seseorang yang menemaninya untuk menjaga kandungannya seperti pasangan normal.
"Aku tidak mau ke sana!" bentak Tiina dingin, tangannya mengelus perutnya yang sudah membesar. "Mau apa? Mempermalukanku habis-habisan di depan orang banyak."
Berwald menggeram di dalam hati. Keras kepala sekali anak tirinya ini—orang bermaksud untuk bertanggung jawab malah di maki habis-habisan. Ia benar-benar tidak habis pikir apa yang harus ia lakukan untuk mengajak Tiina ikut ke toko perlengkapan bayi.
"Kau suka anak-anak, bukan?" tanya Berwald dengan wajah datar. "Anakmu perlu beberapa pakaian baru."
Tiina mendengus kesal, benci terhadap pria yang telah menghancurkan hatinya sedemikian rupa. Dan apa pula berani menyuruh-nyuruhnya seperti ini. Tiina membatin, pasti Berwald berusaha mempermalukannya di depan orang banyak. Sudah capek ia dicemooh oleh tetangga sebelahnya karena ia tidak memiliki suami dengan keadaan perut membesar. Belum lagi ia akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah karena sudah tidak bisa disembunyikan lagi kandungannya yang semakin membesar.
Menggugurkan kandungan. Tidak akan ia lakukan, ia bukan wanita kejam yang rela mengorbankan anaknya seperti itu. Walau Tiina yakin Berwald berusaha menggugurkan kandungannya dengan berbagai cara.
Karena Tiina tidak mempercayai pria itu lagi.
"Suka atau tidak, itu bukan urusanmu, papa!" raung Tiina. "Jangan bikin hidupku tambah hancur lagi, moi."
"Tiina, aku tidak bermaksud—."
Tiina melemparkan botol vodka kosong yang berada di dekat meja ke arah Berwald dengan penuh kemarahan mendalam. Untung saja Berwald segera menghindar, begitu juga dengan Hanatamago.
"Urus saja urusanmu sendiri, papa. Bukankah papa sudah punya calon istri!" Tiina terisak, menahan tangis di wajahnya. "Aku selalu nomor dua buatmu, moi."
Walau sudah enam bulan berlalu—tetap saja Tiina tidak bisa melupakan kejadian itu seperti membalikkan telapak tangan. Maksud hati Berwald ingin membelikan beberapa pakaian bayi untuk calon anaknya dan mengajak Tiina jalan-jalan karena pasti Tiina bosan berada di rumah terus menerus, apalagi bersembunyi untuk menutupi aib, ditanggapi dengan salah paham oleh Tiina. Sepertinya perhatian yang ia berikan untuknya terhadap Tiina sama sekali tidak cukup baginya.
Calon ibu muda dan suami yang menggandeng tangan istrinya sekaligus bersikap protektif terhadap ibu muda tersebut membuat Berwald serasa bercermin. Mungkin Tiina tidak mau ikut karena hal ini, berkali-kali Tiina sering kedapatan melihat calon ibu dengan wajah bahagia bersama suaminya ketika Berwald mengajaknya jalan-jalan. Berkali-kali Tiina bergumam seandainya ia punya suami yang bisa menjaganya.
"Mereka tampaknya bahagia, moi. Aku ingin seperti mereka, kalau Tuhan mengabulkan permintaanku."
Berwald ingat, Tiina mengucapkan hal itu terus menerus tanpa sadar bahwa Berwald berada di sampingnya. Perkataan itu menusuk hati Berwald hingga ke dalam. Ia sama sekali tidak bisa memberikan itu semua untuk Tiina. Harus menunggu sekitar setahun lagi karena Tiina baru berusia tujuh belas tahun.
Berkembang dengan cepat bagaikan kanker. Membuat Berwald terus dihantui perasaan ketakutan yang mendalam. Rasa takut akan nasib Tiina. Takut dalam artian jika Tiina benar-benar membencinya. Tak tahu apa yang harus ia perbuat lagi.
"Maaf, mengapa Anda berdiri di sana?" tanya seorang pelayan toko di dekat pintu. "Silahkan masuk ke dalam!"
Berwald menatap tajam ke arah pelayan toko. "Ledsen."
.
.
.
Di dalam toko tersebut terdapat banyak pakaian bayi dalam berbagai motif dan merek yang menarik. Sesaat ia berpikir apakah anaknya perempuan atau laki-laki karena terakhir kali Tiina dibawa ke dokter kandungan, dokter tersebut berkata bahwa anak mereka adalah perempuan.
