Tiina membatin dalam hati, kapan semuanya akan berakhir. Kini ia sudah berusia tujuh belas tahun dan anak remaja seumurannya biasanya menghabiskan hari ulang tahunnya dengan acara pesta-pesta besar di restoran mahal dengan banyak teman-teman—tetapi ia akan menghabiskan hari ulang tahunnya seorang diri pada tahun ini.

Ya, seorang diri saja—tanpa ada yang ingat hari ulang tahunnya. Bahkan orang yang paling ia harapkan untuk ingat ulang tahunnya sama sekali tidak ada reaksi. Dulu ketika hari ulang tahunnya, Berwald memberikan hadiah pada Tiina yaitu berlibur ke Lapland selama liburan sekolah Tiina dan itu merupakan hadiah yang diinginkan Tiina pada saat itu.

Tetapi tahun ini, ia tidak minta apa-apa. Hanya satu—pernyataan cinta pria Swedia itu terhadapnya secara tulus, bukan keterpaksaan semata. Seandainya Berwald mengatakannya sejak dulu, Tiina akan mengatakannya dengan senang hati bahwa ia sendiri mencintainya. Walaupun ia tahu harapannya sama sekali tidak akan pernah dikabulkan Tuhan, bahkan ia tidak bisa senang ketika Berwald berkata bahwa ia mencintai orang lain sejak dulu. Dan tentu orang itu tidak mungkin dirinya.

Yang jadi pertanyaan Tiina adalah, mengapa sebelum ini Berwald menciumnya? Maksud terselubung apa lagi yang diberikan pria itu kepadanya. Dan ketika Tiina bertanya siapa yang Berwald cintai sebenarnya, pria itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Malah menyuruh ia menebaknya sendiri. Tingkah Berwald kemarin benar-benar aneh—mulai dari membelikan Tiina beberapa baju bayi untuk calon anaknya dengan motif kartun kesukaannya ketika ia kecil, membelikan dua buket bunga untuknya dan macam-macam perlengkapan bayi.

Ia mengelus perutnya perlahan-lahan dan berpikir akan mirip siapa anak yang berada di kandungannya ini. Apakah akan mirip dengan Berwald atau ia sendiri? Sebisa mungkin Tiina berharap agar sang anak mirip dengan dirinya. Tak ingin ia melihat Berwald di dalam diri anaknya—sudah cukup ia terluka dikecewakan oleh Berwald. Hidup yang ia rasakan sudah cukup kejam, benci dikecewakan untuk kedua kalinya. Apa maksud buket bunga itu untuknya? Ia sama sekali tidak mengerti.

"Hyvää syntymäpäivää, moi," gumam Tiina sedih dan memeluk boneka Moomins besar yang diberikan Berwald ketika ia masih anak-anak. "Semoga pria yang kamu cintai balik mencintaimu, moi." [1]

Ia bangkit dari tempat tidurnya dan memandangi jam dindingnya. Jam tiga pagi—apa yang ia lakukan semalam ini? Seharusnya ia tidur saja alih-alih berharap. Mungkin saja Berwald akan ingat hari ulang tahunnya. Seumur hidupnya Berwald sama sekali belum pernah melupakan hari ulang tahunnya.

"A—aduh!" jeritnya tiba-tiba. "Ada apa ini?"

Rasa nyeri mulai menusuk bagian tengah tubuh dirinya—mengeluarkan sumber jeritan yang berasal dari dalam dirinya. Sesaat sakit tersebut mulai berhenti, tetapi tidak berapa lama datang lagi dan Tiina kembali menjerit keras.

"Ya Tuhan—tolong aku," ujarnya setengah tersiksa. "Ada apa ini—apa bayiku—"

Ia tahu, bayinya akan segera lahir. Tetapi ini masih terlalu cepat. Samar-samar ia melihat seseorang tinggi besar mendobrak pintu kamarnya—membawanya keluar dari kamar.

"Aku di sini," ucapnya dengan nada serak. "Tidak akan apa-apa."

.

.

.

"Apa dia bisa lahir selamat?" tanya seorang pria dengan nada patah-patah sekaligus cemas.

"Entahlah—gadis ini masih terlalu muda untuk melahirkan seorang anak. Pria macam apa yang tega membuat anak sekecil ini harus menanggung penderitaan semacam ini."

Tiina mendengar suara bisik-bisik di dekatnya walau ia belum sadar sepenuhnya. Pertama, ia melihat seseorang yang mirip dengan Berwald dan satu lagi seorang dokter kandungan.