Ah, tetapi ia sama sekali tidak yakin anaknya perempuan. Bisa saja hasil USG tersebut salah periksa. Sudah banyak yang seperti itu.
"Hej, Bjorn," seorang calon ibu menarik-narik lengan baju suaminya. "Lihat, ada baju yang cocok untuk calon anak kita!"
Pria yang bernama Bjorn itu menghela nafas panjang. "Min karlek, kita belum tahu anak kita laki-laki apa perempuan. Nanti malah menghabiskan uang yang tidak perlu untuk itu."
"Ah, kau benar-benar menyebalkan," gumam ibu tersebut dengan wajah cemberut dan mencubit pinggang Bjorn. "Semoga anak perempuan."
"Hahahaha—sesukamu saja," kekeh Bjorn dan memeluk ibu tersebut dengan mesra. "Pulangnya cari makanan enak untukmu, yuk."
Beberapa orang yang berada di dekat pasangan bahagia memandang tatapan iri sekaligus geli. Ada juga yang bersuit-suit ria. Khusus Berwald, ia memandangi pasangan tersebut dengan wajah muram. Apalagi jika bukan teringat oleh Tiina. Rasanya menyenangkan jika Berwald bisa memeluk Tiina seperti itu sementara Tiina ribut mengenai baju anak-anak seperti yang dilakukan pasangan bahagia tersebut. Menurut Berwald, Tiina pasti akan sama seperti itu. Tanpa sadar, Berwald mengambil beberapa pakaian bayi dan memasukkannya ke dalam keranjang tanpa melihat baju tersebut untuk laki-laki atau perempuan.
"Wah-wah—seleramu jelek sekali. Sedang apa kamu di sini, Beary?" tanya Mathias dengan wajah terkejut ketika melihat Berwald mengambil beberapa pakaian bayi berwarna biru tua dengan garis kuning "Memangnya kamu sudah punya anak?"
Berwald mendongak dan mendengus mendapati siapa yang menyapanya barusan. "Mau apa ke sini?"
"Memangnya kenapa jika aku berada di sini?" balas Mathias dengan wajah sok polos. "Sepupuku akan melahirkan sebentar lagi dan calon anaknya laki-laki. Memangnya sudah berapa bulan kandungan istrimu?"
Ya Tuhan, bagaimana Berwald bisa menjawab pertanyaan Mathias? Jika ia mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan istri, anak dan sebagainya, habislah sudah ia akan dipermalukan oleh Mathias.
"Hej. Ada apa sebenarnya?" Mathias menepuk kedua tangannya ke wajah Berwald sehingga Berwald terkejut. "Istrimu mana?"
"Diam," ujar Berwald dingin dan meninggalkan Mathias di tempat itu. "Urusi urusanmu sendiri."
Dasar bodoh, mengapa aku harus bertemu dengan si kambing gila itu! Tidak adakah kerjaan lain selain menganggu orang lain.
.
.
.
Sekeluarnya dari toko tersebut ia membeli beberapa pakaian bayi dengan kualitas terbaik, beberapa botol susu bergambar lucu dan memesan tempat tidur bayi untuk calon anak mereka. Belanjaannya nyaris seperti ibu-ibu yang terkenal suka menggunakan kartu kredit suami mereka hingga limit. Berwald tentu tidak ambil pusing mengenai hal itu karena ia melakukannya demi orang yang ia cintai.
Sekarang ia mempunyai tujuan lain, membelikan Tiina hadiah ulang tahun karena besok hari ulang tahunnya. Tahun lalu, Berwald memberikan hadiah untuk Tiina berupa liburan selama dua minggu ke Lapland ketika masa liburan sekolah Tiina. Untuk tahun ini, ia tidak mau memberikan Tiina hadiah macam-macam yang terkesan tidak berarti dan terlalu mengeksploitasi.
Ia menyetir mobilnya dengan kecepatan lambat, menuju ke arah toko bunga sederhana dan berhenti di sana. Turun dari mobil dengan cepat sehingga membuat beberapa orang bergidik karenanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya wanita Hungaria yang ramah senyum tersebut. "Mencari bunga untuk siapa?"
Berwald memandangi bunga-bunga yang ada di sekelilingnya dan ia menunjuk bunga warna merah yang sama sekali belum pernah dilihatnya. "Apa ini?"
Wanita Hungaria tersebut terkekeh. "Anda tidak tahu rupanya, bunga ini sangat cocok untuk diberikan oleh gadis yang dicintainya. Nama bunga ini adalah anemone."