"Si—siapa itu?" tanya Tiina lemah. "Aku berada di mana sekarang?"

Berwald menghampiri Tiina dan mengusap rambut Tiina dengan lembut. Dari wajah Berwald dapat terlihat jelas bahwa ia terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya karena terlalu mencemaskan keadaan Tiina.

"Istirahatlah. Kau akan melahirkan," katanya dan menyerahkan satu botol air mineral kepada Tiina yang sudah terbuka lalu menempelkan botol tersebut ke bibir Tiina. Tiina meminumnya dengan cepat dan menatap Berwald dalam-dalam, khawatir atas rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Apa yang terjadi?" tanya Tiina lemah. "Aku mendengar kalian membicarakanku."

Dokter tersebut menenangkan Tiina. "Istirahatlah, Miss Vainamoinen. Saya mohon."

"Tidak!" bentak Tiina ketus. "Hingga aku tahu apa yang terjadi dengan anakku dan aku, moi. Kalian tidak boleh menyembunyikan sesuatu dariku karena aku berhak untuk mengetahuinya."

Perlahan Berwald mendekati Tiina dan memeluknya dengan erat, berusaha menenangkannya. "Aku harap tidak—darah—."

"Darah? Apa maksudmu dengan darah!" balas Tiina gemetaran. "Apa aku terkena pendarahan?"

"Bisa dibilang begitu," jawab dokter tersebut. "Kumohon sekali lagi tenanglah."

Tiina menggeram. "Bayiku tidak akan apa-apa—aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padanya. Dia adalah darah dagingku sendiri—mungkin ia tidak akan punya ayah, tetapi aku bisa mengasuhnya sendirian. Aku—."

Ia sama sekali tidak bisa menyelesaikan ucapannya sendiri dan tergeletak di tempat tidur. Nafasnya tidak beraturan dan sudah mencapai batasnya. Pisau-pisau tumpul seakan menusuk-nusuk seluruh tubuhnya. Memejamkan mata untuk melawan rasa sakitnya, tetapi gagal. Sorot matanya menatap Berwald lemah.

"Mengapa tidak biarkan aku mati saja? Mengapa—kalau anak ini sama sekali tidak diinginkan ayahnya?"

Berwald diam seribu bahasa, sulit baginya untuk mengatakan bahwa ia sangat menginginkan anak yang dikandung Tiina. Ada sesuatu yang menahannya untuk tidak mengatakannya pada Tiina. Ia takut Tiina terluka—takut ia tidak bisa menjaga gadis itu dengan benar melebihi apa yang ia lakukan kepadanya selama ini.

"Kumohon—apa yang harus kulakukan. Jika ia tidak menginginkan anak ini," ucapnya lemah. "Aku tidak mengijinkannya untuk mendekati anakku."

Tangan Berwald menggengam salah satu tangan Tiina dengan erat dan menciumnya lembut. "Tidak apa-apa. Kau akan selamat—aku yakin."

"Aku tidak percaya padamu!" bentaknya.

Namun tak berapa lama Tiina dicengkeram tusukan nyeri yang jauh lebih mengerikan daripada yang terakhir, dan tidak ada waktu tersisa untuk memohon ketika tekanan meningkat tajam dan menuntut seluruh energinya untuk mendorong bayinya ke depan. Dan sekali lagi, dengan segera, Tiina merasakan kebutuhan untuk mendorong dengan segenap kekuatannya.

Berwald menunggu Tiina dan tangannya terus menggenggam tangan Tiina, merasa tidak berdaya mendengar jerit kesakitan Tiina yang begitu menusuknya selama hidupnya. Menyesal atas semua yang pernah ia lakukan terhadap gadis itu, termasuk dalam ketakutannya sendiri terhadap cintanya terhadap Tiina.

Tiina mendesah. "Anak ini—tidak akan apa-apa. Dia akan selamat."

Sesudah Tiina berkata seperti itu, mulai terdengar tangisan bayi yang bersumber dari dalam tubuh Tiina. Sesaat Tiina tersenyum padanya, tetapi tak lama kemudian ia tidak sadarkan diri. Genggaman tangan Berwald terlepas dari tangannya begitu saja.

"Tii—na—anak kita—."

Perkataan Berwald terputus, alat denyut nadi yang dipasangkan tubuh Tiina menunjukkan garis lurus. Ini berarti Tiina—tidak, jangan katakan bahwa Tiina meninggal. Ia tidak ingin hal semacam ini terjadi. Tidak, ini hari ulang tahunnya—ia belum sempat mengucapkan selamat kepadanya, apalagi menyatakan cinta kepada Tiina.

"Maaf, Mr. Oxenstierna. Ibunya meninggal," kata dokter dengan nada prihatin. "Ia terlalu lemah untuk melahirkan. Sejak awal ia mengeluarkan banyak sekali darah dari kewanitaannya."

Berwald memandang dokter itu tajam. Kedua tangannya gemetar dan mengepalkan tangannya. "Nej, dia tidak mati."

"Bayinya selamat—anak perempuan, mirip dengan ayahnya."

Berwald menatap bayi tersebut dengan tatapan takjub, anaknya adalah anak perempuan dan memiliki mata yang mirip dengan ibunya, rambutnya pirang keemasan seperti rambut Berwald. Bayi perempuan itu menangis keras seperti pada bayi umumnya. Dengan lembut Berwald menggendong anaknya dan memeluknya hingga tangisannya berhenti dan tertidur lelap. Maafkan papa, ucapnya dalam hati. Papa orang jahat tidak berperasaan. Ibumu akan hidup dan aku akan menjaganya dengan baik.

"Dia akan selamat," kata Berwald tajam dan meletakkan bayi perempuan itu ke dalam boks bayi yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Ia menatap Tiina yang terbaring, memerintahkannya terisi udara. Tanpa berpikir panjang, Berwald menghembuskan napasnya sendiri ke dalam mulut Tiina.

"Aihh!" dokter itu memekik. "Siapapun hentikan pria ini!" jerit dokter itu dan tak berapa lama berlari dari tempatnya setelah Berwald menatapnya tajam. "Dia benar-benar gila."

Ia memang gila—teserah orang ingin mengatakan ia gila atau entah apapun lagi. Mengapa tidak gunakan saja tabung oksigen? Dalam hati Berwald membatin, dokter macam apa yang bisa sebodoh ini. Nyawa Tiina jauh lebih penting dari dirinya sendiri. Tiina tidak mungkin mati selama ia masih hidup. Tidak ada yang terjadi dari usaha putus asa Berwald ketika ia menghembuskan nafasnya sendiri ke mulut Tiina. Rasionalitas di otaknya sama sekali sudah tidak ada, sekali lagi mencoba menutup mulut dan hidung Tiina agar udara tidak keluar kemana-mana kecuali ke dalam tubuh Tiina sendiri. Dada Tiina terisi dan perlahan-lahan matanya mulai membuka.

"Ber—Berwald pappa?" tanya Tiina lemah. "A—aku dimana? Bagaimana anakku?"

Berwald menatap mata Tiina dalam-dalam. Ia terlalu bahagia untuk bicara melihat gadis yang ia cintai dalam keadaan hidup, memberikan hadiah terindah untuknya. Ada kebanggaan terbesar di dalam dirinya, melebihi kebanggaan dimana ia memiliki banyak perusahaan furnitur di seluruh dunia. Yang ini merupakan pencapaian terbesarnya di dalam hidupnya. Rasa ini tidak mungkin terulang hingga dua kali.

"Lihat apa? Anakku sudah lahir?" Tiina bertanya dengan nada menantang, berusaha bangun dari tempat tidurnya. "Aku ingin lihat dia seperti apa, moi."

Tiina tidak akan mendapatkan jawabannya karena pria itu mencium bibirnya dengan lembut sehingga mau tidak mau Tiina gugup karenanya. Tetapi pelan-pelan, Tiina menikmatinya dan memeluk leher Berwald selagi Berwald menciumnya. Ciuman yang diberikan Berwald untuknya terasa hangat dan memabukkan, manis seperti madu. Berwald lepas kendali—seperti pada waktu itu.

Tiina tersengal di bawah bibir Berwald, memberi celah yang diinginkan pria itu. Lidah Berwald mendorong kuat dan dalam, melewati bibir Tiina yang terkuak. Tiina mendesah dan saliva mereka berdua tercampur—tertumpah di tempat tidurnya. Untung saja Berwald segera melepas bibirnya dari bibir Tiina.

Wajah Tiina sulit dijelaskan, antara senang, malu maupun marah. "Kau mau apa sebenarnya?"