"Nama yang jelek," Berwald berkata tanpa tedeng aling-aling dan memberikan wanita tersebut tatapan maut berbahaya. "Tak ada yang lain?"
Wanita tersebut merinding. "Eh—mengapa tidak dibeli? Itu memliki arti yang bagus. Artinya adalah aku selalu mencintaimu untuk selamanya, tetapi disisi lain mengandung arti kesedihan. Mungkin jika Tuan sedang ada masalah dengan orang terkasih, berikan saja hyacinth ungu tersebut yang mengandung permintaan maaf."
Berwald berpikir sejenak. Bunga-bunga yang dibilang oleh wanita itu benar-benar memrepresentasikan keadaan cintanya terhadap Tiina pada saat ini.
"Aku ambil satu buket bunga lily, anemone dan hyacinth ungu. Satu buket bercampur semua."
"Maksud Tuan satu buket terdapat ketiga bunga tersebut?" tanya wanita itu heran. "Apa tidak lebih baik bunga lily putih dijadikan terpisah saja? Itu akan lebih berkesan."
Berwald mengangguk. "Teserah anda saja."
"Ngomong-ngomong, bunga itu untuk siapa?" tanya wanita tersebut. "Untuk pacarmu?"
"Bukan," jawab Berwald perlahan. "Untuk seseorang yang paling kucintai."
—00—
"Hanatama, apa yang harus kulakukan, moi?" Tiina terisak. "Aku tidak mau papa berada di dekatku terus menerus."
Hanatamago menatap Tiina dengan tatapan seolah-olah ia mengerti apa yang terjadi pada pemiliknya. "Guk.. guk."
Tiina menangis seharian penuh, sudah beberapa bulan ini ia tidak stabil sama sekali. Dokter kandungan sudah sering mengingatkan Tiina agar Tiina tidak terlalu stress karena jika Tiina stress maka akan berpengaruh terhadap anak yang ada di kandungannya. Yang terparah ia sama sekali tidak mau makan apapun. Setiap Berwald berada di dekatnya, ingatan buruk yang pernah dilalui bersamanya terus terbayang-bayang di otaknya.
"Nggak—nggak mau," ucap Tiina, tersungkur di tempat tidurnya. "Aku tidak mau melihat muka papa lagi. Benci—."
Tiina memang merasakan bahwa pria itu berusaha memanjakannya dengan berbagai cara agar ia bisa merasa nyaman seperti dulu. Membelikan beberapa majalah ibu dan anak, membuatkan Tiina makan malam sejak usia kandungannya yang memasuki bulan keempat, dan berbagai macam hal sebagainya. Tetapi Tiina merasa ada keterpaksaan ketika Berwald melakukan itu semua, pria itu melakukannya tanpa ada rasa cinta di hatinya. Hanya sebatas kewajiban semata.
Bisa saja Tiina kabur dari rumah Berwald saat ini juga dan ia tidak melakukannya karena memikirkan keselamatan anaknya sendiri. Kasihan jika anaknya sama sekali tidak mengenal ayahnya, sama seperti Tiina dulu yang dibuang ke rumah Berwald ketika ia berusia dua tahun.
Ingatannya kembali ketika ia masih kecil dulu, ia selalu berusaha menarik perhatian Berwald dengan berbagai cara. Tentu saja selalu ditanggapi Berwald dengan nada dingin. Terkadang ia berusaha mengingat siapa orang tua kandungnya dan mengapa akhirnya ia harus menjalani takdir yang kejam seperti ini—mencintai ayah tirinya sendiri dan dihancurkan oleh ayah tirinya sedemikian rupa. Bagi Tiina, Berwald bagaikan dua sisi koin yang berbeda—penyayang di awal sekaligus orang yang menodainya.
"Aku tak tahu apa lagi yang harus kuperbuat untuk ini," gumam Tiina lemah. "Rasanya lelah—otakku capek menghadapi ini semua. Aku ingin mati saja, moi."
"Kurasa aku tidak ingin melihatmu mati," gumam Berwald lambat-lambat. "Aku menunggu anakmu."
"Ber—papa," nama Berwald terlontar begitu saja dari mulut Tiina, setengah terkejut melihat Berwald sudah kembali sejak awal. "Barang apa yang papa bawa, sepertinya berat sekali?"