"Grattis på födelsedagen,min kärlek [2]," bisik Berwald di telinga Tiina, kedua tangan besarnya memeluk Tiina dengan erat. "Jag älskar dig trotts alt." [3]

Berwald mencintainya, apa ia sedang bermimpi. Bukankah itu sama sekali tidak mungkin? Ia mungkin salah dengar dan hanya ilusi belaka karena tubuhnya masih terlalu lemah.

Tetapi ini nyata, tubuhnya bisa merasakan sentuhan lembut Berwald. Ia tidak bisa membohonginya sedikitpun.

"Se—serius, tidak sedang bermimpi?" Tiina bertanya dengan gugup dan mencubit pipinya sendiri. "A—aku tidak tahu harus berkata apa lagi? Jika ini benar, aku senang sekali, moi."

Dengan lembut Berwald membaringkan Tiina dan mengecup kening gadis itu. "Vi har dotter,sötsom duoch du inte drömmer. Det är på riktigt jag älskar dig." [4]

Tiina tersenyum dan menarik kemeja Berwald dengan erat. "Mina rakastan sinua, papa—Ei, Berwald." [5]

Berwald memandangi anaknya yang tertidur pulas dengan tatapan seorang ayah. Ia lalu mendorong boks bayi tersebut ke arah tempat tidur Tiina dengan perlahan. "Ini anak kita."

Tiina menoleh dan menatap bayinya yang ia lahirkan dengan susah payah dengan wajah bahagia. "Anak ini, cantik sekali. Amat sangat cantik. Bola matanya mirip denganku, moi. Sudah diberi nama?"

Berwald menggeleng pelan dan mengambil bayi perempuan itu lalu menyerahkan bayi itu pada Tiina. "Itu tugasmu. Kau yang melahirkannya."

Tiina mengambil anaknya dengan wajah gembira dan pura-pura cemberut di hadapan Berwald, hatinya terisi penuh karena ternyata cintanya sama sekali tidak sia-sia dan terbalas. Kebahagiaannya meluap-luap di dalam dirinya. "Bagaimana kalau aku beri nama Severina yang artinya terputus," katanya dan mencium anak perempuannya dengan wajah gembira.

Berwald menunjukkan wajah tidak enak, teringat ketika Tiina menemukan anjing kecilnya yang menjadi peliharaannya sekarang dan nama-nama yang diberikan pada Tiina sama sekali tidak menarik sekaligus aneh. "Rupanya kau sama sekali tidak pandai memberi nama."

"Aku tidak begitu," gumam Tiina setengah menggerutu. "Enak saja."

"Oh, begitu," balas Berwald dan mengeluarkan secarik kertas kecil dan menyerahkan kertas itu pada Tiina. "Bacalah."

Tiina mengambil surat itu dan membacanya perlahan-lahan. Tertulis di sana bahwa Berwald memberi nama anak perempuannya yang diberi nama Svea yang berarti Swedia. Selain itu, Tiina menemukan satu kalimat lagi di bawah nama Svea yaitu 'Kommer du gifta dig med mig'. [6]

.

.

.

'Kommer du gifta dig med mig'

"Ber? Ini?" Tiina bertanya dengan nada tidak percaya ketika melihat tulisan di kertas tersebut. "Maksudku—kau tidak salah menulis, bukan?"

"Tidak," jawab Berwald dingin, bola matanya memandang ke arah lain dan wajahnya sedikit bersemu merah. "Aku benar-benar serius."

Ini mungkin yang Tiina harapkan selama ini, lebih dari yang bisa ia bayangkan. Menjadi istri dari orang yang ia cintai selama ini merupakan impian terbesarnya. Ia selalu membayangkannya setiap saat, itu akan menjadi mimpi termanis di dalam hidupnya. Dan sekarang kesempatan ini ada di dalam hidupnya, dimana ia akan meninggalkan status seorang anak tiri menjadi seorang istri bagi orang yang ia cintai selama hidupnya. Ia tahu apa yang harus ia jawab. Ya adalah jawabannya. Pernyataan cintanya yang sesungguhnya.

"Ber. Aku juga—."

Tunggu, Tiina merasakan ada yang ganjil dari Berwald sendiri. Sebelumnya, Berwald tidak pernah mengatakan kata-kata seperti itu. Apa mungkin pernyataan cinta Berwald hanya berdasar rasa kasihan semata? Ia memang tidak tahu bagaimana sebenarnya pria stoic yang ada di depannya ini. Ia bersikap sangat kebapakan ketika berhadapan dengan Tiina sebagai ayah dan anak, tetapi bisa juga bersikap seperti kekasih seolah-olah Tiina adalah propertinya. Ia bingung, mana lagi yang harus ia percayai.

"Kau benar-benar serius ketika mengatakannya, Ber?" tanya Tiina perlahan, ia masih ragu. "Atas dasar apa mengatakan hal seperti itu, moi."

Sekali lagi mata Berwald beradu pandang pada Tiina. Tiina masih tidak mempercayainya bahwa ia benar-benar mencintainya. Butuh berapa banyak cara lagi untuk memberitahu Tiina bahwa sebenarnya ia mencintai Tiina setengah mati. Sesungguhnya ia bersedia mengorbankan banyak hal atas semua yang pernah ia lakukan terhadap Tiina selama ini. Karena asal Tiina bahagia, itu sudah cukup.

"Apa Ber berusaha menahan anakku supaya ia tidak lari dariku?" tanya Tiina untuk memastikan hal yang sebenarnya. Ia cemas jika Berwald melamarnya hanya untuk menahan anaknya. Hanya Svea yang menjadi bahan pikirannya saat ini.

"Nej. Aku hanya—."

"Hanya apa lagi?" tanya Tiina setengah menantang, rasa curiga mulai tumbuh di hatinya. "Kurasa Ber memang berbohong padaku."

Alih-alih menjawab pertanyaan Tiina, Berwald mengunci ruangan tersebut dan mematikan semua lampu ruangan, menutup gorden. Matanya menyala-nyala tajam di dalam kegelapan. Persetan dengan semua dokter yang ada di luar yang mungkin akan menanyakan bagaimana keadaan Tiina. Biarkan ia berduaan dengan Tiina sementara waktu untuk meluruskan semuanya. Dokter penakut itu sudah kabur, gumam Berwald dalam hati. Mungkin ia akan disangka seperti pria pedo, tetapi masa bodoh. Yang penting Tiina miliknya sekarang dan tidak ada yang bisa menghalang-halangi mereka berdua.

"Kau tidak akan kemana-mana," bisik Berwald perlahan dan menaiki tempat tidur Tiina dengan kasar, kedua tangannya menahan Tiina di tempat tidurnya. "Kau milikku."

Tiina gemetaran, perlahan-lahan memundurkan tubuhnya dari Berwald. "Jangan bercanda, kau sedang tidak mau mengapa-apakanku, bukan? Svea bisa melihat ulah kita dan terbangun mendengar suara berisik yang kita hasilkan."

"Dia tak akan mengerti," ucap Berwald tajam, tangannya merengkuh Tiina dengan erat. "Bisakah aku memilikimu?"

Tiina mendesah perlahan. Suara Berwald benar-benar menyesakkan hatinya. "Aku tidak mau menjadi milikmu—sekalipun aku menginginkannya—jika itu tidak ada cinta yang terkandung di dalamnya—aku sama sekali tidak mau sedikitpun. Hentikan—aku bukan mainan yang bisa kau permainkan."

Perkataan Tiina cukup memuaskan hati Berwald dan ia memeluk pinggang Tiina dengan erat sekaligus protektif. "Kau sudah dewasa sekarang. Mengagumkan," ucapnya parau, setengah meracau. Ia tahu ini adalah ide gila—tetapi mencumbui Tiina dalam keadaan setelah melahirkan benar-benar sesuatu yang indah. Hanya mencumbu saja, tidak lebih. "Ketika aku mengasuhmu, kau masih anak-anak."

"Aku tidak bilang kalau aku sudah dewasa," ucapnya pelan, gemetar di pelukannya. Ia bisa merasakan dada Berwald menyentuh punggungnya. Tegap dan bidang—seolah-olah melindungi Tiina dengan lembut. Ia tidak berani menatap ke belakang. Berwald menginginkannya.

Tak berapa lama, kepala Berwald menyentuh bahu Tiina dan ketika Tiina menoleh sebentar, ia mendapati Berwald tertidur lelap. Wajah Berwald tampak lelah sekaligus bahagia—dapat terlihat dari senyum yang mengembang—sesuatu yang jarang dilakukan oleh pria stoic seperti Berwald.

"Jag alskar dig, Tiina."

Tiina tidak perlu bertanya apapun lagi. Ia sekarang wanita seutuhnya yang dapat bersanding dengan Berwald, bukan sebagai anak kecil yang bermanja-manja kepada ayahnya melainkan sebagai wanita dan kekasih untuk Berwald. Ia sadar akan segala sesuatunya bahwa Berwald-lah pria yang harus ia pertahankan. Pria ini mencintainya—bahkan mencintai anaknya yang sebenarnya mungkin tidak diinginkan oleh pria itu. Dengan lembut, Tiina membalikkan tubuhnya dan melepaskan kacamata Berwald dan menaruhnya ke meja sebelah tempat tidur.