Berwald pulang membawa banyak barang-barang, beberapa di antaranya adalah dua buket bunga, satu buket lily putih kesukaannya dan satu lagi satu buket bunga campuran yang Tiina sama sekali tidak ketahui apa itu namanya. Mungkin Berwald ingin memberikannya pada Halldora tetapi ia lupa melakukannya. Sisanya adalah beberapa kantong belanjaan besar dan satu kotak besar yang Tiina duga sebagai isi kue. Tetapi tampaknya itu bukan kue.
"Ini semua untukmu," kata Berwald dan membuang wajahnya ke arah lain. "Ya, ini semua untukmu."
Tiina terdiam, dalam hati ia merasa bersalah atas perlakuannya terhadap Berwald selama ini terutama kejadian tadi siang dimana ia melempar botol vodka ke arah Berwald. Untung saja Berwald tidak apa-apa, jika terjadi sesuatu Tiina pasti akan menyalahkan dirinya seumur hidupnya. Mungkin ia salah menduga mengenai Berwald karena kesalahan yang diperbuat Berwald terhadapnya. "Mengapa papa lakukan ini untukku?"
Karena aku mencintaimu, batin Berwald. Sekaligus bertanggung jawab terhadap anaknya.
"Aku tak mau mengatakan," tambah Berwald dan mengambilkan barang-barang tersebut ke ranjang Tiina. "Buka saja satu-satu."
Tiina menurut , matanya beradu pandang ke arah Berwald dengan tatapan sendu. Dengan lemah Tiina membuka isi kantong tersebut.
"Banyak baju bayi. Anakku pasti akan senang karena gambarnya lucu-lucu, moi. Dan juga beberapa botol bayi dengan gambar-gambar menarik—wah, ada Moomins kesukaanku!" seru Tiina dengan senyuman cerah. "Beli di mana?"
Sudah lama Tiina tidak tersenyum seperti itu. Rasanya seperti seratus tahun lamanya. Senyuman itu akhirnya muncul begitu saja di bibirnya yang manis. "Tack sa mycket."
"Papa," kata Tiina pelan tetapi tatapannya datar. "Bunga itu untuk siapa?"
"Untukmu—hanya untukmu, semuanya."
Tiina bersikap biasa seolah-olah ia tidak cemburu dengan hubungan Berwald dan Halldora tetapi bahasa tubuhnya sama sekali tidak bisa berbohong. Ia ragu bahwa dirinya salah dengar.
"Bukankah ini untuk bibi Halldora? Mengapa tahu-tahu diberikan untukku?"
Berwald menggeleng, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Tiina. Berusaha agar tidak bersikap menyakiti gadis itu karena gadis tersebut sudah cukup terluka karena ulahnya. "Aku dan dia sudah putus."
Ini berita baru untuk Tiina, Berwald dan Halldora putus. Hati Tiina menari-nari riang ketika Berwald mengatakan hal itu. "Mengapa putus?"
"Ada orang lain yang aku cintai," Berwald berkata, pandangan matanya tidak bisa lepas dari Tiina. "Sejak lima tahun yang lalu."
"Siapa?" tanya Tiina penasaran, jantungnya berdebar-debar. "Boleh aku bertanya?"
Nafas Berwald tertahan, orang yang dicintainya tentu saja berada di depannya ini. Bagaimana ia mengatakannya pada Tiina yang sebenarnya? Tiina sudah tidak mungkin mencintainya lagi.
"Kau akan tahu suatu saat nanti," katanya dengan nada dingin dan menggengam salah satu tangan Tiina dan menciumnya dengan lembut. Saat ini ia tidak bisa mengatakannya pada Tiina, biarlah Tiina yang berpikir sendiri.
Tiina seperti tersengat aliran listrik ketika sentuhan bibir Berwald berada di tangannya. Kali ini, ia menikmatinya, rasanya nikmat tidak terkira. "Papa tidak perlu melakukan ini padaku," kata Tiina gemetar. "K—katakan saja siapa yang sebenarnya? A—aku tidak akan ma—marah—."
"Yakin?" tanyanya dan mengecup bibir Tiina dengan intens. Tiina terkesiap ketika bibir dingin tersebut menyentuh bibirnya dengan lembut. Tak berapa lama ia mundur selangkah, tubuhnya gemetaran ketika Berwald menyentuhnya seperti ini. Wajahnya merona merah antara malu dan terkejut. Tanpa sadar, tangan Tiina mendorong Berwald dengan keras.
"A—aku—tidak akan tanya-tanya lagi," gumam Tiina gemetar dan melepaskan diri dari Berwald. "A—a—aku akan merapikan tempat tidurku sendiri," tambahnya dan menatap tumpukan barang-barang yang dibelikan Berwald untuknya.
TBC