"Kau pria terbaik selama hidupku," ucap Tiina dan mencium kening Berwald dengan lembut, balas memeluk Berwald dengan erat dan ikut tertidur, membenamkan kepalanya di dada Berwald. "Aku mencintaimu."

.

.

.

Bulan-bulan berikutnya berlalu sangat cepat bagaikan angin, ia dan Berwald sudah mengajukan pernikahan hanya di catatan sipil. Tiina tidak begitu peduli dan berniat untuk mengadakan upacara pernikahan yang meriah ketika usia Tiina sudah delapan belas tahun dan menunggu Svea cukup besar untuk itu—keadaan mereka berdua jauh lebih membaik daripada sebelumnya karena Berwald tidak memperlakukan Tiina seperti anak-anak lagi seperti yang diinginkan Tiina. Cintanya terhadap Berwald semakin besar dan ia masih sedikit takut akan masa lalunya yang kelam dimana terdapat kesalahpahaman di antara mereka berdua, tetapi ia tahu bahwa itu tidak berlangsung lama dan ia bersyukur pernah mengalaminya. Tiina mengenang waktu-waktu panjang dan berat dimana mereka masih sebagai ayah dan anak serta batasan-batasan yang menghalanginya untuk mencintai Berwald.

Setidaknya kini ia tidak terlalu bersedih lagi karena Svea berada di sampingnya dan anak itu merupakan kebahagiaan terbesar yang Tuhan pernah berikan untuknya seumur hidupnya selain Berwald.

Perlahan-lahan, kondisi Tiina pulih setelah melahirkan Svea berkat Berwald yang sering menjaganya dan memperhatikan kondisi kesehatannya secara menyeluruh. Ia memberikan ASI-nya pada Svea selama tiga minggu dan hal itu membuat hati Tiina seolah teriris, menyesal ia tidak memberikan nutrisi yang baik di dalam tubuhnya karena pada awal-awal mengandung Svea ia tertekan dan stress. Sempat ia merasakan bahwa ia adalah ibu yang tidak berguna. Tetapi Berwald menghiburnya dengan baik sehingga Tiina tidak begitu bersedih dan ia mampu mengurus anaknya dengan baik. Ketika Svea pertama kali tersenyum kepadanya, Tiina tersadar bahwa Svea menyadari cintanya yang tercurah untuknya.

"Kurasa aku tidak akan pernah bosan," gumam Tiina lembut sambil memangku Svea yang memakai baju bayi bermotif biru kuning. "Anak kita begitu manis. Dan mengerti ibunya."

"Ja, anak kecil seperti itu," jawabnya dengan datar, sorot matanya tak bisa lepas dari Tiina dan Svea. "Sudah lima bulan usianya."

Tiina nyengir dan memainkan salah satu tangan Svea. "Ya, dia cepat sekali besar. Untunglah ia tumbuh sehat."

"Pelan-pelan," ujar Berwald lembut dan menggendong Svea yang tersenyum pada ayahnya. "Dia manis."

"Da.. da," jawab Svea riang sambil memainkan kacamata Berwald. "Da.. da.."

"Nanti kacamata Papa jatuh, Svea. Jangan begitu!" cegah Tiina.

"Tidak apa-apa. Biarkan saja."

Tiina senang melihat pemandangan semacam itu, mengingatkan dirinya ketika masih kanak-kanak. Dulu ia selalu bermanja-manja pada Berwald dan sering kali menyusahkan pria itu dengan segala macam kebodohannya. Kini sudah saatnya Svea yang bermanja-manja pada ayahnya dan giliran dirinya yang memanjakan Svea. "Harus kuakui, moi. Dia mirip denganku," jawab Tiina lembut dan mengelus rambut Svea. "Svea tampaknya suka berdekatan denganmu."

"Mengapa?" tanya Berwald, pura-pura heran atas perkataan Tiina. "Kau ibunya."

Tiina mengedipkan sebelah matanya, tersenyum genit. "Karena dia anakmu juga. Dia seperti aku pada ketika aku bertemu denganmu—kalau tidak salah, aku pernah menyulitkanmu dengan mengiramu penculik."

Bagian inilah yang selalu membuat Berwald geli sekaligus kesal, ia tidak pernah bisa lupa bagaimana Tiina menyulitkan hidupnya pada saat itu. Bahkan mempermalukannya di depan umum hingga ia terpaksa mendengar bisik-bisik dari ibu-ibu penggosip di sekitarnya. "Dasar anak-anak," sindirnya halus. "Kau memang menyulitkan—aku tidak mengerti mengapa bisa mencintaimu."

Tiina mencubit pipi Berwald dengan keras dan Berwald menatap Tiina dengan death glare andalannya. "Aku tidak takut padamu sekarang, sungguh. Pesonaku terlalu kuat untukmu, moi."

Berwald mendengus. "Jangan ajari dia seperti itu."

"Aku akan memastikan Svea tidak akan begitu padamu," tambahnya lagi setengah mengantuk. Ketika Tiina melihat ke arah jam dinding, ia tersadar sudah pukul sebelas malam. "Lihat, Svea sudah mulai tertidur lelap."

Yang lebih membuat Tiina merasa bahagia adalah putri kecilnya semakin hari semakin mirip dengan Berwald dalam tampilan fisiknya dan Tiina bersyukur bahwa Svea sangat ceria dan sehat. Perlakuan Berwald terhadap putri semata wayangnya membuat hati Tiina diselimuti rasa hangat. Benar-benar ayah yang baik dan pengertian, Tiina berpikir pelan. Yang menarik, bahwa Berwald diam-diam memanjakan Svea tanpa sepengetahuannya dan hal itu membuat Tiina senang.

—00—

"Svea sudah tidur?"

Tiina menyunggingkan senyum lebar pada Berwald dan merangkak naik ke tempat tidur, menyentuh bibir Berwald dengan jari telunjuknya. "Tidak usah kuatir akan hal itu, moi. Dia kelelahan karena terlalu lama bermain-main denganmu."

"Ingin bermain denganku?" tanya Berwald pelan, menarik gaun tidur mini yang dikenakan Tiina dengan perlahan-lahan, menyisakan hanya celana dalam dan tubuh telanjang Tiina. Pria itu menatapnya dengan tatapan kagum. "Kurasa aku membutuhkan sedikit terapi."

Wajah Tiina bersemu merah dan menutupi payudaranya dengan kedua tangannya, ia masih malu tubuh telanjangnya dipandangi oleh Berwald. Ketika dulu Berwald memergoki Tiina sedang menyusui anaknya, Tiina buru-buru pindah ke tempat lain dimana tidak ada Berwald. "Boleh saja jika mau, moi. Tapi aku tidak mau terlalu lama. Kau tahu, aku sudah lelah mengurus Svea seharian penuh."

"Kau masih malu?" gumam Berwald dan melepaskan kedua tangan yang menutupi dada Tiina. Dengan cekatan, Berwald membaringkan Tiina pelan dan mengecup bibir Tiina dengan penuh gairah mendalam, membuat Tiina mengerang lembut. Erangan Tiina bagi Berwald adalah musik paling indah yang pernah ia dengar selama seumur hidupnya. Semakin Tiina mengerang, ciuman Berwald semakin dalam dan menuntut—memaksa Tiina membuka lidahnya dan membiarkan lidah Berwald menari-nari di sana. Ia merasakan tangan Tiina menjelajahi punggungnya, menelusuri otot-otot keras di sana. Tiina mengerang pelan dan kedua tangannya melingkari leher Berwald dengan tatapan mendamba, tergantung akan cumbuan Berwald yang semakin ganas.

"Ahh—ngg—ahh," desahnya tertahan. "Hentikan—moi."

"Ini belum seberapa, min karlek," tambahnya dan melepaskan celana yang dikenakan Tiina perlahan-lahan dan melemparkannya ke arah lain. Tatapan Berwald tertuju ke bagian intim Tiina dengan hasrat mendalam. "Ijinkan aku untuk memilikimu."

"Kau bilang apa?" tanya Tiina gemetar, wajahnya merah padam menatap tubuh telanjang suaminya. "Jangan mengira bahwa aku telah menjadi istrimu, keinginanmu adalah keinginanku juga, Ber."

"Lihat saja nanti."

Tangan Berwald menjelajahi tubuhnya bagaikan penguasa yang berhak atas tubuh jajahannya, dalam hal ini Tiina adalah jajahan Berwald dan Berwald adalah penguasanya. Sentuhan Berwald mengarah ke perut Tiina dan mengelusnya lembut lalu berpindah ke payudaranya dan menciumnya lembut. Sensasi yang memabukkan untuk Tiina, menggelenyar ke seluruh tubuhnya membuat Tiina lunglai, berusaha menolak tetapi ia terjerat di dalamnya, terlalu lemah untuk menolaknya. Ketika lututnya terangkat, Berwald menahannya dengan satu kaki. Kukunya terbenam di bahu Berwald, menahan agar ia tidak terlalu kesakitan.

"Ber," isaknya lemah. "Rasanya lembut dan memabukkan. Ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini."

Berwald sedikit kesakitan ketika Tiina mencengkram bahunya tetapi ia tidak melepaskan Tiina dan melumat bibir Tiina sekali lagi. Kali ini dengan ciuman liar dan ganas, merontokkan pertahanan Tiina. Yang terpenting bagi Berwald adalah Tiina untuk merasakan cintanya dan gairahnya yang paling dalam.

Sementara itu Tiina mulai merasakan ciuman pria itu, belaian menuntut dari tangan Berwald, tubuhnya yang panas mulai mendesak tubuh Tiina, hunjaman pertama yang begitu indah, membuyarkan semua pikiran Tiina.

"Ber—Berwald."

"Tidak akan apa-apa," ucap Berwald, membelai rambut Tiina dengan lembut. "Tenanglah!"

Tiina meneriakkan nama Berwald, lagi dan lagi sementara laki-laki itu bergerak di dalamnya. Berwald takjub dan ia menahan tubuh Tiina di dalamnya, bergerak lepas bagaikan kuda jantan menunggangi angin.

"Rasanya menyenangkan ketika bercinta denganmu," aku Tiina jujur. "Jauh lebih lembut dibandingkan pada waktu itu. Pada malam menakutkan itu."

"Lupakan saja," jawab Berwald. "Maafkan aku telah menyulitkanmu ."

Ia memeluk Berwald seolah-olah ingin meleburkan diri bersamanya. Menghujani leher, pipi dan bibir dengan ciuman liar Tiina. Hingga semua sensasi berkumpul di pusat hasratnya, menyambut hunjaman dalam yang terakhir. Sesaat kemudian, ia merasakan denyut kenikmatannya sendiri.

"Tidak apa-apa?" tanya Berwald pelan. "Malam ini milikmu."

Tiina menggelengkan kepalanya dan bergumam, memukul-mukul dada Berwald. "Ya, aku tidak merasa takut. Bahkan inlah yang kuinginkan dalam arti yang sebenarnya—kau mengerti maksudku."

Tak lama kemudian, Tiina mulai terlelap setelah malam panjangnya bersama Berwald. Berwald menyentuh Tiina dan tatapan mata Berwald penuh cinta ketika memandangi Tiina.

Mau tidak mau, Berwald tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya lagi. Kini ia merasa senang, Tiina yang ia cintai ada di sisinya dan satu orang anak perempuan yang mirip dengan Tiina. Sebagai seorang pria, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya dan tidak bisa diukur dengan uang. Ekspresi Tiina ketika berhadapan dengan Berwald baik dalam keadaan apapun, akan selalu terpatri di ingatan Berwald seumur hidupnya.

Berwald berbaring nyalang dalam waktu lama, arah matanya terus memandangi tubuh Tiina yang tertidur dengan damai. Dalam hati Berwald berpikir ia adalah pria beruntung. Tiina bisa bersikap seperti istri idaman sekalipun masakannya sama sekali tidak enak, mencintainya dengan sepenuh hati dan kebaikan Tiina yang lainnya dan itu tidak cukup jika dihitung satu per satu. Berwald bertanya-tanya apa yang ia lakukan sehingga ia layak mendapatkan Tiina di dalam hidupnya.

"Aku mencintaimu, Ber," Tiina berkata lagi di dalam tidurnya. "Amat sangat."

"Sama denganku, Tiina."

Dan seperti kemudian yang dikatakannya pada Tiina, memang begitulah perasaannya yang sesungguhnya.

FIN


[1] Happy Birthday (in Finnish)

[2] Happy Birthday, my love (in Swedish)

[3] I love you after all (in Swedish)

[4] Anak kita perempuan, dia cantik sepertimu—kau tidak bermimpi, aku benar-benar mencintaimu. (in Swedish)

[5] I love you, papa. No, Berwald. (in Finnish)

[6] Will you marry me? (in Swedish)